Aspek Fisik dan Mental Tubuh Manusia

Ergonomi dan K3 adalah bidang-bidang yang berorientasikan pada manusia karena manusia merupakan pusat dari suatu sistem dalam hal ini sistem kerja. Lalu sebenarnya manusia itu apa? Jika dijelaskan deskripsi apa itu manusia maka penjelasannya akan sangat panjang dan sangat beraneka ragam. Yang menjadi fokus pada tulisan kali ini bukan deskripsi rinci manusia ditinjau dari segala bidang. Yang ditekankan di tulisan ini adalah bahwa manusia memiliki dua aspek dalam tubuhnya, yakni aspek fisik dan mental. Dari dua aspek ini sebenarnya sudah dapat menjelaskan apa itu manusia.


Aspek Fisik Manusia

Aspek atau ciri-ciri fisik manusia merupakan bagian dari tubuh manusia yang tampak kasat mata. Kepala, kulit, hidung, rambut, tangan, punggung, tulang, sel dll merupakan bagian dari tubuh manusia yang tampak secara fisik. Ukuran-ukuran manusia baik yang statis seperti tinggi badan, berat badan, lingkar perut, warna kulit, bentuk muka, jarak pandang mata, atau yang dinamis seperti kecepatan berlari, jangkauan tangan dan sejenisnya merupakan ukuran dari aspek fisik manusia.

Aspek Mental Manusia


Aspek atau ciri-ciri mental manusia merupakan bagian dari tubuh manusia yang tidak kasat mata atau tidak tampak secara fisik. Walaupun tidak tampak secara fisik, aspek mental berkaitan erat dengan fungsi dari fisik manusia seperti syaraf dan otak sebagai pusat sistem syaraf. Aspek ini juga sering disebut kognisi / kognitif dan dikaitkan dengan intelektual, kesadaran, pikiran, persepsi, pembelajaran dan bahkan termasuk emosi. Untuk emosi, beberapa pihak tidak menggolongkannya ke dalam aspek mental, namun disepakati bahwa emosi dipengaruhi mental dan memiliki kesamaan dengan kecerdasan, persepsi dan lainnya yakni sama-sama bersumber dari otak, jadi secara kasar disini emosi bisa disebut masuk dalam aspek mental. Ukuran-ukuran manusia seperti IQ (kecerdasan, ketelitian, daya tahan stres), EQ, dan sejenisnya merupakan ukuran dari aspek mental manusia. 

K3 dan Aspek Fisik dan Mental Tubuh Manusia

Jika dikaitkan dengan keselamatan dan kesehatan kerja maka manusia dikatakan selamat atau sehat tidak hanya secara fisik namun juga secara mental. Dan jika prinsip ergonomi yakni “fit the task to the person” dipakai maka kondisi kerja selain harus disesuaikan dengan fisik pekerja juga harus disesuaikan dengan mental pekerja, karena inilah terdapat bidang ergonomi kognitif yang membahas masalah keselamatan dan kesehatan kerja diluar ergonomi fisik. Namun kelihatannya aspek mental pekerja belum banyak diperhatikan, mayoritas K3 lebih fokus ke aspek fisik manusia.

Ketika pekerja terjepit, terpeleset, terkena bahan kimia, tersetrum, kejatuhan, MSD atau lain-lain sejenisnya maka yang paling terlihat adalah luka atau penyakit secara fisik. Namun ketika orang diberi beban kerja kantor yang tinggi, dimarahi-marahi atasan, di-bully, diberi pekerjaan diluar kemampuan kecerdasannya atau lain-lain sejenisnya maka luka yang dirasakan adalah luka mental dan tidak terlihat oleh mata. Bahaya-bahaya kerja yang lebih bersifat mental seperti ini kita kenal dengan hazard psikososial.

Note (pendapat saya): Banyak orang menyamakan fisik manusia dengan raga atau jasad, namun saya tidak menyebut aspek fisik sebagai raga atau jasad karena aspek mental bagi saya juga merupakan bagian dari raga atau jasad atau merupakan penjewantahan dari fungsi aspek fisik yakni fungsi otak, gen, saraf dll. Jika berbicara mengenai konteks raga atau jasad maka padanannya adalah ruh, ketika tubuh manusia itu mati maka aspek fisik akan hilang dan begitupula aspek mentalnya hilang namun ruh tidak mati. Jadi jangan juga samakan mental dengan ruh / jiwa / spirit walaupun di kalangan umum banyak disamakan. Dan ruh atau jiwa tidak dibahas disini.

Postingan terkait: