KNKT: Faktor Manusia Jadi Penyebab Utama Kecelakaan 2011

KNKT melansir penyebab utama kecelakaan transportasi sepanjang tahun 2011. Rupanya faktor manusia paling banyak berkontribusi terhadap kecelakaan.

"Human factor, atau faktor manusia memberi kontribusi 62,5 persen terhadap kecelakaan di jalan, laut dan udara. Angka ini meningkat 44 persen jika dibandingkan tahun 2010," kata Ketua KNKT, Tatang Kurniadi, dalam acara media rilis akhir tahun 2011 di kantor Kementerian Perhubungan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (29/12/2011).


Selain faktor manusia, menurut Tatang, ada faktor teknis yang menyebabkan kecelakaan transportasi. Faktor ini berkontribusi sebesar 37,5 persen di tahun 2011. Dengan perincian, 25 persen di laut, 6,25 persen di jalan dan 6,25 persen di kereta api.

"Angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan data kontribusi faktor teknis di tahun 2010 yaitu sebesar 53 persen," ujar Tatang.

Dikatakan Tatang, ada juga faktor eksternal yang berkontribusi pada kecelakaan. Ia mencontohkan masalah cuaca atau kondisi lingkungan.

"Namun tidak ada persentasi berapa kontribusinya karena masih memerlukan analisis dan pengkajian mendalam apakah faktor cuaca menjadi kontributor utama dalam kecelakaan," kata dia.

KNKT juga memberikan rekomendasi kepada pihak-pihak terkait untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Pada tahun 2011, ada 99 rekomendasi yang terdiri dari kereta api (10 rekomendasi), transportasi laut (12 rekomendasi), moda jalan (17 rekomendasi) dan transportasi udara (60 rekomendasi).

"Sejauh ini ada respons dari pemerintah terhadap rekomendasi kita, saya bisa komentari luar biasa," ujar Tatang.

Sumber: http://www.detiknews.com/read/2011/12/29/125245/1802245/10/knkt-faktor-manusia-jadi-penyebab-utama-kecelakaan-2011

Lalu apa faktor manusia benar-benar menjadi penyebabnya? Apakah sama dengan human error? selengkapnya klik disini.
Baca selengkapnyaKNKT: Faktor Manusia Jadi Penyebab Utama Kecelakaan 2011

Teknik Industri adalah

Ergonomi / human factors adalah bagian dari teknik industri. Sebelumnya pernah dipost mengenai teknik industri disini dan disini, untuk postingan kali ini kurang lebih sama namun dari sumber lain (Eris Kusnadi http://erisx.wordpress.com/2008/11/26/tentang-disiplin-teknik-industri-2/) dan eberapa tambahan.

“Teknik industri” merupakan istilah nama disiplin ilmu yang diterjemahkan dari Industrial Engineering (IE). Seharusnya kata “engineering” lebih cocok diartikan dengan kata “rekayasa”. Disiplin ini merupakan bagian dari disiplin engineering yang didefinisikan oleh The Institute of Industrial Engineering sebagai:

…disiplin yang berkenaan dengan perancangan, perbaikan, dan pemasangan sistem integral dari manusia, material, informasi, mesin, dan energi. Penerapannya mencakup berbagai disiplin ilmu seperti matematika, fisika, dan ilmu sosial secara bersama-sama dengan prinsip-prinsip dan metode analisis rekayasa dan perancangan untuk membuat suatu evaluasi, perkiraan, dan pengelompokan hasil yang bisa dicapai dari sistem tersebut

(Industrial Engineering is concerned with the design, improvement, and installation of integrated systems of people, materials, information, equipment and energy. It draws upon specialized knowledge and skill in the mathematical, physiscal, and social sciences together with the principles and methods of  engineering analysis and design to specify, predict and evaluate the results to be obtained from such systems.)


Tidak seperti disiplin engineering yang lain, yaitu lebih bersifat product oriented, disiplin Teknik Industri lebih berorientasi pada menghasilkan proses (process oriented), di mana proses yang dimaksudkan tersebut adalah:

“Proses untuk memperbaiki performansi keseluruhan dari sistem yang dapat diukur dari ukuran-ukuran ekonomi, pencapaian kualitas, dampak terhadap lingkungan, dan bagaimana semua hal tersebut dapat memberikan manfaat pada kehidupan manusia” (Biles, 1991).

Sebagian besar institusi yang menyelenggarakan Program Studi Teknik Industri menggunakan sistem manufaktur sebagai obyek kajian dalam proses pembelajaran. Konon sistem manufaktur merupakan sistem yang paling konkret, bisa dilihat, dan bisa diraba. Demikian pula ditinjau dari sejarahnya, disiplin Teknik Industri memang berasal dari perkembangan revolusi industri pertama. Namun demikian sistem integral yang dimaksud tidak selalu diartikan sebagai sistem manufaktur atau pabrik; mengingat nama industri yang tercantum, melainkan semua sistem integral yang memiliki komponen “manusia-mesin”.

Sistem integral yang dimaksud bisa berasal dari industri manufaktur, industri jasa, maupun sektor pelayanan dan pemerintahan. Terdapat istilah lain yang dapat menggambarkan apa yang dimaksud dengan sistem integral ini, yaitu yang disebut sebagai sociotechnical system.

Pada dasarnya, dasar keilmuan Teknik Industri adalah multidisipliner dan terus-menerus dinamis mengadopsi perkembangan keilmuan dalam upayanya menuju suatu sistem industri yang optimal seperti yang ditunjukan gambar berikut.

Yang dilingkari merah adalah ergonomi / human factors.

Saat ini, ilmu Teknik Industri dapat dibagi ke dalam tiga bidang keahlian, yaitu Sistem Manufaktur, Manajemen Industri, dan Sistem Industri dan Tekno Ekonomi.

Sistem Manufaktur: Sebuah sistem yang memanfaatkan pendekatan Teknik Industri untuk peningkatan kualitas, produktivitas, dan efisiensi sistem integral (i.e., manusia, mesin, material, energi, dan informasi) melalui proses perancangan, perencanaan, pengoperasian, pengendalian, pemeliharaan, dan perbaikan dengan menjaga keselarasan aspek manusia dan lingkungan kerjanya. Jenis bidang keilmuan yang dipelajari dalam Sistem Manufaktur ini antara lain:
  • Sistem Produksi,
  • Perencanaan dan Pengendalian Produksi,
  • Pemodelan Sistem,
  • Perancangan Tata Letak Pabrik, dan
  • Ergonomi (human factors).
Manajemen Industri: Bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan Teknik Industri untuk penciptaan dan peningkatan nilai sistem usaha melalui fungsi dan proses manajemen dengan bertumpu pada keunggulan sumber daya insani dalam menghadapi lingkungan usaha yang dinamis. Jenis bidang keilmuan yang dipelajari dalam Manajemen Industri antara lain:
  • Manajemen Keuangan,
  • Manajemen Kualitas,
  • Manajemen Inovasi,
  • Manajemen Sumber Daya Manusia,
  • Manajemen Pemasaran,
  • Manajemen Keputusan dan
  • Ekonomi Teknik.
Sistem Industri dan Tekno Ekonomi: Bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan Teknik Industri  untuk peningkatan daya saing sistem integral (i.e., tenaga kerja, bahan baku, energi, informasi, teknologi, dan infrastruktur) yang berinteraksi dengan komunitas bisnis, masyarakat, dan pemerintah. Bidang keilmuan yang dipelajari di dalam Sistem Industri dan Tekno Ekonomi antara lain:
  • Statistika Industri,
  • Sistem Logistik,
  • Logika Pemrograman,
  • Operational Research, dan
  • Sistem Basis Data.
Perlu diketahui istilah lain untuk mengenal Teknik Industri adalah operations management, management science / scientific management, systems engineering, atau manufacturing engineering. Teknik Industri hanya berasal dari Amerika Serikat, di Eropa atau Inggris tidak dikenal Teknik Industri, tetapi mereka mengenal manufacturing engineering atau engineering management.

Kesimpulannya, disiplin ilmu Teknik Industri mengkaji berbagai ilmu agar mampu mengintegrasikan seluruh sub-sistem dalam industri, baik manufaktur maupun jasa, dalam upaya menuju suatu sistem industri yang optimal. Karena demikian, ahli rekayasa industri (industrial engineer) dapat memasuki/ menciptakan banyak lapangan kerja atau bekerja di banyak bidang lapangan kerja.
Baca selengkapnyaTeknik Industri adalah

Senam Ergonomi

Artikel ini dari http://aryawiguna10.blogspot.com/2011/11/senam-ergonomi.html

Ergonomi adalah pendekatan natural dalam bekerja, dimana seseorang setelah bekerja akan mengalami kelelahan. Kelelahan ini tentu saja akan mengakibatkan berkurangnya “performance” seseorang dan perlu diantisipasi dengan pendekatan istirahat yang sesuai dengan “Hukum alamiah dalam bekerja”. Umumnya pekerjaan saat ini menciptakan hipomobility dan cenderung memberikan pembebanan statik.

Hasil penelitian di Singapura, para tenaga kerja banyak yang menderita Sick Building Syndrome (SBS). Keluhan mereka umumnya cepat lelah 45%, hidung mampat 40%, sakit kepala 46%, kulit kemerahan 16%, tenggorokan kering 43%, iritasi mata 37%, lemah 31%, demikian pula penelitian di Paris terhadap 1505 tenaga kerja, 16 % mengalami gangguan musculoskeletal dan 47% diantaranya didominasi oleh gangguan hipomobility. Keadaan ini cenderung menjadi Trigger factor pada kasus Cummulative Traumatik Disorder (CTD).

Ergonomic Exercises

Senam / latihan ergonomi (ergonomic exercises) didesain untuk digunakan saat masa istirahat kerja di tempat kerja (workstation area) dan dapat membantu untuk mengurangi rasa kurang nyaman pada seseorang karyawan, karena melalui desain ini dapat memfasilitasi berkurangnya sakit kepala, strain pada mata, leher, punggung dan pinggang, bahu dan nyeri pada pergelangan tangan Ergonomic exercises berbentuk latihan-latihan yang singkat dan dapat dilakukan secara regular saat waktu-waktu tertentu (istirahat) di tempat kerja.


Tujuan ergonomic exercises adalah tercapainya “pain-free movement” melalui
  • Pembebasan iritasi saraf dan perbaikan fleksibilitas saraf
  • Mencegah pembebanan static
  • Normalisasi mikrosirkulasi saraf
  • Koreksi postural
  • Mobilisasi sendi, jaringan lunak
Prinsip Neurofisiologi dari Ergonomic Exercises

Desain ergonomic exercises menggunakan prinsip contraction-hold-relax yakni proses penyesuian terhadap karakteristik neurofisiologis dari jaringan konraktil, seperti:
  1. The muscle spindle (organ sensoris utama dari otot dan tersusun dari serabut intrafusal dan serabut ekstrafusal). Muscle spindle memonitor kecepatan dan durasi penguluran.
  2. The golgi tendo organ (GTO), merupakan organ yang sensitif terhadap “Tension” otot, dimana saat tension otot berhasil ditimbulkan secara kuat, maka GTO akan menstimulasi rileksasi otot.
Perlu diingat, bahwa latihan ini tidak boleh menimbulkan rasa nyeri dan rasa kurang nyaman.

Mengapa Kita Harus Melakukan Ergonomic Exercises

Seringkali dilupakan bahwa kasus yang ditangani oleh fisioterapis berupa perasaan kurang enak dan limitasi gerak fungsional setelah diberikan treatment yang adekuat seperti nerve mobilitation beberapa saat akan menunjukkan kemajuan yang berarti. Tetapi beberapa hari kemudian akan muncul kembali. Tentunya hal ini akan menimbulkan rasa frustasi bagi kedua belah pihak (fisioterapis dan klien), sehingga dibutuhkan analisis mendalam dan komprehensif segala faktor yang terkait dalam pengentasan masalah klien. Sebagai salah satu rekomendasi yang perlu diberikan adalah perubahan mindset untuk memahami aspek latihan mandiri dan terkontrol, misalnya dengan ergonomic exercises.

Petunjuk Latihan Ergonomic Exercises
  • Kontraksi otot dengan kuat dan rasakan kontraksi tersebut
  • Tahan kontraksi otot tersebut selama 5-10 detik
  • Lemaskan otot tersebut sampai terasa rileks
  • Ulangi latihan tersebut sekali lagi
Prosedur Ergonomic Exercises

A. Tangan dan Pergelangan Tangan

Latihan 1
Ekstensi tangan kemudian buatlah genggaman pada tangan.

Latihan 2
Bengkokkan tangan pada sendi metacarpophalangeal, kemudian pertahankan agar jari-jari tersebut tetap lurus lalu ekstensikan.

Latihan 3
Saling genggamkan kedua tangan, putar tangan hingga telapak tangan menghadap ke atas lalu pertahankan posisi tersebut. Lanjutkan dengan memutar hingga telapak tangan menghadap ke bawah.

Latihan 4
Sendi siku dalam keadaan lurus, pegang tangan dengan tangan yang satu. Tekuk sendi pergelangan tangan sambil mempertahankan posisi tersebut beberapa saat. Pindahkan tangan ke sisi telapak tangan dan dorong ke atas ke arah ekstensi sendi pergelangan tangan dengan tetap mempertahankan posisi tersebut beberapa saat. Lakukan pada ke dua tangan

B. Bahu dan Leher

Latihan 1
Dalam posisi duduk, angkat kedua siku ke atas dan kedua tangan saling digenggamkan di belakang kepala. Tarik siku ke belakang hingga terasa penguluran, kemudian kembalikan posisi siku ke depan hingga keduanya saling bertemu.

Latihan 2
Duduk, posisikan kedua siku sejajar dengan level ketinggian bahu, bengkokkan kedua lengan hingga tangan menyentuh bahu. Kemudian luruskan kembali

Latihan 3
Dalam posisi duduk di atas kursi kerja. Pertemukan kedua tangan dlam keadaan ekstensi di atas kepala, kepala dalam keadaan rileks dan secara perlahan melakukan laterofleksi ke kanan dan kiri. Pertahankan agar posisi tubuh tetap dalam keadaan lurus.

Latihan 4
Dalam posisi duduk, rilekskan bahu kemudian angkat kedua bahu ke atas dan pendekkan leher.

Latihan 5
Duduk dengan kedua tangan pada bagian belakang badan. Satu tangan diletakkan di antara kedua scapula, tangan yang lain mendorong ke bawah dengan dorongan di sekitar siku. Ganti dengan sisi yang lainnya.

Latihan 6
Posisi berdiri atau duduk; palingkan kepala ke kanan dan ke kiri. Pertahankan agar kepala dan tulang belakang tetap lurus.

C. Anggota Gerak Atas

Latihan 1
Duduk, satu tangan menyilangi dada sedangkan tangan yang lain menekan di siku. Palingkan kepala ke arah bahu dari tangan yang sedang diberikan tekanan. Ulangi untuk tangan yang sebelahnya.

Latihan 2
Duduk, kedua siku diangkat selevel ketinggian bahu, putar badan ke kiri dan ke kanan dengan gerakan yang perlahan

Latihan 3
Duduk, kedua siku diangkat sebatas level bahu dan tekuk kedua siku hingga tangan saling bertemu di depan dada. Luruskan legan ke samping dan belakang. Kembalikan kedua lengan ke depan.

D. Pengurangan Ketegangan

Latihan 1
Posisi duduk di kursi, kedua kaki menapak di atas lantai dan tangan di letakkan di kedua lutut. Ekstensikan kedua tungkai dan lengan hingga terulur sepenuhnya, jari-jari tangan dan jari-jari kaki ekstensi kemudian kembali ke keadaan semula lalu rileks.

Latihan 2
Duduk. Secara bergantian ibu jari kaki disentuh dengan tangan yang kontralateral. Sementara tangan yang ipsilateral ke arah atas kepala, sehingga terjadi penguluran secara nyaman pada area trunkus. Kepala harus berpaling melihat tangan yang diangkat

Latihan 3
Ambil waktu sejenak untuk berdiri sambil berjalan beberapa saat untuk membantu meluruskan badan serta melatih tungkai secara general.

Latihan 4
Posisi duduk, kedua tangan disisi belakang badan, satu di sisi atas bahu dan satunya di sisi bawah bahu. Berusahalah untuk saling mempertemukan kedua tangan tersebut. Lakukan untuk tangan satunya dan ulangi latihan tersebut

Rekomendasi tambahan dalam pencegahan CTD pada klien adalah:
  • Hindari beban kerja static saat bekerja
  • Beban angkat dan angkut tidak melebihi standar ILO
  • Pada pekerja computer, istirahatkan mata dengan melihat kejauhan setiap 15-20 menit
  • Istirahat 5-10 menit tiap satu jam kerja.
  • Lakukan peregangan dan senam saat istirahat (ergonomic exercises).
Baca selengkapnyaSenam Ergonomi

Kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD)

Penggunaan alat pelindung diri (APD) untuk mengurangi eksposur karyawan terhadap bahaya itu diperlukan ketika engineering control dan administrative control (selengkkapnta tentang control klik disini) tidak layak atau efektif dalam mengurangi eksposur tersebut ke tingkat yang dapat diterima. Perusahaan diharuskan untuk menentukan bahwa APD harus digunakan untuk melindungi pekerja dan memiliki kewajiban untuk menyediakan APD, termasuk peralatan pelindung pribadi untuk mata, wajah, kepala, dan kaki, dan pakaian pelindung dan penghalang (barrier). Perusahaan juga harus memastikan bahwa karyawan menggunakan dan memelihara APD dalam kondisi steril dan handal.


Bagaimana penggunaan APD yang tepat?
APD harus dikenakan dan digunakan dalam suatu cara dimana manfaat perlindungannya akan penuh. Rendahnya tingkat kepatuhan dalam mengenakan APD biasanya menunjukkan sistem manajemen keselamatan yang gagal. Hal-hal berikut dapat mengakibatkan ketidakpatuhan pemakaian APD:
  1. Perusahaan tidak memberikan APD yang berkualitas;
  2. Perusahaan tidak mengawasi penggunaan APD dengan benar;
  3. Perusahaan gagal untuk menegakkan penggunaan APD, atau
  4. Perusahaan tidak melatih karyawan pada penggunaan APD dengan benar.
Apa saja jenis-jenis APD?
Jenis-jenis APD terdiri dari veverapa kategori:
  • Pelindung wajah dan mata
  • Pelindung kepala (termasuk bagian-bagian lain di kepala seperti telinga)  
  • Pelindung kaki
  • Pelindung tangan
  • Pakaian pelindung
  • Salep (ointments) pelindung
  • Shields (berfungsi seperti perisai)
  • Penghalang (barriers)
  • Restraints (bersifat mengekang atau menahan)
Kapan dan dimana PPE diperlukan?
APD diperlukan dimanapun jika kondisi yang tercantum di bawah ini ditemui dimana kondisi-kondisi ini mampu menyebabkan cedera atau kecatatan dengan cara diserap, dihirup, atau kontak fisik.
  • Proses-proses yang berbahaya
  • Lingkungan yang berbahaya
  • Bahan kimia berbahaya
  • Bahaya radiologi
  • Sesuatu yang dapat menyebabkan iritasi mekanis
Siapa yang membayar APD?
APD yang digunakan selama bekerja harus disediakan oleh perusahaan tanpa pembebanan biaya kepada karyawan. Namun, perushaan tidak diharuskan membayar untuk pelindung jari kaki yang tidak khusus (termasuk steel-toe shoes atau steel-toe boots) kecuali jika memang terdapat hazard untuk jari kaki maka perlu disedikan pelindung khus dan perusahaan juga tidak diharuskan membayar kacamata khusus keamanan non-resep, asalkan perusahaan mengijinkan barang-barang tersebut untuk dikenakan di tempat kerja itu sudah cukup.

Ketika perusahaan menyediakan pelindung metatarsal dan mengijinkan karyawan, atas permintaan karyawan, untuk menggunakan sepatu atau bot yang built-in perlindungan metatarsal, majikan tidak wajib untuk mengganti biaya sepatu atau bot itu. Selain itu, majikan tidak diperlukan untuk membayar:

  • Sepatu penebangan yang dibutuhkan oleh 29 CFR 1.910,266 (d) (1) (v) (merupakan standard OSHA)
  • Pakaian sehari-hari, seperti kemeja lengan panjang, celana panjang, sepatu biasa, dan sepatu bot normal, atau
  • Pakaian umum, krim kulit, atau benda lainnya yang digunakan hanya untuk perlindungan dari cuaca, seperti mantel musim dingin, jaket, sarung tangan, parka, sepatu boot karet, topi, jas hujan, kacamata hitam biasa, dan tabir surya.
Majikan harus membayar untuk penggantian APD, kecuali bila karyawan menghilangkan atau secara sengaja merusak APD. Ketika seorang karyawan menyediakan peralatan pelindung tambahan sendiri dan dia merasa itu diperlukan dirinya, majikan dapat membolehkan karyawan untuk menggunakannya dan perusahaan tidak wajib mengganti biaya peralatan itu. Perusahaan tidak dapat mewajibkan karyawan untuk menyediakan dan membayar untuk APDnya sendiri, kecuali APD tersebut adalah salah satu pengecualian yang tercantum dalam standar OSHA 1910.132 APD (h) (2) sampai (h) (5).

Sumber: OSHA
Baca selengkapnyaKebutuhan Alat Pelindung Diri (APD)

Kewajiban Alat Pelindung Diri (APD)

Untuk menjamin perlindungan sebaik mungkin bagi karyawan di tempat kerja, usaha yang kooperatif antara perusahaan dan karyawan akan membantu dalam membangun dan memelihara lingkungan kerja yang aman dan sehat.


Secara umum, perusahaan bertanggung jawab untuk:
  • Melakukan "hazard assessment" di tempat kerja untuk mengidentifikasi dan mengendalikan bahaya (hazards) fisik dan kesehatan
  • Mengidentifikasi dan menyediakan APD yang sesuai untuk karyawan
  • Mengadakan pelatihan terhadap karyawan dalam penggunaan dan perawatan APD
  • Memaintain APD, termasuk mengganti APD yang rusak, dan
  • Meninjau, memperbarui dan mengevaluasi efektivitas program APD secara berkala
Secara umum, karyawan harus:
  • Memakai APD dengan benar
  • Menghadiri sesi pelatihan tentang APD
  • Merawat, membersihkan dan memelihara APD, dan
  • Menginformasikan supervisor akan kebutuhan untuk memperbaiki atau mengganti APD
Persyaratan khusus untuk APD disajikan dalam banyak standar yang berbeda. Beberapa standar tersebut mengharuskan perusahaan menyediakan APD secara gratis kepada karyawan sementara yang lain hanya menyatakan bahwa perusahaan harus memberikan APD.

Sumber: OSHA
Baca selengkapnyaKewajiban Alat Pelindung Diri (APD)

Alat Pelindung Diri (APD)

Bahaya dan ancaman (hazards) ada di setiap tempat kerja dalam berbagai bentuk seperti tepi benda yang tajam, benda jatuh, percikan, bahan kimia, kebisingan dan banyak sekali situasi lainnya yang berpotensi berbahaya. The Occupational Safety and Health Administration (OSHA) mewajibkan perusahaan untuk untuk melindungi karyawan mereka dari bahaya-bahaya (hazards) di tempat kerja yang dapat menyebabkan cedera.

Mengendalikan (control) bahaya pada sumbernya adalah cara terbaik untuk melindungi karyawan. Tergantung pada kondisi hazard atau tempat kerja, OSHA merekomendasikan engineering control atau administrative / work practice control untuk mengelola atau menghilangkan bahaya semaksimal mungkin (selengkapnya tentang engineering dan work practice control klik disini). Contoh engineering control adalah membangun penghalang antara hazard dan karyawan; sedangkan contoh work practice control adalah mengubah cara karyawan dalam melakukan kerja atau mengubah metode kerja.

Ketika eliminasi, substitusi, engineering control, dan administrative control tidak lagi feasible atau tidak memberikan perlindungan yang memadai, perusahaan harus menyediakan alat pelindung diri (APD) kepada karyawan mereka dan memastikan alat tersebut digunakan dengan tepat. Alat pelindung diri, atau dalam Bahasa Inggris disebut sebagai Personal Protective Equipment atau PPE, adalah peralatan yang dipakai untuk meminimalkan paparan berbagai bahaya (hazards). Contoh APD adalah sarung tangan, pelindung mata, pelindung telinga (earplug, earmuff dsb), topi atau helm yang keras, respirator, full budy suits dsb. Ingat, APD adalah pilihan terakhir dalam pengendalian bahaya, bukan pilihan pertama. Beberapa pihak keliru karena meyakini APD adalah solusi paling mudah untuk memberikan perlindungan terhadap pekerja dari hazards dan dapat langsung mengatasi semua permasalahan hazards sehingga tidak perlu melakukan solusi control. Tapi apakah pihak-pihak ini sadar jika manusia hanya diberikan solusi APD sebagai bentuk perlindungan dari semua hazard yang ada disekitarnya.tentu entah berapa banyak APD yang diperlukan dan harus dipakai manusia karena hazards disekitar manusia jumlahnya banyak sekali, lihat gambar ilustrasi di bawah.


Sumber: OSHA
Baca selengkapnyaAlat Pelindung Diri (APD)

Seminar Nasional Ergonomi & Kongres Nasional PEI 2012

Universitas Widyatama Bandung, 13-14 Nopember 2012

Perhimpunan Ergonomi Indonesia menyelenggarakan seminar rutin: Seminar Nasional Ergonomi & Kongres Nasional PEI 2012.

Diselenggarakan oleh:
  • Laboratorium PSK & E Teknik Industri Universitas Widyatama Bandung
  • Laboratorium RSK & E Teknik Industri ITB
  • Laboratorium PSK & E Teknik Industri UNPAS Bandung
  • Laboratorium PSK & E Teknik Industri UNPAR Bandung
  • Laboratorium APK & E Teknik Industri ITENAS Bandung 
  • Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI)
Info selengkapnya lihat di http://ergo2012.blogspot.com
Baca selengkapnyaSeminar Nasional Ergonomi & Kongres Nasional PEI 2012

Pendekatan Ergonomi

Permasalahan yang berkaitan dengan faktor ergonomi umumnya disebabkan oleh adanya ketidaksesuaian antara pekerja dan lingkungan kerja secara menyeluruh.


Penerapan ergonomi dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu:

Pendekatan Kuratif
Dilakukan pada suatu proses yang sudah atau sedang berlangsung. Kegiatannya berupa intervensi, perbaikan, atau modifikasi proses yang sedang atau sudah berjalan. Sasaran kegiatan ini adalah kondisi kerja dan lingkungan kerja dan dalam pelaksanaannya harus melibatkan pekerja yang terkait dengan proses kerja yang sedang berlangsung.

Pendekatan Konseptual
Dikenal sebagai pendekatan sistem dan akan sangat efektif dan efisien bila dilakukan pada saat perencanaan. Bila berkaitan dengan teknologi, maka sejak proses pemilihan dan alih teknologi, prinsip-prinsip ergonomi sudah sewajarnya dimanfaatkan bersama-sama dengan kajian lain yang juga perlu, seperti kajian teknis, ekonomi, sosial budaya, hemat energi dan melestarikan lingkungan. Pendekatan ini dikenal dengan pendekatan Teknologi Tepat Guna (Manuaba, 1997). Pendekatan ergonomi secara konseptual dilakukan sejak awal perencanaan dengan mengetahui kemampuan adaptasi pekerja sehingga dalam proses kerja selanjutnya, pekerja berada dalam batas kemampuan yang dimiliki.

Sumber: http://joe-proudly-present.blogspot.com/2011/11/ergonomi.html
Baca selengkapnyaPendekatan Ergonomi

Tujuan dan Prinsip Ergonomi

Terdapat beberapa tujuan yang ingin dicapai dari penerapan ilmu ergonomi. Tujuan-tujuan dari penerapan ergonomi adalah sebagai berikut (Tarwaka, 2004):
  • Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
  • Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial dan mengkoordinasi kerja secara tepat, guna meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.
  • Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis, dan antropologis dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi.


Memahami prinsip ergonomi akan mempermudah evaluasi setiap tugas atau pekerjaan meskipun ilmu pengetahuan dalam ergonomi terus mengalami kemajuan dan teknologi yang digunakan dalam pekerjaan tersebut terus berubah. Prinsip ergonomi adalah pedoman dalam menerapkan ergonomi di tempat kerja. Menurut Baiduri dalam diktat kuliah ergonomi terdapat 12 prinsip ergonomi, yaitu sebagai berikut:
  • Bekerja dalam posisi atau postur normal.
  • Mengurangi beban berlebihan.
  • Menempatkan peralatan agar selalu berada dalam jangkauan.
  • Bekerja sesuai dengan ketinggian dimensi tubuh.
  • Mengurangi gerakan berulang dan berlebihan.
  • Minimalisasi gerakan statis.
  • Minimalisasikan titik beban.
  • Mencakup jarak ruang.
  • Menciptakan lingkungan kerja yang nyaman.
  • Melakukan gerakan, olah raga, dan peregangan saat bekerja.
  • Membuat agar display dan contoh mudah dimengerti.
Baca selengkapnyaTujuan dan Prinsip Ergonomi

Ruang Lingkup Ergonomi

Ergonomi adalah ilmu yang interdisipline karena ergonomi merupakan ilmu dari pembelajaran multidisiplin ilmu lain yang menjembatani beberapa disiplin ilmu dan professional, serta merangkum informasi, temuan, dan prinsip dari masing-masing keilmuan tersebut. Keilmuan yang dimaksud antara lain ilmu faal, anatomi, psikologi faal, fisika, dan teknik / engineering dan bahkan bisa mencakup manajemen (scientific management / manajemen sains) dan ekonomi.


Ilmu faal dan anatomi memberikan gambaran bentuk tubuh manusia, kemampuan tubuh atau anggota gerak untuk mengangkat atau ketahanan terhadap suatu gaya yang diterimanya (bagian ini dipelajari dalam ergonomi fisik). Ilmu psikologi faal memberikan gambaran terhadap fungsi otak dan sistem persyarafan dalam kaitannya dengan tingkah laku, sementara eksperimental mencoba memahami suatu cara bagaimana mengambil sikap, memahami, mempelajari, mengingat, serta mengendalikan proses motorik (bagian ini dipelajari dalam ergonomi kognitif). Sedangkan ilmu fisika dan teknik memberikan informasi yang sama untuk desain lingkungan kerja dimana pekerja terlibat.

Ilmu manajemen diperlukan karena ergonomi berkaitan dengan manajemen seperti manajemen K3, manajemen operasi dan bahkan manajemen SDM. Sedangkan ekonomi diperlukan sebagai pemahaman dasar karena tujuan ergonomi yang utama ada dua, tujuan pertama yakni peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja dimana hal ini sering dianggap beban ekonomi perusahaan padahal sebenarnya justru menguntungkan, tujuan kedua yakni peningkatan produktivitas (efektivitas / efisiensi) kerja dimana uang sering menjadi satuan utamanya dan ilmu ekonomi digunakan sebagai “bahasa komunikasi” dalam kedua hal tersebut. Ilmu ekonomi yang dipakai biasanya berhubungan dengan akuntansi manajerial.

Kesatuan data dari beberapa bidang keilmuan tersebut, dalam ergonomi dipergunakan untuk memaksimalkan keselamatan kerja, efisiensi, dan kepercayaan diri pekerja sehingga dapat mempermudah pengenalan dan pemahaman terhadap tugas yang diberikan serta untuk meningkatkan produktivitas kerja serta kenyamanan dan kepuasan pekerja.

Sumber: http://joe-proudly-present.blogspot.com/2011/11/ergonomi.html
Baca selengkapnyaRuang Lingkup Ergonomi

Ergonomi Kognitif

Latar Belakang dan Definisi Ergonomi Kognitif

Kemajuan pesat di bidang teknologi informasi bersamaan dengan keinginan untuk perbaikan produktivitas dan kondisi manusia telah membuat ketrampilan fisiologis yang hanya meliputi kemampuan motorik dan kekuatan tenaga manual tidak bisa lagi digunakan sebagai satu-satunya alat untuk melakukan analisa terhadap performansi kerja manusia. Dilain pihak pertimbangan kemampuan/keterampilan intelektual dan kognitif juga semakin diperlukan. Sehingga dari perkembangan tersebut, memaksa untuk dengan segera diperkirakan sebuah pengkajian yang memungkinkan terakomodasikannya kemajuan-kemajuan yang ada.


Pengkajian dalam perancangan sistem kerja dengan melibatkan tugas-tugas kognitif dalam pemecahan masalah, beban fisik (faal kerja) dalam pengendalian sistem kerja yang semakin kompleks, serta interaksi antara manusia dengan sistem kerja maupun lingkungannya memerlukan sebuah pendekatan yang komprehensif dan integral. Ergonomi sebagai sebuah disiplin keilmuan yang mencoba mempelajari interaksi manusia (dari aspek beban fisik dan mental) dalam sistem kerjanya secara komprehensif-integral mengklasifikasikannya sebagai studi ergonomi kognitif (Sage, 1992).

Ergonomi kognitif adalah cabang ergonomi yang berkaitan dengan proses mental manusia, termasuk di dalamnya; persepsi, ingatan, dan reaksi, sebagai akibat dari interaksi manusia terhadap pemakaian elemen sistem. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi kognitif antara lain; beban kerja, pengambilan keputusan, performa, interaksi manusia-komputer, kehandalan manusia, stres kerja dan training karena hal-hal tersebut berkaitan dengan perancangan manusia-sistem. Ergonomi kognitif mempelajari kognisi dalam sistem kerja terutama yang berkaitan dengan setelan operasi, dalam rangka mengoptimalkan kesejahteraan manusia dan performa sistem. Ergonomi kognitif berusaha menyelidiki proses-proses mental di dalam diri manusia dengan cara objektif dan ilmiah.

Untuk memahami lebih lanjut apa sih sebenarnya ergonomi kognitif, mungkin sebaiknya dipahami dulu apa itu kognitif atau kognisi karena kedua kata dari frase ini yakni “ergonomi” dan “kognitif” sama-sama masih “asing” untuk khalayak umum dan ergonomi sudah banyak dijelaskan di blog ini. Bahkan bagi mahasiswa Teknik Industri pun mungkin banyak yang belum paham 100% apa itu kognitif atau kognisi dan ergonomi kognitif karena sebagian besar mata kuliah ergonomi lebih banyak mengarah ke ergonomi fisik karena memang ergonomi jenis ini yang paling terkenal dan yang sudah banyak diaplikasikan.

Kognisi


Kognitif (kata sifat) atau kognisi (kata benda) adalah proses-proses mental atau aktivitas pikiran dalam mencari, menerima, menemukan / mengetahui, mempersepsi, memahami, mempelajari, menalar, mengingat dan berpikir tentang suatu informasi. Kemampuan kognitif diperoleh dari proses belajar yang merupakan perpaduan antara faktor bawaan dan lingkungan (sama halnya dengan fisik manusia juga perpaduan antara bawaan / gen dan lingkungan, selengkapnya klik disini dan disini).

Istilah kognisi dalam Bahasa Latin disebut cognoscere, artinya "untuk mengetahui", "untuk mengkonsep" atau "untuk mengenali"). Kognisi mengacu pada proses mental. Proses ini meliputi perhatian, mengingat, produksi dan pemahaman bahasa, pemecahan masalah, dan membuat keputusan. Kognisi, atau proses kognitif, bisa alami atau buatan, sadar atau tidak sadar. Proses ini dianalisis dari perspektif yang berbeda dalam konteks yang berbeda, terutama dalam bidang linguistik, anestesi, neurologi dan psikiatri, psikologi, filsafat, antropologi, systemics, ilmu komputer dan keyakinan. Oleh karena itu walaupun sebenarnya kognisi dipelajari pada suatu ilmu tersendiri yakni ilmu kognitif (cognitive science) namun kognisi selalu berhubungan dan dipelajari di berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, filsafat, linguistik, dan ilmu komputer. Penggunaan istilah bervariasi dalam disiplin ilmu yang berbeda, misalnya dalam psikologi dan ilmu kognitif, biasanya mengacu pada pandangan pengolahan informasi dari fungsi psikologis individu. Hal ini juga digunakan dalam cabang psikologi sosial yang disebut kognisi sosial untuk menjelaskan dinamika sikap, atribusi dan kelompok. Dalam psikologi atau filsafat, konsep kognisi berkaitan erat dengan konsep-konsep abstrak seperti pikiran, kecerdasan, kognisi digunakan untuk merujuk pada fungsi mental, proses mental (pikiran) dan kecerdasan baik itu manusia, organisasi manusia, mesin otomatis dan kecerdasan buatan.

Ilmu kognitif

Ilmu kogntif adalah studi ilmiah interdisipliner mengenai pikiran dan proses-prosesnya. Ilmu ini membahas apa itu kognisi, apa yang dilakukan dan bagaimana cara kerjanya. Ilmu ini mencakup penelitian tentang bagaimana informasi diproses (berhubungan dengan persepsi, bahasa, memori, penalaran, dan emosi), diwakili, dan diubah dalam perilaku, sistem saraf (manusia atau hewan) atau bahkan mesin (misalnya, komputer). Ilmu kognitif terdiri dari beberapa disiplin penelitian meliputi psikologi, kecerdasan buatan, filsafat, ilmu saraf, linguistik, antropologi, sosiologi, dan pendidikan. Ilmu ini mencakup banyak tingkat analisis, dari tingkat rendah seperti mekanisme belajar dan pengambilan keputusan sampai tingkat tinggi seperti logika dan perencanaan; dari sirkuit saraf ke konfigurasi otak modular.

Kognitif, Ergonomi, dan Teknik Industri

Seperti disebutkan sebelumnya, ilmu kognitif memang multidisipliner atau interdisipliner namun yang “paling kelihatan” erat hubungannya adalah psikologi. Karena itu banyak mahasiswa Teknik Industri yang sangat bangga dengan ilmunya karena mencakup hampir semua ilmu seperti engineering, ekonomi, manajemen, kedokteran dan termasuk psikologi yakni penerapan kognisi dalam ergonomi kognitif (mungkin termasuk saya ^_^). Tapi tunggu dulu, memang benar kognitif itu bisa dibilang adalah bagian dari psikologi karena kognitif merupakan salah satu pendekatan dalam bidang psikologi, namun mengapa tidak sekalian saja keseluruhan psikologi dimasukan dalam bidang ergonomi kognitif dan namanya diganti menjadi ergonomi psikologi bukan ergonomi kognitif? Karena tidak semua pendekatan psikologi masuk dalam pembelanjaran ergonomi atau teknik industri, dalam hal ini pendekatan kognitif lah yang sesuai. Mengapa? Mungkin karena psikologi kognitif berbeda dari pendekatan-pendekatan psikologi lainnya. Ada beberapa macam pendekatan psikologi dan yang cukup menonjol adalah psychoanalysis, behaviorism, dan cognitivism yang saat ini lebih dikenal dengan psikologi kognitif dan psikologi kognitif ini merupakan pendekatan yang terkini / modern. Psikologi kognitif berbeda dari pendekatan-pendekatan psikologi lainnya dalam dua hal yakni:
  • Psikologi kognitif menerima penggunaan metode-metode ilmiah / scientific method dan hal ini bertentangan dengan psychoanalysis (Freudian psychology) yang menggunakan metode interpretasi, instrospeksi dan observasi klinis (ingat!!! ergonomi dan teknik industri adalah bagian dari engineering yang bersifat sains dan merupakan scientific management / manajemen sains sehingga tools-nya harus scientific).
  • Secara eksplisit, psikologi kognitif mengakui adanya mental internal yang maksudnya adalah ada pengaruh internal dari tubuh manusia terhadap psikis manusia. Hal ini bertentangan dengan behaviorism yang menganggap bahwa pikiran manusia tidak bisa diteliti atau dijamah sehingga menganggap psikis atau behavior hanya dipengaruhi oleh lingkungan dan tidak ada faktor internal dari dalam manusia. Awalnya point ini mendapat banyak kritikan namun bidang lain yang masih berhubungan dengan psikologi kognitif yakni cognitive neuroscience telah membuktikan bahwa secara fisiologis kondisi otak secara langsung berhubungan dengan kondisi mental dan hal ini mendukung psikologi kognitif. Jadi kondisi psikis manusia juga berasal dari dalam diri manusia itu (tidak murni dipengaruhi faktor lingkungan atau sosial) dan dalam ergonomi, hal ini diasosiasikan bahwa pekerjaan harus disesuaikan dengan karakteristik manusia (fit the job to the man) dan karakteristik manusia itu berasal dari dalam diri manusia itu seperti fisik dan fisiologi manusia dan kali ini adalah kognitif manusia.
Psikologi kognitif selain merupakan salah satu jenis pendekatan dalam psikologi (psychoanalysis, behaviorism, dsb) juga merupakan salah satu bidang dalam psikologi (bidang lainnya seperti psikologi klinis, psikologi komparatif, psikologi pendidikan dsb). Seperti disebutkan point kedua di atas, psikologi kognitif berhubungan dengan internal diri manusia dan oleh karena itu bidang psikologi kognitif masih dekat hubungannya dengan bidang psikologi lainnya yang berbau struktur internal manusia yang bersifat fisis atau fisiologis yakni psikologi biologis (atau neuropsikologi atau psikologi fisiologis) dan bisa dibilang masih satu jenis / family karena sama-sama menganut pendekatan psikologi yang sama yakni psikologi kognitif / cognitivism yang mengakui adanya proses mental internal dan menggunakan metode sains (dari namanya saja sudah membawa embel-embel “biologis”,“neuro”, dan “fisiologis” maka sudah pasti sains). Jika psikologi kognitif adalah psikologi yang memahami mental atau pikiran manusia dan prosesnya maka psikologi biologis menjelaskan proses itu secara fisiologis atau biologis (misal syaraf).

Sebagian tambahan, pada psikologi modern terdapat klasifikasi psikologi lain yang membagi psikologi menjadi tiga divisi yakni kognitif (cognitive), afektif (affective), dan konatif (conative). Hal ini berdasarkan bahwa pada otak (mind) terdapat tiga bagian tersebut. Sebelum ini juga terdapat pembagian yang serupa yang dikenal dengan psikologi ABC dimana ABC merupakan singkatan dari Affective, Behavior, dan Cognitive. Kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar, dan tambahan pengetahuan (definisi kognitif secara detil sudah dijelaskan di atas). Afektif berhubungan dengan emosi dan perasaan. Konatif (sering disamakan dengan behavior) atau psikomotor berhubungan dengan perilaku dan kecenderungan dan dorongan alami melakukan sesuatu menurut cara tertentu. Jadi ringkasnya, kognitif menentukan kecerdasan (pikiran), afektif berurusan dengan emosi (perasaan) dan konatif menentujan bagaimana seseorang bertindak pada pikiran dan perasaan tersebut.

Namun jangan bingung tentang lingkup ergonomi kognitif karena ergonomi kognitif bukan berarti hanya membahas kognitif saja dan tidak membahas afektif dan konatif. Ergonomi kognitif bisa menyangkut afektif dan konatif dan hal ini sesuai dengan pandangan tertentu yang menyatakan bahwa konatif dapat dianggap sebagai bagian dari afektif dan/atau afektif sebagai bagian dari kognitif. Atau mungkin secara kasarnya, konatif dan afektif adalah bagian dari kognitif atau ditentukan oleh kognitif. Jadi terkait dengan pembahasan pada paragraf sebelumnya, ergonomi kognitif secara kasar sebenarnya bisa diistilahkan sebagai ergonomi psikologi namun psikologinya adalah psikologi modern atau yang terkini yakni psikologi yang menganut cognitivism / psikologi kognitif dan akhirnya akan kembali lebih simpel jika disebut ergonomi kognitif ^_^.
Sesuai dengan penjelasan-penjelasan di atas maka ergonomi kognitif selain berisi kognisi juga tidak bisa dipisahkan dari behavior, emosi bahkan mungkin somatik. Hal ini sesuai dengan sebuah sumber menyebutkan bahwa ergonomi kognitif adalah disiplin ilmu yang mempelajari aspek behavior dan kognitif dalam hubungan manusia dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun sosial. Jadi sekali lagi, behavior juga masuk dalam ergonomi kognitif termasuk emosi dan somatik. Karena itu dalam ergonomi kognitif juga bisa melibatkan hal-hal tersebut. Apa sih beda kognisi, emosi, somatik, dan behavior. Untuk membedakannya diberikan contoh sederhana berikut:
  • Emosi: cemas, khawatir, gelisah
  • Kognisi: susah mengambil keputusan, kebingungan, konsentrasi berkurang
  • Somatik: tekanan darah meningkat, respirasi meningkat, berkeringat, tegang
  • Behavior: menggigit jari, gerakan lesu, menghindari kontak mata
Area Riset Kognitif

Beberapa area riset dalam ilmu kognitif, psikologi kognitif, atau ergonomi kognitif antara lain:

Persepsi
Persepsi umum, Psychophysics, Perhatian dan teori-teori Filter (kemampuan untuk fokus pada rangsangan tertentu), pola pengenalan (kemampuan untuk menafsirkan informasi sensorik yang ambigu), obyek pengenalan, waktu sensasi (kesadaran dan estimasi berlalunya waktu), form perception

Kategorisasi
Kategori induksi dan akuisisi, penilaian dan klasifikasi kategoris, kategori representasi dan struktur, similarity (psikologi)

Memori
Penuaan dan memori, memori otobiografi, memori konstruktif, emosi dan memori, memori episodik, memori saksi mata, false memotires, firelight memory, flashbulb memory, daftar bias memori, memori jangka panjang (long-term memory), memori semantis. memori jangka pendek (short-term memory), pengulangan berjenjang, sumber pemantauan, memori kerja.

Representasi pengetahuan
Mental citra, pengkodean proposisional, pencitraan versus debat proposisi, teori dual-coding, media psikologi

Kognisi numerik

Bahasa
Tata bahasa dan linguistik, fonetik dan fonologi, akuisisi bahasa

Berpikir
Pilihan, konsep pembentukan, pengambilan keputusan, penghakiman dan pengambilan keputusan, logika (serta penalaran formal & alami), pemecahan masalah
Baca selengkapnyaErgonomi Kognitif

Proses DNA Membentuk Karakteristik / Trait Manusia

Trait adalah sifat, atribut, ciri, ukuran, karakteristik atau kekhasan. Traits manusia berarti sifat, atribut, ciri, karakteristik atau kekhasan yang ada pada setiap manusia. Dalam bidang ergonomi, trait ini terukur dan disebut sebagai antropometri baik fisik maupun non fisik (psikometri). Jika berbicara mengenai trait suatu benda berarti identik dengan bagian-bagian yang lebih kecil yang tersusun menjadi benda tersebut karena bagian-bagian kecil itulah yang menentukan trait dari benda tersebut. Misalnya trait sebuah komputer apakah termasuk golongan komputer cepat, berkualitas dsb ditentukan oleh part apa saja yang menyusun komputer tersebut, trait sebuah gedung apakah besar, mewah dsb ditentukan oleh bahan bangunan atau material yang menyusun gedung tersebut dsb. Bagaimana dengan manusia? Trait manusia juga ditentukan oleh bagian-bagian yang menyusunnya. Apa bagian paling terkecil yang menyusun tubuh manusia? Jawabnya adalah sel.

Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis (tidak hanya untuk manusia saja). Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Sebuah sel memiliki kekompleksan yang luar biasa. Dengan ukuran yang sangat kompak, sebuah fungsi kehidupan disitu dijalankan.

Pada waktu pertemuan ovum dengan sperma mungkin hanya ada satu jenis sel, tapi dengan berjalannya waktu, seperti yang kita lihat sekarang ini di tubuh kita ada sekian jenis sel yang berbeda dengan fungsi yang berbeda. Bagaimana bisa? Secara sederhana kita bisa mengartikan itu dalam proses diferensiasi atau pembedaan nasib sel selama perkembangan. Siapa yang mengatur? Adalah komunikasi antar sel. Siapa yang mengatur komunikasi?

Mungkin pertanyaan-pertanyaan di atas bisa diasosiasikan dengan bangunan yang dibuat dari sekumpulan bata. Jika bata yang digunakan adalah bata yang kuat atau kualitas nomor satu maka bangunan yang dibuat pun akan kokoh. Namun siapa yang menentukan bata yang digunakan itu kualitas nomor satu atau tidak? Jawabnya adalah manusia yang membuat bangunan tersebut. Kasus yang mirip juga sama untuk sel. Kembali pada pertanyaan sebelumnya, siapa yang mengatur komunikasi anter sel? Siapa yang mengatur atau menentukan berbagai jenis sel yang menyusun tubuh makhluk hidup (dalam pembahasan ini adalah manusia)? Jawabnya adalah DNA.


DNA bertindak, mungkin sebagai “brain” dari kegiatan sel. Secara tidak langsung adalah gen itu sendiri. Gen adalah bagian dari DNA, DNA membentuk kromosom, dan kromosom terletak di nukleus sel.

Misal sel asal yang memproduksi darah kita adalah satu jenis sel pluripoten, namun dengan berjalannya komunikasi antar sel, akan terbentuk sekian macam jenis darah yang berbeda-beda. Jika sel yang memberikan sinyal ini rusak, maka akan berakibat hal lain yang bisa berbahaya bisa tidak. Salah satunya mungkin adalah leukemia.

Jadi DNA atau gen sangatlah penting. Ia menentukan atau mengintruksi munculnya traits pada makhluk hidup termasuk manusia dan selanjutnya menentukan kompleksnya kehidupan, menentukan suatu “output” luar biasa yang kita kenal sebagai “alive”

Bagaimana proses DNA bekerja dalam menginstruksi traits manusia? Sel-sel tubuh manusia terbuat dari berbagai jenis molekul air, mineral, protein, gula, lemak dan DNA. Dari semua itu, protein sangat penting karena protein adalah komponen fundamental dari tubuh yang menentukan bagaimana semua molekul diatur dan bagaimana mereka bertindak. Dengan demikian, protein memainkan peran kunci dalam segala hal dalam diri manusia seperti dalam cara manusia tumbuh dsb atau dengan kata lain protein yang akan “membangun’ traits manusia. DNA bertindak sebagai kode molekuler untuk membuat satu protein atau kadang-kadang juga beberapa protein lainnya yang terkait. Namun, hanya sekitar 1/60 dari seluruh genom yang secara langsung langsung mengkode atau memberikan petunjuk untuk membuat protein. Sisa DNA dalam genom membantu menentukan atau mengarahkan kapan dan di mana di dalam tubuh setiap gen harus digunakan. Secara keseluruhan, semua DNA dari genom dapat dianggap sebagai cetak biru bagi manusia. Jika kita berpikir tentang tubuh kita sebagai rumah, protein bisa dianggap sebagai batu bata, kayu, semen dan paku yang membentuk bangunan dasar. Protein juga bertindak sebagai lampu, pipa, kabel listrik, ventilasi, dll, yang menyediakan air yang mengalir, listrik dan fungsi lain yang diperlukan untuk hidup di rumah. Jadi, pada rumah, cetak biru menunjukkan tata letak dari semua bagian (papan, batu bata, kabel, dll), sedangkan genom adalah satu set instruksi dari mana kita dapat menentukan tata letak dari semua protein yang digunakan untuk membangun dan menjalankan tubuh kita.

DNA terdiri dari urutan rangkaian empat struktur kimia yang disebut nukleotida basa: adenin, timin, sitosin dan guanin, yang disingkat A, T, C, dan G. Basa-basa ini berbaris satu demi satu sepanjang DNA. Urutan basa ini bertindak sebagai kode yang dapat diuraikan untuk mengungkapkan instruksi genetik kita. Sebuah gen terdiri dari hamparan panjang DNA yang spesifik, biasanya terdiri dari ribuan basa.

Bagaimana tubuh kita membaca instruksi genetik dan menggunakannya untuk membuat protein? DNA tidak dapat dikonversi menjadi protein secara langsung, tetapi sebaliknya, mengirimkan pesan yang menjelaskan instruksi gen, ke mesin pembuatan protein. Setiap gen dapat "ditranskripsi", atau disalin, menjadi molekul yang disebut mRNA (messenger asam ribonukleat) dan kemudian diangkut ke sebuah mesin pembuat protein yang disebut ribosom. Tugas ribosom adalah untuk membaca mRNA yang merupakan salinan gen dan merakit protein yang sesuai. Dan seperti disebutkan sebelumnya, protein-protein inilah yang akan “membangun” traits manusia.

Secara sederhana, proses DNA dalam menentukan atau menginstruksi trait dapat dilihat pada gambar berikut:


Karena ragam dan peran protein dalam tubuh beragam seperti sebagai pengatur aktivitas gen, enzim, transporter, dan elemen struktural maka protein yang dihasilkan disini juga berbeda-beda sehingga menghasilkan jenis traits yang berbeda jenis pula.


Trait-trait tersebut akan membangun / menentukan dan juga ditentukan oleh sistem-sistem yang ada dalam tubuh manusia seperti integumentary system, muscular system, skeletal system, nervous system, endocrine system, dan circulatory system.


Untuk sifat-sifat atau traits yang dapat dengan jelas terukur atau tergolong sifat kuantitatif / metrik misalnya tinggi atau berat badan dipelajari dalam genetika kuantitatif. Selain itu, terdapat pula asumsi bahwa tidak hanya sedikit gen yang mengendalikan suatu sifat atau trait melainkan banyak gen. Hal ini sering disebut sebagai sifat poligenik dan dipelajari juga dalam genetika kuantitatif.

Dan perlu ditekankan juga bahwa yang menentukan trait tidak hanya gen yang notabene berasal dari intern manusia tapi sedikt banyak juga ditentukan oleh lingkungan.


Dalam bahasa genetika, traits disebut juga fenotip. Fenotip adalah suatu karakteristik (baik struktural, biokimiawi, fisiologis, dan perilaku) yang dapat diamati dari suatu organism yang diatur oleh genotip dan lingkungan. Sehingga rumus fenotip:

F = G + L

Untuk F adalah fenotip, G adalah genotip, dan L adalah lingkungan.

Selama ini khayalak umum lebih banyak mengira bahwa DNA hanya menentukan trait fisik saja misalnya yang paling sederhana dan sering dipelajari di sekolah adalah menentukan ada tidaknya lesung pipit, bisa tidaknya menggulung lidah, warna mata, dsb. Namun sebenarnya DNA juga menentukan trait yang bersifat non fisik seperti psikometri (IQ dsb), kognisi, kerpibadian dan perilaku atau behavioral yang telah disebutkan di atas. Selain itu, pada dasarnya sifat non fisik juga merupakan perwujudan dari sifat fisik atau dengan kata lain keduanya berkaitan.

Untuk trait non fisik seperti kognisi atau kepribadian atau perilaku, masih menjadi perdebatan yang cukup hangat antara para ahli genetika dan ahli psikologi. Ahli genetika yakin bahwa kepribadian dikode atau disandi oleh gen-gen tertentu. Contohnya adalah gen D4DR yang terletak di lengan pendek kromosom no 11. Gen tersebut mengkode atau menyandi suatu protein yang berfungsi sebagai reseptor dopamin. Reseptor adalah struktur yang menerima sinyal. Dalam hal ini reseptor dopamin adalah sebuah protein dalam estafet penghantaran sinyal yang menerima dopamin. Dopamin merupakan suatu neurotransmitter yang akan merangsang otak. Peran dari reseptor dopamin adalah mengikat dopamin ketika zat tersebut "melompati" sinapsis. Adanya polimorfisme dalam gen ini ternyata berpengaruh terhadap perbedaan kognisi. Karena dopamine dan reseptornya merupakan anggota dari estafet penghantaran sinyal, maka kalau ada kerusakan atau kekurangan, pasti berpengaruh terhadap sinyal yang dihantarkan. Apabila reseptor dopamin kurang responsif mengikat dopamin, maka orang yang bersangkutan membutuhkan sesuatu kegiatan yang lebih ekstrim untuk merasakan "gairah" dopamin yang sama dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki reseptor dopamin yang lebih responsif.

Dapat dikatakan, apabila gen D4DR mengkode reseptor dopamin yang kurang responsif, maka orang yang memiliki gen tersebut akan cenderung berani melakukan hal-hal ekstrim (seperti naik jet coaster berkali-kali contohnya) dibandingkan orang yang memiliki gen D4DR yang mengkode reseptor dopamin yang responsif. Ini hanya satu contoh peranan gen dalam mempengaruhi kepribadian seseorang. Sampai saat ini sudah ratusan gen yang ditemukan berperan seperti D4DR, yaitu mempengaruhi zat-zat kimia dalam otak sehingga mempengaruhi kepribadian orang tersebut.


Selain D4DR ada juga 5-HTTLPR, 5HT2C, DAT1, SPB, PNMT, GABRAA6, OXYR, CYP19, NMDAR1, CNRA4, ADOR2A, HTR2C, HTR2A, COMT, VMAT, 5-HT1A, GABRB3, TPH, ADRA2A dsb. Pengaruh lingkungan untuk trait non fisik kepribadian tersebut banyak yang membuktikan tidak terlalu besar (contoh kasus anak kembar identik yang dipisahkan sejak lahir pada dua keluarga yang lingkungannya berbeda, ternyata kepribadian keduanya saat dewasa tetap mirip).
Baca selengkapnyaProses DNA Membentuk Karakteristik / Trait Manusia

Hal-hal Penting mengenai DNA dan Antropometri

Dalam blog ini ada beberapa postingan mengenai antropometri dan gen (DNA), klik disini, disini, dan disini.


Dalam pembahasan topik-topik seperti ini ada beberapa hal yang menurut saya harus diperhatikan karena isu-isu seperti ini relatif masih baru dan masih dalam proses penelitian (sebagian besar point-point berikut merupakan opini saya terutama selain point nomor 1:
  1. Seperti telah disebutkan dalam beberapa postingan sebelumnya, gen sebenarnya bisa disebut sebagai penentu potensi / bakat / bawaan timbulnya suatu trait dan walaupun bisa disebut sebagai “sumber primer” timbulnya suatu trait namun bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan timbulnya suatu trait / fenotip / antropometri karena ada faktor lain seperti lingkungan. Sebagai contoh orang yang mempunyai “gen gemuk” akan mudah gemuk dan berpotensi besar menjadi gemuk namun jika dia kekurangan pangan atau gizi maka tentu saja gemuk itu tidak akan muncul, bedanya dengan orang yang tidak ber-“gen gemuk” adalah jika diberi jumlah makanan yang sama maka yang mempunyai “gen gemuk” lebih banyak pertambahan massanya dan lebih gemuk atau lebih mudah gemuk. Hal ini sesuai dengan teori genotip + lingkungan = fenotip.
  2. Pembahasan dengan tema DNA sering dikaitkan dengan isu-isu rasis yang menunjukkan bahwa ras x lebih unggul dsb. Untuk beberapa trait atau antropometri, sesuai fakta yang jelas terlihat mata, masyarakat sudah bisa menerima bahwa beberapa kelompok atau ras tertentu akan lebih tinggi, pendek, atau lebih cepat. Namun untuk trait yang non fisik seperti psikometri nampaknya masih menjadi isu yang sangat sensitif. Misalnya contoh kasus penelitian gen bahwa kecerdasan Suku Yahudi Ashkenazi yang konon paling cerdas di dunia akan terus menjadi kontroversi karena ketidaknyamanan masyarakat dengan label satu kelompok etnis lebih cerdas daripada yang lain dan trait kecerdasan “digadang-gadang” menjadi penentu utama kualitas dalam kemajuan di era ini. Memang mungkin terdapat perbedaan antara ras satu dengan ras lainnya namun sebenarnya setiap individu itu memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Misalnya ras x dikenal memiliki IQ tertinggi namun bukan berarti dengan IQ lebih tinggi lantas menjadi paling unggul karena selain ras ini bisa saja memiliki trait lain yang lebih menonjol dari ras x ini. Bukankah manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal dan untuk saling bekerja sama? Semuanya mempunyai keunggulan dan kelemahan masing-masing dan harus saling mengisi. Lagipula seperti disebutkan dalam point nomor 1, fenotip juga dipengaruhi lingkungan, jadi akan sia-sia jika anggap saja ber-“gen cerdas” namun potensi ini tidak dioptimalkan dengan lingkungan, pendidikan, atau budaya yang sesuai.
  3. Menurut saya, setiap trait atau variabel antropometri yang dibawa gen adalah bersifat netral, tidak positif maupun negatif, artinya tidak bersifat sesuatu yang baik atau sesuatu yang tidak baik / jahat. Sebagai contoh si X memiliki trait naik darah lebih cepat / gampang naik emosi. Bukan berarti hal ini negatif atau tidak baik karena semua trait memiliki fungsi masing-masing. Jika dia memanfaatkannya misalnya untuk mudah memarahi orang tanpa alasan kuat bisa disebut sebagai hal negatif namun jika dia memanfaatkanya misalnya untuk cepat emosi jika terjadi penindasan terhadap kaum-kaum lemah bisa disebut sebagai hal positif. Jadi orang yang gampang naik darah bukan berarti selalu orang yang tidak baik, bahkan orang yang sifat genetisnya cenderung pendiam dan tidak agresif juga tidak selalu orang yang baik, baik atau tidaknya atau positif atau negatifnya tergantung dari manusia itu menggunakan trait tersebut untuk hal apa (ya manusia berbeda dengan hewan, manusia mempunyai akal dan mempunyai pilihan). Sekali lagi lingkungan juga akan mempengaruhi budaya hidup seseorang namun sekali lagi potensi sifat genetis tidak dapat dihilangkan dan bisa disebut alamiah. Jadi saya pribadi kurang setuju jika ada gen-gen seperti gen MAO-A, yang dapat membuat enzim pemecah bahan kimia dalam otak yang terkait dengan tindakan agresi lalu diistilahkan sebagai “gen pembawa tindakan kriminal” karena itu menjurus ke diskriminasi dan mungkin walaupun banyak orang yang melakukan tindakan kriminal adalah orang yang agresif tapi orang agresif tidak selalu orang jahat / kriminal dan sifat agresif itu bukan lah bawaan jahat namun bisa dimanfaatkan untuk hal positif juga.
  4. Masih berhubungan dengan point nomor 3, salah satu trait yang ada dalam diri manusia dan dipengaruhi oleh gen adalah perilaku atau behavior dan di dunia genetika terdapat istilah behavioral genetics. Namun mungkin perilaku yang dipengaruhi gen yang dimaksud lebih mengarah ke psikologi yang dipengaruhi kognisi, emosi, dan somatik dan bukan perilaku budaya atau kebiasaan karena kebudayaan atau kebiasaan berasal dari adat istiadat atau pembelajaran / meniru. Sebagai contoh si X mempunyai sifat genetis cepat emosi atau cepat naik darah. Jika di budayanya dia dididik untuk selalu menahan emosi maka perilaku atau behaviornya akan sering menahan emosi, menahan emosi bukan berarti emosinya tidak naik, emosinya naik tapi dia sudah “terbudaya” untuk menahan. Namun jika di budayanya dia dididik untuk selalu meluapkan emosi dengan amarah maka perilaku atau behaviornya juga akan sering meluapkan emosi. Contoh serupa jika menemui si A dan si B dalam antrian panjang dan keduanya terlihat tenang bukan berarti keduanya memiliki sifat genetis tidak cepat naik darah atau tidak cepat emosi, mungkin saja si A memang tidak mudah emosi sehingga dia tenang-tenang saja tapi si B bisa saja sebenarnya dia sudah naik emosi karena tidak sabar menunggu antrian namun karena sudah terbiasa menahan emosi dia terlihat tenang-tenang saja. Jadi makna behavior ada dua, behavior yang lebih mengarah ke psikis seperti kognisi, emosi, dan somatik (alamiah dan dipengaruhi gen) atau behavior yang bersifat kebiasaan atau budaya dan pembagian behavior ini harus jelas karena menurut saya keduanya merupakan hal yang berbeda (di referensi-referensi banyak yang mencampuradukan kedua hal ini). Dalam contoh di atas, trait behavior yang psikis (berasal dari gen) adalah cepat naik darah atau emosi, faktor lingkungan yang mempengaruhi munculnya trait atau fenotip tersebut adalah kondisi antrian yang lama, dan behavior yang bersifat kebiasaan atau budayanya adalah menahan emosi atau meluapkan emosi dengam marah. Seperti disebutkan pada point nomor 3, yang berasal dari faktor gen bersifat netral (tidak bersifat baik ataupun tidak baik) sedangkan faktor budaya ini lah yang mungkin bisa tergolong baik atau tidak baik dan faktor budaya ini sudah melibatkan akal dan pilihan manusia (berbeda dgn hewan) dan perilaku atau behavior yang sudah dipengaruhi budaya ini sudah diluar ranah antropometri dan sudah masuk ranah kebudayaan atau agama ^_^. Dari point ini juga dapat diambil kesimpulan bahwa behavior penuh melibatkan kedua faktor behavior psikis dan budaya, jadi behavior penuh seperti orang sedang marah (mengekspresikan marah) atau orang melakukan tindakan agresif (misalnya melakukan tindakan kriminal) tidak bisa hanya disebut dari faktor genetis saja atau dari budaya atau pembelajaran saja.
Baca selengkapnyaHal-hal Penting mengenai DNA dan Antropometri

DNA dan Antropometri

Antropometri berasal dari bahasa Yunani yakni kata anthropos yang berarti manusia dan metron yang berarti mengukur. Jadi, antropometri secara literal adalah pengukuran manusia. Antropometri adalah pengetahuan mengenai ukuran manusia. Yang paling banyak dikenal adalah ukuran fisik tubuh manusia seperti geometri fisik, massa dan kekuatan tubuh manusia (selengkapnya mengenai variabel antropometri fisik klik disini dan disini) walaupun sebenarnya ukuran manusia tidak hanya berupa ukuran fisik tubuh namun juga ukuran-ukuran yang bersifat non fisik (selengkapnya klik disini).


Data antropometri diaplikasikan secara luas antara lain dalam bidang kesehatan seperti pengamatan gizi, kesehatan dan pertumbuhan manusia serta dalam bidang teknik atau engineering (berhubungan dengan ergonomi / human factors / safety engineering / human engineering) seperti perancangan sistem kerja yang meliputi perancangan area kerja (work station), perancangan peralatan kerja, perancangan produk-produk, dan perancangan lingkungan kerja fisik dimana variasi dimensi atau ukuran manusia sering kali menjadi faktor utama untuk menghasilkan rancangan sistem yang sesuai untuk pengguna untuk kepentingan keselamatan (safety), kesehatan (health), dan produktivitas (productivity).

Antropometri atau ukuran manusia bisa diasosiasikan dengan atribut, ciri, atau kekhasan yang ada pada diri manusia dan dalam bahasa Inggris disebut trait. Trait ini merupakan bentuk sifat, kemampuan, keterbatasan, kebolehan dan karakteristik manusia dan ergonomi (ilmu kerja) adalah ilmu yang menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan, keterbatasan, kebolehan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia. Dan antropometri sebanarnya adalah trait yang diukur, didefinisikan, dan distandarisasikan dalam satuan ukur. Untuk ukuran manusia (antropometri) atau trait yang bersifat non fisik, psikis atau kognitif lebih sering disebut psikometri sedangkan istilah antropometri lebih sering diasosiasikan dengan ukuran tubuh fisik.

Imran bin Hushain ra. bertanya kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apa dasarnya kerja orang yang bekerja?”. Rasulullah saw. menjawab: “Setiap orang itu dimudahkan untuk mengerjakan apa yang dia telah diciptakan untuk itu” (Shahih Bukhari, no.2026)

Lalu apa hubungannya DNA dan Antropometri?

Pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup termasuk manusia merupakan hasil interaksi antara faktor internal (dari dalam tubuh makhluk hidup itu sendiri) dan faktor eksternal (dari luar tubuh makhluk hidup). Faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup adalah gen (DNA), nutrisi, hormon, dan lingkungan. Jadi tidak salah jika ada sumber yang mengatakan ukuran manusia ditentukan oleh gen karena gen bisa disebut sebagai “sumber primer” pembawa ukuran manusia.

Gen (DNA) adalah faktor pembawa sifat menurun yang terdapat di dalam sel makhluk hidup. Gen berpengaruh pada setiap struktur makhluk hidup dan juga perkembangannya, walaupun gen bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhinya. Artinya sifat-sifat yang tampak / trait (dalam bahasa biologi disebut sifat fenotip) pada makhluk hidup seperti bentuk tubuh, tinggi tubuh, warna mata dan sebagainya dipengaruhi oleh gen yang dimiliknya. Oleh karena itu, trait atau bentuk dan ukuran makhluk hidup termasuk manusia (antropometri) ditentukan oleh faktor genetik.

Gen mengatur berbagai macam trait, sifat atau karakter baik karakter fisik maupun karakter psikis (konon karakter psikis sebenarnya juga timbul dari proses fisik dalam tubuh manusia). Contoh karakter fisik (antropometri fisik) antara lain morfologi, anatomi, dan fisiologi (contohnya geometri fisik seperti tinggi tubuh dll). Adapun contoh karakter psikis (antropometri non fisik / psikometri) seperti kecenderungan emosi / afektif antara lain pemalu, mudah naik emosi, mudah gelisah dan pendiam dan bahkan karakter-karakter yang bersifat somatik & psikomotor, kognitif seperti kecerdasan dan kecenderungan perilaku juga diatur oleh gen.

Hadis riwayat ‘Abdullah bin “Umar, menceritakan: “Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Tiap-tiap sesuatu menurut qodar, bahkan lemah kemauan dan pintar.”
Keterangan : menurut referensi qodar adalah ukuran

Dalam ergonomi, ukuran manusia fisik (antropometri) banyak dibahas pada ergonomi fisik sedangakan ukuran manusia non fisik (psikometri) banyak dibahas pada ergonomi kognitif. Beberapa contoh gen yang masih dalam tahap penelitian misalnya gen HMGA2 atau “gen tubuh tinggi” merupakan salah satu gen yang menentukan tinggi pendeknya seseorang, gen FTO atau “gen gemuk” yang mempengaruhi kepekaan tubuh manusia terhadap obesitas (gemuk dan massa), gen 5-HTT (5-HTTLPR) yang berhabungan dengan sifat pemalu (shyness), ada juga yang menyebut berhubungan dengan kecemasan / kegelisahan (anxiety), gen IGF2R atau “gen cerdas” dimana orang kebanyakan memiliki urutan tertentu pada gen tsb, tapi anak-anak cerdas dengan IQ 160 yang diteliti olehnya memiliki urutan agak berbeda pada gen IGF2R tersebut, gen MAO-A yang berhubungan dengan tindakan agresif sehingga disebut-sebut berhubungan dalam perilaku kekerasan dan criminal, gen D4DR yang berhubungan dengan keberanian untuk melakukan hal-hal ekstrim. Sekali lagi gen-gen tersebut masih dalam tahap penelitian dan mayoritas referensi menyebutkan bahwa gen-gen tersebut bukanlah satu-satunya gen yang mempengaruhi suatu trait atau antropometri tersebut.

Pengaruh gen (DNA) terhadap antropometri itu sangat penting dan sangat menarik, bahkan terdapat kolaborasi internasional yang khusus bergerak dalam bidang ini yang dikenal sebagai Konsorsium GIANT atau The Genetic Investigation of Anthropometric (Investigasi Genetika Antropometri) walaupun antropometri yang dimaksud disini terbatas pada antropometri fisik dan lebih mengarah ke geometri fisik tubuh.

Bagaimana proses DNA bekerja dalam menginstruksi antropometri atau trait manusia? Klik disini

Mengenai pembahasan dengan tema ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan, klik disini.
Baca selengkapnyaDNA dan Antropometri

Ergonomi adalah

Secara singkat ergonomi adalah ilmu kerja. Lalu apa pengertian atau definisi detail dari ilmu yang multidisipliner ini? 

Ada berbagai macam pengertian atau definisi dari ergonomi atau sebenarnya lebih tepatnya ergonomika (dalam bahasa inggris disebut ergonomics) diantaranya:
  • Ergonomi merupakan istilah yang berasal dari Bahasa Yunani. Ergonomi terdiri dari dua suku kata, yaitu: ‘ergon‘ yang berarti ‘kerja‘ dan ‘nomos‘ yang berarti ‘hukum‘ atau ‘aturan‘. Dari kedua suku kata tersebut, dapat ditarik kesimpulan bawa ergonomi adalah hukum atau aturan tentang kerja atau yang berhubungan dengan kerja.
  • Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan dan elemen-elemen lain dalam suatu sistem dan pekerjaan yang mengaplikasikan teori, prinsip, data dan metode untuk merancang suatu sistem yang optimal, dilihat dari sisi manusia dan kinerjanya. Ergonomi memberikan sumbangan untuk rancangan dan evaluasi tugas, pekerjaan, produk, lingkungan dan sistem kerja, agar dapat digunakan secara harmonis sesuai dengan kebutuhan, kempuan dan keterbatasan manusia (International Ergonomics Association / IEA, 2002).
  • Definisi ergonomi dapat dilakukan dengan cara menjabarkannya dalam fokus, tujuan dan pendekatan mengenai ergonomi (Mc Coinick 1993) dimana dalam penjelasannya disebutkan sebagai berikut: (1) Secara fokus, ergonomi menfokuskan diri pada manusia dan interaksinya dengan produk, peralatan, fasilitas, prosedur dan lingkungan dimana sehari-hari manusia hidup dan bekerja. (2) Secara tujuan, tujuan ergonomi ada dua hal, yaitu peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja serta peningkatan nilai-nilai kemanusiaan, seperti peningkatan keselamatan kerja, pengurangan rasa lelah dan sebagainya. (3) Secara pendekatan, pendekatan ergonomi adalah aplikasi informasi mengenai keterbatasan-keterbatasan manusia, kemampuan, karakteristik tingkah laku dan motivasi untuk merancang prosedur dan lingkungan tempat aktivitas manusia tersebut sehari-hari.
  • Ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia (Chapanis, 1985).
  • Ergonomi merupakan disiplin keilmuan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya (Wignjosoebroto, 2003).
  • Ergonomi merupakan studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain atau perancangan (Nurmianto, 2003).
  • Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia (Departemen Kesehatan RI, 2007).
  • Ergonomi adalah merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia (Sutalaksana, 2006).
  • Ergonomi adalah ilmu terapan yang menjelaskan interaksi antara manusia dengan tempat kerjanya. Ergonomi antara lain memeriksa kemampuan fisik para pekerja, lingkungan tempat kerja, dan tugas yang dilengkapi dan mengaplikasikan informasi ini dengan desain model alat, perlengkapan, metode-metode kerja yang dibutuhkan tugas menyeluruh dengan aman. (Etchison, 2007).
  • International Labour Organization (ILO) mendefinisikan ergonomi sebagai berikut: Ergonomi ialah penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa untuk mencapai penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia secara optimum dengan tujuan agar bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan.
  • Ergonomi adalah ilmu yang menemukan dan mengumpulkan informasi tentang tingkah laku, kemampuan, keterbatasan, dan karakteristik manusia untuk perancangan mesin, peralatan, sistem kerja, dan lingkungan yang produktif, aman, nyaman dan efektif bagi manusia. Ergonomi merupakan suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi mengenai sifat manusia, kemampuan manusia dan keterbatasannya untuk merancang suatu sistem kerja yang baik agar tujuan dapat dicapai dengan efektif, aman dan nyaman (Sutalaksana, 1979).
  • Ergonomi adalah studi mengenai interaksi antara manusia dengan objek/peralatan yang digunakan dan lingkungan tempat mereka berada. Ergonomi juga dapat didefinisikan secara praktis sebagai perancangan untuk digunakan oleh manusia (Pulat, 1992).
  • Kohar Sulistiadi dan Sri Lisa Susanti (2003) menyatakan bahwa fokus ilmu ergonomi adalah manusia itu sendiri dalam arti dengan kaca mata ergonomi, sistem kerja yang terdiri atas mesin, peralatan, lingkungan dan bahan harus disesuaikan dengan sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia tetapi bukan manusia yang harus menyesuaikan dengan mesin, alat dan lingkungan dan bahan.
  • Ilmu ergonomi adalah mempelajari beberapa hal yang  meliputi (Menurut Sulistiadi, 2003): (1) Lingkungan kerja meliputi kebersihan, tata letak, suhu, pencahayaan, sirkulasi udara, desain peralatan dan lainnya. (2) Persyaratan fisik dan psikologis (mental) pekerja untuk melakukan sebuah pekerjaan: pendidikan, postur badan, pengalaman kerja, umur dan lainnya. (3) Bahan-bahan/peralatan kerja  yang berisiko menimbulkan kecelakaan kerja: pisau, palu, barang pecah belah, zat kimia dan lainnya. (4) Interaksi antara pekerja dengan peralatan kerja: kenyamanan kerja, kesehatan dan keselamatan kerja, kesesuaian ukuran alat kerja dengan pekerja, standar operasional prosedur dan lainnya
  • Ergonomi adalah pemanfaatan informasi kemampuan, kebolehan dan batasan manusia untuk mendisain alat, mesin, sistem, tugas dan lingkungan demi berfungsinya manusia secara efektif, aman, nyaman dan produktif.
  • Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam rangka membuat sistem kerja yang unggul yakni kerja yang aman sehingga sehat dan berujung pada produktivitas optimal.
  • Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam rangka membuat sistem kerja yang ENASE (Efektif, Nyaman, Aman, Sehat, dan Efisien).
  • Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyelaraskan antara segala fasilitas yang digunakan dalam beraktivitas atau bekerja dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik secara fisik maupun non fisik sehingga kualitas hidup secara keseluruhan lebih baik. Oleh karena itu ergonomi mempunyai prinsip fit the job to the man.
  • Ergonomi adalah suatu kajian yang membahas tentang hubungan antara manusia dengan pekerjaan yang dilakukannya melalui suatu aturan kerja tertentu.
  • Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka.
  • Ergonomi adalah satu ilmu yang peduli akan adanya keserasian manusia dan pekerjaannya.
  • Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam bekerja.
  • Ergonomi adalah tentang fitrahnya manusia bekerja.
  • Ergonomi adalah pemanfaatan informasi kemampuan, kebolehan dan batasan manusia untuk mendisain alat, mesin, sistem, tugas dan lingkungan demi berfungsinya manusia secara efektif, aman, nyaman dan produktif.
  • Ergonomi adalah ilmu yang membahas perancangan sistem kerja agar sesuai dengan kapasitas, batasan, atau kebutuhan manusia.
  • Ergonomi adalah ilmu atau kaidah yang mempelajari manusia sebagai komponen dari suatu sistem kerja mencakup karakteristik fisik maupun nirfisik, keterbatasan manusia, dan kemampuannya dalam rangka merancang suatu sistem yang efektif, aman, sehat, nyaman, dan efisien.
  • Ergonomi adalah working according to nature‘ atau bekerja berdasarkan kondisi alami dan bukan melakukan kerja yang sulit bagi tubuh.
  • Ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kapasitas manusia (fit the job to the man).
  • Ergonomi didefenisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan perancangan/desain.
  • Ergonomi adalah ilmu secara khusus mempelajari keterbatasan dan kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk buatannya.
  • Ergonomi adalah studi tentang prinsip-prinsip kerja.


Beberapa definisi ergonomi dalam Bahasa Inggris:
  • Ergonomics (or human factors) is the scientific discipline concerned with the understanding of the interactions among humans and other elements of a system, and the profession that applies theoretical principles, data and methods to design in order to optimize human well being and overall system performance. (International Ergonomics Association / IEA, 2000).
  • Ergonomics is a body of knowledge about human abilities, human limitations and other human characteristics that are relevant to design. Ergonomic design is the application of human factors information to the design of tools, machines, systems, tasks, jobs, and environments for productive, safe, comfortable and effective human functioning.Ergonomics is the science of matching the job to the workers and the product to the user. Fitting the job to the man and fitting the man to the job.
Sebagai tambahan wawasan, terkadang ergonomi juga disebut dengan istilah-istilah lain yang pada dasarnya mempunyai pengertian atau definisi yang sama diantaranya human factors (faktor manusia) atau human factors engineering, human engineering, human centered design (HCD), perancangan sistem kerja (merupakan proses desain ergonomi atau aplikasi dari ilmu ergonomi).

Sedangkan bidang-bidang lainnya yang sangat terkait diantaranya teknik industri (karena ergonomi merupakan bagian dari teknik industri), teknik mesin (karena sering berkaitan dengan desain fisik walaupun tidak selalu fisik), safety engineering dan occupational safety health / K3 (karena fokus utama ergonomi adalah keselamatan dan kesehatan kerja), SDM (karena produktivitas dan kualitas kerja menjadi salah satu sasarannya), bioteknologi, kedokteran okupasi, psikologi (karena selain fisik manusia, ergonomi juga concern terhadap karakteristik atau kapasitas non fisik manusia dalam desain misalnya kognitif) dsb.
Baca selengkapnyaErgonomi adalah