Simple Reaction Time

Semua jenis pekerjaan melibatkan performansi manusia. Performansi ini salah satunya berkaitan dengan konsentrasi dan respon atau tanggapan terhadap rangsangan yang diterima. Semakin tinggi konsentrasi dan semakin cepat menanggapi respon, maka akan semakin tinggi pula performansinya. Waktu dalam menanggapi reaksi ini sangat berkaitan dengan waktu reaksi.


Waktu reaksi (reaction time) merupakan waktu antara pemberian rangsangan sampai dengan timbulnya respon terhadap rangsangan tersebut. Parameter waktu reaksi ini dipakai untuk pengukuran performansi. Yang mempengaruhi performansi kerja diantaranya tingkat kelelahan, kondisi motivasi, rasa bosan, konsentrasi, dan kondisi psikologis manusia lainnya. Hal tersebut akan mengakibatkan waktu reaksi yang berbeda-beda antara satu kondisi dengan kondisi lainnya. Kondisi-kondisi tersebut dipengaruhi oleh lingkungan baik secara fisik (penerangan, temperatur, getaran, dll) maupun secara psikologis (suasana hati, motivasi, dll) dan kerja itu sendiri.

Oleh karena itu, perlu adanya pengkajian lebih lanjut tentang waktu reaksi dalam hubungannya dengan aktivitas kerja. Waktu reaksi menjadi hal yang sangat penting dan signifikan dalam pengukuran performansi kerja. Dalam praktikum ini, akan diteliti bagaimana perbandingan waktu reaksi sederhana sebelum dan sesudah melakukan aktivitas fisik.

Waktu reaksi merupakan interval waktu yang diperlukan seseorang untuk memberikan reaksi terhadap sinyal atau rangsangan yang muncul ketika seseorang memberikan respon tentang sesuatu yang didengar, dilihat, atau dirasakan. Ada berbagai macam eksperimen waktu reaksi:
  • Simple Reaction Time Experiment
    Pada eksperimen ini hanya ada satu jenis stimulus dan satu reaksi. Contohnya percobaan waktu reaksi terhadap cahaya, reaksi terhadap bunyi pada lokasi yang telah ditentukan dan tetap.
  • Recognition Reaction Time Experiment
    Terdapat banyak stimulus. Pada stimulus tertentu, subjek harus memberi respon sedangkan ada beberapa yang subjek tidak boleh merespon. Ada 2 jenis, yaitu symbol recognition (subjek menghafal lima buah huruf, kemudian subjek hanya bereaksi pada huruf yang dihafal tersebut) dan tone/sound recognition (subjek menghafal frekuensi dari bunyi, kemudian subjek hanya bereaksi pada frekuensi yang dihafalkan).
  • Choice Reaction Time Experiment
    Subjek harus merespon stimulus yang diberikan berupa huruf yang ditampilkan di layar, kemudian menekan tombol huruf/keyboard yang sesuai dengan stimulus yang diberikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu reaksi:
  1. Arousal
    Arousal atau state of attention, dalam hal ini didalamnya termasuk tekanan darah. Waktu reaksi akan menjadi cepat bila tekanan darah ada di level tengah (dalam keadaan normal), dan akan melambat bila praktikan terlalu santai atau terlalu tegang
  2. Usia
    Waktu reaksi menjadi berkurang mulai usia bayi hingga akhir 20-an, bertambah pada usia 50-60 tahun, lalu melambat pada usia 70 tahun keatas. Penurunan waktu reaksi pada orang dewasa mungkin disebabkan karena orang dewasa lebih hati-hati merespon sebuah stimulus. Orang dewasa juga cenderung mencurahkan pikirannya pada satu stimulus dan mengabaikan stimulus yang lainnya.
  3. Jenis kelamin
    Biasanya laki-laki memiliki waktu reaksi yang lebih cepat daripada wanita.
  4. Right handed vs left handed
    Orang kidal, banyak menggunakan otak kanan, dimana otak kanan banyak digunakan untuk berpikir mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kreativitas, dan hal-hal yang berkaitan dengan ruang (misal: membidik sasaran). Maka banyak peneliti bernaggapan bahwa orang kidal memiliki waktu reaksi yang lebih cepat dibanding dengan orang yang tidak kidal.
  5. Direct vs peripheral vision
    Waktu reaksi akan lebih cepat bila stimulus diberikan ketika subyek melihat tepat pada titik stimulus (direct vision), dan dapat melambat bila stimulus diberikan disekitar pandangan mata (peripheral vision).
  6. Practice and errors
    Ketika seorang subyek melakukan hal yang baru atau belum pernah dilakukan sebelumnya, maka waktu reaksinya akan lebih lambat bila dibandingkan dengan subyek yang sudah terlatih atau efek pembelajaran.
  7. Kelelahan
    Waktu reaksi akan melambat bila subyek sedang mengalami kelelahan.
  8. Gangguan
    Adanya gangguan pada saat stimulus diberikan dapat meningkatkan waktu reaksi.
  9. Peringatan akan stimulus
    Waktu reaksi akan menjadi lebih cepat apabila ada peringatan yang diberikan kepada subyek sebelum stimulus tersebut diberikan.
  10. Alkohol
    Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menurunkan waktu reaksi.
  11. Faktor lingkungan
    Pencahayaan, temperatur, dll.
  12. Faktor psikologi
    Suasana hati, tekanan, dll.
Referensi: Laporan praktikum ergonomi 2008 SRT TI-UGM