Ketika Dilema untuk Melaporkan Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja

Setiap perusahaan atau industri berkewajiban untuk memelihara keselamatan dam kesehatan kerja. Setiap hal yang dapat menyebabkan terjadinya insiden (sering disebut incident atau accident) berupa kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja harus dimitigasi untuk mencegah terjadinya insiden tersebut. Bagaimana jika insiden berupa kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja tersebut telah terjadi (tidak tercegah)? Jika insiden telah terjadi maka insiden tersebut harus dilaporkan agar selanjutnya dapat diinvestigasi apa yang menyebabkan insiden tersebut terjadi sehingga insiden serupa tidak akan terjadi di kemudian hari.


Namun hal ini tidak mudah mengingat insiden kerja dapat berpengaruh terhadap performa pada individu yang mengalami insiden tersebut atau pun tim atau departemen dari individu tersebut. Hal ini menyebakan munculnya keengganan dan dilemma untuk melaporkan insiden. Hasilnya banyak sekali insiden-insiden yang tidak muncul ke permukaan dan terbiarkan menjadi rahasia individu atau tim tersebut.

Jika hal seperti ini dibiarkan maka insiden akan terus terjadi dan yang rugi paling besar adalah yang mengalami insiden itu karena kondisi tubuhnya rusak atau terganggu akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja yang mungkin bisa mengganggu produktivitasnya termasuk produktivitas tim. Laku bagaimana solusinya? Bagaimana menyelesaikan masalah dilema pelaporan insiden ini? Sebelumnya kita jabarkan dulu skenario-skenario bagaimana suatu insiden dapat terlaporkan.

Pihak yang pertama mendapat laporan insiden biasanya adalah atasan langsung dari individu yang mengalami insiden, sedangkan yang melaporkan ke atasan tersebut biasanya adalah yang mengalami insiden itu atau yang melihat atau menyaksikan insiden tersebut yang kita sebut observer. Ada beberapa scenario bagaimana insiden bisa dilaporkan ke atasan.
  1. Insiden dilaporkan langsung oleh individu yang mengalami insiden tersebut
  2. Insiden dilaporkan oleh rekan kerja dari invidu yang mengalami insiden tersebut
  3. Atasan menyaksikan langsung insiden
  4. Insiden dilaporkan oleh personel K3
  5. Insiden dilaporkan oleh pihak yang memberikan pertolongan, pengobatan atau perawatan kepada individu yang mengalami insiden tersebut (biasanya petugas emergency perusahaan atau pihak medis perusahaan)
Masing-masing dari skenario di atas memiliki potensi dilema. Dilema akan terjadi ketika dihadapkan pada dua pilihan.
  • Untuk individu yang mengalami kecelakaan, pilihan pertama adalah melaporkan insiden namun ada kemungkinan berpengaruh pada nilai performanya dan pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden sehingga performa tidak akan terpengaruh namun besar kemungkinan untuk mengalami musibah kecelakaan atau penyakit akibat kerja yang serupa di kemudian hari.
  • Untuk rekan kerja, pilihan pertama adalah melaporkan insiden namun bisa membahayakan performa rekan. Pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden namun akan terbebani jika suatu saat insiden terjadi lagi pada rekannya atau bisa juga menimpa dirinya.
  • Untuk atasan, pilihan pertama adalah melaporkan insiden ke pihak yang lebih tinggi namun bisa membuat citra tim yang dinaunginya 'terancam'. Pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden namun potensi insiden serupa akan terus menghantui tim tersebut.
  • Untuk pihak yang memberikan pertolongan, pengobatan atau perawatan kepada individu terutama tim medis akan mengalami dilemma pilihan yang cukup unik dan berbeda. Pilihan pertama adalah melaporkan insiden namun bisa mempengaruhi keberlangsungan program medisnya terutama untuk penyakit akibat kerja. Misalnya ada seorang pegawai yang datang ke medis mengeluhkan beberapa gejala dan si pegawai menganggap ini adalah penyakit umum, namun ketika diperika riwayat kerjanya ada kemungkinan penyakit diakibatkan oleh pekerjaan terutama paparan misalnya paparan kebisingan, paparan kimiawi, paparan ergonomis di kantor atau paparan-paparan lainnya yang kemungkinan dapat menyebabkan menjadi penyakit akibat kerja (tergolong insiden). Ketika ini dilaporkan maka dapat menimbulkan keengganan dari pasien untuk berobat lagi karena takut dilaporkan sebagai insiden. Pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden namun isu penyakit serupa akan terus bermunculan dan menurunkan status kesehatan pekerja.
Tentu yang diharapkan semuanya mengambil pilihan pertama. Tapi memang tidak akan mudah. Solusinya hanya satu yakni komitmen. Dibutuhkan komitmen yang kuat untuk selalu melaporkan insiden, memang akan berat tapi ini untuk perbaikan yang berkesinambungan (continual improvement / kaizen) yang pada akhirnya hal ini untuk kepentingan bisnis juga (good safety is good business). Dan komitmen perlu ditanamkan bukan dari lini terbawah namun justru dari lini teratas yakni manajemen, manajemenlah yang harus memulai komitmen ini dan menumbuhkan komitmen-komitmen serupa untuk posisi-posisi dibawahnya. Akan sangat percuma jika lini-lini terbawah memiliki semangat untuk keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi namun lini-lini yang diatas (manajemen) tidak memilikinya sehingga tidak ada support yang cukup untuk keselamatan dan kesehatan pekerjanya. Sepanjang komitmen di lini teratas belum terbentuk dengan cukup atau sudah terbentuk namun tidak terkomunikasikan ke bawah maka dilema-dilema seperti ini akan terus ada dan insiden serupa akan terus berulang.

Satu tambahan lagi, komitmen bukanlah suatu yang sederhana. Komitmen harus berupa suatu ke pro-aktian dari lini-lini teratas untuk meng-address segala macam isu keselamatan dan kesehatan kerja yang kompleks yang cakupannya mulai dari keselamatan dan kesehatan di fasilitas lapangan / pabrik, di kantor, di perjalanan kerja dan temanya bisa beragam mulai dari keselamatan berkendara, keselamatan menggunakan mesin kerja, keselamatan di tempat berbahaya (ketinggian, tempat sempit dll), keselamatan proses produksi, ergonomi industri, ergonomi perkantoran, higiene industri, higiene makanan di tempat kerja dsb. Dan komitmen diperlukan tidak hanya untuk isu-isu keselamatan dan kesehatan kerja yang sudah biasa terjadi namun juga terhadap isu-isu baru yang mungkin terjadi termasuk isu-isu lama yang yang selama ini ada namun tidak pernah muncul ke permukaan.

Postingan terkait: