Teknik Keselamatan / Safety Engineering

Ergonomi / human factors / occupational safety and health / K3 atau istilah atau hal-hal atau bidang sejenis yang berhubungan dan mempunyai inti pada desain keselamatan sistem kerja tergolong dalam bidang engineering (rekayasa). Ingin tahu dimana posisi bidang ini dalam lingkup engineering keseluruhan? Lihat bagan atau gambar klasifikasi bidang engineering di bawah ini (sumber informasi berasal dari Wikipedia dengan beberapa tambahan). Karena kata “engineering” jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia lebih tepat menjadi “rekayasa” namun istilah “rekayasa” ini jarang dikenal dan yang lebih dikenal adalah istilah “teknik” seperti teknik elektro, teknik mesin dsb maka pada gambar menggunakan istilah dalam Bahasa Inggris, selain itu beberapa bidang engineering pada gambar hanya dapat ditemui di luar negeri dan belum dijumpai di Indonesia secara umum sehingga akan lebih mudah dipahami jika menggunakan Bahasa Inggris.


Dari kotak merah pada gambar di atas dapat dilihat bahwa bidang ergonomi / human factors / occupational safety and health / K3 atau istilah atau hal-hal atau bidang sejenis yang berhubungan dan mempunyai inti pada desain keselamatan sistem kerja tergolong dalam bidang safety engineering (rekayasa / teknik keselamatan) dan bidang safety engineering ini masuk dalam industrial engineering (rekayasa industri) atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama teknik industri.

Jadi sangat tepat jika bidang atau divisi HSE diisi oleh para lulusan teknik industri / industrial engineer ^_^

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_engineering_branches
Baca selengkapnyaTeknik Keselamatan / Safety Engineering

Kecelakaan, Human Error atau Human Factors?

Tulisan ini saya kutip dari http://motulz.multiply.com dan http://wiwikbudiawan.wordpress.com/ dengan beberapa tambahan.

Ada banyak kecelakaan yang terjadi di republik ini baik itu kecelakaan kerja, kecelakaan transportasi seperti kecelakaan kereta api, pesawat jatuh, kecelakaan jalan raya dan bahkan ada pesawat sipil nyasar serta kecelakaan-kecelakaan lainnya seperti pernah terjadi anak 10 tahun tertembak peluru nyasar, karena ada anggota TNI yang bertikai lalu melepaskan tembakan.

Pernah suatu ketika akibat kecelakaan kereta api yang konon menewaskan 14 orang, menteri perhubungan “tak segan-segan” langsung menyebutkan bahwa kecelakaan ini disebabkan oleh human error alias kesalahan yang disebabkan oleh manusia (bukan karena kerusakan mesin). Jika si masinis masih hidup rasa-rasanya dia lah yang akan harus dihukum dan dimintai pertanggungjawaban atas kecelakaan ini.


Apa yang menyebabkan human error? Ternyata sebelum kita melangkah kepada istilah human error, ada baiknya kita membahas istilah “human factor”, istilah yang rasa-rasanya jarang bahkan tidak pernah dibahas di negara kita. Human factor atau faktor manusia merupakan data-data yang tercatat dari serangkaian penelitian, percobaan, dan tes yang berkaitan antara manusia dan lingkungannya. Di dalam human factor kita menemui istilah ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari kerja manusia. Dalam ergonomi ini kita akan menemukan jarak jangkauan yang layak bagi pekerjaan A, atau bentuk kursi bagi pengendara B yang nyaman, bentuk kemudi yang mudah dikendalikan, posisi kerja yang natural, luas jendela yang aman bagi jarak pandang pengemudi, tampilan software yang usable bagi user, suhu ruangan yang tepat bagi pekerja manufaktur, desain alat kerja atau produk yang sesuai ukuran tubuh manusia Indonesia, pola organisasi kerja yang efektif, bahkan sampai jenis kerja yang cocok bagi individu dan masih banyak lagi.

Jika kita mau memperhatikan apa yang ada disekitar kita, maka kita akan sadar betapa minimnya bangsa ini memperhatikan human factor. Contoh, rambu-rambu lalu lintas yang posisinya saling menghalangi, mata kucing pada pembatas jalan, pintu masuk busway, pintu keluar busway, rambu-rambu di stasiun kereta api, pengaman di bus, pengaman di angkutan kota, helm penumpang ojeg, jarak kemudi bus antar kota, posisi tempat duduk penumpang bus, kursi metromini, pengaman penumpang bajaj, suara bising bajaj, wah masih terlalu banyak untuk dibeberkan.

Salah satu yang diangkat di sini adalah lokomotif kereta api yang beberapa kali mengalami kecelakaan. Kita tahu seperti yang diberitakan bahwa ada banyak korban yang meninggal dalam kecelakaan kereta api / lokomotif dan masinis sering dijadikan “tersangka utama” karena human error. Ya mungkin itu memang human error, namun apakah human error itu selalu terjadi karena kesalahan si masinis? Kemudian bagaimana kondisi kesehatan si masinis? Bagaimana kondisi gerbong dan kabin lokomotif? Bagaimana desain control dan display pada kendali lokomotif? Bagaimana proses shift atau penjadwalan dinas masinis? Bagaimana desain display persinyalan di jalur kereta api? Dan masih banyak faktor-faktor manusia (human factors) lainnya yang semua itu jarang atau bahkan beberapa tidak pernah dijadikan bahan penyelidikan. Akan ada banyak faktor yang mampu menyebabkan manusia menurun kondisi konsentrasinya akibat kondisi ruang kerja yang buruk.

Pindah ke kasus kejadian pesawat sipil yang kesasar. Sulit bagi si pilot untuk mengatakan buruknya human factor karena kondisi pesawat sebelum dan setelah digunakan itu selalu harus di cek dan ricek (lebih disiplin dari kendaraan jenis lainnya). Ruang kerja pilot (cockpit) dan sarana penunjang (makan dan minum di udara) sudah tersedia dengan baik. Lantas jika dalam kondisi faktor pendukung kerja ini sudah maksimal namum masih ada kecelakan yang disebabkan oleh manusia, layaklah jika itu disebut human error. Yang mana, pada kejadian human error ini ada banyak alasan-alasan yang mampu mengakibatkan manusia ini menjadi error, masalah psikologis misalnya. Dan human error ini sebenarnya sedikit banyak juga dipengaruhi oleh human factor atau ergonomi ini misalnya walaupun kondisi pesawat dan ruang kerja pilot dalam keadaan yang baik namun ternyata desain control dan displaynya salah atau tidak sesuai dengan antropometri orang Indonesia / Asia atau hal-hal lainnya maka bisa dikatakan human error terjadi karena human factor yang kurang diperhatikan.

Pindah ke kasus ke anggota TNI yang cekcok lalu dengan santai menembakkan senjatanya yang memakan korban anak umur 10 tahun. Apakah ini human factor? atau human error? TNI sepanjang sepengetahuan saya, hidupnya dicurahkan untuk sebuah satu kata sakti: disiplin. Semua tindakan yang menyeleweng atau tidak turut bisa disebut: in-disipliner (tidak disiplin). Selama bertahun-tahun mereka akan mengenyam latihan, baik fisik maupun mentor yang bertujuan membuat mereka menjadi prajurit yang disiplin. Mereka dilatih oleh para pimpinan militer yang tentunya punya kepiawaian yang tak perlu diragukan. Jika pada akhirnya ada prajurit yang indisipliner, mungkin mereka dengan mudah menyatakan bahwa prajurit itu adalah oknum. Jadi jika desain sistem sudah memperhatikan human factor dengan optimal dan mengaplikasikan ergonomi yang tepat namun manusia masih melakukan error apalagi jika kemungkinan besar disengaja maka itu adalah human error yang mengarah ke suatu perbuatan yang salah atau bahkan “tindak kejahatan” dan si pelaku memang layak “disalahkan”.

Jadi kesimpulannya human error bisa disebabkan karena human factors dalam desain kerja yang kurang diperhatikan dan ketika ini terjadi si manusia itu tidak bisa disalahkan atau tidak sepenuhnya disalahkan. Namun ketika human factors sudah diperhatikan dan diaplikasikan dengan tepat namun masih terjadi human error misalnya masinis atau pilot yang sudah diberi aturan wajib istirahat selama sekian jam sebelum dinas namun melanggarnya atau operator yang tidak melakukan atau menaati prosedur kerja maka si manusia disini yang “bersalah”.

Terakhir, bagaimana kita bisa mengatasi masalah human factor ini? Sejauh kebutuhannya hanya dilingkungan rumah kita, tentu kita bisa memulai memperhatikan dan menerapkannya di rumah kita dulu. Misalnya, bagaimana menghindari lantai yang licin, mengurangi sudut-sudut bangunan yang bisa melukai anak-anak jika berlari. Mengurangi tangga, ujung meja makan yang sudutnya tajam dan lain-lain. Namun masalah ini menjadi kompleks jika penerapannya lebih luas, misalnya lingkup RT, RW apalagi negara ini.

Referensi:
Baca selengkapnyaKecelakaan, Human Error atau Human Factors?

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

Pada tahun 1996, Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : PER.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3). Pasal 3 Peraturan Menteri ini menjelaskan bahwa setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih dan/atau mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat menyebabkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja, wajib menerapkan SMK3. SMK3 tersebut dilaksanakan oleh Pengurus, Pengusaha dan seluruh tenaga kerja sebagai satu kesatuan.


Kewajiban mengenai penerapan Sistem Manajemen K3 oleh setiap perusahaan ini ditegaskan kembali dalam Pasal 87 Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang berbunyi: setiap perusahaan wajib menerapkan sitem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan.

Akhir-akhir ini kita melihat banyak perusahaan telah mendapatkan sertifikasi OHSAS 18001, SMK3 dan ISO 14001. Ini merupakan fenomena yang baik dimana banyak perusahaan sudah memiliki komitmen untuk peningkatan kinerja dibidang K3 dan lingkungan hidup dengan pendekatan sistem dan proses yang terstruktur. Hanya saja sangat disayangkan kalau dalam proses mendapatkan sertifikasi tersebut perusahaan mengembangkan sistem manajemennya dengan cara yanng terpisah-pisah antara sistem manajemen K3 dan lingkungan hidup sehingga terjadi proses dan prosedur yang saling tumpang tindih yang berdampak pada penggunaan sumberdaya yang tidak efisien dan efektif.

Karena itu ada beberapa hal yang prlu dilakukan:
  • Meningkatkan persepsi terhadap resiko keselamatan dan kesehatan kerja.
  • Menginterpretasikan persyaratan setiap elemen dan sub elemen SMK3.
  • Mengembangkan dan melaksanakan sistem manajemen K3 sesuai persyaratan SMK3.
  • Mengintegrasikan persyaratan SMK3 terhadap sistem manajemen perusahaan yang lain.

Sumber: Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sesuai Permenaker, Per. 05/MEN/1996, Berbasis Komputer PT Rhuekamp Indonesia Management Systems & Engineering Consultant
Baca selengkapnyaSistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

Contractor Safety Management System (CSMS)

CSMS adalah suatu Sistem Manajemen K3 yang diterapkan kepada kontraktor, meliputi beberapa elemen K3 yang sesuai dengan standar yang diacu (ISRS, ANSI, OHSAS, dll). CSMS sebagai bahan pertimbangan awal oleh perusahaan main contractor untuk menilai kinerja Kontraktor yang akan diterimanya


Mengapa Perusahaan Wajib Menerapkan CSMS?
  • Syarat untuk dapat lolos prakualifikasi di Total, Unocal, dan Vico
  • Meningkatkan profit perusahaan.
  • Mengurangi angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
  • Membangun citra positif perusahaan
Kapan Perusahaan Wajib Menerapkan CSMS?

1. Tahap Kualifikasi
  • Penilaian Resiko
  • Pra-kualifikasi
  • Pemilihan
2. Tahap Pelaksanaan
  • Aktivitas awal pekerjaan
  • Pada saat pekerjaan berlangsung
  • Evaluasi akhir
Penilaian Resiko :
  • Menilai dan menakar resiko aktivitas pekerjaan yang akan dikontrakkan.
  • Mengkategorikan resiko dengan kategori rendah, menengah dan tinggi.
Hal hal yang memperngaruhi resiko :
  • Jenis pekerjaan
  • Lokasi pekerjaan
  • Potensi celaka karena bahaya di tempat kerja.
  • Potensi celaka karena aktivitas kontraktor
  • Pekerjaan simultan oleh beberapa kontraktor
  • Lamanya pekerjaan
  • Pengalaman dan keahlian kontraktor
Pra Kualifikasi :
Untuk meniliti kualifikasi kontraktor dalam hal K3. Hanya mereka yang memiliki sistem K3 yang akan diikutkan di dalam proses tender.
 
Pemilihan/Seleksi :
Untuk memilih kontraktor terbaik diantara mereka yang mengikuti tender.

Aktivitas Awal Pekerjaan :
  • Adalah langkah untuk membuka komunikasi awal antara petugas lapangan kontraktor dan petugas lapangan perusahaan minyak dan tambang.
  • Pre job activity meeting at office
  • Pre job activity meeting at site
  • Rencana Kerja (work plan)
  • Review Potential Hazards and Safety Aspect
  • Emergency Response Plan and Procedure
  • Pre Job safety Meeting – site
  • Orientasi Lapangan
  • Finalization All Safety Requirement
  • Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Pada Saat Pekerjaan Berlangsung :
  • Inspeksi Keselamatan Kerja (Safety Inspection)
  • Program Keselamatan Kerja (Safety Program): Safety Meeting, Safety Inspection, Safety Promotion, Safety Communication, Emergency Drills and Exercise, Incident Investigation
Evaluasi Akhir :
  • Adalah langkah penilaian kinerja K3 kontraktor selama pra-kualifikasi dan Pekerjaan Berlangsung.
  • Hasil evaluasi akan disimpan di data bank, menjadi bahan pertimbangan apakah kontraktor tersebut layak untuk mendapat pekerjaan yang akan datang
  • Kinerja Keselamatan Kerja :
  • Safe working hours
  • Frequensi rate & Severity rate
  • Masalah-masalah Keselamatan Kerja
  • Laporan Kecelakaan, kerusakan, kejadian, nyaris celaka dan anomaly.
  • Pelatihan yang diadakan.
Proses CSMS ini banyak mempunyai kendala di beberapa perusahaan yang belum mempunyai sistem manajemen K3, ataupun sudah ada namun tidak terimplementasikan sepenuhnya. Beberapa hal yang kadang dilewatkan ataupun tidak disadari oleh Line Management ataupun karyawan bahwa, pendokumentasian setiap proses pekerjaan amatlah penting. Hal itu bertujuan untuk memonitor dan mendeteksi suatu proses pekerjaan, yang didalamnya terdapat informasi-informasi penting yang pada suatu saat akan dibutuhkan.

Contoh sederhana dari pertanyaan kuesioner CSMS adalah komitmen manajemen dan bukti keterlibatan langsung pada implementasi Sistem Manajemen K3, disini secara nyata bahwa Top Management mempunyai peran yang sangat penting sebagai orang pertama yang bertanggung jawab tentang K3 diperusahaannya. Untuk memastikan proses ini dijalankan maka perlu di lakukan implementasi seperti HSE Manajemen Meeting yang terjadwal. Dan yang lebih penting lagi, setiap melakukan pertemuan atau meeting wajib dibuatkan Minute of Meeting lengkap dengan daftar hadirny.

Hal-hal sederhana yang sering terlewatkan seperti inilah, yang mempunyai efek pada proses CSMS ini. Oleh karena itu pada pelaku perusahaan, buatlah sistem yang rapi, terintegrasi. Dengan menentukan objectives dan target dan goal yang ingin dicapai, tentunya di sisi K3.

Sumber:
http://www.uklik.net/2010/01/25/172/
http://csmsconsultant.blogspot.com/2011/04/csms-consultant.html
Baca selengkapnyaContractor Safety Management System (CSMS)

Pengaruh Nilai-Nilai Agama terhadap Budaya Kerja dalam Budaya Perusahaan

Menghadapi persaingan bisnis dunia yang semakin ketat, perusahaan manapun yang berniat memperoleh laba dan memanfaatkan laba itu sebaik-baiknya, perlu menyusun langkah dan strategi baru yang lebih efisien dan efektif. Salah satu faktor atau komponen penting dalam organisasi perusahaan adalah faktor SDM, yang dapat dianggap sangat potensial untuk dikembangkan mencapai kualitas tertentu agar mampu menghasilkan produksi atau jasa yang mengandung keunggulan-keunggulan. Pembinaan SDM merupakan langkah strategis untuk memenangkan kompetisi di dalam maupun di luar negeri.


Mengenai SDM ini, dalam kitan Suci Al-qur’an dimuat nash-nash dan isyarat-isyarat tentang sifat manusia, penjelasan tentang dorongan-dorongan dasar dan beberapa perilakunya yang seringkali berlawanan. Dibandingkan sejumlah makhluk lain dibumi in, manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling sempurna, diberi-Nya manusia itu akal untuk berpikir dan hati nurani untuk menbedakan hal yang baik dari yang buruk. Tetapi manusiapun paling kaya misteri dan kontradiksi. Misalnya, ia tahu bahwa sebagai manusia memiliki berbagai keterbatasan tetapi memiliki keinginan untuk meraih berbagai hal diluar keterbatasannya yang menunjukkan adanya kebutuhan tak habis-habisnya.

Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas SDM telah dilaksanakan dengan cara-cara yang biasa, seperti upaya perusahaan untuk (1) meningkatkan pendidikan, pengetahuan dan keterampuilan karyawan, (2) meningkatkan kesehatan, kebugaran dan gizi karyawan, (3) membina sistem penggajian, upah, kesejahteraan dan pensiun karyawan, (4) memperbaiki struktur organisasi, kekompakan kerjasama tim, kepemimpinan dalam perusahaan, persamaan nilai, pandangan, tujuan dan lain-lain.

Upaya-upaya diatas nampaknya bertujuan agar baik karyawan sebagai individu maupun kelompok mengalami peningkatan IPTEK hingga tercapai budaya kerja seperti yang diharapkan. Disamping itu nampak dengan jelas berbagai upaya perusahaan untuk membangun suatu corporate culture yang dapat mempersatukan dan meningkatkan motivasi kerja para karyawan.

Namun selain ini, upaya meningkatkan budaya kerja dari karyawan dan budaya perusahaan belum didukung oleh program-program yang terarah dan terencana yang ditujukan untuk peningkatkan keimanan dan ketaqwaan pada Tuhan Yang maha esa. Unsur spritualitas adalah bagian terpenting dari eksistensi SDM manapun, disamping unsur kesehatan jasmani dan mental sosial. Pembinaan IPTEK harus disertai pembinaan IMTAQ para karyawan, dan budaya perusahaan hendaknya mencerminkan keseimbangan antara manusia dengan manusia, dengan alam dan dengan Penciptanya (QS 2:201).

Pembinaan Sumber Daya Individu
Setiap SDM yang merupakan komponen paling penting dalam proses pencapaian tujuan perusahaan mereka, masuk ke dalam organisasi perusahaan sambil membawa karakteristiknya masing-masing. Karakteristik tersebut antara lain:
  • Fisik, Usia, jenis kelamin, agama
  • Kesehatan
  • Kemampuan
  • Pendidikan
  • Keterampilan
  • Pengalaman kerja
  • Motivasi, harapan, kepercayaan, keyakinan
  • Dan berbagai sifat atau aspek kepribadian yang unik
Maka budaya perusahaan (corporate culture) dapat didefinisikan atau menunjukkan adanya "a set of value, beliefs and behavior pattern that form the core identity of an organization, hold in comman by its members (as individual, subground or group), and that they use as behavior and work-problem-solving guides".

Ternyata Budaya setiap Perusahaan berbeda-beda, ada yang menekankan efisiensi, efektifitas untuk menekan cost. Ada yang mementingkan disiplin kerja dan ketaatan pada aturan atau kehendak atasan. Adapula yang membudidayakan customer satisfaction dan lain sebagainya. Dengan sendirinya budaya perusahaan akan menentukan gaya kepemimpinan yang diberlakukan dalam perusahaan tersebut. Bila Frederick Taylor menganggap kepemimpinan one-best man adalah yang terbaik, maka Chester Barnard dan beberapa penganut budaya barat lain menganggap beberapa hal lain yang lebih penting seperti partisipasi, keterlibatan karyawan dan apresiasi terhadap kinerja karyawan yang melampaui target baik secara perorangan maupun kelompok, keduanya diwarnai oleh budaya yang berbeda yang dianut masing-masing oleh Taylor atau Barnard.

Budaya Perusahaan seperti halnya pengertian budaya pada umumnya, mengandung gejala sosial atau gejala kelompok yang mencolok. Dalam setiap kelompok yang melakukan bekerja sama (team work) secara terorganisasi, maka akan muncul kepermukaan keinginan kelompok untuk mendapatkan pelayanan dari perusahaannya terhadap berbagai kebutuhan dan aspirasi kelompok. Perusahaan dianjurkan untuk semakin sensitif terhadap kebutuhan SDM tersebut (Ingat teori kebutuhan dari Maslow).

Kelompok menjadi kuat bila mereka memiliki pemahaman yang sama terhadap tujuan yang ingin dicapai perusahaan dan masing-masing mengerti dimana tempat dan fungsinya dalam pencapaian tujuan tersebut.

Bila pada waktu permulaan masuk kerja, mereka masuk ke perusahaan dengan berbagai karakteristik dan harapan yang berbeda-beda, maka melalui training, orientasi dan penyesuaian diri, karyawan akan menyerap budaya perusahaan yang kemudian akan berkembang menjadi budaya kelompok, untuk akhirnya diserap sebagai budaya pribadi. Bila proses internalisasi budaya perusahaan menjadi budaya pribadi telah berhasil, maka karyawan akan merasa identik dengan perusahaannya, merasa menyatu dan tidak ada halangan untuk mencapai produktivitas optimal. Ini adalah kondisi yang saling menguntungkan, baik bagi perusahaan maupun karyawan.

Namun sebelum kondisi ideal ini tercapai, kita kembali menemukan bahwa pada awalnya kelompok menggapai-gapai untuk mencari pedoman yang dapat mengarahkan behavior pattern yang sesuai dengan keinginan pribadinya, pada saat yang sama dapat diterima oleh kelompok dan atasannya.

Oleh teori organisasi barat, tahap ini disebut sebagai teori confrontation of dependency and authority. Pada tahap awal ini pribadi SDM merasa gamang, kuatir, cemas, jangan-jangan apa yang dapat diberikannya tidak sesuai dengan apa yang dituntut oleh organisasi (melalui atasannya). Mereka cemas kalau-kalau perusahaan tidak dapat menerima mereka seperti adanya.

NIlai Agama Dalam Budaya Perusahaan
Budaya Perusahaan yang mengandung nilai-nilai agama karena selalu mendahulukan pembinaan terhadap akhlakul karimah, sejak tahap awal perlu dimantapkan sebagai manifestasi utama dari budaya perusahaan. Budaya Perusahaan akan terekspresi dalam seremoni dan ritual yang substansinya adalah substansi agamawi. Maka tahap confontation of dependency and authority dapat dilembutkan melalui budaya jujur, sabar, tidak mudah iri dan terpancing untuk melakukan hal-hal yang dimurkai agama.

Para pemimpin yang mewakili budaya perusahaan, akan menentukan bahwa bila tahap pertama upaya karyawan menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan menghasilkan sukses, maka pada tahap berikutnya akan tercapai confontation of intimacy, role differentiation and peer relationship. Tahap ini menggambarkan tercapainya konsensus normatif dan kerjasama dalam tim yang harmonis.

Dalam agama Islam manusia ditentukan untuk :
  1. Berusaha (effort) seluas dan sebaik-baiknya agar tercapai suatu goal yang halal. Pada tahap Bini, dengan dukungan budaya perusahaan karyawan akan mencoba berusaha dan menghasilkan prestasi terbaiknya, apalagi bila performance appraisalnya dilakukan dengan adil dan objektif. Melakukan pekerjaan dengan ikhlas adalah ajaran utama dalam Islam. Dalam budaya perusahaan dapat dibina suasana bekerja dfengan ikhlas, suatu effort yang diupayakan hanya karena Allah semata-mata. Effort yang dilandasi keikhlasan, dapat mencegah SDM dari stres atau jenis emosi lain yang merugikan.
  2. Dalam Islam, umat dituntut untuk minta tolong pada Allah dan mengakui keterbatasan dirinya. Allah lebih mencintai orang-orang yang selalu meminta daripada yang enggan meminta, karena seolah-olah manusia itu berkecukupan. Dan Tuhan berfirman : Berdoalah kepadaKu, niscaya akan keperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanan dalam keadaan hina dina (QS. 40:60). Rasullah SAW bersabda : Sesungguhnya siap saja yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya (HR. At-Tarmizi dan Abu Hurairoh). Apabila manusia rajin bekerja dan berupaya, ia akan menciptakan budaya kerja yang disiplin, keras kemauan dan tidak cepat putus asa. Sementara itu, individu itu terus menerus berdo’a dan meminta tolong dan ridho-Nya, agar usahanya membuahkan hasil. Sifat ini akan membawa manusia ke perilaku rendah hati, takut takabur dan senantiasa menyadari baik kelemahan maupun kekuatannya.
  3. Pada tahap berikutnya, dituntut sikap penerimaan yang ikhlas, sekalipun usah dan permintaan tolongnya belum mendatangkan hasil seperti yang diharapkan
Dalam kondisi bisnis yang penuh kompetisi dan ketegangan dewasa ini, kita harus berlomba meningkatkan Comperative adventages yang kita miliki. SDM adalah potensi perusahaan yang amat strategis untuk menghasilkan produk/jasa yang bermutu. Istilah jiwa, sikap dan perilakunya baik dengan IPTEK maupun IMTAQ, hingga terjadi penyempurnaan kualitas SDM dari sudut jasmani, mental-sosial dan spiritual. Binalah Budaya Kerja dan Budaya Perusahaan dengan nilai-nilai keagamaan hingga mencapai kesatuan utuh dunia-akhirat. Kondisi ideal ini selain mendorong prestasi kerja juga akan membangun ketenangan bekerja lahir dan batin, dunia maupun akhirat. Secara praktis dianjurkan agar perusahaan memprogramkan kegiatan-kegiatan pembinaan spritual secara terencana dan terarah.

Sumber: Prof. Dr. Yamil C.A. Achir, Round Table Discussion tentang Pengembangan Budaya Kerja dalam Perspektif Islam.


Saya menambahkan satu hal bahwa kerja akan menjadi optimal jika bekerja sesuai keadaannya atau bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan atau menurut apa yang dimudahkan, selengkapnya klik disini.
Baca selengkapnyaPengaruh Nilai-Nilai Agama terhadap Budaya Kerja dalam Budaya Perusahaan

Terapkan Ergonomi Tak Harus Peralatan Mahal

Peserta International Joint Conference APCHI – Ergofuture pada tahun 2010 dari dalam dan luar negeri mengunjungi Kantor Koran Tokoh dan Rumah Sakit Sanglah. Kedua lembaga ini terpilih untuk membawakan makalah terkait penerapan ergonomi dalam konperensi internasional tersebut yang berlangsung di Sanur 2 hingga 6 Agustus. Koran Tokoh yang diwakili Budi Paramartha mempresentasikan ”Penerapan Konsep Ergonomi di Perusahaan Medi”, sedangkan RS Sanglah yang diwakili Ni Nyoman Ayuningsih dan Ni Nyoman Gunahariati menyajikan Analisis Pemindahan Pasien dan Analisis Kelelahan Perawat Memandikan Pasien di RS Sanglah.


Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Tokoh Widminarko yang mewakili Pemimpin Kelompok Media Bali Post (KMB) saat menerima tamu tersebut mengungkapkan, di lingkungan kerja KMB sudah pernah diterapkan konsep ergonomi khususnya di percetakan dan sebagian kursi kerja. ”Pemimpin KMB tetap berkomitmen untuk menerapkan konsep ergonomi di lingkungan kerja, tentu secara bertahap,” ujarnya.

Seperti diketahui prinsip dasar ergonomi adalah memanusiakan manusia. Apa yang dilakukan manusia dengan alat bantunya harus membuat manusia itu merasa nyaman. Konsep dasar ergonomi adalah sehat, aman, nyaman, dan efisien.

Jika manusia bekerja dengan konsep ergonomi, proses kerja lebih berkualitas dan hasilnya lebih produktif. Penerapannya tentu harus dirancang secara holistik dan komprehensif, melibatkan banyak disiplin ilmu dan partisipan.

Contoh, penerapan konsep ergonomi di lingkungan kerja perkantoran yang menggunakan komputer. Posisi duduk harus diatur demikian rupa agar pandangan mata orang yang bekerja di depan komputer lurus dan sejajar dengan monitor. Posisi tangan juga sejajar dengan keyboard dan sudut antara lengan bagian atas dan lengan bagian bawah membentuk sudut 90 derajat. Jika tangan bertopang di meja, kursi harus lebih tinggi posisinya sehingga posisi 90 derajat bisa diperoleh.

Posisi duduk juga harus diatur agar tulang belakang mendapat penyangga dan posisi duduk tegak lurus. Kursi juga perlu diatur agar posisi paha dan tungkai kaki membentuk sudut 90 derajat. Kalau kursi terlalu tinggi, kaki dicarikan pijakan agar posisi paha tetap rata. Posisi ini juga membuat kaki tidak mudah lelah. Tiap dua jam usahakan untuk istirahat melepaskan lelah. Ini juga untuk mengistirahatkan mata agar tidak terus memandangi monitor komputer.

“Tiap dua jam, karyawan yang bekerja di depan komputer harus mengistirahatkan mata dengan cara melihat pemandangan, “ ujar Brian Peacock, Ph.D, PE,CPE, ahli ergonomi dari SIM University, Singapura, ketika berkunjung ke ruang kerja Redaksi Koran Tokoh Jumat (6/8). Ia memuji penempatan gedung Bali TV yang berada dekat dengan sawah sehingga para karyawan bisa melepaskan lelah dengan memandangi areal persawahan.

Namun, ia memberi catatan, beberapa jendela yang dipasangi tirai, sebaiknya pakai saja kain korden. Kalau ruangan sedang menjadi tempat pertemuan, silakan tutup kordennya. Tetapi, kalau tidak ada rapat, lebih baik dibuka saja. Ini sekalian membantu pencahayaan ruangan.

Andrew S. Imada Ph.D. CPE., President of International Ergonomics Association menyatakan kesannya, penerapan ergonomi tidak harus dilakukan dengan membeli peralatan baru. Ketika ditunjukkan sandaran kursi lipat sebagai aplikasi dari ergonomi low budget di Koran Tokoh, ia tidak memasalahkan sandaran tersebut. Sandaran tersebut dibuat dari tripleks dan busa dan dipasang di kursi lipat untuk menopang tulang belakang agar tidak mudah lelah. “Ergonomi itu kata kuncinya sehat, aman, nyaman, efisien. Tidak harus membeli peralatan mahal untuk menerapkan konsep ergonomi,” ujar pria asal Jepang yang menetap di Amerika Serikat ini.

Sebenarnya untuk melihat ekonomi atau investasi ergonomi tidak hanya dilihat dari murah tidaknya cost yang dipakai tapi juga dari analisis ekonomi lain seperti ROI, selengkapnya klik disini.

Sumber: http://www.cybertokoh.com/index.php?option=com_content&task=view&id=1166&Itemid=61
Baca selengkapnyaTerapkan Ergonomi Tak Harus Peralatan Mahal

Kelelahan Kerja

Definisi kelelahan :
  • Levy (1990) mengutarakan bahwa kelelahan kerja masih merupakan misteri dunia kedokteran modern, penuh kekaburan dalam sebab musababnya serta pencegahannyapun belum terungkap secara jelas.
  • Rizeddin (2000): kelelahan menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang ditandai oleh sensasi lelah, motivasi menurun, aktivitas menurun.
  • Keadaan yang ditandai oleh adanya perasaan kelelahan kerja dan penurunan kesiagaan.
  • Keadaan pada saraf sentral sistimik akibat aktivitas yang berkepanjangan dan secara fundamental dikontrol oleh sistim aktivasi dan sistim inhibisi batang otak.
  • Merupakan fanomena kompleks yang disebabkan oleh faktor biologi pada proses kerja dan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.
  • Merupakan kriteria lengkap tidak hanya menyangkut kelelahan fisik dan psikis tetapi lebih banyak kaitannya dengan adanya penurunan kinerja fisik, adanya perasaan lelah, penurunan motivasi, dan penurunan produktivitas kerja.
  • Adalah respon total terhadap stres psikososial yang dialami dalam satu periode waktu tertentu dan cenderung menurunkan motivasi dan prestasi kerja.


Fakta-fakta tentang kelelahan kerja :
  • Setiap hari dijumpai dalam kehidupan kerja lebih dari 65% pasien yang datang ke Poliklinik Perusahaan menderita fatigue
  • Kennedy (1987) : 24% orang dewasa yang datang ke poliklinik menderita kelelahan (USA)
  • Kelelahan kerja diderita oleh 25% tenaga kerja wanita, 20% tenaga kerja laki-laki. (England)
  • Kelelahan kerja memperlambat waktu reaksi, merasa lelah ada penurunan aktivitas dan kesulitan mengambil keputusan disamping gejala lain
  • Kelelahan dapat meningkatkan error operator atau pelanggaran saat kerja. Hal ini merupakan penyebab utama terjadinya kecelakaan.
  • Fokus terhadap sistem kontrol jam kerja yang berlebihan, terutama untuk staf yang berada dalam kerja yang berbahaya harus ditingkatkan. Kelelahan harus diatur seperti halnya bahaya lainnya.
  • Tugas legal atasan untuk mengatur resiko kelelahan, terlepas dari keinginan individual pekerja untuk bekerja lembur.
  • Pihak manajemen dapat mengubah jam kerja yang membutuhkan pengawasan dan beresiko tinggi.
Faktor penyebab kelelahan kerja berkaitan dengan banyak hal yaitu :
  • Penyebab medis: flu, anemia, gangguan tidur, hypothyroidism, hepatitis, TBC, dan penyakit kronis lainnya.
  • Penyebab yang berkaitan dengan gaya hidup: kurang tidur, terlalu banyak tidur, alkohol dan miras, diet yang buruk, kurangnya olahraga, gizi, daya tahan tubuh, circadian rhythm.
  • Penyebab yang berkaitan dengan tempat kerja: kerja shift, pelatihan tempat kerja yang buruk, stress di tempat kerja, pengangguran, workaholics, suhu ruang kerja, penyinaran, kebisingan, monotoni pekerjaan dan kebosanan, beban kerja.
  • Faktor psikologis: depresi, kecemasan dan stress, kesedihan.
  • Beberapa faktor yang mempengaruhi: intensitas dan durasi kerja fisik dan mental, monotoni, iklim kerja, penerangan, kebisingan, tanggung jawab, kecemasan, konflik-konflik, penyakit keluhan sakit dan nutrisi (ILO, 1983 dan Grandjean, 1985)
Jenis Kelelahan
  • Proses terjadinya pada otot : kelelahan umum dan otot
  • Waktu terjadinya: akut dan kronis
  • Penyebabnya : faktor-faktor nonfisik (psikososial) dan lingkungan fisik
Perubahan Fisiologis Akibat Kelelahan kerja
Mekanisme prinsip tubuh mencakup sistem sirkulasi, sistem pencemaan, sistem otot, sistem saraf dan sistem pemafasan. Kerja fisik yang terus menerus mempengaruhi mekanisme tersebut baik sebagian maupun secara keseluruhan (Setyawati, 1994)

Gejala Kelelahan Kerja
Gilmer(1966) dan Cameron (1973) :
  • Menurun kesiagaan dan perhatian,
  • Penurunan dan hambatan persepsi,
  • Cara berpikir atau perbuatan anti sosial,
  • Tidak cocok dengan lingkungan.
  • Depresi, kurang tenaga, dan kehilangan inisiatif,
  • Gejala umum (sakit kepala, vertigo, gangguan fungsi paru dan jantung, kehilangan nafsu makan, gangguan pencemaan, kecemasan, pembahan tingkah laku, kegelisahan, dan kesukaran tidur
Akibat Kelelahan Kerja
  • Prestasi kerja yang menurun,
  • Fungsi fisiologis motorik dan neural yang menurun,
  • Badan terasa tidak enak,
  • Semangat kerja yang menurun (Bartley dan Chute, 1982)
Pengukuran Kelelahan Kerja :
  • Waktu reaksi,
  • Uji ketukjari (fingger-tapping test),
  • Uji flicker fusion.
  • Critical flicker fusion,
  • Uji Bourdon Wiersma,
  • Skala kelelahan IFRC (Industrial Fatique Rating Committe),
  • Skala fatique rating (FR Scale),
  • Ekskresi katekolamin,
  • Stroop test,
  • Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2)
  • Indikator pengukuran kelelahan kerja: waktu reaksi dan rasa lelah
Penanggulangan Kelelahan Kerja
  • Lingkungan kerja bebas dari zat berbahaya, penerangan memadai, sesuai dengan jenis pekerjaan yang dihadapi, maupun pengaturan udara yang adekuat, bebas dari kebisingan, getaran, serta ketidaknyamanan.
  • Waktu kerja diselingi istirahat pendek dan istirahat untuk makan.
  • Kesehatan umum dijaga dan dimonitor.
  • Pemberian gizi kerja yang memadai sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja.
  • Beban kerja berat tidak berlangsung terlalu lama.
  • Tempat tinggal diusahakan sedekat mungkin dengan tempat kerja, kalau perlu bagi tenaga kerja dengan tempat tinggal jauh diusahakan transportasi dari perusahaan.
  • Pembinaan mental secara teratur dan berkala dalam rangka stabilitas kerja dan kehidupannya.
  • Disediakaan fasilitas rekreasi, waktu rekreasi dan istirahat diolaksankan secara baik.
  • Cuti dan liburan diselenggarakan sebaik-baiknya.
  • Diberikan perhatian khusus pada kelompok tertentu seperti tenaga kerja beda usia, wanita hamil dan menyusui, tenaga kerja dengan kerja gilir di malam hari, tenaga baru pindahan.
  • Mengusahakan tenaga kerja bebas alkohol dan obat berbahaya.
Sumber:
dr. Lintje S.
http://batikyogya.wordpress.com/2008/09/09/kelelahan-kerja/
Baca selengkapnyaKelelahan Kerja

Ergonomi Tingkatkan Produktivitas

Di samping efisiensi, efektivitas dan kualitas, untuk mencapai produktivitas yang tinggi dalam suatu kegiatan, perlu pula memperhatikan penerapan prinsip ergonomi, 5S, total quality management (TQM), Kaizen dan sebagainya. Prinsip ergonomi perlu diperhatikan mengingat akan cukup banyak pengaruhnya pada aktivitas seseorang.

Produktivitas merupakan kemampuan untuk menghasilkan atau tingkat hasil yang diperoleh seseorang. Produktivitas dikatakan meningkat, jika bisa menghasilkan lebih banyak dalam jangka waktu yang sama, atau jika dapat menghasilkan sama banyak dalam jangka waktu yang lebih singkat.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ergonomi atau diknal juga dengan human factors / human engineering, maka lingkungan kerja akan menjadi aman, sehat dan nyaman, sehingga kerja menjadi lebih produktif dan efisien, serta ada jaminan kualitas kerja. Sebaliknya, sistem kerja yang tidak ergonomis menjadikan hasil kerja tidak memuaskan, sering terjadi kecelakaan kerja, pekerja sering melakukan kesalahan, cepat lelah, gampang sakit, beban kerja terlalu berat dan sebagainya. 

Perancangan sistem kerja yang ergonomis juga memperhatikan 5S, prinsip 5S yakni Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu dan Shitsuke Seiri artinya menyingkirkan barang yang tak digunakan atau ringkas. Seiton maknanya setiap barang punya tempat yang pasti dan pada tempatnya atau rapi. Seiso yakni menjaga kebersihan lingkungan kerja agar bersih. Seiketsu, semua orang memperoleh informasi yang dibutuhkan dengan tepat waktu atau terawat. Sedang Shitsuke rajin dan disiplin.

Selengkapnya mengenai ergonomi dan produktivitas dan 5S klik disini dan disini.

Referensi: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=202137&actmenu=36
Baca selengkapnyaErgonomi Tingkatkan Produktivitas

Laboratorium dan Pusat Penelitian Ergonomi

Laboratorium atau pusat penelitian ergonomi di Indonesia sudah cukup banyak, kebanyakan menggunakan nama Laboratorium Ergonomi atau Laboratorium Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi (PSKE) dan mayoritas berada dalam institusi pendidikan teknik industri (selengkapnya klik disini). Namun di negara-negara maju laboratorium ergonomi sudah terdiversifikasi menjadi bidang-bidang yang lebih sempit dan lebih fokus. Jadi dalam satu institusi teknik industri bisa terdapat banyak laboratorium ergonomi dengan fokus kajian yang berbeda-beda. Berikut contoh-contohnya:


Pusat Peningkatan Kualitas dan Produktivitas
Tiga kunci ergonomi adalah safety, health dan productivity / quality. Productivity atau quality ini adalah tujuan final dari ergonomic Secara luas diakui bahwa quality atau kualitas adalah dasar untuk mencapai sukses jangka panjang. Sebuah tren baru untuk fokus terhadap pelanggan dan proses mengharuskan organisasi untuk melakukan perbaikan terus-menerus (continuous improvement) terutama pada industri, pemerintah, lembaga pendidikan, kesehatan, dan bisnis-bisnis lainnya. Semua pihak pasti memperoleh manfaat dari kualitas dan produktivitas yang lebih baik seperti mengurangi waktu dan biaya untuk mengembangkan, memproduksi produk dan jasa, dan bahkan keselamatan pun juga meningkat. Metode berbasis data total-quality merupakan katalis untuk membantu mencapai manfaat dari peningkatan kualitas dan produktivitas.

Pusat peningkatan kualitas dan produktivitas berperan dalam pengembangan teknik baru untuk meningkatkan kualitas produk dan proses. Pusat ini juga berperan dalam penelitian-penelitian metode yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas proses kerja, kehidupan kerja, dan kesehatan.

Misi pusat peningkatan kualitas dan produktivitas biasanya adalah untuk membuat, mengintegrasikan, dan transfer pengetahuan untuk meningkatkan kualitas dan kinerja industri, jasa, pemerintahan, kesehatan, pendidikan, sosial, dan organisasi lainnya.

Visi pusat peningkatan kualitas dan produktivitas biasanya adalah untuk unggul dalam penciptaan, pengembangan, dan integrasi pengetahuan melalui penelitian pada teori-teori, konsep, dan metodologi pengukuran kualitas dan produktivitas, manajemen dan perbaikan, inovasi dan perubahan dalam organisasi.

Bidang keahlian pada pusat peningkatan kualitas dan produktivitas biasanya berupa bidang teknik kualitas, kualitas manajemen, peningkatan kualitas dalam kesehatan, penelitian dan aplikasi keselamatan, dan kualitas kehidupan kerja, faktor manusia dan ergonomi.

Di Indonesia sebenarnya sudah ada laboratorium semcam ini misalnya laboratorium rekayasa kualitas dan reliabilitas (quality and reliability engineering) dsb.

Laboratorium Sistem Kognitif
Laboratorium sistem kognitif berfokus pada rekayasa kognitif (ergonomi kognitif), di mana perannya adalah untuk memahami dan mengoptimasi kapasitas sistem manusia-teknologi. Penelitian-penelitian dalam laboratorium ini biasanya bertemakan pertimbangan penyisipan teknologi dalam sistem yang sudah ada seperti industri maritim, transportasi darat, tele-operasi, dan pengendalian proses. Sebuah contoh yang umum adalah adanya potensi kesalahan pemakaian dari alat-alat dalam sistem informasi, seperti telepon seluler dan e-mail. Contoh lain adalah peran kepercayaan dan ketergantungan dalam kontrol pengawasan sistem yang terotomatisasi seperti pesawat tak berawak. Dalam contoh-contoh tersebut dapat dilihat bahwa tujuan utama laboratorium ini adalah untuk mengembangkan model komputasi kinerja manusia dan prinsip-prinsip desain yang mendukung penggunaan teknologi yang efektif dan manusiawi.

Tema yang umum dari penelitian-penelitian labpratprium ini asalah memahami bagaimana teknologi menengahi atensi manusia dengan suatu teknologi, tema penelitian yang banyak dikenal adalah mengenai hubungan manusia dengan teknologi navigasi, kontrol proses, dan driving. Dalam penelitian-penelitian laboratorium ini dibangun mediasi teknologi dan atensi manusia berdasarkan konsep-konsep psikologis dasar atensi untuk memahami bagaimana teknologi harus dibentuk sehingga manusia dapat berperan (misalnya mengoperasikan teknologi dsb) dengan benar pada waktu yang tepat dan merespons dengan tepat. Intinya ergonomi kognitif adalah sebuah pemahaman tentang bagaimana teknologi dapat memediasi atensi atau perhatian manusia digunakan untuk membuat suatu sistem (biasanya berupa control dan display) yang memungkinkan orang untuk bekerja secara efektif dengan teknologi yang semakin canggih.

Siswa di laboratorium sistem kognitif belajar bagaimana untuk melakukan eksperimen dalam lingkungan MicroWorld dan simulator. Mereka juga mempelajari teknik-teknik komputasi rekayasa kognitif untuk memodelkan perilaku manusia-teknologi, untuk memperkirakan keadaan operator, dan untuk meningkatkan interpretasi data.

Laboratorium Interaksi Manusia-komputer
Interaksi manusia-komputer atau dalam Bahasa Inggris sering disebut human-computer interaction (HCI) merupakan salah satu bidang yang cukup terkenal dalam ergonomi terutama ergonomi kognitif. Misi laboratorium adalah melakukan penelitian eksplorasi, penelitian eksperimental dan penelitian lapangan yang melibatkan interaksi manusia dengan komputer dan teknologi. Mayoritas proyek laboatorium ini melibatkan pemahaman persuasi, emosi dan kepercayaan dalam sistem sociotechnical yang kompleks. Mungkin cukup serupa dengan laboratorium sistem kognitif, hanya saja laboratorium ini mengkhususkan diri pada interaksi manusia-komputer.

Laboratorium Keselamatan dan Kesehatan Ergonomi Makro
Laboratorium keselamatan dan kesehatan ergonomi makro fokus pada penggunaan teori, prinsip desain dan metodologi rekayasa faktor manusia dan teknik industri, untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan keselamatan karyawan.

Penelitian pada laboratorium ini banyak berkaitan dengan K3 / ergonomi fisik dan berusaha untuk menentukan bagaimana karakteristik desain dari sistem kerja memberi dampak bagi keselamatan dan kesehatan karyawan (misalnya terkait kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, stres dan kepuasan kerja). Laboratorium ini mengumpulkan data yang berhubungan dengan keselamatan dan kesehatan kerja pada struktur dan aliran kerja, budaya organisasi, karakteristik lingkungan, desain teknologi, persepsi penyedia layanan kesehatan kerja, kesalahan-kesalahan medis, dan kualitas perhatian terhadap K3.

Laboratorium Pengambilan Keputusan Naturalistik dan Simulasi
Laboratorium pengambilan keputusan naturalistik dan simulasi mencakup bidang dan area penelitian yang sangat luas, terutama dalam penerbangan dan industri kesehatan. Beberapa studi yang cukup terkenal akhir-akhir ini dalam bidang ini meliputi interupsi dan gangguan selama operasi, simulasi pelatihan penerbangan, simulasi manufaktur dan ergonomi kognitif untuk desain universal. Di Indonesia juga sudah banyak terdapat laboratorium ini seperti laboratorium simulasi dan komputasi, laboratorium pengambilan keputusan dsb yang bersama dengan laboratorium ergonomi masuk dalam institusi teknik industri. Laboratorium-laboratorium jenis ini biasanya masuk kluster riset operasi / operation research namun banyak terkait dengan kluster lain terutama kluster teknik dan sistem produksi dan kluster ergonomi.

Laboratorium Ergonomi dan Biomekanika
Penelitian di laboratorium ergonomi dan biomekanika berfokus pada aspek kesehatan stres fisik di tempat kerja (ergonomi fisik). Tema-tema yang relevan dalam laboratorium ini misalnya pencegahan dan deteksi gangguan muskuloskeletal akibat kerja; mengembangkan pengukuran dan metode analisis untuk menilai paparan stres fisik di tempat kerja; pemahaman aspek ergonomis dari desain, instalasi, pemilihan, dan penggunaan peralatan yang dioperasikan secara manual, dan pengukuran defisit fungsional terkait dengan gangguan muskuloskeletal dan neuropati perifer.

Laboratorium ini biasanya dilengkapi dengan berbagai transduser dan instrumen untuk mengukur biomekanika, kinetika dan kinematika manusia, analisis gerak optik, indeks fisiologis dan biopotentials. Di laboratorium ini biasanya kegiatan kerja disimulasikan untuk lebih memahami bagaimana merancang pekerjaan dan peralatan kerja di mana manuisa memainkan peran signifikan, sehingga kemampuan manusia dapat dimaksimalkan, stres fisik diminimalkan, dan beban kerja juga diminimalkan.

Laboratorium ergonomi seperti inilah yang sepertinya menjadi “cikal bakal” laboratorium ergonomi dan kebanyakan laboratorium ergonomi di Indonesia masih berada di “tahap” laboratorium ini namun sudah menambahkan elemen lain seperti kognitif dsb.

Laboratorium Otomasi Tempat Kerja
Kegiatan di laboratorium otomasi tempat kerja bertujuan untuk menentukan aplikasi yang optimal untuk teknologi di tempat kerja (sistem komputer, workstation, kondisi lingkungan, software) dengan menekankan pertimbangan faktor manusia. Efektivitas berbagai konfigurasi hardware, perbandingan desain workstation, dan kegunaan dari perangkat lunak diteliti di laboratorium ini. Peralatan fotografi dan rekam video digunakan untuk mendokumentasikan perilaku pekerja dalam setting kerja baik simulasi atau real. On-line, real-time sistem komputer digunakan untuk mensimulasikan aktivitas kerja dan mengevaluasi kinerja / performa subjek. Teknik penelitian survei juga digunakan untuk memeriksa dampak otomatisasi tempat kerja terhadap organisasi kerja dan desain kerja. Laboratorium ini biasanya menyediakan jaringan mikrokomputer dengan perangkat lunak khusus untuk mengumpulkan data survei dan analisis statistik.

Laboratorium Rekayasa Sociotechnical
Penelitian yang dilakukan di laboratorium rekayasa sociotechnical berkaitan dengan desain dan perbaikan sistem kerja di berbagai industri berkaitan dengan berbagai faktor manusia dan masalah kualitas. Sebagian besar penelitian di laboratorium ini terdiri dari penelitian lapangan yang dilakukan dengan melibatkan berbagai perusahaan dan organisasi. Contoh penelitian yang dilakukan di laboratorium ini antara lain: (1) studi tentang pelaksanaan Sistem Rekam Medis Elektronik di sebuah klinik kecil, (2) studi tentang faktor-faktor manusia pada komputer dan keamanan informasi, dan (3) studi turnover dan retensi wanita dan kelompok minoritas dalam pekerjaan di bidang teknologi informasi. Laboratorium ini dilengkapi dengan jaringan nirkabel dan mencakup berbagai peralatan komputasi.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Trace
Pusat penelitian dan pengembangan trace menjadi pelopor dalam bidang teknologi dan cacat. Pusat peneltian ini membuat teknologi informasi standar dan sistem telekomunikasi agar lebih mudah diakses dan digunakan oleh penyandang cacat.

Laboratorium Teknik dan Sistem Produksi
Mayoritas ergonomi berada di ranah ergonomi fisik dan ergonomi fisik banyak diterapkan di lantai produksi. Oleh karena itu studi-studi ergonomi atau perancangan sistem kerja yang berkaitan dengan produksi seperti time study, simulasi kerja manufaktur dsb sangat tepat dilakukan di laboratorium ini. Laboratorium ini biasanya berada dalam kluster teknik dan sistem produksi.

Laboratorium Desain Produk
Selain digunakan dalam sistem kerja terutama di industri, prinsip ergonomi juga dipakai dalam perancangan dan pengembangan produk (product design and development). Oleh karena itu perancangan produk yang memperhatikan faktor manusia sangat tepat dilakukan di laboratorium ini. Laboratorium ini biasanya berada dalam kluster teknik manufaktur dan proyek.

Referensi:
Baca selengkapnyaLaboratorium dan Pusat Penelitian Ergonomi

S2 Ergonomi dan S3 Ergonomi

Jenjang lanjutan dari S1 Ergonomi atau pascasarjana yakni S2 atau S3 biasanya tetap berada dalam disiplin Teknik Industri dengan gelar sama dengan master kluster Teknik Industri lainnya seperti riset operasi dsb. Ada juga program pascasarjana yang menawarkan program ergonomi “khusus” di luar Teknik Industri yakni magister ergonomi Universitas Udayana yang masuk dalam Fakultas Kedokteran dengan gelar yang cukup berbeda yakni M. Erg. Kali ini akan dibahas pendidikan pascasarjana ergonomi dan faktor manusia (human factors) di salah satu universitas di Amerika Serikat yakni College of Engineering University of Wisconsin Madison yang masuk dalam jurusan atau department of Industrial & Systems Engineering. Pendidikan ini kurang lebih hampir sama dengan program pascasarjana ergonomi di universitas-universitas lain sehingga bisa menjadi gambaran kasar mengenai S2 ergonomi atau S3 ergonomi.

Pengantar

Saat ini, baik pekerja dan manajemen banyak menaruh perhatian terhadap kualitas kehidupan kerja, performa kerja, keselamatan dan kesehatan kerja dan sejenisnya. Perkembangan-perkembangan baru yang signifikan dan terus-menerus dalam teknologi informasi dan komunikasi dan pekerjaan-pekerjaan khusus terutama yang memerlukan repetisi atau yang sangat berisiko dsb menyebabkan kebutuhan insinyur ergonomi dan faktor manusia meningkat. Dengan memeriksa, merancang, menguji dan mengevaluasi tempat kerja dan bagaimana orang berinteraksi di dalamnya, insinyur ergonomi dan faktor manusia (human factors) dapat membuat sistem kerja yang produktif, aman dan memuaskan.


Pendekatan Multidisiplin untuk Masalah Multifaset

Masalah-masalah di dunia industri yang berkaitan dengan manusia seperti kualitas kerja, produktivitas kerja, performa kerja, keselamatan kerja, kesehatan kerja dsb merupakan masalah yang mulifaset dan harus diselesaikan dengan human centered design yang multidisiplin yakni ergonomi atau human factors engineering. Berbeda dengan S1 Ergonomi (S1 Teknik Industri) yang masih mempelajari ergonomi secara keseluruhan, program pascasarjana ergonomi dan faktor manusia sudah terspesialisasi dan memiliki tiga bidang spesialisasi dengan gelar MSIE dan PhD yang juga masih masuk dalam bidang rekayasa atau teknik industri dan sistem. Bidang-bidang ini meliputi sistem sociotechnical, ergonomi, dan keselamatan dan kesehatan kerja.

Sistem sociotechnical

Masalah-masalah yang berkaitan dengan organisasi seperti pendekatan manajemen, desain pekerjaan, masalah partisipatif, stres psikologis, kepuasan kerja, efektivitas kinerja, kualitas produk /  layanan, dan kualitas kehidupan kerja ditangani oleh para insinyur ergonomi / faktor manusia dengan spesialisasi pada metode sociotechnical dalam desain sistem atau sering disebut ergonomi organisasi. Insinyur ini mempelajari interaksi antara orang-orang dalam lingkup teknis dan organisasi yang kompleks, atau mendesain cara yang tepat untuk memotivasi orang untuk bekerja secara produktif dan aman. Bidang ini membutuhkan pengetahuan beragam teknologi, sistem sosial dan perilaku organisasi serta keterampilan sintesis, desain dan implementasi. Insinyur ergonomi / faktor manusia yang bergerak di sistem sociotechnical dilatih di bidang psikologi, sosiologi, statistik bisnis, dan ilmu teknik untuk mengatasi

Ergonomi

Ergonomi adalah studi tentang prinsip-prinsip kerja. Ergonomi yang dimaksud dalam bidang kedua ini lebih ke ergonomi fisik dan kognitif. Insinyur ergonomi dalam bidang ini memberi perhatian pada hubungan fisik yang kompleks antara orang-orang, mesin, tuntutan pekerjaan dan metode kerja. Penekanan utama adalah pada pencegahan cedera muskuloskeletal di tempat kerja. Cedera ini membuat biaya meningkat signifikan dalam bentuk tagihan medis, kompensasi pekerja, produktivitas berkurang dan waktu yang hilang. Pencegahan cedera biomekanik dilakukan dengan pemahaman dan fisiologi kerja, dan melalui penggunaan model biomekanik, simulasi laboratorium, studi lapangan dan analisis pekerjaan.

Insinyur ergonomi dalam bidang ini juga mempertimbangkan keandalan manusia, kemampuan psikomotor dan karakteristik manusia dalam peralatan, kualitas desain kerja dan penilaian keterampilan. Sebuah aspek penting dari desain peralatan interaksi manusia-komputer.

Insinyur ergonomi / faktor manusia dalam bidang ini juga menaruh perhatian terhadap penyediaan akses terhadap orang dengan gangguan fisik dan mental ke tempat kerja melalui rekayasa teknologi dan rehabilitasi. Insinyur ini sangat peduli dengan kinerja manusia dan sering bekerja di berbagai bidang seperti robotika, sistem penerbangan, operasi penyelamatan dan manufaktur.

Keselamatan dan kesehatan

Insinyur ergonomi dengan spesialisasi bidang keselamatan dan kesehatan kerja (K3) mempelajari penyebab kecelakaan, epidemiologi, pemodelan statistik cedera, analisis catatan kesehatan, pencegahan cedera, dan aspek hukum keselamatan. Insinyur ini juga menaruh perhatian pada faktor-faktor lingkungan seperti kebisingan, getaran, radiasi pencahayaan, dan suhu (ergonomi lingkungan). Insinyur ini bekerja di bidang manufaktur, utilitas, industri pengolahan kimia, industri kesehatan, industri konstruksi, dan pemerintah. Insinyur dalam bidang ini dilatih dalam bidang kesehatan masyarakat, epidemiologi, statistik dan ilmu teknik / rekayasa.

Permintaan insinyur yang bisa menggabungkan komponen manusia dengan prinsip-prinsip teknik / engineering tradisional sangatlah besar dan inilah kesempatan besar bagi insinyur ergonomi dan faktor manusia. Beberapa contoh pekerjaan yang dilakukan oleh para insinyur faktor manusia meliputi:
  • Merancang sistem kerja, proses dan workstation yang mencegah cedera dan gangguan trauma kumulatif.
  • Merancang interface manusia-komputer / mesin yang logis dan user friendly, dan mengurangi kesalahan operator.
  • Mengelola pelaksanaan perubahan teknologi dan / atau organisasi dalam skala besar.
  • Memotivasi orang untuk bekerja dengan aman.
  • Merancang pekerjaan yang memuaskan dan meminimalkan stres fisik dan mental.
  • Merancang sistem manufaktur yang memaksimalkan kualitas dan produktivitas dengan menganalisis keterbatasan manusia.
Contoh judul disertasi ergonomi dan faktor manusia (untuk gelar PhD):
  • A Longitudinal Study of the Process & Content of a Participatory Work Organization Intervention
  • Physical Stress Measurements for Work-Related Musculoskeletal Disorders Using Video-Based Continuous Biomechanical Data Acquisition and Interactive Exposure Analysis
  • A Case-Control Study of Medication Use and Occupational Injury
  • Effect of Work Conditions on VDT Workers' Health & Productivity: A Longitudinal Intervention Field Study in a Service Organization
Sumber: Department of Industrial & Systems Engineering, College of Engineering University of Wisconsin Madison (http://www.engr.wisc.edu/ie/research/hf.html)
Baca selengkapnyaS2 Ergonomi dan S3 Ergonomi

Indonesia Rekomendasikan Standar K3 untuk 38 Negara

Indonesia merekomendasikan peningkatan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di negara-negara Asia dan Eropa untuk meningkatkan perlindungan bagi pekerja dari ancaman kecelakaan kerja.

Hal tersebut diucapkan Menteri Tenaga Kerja dan Trasmigrasi, Muhaimin Iskandar, usai membuka Asia-Europe Meeting (ASEM) Workshop on National Occupational Safety and Health (OSH) Strategic di Yogyakarta, Rabu (12/10).


Pertemuan ASEM-OSH kali ini dihadiri oleh 38 negara Asia dan Eropa. Hadir pula perwakilan dari ILO, Sekretariat ASEAN dan Komisi Eropa. Direncanakan, acara berlangsung 12-13 Oktober 2011.

Dalam acara itu, Muhaimin mengatakan, dalam era globalisasi seperti saat ini, azas penerapan K3 merupakan syarat utama yang berpengaruh besar terhadap nilai investasi. Terlebih, K3 menjadi kunci keberhasilan kualitas dan kuantitas produk, kelangsungan usaha perusahaan, serta daya saing sebuah negara.

"Jadi kesadaran dan kerja sama dari semua pihak untuk mendukung penerapan K3 sebagai salah satu upaya menarik investasi dan meningkatkan pembangunan perekonomian di negara-negara Asia dan Eropa," kata Muhaimin.

Dia juga mengingatkan semua pihak menyadari bahwa penerapan K3 merupakan hak dasar bagi tenaga kerja. Setiap pekerja wajib mendapat perlindungan dari risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang dapat terjadi.

"Dengan adanya perlindungan kerja yang maksimal, dapat dipastikan akan berpengaruh pada ketenangan bekerja, produktivitas, dan peningkatan kesejahteraan tenaga kerja," kata Muhaimin.

Oleh karena itu, Cak Imin menambahkan, pemerintah mempunyai kewajiban memberikan kepastian hukum dan penegakan hukum terhadap pelaksanaan norma-norma ketenagakerjaan, termasuk penerapan K3 di perusahaan-perusahaan.

Baca selengkapnyaIndonesia Rekomendasikan Standar K3 untuk 38 Negara

Angka Kecelakaan Kerja Indonesia Tinggi

Angka kecelakaan kerja di Indonesia tergolong tinggi dibanding sejumlah negara di Asia dan Eropa, seperti yang disampaikan Dirjen Pembinaan Pengawas Ketenagakerjaan Kemenakertrans Muji Handaya di Yogyakarta, Kamis 13 Oktober 2011.

"Pada 2010, kecelakaan kerja di Indonesia tercatat sebanyak 98.000 kasus. 1.200 kasus diantaranya mengakibatkan pekerja meninggal dunia," kata Muji usai menyampaikan hasil Pertemuan Asia-Europe Meeting (ASEM) Workshop on National Occupational Safety and Health (OSH) yang digelar pada tanggal 12-13 Oktober 2011.


Apabila dibanding dengan negara lain seperti Denmark dan Jerman, jumlah kasus kecelakaan kerja di negara tersebut lebih banyak dari Indonesia yakni 100.000 kasus, namun pekerja yang meninggal dunia justru lebih sedikit yakni sebanyak 500 orang.

Muji mengatakan, sebagian besar kecelakaan kerja di Indonesia justru tidak dialami oleh pekerja di tempat kerja, melainkan terjadi di jalan raya saat pekerja tersebut berangkat atau pulang kerja.

"Sekitar 60 persen pekerja justru mengalami kecelakaan kerja akibat kecelakaan lalu lintas, selebihnya diakibatkan penyebab lain seperti di tempat kerja," katanya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, dinyatakan bahwa kecelakaan kerja tidak hanya terjadi di tempat kerja, tetapi juga saat pekerja tersebut berangkat atau pulang kerja.

"Oleh karena itu, target utama kami adalah menekan kasus kecelakaan kerja yang bisa mengakibatkan kematian," katanya.

Sementara itu, dari hasil pertemuan di Yogyakarta yang diikuti 24 negara Asia dan Eropa tersebut, diperoleh empat poin rekomendasi yaitu sepakat untuk membangun dasar yang produktif untuk berbagi informasi mengenai keselamatan dan kesehatan kerja.

Selain itu, juga ada kesepakatan untuk memperkuat kerja sama pelaksanaan K3 secara tripartit di masing-masing negara, juga akan dilakukan kerja sama K3 secara regional dan internasional untuk bidang riset dan peningkatan kapasitas anggota ASEM.

Salah satu poin rekomendasi dari hasil pertemuan di Yogyakarta ini adalah mempromosikan kesadaran bahwa pelaksanaan K3 yang baik akan memberikan perlindungan dan peningkatan kesejahteraan pekerja dan berdampak pada peningkatan produktivitas perusahaan.

Muji juga menyebutkan bahwa pemenuhan K3 oleh perusahaan akan menunjang kegiatan bisnis perusahaan. Misalnya, berdampak pada peningkatan produktivitas pekerja, dan juga menunjang diterimanya suatu produk di pasaran.

Sementara itu, Commisioner of Workplace Safety and Health, Ministry of Manpower Singapore Ho Siong Hin mengatakan, melalui pertemuan tersebut terdapat pemahaman yang lebih baik antar anggota ASEM untuk mengidentifikasi dan meningkatkan kerja sama dalam pelaksanaan K3.

"Tahun depan, pertemuan yang sama akan digelar di Singapura. Kami berharap bisa meneruskan hasil yang telah diperoleh di sini," katanya.
Sedangkan, Head of Unit External Relation European Union Kristin Schreiber mengatakan, pelaksanaan K3 adalah solusi terbaik yang bisa memberikan keuntungan untuk perusahaan dan karyawan.

Sumber:
Baca selengkapnyaAngka Kecelakaan Kerja Indonesia Tinggi

Ergonomi Sepeda Motor

Sepeda motor merupakan kendaraan roda dua yang sangat amat begitu terkenal di negeri kita Indonesia, bahkan juga di negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Vietnam dsb. Karena sudah menjadi bagian dari budaya dan hidup masyarakat Indonesia maka sudah pasti desainnya harus baik dan ergonomis karena benda ini merupakan alat transportasi utama dan transportasi merupakan hal yang sangat riskan terhadap kecelakaan sehingga transportasi merupakan salah satu bidang yang sangat concern terhadap keselamatan, keselamatan yang dimaksud tidak hanya keselamatan di jalan tapi juga keselamatan kerja karena alat transportasi ini banyak digunakan bagi masyarakat untuk berangkat dan pulang kerja. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, dinyatakan bahwa kecelakaan kerja tidak hanya terjadi di tempat kerja, tetapi juga saat pekerja tersebut berangkat atau pulang kerja.

Ergonomi / Riding Possition
 

Saat mengetes kendaraan roda dua, hal pertama yang dirasakan adalah ergonomi. Concern ergonomi dalam desain sepeda motor adalah bagaimana posisi manusia / rider dalam mengendarai sepeda motor tersebut (riding position). Karena itu ergonomi sepeda motor dibangun oleh 3 titik yang dikenal sebagai segitiga ergonomi yakni handlebar, seat, dan bagaimana tumpuan kaki. Karena di Indonesia, sepeda motor juga digunakan sebagai alat transportasi penglaju / komuter maka ada salah satu merek sepeda motor yang menamainya ergonomi komuter.


Desain sepeda motor juga harus memperhatikan apakah akan digunakan untuk transportasi jarak pendek, menengah / komuter / mid-distance, atau untuk jarak jauh. Salah satu dimensi antropometri yang harus diperhatikan adalah agar lutut untuk rider (ukuran orang Indonesia) tidak mentok dek. Selain itu juga harus memperhatikan lebar jok karena biasanya bagian dalam sepeda motor dipapas cekung untuk memperluas bagasi helm dsb.


Salah satu pertanda desain sepeda motor yang tidak ergonomis adalah rider merasa merasa pegal di pinggang setelah menggunakannya. Karena itu para rider hendaknya juga memahami kebutuhannya apakah dalam kesehariannya akan digunakan untuk jarak pendek saja, menengah, atau jarak jauh, jika jarak jauh tentu pilihannya bukan jatuh pada sepeda motor skutik, dijamin pegel pinggangnya.
Baca selengkapnyaErgonomi Sepeda Motor