Klinik Okupasi

Salah satu instansi kesehatan yang telah menyediakan klinik okupasi adalah RS Royal Progress, Jakarta. Tulisan berikut diambil dari http://www.royalprogress.com/information_update.php?id=16.


Sebagai komitmen dalam “Kesehatan Keselamatan Kerja” pada 13 Juli 2011, bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS Royal Progress - Sunter, Jakarta mengadakan Seminar K3 dan memperkenalkan Klinik Kedokteran Okupasi sebagai salah satu layanannya untuk pasien umum dan pasien rekanan.

Latar Belakang di bidang Kesehatan Keselamatan Kerja
Berdasarkan data BPS (Agustus 2009), jumlah pekerja di Indonesia bekerja di sektor informal, yaitu 64.844.340 dan hanya 39.641.104 yang bekerja di sektor formal. Maka para pekerja di Indonesia mempunyai peranan yang penting di dalam pembangunan negara dan pengembangan perekonomian.

Selanjutnya pasal 28h UUD 1945 ini dijabarkan dalam UU Hak Asasi Manusia nomor 39 tahun 1999 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan HAM termasuk bidang kesehatan dan dalam UU Kesehatan nomor 36 tahun 2009 pada bab XII mengenai Kesehatan Kerja, pasal 164 – 166, yang secara tegas menyatakan ruang lingkup, tugas dan tanggung jawab pemerintah, pengusaha dan pekerja di bidang kesehatan kerja.

Untuk kecelakaan kerja, PT Jamsostek pada tahun 2008 melaporkan bahwa telah terjadi kecelakaan kerja sebanyak 93.823 kasus dengan jumlah kematian akibat kerja mencapai 14.451 kasus, sedangkan jumlah klaim asuransi yang dibayarkan oleh PT Jamsostek pada tahun 2008 sebesar 292 milyar rupiah. Dari informasi di atas dapat diperkirakan bahwa masalah kesehatan populasi pekerja di Indonesia cukup besar dan sudah saatnya untuk mendapatkan perhatian yang serius, baik dari pihak pembuat kebijakan maupun dari pihak pemberi pelayanan kesehatan, termasuk di antaranya institusi rumah sakit.

Peran RS dalam K3
Peranan rumah sakit dalam K3 adalah sebagai:
  1. Peningkatan pelayanan dalam program “Corporate Health Services” atau perusahaan rekanan dan memberikan pelayanan konsultasi pada lingkungan kerja untuk mengukur keselamatan di tempat kerja dan memberikan saran bagaimana cara untuk meningkatkan keselamatan pada karyawan.
  2. Berperan dalam mendiagnosis dan tatalaksana penyakit akibat kerja, dan merujuk ke dokter spesialis lainnya untuk penilaian kelailaian kerja atau kembali bekerja serta penilaian kecacatan. 
  3. Menerima rujukan dari dokter perusahaan, dokter puskesmas, dokter praktek pribadi dan dokter spesialis lain yang memeriksabahwa penyakit yang diderita oleh pasiennya ada hubungannya dengan pekerjaan.
  4. Dokter spesialis kedokteran okupasi juga berperan dalam menjaga keamanan dan keselamatan pengunjung dan pasien Rumah Sakit.
Pelayanan kesehatan kerja yang diberikan oleh rumah sakit dianggap oleh pekerja sebagai netral atau tidak dipengaruhi oleh manajemen dibandingkan dengan pelayanan kesehatan kerja yang diberikan di dalam klinik perusahaan. Ini menjadi salah satu kelebihan dari adanya pelayanan kedokteran okupasi di rumah sakit.

Program RS Royal Progress
Sebagai bagian dari Progress Group, RS Royal Progress memberikan pelayanan kedokteran okupasi yang mencakup tiga bagian besar yakni memberikan pelayanan manajemen kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit, pelayanan klinik kedokteran okupasi, dan pelayanan komunitas.

“Tujuan dari pelayanan manajemen kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit adalah terciptanya cara kerja, lingkungan kerja yang sehat, aman, nyaman dan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan karyawan“, lanjut Derice A. Sumantri Vice Chairman Progress Group (Head of Healthcare division).
 
Pelayanan klinik kedokteran okupasi:
  1. Memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja, berkala, dan pemeriksaan khusus termasuk pemeriksaan menjelang berhenti bekerja yang sesuai dengan potensi bahaya yang dialami pekerja dalam melakukan pekerjaannya.
  2. Diagnosis dan tatalaksana penyakit akibat kerja, penilaian kelaikan untuk bekerja, penilaian kembali bekerja, pencegahan penyakit menular di tempat kerja dengan vaksinasi/imunisasi.
Pelayanan komunitas dalam hal ini adalah pelayanan kesehatan kerja bagi perusahaan yang tidak memiliki dokter spesialis kedokteran okupasi atau magister kedokteran kerja sendiri. Pelayanan yang diberikan adalah:
  1. Konsultasi awal on-site atau klinik (mengunjungi lokasi klien atau dikunjungi oleh klien,  untuk mengetahui kebutuhan klien).
  2. Kunjungan konsultasi on-site (mengunjungi lokasi klien untuk mengevaluasi suatu masalah tertentu).
  3. Health hazard evaluation (survey ekstensif dan penilaian masalah, mungkin diperlukan kunjungan dalam bentuk tim).
  4. Kunjungan follow up (mengunjungi pabrik untuk mengevaluasi kemajuan program dalam menyelesaikan suatu situasi/masalah yang kompleks).
  5. Provisi klinik di dalam perusahaan
  6. Safety inspections untuk mencegah kecelakaan
  7. Supervisi, pelatihan dan pendidikan untuk staff dalam pabrik (perawat, petugas safety).
  8. Program promosi kesehatan.
  9. Konsultasi dengan manajemen untuk menentukan kebutuhan dan mendesain pelayanan kesehatan kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.
  10. Program konservasi pendengaran
  11. Job analysis – ergonomi.
“Dengan penunjang diagnosis canggih yang tersedia di RS Royal Progress, dukungan dokter spesialis yang bekerja terintegrasi, dan sistem informasi yang handal, menjadikan pemberian layanan yang komperehensif dan efektif” tutup dr. Suryo Wibowo, SpOk – Ketua Klinik Okupasi RS Royal Progress dan tim Kedokteran Okupasi Universitas Indonesia.

Layanan ini menjadikan investasi perusahaan untuk kesehatan pekerjanya tidak sia-sia dan tidak sekedar memenuhi peraturan perundangan yang ada, tetapi tertuju pada peningkatan kinerja perusahaan dan produktivitas.

Postingan terkait: