Ergonomi dan K3 di Indonesia

Salah satu ciri negara yang sukses dengan industrinya dan berhasil dalam persaingan global adalah unggul dalam keselamatan dan kesehatan kerja. Oleh karena itu ergonomi dan K3 merupakan sesuatu yang amat penting dan krusial terutama di lingkungan industri. Bahkan safety atau keselamatan yang menjadi bagian utama dalam ergonomi dan K3 selalu digadang-gadang menjadi hal yang harus diutamakan dan diprioritaskan. Oleh karena itu terdapat istilah “safety first” atau di Indonesia sering dijumpai isitlah “utamakan keselamatan”. Lalu apakah benar masyarakat Indonesia sudah “mengutamakan keselamatan”? Apakah Indonesia sudah sadar dan menprioritaskan ergonomi-K3? Apakah Indonesia benar-benar telah siap untuk bertransformasi dari negara agraris menuju negara industri?


Pemicu kesadaran masyarakat global terhadap permasalahan Ergonomi-K3 bisa dilihat dari berbagai tuntutan terhadap jaminan keselamatan seperti: safe air to breath, safe water to drink, safe food to eat, safe place to live, safe product to use, dan safe & healthful workplace (Rachel Carson – Silent Spring, 1965). Berbagai sikap dan reaksi kritis masyarakat global terhadap di semua aspek kehidupan bisa pula dilihat dari berbagai ”larangan” terkait dengan masih rendahnya kesadaran, perhatian maupun praktek-praktek yang terkait dengan permasalahan K3 diIndonesia seperti hal-hal berikut ini:
  • Larangan terbang bagi maskapai penerbangan Indonesia (Aviation Safety)
  • Larangan terhadap produk berbahaya dari Indonesia dan China (Product Safety dan Food Safety)
  • Dampak kebakaran hutan di Indonesia (Safe Air-Pollution)
  • Keamanan dan keselamatan pada bangunan umum (Public Safety)
  • Travel Warning (Public Safety)
  • Larangan formalin dan bahan pewarna makanan (food safety)
  • Larangan bagi kapal-kapal Indonesia (marine safety-ISM Code)
Berbagai larangan di atas seolah-olah membuktikan bahwa Indonesia memang tidak pernah siap dan mempersiapkan masyarakatnya untuk transformasi menuju ke negara industri / modern. Proses pembangunan nasional menuju masyarakat industri dilakukan dengan mengabaikan unsur risiko; sehingga bahaya dan kecelakaan (diluar faktor bencana alam) yang mestinya bisa dicegah masih terus terjadi, cenderung meningkat dan menimbulkan kerugian semakin besar. Berbagai bencana dan kecelakaan yang terjadi merupakan akibat proses transformasi dari masyarakat agraris ke masyarakat industri, dari low risk society ke high risk society terkait dengan pemanfaatan teknologi (produk maupun proses) yang banyak digunakan maupun dihasilkan oleh industri. Disini potensi bahaya berbanding lurus dengan tingkat risiko yang dihadapi. Semakin besar risiko, maka potensi bahaya dan dampaknya juga semakin besar.

Disisi lain, K3 tampaknya masih belum menjadi budaya kerja dan cenderung berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih rendah. Mengikuti teori Maslow, semakin meningkat tingkat kesejahteraan, maka kebutuhan keselamatan (safety / security needs) juga semakin tinggi. Lebih dari 20% rakyat Indonesia masih hidup di bawah garis kemiskinan; dan oleh karena itu faktor keselamatan / kesehatan masih belum menjadi kesadaran dan kebutuhan yang terlalu mendesak. Keselamatan / kesehatan kerja masih merupakan barang mewah dan mahal bagi sebagian besar masyarakat. Karena itu masyarakat memilih angkutan murah, meriah dan mengabaikan aturan keselamatan; rela berdesak-desakan di atas atap kereta api, berjubel dalam angkutan bus kota, dan lain-lain. Bahkan mungkin saja di Indonesia keadaanya lebih parah karena kesadaran safety yang rendah tidak hanya berlaku untuk kalangan bawah tapi juga kalangan menengah bahkan atas. Tidak usah jauh-jauh, di jalan raya saja sudah banyak terlihat para pengendara motor yang tidak menggunakan helm standar minimum atau pengendara mobil yang tidak memakai sabuk pengaman dsb. Di perusahaan, manajemen sendiri juga sering menempatkan masalah K3 bukan sebagai first priority dan menganggap semua pengeluaran yang terkait dengan program-program K3 hanya sebagai biaya (costs) yang harus ditanggung, pemborosan dan bukan sebagai investasi untuk melindungi asset-asset (mesin, fasilitas dan infrastruktur produksi, dan SDM)-nya.

Kasus kecelakaan di berbagai sektor seperti kecelakaan kerja industri, lalu lintas, angkutan (darat, laut dan udara), konstruksi, pertambangan, kereta api, kebakaran hutan, dan lain-lainnya cenderung tetap tinggi. Kondisi keselamatan kerja di industri juga relatif masih lebih rendah dibandingkan dengan negara industri lainnya (ILO, 2006). Di lingkungan industri pada tahun 2005 tercatat 96.081 kasus kecelakaan kerja dengan korban meninggal sebanyak 2.045 jiwa dan kehilangan hari kerja sebanyak 38 juta hari kerja. Pada tahun 2006 jumlah kecelakaan tercatat 92.743 kasus kecelakaan. Sebagai perbandingan di Jepang sebagai negara industri maju, pada tahun 2000, angka kecelakaan kerja di sektor industri tercatat 1889 kasus sedangkan di Indonesia pada tahun yang sama tercatat 98.902 kasus kecelakaan. Tahun 2000 kerugian nasional akibat kecelakaan mencapai 4% dari GNP, pada tahun 2006 diperkirakan akan meningkat menjadi 5-6%. Untuk mengetahui fakta-fakta ergonomi dan K3 di Indonesia lainnya klik disini.

Sesungguhnya Indonesia telah mengalami degradasi keselamatan yang sudah mendekati titik kulminasi. Bahkan hal ini sudah berkontribusi pada deindustrialisasi dan dampak-dampak lainnya yang sangat merugikan negara. Jika segera tidak dilakukan langkah pengendalian, maka kerugian dan korban bencana akan semakin besar serta dengan dampak yang semakin dahsyat. Kecelakaan kerja juga mempengaruhi daya saing Indonesia di tingkat global. K3 memiliki keterkaitan langsung dan berpengaruh secara signifikan dengan daya saing bangsa. Semakin rendah daya saing, menunjukkan angka kecelakaan semakin tinggi. Dampak terhadap ekonomi Indonesia bisa ditunjukkan dengan terhambatnya ekspor produk barang dan jasa ke negara-negara maju yang menerapkan standar K3 tinggi. Dengan kata lain, produk-produk buatan Indonesia tidak kompetitif di pasar global. Kondisi ini menyebabkan penurunan daya saing industri nasional yang mengakibatkan arus barang maupun jasa ke Indonesia bisa masuk ke Indonesia dengan harga murah, karena penerapan standar K3 yang rendah. Resiko penggunaan produk murah dengan standar K3 rendah akan memunculkan potensi terjadinya kecelakaan dan berbagai penyakit gangguan kesehatan yang mengakibatkan biaya sosial tinggi dan menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat (Wignjosoebroto, 2007).

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kendala menerapkan safety culture di Indonesia klik disini.

Sumber: http://msritomo.blogspot.com/2011/01/ergo-safety-asesmen-untuk-meningkatkan.html
Baca selengkapnyaErgonomi dan K3 di Indonesia

Kerugian yang Timbul dari K3 / Ergonomi yang Buruk

Upaya pencegahan dan pengendalian bahaya kerja yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat dilakukan dengan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) atau ergonomi di tempat kerja. Oleh karena itu, jika suatu sistem tidak menerapkan K3 atau ergonomi atau menerapkannya tapi masih minimal atau menerapkannya tapi kurang tepat / dengan cara yang salah / buruk maka dapat mengakibatkan kecelakan-kecelakaan kerja.

Terjadinya kecelakaan kerja tentu saja menjadikan masalah yang besar bagi kelangsungan suatu usaha atau sistem. Kerugian yang diderita tidak hanya berupa kerugian materi yang cukup besar namun lebih dari itu adalah timbulnya korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya. Kehilangan sumber daya manusia ini merupakan kerugian yang sangat besar karena manusia adalah satu-satunya sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apapun. Namun apakah hanya itu kerugiannya? Tidak. Memang sudah mulai banyak orang yang mulai menyadari dan memahami bahwa akibat kecelakaan kerja itu cukup merugikan seperti adanya korban jiwa, korban luka, biaya pengobatan, dan terjadinya kerusakan properti. Namun pemahaman ini belum cukup mengingat ternyata kerugian yang ditimbulkan akibat adanya kecelakaan kerja lebih dari itu. Lalu apa saja kerugian-kerugian lain yang timbul? Jawabannya ada di gambar iceberg berikut.


Jika ingin mengetahui kecelakaan-kecelakaan apa saja yang terkenal di dunia dan mengakibatkan kerugian yang sangat banyak klik disini. Namun apakah jumlah kerugian yang disebutkan sudah mencakup seluruh elemen yang disebutkan dalam gambar iceberg di atas? Yang jelas jika tidak ingin mengalami kerugian-kerugian tersebut maka K3 dan ergonomi wajib diterapkan apalagi mengingat mencegah kecelakaan kerja hanyalah salah satu manfaat dari ergonomi karena masih ada manfaat lainnya yakni peningkatan produktivitas dan kualitas kerja yang tentunya tidak merugikan bahkan sangat menguntungkan.
Baca selengkapnyaKerugian yang Timbul dari K3 / Ergonomi yang Buruk

Ergonomi dan Fitrah

Menurut suatu versi, fitrah adalah “sebagaimana adanya”. Fitrah manusia adalah “sebagaimana adanya” manusia. Fitrah harimau adalah “sebagaimana adanya” harimau. Fitrah semesta adalah “sebagaimana adanya” semesta. Sementara, “sebagaimana adanya” ini bermakna sebagaimana awalnya atau sebagaimana aslinya (initial conditions as the original) atas sesuatu.

Bagaimanakah “sebagaimana adanya” manusia? Bahwa, “sebagaimana adanya” manusia adalah sebagaimana nuansa kemurnian hakiki pada kala “perjanjian” itu. Perjanjian apa? Perjanjian kita, semua hakikat manusia tanpa kecuali, kepada Tuhannya di Hari Alastu.

Kala itu, Dia menegaskan kepada kita, “Bukankah Aku Tuhanmu?” Maka kita, para hakikat manusia menyahut serempak tanpa bimbang pun ragu se-zarrah pun, “Benar, kami menyaksikan.” (disarikan dari Al-A’raaf 172).

Inilah bai’at alastu yang merupakan sumpah suci semua hakikat manusia langsung kepada Tuhannya, sebelum dihadirkan segelombang demi segelombang memenuhi garis takdir manusia kaffah untuk mewarnai cerita alam fana sampai batas masa masing-masing. Berlaku sama, semenjak Nabiyullah Adam alaihi salam hingga gelombang manusia terakhir kelak.

Nuansa kemurnian hakiki inilah yang dimaksud dengan “sebagaimana adanya” manusia itu. Inilah fitrah manusia, yaitu peleburannya dalam ketauhidan yang didasarkan kepada penyaksiannya atas keesaan Tuhan (makrifatullah). Maka, Maha Sucilah Dia pada semua kuasa dan kehendak-Nya.


Fitrah manusia adalah “sebagaimana adanya” manusia yang meliputi karakteristik ciptaan, yaitu karakteristik bawaan yang melekat dalam diri setiap manusia sejak dilahirkan. Fitrah manusia merupakan sarana atau kesiapan yang ada pada diri manusia, yang menyediakan atau menyiapkannya untuk mengidentifikasi ciptaan-ciptaan Allah termasuk karakteristik ciptaan yang ada pada dalam dirinya (fitrah pada dirinya) dan menjadikannya dalil kesaksian dan pengakuan terhadap Rabb-nya, mengetahui syariatnya, dan mengimani-Nya.

Lalu apa hubungannya dengan ergonomi?

Ergonomi mempunyai moto fit the job to the man yang artinya adalah dalam bekerja, pekerjaan harus disesuaikan dengan manusia yang melakukan kerja itu dan bukan sebaliknya. Ini artinya secara umum perubahan dilakukan pada kerja tersebut dan bukan pada manusia karena manusia sudah diciptakan “sebagaimana adanya” sehingga bila manusia “berusaha diubah-ubah” maka bisa “melampaui batas”. Sedangkan kerja itu harus diubah atau disesuaikan sedemikian rupa sehingga fit, cocok, pas dengan manusia secara nature atau “sebagaimana adanya” atau “sebagaimana keadaanya” tersebut sehingga kerja akan “dimudahkan” dan hasil kerja menjadi unggul. Misalnya saja dalam ergonomi fisik, desain mesin harus disesuaikan dengan ukuran fisik dan postur kerja seseorang harus sesuai dengan postur alamiah atau nature sehingga kerja akan lebih “mudah dan lancar” dan selanjutnya keselamatan dan kesehatan kerja lebih terjamin serta produktivitas dan kualitas kerja juga optimal.
  • “Katakanlah: ‘Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu (’alaa makaanatikum), sesungguhnya aku pun bekerja, maka kelak engkau akan mengetahui!.” (Q.S. Az-Zumar : 39)
  • Imran bin Hushain ra. bertanya kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apa dasarnya kerja orang yang bekerja?”. Rasulullah saw. menjawab: “Setiap orang itu dimudahkan untuk mengerjakan apa yang dia telah diciptakan untuk itu” (Shahih Bukhari, no.2026)
  • Imran bin Hushain ra. menceritakan bahwa ada seorang yang bertanya ke Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apakah telah diketahui siapa-siapa penghuni surga dan siapa-siapa penghuni neraka?”. Jawab Nabi saw. “Ya!”. Tanya, “Jika demikian, apa gunanya amal-amal orang yang beramal?” Rasulullah saw. menjawab: “Masing-masing bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya!” (Shahih Bukhari, no.1777)
  • Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorangpun dari kalian, tidaklah ada jiwa yang diciptakan, kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan sebagai orang celaka atau bahagia.” Lalu seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kita tidak sebaiknya menyerahkan diri pada ketetapan itu”. Beliau menjawab, “Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk beramal sesuai dengan apa yang dia diciptakan untukn
Jika manusia sudah melakukan suatu pekerjaan yang sesuai “sebagaimana adanya” dirinya tersebut dan menyadari bahwa dengan begitu pekerjaannya “dimudahkan” dan hasilnya paling optimal (ergonomi bertumpu pada kerja yang efisien dan efektif yang membuat keselamatan, kesehatan, produktivitas, dan kualitas kerja menjadi optimal) maka manusia akan menyadari juga bahwa segala sesuatu tidak exist dengan sia-sia dan pasti mempunyai tujuan atau fungsi masing-masing yang paling optimal termasuk karakteristik yang ada pada diri manusia itu sendiri dan manusia tersebut akan yakin bahwa ada dzat tunggal yang menghendaki dan mengatur dengan sangat rapi fungsi atau tujuan yang rumit dari dirinya dan hal-hal di sekitar manusia dan dzat tersebut pasti sangat maha tinggi, maha hebat, maha kuasa, dan maha segala-galanya, dzat tersebut adalah Tuhan.

Jadi saya setuju bahwa yang dimaksud “sebagaimana adanya” adalah tidak melampaui atau melanggar batas yakni tidak melanggar “perjanjian”. Perjanjian itu berupa mengakui atau menjadi saksi bahwa tiada Tuhan selain Allah (seperti telah disebutkan pada Al-A’raaf 172 di atas).

Seperti telah disebutkan di atas, fitrah manusia adalah “sebagaimana adanya” manusia yang meliputi karakteristik ciptaan, yaitu karakteristik bawaan yang melekat dalam diri setiap manusia sejak dilahirkan. Dan karakteristik ciptaan tersebut merupakan sarana untuk mengakui dan menjadi saksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah. Yang dimaksud karakteristik ciptaan tersebut bisa jadi adalah ukuran-ukuran yang melekat pada individu-individu manusia.

 “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran / dengan qadr.” (Q. S. Al-Qamar: 49)


Manusia diciptakan dengan ukuran. Artinya setiap manusia memiliki “ukuran” atau parameter atau atribut (kelebihan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, kemampuan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb) yang bervariasi baik fisik maupun non fisik (dalam ergonomi, ukuran manusia dalam kaitannya dengan sistem kerja disebut dengan antropometri). Setiap manusia dilahirkan dengan ukuran yang bervariasi yang artinya fungsinya atau misinya (tugas amal perbuatannya) juga bervariasi antara satu individu manusia dengan individu lainnya dan fungsi atau misi tersebut sesuai dengan “ukuran” yang dimiliki masing-masing manusia tersebut.

Seperti telah disebutkan di atas, fungsi atau misinya atau amalnya (dalam lingkup ergonomi, fungsi ini adalah fungsi dalam bekerja) akan berjalan dengan baik dan lancar (mudah) jika manusia menepati “amanah” yakni menyesuaikan apa yang dikerjakannya dengan “ukuran” atau fitrah didirinya yang merupakan pemberian dan amanah dari Allah seoptimal mungkin. Sebagai gambaran, gunting mempunyai “fitrah” untuk menggunting, palu mempunyai “fitrah” untuk memalu, gergaji mempunyai “fitrah” untuk menggergaji dsb, jika alat-alat tersebut digunakan untuk hal yang lain maka seandainya bisa pun hasinya tidak akan optimal dan malah beresiko merusak alat-alat tersebut. Begitu pula dengan karakter yang ada pada diri manusia pasti mempunyai fungsi atau tujuan tertentu yang optimal.

Dan sekali lagi, apabila manusia telah menyadari jika manusia bekerja atau beramal sesuai dengan “ukuran”nya atau fitrahnya maka dapat “memudahkan” pekerjaannya dan membuat dia sejahtera dan selamat maka hal ini akan menjadi sarana untuk menyadari akan adanya dzat yang maha tinggi dan selanjutnya akan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Jadi walaupun “ukuran” dari setiap manusia bervariasi tapi maksudnya adalah sama yakni untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada ad-diin, fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah ad-diinul qoyyim, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Q.S. Ar-Ruum: 30)


Manusia diberikan “tugas” atau misi yang benar (di jalan yang lurus) sesuai “ukurannya” atau “sebagaimana adanya” (yang fitrah). Inilah manusia yang sesuai fitrahnya (yang suci) yang benar-benar memang melakukan jalan hidup sesuai yang dimilikinya yang “sebenarnya” (fit the job to the man). Namun banyak industri yang masih belum menyadari pentingnya untuk menyesuaikan sistem kerja dengan pekerja-pekerjanya. Di pihak lain, kebanyakan manusia atau pekerja itu sendiri saat ini banyak yang tidak mau memahami apa yang dimilikinya atau apa yang menjadi “ukurannya” dan memilih jalan hidup atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan “ukuran” dirinya dan bukan dirinya yang “sebenarnya” (mungkin karena ikut-ikutan, mengikuti tren/mode, gengsi dsb yang pada intinya merupakan perwujudan dari menuruti hawa nafsu atau menuruti bisikan setan) sehingga manusia itu melampaui batas / keluar jalur (mungkin juga bisa disebut telah keluar dari jalan yang lurus) dan karena dia tidak mau mengenal atau mengakui “ukuran” atau fitrah dirinya maka dia gagal pula dalam mengenal Allah dan akibatnya dia lupa kepada Allah yang telah menganugerahkan “ukuran” tersebut kepada dirinya.

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al Hasyr: 19)


Manusia akan mengenal dirinya sendiri sehingga akan mengenal Allah. Seperti yang dikatakan Rasulullah SAW: Man ‘arofa nafsahu faqod arofa rabbahu (Barangsiapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya).
Baca selengkapnyaErgonomi dan Fitrah

Ergonomi, Ilmu yang Multidisipliner

Ergonomi atau faktor manusia (human factors) merupakan ilmu yang multidisipliner. Hal ini tidaklah aneh karena induk utama dari ilmu ini yakni teknik industri atau manajemen sains adalah ilmu yang juga multidisipliner. Karena multidisipliner, selain dipelajari di teknik industri, ilmu ini juga dipelajari di beberapa bidang atau program studi lain seperti psikologi, K3 (kesehatan masyarakat), kedokteran okupasi dan sebagainya walaupun tetap di teknik industri lah ilmu ini intens dipelajari dan di program studi inilah biasanya terdapat laboratorium khusus ergonomi.

Menurut suatu sumber, terdapat 6 ilmu yang secara garis besar mendominasi dalam ergonomi, yakni:

  • Antropometri (muncul atau dikembangkan dari ilmu anatomi)
  • Biomekanik (muncul atau dikembangkan dari ilmu ortopedi)
  • Fisiologi manusia kerja (muncul atau dikembangkan dari ilmu fisiologi)
  • Higiene Industri / Kesehatan dan keselamatan kerja / K3 (muncul atau dikembangkan dari ilmu kedokteran / medis)
  • Manajemen dan psikologi kerja (muncul atau dikembangkan dari ilmu psikologi)
  • Hubungan kerja / tenaga kerja (muncul atau dikembangkan dari ilmu sosiologi)
Keenam ilmu di atas di aplikasikan dalam hubungan antara manusia dengan mesin atau manusia dengan pekerjaanya yang mayoritas berada di industri. Dan selanjutnya ilmu ini diaplikasikan dalam suatu rekayasa (engineering) dan perancangan (design) sehingga banyak bidang engineering yang mempelajari ilmu ini seperti teknik industri / industrial engineering, bioengineering, system engineering, teknik keselamatan / safety engineering, military engineering, dan perancangan berbantukan computer (computer-aided design) dan di teknik industrilah ergonomi paling banyak dipelajari.
Origins, developments, application of ergonomics. Sumber: Kroemer et al. (2001) p.7

Dari sejarahnya, ergonomi juga sudah terlihat bahwa ilmu ini multidisipliner karena pada awalnya muncul terutama di dua bidang yakni engineering / rekayasa / teknik dan kesehatan. Sejarah ergonomi diwarnai oleh tokoh-tokoh di bidang engineering seperti Taylor dan Gilberth (industrial engineering / teknik industri) dan tokoh-tokoh di bidang kesehatan seperti Bernardino Ramazinni (dokter) dan Wojciech Jastrzebowski (ahli biologi), selengkapnya klik disini.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya ergonomi merupakan gabungan atau integrasi dari 3 bidang utama yakni teknk / rekayasa / engineering, sosial, dan medis. Dalam hal ini bidang teknik industri atau industrial engineering cukup spesial karena walaupun tergolong sebagai bidang teknik atau engineering (bisa dibilang satu “family” dengan tenik mesin atau mechanical engineering) namun juga mencakup bidang sosial dan bahkan medis. Sebagai bidang engineering, teknik industri selain mempunyai keilmuan khusus juga mempelajari beberapa ilmu teknik lainnya terutama teknik mesin dan teknik manufaktur. Sebagai bidang sosial, teknik industri mempelajari manajemen di industri dan kognitif di psikologi (khusus manajemen, teknik industri termahsyur dengan kekhasan manajemen sainsnya yang turut berperan dalam perkembangan ergonomi). Sebagai bidang medis atau kesehatan, teknik industri mempelajari fisiologi manusia kerja. Oleh karena itu teknik industri tergolong multidisipliner.

Ergonomi di bidang sosial terutama psikologi hanya membahas ergonomi yang berbau non fisik atau ergonomi kognitif, sedangkan ergonomi di bidang medis seperti kedokteran okupasi atau K3 / occupational safety and health lebih membahas ergonomi fisik (seperti K3 / safety dsb) termasuk ergonomi lingkungan. Namun teknik industri mempelajari keseluruhan ergonomi secara utuh mulai dari ergonomi fisik, ergonomi kognitif, ergonomi lingkungan, dan bahkan ergonomi organisasi. Jadi bisa dibilang 100% ergonomi yang multidisipliner ini terdapat di teknik industri yang notabene juga multidisipliner.
Baca selengkapnyaErgonomi, Ilmu yang Multidisipliner

Fungsi Ergonomi dalam Kehidupan dan Kerja Manusia

Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam sebuah sistem. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kapasitas manusia (fit the job to the man).

Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi:
  • Teknik atau rekayasa / engineering
  • Fisik
  • Psikis
  • Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian
  • Antropometri
  • Sosiologi
  • Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh dan aktivitas otot
  • Desain, dll
Penerapan ergonomi di tempat kerja dimaksudkan agar pekerja saat bekerja selalu atau sebisa mungkin dalam keadaan selamat, sehat, produktif dan menghasilkan output berkualitas. Ergonomi sangat memperhatikan keselamatan dan kesehatan dari para pekerja dan interaksi antara manusia dengan unsur-unsur kerja misalnya alat atau mesin yang berhubungan dengan apa yang tengah di lakukan atau dikerjakan. Ergonomi juga berperan dalam pengembangan produk / alat-alat kerja sehingga berbagai produk / alat-alat kerja yang canggih dan sangat membantu dapat ditemukan, hal ini pun akan banyak membawa peningkatan kesejahteraan umat manusia.

Dengan ergonomi, sistem-sistem kerja dalam semua lini dirancang sedemikian rupa memperhatikan variasi pekerja dalam hal kapasitas atau kemampuan atau keterbatasan (fisik, psikis, dan sosio-teknis) dengan pendekatan human-centered design (HCD). Dengan ergonomi diperoleh rancangan sistem kerja yang aman dan sehat bagi pekerja serta produktif dan berkualitas bagi perusahaan.

Sasaran dari ergonomi adalah menunjang atau menggalakkan efektifitas penggunaan dari objek-objek fisik atau non fisik dan fasilitas-fasilitas yang digunakan oleh orang dan untuk memelihara atau menunjang nilai-nilai manusia tertentu yang baik dalam proses ini (misalnya: kesehatan, keselamatan, kepuasan).

Tujuan dari ergonomi adalah penerapan sistematis dari informasi yang relevan tentang ciri-ciri atau kapasitas atau perilaku manusia pada rancangan / desain dari sistem kerja yang biasanya terdiri dari alat-alat / mesin-mesin kerja, lingkungan kerja dan unsur-unsur lainnya yang terdapat dalam sistem kerja dan bahkan kehidupan.

Ergonomi sangat mementingkan sisi kenyamanan (atau lebih tepatnya keselamatan dan kesehatan) manusia dalam berinteraksi dengan kerjanya. Fokus ergonomi yaitu memaksimalkan kinerja atau unjuk kerja dan sumber daya manusia dengan memperhatikan kapasitas atau keterbatasan manusia itu sendiri. Artinya ergonomi sangat mementingkan keefektifan dan efisiensi dari kemampuan-kemampuan yang dimiliki manusia namun tetap memikirkan dan berfokus untuk meminimalisir tingkat stress atau resiko psikis lainnya yang mungkin dialami oleh manusia dan resiko fisik atau fisiologis yang mungkin ditimbulkan dari pekerjaannya, yaitu dengan membuat sejumlah rancangan objek-objek fisik dan non fisik yang dapat menciptakan keefektifan dan efisiensi.

Manfaat Ilmu Ergonomi (Wesley E Woodson):
  • Meningkatkan unjuk kerja, seperti menambah kecepatan kerja, ketepatan, keselamatan kerja, mengurangi energi serta kelelahan yang berlebihan
  • Mengurangi waktu, biaya pelatihan dan pendidikan
  • Mengoptimalkan pendayagunaan sumber daya manusia melalui peningkatan ketrampilan yang diperlukan
  • Mengurangi waktu yang terbuang sia-sia dan meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan kesalahan manusia
  • Meningkatkan kenyamanan karyawan dalam bekerja
Sumber: http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/fungsi-ergonomi-dalam-kehidupan-manusia/
Baca selengkapnyaFungsi Ergonomi dalam Kehidupan dan Kerja Manusia

Ergonomi Industri untuk Perbaikan Productivity, Safety, dan Quality pada Kehidupan Kerja

Kompetisi dunia bisnis sekarang ini menuntut perusahaan untuk melakukan dua hal sekaligus.  Pertama, meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan jaminan kualitas dari semua lini operasi perusahaan, dan kedua adalah menekan semua cost yang diakibatkan oleh permasalahan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dan kualitas kehidupan kerja.  Dalam kedua hal tersebut, ergonomi memiliki peran yang sangat penting.

Sayangnya, ergonomi sering disalah-artikan, dianggap mahal dan hanya dikaitkan dengan aspek kenyamanan kerja.  Padahal, dengan ergonomi, sistem kerja di berbagai lini operasi perusahaan (misalnya logistik, produksi, maintenance, pekerjaan kantor, dsb) dirancang sedemikian rupa dengan memperhatikan variasi pekerja dalam hal kemampuan dan keterbatasan (fisik, psikis, dan sosio-teknis). Semua rancangan dilakukan dengan pendekatan human-centered design (HCD), baik pada alat, mesin, tempat kerja, prosedur kerja, sistem informasi dan sistem organisasi.  Dengan inilah diperoleh rancangan sistem operasi perusahaan yang produktif, aman, sehat, dan juga nyaman bagi pekerja, yang tentu akan membawa manfaat bagi perusahaan.

Kenyataan di industri, banyak sekali sistem kerja yang tidak dirancang secara ergonomik. Kondisi berikut menunjukkan beberapa indikasi berikut:
  • Kinerja dan produktivitas yang rendah
  • Kualitas kerja yang rendah
  • Sering terjadi accident atau near-accident
  • Pekerja sering melakukan kesalahan (human error)
  • Pekerja mengeluhkan adanya nyeri atau sakit pada leher, bahu, punggung, atau pinggang
  • Pekerja terlalu cepat lelah dan butuh istirahat yang panjang
  • Alat kerja atau mesin yang tidak sesuai dengan fisik pekerja
  • Posisi atau postur kerja yang sering membungkuk dan menjangkau
  • Lingkungan kerja yang tidak teratur, bising, pengap, atau redup
  • Pekerja mengeluhkan beban kerja (fisik dan mental) yang berlebihan
  • Komitmen kerja yang rendah
  • Rendahnya partisipasi pekerja dalam sistem sumbang saran
Jika indikasi tersebut ditemui di perusahaan Anda, maka perusahaan Anda membutuhkan intervensi-intervensi ergonomi (selengkapnya klik disini).

Sumber: Workshop Industrial Ergonomics for Improving Productivity, Safety, and Quality of Working Life, Bandung, Agustus 2011
Baca selengkapnyaErgonomi Industri untuk Perbaikan Productivity, Safety, dan Quality pada Kehidupan Kerja

Ergonomi Menghargai Kehidupan

Ergonomi merupakan ilmu yang mulia karena sangat menghargai kehidupan. Kehidupan ditandai dengan adanya keperluan terhadap hal-hal tertentu baik fisik dan non fisik. Hal tersebut membuat manusia menjadi suatu entitas yang mempunyai kapasitas dan kapasitas tiap manusia itu bervariasi. Dalam kehidupannya, manusia harus menyesuaikan segala hal yang berhubungan dengannya agar sesuai dengan kapasitas manusia tersebut, tidak berkekurangan dan juga tidak berlebihan atau melampaui batas. Tujuannya adalah agar kehidupannya berjalan serasi, selaras dan seimbang sehingga hidup menjadi sejahtera dan selanjutnya kehidupan bisa berjalan dengan lancar serta sesuai dengan semestinya dan inilah yang disebut dengan kehidupan yang “baik”. Hal tersebut juga berlaku saat manusia bekerja. Peran ergonomi disini adalah menjamin agar pekerjaan sesuai dengan kapasitas manusia yang melakukan kerja tersebut (fit the job to the man) agar keselamatan manusia itu terwujud (serasi, selaras dan seimbang) sehingga kesehatan terjamin (sejahtera) dan selanjutnya bisa membuat perforrma dan produktivitas kerja meningkat (berjalan lancar) serta kualitas kerja meningkat atau terjamin (sesuai dengan semestinya). Dan inilah yang disebut dengan kerja yang baik.

Kerja merupakan salah satu porsi besar manusia dalam hidup. Karena ergonomi menjamin kerja yang baik maka ergonomi juga membantu mewujudkan kehidupan yang baik yakni kehidupan yang aman (safe), sehat (healthy), produktif (productive), dan berkualitas (quality).
Baca selengkapnyaErgonomi Menghargai Kehidupan

Ergonomi dan Islam (3)

Sebelumnya pernah dibahas hubungan ergonomi dan Islam (selengkapnya klik disini dan disini).

Dari postingan-postingan sebelumnya dapat diambiil ringkasan bahwa beberapa ayat Al-Quran dan Al-Hadits yang diberikan pada postingan-postingan tersebut mempunyai beberapa makna inti yakni:
  1. Perintah untuk “bekerjalah sesuai dengan keadaannya” atau “berbuat menurut keadaannya” atau “berbuatlah sepenuh kemampuanmu” atau “berbuatlah menurut kemampuanmu” (berkaitan dengan fit the job to the man).
  2. Perintah untuk bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan (berkaitan dengan fit the job to the mani).
  3. Pernyataan bahwa manusia diciptakan menurut ukuran / dengan qadr (berkaitan dengan antropometri).
Kali ini akan diberikan dua ayat yang menurut saya masih bias dikaitkan dengan ergonomi. Sekali lagi ini masih baru opini saya karena saya bukanlah ahli tafsir dan ulama serta saya belum menemukan pernyataan narasumber lain yang sama persis. Dan sekali lagi inti dari pembahasan ini bukan pembahasan yang benar-benar baru namun sudah cukup banyak disinggung oleh referensi-referensi lainnya hanya saja belum menyebutkan ergonomi, jadi kali ini akan mencoba untuk mengaitkannya dengan ergonomi.

1. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ….” (Q.S. Al-Baqarah : 286)
Setiap manusia diberi suatu misi hidup (salah satunya dalam bekerja) dan Allah tidak membebankan suatu misi yang diluar kesanggupan manusia atau diluar batas ukuran / atribut manusia (kelebihan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, kemampuan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb). Contoh kasarnya (hanya sebatas contoh sederhana karena pada kehidupan nyata sangat amat lebih kompleks atau rumit) seorang yang cerdas, kemampuan logika sangat bagus, ahli matematika namun kurang pandai dalam berkomunikasi maka sebaiknya dia memilih profesi atau pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya seperti programmer, ilmuwan matematika dsb (fit the job to the man) karena disitulah dia diberi amanah berupa kelebihan yang dia miliki dan amanah itu harus dijalankan sesuai misi kehidupannya dan dalam melakukannya dia akan dimudahkan dan hasilnya sangat optimal. Namun jika dia memilih jalan atau pekerjaan yang diluar kemampuannya misalnya marketing atau sales (membutuhkan kemampuan komunikasi tinggi) maka dia tidak akan optimal disitu malah bisa-bisa akan timbul masalah-masalah dalam dirinya atau lingkungannya. Hal seperti ini lah yang mulai banyak dianut orang. Mereka memilih jalan atau pekerjaan bukan karena dirinya atau karena alasan yang objektif melainkan karena hal lain misalnya ikut-ikutan, tren, gengsi dsb yang pada intinya sebatas mengikuti hawa nafsu. Kalau sudah seperti ini si manusianya sendiri yang membebankan sesuatu pada dirinya yang diluar kemampuannya atau diluar kesanggupannya.

Ergonomi menjamin agar suatu tugas atau pekerjaan disesuaikan dengan manusia yang melakukan kerja tersebut atau dengan kata lain disesuaikan dengan kesanggupan manusia yang bekerja tersebut. Kesanggupan tersebut maksudnya adalah ukuran atau atribut dari manusia tersebut (kelebihan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, kemampuan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb) baik fisik maupun non fisik. Pekerjaan itu harus sesuai dengan kesanggupan manusia, jadi tidak kurang dari kesanggupannya dan tidak pula lebih dari kesanggupannya. Mengapa harus sesuai kesanggupan? Karena akan dimudahkan dan hasilnya optimal, selengkapnya terdapat di ayat selanjutnya.

2. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)
Manusia yang bersyukur adalah orang yang mengenal, memahami, menyadari akan ukuran dan atribut dirinya dan mengakui bahwa segala atribut yang dimilikinya merupakan pemberian dan anugerah dari Allah. Tidak hanya sebatas mengenal, mengakui, memahami, dan menyadari, manusia yang bersyukur juga akan terus merawat atau menjaga segala atribut itu dan memanfaatkan (meng-utilize) segala atribut yang ada pada dirinya seoptimal mungkin karena semua pemberian Allah pasti ada fungsinya dan maknanya. Untuk mengoptimalkan segala atribut yang dimilikinya maka manusia harus mencari suatu jalan hidup / profesi / pekerjaan yang sesuai dengan ukurannya / atribut-atributnya / kesanggupannya (fit the job to the man) agar atributnya termanfaatkan seoptimal mungkin dan kerja akan semakin “dimudahkan” dan akan mendapatkan nikmat berupa hasil seperti keselamatan, kesehatan, dan produktivitas yang lebih baik (nikmatnya bertambah).

Namun jika manusia tidak bersyukur terhadap apa yang diberikan Allah dan salah satunya adalah pemberian berupa ukuran dan atribut manusia misalnya dengan tidak mengakui segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya (atau bahkan sampai membenci dirinya) sehingga dia ingin menjadi orang lain sehingga dia melakukan jalan hidup yang tidak sesuai dengan kesanggupannya maka justru dia akan mendapat kerugian-kerugian. Hal ini banyak ditemui, contohnya adalah kasus pada ayat sebelumnya, contoh lainnya lagi misalnya seseorang yang sampai rela mengorbankan potensi dan hobi akademiknya hanya karena ingin menjadi seorang yang dipuja (artis misalnya) padahal seninya pas-pasan, sementara ada orang yang kemampuan nalarnya pas-pasan tapi memaksakan diri menjadi ilmuwan, engineer, dokter karena gengsi (bahkan, maaf, sampai menyuap agar bisa memperoleh gelar tersebut) dan masih banyak contoh lainnya dari hal yang sederhana sampai yang sangat kompleks yang pada intinya hanya mengikuti hawa nafsu belaka misalnya karena ikut-ikutan, tren, gengsi dsb. Bahkan orang cacat sekalipun bukan berarti kesanggupannya di bawah orang normal, bisa saja ada hal-hal yang justru lebih baik atau bahkan hanya bisa dilakukan orang cacat.

Manajemen sains melalui ergonomi telah banyak membuktikan bahwa jika suatu tugas atau pekerjaan disesuaikan dengan orang yang bekerja maka hasilnya lebih baik. Hasil itu bisa berupa keselamatan yang lebih baik, kesehatan yang lebih baik, atau produktivitas / performa yang lebih baik. Inilah nikmat.

Hal yang senada juga diungkapkan pada ayat-ayat lain seperti pada ayat berikut:
“Kemudian Dia menyepurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran , penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S. As-Sajdah : 9)

Mohon maaf dan mohon diingatkan jika terdapat kesalahan atau kekeliruan.
Baca selengkapnyaErgonomi dan Islam (3)

Ergonomi dan Islam (2)

Sebelumnya pernah dibahas hubungan ergonomi dan Islam (selengkapnya klik disini).

Dari postingan sebelumnya dapat diambiil ringkasan bahwa beberapa ayat Al-Quran dan Al-Hadits yang diberikan pada postingan tersebut mempunyai beberapa makna inti yakni:
  1. Perintah untuk “bekerjalah sesuai dengan keadaannya” atau “berbuat menurut keadaannya” atau “berbuatlah sepenuh kemampuanmu” atau “berbuatlah menurut kemampuanmu”.
    Menurut saya ini merupakan sebuah perintah untuk bekerja sesuai keadaan atau kemampuan. Keadaan atau kemampuan apa? Keadaan atau kondisi atau kemampuan si manusia yang bekerja tersebut. Apa itu keadaan atau kondisi atau kemampuan manusia? Jawabannya adalah semua atribut yang melekat pada manusia. Atribut itu bisa diartikan sebagai / bisa berupa keadaan, kemampuan, kelebihan, kebolehan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb. Atribut itu bisa berupa fisik (seperti antropometri fisik, fisiologi tubuh dsb) atau non fisik (antroprometri non fisik / psikometri, psikologi, kecerdasan dsb). Ini artinya pekerjaan yang dilakukan harus sesuai (fit) dengan keadaan atau atribut manusia tersebut. Hal inilah yang menjadi prinsip dasar ergonomi yakni fit the job to the man yang artinya menyesuaikan kerja dengan manusia yang bekerja itu.
  2. Perintah untuk bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan.
    Menurut saya ini merupakan sebuah perintah untuk menempuh jalan (salah satunya dalam bekerja) yang dimudahkan. Apa maksud “yang dimudahkan”? Maksudnya adalah melakukan suatu kerja (karena konteks ergonomi adalah kerja) yang dimudahkan untuk si pekerja yakni kerja dengan energi minimal. Energi minimal tidak mengisyaratkan seseorang harus mengerjakan sesuatu tanpa kerja keras. Orang malah bisa kerja keras siang malam, namun tidak merasa sedang bekerja susah payah. Setiap orang memiliki energi minimal, sehingga ada yang mudah mendalami filsafat, ekonomi, atau bahasa, dan lain sebagainya yang biasanya menjadi “kelebihan” dirinya. Seseorang bisa saja bekerja keras menggeluti suatu hal, tetapi lebih kepada hasrat dan ambisi untuk meraih suatu hal atau hobi atau kecintaan bidang tertentu (walaupun pada umumnya sesuai dengan “kelebihan” yang dia miliki juga) sehingga dia tidak merasa kerja dan menggunakan energi minimal. Jadi melakukan sesuatu dengan penggunaan energi yang minimal adalah melakukan sesuatu yang “dimudahkan” untuknya. Yang “dimudahkan” untuk manusia adalah yang paling sesuai (fit) dengan manusia tersebut. Tidak hanya sesuai (fit) dalam hal fisik tapi juga non fisik. Disinilah peran ergonomi, fit the job to the man artinya menyesuaikan kerja dengan manusia yang bekerja. Apa manfaatnya? Agar mendapat output kerja yang optimal karena bila manusia diberi tugas kerja yang sesuai (fit) dengannya maka dia akan “dimudahkan” dalam bekerja dan hasil kerja menjadi optimal. Selain itu karena energi yang digunakan minimal maka input kerjanya tidak perlu banyak. Jadi kesimpulannya dengan aplikasi “fit the job to the man” bisa menghasilkan output kerja yang optimal dan penggunaan input kerja yang minimal atau dengan kata lain ergonomi dapat meningkatkan produktivitas (produktivitas paling optimal adalah ketika output optimal dan input minimal).
Kali ini akan diberikan satu ayat yang menurut saya berhubungan dengan ergonomi. Sekali lagi ini masih baru opini saya karena saya bukanlah ahli tafsir dan ulama serta saya belum menemukan pernyataan narasumber lain yang sama persis. Dan sekali lagi inti dari pembahasan ini bukan pembahasan yang benar-benar baru namun sudah cukup banyak disinggung oleh referensi-referensi lainnya hanya saja belum menyebutkan ergonomi, jadi kali ini akan mencoba untuk mengaitkannya dengan ergonomi.

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran / dengan qadr.” (Q.S. Al-Qamar : 49)

Dari ayat di atas dapat dilihat bahwa segala sesuatu termasuk manusia diciptakan dengan ukuran. Artinya setiap manusia memiliki “ukuran” atau atribut (kelebihan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, kemampuan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb) yang bervariasi. Dalam ergonomi, ukuran manusia ini disebut sebagai antropometri

Karena setiap manusia berbeda-beda dan bervariasi maka dalam bekerja pun harus memperhatikan faktor “ukuran” atau atribut manusia yang bervariasi ini. Faktor ini dalam ergonomi disebut faktor manusia (human factors). Jadi secara kasar bisa disebut bahwa faktor manusia itu adalah “segala” yang ada pada manusia atau tidak lain adalan “ukuran” manusia tersebut atau antropometri. “Ukuran” atau atribut atau faktor manusia atau antropometri ini bisa fisik atau non fisik (walaupun untuk istilah “antropometri” pada umumnya lebih diartikan ke “ukuran” fisik namun bisa lebih luas dari itu, selengkapnya klik disini). Agar setiap yang dilakukan manusia bisa optimal termasuk dalam bekerja, maka kerja tersebut harus disesuaikan dengan “ukuran” atau atribut atau faktor manusia yang bekerja (fit the job to the man). Mohon maaf dan mohon diingatkan jika terdapat kesalahan atau kekeliruan.
Baca selengkapnyaErgonomi dan Islam (2)

Sejarah Ergonomi

Sebelumnya sudah pernah dibahas sejarah ergonomi, selengkapnya klik disini. Saat ini kembali dibahas sejarah mengenai ergonomi di internasional dan di Indonesia.

Sejarah Ergonomi di Internasional


Ergonomi dipopulerkan pertama kali pada tahun 1949 sebagai judul buku yang dikarang oleh Prof. Murrel. Sedangkan kata ergonomi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu ergon (kerja) dan nomos (aturan/prinsip/kaidah). Istilah ergonomi digunakan secara luas di Eropa. Di Amerika Serikat dikenal istilah human factor atau human engineering. Kedua istilah tersebut (ergonomic dan human factor) hanya berbeda pada penekanannya. Intinya kedua kata tersebut sama-sama menekankan pada performansi dan perilaku manusia. Menurut Hawkins (1987), untuk mencapai tujuan praktisnya, keduanya dapat digunakan sebagai referensi untuk teknologi yang sama.

Ergonomi telah menjadi bagian dari perkembangan budaya manusia sejak 4000 tahun yang lalu (Dan Mac Leod, 1995). Perkembangan ilmu ergonomi dimulai saat manusia merancang benda-benda sederhana, seperti batu untuk membantu tangan dalam melakukan pekerjaannya, sampai dilakukannya perbaikan atau perubahan pada alat bantu tersebut untuk memudahkan penggunanya. Pada awalnya perkembangan tersebut masih tidak teratur dan tidak terarah, bahkan kadang-kadang terjadi secara kebetulan.

Perkembangan ergonomi modern dimulai kurang lebih seratus tahun yang lalu pada saat Taylor (1880-an) dan Gilberth (1890-an) secara terpisah melakukan studi tentang waktu dan gerakan. Penggunaan ergonomi secara nyata dimulai pada Perang Dunia I untuk mengoptimasikan interaksi antara produk dengan manusia.

Sejarah Ergonomi di Indonesia

Sejarah ergonomi di Indonesia erat kaitannya dengan Bali. Kata Ergonomi di tingkat nasional mulai diperkenalkan sejak tahun 1969 melalui suatu pertemuan ilmiah dengan tema ”Kesehatan dan Produktivitas” dalam suatu judul makalah ”Approach Ergonomi dalam rangka Meningkatkan Produktivitas Tenaga Kerja Perusahaan” (Manuaba, 1987). Pada tahun ini juga untuk pertama kalinya di dalam dunia pendidikan ergonomi diberikan sebagai suatu mata kuliah. Di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana ergonomi disinggung dalam kaitan dengan mata kuliah ilmu faal, untuk kemudian ditempatkan dalam mata kuliah kesehatan masyarakat, yang diikuti oleh Fakultas Teknik Unud 1971, Peternakan 1972, Asmi 1981 dan desain Interior 1983. Bersamaan dengan itu, lahir Lembaga daerah Hiperkes Bali-Nusra bersama-sama Bagian Ilmu faal FK Unud berkembang menjadi Pusat Ergonomi di kawasan Asia Tenggara, dengan makalah-makalahnya yang disampaikan ke dunia Internasional. Dan juga kursus ergonomi tingkat nasional dan tingkat daerah dimulai pada tahun ini juga.

Pada tahun 1970, kegiatan yang berkaitan dengan masalah ergonomi semakin meningkat ditandai dengan adanya ceramah, kursus, seminar dan penelitian-penelitian. Penelitian tentang Pacul di perdengarkan di forum internasional di Jepang, penelitian yang berkaitan dengan manusia dan lingkungan. Berikutnya penggarapan di sektor industri kecil mulai digalakan, seperti industri pembuat genteng di pejaten Tabanan Bali. Pada Tahun 1973 makalah penelitian disampaikan melalui forum ilmiah seperti seminar gabungan IAIFI-Puskes ABRI, konperensi Nasional Anatomi ke-3, dan 7th Asian Conference on Occupational Helth di Jakarta (Manubaba, 1987). Sampai dengan tahun 1978, hasil-hasil penelitian ergonomi terus diinformasikan di tingkat nasional maupun internasional, seperti pertemuan-pertemuan ilmiah Man and His Environment tahun 1974, Kongres Ikatan Hiperkes Indonesia ke-2 di Surabaya tahun 1975, kongres ke-3 IAIFI di semarang tahun 1976, Simposium Efisiensi Jam Kerja dan Waktu Kerja di Bali tahun 1976, dan juga banyak pertemuan lainnya. Penyebaran konsep dan prinsip ergonomi dimulai pada tahun ini juga, sehingga sampai dengan tahun 1986 pada TVRI Sto. Denpasar tidak kuarang dari 100 topik ergonomi telah disiarkan. Pada tahun 1978 terbit buku ”Pembangunan Bali sampai tahun 2000” di mana di dalam buku tersebut dengan jelas disebutkan ergonomi sebgai salah satu faktor yang sangat penting untuk diperhatikan demi berhasilnya pembangunan untuk daerah Bali. Pada tahun ini juga telah dikukuhkan Guru Besar Ilmu Faal KF Unud yaitu I B A Manuaba, yang pada pidato pengukuhan Guru Besar menekankan penting prinsip ergonomi sebagai bagian integral dari pembangunan dan mutlak diperlukan dalam perencanaan. Dengan pengukuhan I B A Manuaba ini, menjadi tokoh dan akan penguatan perkembangan ergonomi di Bali, Indonesia, Asia dan Dunia.

Saat ini ergonomi sudah dikenal di banyak bidang pendidikan di Indonesia terutama di teknik industri, kesehatan masyarakat, psikologi, dan kedokteran. Banyak sekali universitas atau sekolah yang menyelenggarakan program studi tersebut melaksanakan kegiatan pendidikan di bidang ergonomi (untuk selengkapnya klik disini). Bahkan saat ini ergonomi telah banyak terdengar (bahkan mungkin lebih banyak terdengar) dari kalangan teknik atau engineering terutama teknik industri dimana ergonomi atau human factors engineering menjadi salah satu jalur keahlian di teknik industri dan di program studi ini biasa dijumpai laboratorium ergonomi. Hal ini wajar mengingat Taylor (1880-an) dan Gilberth (1890-an) yang sangat berjasa bagi sejarah perkembangan ergonomi modern merupakan pionir teknik industri. Alhasil ergonomi di Indonesia saat ini banyak sekali “bermunculan” dari universitas atau institusi atau sekolah yang unggul di bidang teknik seperti ITB, ITS, UGM, UI dsb. Walaupun universitas atau institusi atau sekolah tersebut sudah unggul di bidang ergonomi namun sampai saat ini Bali masih tetap “unik” dalam hal ergonomi salah satunya adalah di Bali terdapat satu-satunya program studi yang menggunakan nama ergonomi yakni pendidikan master ergonomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Ergonomi tidak bisa lepas dari dua hal yakni engineering (rekayasa / teknik) dan kesehatan. Oleh karena itu dalam sejarah ergonomi juga diwarnai oleh tokoh-tokoh baik di bidang engineering seperti Taylor dan Gilberth (industrial engineering / teknik industri) dan tokoh-tokoh di bidang kesehatan seperti Bernardino Ramazinni (dokter) dan Wojciech Jastrzebowski (ahli biologi). Seperti yang telh disebutkan di atas, sampai saat ini pun ergonomi banyak dipelajari oleh kedua bidang tersebut yakni engineering (terutama industrial engineering dan safety engineering) dan kesehatan (kesehatan masyarakat dan kedokteran). Apakah cakupan ergonomi di kedua bidang tersebut sama atau berbeda? Jawabannya klik disini.
Baca selengkapnyaSejarah Ergonomi

Fungsi Ergonomi dalam Kehidupan dan Kerja Manusia

Ergonomi adalah ilmu yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Sasaran ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam sebuah sistem. Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kapasitas manusia (fit the job to the man).

Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi:
  • Teknik atau rekayasa / engineering
  • Fisik
  • Psikis
  • Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian
  • Antropometri
  • Sosiologi
  • Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh dan aktivitas otot
  • Desain, dll
Penerapan ergonomi di tempat kerja dimaksudkan agar pekerja saat bekerja selalu atau sebisa mungkin dalam keadaan selamat, sehat, produktif dan menghasilkan output berkualitas. Ergonomi sangat memperhatikan keselamatan dan kesehatan dari para pekerja dan interaksi antara manusia dengan unsur-unsur kerja misalnya alat atau mesin yang berhubungan dengan apa yang tengah di lakukan atau dikerjakan. Ergonomi juga berperan dalam pengembangan produk / alat-alat kerja sehingga berbagai produk / alat-alat kerja yang canggih dan sangat membantu dapat ditemukan, hal ini pun akan banyak membawa peningkatan kesejahteraan umat manusia.

Dengan ergonomi, sistem-sistem kerja dalam semua lini dirancang sedemikian rupa memperhatikan variasi pekerja dalam hal kapasitas atau kemampuan atau keterbatasan (fisik, psikis, dan sosio-teknis) dengan pendekatan human-centered design (HCD). Dengan ergonomi diperoleh rancangan sistem kerja yang aman dan sehat bagi pekerja serta produktif dan berkualitas bagi perusahaan.

Sasaran dari ergonomi adalah menunjang atau menggalakkan efektifitas penggunaan dari objek-objek fisik atau non fisik dan fasilitas-fasilitas yang digunakan oleh orang dan untuk memelihara atau menunjang nilai-nilai manusia tertentu yang baik dalam proses ini (misalnya: kesehatan, keselamatan, kepuasan).

Tujuan dari ergonomi adalah penerapan sistematis dari informasi yang relevan tentang ciri-ciri atau kapasitas atau perilaku manusia pada rancangan / desain dari sistem kerja yang biasanya terdiri dari alat-alat / mesin-mesin kerja, lingkungan kerja dan unsur-unsur lainnya yang terdapat dalam sistem kerja dan bahkan kehidupan.

Ergonomi sangat mementingkan sisi kenyamanan (atau lebih tepatnya keselamatan dan kesehatan) manusia dalam berinteraksi dengan kerjanya. Fokus ergonomi yaitu memaksimalkan kinerja atau unjuk kerja dan sumber daya manusia dengan memperhatikan kapasitas atau keterbatasan manusia itu sendiri. Artinya ergonomi sangat mementingkan keefektifan dan efisiensi dari kemampuan-kemampuan yang dimiliki manusia namun tetap memikirkan dan berfokus untuk meminimalisir tingkat stress atau resiko psikis lainnya yang mungkin dialami oleh manusia dan resiko fisik atau fisiologis yang mungkin ditimbulkan dari pekerjaannya, yaitu dengan membuat sejumlah rancangan objek-objek fisik dan non fisik yang dapat menciptakan keefektifan dan efisiensi.

Manfaat Ilmu Ergonomi (Wesley E Woodson):
  • Meningkatkan unjuk kerja, seperti menambah kecepatan kerja, ketepatan, keselamatan kerja, mengurangi energi serta kelelahan yang berlebihan
  • Mengurangi waktu, biaya pelatihan dan pendidikan
  • Mengoptimalkan pendayagunaan sumber daya manusia melalui peningkatan ketrampilan yang diperlukan
  • Mengurangi waktu yang terbuang sia-sia dan meminimalkan kerusakan peralatan yang disebabkan kesalahan manusia
  • Meningkatkan kenyamanan karyawan dalam bekerja
Sumber: http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/fungsi-ergonomi-dalam-kehidupan-manusia/
Baca selengkapnyaFungsi Ergonomi dalam Kehidupan dan Kerja Manusia

Keselamatan Kerja, Kedokteran Kerja, dan Higiene Industri

Ergonomi merupakan ilmu yang cakupannya luas dan multidisipliner. Karena luasnya maka ilmu ini dipelajari oleh berbagai disiplin ilmu mulai dari teknik industri (ergonomi secara keseluruhan: fisik, kognitif, lingkungan, dan organisasi), psikologi (ergonomi kognitif), dan kesehatan masyarakat atau kedokteran (ergonomi fisik dan lingkungan). Ergonomi bisa dikuasai baik oleh berbagai background pendidikan atau profesi seperti insinyur, higienis industri maupun kedokteran kerja. Perbedaannya hanyalah titik berangkatnya. Jika insinyur berangkat dari keselamatan / kecelakaan dan produktivitas, higienis industri berangkat dari ancaman bahaya terhadap manusia, sedangkan kedokteran kerja biasanya berangkat dari terjadinya gangguan kesehatan pada manusia. Tujuan umum dari ergonomi di berbagai macam profesi tersebut adalah sama yakni mencapai kesehatan kerja.

Kesehatan Kerja

Kesehatan kerja mempelajari keterkaitan antara kesehatan dan pekerjan. Kesehatan yang kurang baik akan dapat mengganggu produktivitas pekerjaan, dan pekerjaan dapat pula menimbulkan terganggunya kesehatan. Karena peliknya permasalahan bidang ini tidak dapat ditangani oleh satu pihak saja, misalnya oleh dokter saja atau oleh insinyur saja. Bidang ini harus ditangani oleh berbagai disiplin ilmu, seperti: higiene industri, kedokteran kerja, ergonomi, sosial, hukum, psikologi dan lain-lain. Paling sedikit ada tiga bidang ilmu besar yang mencakup kesehatan kerja secara keseluruhan, yaitu: keselamatan kerja (safety), higiene industri dan kedokteran kerja.

Keselamatan Kerja

Disiplin keselamatan kerja lebih banyak ditujukan kepada masalah terjadinya kecelakaan dan kehilangan harta benda. Karena itu bidang garapannya meliputi ancaman bahaya kebakaran, kecelakaan, tumpahan, nyaris celaka dan lingkungan. Keselamatan kerja banyak dikuasai oleh insinyur baik insinyur keselamatan, insinyur teknik industri (bidang teknik yang sangat concern dengan ergonomi industri kaitannya dengan keselamatan kerja secara keseluruhan), insinyur teknik elektro (keselamatan listrik), insinyur teknik kimia (keselamatan kimia), dll.

Jadi secara umum dapat disimpulkan bahwa bidang keselamatan kerja mempunyai tujuan untuk mencegah atau mengurangi resiko terjadinya gangguan kesehatan melalui perancangan sistem kerja (contoh: desain alat, mesin, alat pelindung diri, manajemen resiko dll bahkan sampai tingkat sosial seperti desain organisasi kerja, waktu kerja, dll) yang baik. Intinya keselamatan kerja ’mencegah’ munculnya gangguan kesehatan kerja.

Kedokteran Kerja

Kedokteran kerja atau kedokteran okupasi biasanya bekerja menangani diagnosis penyakit akibat kerja dan terapi penyakit akibat kerja serta cacat yang dikibatkannya. Bidang kedokteran kerja sering disebut sebagai hospital based, sebab pada umumnya penyakit akibat kerja akan berbentuk sama dengan penyakit lainnya yang ada di rumah sakit. Health surveillance biasa dikerjakan baik oleh dokter okupasi maupun sarjana kesehatan masyarakat.

Jadi berbeda dengan keselamatan kerja, kedokteran kerja lebih mengarah ke pengawasan dan suatu tindakan jika gangguan kesehatan telah terjadi dan usahanya untuk mengembalikan kondisi kesehatan kerja kembali sedia kala. Intinya kedokteran kerja ’mengobati’ gangguan kesehatan kerja.

Higiene Industri

Higiene industri adalah suatu ilmu dalam mengenal berbagai bahaya dalam pekerjaan (fisika, kimia, biologi, ergonomi, dan psikososial), melakukan pengukuran tingkat bahaya itu, melakukan evaluasi dengan menetapkan skala prioritas dan melakukan pengendalian berbagai bahaya tadi. Higiene industri dapat dikatakan sebagai juru bicara antara profesi keselamatan (insinyur) dan kedokteran. Bahasa higiene industri mencakup kedua disiplin itu. Masalah rekayasa (engineering) yang sukar dikuasai oleh para dokter dapat dikomunikasikan dengan higienis industri yang banyak barasal dari insinyur. Intervensi teknis akan mudah dikomunikasikan dan dilakukan oleh higienis industri. Risk assessment juga umumnya dikerjakan oleh para higienis industri.

Referensi: Program Pelatihan dan Sertifikasi Higienis Industri Muda (HIMU), Asosiasi Hiperkes dan Keselamatan Kerja Indonesia (AHKKI)
Baca selengkapnyaKeselamatan Kerja, Kedokteran Kerja, dan Higiene Industri

Program Intervensi Ergonomi

Untuk melaksanakan program / intervensi ergonomi di perusahaan / organisasi terutama dalam peningkatan kesehatan dan keselamatan (health and safety) maka diperlukan beberapa langkah awal atau langkah utama untuk menuju kesuksesan yang meliputi
  1. Membangun komitmen dari manajemen
  2. Membentuk tim ergonomi / EHS (Ergonomics, Health and Safety)
  3. Mengadakan pelatihan ergonomi untuk mendorong adanya partisispasi dari seluruh karyawan

Pelaksanaan intervensi ergonomi disarankan melibatkan karyawan dari level paling bawah hingga top manajemen sejak perancangan hingga implementasi (partisipatori ergonomi). Perancangan program ergonomi dapat dilakukan dengan 2 pendekatan
  1. Pendekatan Reaktif, yaitu perancangan program dilakukan untuk memperbaiki kondisi lingkungan kerja yang sudah ada agar lebih ergonomis, sehat dan aman.
  2. Pendekatan Pro Aktif, yaitu perancangan program dilakukan untuk membuat kondisi lingkungan kerja yang baru agar lebih ergonomis, sehat dan aman
Referensi:
  • wells dkk, 2003. Participative Ergonomic Blueprint, www.iwh.on.ca
  • http://batikyogya.wordpress.com/2008/10/15/merancang-program-intervensi-ergonomi-oleh-noor-fitriahan/
Baca selengkapnyaProgram Intervensi Ergonomi

Desain Produk Ergonomis

Untuk mendisain produk secara ergonomis, seharusnya disesuaikan dengan manusia-manusia yang akan memakainya terutama yang paling umum adalah dari segi antropometrinya (lebih lanjut mengenai antropometri klik disini). Hal ini sesuai dengan prinsip human centered design, dimana manusia ditempatkan sebagai pusat sistem (lebih lanjut mengenai human centered design klik disini). Karena itu bukanlah manusia yang menyesuaikan dengan produk, tetapi produklah yang harus disesuaikan dengan manusia yang akan memakainya agar merasa ‘nyaman’ dalam memakainya. Bila peralatan tidak ergonomis maka akan menimbulkan ‘ketidak-nyamanan’ dan berujung pada terjadinya berbagai dampak negatif bagi manusia tersebut, misalnya nyeri, kelelahan bahkan kecelakaan yang pada akhirnya akan merugikan kita termasuk dunia industri. Dengan kata lain ergonomika mencoba menyatukan kesenjangan antara pembuat produk dan pengguna produk seperti diskemakan dalam gambar berikut.
Gambar Keterkaitan produk ergonomika dengan pembuat dan manusia pengguna produk.

Adanya ungkapan the man behind the gun yang menyatakan bahwa berbahaya-tidaknya senjata sangat bergantung pada orang yang mengawakinya menunjukkan arti pentingnya penyertaan faktor manusia / human factors (lebih lanjut mengenai human factors klik disini).

Pengaplikasian ergonomika ke dalam produk tidaklah mudah dalam pengertian seringkali implementasi ergonomika mempengaruhi harga jual produk. Namun demikian, ini bukanlah suatu alasan untuk tidak memperhatikan faktor ergonomika. Tuduh menuduh tentang siapa yang harus bertanggung-jawab bila terjadi kecelakaan atau akibat negatif dari suatu produk mulai kita rasakan di Indonesia. Salah satunya adalah tingginya rasio kecelakaan lalu lintas tidak melulu pada keteledoran seseorang, tapi dalam banyak kasus justru disebabkan oleh salahnya desain produk itu sendiri. Apakah produk yang dimaksud dalam kecelakaan lalu lintas tersebut adalah kendaraannya? Ya betul, tapi tidak hanya kendaraannya, produk yang dimaksud juga meliputi seluruh produk yang berhubungan dengan lalu lintas tersebut seperti jalan, display rambu lalu lintas dan sebagainya.

Sumber: Pentingnya Bidang Ergonomika pada Lingkup Litbang Menuju Era Industrialisasi, Zuhair (Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana) dan Suharyo Widagdo (Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir – BATAN).
Baca selengkapnyaDesain Produk Ergonomis

Ergonomika dan Sistem Manusia & Kerja (Mesin)

Ergonomika adalah ilmu yang mempelajari keterkaitan antara orang dengan lingkungan kerjanya. Ilmu ini muncul akibat banyaknya kesalahan yang dilakukan dalam proses kerja. Penelitian menunjukkan bahwa kesalahan dalam proses kerja disebabkan oleh kesalahan dalam perancangan atau prosedur kerja. Sejumlah peralatan kerja dirancang tidak sesuai dengan kondisi fisik, psikis pekerja dan lingkungannya. Dengan kata lain ergonomika mempelajari interaksi antara manusia dengan obyek yang digunakannya dan dengan lingkungan tempatnya bekerja.

Apa yang dilakukan manusia dalam menghadapi pekerjaannya banyak dipengaruhi oleh keadaan lingkungannya. Semua sistem itu dapat dijelaskan seperti pada Gambar 1. Dari gambar itu kita dapat melihat bahwa kondisi lingkungan memberi beban tersendiri pada manusia dalam melakukan pekerjaannya. Manusia harus melakukan usaha-usaha pengaturan agar ia merasa nyaman dalam melakukan tugasnya.

Tujuan yang hendak dicapai adalah meningkatkan efektivitas kerja dengan tetap memandang manusia sebagai pusat sistem untuk mempertahankan dan meningkatkan unsur kenyamanan dan kesehatan.
Gambar 1. Sistem Manusia Pekerjaan.

Interaksi Manusia Pekerjaan

Ergonomika mempunyai tempat yang luas dalam penerapannya, mulai dari kantor direktur sampai ke ruang kerja staf, mulai dari ruang kendali utama sampai ke ruang generator, mulai dari lantai produksi sampai pergudangan dan sebagainya. Namun interaksi-interaksi yang terjadi antara manusia dengan pekerjaannya pada tempat-tempat tersebut memiliki karakteristik yang sama yang dapat dilukiskan dengan skema seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Diagram interaksi manusia dengan pekerjaannya.

Dari Gambar 2 di atas dapat dijelaskan bahwa,
  1. Manusia menyampaikan isyarat kepada manusia tentang kondisi pekerjaan pada suatu saat.
  2. Isyarat diterima indera-indera pekerja yang relevan.
  3. Isyarat dikirim ke pusat-pusat syaraf.
  4. Oleh pusat syaraf isyarat tersebut ditafsirkan artinya.
  5. Keputusan yang dianggap tepat diambil.
  6. Otot-otot yang relevan digerakkan untuk mengejawantahkan keputusan dalam bentuk gerakan.
  7. Tindakan berefek pada pekerjaan yang mengakibatkan perubahan.
Maksud dari penangkapan isyarat sampai diambilnya tindakan oleh manusia tidak lain adalah untuk mengatur, memelihara dan mengendalikan pekerjaan sehingga berada pada keadaan yang diharapkan sesuai dengan misi pekerjaan yang bersangkutan.

Suatu kenyataan penting yang harus diketahui bahwa manusia tidak akan pernah dapat lepas dari kelemahan-kelemahannya dalam menerima isyarat, memprosesnya dan dalam tindakan-tindakannya, serta sangat peka terhadap keadaan lingkungannya. Keadaan ini terwujud dalam apa yang disebut human error atau kesalahan kerja yang sangat besar pengaruhnya pada efektivitas dan keselamatan kerja. Kesalahan kerja adalah salah satu pusat perhatian Ergonomika.

Kesalahan kerja hanyalah sesuatu yang tampil ke permukaan sebagai akibat dari tidak sempurnanya proses berputar penyampaian isyarat, penerimaan dan penafsirannya lalu mengambil keputusan dan tindakan.

Perancangan Sistem Manusia Mesin

Ergonomika merupakan ilmu untuk mengetahui interaksi manusia dan pekerjaanya. Pekerjaan yang cukup banyak di sorot adalah di bidang industri yang melibatkan mesin-mesin (perlu diingat juga bahwa ‘induk’ ilmu ergonomika adalah teknik industri dan ‘induk’ ilmu teknik industri adalah teknik mesin) walaupun ergonomika tidak hanya untuk pekerjaan yang menggunakan mesin saja.

Antara manusia dan mesin masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihan. Artinya ada beberapa pekerjaan yang hanya bisa dilakukan manusia saja dan pekerjaan yang lebih baik dikerjakan mesin. Kelebihan manusia adalah mempunyai sifat menyesuaikan diri dengan lingkungan serta bisa cepat mengubah perannya dengan cepat dan teratur sehingga memungkinkan dapat bekerja dalam kondisi apapun. Kelemahan manusia adalah sifatnya mudah berubah-ubah sehingga dalam menghadapi suatu masalah, manusia akan menggunakan cara yang kadang-kadang berbeda antara satu waktu dengan waktu yang lain.

Dalam sistem manusia mesin terdapat dua antar-muka (interface) penting dimana ergonomika memegang peranan penting. Interface pertama adalah display yang dapat menghubungkan kondisi mesin pada manusia, kemudian interface kedua adalah perangkat kendali atau control dimana dapat menyesuaikan respon dengan informasi balik yang diperoleh dari display tadi. Secara umum sistem manusia mesin dapat digambarkan sebagai berikut: dalam model yang ditunjukkan pada Gambar 1, secara ringkas dapat dinyatakan bahwa letak kesalahan terjadi pada proses masukan, proses pengolahan dan/atau proses keluaran yang dikenal sebagai rantai M.O.K. (Masukan, Olahan, Keluaran). Artinya kesalahan dapat timbul sejak penginderaan, pada pengolahannya atau pada pengambilan tindakannya. Adapun penyebab gagalnya rantai M.O.K. dapat dikelompokkan  pada dua sumber:
  1. Kesalahan manusianya,
  2. Kesalahan pada rancangan pekerjaannya.
Kesalahan pada rancangan (desain) pekerjaannya terdiri atas dua macam:
  1. Bersifat non fisik atau kognitif atau sosial keorganisasian seperti motivasi, pengorganisasian kerja, kejelasan prosedur dan petunjuk kerja, pengawasan dan lain-lain.
  2. Bersifat fisik seperti rancangan mesin dan peralatannya serta kondisi atau lingkungan tempat kerja.
Tujuan ergonomika adalah untuk memperoleh pengetahuan tentang manusia dan interaksinya dengan pekerjaan. Hal ini dimaksudkan untuk merancang sistem kerja yang mampu menjalankan misinya dengan aman, nyaman, efektif dan efisien. Adanya kesalahan kerja jelas merupakan penghalang terwujudnya sistem kerja yang demikian.

Ergonomika Dalam Sistem Manusia Mesin
Jika disadari bahwa perancangan suatu produk atau sistem juga dilakukan oleh manusia, maka perancangan sistem manusia mesin juga tidak lepas dari faktor-faktor manusia (human factors) karena sebagian dari kesalahan-kesalahan kerja yang terjadi disebabkan oleh rancangan yang tidak kompatibilitas dengan manusia yang menanganinya. Karena itu seorang perancang mempunyai peran besar dalam mengurangi resiko bahaya akibat kesalahan kerja.

Diantara penyebab kesalahan pengoperasian setiap produk atau alat atau mesin terdapat kesalahan manusia. Dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa besarnya faktor manusia berperan dalam kelancaran pemakaian produk atau alat atau mesin. Memang kesalahan adalah manusiawi, tetapi penelitian lebih jauh menunjukkan bahwa kesalahan manusia lebih banyak disebabkan kesalahan rancangan. Ini menunjukkan bahwa kesalahan manusia berawal pada perancangannya yang tidak manusiawi dan berakibat pada tahap pemakaiannya sebagaimana juga pada perawatannya. Oleh karena itu ergonomika dalam sistem manusia mesin berperan dalam perancangan produk atau alat atau mesin atau keseluruhan sistem kerja tersebut agar sesuai (fit) dengan faktor-faktor manusia (human factors) baik fisik maupun non fisik. Faktor-faktor manusia itu bias berupa keadaan, kemampuan, kelebihan, kebolehan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb.

Sumber: Pentingnya Bidang Ergonomika pada Lingkup Litbang Menuju Era Industrialisasi, Zuhair (Program Studi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana) dan Suharyo Widagdo (Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir – BATAN).
Baca selengkapnyaErgonomika dan Sistem Manusia & Kerja (Mesin)

Ergonomi: Untuk Keselamatan, Kesehatan dan Produktivitas Kerja

Ergonomi adalah ilmu, seni dan penerapan teknologi untuk menyelaraskan antara segala fasilitas yang digunakan dalam beraktivitas atau bekerja dengan kemampuan dan keterbatasan manusia baik secara fisik maupun non fisik sehingga kualitas hidup secara keseluruhan lebih baik. Oleh karena itu ergonomi mempunyai prinsip fit the job to the man (selengkapnya klik disini).

Ergonomi atau dikenal juga dengan Human Factors Engineering merupakan sebuah disiplin keilmuan yang selalu menempatkan manusia pada titik pusat perhatian (human centered design) secara holistic dan integratif dalam sebuah sistem kerja dimana manusia terlibat didalamnya (untuk mengetahui human centered design klik disini).

Salah satu output dari penerapan ergonomi adalah terwujudnya efisiensi, kenyamanan, dan keselamatan bagi pengguna suatu desain produk. Dengan demikian suatu desain dikatakan kompatibel dengan manusia pemakainya. Kaitannya dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), ergonomi selalu konsen dan berusaha meningkatkan derajat keselamatan dan kesehatan kerja bagi setiap pekerja. Melalui pendekatan ergonomi secara sistemik, holistik, interdisipliner dan partisipatoris, maka angka sakit dan angka kecelakaan di tempat kerja dapat diminimalkan. Dengan demikian penghematan biaya operasional, biaya perawatan dan biaya klaim kecelakaan dan kesehatan dapat ditekan sekecil-kecilnya. Pada akhirnya melalui peningkatan efisiensi dan efektivitas kerja, produktivitas akan semakin besar dan dengan sendirinya keuntungan juga meningkat, maka kesejahteraan pekerja secara keseluruhan akan lebih baik.

Referensi: http://ergoits.blogspot.com/
Baca selengkapnyaErgonomi: Untuk Keselamatan, Kesehatan dan Produktivitas Kerja

Ergonomi dan Islam

Tulisan ini bernuansa agama

Sebelumnya telah diberikan hubungan salah satu induk dari ilmu ergonomi yakni teknik industri dengan Islam (untuk membacanya klik disini).

Pada bulan Ramadhan ini akan mencoba mengulas hubungan ergonomi dengan Islam. Sebelumnya saya belum pernah sama sekali menemukan sumber yang membahas hubungan ergonomi dengan Islam sehingga bila ada kekeliruan mohon diingatkan. Namun sebenarnya inti dari pembahasan ini bukan pembahasan yang benar-benar baru namun sudah cukup banyak disinggung oleh referensi-referensi lainnya hanya saja belum menyebutkan ergonomi, jadi kali ini akan mencoba untuk mengaitkannya dengan ergonomi.

 
Menurut opini saya, ilmu ergonomi sungguh sangat sejalan dengan Islam (ini masih baru opini saya karena saya bukanlah ahli tafsir dan ulama serta saya belum menemukan pernyataan narasumber lain yang sama persis). Kenapa saya mengatakan sungguh sangat sejalan dengan Islam? Berikut penjelasannya.

Definisi Ergonomi

Ergonomi atau ergonomika (dalam bahasa inggris disebut ergonomics) adalah ilmu tentang kerja. Secara detil ergonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan dan elemen-elemen lain dalam suatu sistem dan pekerjaan yang mengaplikasikan teori, prinsip, data dan metode untuk merancang suatu sistem yang optimal, dilihat dari sisi manusia dan kinerjanya. Ergonomi memberikan sumbangan untuk rancangan dan evaluasi tugas, pekerjaan, produk, lingkungan dan sistem kerja, agar dapat digunakan secara harmonis sesuai dengan kebutuhan, kempuan dan keterbatasan manusia (international ergonomic assosiation, 2002).

Jadi secara sederhana ergonomi adalah Ilmu tentang bagaimana merancang agar seseorang bisa bekerja dengan baik. Merancang kondisi lingkungan kerja yang disesuaikan dengan atribut (keadaan, kemampuan, kelebihan, kebolehan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb) yang ada pada manusia baik fisik maupun non fisik. Ergonomi berkaitan dengan ‘kesesuaian’ antara orang-orang dan pekerjaan mereka. Hal ini memperhitungkan atribut manusia untuk memastikan bahwa tugas, peralatan, informasi dan lingkungan kerja  sesuai dengan pekerja. Oleh karena itu prinsip dasar ergonomi adalah fit the job to the man dan bukan sebaliknya. Ini artinya pekerjaanlah yang harus disesuaikan dengan atribut / keadaan manusia tersebut dan bukan manusianya yang harus menyesuaikan (bukan manusia yang diubah-ubah) sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat memelihara harkat dan harga dirinya sebagai manusia sehingga bersifat manusiawi yang didalamnya terkandung pengertian adanya jaminan keselamatan kerja, kesehatan kerja, dan produktivitas kerja.

Adapula yang menyebut atribut manusia sebagai kapasitas kerja manusia yang terdiri dari:
  • Kemampuan
  • Kebolehan
  • Keterbatasan
Konsep keseimbangan ergonomi:
  1. Work capacity atau kapasita kerja: personal capacity, physiological capacity, psychological capacity, biomechanical capacity atau atribut-atribut manusia lainnya.
  2. Task demand atau tuntutan tugas atau pekerjaan: material, machine and tools characteristics, task/work place characteristics, organizational characteristics, environmental characteristics.
  3. Performa ditentukan oleh kapasitas kerja kerja dan tuntutan tugas atau pekerjaan.
  • Jika tuntutan tugas atau pekerjaan > kapasitas kerja => over stress, discomfort, lelah, cidera, celaka, sakit.
    Jika pekerjaan melebihi kapasitas maka akan mengancam keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan selanjutnya mengancam produktivitas kerja serta keefektifan dan keefesienan kerja. Selain itu K3 yang tidak baik yang menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja juga akan membuat pengeluaran menjadi boros dan sebenarnya bisa dihindari.
  • Jika tuntutan tugas atau pekerjaan < kapasitas kerja => under stress, bosan, lesu, tidak produktif.
    Ergonomi memang menuntut pekerjaan disesuaikan dengan keadaan manusia yang bekerja namun itu bukanlah cara lain untuk mengatakan "bekerja secara alakadarnya", sama sekali bukan. Sebab, bekerja sesuai dengan keadaan / kapasitas menyiratkan kesediaan untuk mencurahkan segenap kemampuan yang kita miliki dalam menjalani pekerjaan yang kita geluti. Begitu banyak orang yang berpotensi tinggi, namun bekerja alakadarnya. Sehingga, mereka tidak sampai kepada puncak performanya. Sebab, jika saja mereka bersedia bekerja sesuai dengan kapasitasnya, maka pastilah mereka sudah bisa mencapai ketinggian nilai kemanusiaan dirinya. Alih-alih demikian, mereka membiarkan sebagian besar potensi dirinya tersia-siakan.
  • Harapannya adalah antara tuntutan tugas atau pekerjaan = kapasitas kerja => performa optimal.
Dengan ergonomi akan dijamin manusia bekerja sesuai dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasannya atau atrbut-atributnya. Hasil akhirnya ialah manusia mampu berproduksi optimal, tanpa harus mengorbankan keselamatan dan kesehatannya atau dengan kata lain pekerjaan dapat dilakukan dengan efektif, efisien, produktif, aman dan sehat.

Ergonomi dalam Al-Quran dan Al-Hadist

Ternyata prinsip ergonomi yakni fit the job to the man atau menyesuaikan pekerjaan dengan atribut / keadaan manusia tersebut terdapat dalam Al-Quran maupun Al-Hadits. Sebenarnya menurut saya ada banyak ayat pada Al-Quran yang sesuai dengan ergonomi. Namun kali ini akan diberikan beberapa ayat saja. Ayat tersebut adalah:

“Katakanlah: ‘Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu (’alaa makaanatikum), sesungguhnya aku pun bekerja, maka kelak engkau akan mengetahui!.” (Q.S. Az-Zumar : 39)

Dari ayat di atas dapat dipahami sebuah perintah untuk bekerja sesuai keadaan. Keadaan apa? Keadaan atau kondisi si manusia yang bekerja tersebut. Apa itu keadaan atau kondisi manusia? Jawabannya adalah semua atribut yang melekat pada manusia. Atribut itu bisa diartikan sebagai / bisa berupa keadaan, kemampuan, kelebihan, kebolehan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb. Atribut itu bisa berupa fisik (seperti antropometri fisik, fisiologi tubuh dsb) atau non fisik (antroprometri non fisik / psikometri, psikologi, kecerdasan dsb). Ini artinya pekerjaan yang dilakukan harus sesuai (fit) dengan keadaan atau atribut manusia. Hal inilah yang menjadi prinsip dasar ergonomi yakni fit the job to the man yang artinya menyesuaikan kerja dengan manusia yang bekerja itu. Uniknya saya menemukan beberapa pengulangan makna ayat ini pada ayat-ayat lain. Berikut ayat-ayat tersebut:
  • Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing." Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Q.S. Al-israa’ : 84]
  • Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.” (Q.S. Al-An’aam : 135)
  • Dan (dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu.” (Q.S. Huud : 93)
  • Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya Kami-pun berbuat (pula).” (Q.S. Huud : 121)
Selain itu ada pula ayat:

“… dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (untukmu).” (Q.S. An-Nahl : 69)

Dari ayat di atas dapat dipahami sebuah perintah untuk menempuh jalan (salah satunya dalam bekerja) yang dimudahkan. Apa maksud “yang dimudahkan”? Maksudnya adalah melakukan suatu kerja (karena konteks ergonomi adalah kerja) yang dimudahkan untuk si pekerja yakni kerja dengan energi minimal. Energi minimal tidak mengisyaratkan seseorang harus mengerjakan sesuatu tanpa kerja keras. Orang malah bisa kerja keras siang malam, namun tidak merasa sedang bekerja susah payah. Setiap orang memiliki energi minimal, sehingga ada yang mudah mendalami filsafat, ekonomi, atau bahasa, dan lain sebagainya yang biasanya menjadi “kelebihan” dirinya. Seseorang bisa saja bekerja keras menggeluti suatu hal, tetapi lebih kepada hasrat dan ambisi untuk meraih suatu hal atau hobi atau kecintaan bidang tertentu (walaupun pada umumnya sesuai dengan “kelebihan” yang dia miliki juga) sehingga dia tidak merasa kerja dan menggunakan energi minimal. Jadi melakukan sesuatu dengan penggunaan energi yang minimal adalah melakukan sesuatu yang “dimudahkan” untuknya. Yang “dimudahkan” untuk manusia adalah yang paling sesuai (fit) dengan manusia tersebut. Tidak hanya sesuai (fit) dalam hal fisik tapi juga non fisik. Disinilah peran ergonomi, fit the job to the man artinya menyesuaikan kerja dengan manusia yang bekerja. Apa manfaatnya? Agar mendapat output kerja yang optimal karena bila manusia diberi tugas kerja yang sesuai (fit) dengannya maka dia akan “dimudahkan” dalam bekerja dan hasil kerja menjadi optimal. Selain itu karena energi yang digunakan minimal maka input kerjanya tidak perlu banyak. Jadi kesimpulannya dengan aplikasi “fit the job to the man” bisa menghasilkan output kerja yang optimal dan penggunaan input kerja yang minimal atau dengan kata lain ergonomi dapat meningkatkan produktivitas (produktivitas paling optimal adalah ketika output optimal dan input minimal).

Ayat tersebut juga senada dengan hadist-hadist berikut:
  • Imran bin Hushain ra. bertanya kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apa dasarnya kerja orang yang bekerja?”. Rasulullah saw. menjawab: “Setiap orang itu dimudahkan untuk mengerjakan apa yang dia telah diciptakan untuk itu” (Shahih Bukhari, no.2026)
  • Imran bin Hushain ra. menceritakan bahwa ada seorang yang bertanya ke Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apakah telah diketahui siapa-siapa penghuni surga dan siapa-siapa penghuni neraka?”. Jawab Nabi saw. “Ya!”. Tanya, “Jika demikian, apa gunanya amal-amal orang yang beramal?” Rasulullah saw. menjawab: “Masing-masing bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya!” (Shahih Bukhari, no.1777)
  • Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorangpun dari kalian, tidaklah ada jiwa yang diciptakan, kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan sebagai orang celaka atau bahagia.” Lalu seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kita tidak sebaiknya menyerahkan diri pada ketetapan itu”. Beliau menjawab, “Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk beramal sesuai dengan apa yang dia diciptakan untuknya“. (Muttafaq Alaih)
Jadi kesimpulannya ergonomi benar-benar sesuai dengan Islam. Sebenarnya masih ada beberapa ayat Al-Quran lain serta Al-Hadist yang cukup berkaitan dengan ergonomi dan mudah-mudahan bisa diberikan di kesempatan lain. Sekali lagi mohon maaf dan mohon diingatkan jika terdapat kesalahan atau kekeliruan.
Baca selengkapnyaErgonomi dan Islam