K3 dan Islam

Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan sesuatu yang harus dipahami setiap muslim. Setiap muslim wajib bekerja. Apa dasar orang muslim bekerja? Jawabannya klik disini. Dalam bekerja, setiap muslim harus memperhatikan K3. Ada beberapa hal yang dapat mengancam K3, hal-hal tersebut dinamakan hazards (bahaya kerja). Hazards bisa berasal dari lingkungan kerja maupun dari diri pekerja itu sendiri dan salah satunya adalah akibat perilaku yang tidak aman dalam bekerja, selengkapnya mengenai hazards klik disini. Aspek perilaku (behavioral) pekerja merupakan faktor terbesar yang mempunyai kontribusi terhadap timbulnya kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja.


Hazards (bahaya kerja) tersebut termasuk perilaku kerja yang tidak aman / berbahaya harus diatasi atau dihilangkan atau diminimalisir. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw, "Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain" (HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340). Sementara Imam Abu Dâwud radhiyallâhu'anhu dan yang lainnya meriwayatkan dari Abi Sharmah radhiyallâhu'anhu, seorang Sahabat Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam, dari Nabi shallallâhu 'alaihi wasallam, beliau bersabda, "Barang siapa yang membahayakan orang (lain), maka Allâh akan membahayakan dirinya, dan barang siapa yang memberatkan orang lain maka Allâh akan memberatkannya."
Adanya sesuatu yang berbahaya itu sendiri tidak dibolehkan di dalam syari'at, demikian juga dengan menimbulkan bahaya tanpa hak. Jadi, menimbulkan bahaya (dharar) adalah ditiadakan (tidak berlaku) dalam syari'at, baik bahayanya terhadap badan, akal, ataupun harta. Sebagaimana diketahui pula bahwa hazards (bahaya kerja) termasuk perilaku kerja yang tidak aman adalah berbahaya terhadap badan, mental, dan harta. Jadi sebagai pekerja hendaknya tidak berperilaku yang tidak selamat (unsafe behavior) dan orang yang mempekerjakan pekerja hendaknya tidak membiarkan pekerjanya terpapar hazards (bahaya kerja) baik dengan cara engineering control, work practice control, dsb (selengkapnya klik disini) sehingga akibat dari hazards (bahaya kerja) dapat dihilangkan atau diminimalisir.

Banyak perusahaan yang kurang memperhatikan K3 terutama di negara-negara berkembang (masih belum negara maju). K3 masih banyak dianggap sebagai suatu yang kurang perlu, kurang penting, atau bahkan dianggap sebagai suatu pemborosan. Hal ini sama saja dengan membiarkan pekerja-pekerja terpapar hazards (bahaya) atau dengan kata lain menimbulkan bahaya terhadap orang lain dimana hal itu sekiranya akan menguntungkan pelakunya (perusahaan) tersebut padahal menimbulkan bahaya terhadap orang lain dimana bahaya yang ditimbulkannya itu sebenarnya tidak menguntungkannya.

Sebagai muslim janganlah berpelit-pelit dalam urusan K3. K3 itu sangat penting. Sudah banyak bukti nyata perusahaan-perusahaan yang ‘tidak lancar’ bisnisnya dan bahkan ada usaha yang hancur karena kurang memperhatikan K3. Sudah jelas bahwa keselamatan dan kesehatan itu sangat penting termasuk keselamatan dan kesehatan saat bekerja. Karena itu investasi dalam K3 itu sangat penting. K3 memang memerlukan biaya, tapi K3 itu bukanlah murni “cost center”. Banyak bukti juga yang menunjukkan dengan mengimplementasikan ergonomi atau K3 dapat meningkatkan performa dan produktivitas dan berefek pada finansial yang lebih baik, selengkapnya klik disini.

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al-Baqarah: 195).

Janganlah kamu melakukan sebab yang menjadi kebinasaanmu. Mengabaikan K3 dan membiarkan paparan hazards dan melakukan unsafe behavior termasuk perbuatan yang mencampakkan diri sendiri ke dalam kebinasaan. Allah tidak pernah membebani para hamba-Nya dengan sesuatu yang membahayakan (merugikan) diri mereka atau pun dari mereka kemudian membahayakan orang lain, baik bahaya tersebut terdapat pada makanan, minuman, transaksi keuangan atau pun lainnya termasuk bahaya pada saat kerja. Di antara bentuk ditiadakannya bahaya (dharar) dari kaum Muslimin adalah manakala Allah menghapuskan hal-hal yang menyulitkan dan sulit atas umat ini. Yaitu sebagaimana firman-Nya:

"Allah tidak membebani suatu jiwa (seseorang) melainkan sesuai dengan kemampuannya" (Q.S. Al-Baqarah: 286).

Prinsip ergonomi yang merupakan azas dari K3 juga memiliki makna yang serupa yakni fitting the job to the man, sesuaikan pekerjaan dengan manusia (karakteristik manusia, kemampuan manusia dsb), selengkapnya klik disini.

Berkaitan dengan hadist pada paragraf kedua di atas, terdapat kaidah-kaidah lain yang merupakan penjabaran dari kaidah di atas (makna hadits tersebut) meliputi (selengkapnya bisa baca di http://ahmadsabiq.com/2010/05/25/tidak-boleh-berbuat-sesuatu-yang-membahayakan/ ):
  • Sesuatu yang membahayakan itu harus dihilangkan
    Hal ini sesuai dengan K3 bahwa segala paparan hazards harus dihilangkan baik dengan engineering control, work practice control, dsb.
  • Sesuatu yang membahayakan harus diantisipasi semampunya
    Hal ini sesuai dengan program K3 sebaiknya lebih ke preventif dan promotif daripada kuratif.
  • Sesuatu yang berbahaya tidak boleh dihilangkan dengan hal yang sama bahayanya
    Hal ini sesuai dengan engineering control pada K3 bahwa sesuatu yang berbahaya (misalnya material berbahaya) bisa diganti (disubstitusi) dengan yang yang tidak berbahaya, tidak bisa diganti dengan hal yang sama bahayanya. Jika tidak bisa disubstitusi bisa menggunakan metode engineering control lain seperti mengganti proses, mengurung proses, atau dengan work practice control atau bahkan dengan alat pelindung diri (APD).
  • Suatu hal yang bahayanya lebih besar (parah) dapat dihilangkan dengan bahaya yang lebih ringan
    Hampir mirip dengan point sebelumnya bahwa sesuatu yang berbahaya (misalnya material berbahaya) bisa diganti (disubstitusi) dengan yang mempunyai tingkat bahaya lebih rendah.
  • Menolak terjadinya kerusakan (hal yang merugikan) didahulukan atas upaya meraih suatu kemashlahatan (hal yang menguntungkan)
    Hal ini sesuai dengan slogan K3 yakni “safety first” atau “utamakan keselamatan” yang artinya keselamatan harus didahulukan.
Jadi kesimpulannya K3 sangat sesuai dengan Islam karena sama-sama mengingatkan umat manusia agar senantiasa berperilaku (berpikir dan bertindak) yang aman / selamat (safe) dan sehat dalam bekerja dan melarang adanya bahaya dalam bekerja di tempat kerja (di kantor, di pabrik, di tambang, dan di mana pun tempat bekerja). Dengan begitu akan tercipta suatu kondisi atau lingkungan yang aman (safe), sehat (healthy), dan produktif (productive), dan selanjutnya akan membawa keuntungan bagi diri pekerja maupun perusahaan tempat bekerja. Jadi mari kita mulai sekarang bekerja dengan SELAMAT.

Postingan terkait: