Kedokteran Okupasi atau Kedokteran Kerja

Cabang kedokteran komunitas yang memberikan perhatian khusus kepada komunitas pekerja adalah kedokteran okupasi (occupational medicine) atau kedokteran kerja. Kedokteran okupasi melakukan intervensi kesehatan yang ditujukan kepada para pekerja dan lingkungan kerjanya, yang bersifat pencegahan primer (health promotion, specific protection), sekunder (early detection and prompt treatment), dan tersier (disability limitation, rehabilitation, prevention of premature death). Kedokteran okupasi atau kedokteran kerja juga dikenal dengan nama hiperkes medis.


Kedokteran okupasi melakukan penilaian tentang berbagai risiko dan bahaya (hazard) di tempat kerja bagi kesehatan pekerja, dan menerapkan upaya pencegahan penyakit dan cedera, serta meningkatkan kesehatan populasi pekerja. Dokter okupasi melakukan upaya menurunkan risiko, mencegah terjadinya penyakit dan cedera akibat kerja, dengan menerapkan ventilasi setempat, penggunaan peralatan protektif perorangan, perubahan cara bekerja, dan vaksinasi. Dokter okupasi melakukan surveilans kesehatan melalui skrining/ pemeriksaan kesehatan secara berkala (Agius dan Seaton, 2005).

Dokter okupasi juga melakukan pencegahan tersier, yakni melakukan upaya pelayanan medis perorangan pasca penyakit untuk membatasi kecacatan, disfungsi sisa, dan kematian, melakukan rehabilitasi, dan mencegah rekurensi penyakit, untuk memulihkan dan meningkatkan derajat kesehatan masing-masing pekerja.

Dokter okupasi juga memberikan pelayanan medis langsung kepada pekerja yang sakit. Dokter okupasi menaksir besarnya masalah dan memberikan pelayanan kuratif untuk mengatasi masalah penyakit yang dialami pekerja. Dokter okupasi melakukan penatalaksanaan medis terhadap gangguan-gangguan penyakit penting yang berhubungan dengan pekerjaan, mencakup pernapasan, kulit, luka bakar, kontak dengan agen fisik atau kimia, keracunan, dan sebagainya. Dokter okupasi menganalisis absensi pekerja, dan menghubungkannya dengan faktor-faktor penyebab (Agius dan Seaton, 2005).

Semua kegiatan kedokteran okupasi tersebut ditujukan untuk melindungi, memelihara, dan meningkatkan derajat kesehatan pekerja. Derajat kesehatan yang optimal memberikan kontribusi bagi kinerja perusahaan, seperti produktivitas, laba (profitability), dan kelangsungan hidup (survival) (Segal, 1999). Peningkatan derajat kesehatan pekerja akan meningkatkan produktivitas laba, dan kelangsungan hidup perusahaan.

Kedokteran okupasi atau kedokteran kerja biasanya bekerja menangani diagnosis penyakit akibat kerja dan terapi penyakit akibat kerja serta cacat yang dikibatkannya. Bidang kedokteran ini sering disebut sebagai hospital based, sebab pada umumnya penyakit akibat kerja akan berbentuk sama dengan penyakit lainnya yang ada di rumah sakit. Ada pula klinik (diluar perusahaan) yang mengkhususkan pada kedokteran okupasi dan ada pula rencana mewujudkan rumah sakit khusus pekerja di Indonesia, selengkapnya klik disini dan disini.

Untuk mengetahui gambaran perbedaan tugas dokter okupasi dengan profesional di bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) lainnya klik disini.

Sampai saat ini saya baru pernah mendengar satu program pendidikan kedokteran okupasi atau kedokteran kerja di Indonesia yakni di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Di FKUI ada dua macam pendidikan yang berhubungan dengan kedokteran okupasi atau kedokteran kerja yakni Magister Kedokteran Kerja (S2) dan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Kedokteran Okupasi (spesialis).

Magister Kedokteran Kerja

Program Studi Magister Kedokteran Kerja FKUI didirikan pada tahun akademis 1978/1979. Gelar lulusan Program Studi Kedokteran Kerja adalah: Magister Kedokteran Kerja (MKK). Di luar negeri, gelarnya MKK itu ekuivalen dengan Master of Medicine in Occupational Medicine (M.Med.(OM), dulu MSc.(OM)). Lulusan Program Studi Magister Kedokteran Kerja dapat melanjutkan ke Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi dan begitu pula sebaliknya (semacam double degree).

Lulusan program Magister Kedokteran Kerja adalah dokter yang mampu:
  1. Mengantisipasi dan mengidentifikasipotensi masalah/masalah kesehatan kerja dan komunitas pekerja dan industri.
  2. Mengembangkan dan mengimplementasikan program pencegahan untuk masalah kesehatan maupun keselamatan ditempat kerja, baik yang langsung diakibatkan pekerjaan, berhubungan dengan pekerjaan maupun masalah kesehatan umum.
  3. Meningkatkan tingkat kesehatan pekerja melalui program promotif.
  4. Memahami cara mendiagnosis dan mengelola penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan.
  5. Mengidentifikasi potensi bahaya lingkungan kerja terhadap kesehatan.
  6. Mengelola program kesehatan dan keselamatan kerja di institusi pemerintah, institusi kesehatan maupun di perusahaan/tempat kerja.
  7. Melakukan penelitian epidemiologis.
  8. Berkomunikasi secara efektif dalam berkerja sama dengan pihak manajeman, pekerja dan teman sejawat dalam berupaya untuk mengembangkan tempat kerja yang aman dan sehat.
  9. Melaksanakan semua kegiatan dengan tetap berpegang teguh pada etika kedokteran dan etika ilmiah.
Selengkapnya mengenai Program Studi Magister Kedokteran Kerja FKUI klik disini.

Dokter Spesialis Okupasi

Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Kedokteran Okupasi FKUI adalah salah satu PPDS yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), sejak tanggal 31 Mei 2006. Gelar lulusan setelah menyelesaikan program ini adalah Spesialis Kedokteran Okupasi (SpOk). PPDS Kedokteran Okupasi FKUI juga menerima peserta lanjutan dari Magister Kedokteran Kerja. Wadah yang menampung spesialis dokter okupasi di Indonesia adalah PERDOKI (Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia), klik disini.

Lulusan PPDS Kedokteran Okupasi memiliki kemampuan untuk:
  1. Mengantisipasi dan menidentifikasi potensi masalah/masalah kesehatan kerja dikomunitas pekerja dan industri.
  2. Mengembangkan dan mengimplementasikan program pencegahan untuk masalah kesehatan dan keselamatan di tempat kerja, baik yang langsung di akibatkan pekerjaan, berhubungan dengan pekerjaan maupun masalah kesehatan umum.
  3. Meningkatkan tingkat kesehatan pekerja melalui program promotif.
  4. Mengdiagnosis dan mengelola penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan.
  5. Melakukan penatalaksanaan kasus-kasus kecelakaan kerja dan keracunan bahan-bahan kimia ditempat kerja.
  6. Melakukan return to work evaluation dan rehabilitasi kembali kerja.
  7. Mengelola program kesehatan kerja di institusi pemerintah, institusi kesehatan maupun di perusahaan/tempat kerja.
  8. Melakukan surveilans dan penelitian epidemiologi untuk memenuhi kebutuhan perencanaan, pengelolaan dan penentuan kebijakan penanggulangan penyakit akibat kerja.
Selengkapnya mengenai spesialis kedokteran okupasi klik disini, sendangkan mengenai PPDS Kedokteran Okupasi FKUI klik disini.

Kedokteran Kesehatan Kerja


Di beberapa referensi terdapat istilah selain dokter okupasi untuk dokter yang berhubungan dengan K3 yakni dokter kesehatan kerja (kesehatan kerja). Lalu apa bedanya dokter okupasi (kedokteran kerja) dan dokter kesehatan kerja? Secara kasar mungkin bisa disebutkan bahwa dokter kesehatan kerja bersama profesi K3 lainnya ikut dalam fokus promotif dan protektif yang artinya aktif bekerja dengan pekerja dan berorientasi pada risiko dan manajemen risiko. Sedangkan dokter okupasi fokus pada terapi dan rehabilitasi, serta surveilans medis dan biasanya dalam bentuk out-sourcing. surveilans medis juga biasa dilakukan oleh dokter kesehatan kerja, sehingga cakupan kodokteran kesehatan kerja terlihat lebih luas walaupun surveilans medis tetap menjadi ‘spesialisasi’ dokter okupasi.

Postingan terkait: