Mengubah Perilaku Selamat dalam 21 Hari, Apakah Bisa?

Seperti kita ketahui, masalah utama dalam keselamatan (safety) dan kesehatan (health) di dunia ini adalah perilaku atau behavior. Mayoritas insiden atau kecelakaan disebabkan terutama karena faktor perilaku manusia, begitu pula dengan penyakit atau isu kesehatan di dunia ini juga banyak dipengaruhi oleh faktor perilaku manusia. Masih banyak orang-orang yang tidak memiliki perilaku berbasis keselamatan (behavior based safety), orang-orang ini kurang menyadari arti penting keselamatan sehingga sering tidak mematuhi prosedur keselamatan seperti tidak memakai PPE, tidak memakai peralatan yang benar, tidak melakukan prosedur kerja semestinya, nekad melakukan hal-hal yang berbahaya, dsb. Begitu pula dalam isu kesehatan, banyak orang yang makan tidak memperhatikan kualitas dan kuantitas gizi (makan junk food dan berlebihan), tidak melakukan aktivitas fisik dengan cukup, dsb. Perilaku-perilaku seperti ini kita temui dimanapun baik di lingkungan perumahan atau lingkungan kerja (kantor ataupun kawasan industri / lapangan) terutama di negara-negara berkembang atau negara-negara miskin yang masih lemah safety culture-nya.





Bagaimana sebenarnya perilaku itu muncul?

Manusia adalah makhluk yang terpola. Kebiasaan atau habit merupakan perilaku yang terjadi secara nyaman dan otomatis karena sudah dilakukan berulang kali di masa lampau.

Apakah perilaku tersebut bisa diubah?

Ya, sangat bisa.

Lalu bagaimana cara mengubah perilaku tersebut?

Caranya adalah dengan membiasakan untuk berperilaku selamat dan sehat secara intensif dan tanpa putus (repetisi atau diulang-ulang). Repetisi ini menciptakan asosiasi mental antara keadaan (pemicu) dan tindakan (perilaku), sehingga ketika kita dihadapkan dengan pemicu, maka perilakunya akan mudah muncul atau nyaris otomatis. Denga begini maka lama kelamaan dengan sendirinya akan tertanam perilaku selamat dan sehat dalam diri manusia tersebut. Proses pembiasaan ini saat ini lebih banyak ditemui di lingkungan kerja dalam bentuk safety awareness campaign atau program-program lain terutama pada perusahaan-perusahaan besar yang memang sudah mempunyai safety culture yang kuat. Sedangkan di lingkungan perumahan dilakukan oleh instansi-instansi pemerintah.

Sekarang muncul pertanyaan baru, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengubah atau belajar sebuah perilaku baru hingga akhirnya manusia nyaman dan tertanam sebagai sebuah kebiasaan?

Berdasarkan banyak referensi ternyata tak butuh waktu lama. Jika dilakukan secara intensif dan tanpa putus, menanamkan sebuah perilaku sehat hanya butuh waktu 21 hari. Berdasarkan penelitian, langkah perubahan perilaku terdiri atas tiga tahap. Untuk melalui ketiga tahapan tersebut, dibutuhkan waktu minimal 21 hari. Tujuh hari pertama adalah tahapan menanamkan pengetahun untuk memengaruhi pola pikir. Tujuh hari kedua adalah tahapan internalisasi untuk menjadikan suatu perilaku yang telah diketahui sebagai pola sikap atau kebiasaan. Dan, tujuh hari terakhir merupakan tahapan untuk mengubah pola sikap menjadi budaya baru.

Apakah teori 21 hari itu valid? Apakah dalam 21 hari dijamin dapat mengubah perilaku manusia?

Pertanyaan tersebut cukup sulit karena ternyata teori 21 hari itu adalah mitos yang bersumber dari buku Dr. Maxwell Maltz, seorang ahli bedah plastik, di tahun 1960an. Ia mengamati bahwa seseorang yang diamputasi memerlukan waktu rata-rata 21 hari untuk beradaptasi terhadap kehilangan anggota tubuhnya. Berdasarkan itulah Dr. Maxwell mengambil kesimpulan pendek bahwa manusia memerlukan waktu sekitar tiga minggu untuk mengadaptasikan diri terhadap perubahan-perubahan di dalam hidup.

Berdasarkan hasil penelitian terbaru Phillippa Lally dari University College London yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology:
“To investigate the process of habit formation in everyday life, 96 volunteers chose an eating, drinking or activity behaviour to carry out daily for 12 weeks. The time it took participants to reach 95% of their asymptote of automaticity ranged from 18 to 254 days; indicating considerable variation in how long it takes people to reach their limit of automaticity and highlighting that it can take a very long time.“

Ternyata waktu yang diperlukan untuk menciptakan habit atau perilaku bervariasi tergantung tingkat kompleksitas / kesulitan perilaku yang diinginkan. Dari hasil penelitian di atas ditemukan bahwa secara rata-rata diperlukan waktu 66 hari agar aktifitas itu bisa dilakukan dengan otomatis. Semakin mudah, semakin cepat manusia terprogram untuk melakukannya dan demikian juga sebaliknya. Jadi sepertinya kita harus merevisi waktu untuk mengubah suatu perilaku dari 21 hari menjadi 66 hari, atau kira-kira dua bulan. Memang kadang tidak perlu selama itu, namun angka tersebut bisa dibilang sebagai batas universal.

Namun sekompleks apa pun perilaku yang ingin dirubah terutama perilaku selamat dan sehat, kuncinya tetap satu yakni lakukan repetisi terus secara konsisten, khususnya pada hari-hari awal, karena penelitian di atas juga menemukan bahwa disiplin diri di awal akan sangat mempercepat proses instalasi habit atau perilaku. Perubahan perilaku hanya dapat dicapai dengan mempraktekkannya dengan konsisten. Itulah sebabnya, manusia yang tumbuh atau hidup di sebuah komunitas yang kuat budaya perilaku mengenai tentang keselamatan dan kesehatan (misal perusahaan-perusahaan besar atau negara-negara maju) biasanya akan lebih cepat menyerap perilaku selamat dan sehat tersebut karena dalam komunitas tersebut akan saling mengingatkan untuk terus mempraktekkan perilaku tersebut. Alarmnya adalah rekan atau teman kita sendiri yang ada di dalam komunitas kerja kita.

Referensi:
http://www.untukku.com/artikel-untukku/mitos-kebiasaan-21-hari-untukku.html
http://lifestyle.okezone.com/read/2011/12/22/195/545993/bentuk-perilaku-sehat-cukup-21-hari
http://dailyequipped.wordpress.com/2012/03/13/modifikasi-21/
Sumber gambar: http://www.thebolditalic.com/articles/593-broke-ass-social-scene

Postingan terkait: