Jangan Hanya Mengandalkan Hujan & Angin untuk Mengatasi Asap

Dahulu bencana asap akibat kebakaran hutan tidak sering terjadi, paling-paling setahun sekali. Namun sekarang, beberapa provinsi di Sumatera dan Kalimantan seperti Riau, Kalimantan Tengah dll mengalami bencana asap lebih sering, setahun bisa sampai dua kali dengan periode yang tidak sebentar dan bahkan beberapa kali intensitasnya sangat tinggi. Bagi warga Riau pasti masih ingat bencana asap yang terjadi di menjelang akhir 2013, awal 2014 dan akhir 2014. Saat ini menjelang akhir 2015 warga Riau dan beberapa provinsi lainnya mulai dihadapkan lagi dengan bencana asap.


Bencana asap ini sangat merugikan masyarakat, diantaranya:
  1. Mengancam keselamatan dan kesehatan. Patikel asap hasil pembakaran hutan merupakan partikel yang berbahaya jika terus menurus dihirup apalagi bagi bayi dan orang yang mempunyai penyakit paru-paru atau saluran pernafasan. Asap juga menyebabkan iritasi serta alergi serta masih banyak lagi efek asap ke kesehatan lainnya. Bahaya kesehatan akan meningkat terutama bagi para pekerja yang bekerja di di luar ruangan atau orang-orang yang beraktivitas di luar ruangan. Asap juga dapat menyebabkan jarak pandang terbatas, hal ini berbahaya bagi pengendara kendaraan.
  2. Ekonomi terganggu. Asap menyebabkan industri pariwisata terganggu. Pekerjaan-pekerjaan atau aktivitas di luar ruangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi juga dapat terganggu misalnya pengeboran minyak (rig), pekerjaan konstruksi dll. Penerbangan yang terganggu karena asap juga dapat berpengaruh ke aktivitas ekonomi setempat. Sebagai gambaran, bencana asap di Riau pada awal 2014 menyebabkan kerugian ekonomis ekitar Rp 10 triliun. Ada juga sumber yang mengatakan kerugian lebih dari 20 triliun dan diperkirakan mengganggu aktivitas perputaran ekonomi dan uang sekitar 30 persen. Perlu diingatkan juga bahwa mayoritas bencana asap terjadi pada provinsi-provinsi penyumbang APBN, devisa, dan ekspor terbesar di Indonesia seperti Riau dan provinsi-provinsi di Kalimantan sehingga efek di provinsi-provinsi ini bukan tidak mungkin berimbas pada perekonomian nasional.
  3. Hubungan dengan wilayah tetangga merenggang. Sudah bukan rahasia lagi jika asap yang dihasilkan suatu wilayah besar kemungkinan terbawa angin dan sampai di wilayah tetangga baik level provinsi atau bahkan lintas Negara. Tak aneh jika saat asap beberapa provinsi saling menyalahkan dan bahkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura tidak jarang protes ke kita dan kadang juga sebaliknya, kita yang protes ke mereka karena asap juga sering 'diekspor' oleh negara tetangga.
  4. Timbulnya masalah lingkungan. Asap dapat mencemari reservoir air yang digunakan untuk minum. Hal ini dapat membahayakan lingkungan dan manusia.
Frekuensi bencana asap yang semakin sering terjadi juga memperparah kerugian tersebut. Mengerikannya banyak kebakaran-kebakaran hutan yang menjadi sumber asap justru disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia demi alasan pembukaan lahan walaupun ada juga faktor cuaca panas dan kering yang dapat menyebabkan kebakaran. Namun satu hal yang pasti adalah apapun penyebabnya, bencana asap tidak bisa dibiarkan terus menerus terjadi seperti ini. Jangan sampai orang beranggapan bahwa kondisi asap adalah kondisi yang wajar dan biasa. Walaupun sering terkena paparan asap namun tidak akan ada orang yang imun terhadap efek dari paparan asap.

Pihak yang berwenang harus bersikap lebih tegas terhadap pihak yang menyebabkan kebakaran hutan. Tentu hal seperti ini membutuhkan komitmen yang tinggi dari pihak yang berwenang karena bagaimanapun langkah preventif adalah langkah yang terbaik.

Beberapa badan pemerintahan dan pihak-pihak swasta sebenarnya sudah sangat baik untuk berperan aktif dalam melakukan pemantauan asap termasuk penyediaan alat pelindung diri seperti masker dll. Namun pemantauan asap seperti ini adalah tindakan kuratif. Program-program kuratif seperti ini harus dibarengi dengan program-program preventif dari pihak yang berwenang karena justru usaha preventif lah yang paling penting. Jangan sampai masyarakat hanya bersandar pada "doa mohon hujan dan angin untuk meredakan asap". Tanpa usaha, apalah artinya doa. Seandainya hujan telah turun pun juga tidak boleh terlena dan tinggal diam, usaha preventif tetap harus digalakan untuk mencegah terjadinya bencana asap.

Tidak ada kata terlambat untuk mengatasi persoalan bencana asap yang terus-menerus terjadi ini. Semuanya kembali tergantung pada manusia, asalkan semuanya berkomitmen untuk merubah pola hidup dan kerja untuk menyelamatkan udara bersih yang merupakan kebutuhan vital manusia maka bencana asap yang terus berulang ini bukan mustahil dapat dihentikan.

Postingan terkait: