Menerapkan Prinsip Ergonomi dalam Mencari Kerja

Ternyata prinsip ergonomi yakni fit the job to the man atau menyesuaikan kerja dengan manusia yang melakukan kerja itu tidak hanya bisa diterapkan saat bekerja namun juga saat sebelum mendapat kerja atau saat mencari kerja (job seeker) terutama untuk para freshgraduate. Bagaimana caranya?

Caranya sangat sederhana yakni dengan mencari kerja atau job yang sesuai atau fit dengan diri sendiri. Disini memang agak berbeda dengan penerapan ergonomi pada umumnya. Biasanya yang lebih banyak aktif melakukan “usaha” untuk fit the job to the man adalah sistem kerjanya, bisa melalui desain atau redesain sistem kerja, sedangkan manusia yang bekerja cenderung pasif karena sistem kerjanya yang harus disesuaikan dengan manusia dan bukan manusianya yang harus menyesuaikan dengan sistem kerja. Pada kasus mencari kerja sebenarnya juga sama yakni tetap sistem kerja harus sesuai dengan manusia tersebut dan bukan manusianya yang menyesuaikan, namun karena si manusia masih mencari kerja (kerja itu belum ada) maka dialah yang harus lebih aktif “usaha” untuk mencari kerja yang sesuai (fit) dengan dirinya (atau paling tidak yang paling mendekati fit) namun makna manusia yang aktif “usaha” ini bukan berarti si manusia berusaha menyesuaikan dengan berbagai macam tipe kerja. Kerja yang dicari harus dipastikan sesuai (fit) dengan dirinya sehingga si manusia tidak perlu menyesuaikan (atau tidak perlu banyak menyesuaikan). Jadi prinsip fit the job to the man tetap berlaku yakni kerja itu yang harus disesuaikan dengan manusianya dan bukan manusianya yang menyesuaikan dengan kerja itu.

Bagaimana caranya untuk menerapkan prinsip di atas? Caranya adalah dengan kenali diri Anda. Dengan mengenali diri Anda, temukan potensi yang Anda miliki, ketahui apa yang menjadi kelebihan Anda dan bagaimana memanfaatkannya, ketahui kelemahan Anda dan bagaimana memperbaikinya. Satu hal yang perlu diketahui dan benar-benar dipahami adalah everyone is unique. Untuk membatu mengenali diri Anda ada beberapa pertanyaan yang mungkin bisa membantu:
  • What is my interest?
  • What field I interested to?
  • What skills do I have?
  • What is my strength and how to utilize it?
  • What is my weaknesses and how to improve it?
Jadilah diri sendiri. Setelah itu temukan perpaduan antara Keinginan (Wants) – Kemampuan (Ability) – Kesempatan (Opportunity).

 

Be yourself !
Adjust your wants and ability and find the opportunity available.


Referensi: http://www.muhammadnoer.com/2009/03/tips-mencari-kerja-di-masa-krisis-bursa-karir-its-2009/
Baca selengkapnyaMenerapkan Prinsip Ergonomi dalam Mencari Kerja

Fakta Ergonomi dan K3 Internasional

Sebelumnya telah diberikan fakta mengenai ergonomic dan K3 di Indonesia. Kali ini diberikan fakta mengenai ergonomi dan K3 internasional atau secara global:
  • ILO memperkirakan bahwa tiap tahun sekitar 24 juta orang meninggal karena kecelakaan dan penyakit di lingkungan kerja termasuk didalamnya 360.000 kecelakaan fatal dan diperkirakan 1,95 juta disebabkan oleh penyakit fatal yang timbul di ligkungan kerja.
  • Hal tersebut berarti bahwa pada akhir tahun hampir 1 juta pekerja akan mengalami kecelakaan kerja dan sekitar 5.500 pekerja meninggal akibat kecelakaan atau penyakit di lingkungan kerja.
  • Dalam sudut pandang ekonomi, 4% atau senilai USD 1,25 Trilyun dari Global Gross Domestic Prodct  (GDP) dialokasikan untuk biaya dari kehilangan waktu kerja akibat kecelakaan dan penyakit di lingkungan kerja, kompensasi untuk para pekerja, terhentinya produksi, dan biaya-biaya pengobatan pekerja.
  • Potensi bahaya kecelakaan kerja diperkirakan menyebabkan 651.000 angka kematian, terutama di negara-negara berkembang. Bahkan angka tersebut mungkin dapat lebih besar lagi jika sistem pelaporan dan notifikasi nya lebih baik.
  • Data dari sejumlah negara-negara Industri menunjukkan bahwa para pekerja konstruksi memiliki potensi meninggal akibat kecelakaan kerja 3 sampai 4 kali lebih besar.
  • Penyakit paru paru yang terjangkit pada para pekerja di perusahaan minyak & gas, pertambangan, dan perusahaan perusahaan sejenis, sebagai akibat paparan asbestos, batu bara dan silica, masih menjadi perhatian di negara negara maju dan berkembang. Bahkan kematian akibat  kecelakaan kerja dari paparan asbestos saja sudah mencapai angka 100.000 dan selalu bertambah setiap tahunnya.
  • Data ILO menyebutkan ada 1 juta orang di Asia yang meninggal karena penyakit akibat kerja. "Apa yang terjadi di Asia sekarang adalah yang kami sebut pembunuhan massal sunyi," kata seorang narasumber.
Baca selengkapnyaFakta Ergonomi dan K3 Internasional

Fakta Ergonomi dan K3 di Indonesia

Berikut merupakan fakta mengenai ergonomi dan K3 di Indonesia:
  • Tahun 2007, menurut Jamsostek tercatat 65.474 kecelakaan yang mengakibatkan 1.451 orang meninggal, 5.326 orang cacat tetap dan 58.697 orang cedera. Data kecelakaan tersebut mencakup seluruh perusahaan yang menjadi anggota Jamsostek dengan jumlah peserta sekitar 7 juta orang atau sekitar 10% dari seluruh pekerja Indonesia. Dengan demikian, angka kecelakaan mencapai 930 kejadian untuk setiap 100.000 pekerja setiap tahun. Oleh karena itu, jumlah kecelakaan keseluruhannya diperkirakan jauh lebih besar. Bahkan menurut World Economic Forum tahun 2006, angka kematian akibat kecelakaan kerja di Indonesia mencapai 17-18 untuk setiap 100.000 pekerja (Soehatman, 2010).
  • Anas Zaini Z Iksan selaku Ketua Umum Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (A2K4) mengatakan setiap tahun terjadi 96.000 kasus kecelakaan kerja. Dari jumlah ini, sebagian besar kecelakaan kerja terjadi pada proyek jasa konstruksi dan sisanya terjadi di sektor industri manufaktur (Bataviase, 2010).
  • Hasil penelitian yang diadakan ILO (Organisasi Perburuhan Internasional) mengenai standar kecelakaan kerja menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-152 dari 153 negara yang ditelitinya. Ini berarti, begitu buruknya masalah kecelakaan kerja di Indonesia (Portal Nasional Republik Indonesia, 2010). Sedangkan sumber lain mengatakan bahwa per Juli 2009, Indonesia duduki peringkat ke 141 dari 156 negara dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Terdapat pula sumber lain yang mengatakan bahwa pada 2007 saja, angka kecelakaan kerja mencapai 95 ribu kasus dan angka tersebut menempatkan Indonesia di ranking 52 dunia (dimungkinkan beda organisasi dan jumlah sampel).
  • Jumlah masyarakat Indonesia yang mendapatkan jaminan kesehatan baru sekitar 48 persen. Jumlah ini masih lebih rendah dibanding dengan negara Vietnam yang sudah mencapai 55 persen dan negara Filipina sebesar 76 persen. Menunjukkan kesadaran Indonesia secara umum terhadap kesehatan termasuk kesehatan kerja masih kurang.
  • Berdasarkan data dari departemen tenaga kerja dari 97 juta jiwa pekerja hanya terdapat 1300 petugas pengawas. Jumlah yang tidak seimbang tersebut mengakibatkan pengawsan terhadap hak -hak pekerja (termasuk jaminan keselamatan dan kesehatan kerja) menjadi tidak maksimal (dari sumber yang dipublikasikan pada tahun 2008).
Keterengan:
Potensi atau angka bahaya kecelakaan kerja terutama di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) mungkin dapat lebih besar dari yang dilaporkan jika sistem pelaporan dan notifikasi nya lebih baik.
Baca selengkapnyaFakta Ergonomi dan K3 di Indonesia

Human Engineering atau Rekayasa Manusia

Rekayasa manusia sebenarnya sama atau semakna dengan ergonomi atau human factors engineering. Istilah rekayasa manusia berasal dari human engineering. Istilah lain yang sering mendampingi rekayasa adalah “rancang bangun” sehingga bisa disebut rancang bagun manusia. Istilah ini berasal dari kata desain. Di Indonesia, engineering juga sering diterjemahkan menjadi “teknik”. Namun jika human engineering diterjemahkan sebagai teknik manusia sepertinya kurang pas. Istilah rekayasa manusia lebih sering dipakai untuk mengartikan human engineering. Istilah engineering biasanya dihubungkan dengan materi. Oleh karena itu istilah human engineering dapat menimbulkan dugaan bahwa rekayasa kebendaan akan ditetapkan dalam kemanusiaan. Istilah yang lebih cocok masih dicari, misalnya human factors in engineering and design.


Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan rekayasa manusia itu?

Industrial engineering menjelaskan bagaimana merancang, memperbaiki, dan membangun sistem-sistem terpadu yang terdiri dari manusia, mesin, material, energi, informasi,dan lain-lainnya, agar sistem itu bekerja efisien, produktif, dan efektif. Manusia disebut terlebih dahulu. Hal ini bukan kebetulan, tapi manusia itu dijadikan pusatnya. Industrial human factors engineering merupakan istilah yang cocok untuk digunakan.

Kemampuan manusia berinteraksi dengan lingkungan kerjanya perlu diteliti. Hasil penelitian untuk merekayasa manusia kerja. Pendekatan ini disebut fitting the job to the men, dan bukan sebaliknya. Kerja dirancang sedemikian rupa sehingga masih di dalam batas-batas kemampuan pekerja untuk melaksanakannya. Rekayasa manusia meningkatkan pekerja untuk berinteraksi dengan lingkungan kerjanya.

Salah satu patokan bagi rekayasa manusia yang baik adalah, pekerja “tetap segar bugar” sebelum, selama, dan sesudah bekerja. Hal ini mungkin terjadi karena pekerja berinteraksi dengan lingkungan kerjanya dalam batas-batas kemampuannya. Rekayasa manusia melindungi pekerja karena ia bekerja dengan aman, sehat, dan nyaman. Peraturan-peraturan yang mempunyai kekuatan hokum dibuat untuk menjamin keselamatan dan kesehatan dalam bekerja. Hal ini bukan dimaksudkan untuk memanjakan pekerja, tetapi sebaliknya, yaitu untuk mendorong pekerja agar tanpa ragu-ragu bekerja efisien, produktif, dan efektif.

Rekayasa manusia memiliki sejarah yang panjang, yaitu setua sejarah manusia sendiri. Di waktu yang lalu rekayasa manusia dilakukan secara alamiah. Sejarah mencatat revolusi industri yang pertama dalam pertengahan abad ke-18 di Inggris. Revolusi industri ini kemudian menyebar ke Eropa, Amerika Serikat, dan Asia. Rekayasa manusia tidak dapat dilakukan secara alamiah saja, karena tenaga badan manusia sedikit demi sedikit diganti dengan mesin.

Pekerjaan dalam industri diotomatiskan, manusia diganti robot. Tidak semua pekerjaan dapat diotomatiskan pelaksanaannya. Rekayasa manusia tetap “hadir” dan diperlakukan, baik untuk pekerjaan manual sepenuhnya, manual sebagian, maupun otomatis. Selama masih ada manusia, rekayasa manusia tetap ada. Perkembangan rekayasa manusia terjadi baik prakteknya maupun ilmunya. Ada akibat-akibat revolusi industri yang merugikan atau membahayakan tenaga kerja manusia. Oleh karena itu rekayasa manusia makin penting perannya di waktu yang akan dating.

Rekayasa bermaksud menghilangkan atau mengurangi akibat yang membahayakan manusia itu di “sumbernya”. Tanpa mengetahui sebab-sebabnya, maka akan sia-sialah usaha untuk menghilangkan penderitaan yang dialami manusia yang bekerja di industri. Ilmu yang melandasi dikembangkannya rekayasa manusia disebut ergonomi. Ergo berarti kerja, nomi dari nomos berarti peraturan. Ergonomi sebagai ilmu yang dapat dipelajari, menjelaskan bagaimana kerja itu harus dilakukan.

Siapa yang melakukan kerja itu? Jika manusia yang menjadi pelakunya, maka rekayasa manusia kerja mau tidak mau harus tampil. Jika yang dihadapi adalah industrial workers atau tenaga di sektor industri, maka ergonomi industri melandasi rekayasa manusianya. Oleh karena itu, rekayasa manusia tidak dapat lepas dari ergonomi.
Baca selengkapnyaHuman Engineering atau Rekayasa Manusia

Ergonomi dan Teknik Industri (2)

Sebelumnya telah dibahas ergonomi dan tekni industri, untuk melihatnya klik disini. Disini kembali akan dibahas posisi ergonomi di teknik industri namun tidak banyak (karena semuany sudah dijelaskan di postingan-postingan sebelumnya) dan hanya bersifat menekankan dan menjelaskan sangat pentingnya posisi ergonomi di teknik industri.

Teknik Industri adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perancangan, perbaikan dan instalasi sebuah sistem terintegrasi yang terdiri dari manusia, mesin, metode, alat, bahan, informasi, dan energi agar sistem itu bekerja efisien, produktif, dan efektif. Dari definisi teknik industri tersebut dapat dilihat bahwa manusia disebut lebih dahulu atau disebut pertama kali. Hal ini mungkin bukan kebetulan karena manusia itu dijadikan pusatnya. Jadi bisa dikatakan manusia lebih krusial atau esensial dari elemen lainnya di industri seperti mesin, metode, alat, bahan, informasi, dan energi dan manusialah yang menjadi “sumbernya”, ini artinya elemen-elemen lain tidak akan berjalan jika tidak ada manusia dan baik buruknya pemanfaatan elemen-elemen tersebut juga tergantung oleh manusia tersebut. Manusia menjadi “segala-galanya” dalam sistem tersebut karena manusialah yang menjalankan sistem, yang merencanakan, yang me-manage, yang mengeksekusi dan sebagainya sehingga manusia disebut sebagai pusat atau center dari sistem. Manusia merupakan pusat atau center dari segala sistem termasuk sistem di industri dan peran manusia sebagai pusat atau center dari suatu sistem kerja industri tersebut dipelajari oleh ergonomi.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ergonomi merupakan hal yang sangat krusial dan esensial dalam teknik industri. Ergonomi akan selalu berhubungan dengan disiplin-disiplin lainnya dalam teknik industri seperti teknik produksi, teknik manufakturr, dan riset operasi. Untuk mengetahui definisi-defisini dari disiplin-disiplin tersebut klik disini. Untuk mengetahui hubungan ergonomi dengan disiplin-disiplin tersebut klik disini.
Baca selengkapnyaErgonomi dan Teknik Industri (2)

Ergonomi dan Teknik Industri

Dalam blog ini sudah berkali-kali disebutkan hubungan ergonomi dan teknik industri (untuk lebih jelasnya klik disini, disini, dan disini). Kali ini akan dibahas lagi hubungan ergonomi dan teknik industri namun lebih mendasar dan lebih general untuk melihat posisi ergonomi di teknik industri dibandingkan dengan disiplin lain di teknik industri. 

Definisi Teknik Industri

Teknik industri merupakan salah satu cabang ilmu teknik yang cukup baru dibandingkan ilmu-ilmu teknik lainnya seperti teknik mesin, teknik elektro dsb. Pada beberapa akhir dekade ini, ilmu teknik industri cukup populer dan bisa dibilang sedang menjadi trend tidak hanya di negara-negara industri maju tapi juga di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia.

Menyebut Teknik Industri tidak lengkap tanpa menyebut Fredrick Winslow Taylor. Taylor mungkin adalah pelopor Teknik Industri yang paling terkenal bahkan Fredrick Winslow Taylor sering ditetapkan sebagai Bapak Teknik Industri meskipun seluruh gagasannya tidak asli. Dia mempresentasikan gagasan mengenai pengorganisasian pekerjaan dengan menggunakan manajemen kepada seluruh anggota American Society of Mechanical Engineers (ASME). Dia menciptakan istilah "Scientific Management" untuk menggambarkan metode yang dia bangun melalui studi empiris. Kegiatannya meliputi topik-topik seperti pengorganisasian pekerjaan dengan manajemen, seleksi pekerja, pelatihan, dan kompensasi tambahan bagi seluruh individu yang memenuhi standar yang dibuat perusahaan. Scientific Management memiliki efek yang besar terhadap Revolusi Industri, baik di Amerika maupun di luar negara Amerika. Scientific management inilah yang selanjutnya berkembang dengan sebutan teknik industri atau industrial engineering.



Menurut American Institute of Industrial Engineering, Teknik Industri adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perancangan, perbaikan dan instalasi sebuah sistem terintegrasi yang terdiri dari manusia, mesin, metode, alat, bahan, informasi, dan energi. Disiplin ilmu ini ditunjang oleh pengetahuan matematika, fisika, ilmu social, dan prinsip-prinsip metode analisis perancangan dan dan desain untuk membangun dan memperbaiki sistem.

Teknik industri memiliki sebutan lain seperti operations management, management science, dan systems engineering. Teknik Industri hanya berasal dari Amerika Serikat, di Eropa atau Inggris tidak dikenal Teknik Industri, tetapi mereka mengenal manufacturing engineering atau engineering management.

Pembagian Bidang di Teknik Industri

Beberapa referensi menyebutkan bahwa teknik industri dibagi menjadi tiga bidang yakni sistem manufaktur, manajemen industri, dan sistem industri & tekno ekonomi.
  1. Sistem manufaktur adalah sebuah sistem yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk peningkatan kualitas, produktivitas, dan efisiensi sistem integral (i.e., manusia, mesin, material, energi, dan informasi) melalui proses perancangan, perencanaan, pengoperasian, pengendalian, pemeliharaan, dan perbaikan dengan menjaga keselarasan aspek manusia dan lingkungan kerjanya.
  2. Manajemen industri adalah bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan teknik industri untuk penciptaan dan peningkatan nilai sistem usaha melalui fungsi dan proses manajemen dengan bertumpu pada keunggulan sumber daya insani dalam menghadapi lingkungan usaha yang dinamis.
  3. Sistem industri dan tekno ekonomi adalah bidang keahlian yang memanfaatkan pendekatan teknik industri  untuk peningkatan daya saing sistem integral (i.e., tenaga kerja, bahan baku, energi, informasi, teknologi, dan infrastruktur) yang berinteraksi dengan komunitas bisnis, masyarakat, dan pemerintah.
Terdapat pula sistem pengklasifikasian lain dengan sudut pandang yang berbeda yang membagi Teknik Industri menjadi empat bidang. Mengapa menjadi empat bidang?

Di dunia pendidikan Indonesia, teknik industri termasuk dalam klaster teknologi industri dimana didalamnya selain teknik industri juga terdapat teknik mesin, teknik elektro, dan teknik kimia. Teknik industri sendiri merupakan pecahan dari teknik mesin sehingga banyak sekolah atau universitas yang mengintegrasikan teknik industri dan teknik mesin karena dua ilmu ini sangat berdekatan. Perbedaan dari ilmu teknik industri, teknik mesin, teknik elektro, dan teknik kimia bisa dijelaskan di bawah ini:
  • Teknik mesin : matematika + fisika = prinsip mekanik = steam engine.
  • Teknik elektro : matematika + fisika = electrical science.
  • Teknik kimia : matematika + fisika + kimia = synthetic material.
  • Teknik industri : matematika + fisika + manusia = sistem terintegrasi.
Sedangkan persamaan dari keempat ilmu tersebut adalah sama-sama mengaplikaskan ilmu matematika dan fisika sebagai ilmu dasar serta sama-sama lebih banyak diterapkan di lingkungan industri non jasa (industri manufaktur). Apa sih industri manufaktur?

Industri terutama industri manufaktur mempunyai empat komponen dasar yakni:
  1. Apa yang dihasilkan? produk (product).
  2. Siapa yang menghasilkan? manusia (human).
  3. Dimana menghasilkannya? di lini produksi (line).
  4. Bagaimana menghasilkannya? dengan pelaksanaan atau operasi (operation).
Oleh karena itu, pada dasarnya, ilmu teknik industri juga dapat diklasifikasikan ke dalam empat bidang utama, yaitu riset operasi, teknik produksi, proses dan sistem manufaktur, dan ergonomi. Riset operasi merupakan bidang yang berorientasi pada operasi di industri (operation centered), teknik produksi merupakan bidang yang berorientasi pada lini produksi (line centered), proses dan sistem manufaktur merupakan bidang yang berorientasi pada produk (product centered), dan ergonomi merupakan bidang yang berorientasi pada manusia (human centered). Keempat bidang tersebut tidak hanya berdiri sendiri-sendiri tetapi juga saling melengkapi dan diterapkan bersama, misalnya untuk manajemen inventori yang masuk dalam kategori produksi bisa menggunakan metode-metode riset operasi.

Riset Operasi

Riset operasi adalah suatu metode pengambilan keputusan yagn dikembangkan dari studi operasional militer selama Perang Dunia II. Keberhasilan-keberhasilan penelitian dari kelompok-kelompok studi militer ini telah menarik kalangan industriawan untuk membantu memberikan berbagai solusi terhadap masalah-masalah manajerial yang rumit.

Secara lengkap, riset operasi adalah penerapan metode-metode ilmiah terhadap masalah rumit yang muncul dalam pengarahan dan pengelolaan dari suatu sistem besar manusia, mesin, bahan dan uang dalam industri, bisnis, pemerintahan, dan pertahanan. Pendekatan khusus ini bertujuan membentuk suatu model ilmiah dari sistem, menggabungkan ukuran-ukuran, faktor-faktor seperti kesempatan dan resiko, untuk meramalkan dan membandingkan hasil-hasil dari beberapa keputusan,s trategi atau pengawasan. Tujuannya adalah membantu pengambilan keputusan menentukan kebijakan dan tindakannya secara ilmiah (Operational Research Society of Great Britain).

Dewasa ini riset operasi telah medapat pengakuan sebagai mata ajaran yang penting di tingkat perguruan tinggi, sesuai perkembangan kurikulum pendidikan tinggi maka teknik-teknik pendekatan dalam mengidentifikasi masalah dan mengambil keputusan menjadi suatu kebutuhan penting bagi peserta didik. Materi riset operasi mencakup berbagai bidang pengetahuan seperti ekonomi, manajemen produksi, manejemen operasi, transportasi, dan lain-lain.

Ilmu yang termasuk dalam bidang riset operasi meliputi:
  • Analisis atau teori keputusan.
  • Simulasi.
  • Optimalisasi.
  • Proses stokastik.
  • Kecerdasan buatan dalam di industri.
  • Forecasting.
  • Data mining.
  • Dsb.
Teknik Produksi

Teknik produksi adalah suatu teknik yang menganalisis suatu gabungan dari komponen-komponen yang saling berhubungan dan saling mendukung untuk melaksanakan proses produksi di lini produksi mulai dari bahan mentah diperoleh sampai barang jadi dikirim. Secara singkat teknik produksi adalah manajemen dalam melakukan alur produksi. Tujuannya adalah untuk menjamin produksi di lini berjalan dengan baik sekaligus meningkatkan efektifitas dan efisiensi di lini produksi sehingga bisa menaikan produktivitas dan menghemat biaya dan pada akhirnya bisa menaikan profit.

Bidang teknik produksi sering dicampur-campur dengan bidang teknik dan sistem manufaktur sehingga batas dari keduanya kurang begitu jelas. Ada yang menyebut teknik produksi sama dengan teknik manufaktur dan sebaliknya. Namun secara garis besar bisa disebutkan bahwa teknik produksi adalah bidang yang mengatur jalannya alur produksi (manajemen produksi) sedangkan teknik manufaktur adalah bidang yang membahas metode-metode manufaktur yang ada di dalam alur produksi tersebut.

Ilmu yang termasuk dalam bidang teknik produksi meliputi:
  • Perencanaan dan pengendalian produksi (termasuk inventori).
  • Sistem produksi (kaizen, 5S, just in time, SMED, 7 waste, jidoka, heijunka, BOS dsb).
  • Perancangan fasilitas / tata letak pabrik.
  • Manajemen logistik dan supply chain management.
  • Analisis biaya produksi.
  • Kontrol kualitas.
  • Lean manufacturing / produksi ramping.
  • Manajemen energy untuk produksi.
  • Manajemen perawatan alat atau mesin produksi.
  • Teknik kehandalan (kehandalan alat atau mesin produksi).
  • Otomasi sistem produksi.
  • Dsb.
Proses dan Sistem Manufaktur

Proses dan sistem manufaktur adalah segala proses dan sistem yang terdiri dari sekumpulan kegiatan untuk melakukan konversi bahan mentah menjadi barang jadi sesuai dengan desain produk didasarkan pada keinginan konsumen sehingga terjadi pertambahan nilai yang lebih tinggi dengan bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi di mana dalam proses pengerjaannya tentu saja dilakukan secara fisik dan melibatkan berbagai peralatan atau mesin. Secara ringkas, bidang ini membahas semua elemen dalam proses ‘pembuatan’ sampai dengan suatu produk bisa ‘muncul’. Elemen itu tidak hanya terbatas pada bahan atau material tapi juga mencakup peralatan dan mesin yang digunakan, aliran informasi dan sistem komputer dalam proses manufaktur, serta metode manufaktur yang digunakan dalam ‘membuat’ produk.

Tujuan utama proses dan sistem manufaktur adalah untuk membuat barang / produk dengan mempergunakan material tertentu yang memenuhi persyaratan bentuk dan ukuran serta struktur yang mampu melayani kondisi lingkungan tertentu.

Ilmu yang termasuk dalam bidang proses dan sistem manufaktur meliputi:
  • Pemilihan bahan dan proses manufaktur (materials forming, cutting, joining, shaping, planning, rapid prototyping dsb).
  • Sistem integrasi desain dan manufaktur.
  • Perancangan dan pengembangan produk.
  • Alat bantu dan metrologi.
  • Sistem manufaktur fleksibel.
  • Dsb.
Ergonomi

Ergonomi berasal dari dua kata bahasa Yunani: ergon dan nomos: ergon berarti kerja, dan nomos berarti aturan, kaidah, atau prinsip. Ergonomi adalah ilmu atau kaidah yang mempelajari manusia sebagai komponen dari suatu sistem kerja mencakup karakteristik fisik maupun nirfisik, keterbatasan manusia, dan kemampuannya dalam rangka merancang suatu sistem yang efektif, aman, sehat, nyaman, dan efisien. Terkadang ergonomic juga disebut sebagai human factors engineering atau human engineering.

Ergonomi mempelajari interaksi antara manusia dengan elemen-elemen lain dalam suatu sistem, serta mempraktekkan teori, prinsip, data, dan metode dalam perancangan untuk mengoptimalkan sistem agar sesuai dengan kebutuhan, kelemahan, dan keterampilan manusia. Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan produktivitas pekerja dan mengurangi gangguan kesehatan kerja dan pada akhirnya bisa dilakukan penghematan dan peningkatan profit.

Ilmu yang termasuk dalam bidang ergonomi meliputi :
  • Fisiologi manusia kerja.
  • Ergonomi kognitif.
  • Ergonomi fisik dan ergonomi industri (antropometri dan desain produk & tempat kerja, ekonomi gerakan, control & display, sistem manusia-mesin dsb).
  • Ergonomi lingkungan (pencahayaan, kebisingan, getaran, suhu, dan warna di tempat kerja).
  • Ergonomi organisasi dan perancangan sistem kerja (produktivitas manusia, time study, keseimbangan lintasan dan sistem kerja, rating & allowance, incentive, method study dsb).
  • Sistem keselamatan kerja / kesehatan dan keselamatan kerja / occupational safety and health (analisis beban kerja, biomekanika, alat pelindung diri dsb).
  • Usabilitas.
  • Dsb.
Baca selengkapnyaErgonomi dan Teknik Industri

Pentingnya Rumah Sakit Pekerja di Indonesia

Rumah sakit pekerja di Indonesia sudah sejak lama sangat dibutuhkan. Baik dari pihak praktisi dan profesi atau asosiasi bidang kesehatan kerja maupun dari pihak Depnaker (sekarang kemnaker) dan Universitas sudah berusaha untuk mengupayakan berdirinya rumah sakit pekerja; namun dari pihak pekerja sendiri masih belum mendapat perhatian penting.

Upaya-upaya untuk memperjuangkan berdirinya rumah sakit pekerja banyak mengalami hambatan karena belum mendapat dukungan yang kuat dari pihak penentu kebijakan. Belakangan ini Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi sangat menghendaki agar rumah sakit pekerja segera terealisir karena merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga kerja yang sangat penting. Dilihat dari sumberdaya yang ada, rumah sakit pekerja sangat mungkin direalisasikan apalagi jika didukung oleh PT Jamsostek.

Sangat disayangkan jika ada pihak yang tidak mendukung rencana atau upaya untuk merealisasikan berdirinya rumah sakit pekerja di Indonesia, apalagi jika berasal dari praktisi kesehatan dan juga seorang pejabat di lingkungan Departemen Kesehatan (Republika 7 Januari 2003).

Seharusnya inisiatif berdirinya rumah sakit pekerja didukung oleh kita semua, khususnya para praktisi kesehatan dan kesehatan kerja dan pejabat terkait baik dari Departemen Kesehatan (sekarang Kementerian Kesehatan), Departemen Tenaga Kerja & Transmigrasi (sekarang Kementerian Tenaga Kerja & Transmigrasi) maupun departemen (kementerian) terkait lainnya termasuk dari pihak pengusaha dan pekerja. Dengan pikiran yang jernih niscaya kita menyadari bahwa berdirinya rumah sakit pekerja sangat penting dan sangat dibutuhkan khususnya bagi para pekerja dan bagi Bangsa Indonesia pada umumnya.

Tenaga kerja merupakan agen dan aset nasional yang berperan besar dalam mendorong perekonomian negara. Maka selayaknya tenaga kerja mendapat perlindungan sebaik baiknya.

Alasan mengapa rumah sakit pekerja sangat penting, kiranya perlu diketahui latar belakang dan banyaknya masalah yang berkaitan dengan kesehatan tenaga kerja di Indonesia.

Sistem Pelayanan Kesehatan (Kerja)
Selama ini kesehatan tenaga kerja dilayani melalui beberapa cara pelayanan antara lain: Poliklinik perusahaan dengan dokter perusahaan, poliklinik lain di luar perusahaan, kerja sama dengan dokter praktek swasta, puskesmas maupun rumah sakit. Perusahaan besar sering sudah punya rumah sakit sendiri. Namun di beberapa perusahaan, fasilitas pelayanan kesehatan yang ditunjuk oleh Jamsostek lokasinya sering jauh dari pabrik sehingga akhirnya tenaga kerja berobat di mana saja yang dapat dijangkau.

Dari berbagai sistim atau cara pelayanan kesehatan terhadap pekerja yang ada sekarang, tenaga kerja hanya mendapatkan pengobatan secara umum dan sering hanya bersifat kuratif saja. Padahal tenaga kerja sering menderita penyakit yang lebih spesifik dibanding penyakit di masyarakat pada umumnya, karena adanya berbagai penyebab penyakit khusus yang ada di perusahaan tempatnya bekerja.

Dalam hal ini rumah sakit pekerja diharapkan akan menjadi pusat rujukan yang dapat menangani masalah kesehatan pekerja secara spesifik dan komprehensif.

Kondisi di Lapangan

Para pekerja setiap hari selalu berhadapan dengan risiko bahaya sesuai jenis pekerjaan dan kondisi tempat kerjanya yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja (occupational injury) maupun penyakit akibat kerja (occupational diseases). Sistem pelayanan kesehatan terhadap pekerja selama ini belum memuaskan, baik dari segi pemerataan fasilitas pelayanan (termasuk yang disediakan PT Jamsostek) maupun dari segi mutu dan esensi pelayanannya.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, penulis yakin bahwa penyakit akibat kerja cukup banyak terjadi, tetapi jarang sekali atau hampir tidak pernah dilaporkan oleh karena berbagai hal. Proses terjadinya penyakit akibat kerja ada yang bersifat akut dan lebih banyak lagi yang bersifat kronis atau perlahan-lahan sehingga sering tidak disadari oleh pekerja dan jarang terdeteksi sejak awal oleh tenaga medis. Dalam jangka waktu tertentu (lama) penyakit akibat kerja dapat muncul menjadi penyakit yang fatal atau sangat sulit disembuhkan. Hal ini bisa terjadi saat seorang tenaga kerja masih produktif dan akan kehilangan produktifitasnya maupun sesudah berhenti bekerja sehingga tidak lagi dapat diklaim ganti ruginya.

Dengan demikian penyakit akibat kerja ibarat api dalam sekam, yang suatu saat dapat menjadi permasalahan besar dan akan disadari sesudah semuanya terlambat. Dalam hal ini pekerja sangat dirugikan, karena penyakit akibat kerja yang dideritanya tidak dapat dideteksi secara dini atau tidak mendapat penanganan yang tepat. Pada suatu saat akan dapat muncul penyakit akibat kerja yang sulit disembuhkan. Dengan asumsi ini, bila tidak ada perubahan paradigma dalam penanganan kesehatan pekerja maka permasalahan kesehatan kerja (penyakit akibat kerja) merupakan bom waktu. Banyaknya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja juga akan memperberat beban Jamsostek untuk memberikan ganti ruginya.

Dengan alasan tersebut maka berdirinya rumah sakit pekerja dapat menjadi salah satu faktor pendorong ke arah pelayanan kesehatan tenaga kerja yang komprehensif. Rumah sakit pekerja juga sangat penting sebagai wahana pendukung kemajuan ilmu pelayanan kesehatan kerja. Jamsostek memang sudah selayaknya mendukung berdirinya rumah sakit-rumah sakit pekerja. Dalam jangka panjang dengan adanya perubahan cara penanganan kesehatan pekerja maka Jamsostek akan diuntungkan. Asumsinya adalah, bila upaya pelayanan kesehatan kerja lebih baik dan dengan menitik beratkan pada aspek promotif dan preventif, maka diharapkan klaim kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja akan menurun. Secara ekonomis biaya pencegahan penyakit adalah lebih murah dibanding dengan biaya pengobatan berbagai penyakit maupun perlukaan akibat kerja.

Sumber Daya Manusia di Bidang Kesehatan Kerja
Di Indonesia baru ada beberapa orang dokter ahli kesehatan kerja (Spesialis Kedokteran Okupasi). Selain itu juga ada program pendidikan Pascasarjana Kesehatan Kerja (Hiperkes Medis). Sudah puluhan sampai ratusan dokter yang telah menyelesaikan pendidikan tersebut. Jadi keberadaan rumah sakit pekerja di Indonesia dapat didukung oleh SDM yang sudah ada tersebut walaupun masih perlu ditingkatkan.

Perkembangan Ilmu
Kesehatan kerja merupakan sub disiplin ilmu tersendiri di bidang kesehatan yang memerlukan sumber daya manusia yang kompeten yaitu dokter spesialis okupasi atau lulusan S2 Kesehatan Kerja. Penanganan kesehatan kerja juga memerlukan penanganan komprehensif layaknya penanganan kesehatan pada umumnya (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif).

Hal khusus yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pekerja tertentu akan dapat menderita penyakit tertentu sesuai potensi bahaya pekerjaan atau tempat kerjanya. Kelemahan fasilitas pelayanan dan SDM yang menangani kesehatan tenaga kerja pada umumnya adalah tidak adanya perhatian khusus terhadap penyakit akibat kerja. Baik pasien dari masyarakat umum maupun dari masyarakat pekerja mendapatkan penanganan yang sama. Sehingga sampai sekarang data penyakit akibat kerja di Indonesia sangat minim.

Hal tersebut di atas karena masih kurangnya SDM yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan kerja, dan sangat terbatasnya institusi pendidikan yang mencetak SDM tersebut. Salah satu syarat penyelenggaraan pendidikan spesialis kedokteran okupasi adalah adanya rumah sakit pekerja. Jadi berdirinya rumah sakit pekerja sangat dibutuhkan untuk pengembangan ilmu (kesehatan kerja) dan peningkatan SDM di bidang kesehatan kerja. Bagian Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada saat ini sedang merencanakan untuk menyelenggarakan program pendidikan dokter spesialis Kedokteran Okupasi.

Era Globalisasi
Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat saling berkaitan. Pekerja yang menderita gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja cenderung lebih mudah mengalami kecelakaan kerja. Menengok ke negara-negara maju, penanganan kesehatan pekerja sudah sangat serius. Mereka sangat menyadari bahwa kerugian ekonomi (lost benefit) suatu perusahaan atau negara akibat suatu kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja sangat besar dan dapat ditekan dengan upaya-upaya di bidang kesehatan dan keselamatan kerja.

Di negara maju banyak pakar tentang kesehatan dan keselamatan kerja dan banyak buku serta hasil penelitian yang berkaitan dengan kesehatan tenaga kerja yang telah diterbitkan. Di era globalisasi ini kita harus mengikuti trend yang ada di negara maju. Dalam hal penanganan kesehatan pekerja, kitapun harus mengikuti standar internasional agar industri kita tetap dapat ikut bersaing di pasar global.

Dengan berbagai alasan tersebut rumah sakit pekerja merupakan hal yang sangat strategis. Ditinjau dari segi apapun niscaya akan menguntungkan baik bagi perkembangan ilmu, bagi tenaga kerja, dan bagi kepentingan (ekonomi) nasional serta untuk menghadapi persaingan global.

Bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang sudah ada, rumah sakit pekerja akan menjadi pelengkap dan akan menjadi pusat rujukan khususnya untuk kasus-kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Diharapkan di setiap kawasan industri akan berdiri rumah sakit pekerja sehingga hampir semua pekerja mempunyai akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif. Setelah itu perlu adanya rumah sakit pekerja sebagai pusat rujukan nasional. Sudah barang tentu hal ini juga harus didukung dengan meluluskan spesialis kedokteran okupasi yang lebih banyak lagi.

Kelemahan dan kekurangan dalam pendirian rumah sakit pekerja dapat diperbaiki kemudian dan jika ada penyimpangan dari misi utama berdirinya rumah sakit tersebut harus kita kritisi bersama.

Sumber: Urgensi Berdirinya Rumah Sakit Pekerja di Indonesia, Sudi Astono, Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan & Kesehatan Kerja Ditjen Binawas Ketenagakerjaan, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jakarta, Indonesia (Cermin Dunia Kedokteran 2007).
Baca selengkapnyaPentingnya Rumah Sakit Pekerja di Indonesia

Ergonomi di Industri Informal

Perkembangan industri di Indonesia saat ini berlangsung amat pesat, baik industri formal maupun industri informal di rumah tangga, pertanian, perdagangan dan perkebunan. Hal ini akan menimbulkan lapangan kerja baru dan menyerap tambahan angkatan kerja baru yang diperkirakan untuk tahun 2001 berjumlah 101 juta orang, sebagian besar (70-80%) berada di sektor informal. Semua industri, baik formal maupun informal diharapkan dapat menerapkan K3. Yang dimaksud dengan industri informal adalah kegiatan ekonomi tradisional, usaha-usaha di luar sektor modern/ formal yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
  • Sederhana
  • Skala usaha relatif kecil
  • Umumnya belum terorganisisr secara baik
Menurut M. Mikhew (ICHOIS 1997), gambaran umum industri sektor informal mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Timbulnya risiko bahaya pekerjaan yang tinggi.
  2. Keterbatasan sumber daya dalam mengubah lingkungan kerja dan menentukan pelayanan kesehatan kerja yang adekuat
  3. Rendahnya kesadaran terhadap faktor-faktor fisiko kese-hatan kerja.
  4. Kondisi pekerjaan yang tidak ergonomis, kerja fisik yang berat dan jam kerja yang panjang.
  5. Pembagian kerja di struktur yang beraneka ragam dan rendahnya pengawasan manajemen serta pencegahan bahaya-bahaya pekerjaan.
  6. Anggota keluarga sering kali terpajan bahaya-bahaya aki-bat pekerjaan.
  7. Masalah perlindungan lingkungan tidak terpecahkan dengan baik.
  8. Kurangnya pemeliharaan kesehatan, jaminan keamanan, sosial (asuransi kesehatan) dan fasilitas kesejahteraan.
Pelayanan kesehatan kerja yang diberikan melalui penerapan ergonomi, diharapkan dapat meningkatkan mutu kehidupan kerja (Quality of Working Life), dengan demikian meningkatkan produktifitas kerja dan menurunkan prelavensi penyakit akibat kerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Interaksi ini akan berjalan dengan baik bila ketiga komponen tersebut dipersiapkan dengan baik dan saling menunjang. Misalnya menyesuaikan ukuran peralatan kerja dengan postur tubuh pekerja dan menilai kelancaran gerakan tubuh pekerja.

Dalam penerapan ergonomi di sektor informal akan dipelajari cara-cara penyesuaian pekerjaan, alat kerja dan lingkungan kerja dengan manusia, dengan memperhatikan kemampuan dan keterbatasan manusia itu sehingga tercapai suatu keserasian antara manusia dan pekerjaannya yang akan meningkatkan kenyamanan kerja dan produktifitas kerja dan tentunya sesuai dengan karakteristik industri informal.

Jika mendengar “ergonomi di pabrik mobil” atau “ergonomi di tambang minyak” mungkin sudah biasa. Tapi istilah-istilah “ergonomi di pabrik tahu rumahan”, “ergonomi di industri mebel rumahan” mungkin masih jarang terdengar. Sebenarnya sudah cukup banyak riset atau tugas akhir mahasiswa yang membahas topik ergonomi di industri informal ini namun sepertinya kurang dimanfaatkan dan kurang dipublikasikan ke masyarakat awam.

Industri informal memang berbeda dengan industri formal yang berskala besar (apalagi yang multinasional) yang sangat open minded dan sudah sangat “menghargai” ergonomi. Sedangkan pada industri informal kondisinya sangat berkebalikan. Tapi bukan tidak mungkin untuk menerapkan ergonomi di sektor ini dan memperoleh manfaat yang optimal terutama naiknya produktivitas kerja. Asalkan sosialisasi dan edukasi berjalan dengan optimal tentunya diiringi dengan riset-riset ergonomi di sektor ini yang notabene dapat membuktikan manfaat ergonomi tersebut maka suatu saat bukan mustahil jika industri informal akan mengikuti jejak industri formal dalam menerapkan ergonomi.

Sumber: Ergonomi Bagi Pekerja Sektor Informal, Fikry Effendi, Bagian Ilmu Kesehatan Kerja, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta (Cermin Dunia Kedokteran 2007).
Baca selengkapnyaErgonomi di Industri Informal

Ergonomi, Kenali Diri, Kembangkan Diri

Ergonomi adalah suatu cabang ilmu yang memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia dalam rangka membuat sistem kerja yang unggul yakni kerja yang aman sehingga sehat dan berujung pada produktivitas optimal. Oleh karena itu prinsip atau slogan ergonomi adalah fit the job to the worker / human yang artinya menyesuai kerja agar sesuai informasi-informasi manusia tadi yakni mengenai sifat manusia atau segala atribut manusia lainnya bisa berupa kelebihan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, kemampuan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb atau dikenal dengan faktor manusia (human factors). Untuk bisa menyesuaikan sistem kerja agar sesuai dengan atribut manusia yang melakukan kerja tersebut maka sudah pasti diperlukan informasi-informasi mengenai atribut tersebut. Banyak metode untuk menggali informasi atribut manusia tersebut misalnya dalam hal fisik, manusia itu bisa diukur antropometrinya, dalam hal non fisik, manusia itu bisa diukur psikometrinya dsb. Semakin banyak informasi atribut tersebut akan semakin mudah pula untuk menyesuaikan sistem kerja dimana manusia itu bekerja. Tapi pertanyaannya, apakah untuk mengukur atribut-atribut tersebut itu mudah? Jawabannya adalah tidak mudah.

Untuk mengukur antropometri fisik saja dibutuhkan seperangkat alat dan sejumlah waktu untuk mengukur hanya beberapa antropometri saja. Padahal jumlah variabel antropometri (fisik) yang sudah ditemukan berjumlah sekitar 2.200 variabel (Stellman). Sedangkan untuk mengukur non fisik misalnya psikometri seperti kecerdasan dll juga dibutuhkan berbagai macam metode yang memerlukan bermacam-macam sumber daya seperti psikotes dsb. Belum lagi isu mengenai validitas dan reliabilitas pengukuran-pengukuran tersebut baik fisik maupun non fisik. Namun bukan berarti pengukuran-pengukuran tersebut tidak diperlukan. Pengukuran-pengukuran tersebut mutlak diperlukan namun ada satu faktor lagi yang sebaiknya juga dioptimalkan yakni pengenalan atau pemahaman terhadap diri sendiri dari si manusia yang bekerja tersebut. Untuk menggali informasi atribut-atribut yang ada pada diri manusia memang bisa menggunakan metode pengukuran-pengukuran seperti antropometri dan psikotes namun sejatinya secara umum atau secara garis besar sebenarnya si manusia itu sendiri yang lebih mengetahui segala atribut yang dimilikinya dan bahkan bisa saja ada atribut-atribut yang hanya bisa dikenali atau diidentifikasi oleh dirinya sendiri. Bila si manusia itu mampu mengenali dan memahami dirinya (atribut-atribut pada dirinya) dengan baik dan mau menempatkan dirinya di “tempat yang semestinya” atau mau memberikan informasi atribut tersebut kepada perusahaan secara aktif maka ini merupakan suatu wujud partisipasi dari si manusia atau pekerja itu dalam menjalankan pekerjaanya sekaligus berpartispiasi dalam mengembangkan diri, divisi, maupun perusahaan secara umum (baca “ergonomi partisipasi”, klik disini).


Jadi mulailah terus berusaha untuk mengenali lebih dalam diri Anda sendiri, teruslah memahami atribut-atribut yang melekat pada diri Anda yakni memahami apa yang menjadi kelebihan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, kemampuan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb dari diri Anda baik fisik maupun nonfisik. Jangan berbohong pada diri Anda sendiri apalagi mengkhianati diri Anda sendiri dengan tidak mengakui atribut-atrbut yang melekat pada diri Anda. Mulailah dengan memberi respect kepada atribut-atribut yang Anda miliki. Dengan begitu Anda akan mendapat manfaat:
  • Anda bisa menempatkan diri Anda di tempat kerja yang sesuai dengan atribut yang melekat pada diri Anda. Jadi Anda tidak berusaha untuk merubah apa yang sudah menjadi atribut Anda apalagi merubah atribut-atrbut yang hampir tidak bisa dirubah / yang bersifat “given” dari Tuhan.
  • Perusahaan akan lebih mudah untuk menyesuaikan (mendesain atau redesain) sistem kerja dengan atribut-atribut dari si pekerja karena informasi atribut tersebut diketahui dengan lebih pasti.
Dan pada akhirnya atribut-atribut Anda dapat ter-utilized dengan seoptimal mungkin. Ini artinya kerja yang Anda lakukan tidak “berlebih-lebihan” atau tidak “melebihi batas” dan juga tidak “berkekurangan” atau dengan kata lain benar-benar telah sesuai (fit) atau paling tidak mendekati sesuai.

Kondisi sesuai (fit) artinya adalah kerja tersebut mengakomodasi semua atribut Anda atau paling tidak mendekatinya. Namun disini ada yang perlu digarisbawahi dan ditekankan bahwa atribut yang dimaksud tidak hanya atribut yang “berkesan negatif” seperti kelemahan, keterbatasan dsb namun juga mengakomodasi atribut yang “berkesan positif” seperti kelebihan, keunggulan dsb. Disinilah ergonomi sering disalahpahami karena ergonomi sering disalahartikan hanya memperhatikan kepentingan pekerja dengan kata lain hanya concern terhadap kerterbatasan dan kelemahan pekerja sehingga terkesan hanya menguntungkan pekerja. Hal tersebut salah, ergonomi juga memperhatikan kepentingan perusahaan setara kepentingannya dengan kepentingan pekerja karena ergonomi juga mengakomodasi apa yang menjadi keunggulan dan kelebihan pekerja agar produktivitas optimal. Sebagai contoh kasar (hanya sebatas contoh sederhana karena pada kehidupan nyata sering kompleks atau rumit), seorang yang cerdas, kemampuan logika sangat bagus, ahli matematika namun kurang pandai dalam berkomunikasi maka sebaiknya ditempatkan di bagian yang sesuai dengan keahliannya seperti programmer, analis data dsb karena disitulah dia memiliki kelebihan yang dia miliki dan dalam melakukannya dia akan “dimudahkan”. Namun jika dia ditempatkan di bagian yang diluar kemampuannya misalnya marketing atau sales (membutuhkan kemampuan komunikasi tinggi) maka dia tidak akan optimal disitu malah bisa-bisa akan timbul masalah-masalah dalam dirinya atau lingkungannya. Selain itu makna tidak “melebihi batas” bukan berarti produktivitas jadi minimal. Tidak “melebihi batas” adalah menggunakan “energi yang pas” saat bekerja. “Energi yang pas” ini tidak mengisyaratkan seseorang harus mengerjakan sesuatu tanpa kerja keras. Orang malah bisa kerja keras siang-malam, namun tidak merasa sedang bekerja susah payah jika memang pekerjaanya sesuai (fit) dengan dirinya / sesuai atributnya (missal minat dan bakat).

Jadi kesimpulannya jika kondisi sesuai (fit) tersebut sudah diperoleh maka Anda dapat bekerja dan berkembang dengan optimal dan kerja Anda semakin unggul dan perusahaan juga diuntungkan.
Baca selengkapnyaErgonomi, Kenali Diri, Kembangkan Diri

Maksimum Berat Beban Ergonomi

Maksimum berat beban ergonomi berat beban maksimum yang dapat diangkat oleh manusia sangat tergantung dari faktor seperti jenis kelamin dan umur. Menentukan secara pasti angka beban maksimum yang dapat diangkat akan menjadi sulit karena tiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda, kadang tidak pula tergantung dari jenis kelamin dan umur manusia. Pertimbangan yang digunakan untuk menentukan beban maksimum individu lebih pada faktor-faktor risiko yang ada, misalnya; ukuran dan bentuk beban, jarak, tinggi pengangkatan beban, dll. Pedoman yang dapat digunakan sesuai dengan manual handling code 1990 dari Inggris (HSE Executive) dalam menetapkan beban yang dapat diangkat adalah sebagai berikut;
  1. Pada posisi duduk, tidak disarankan mengangkat lebih dari 4,5 kg.
  2. Beban antara 16 sampai 55 kg, maka risiko cidera akan semakin meningkat. Gunakan alat angkat dan atau mengangkat secara tim.
  3. Beban lebih dari 55 kg tidak diperkenankan mengangkat sendiri. Gunakan alat bantu dan atau mengangkat secara tim.

Sedangkan menurut NIOSH, USA maksimum beban yang dapat diangkat adalah 27 kg oleh 90% populasi baik pria dan wanita.

Panduan berikut ini dapat pula digunakan untuk kegiatan mengangkat dan menurunkan beban.Perhatikan pada gambar di bawah ini.



Mengangkat dan menurunkan antara; Posisi beban rapat dengan tubuh; (kg) Posisi beban jauh dari tubuh; (kg) Shoulder height-full height 10 5 Elbow – shoulder 20 10 Knuckle – elbow 25 15 Mid lower leg – knuckle 20 10 Bellow mid lower leg 10 5
Catatan;
Asumsi beban stabil, mudah digenggam dan kompak.
  1. Jika dilakukan twisting/memutar, maka jika sudut putaran 45 derajat dari kaki nilai beban dikurangi 10%.
  2. Jika sudut putaran 90 derajat maka nilai beban dikurangi 20%.
  3. Frekuensi pengangkatan dan penurunan beban. Panduannya adalah sebagai berikut; – Jika dilakukan satu atau 2 kali semenit, beban dikurangi 30% – Jika dilakukan 5 – 8 kali permenit, beban dikurangi 50% – Jika dilakukan lebih dari 12 kali permenit, beban dikurangi 80%.
  4. Panduan di atas untuk laki-laki. Untuk wanita semua nilai beban dikurangi 1/3-nya.
Sumber: http://sigitsafety.wordpress.com/h-o-m-e/
Baca selengkapnyaMaksimum Berat Beban Ergonomi

Alat Pelindung Diri (APD)

Alat Pelindung Diri (APD) atau dalam Bahasa Inggris disebut Personal Protective Equipment (PPE) adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja. APD merupakan kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya. APD dipakai sebagai upaya terakhir dalam usaha melindungi tenaga kerja apabila usaha rekayasa (engineering controls) dan administratif (work practice controls) tidak dapat dilakukan dengan baik. Namun pemakaian APD bukanlah pengganti dari kedua usaha tersebut, namun sebagai usaha akhir, selengkapnya mengenai hal ini klik disini.

Metode Penentuan APD
  • Melalui pengamatan operasi, proses, dan jenis material yang dipakai
  • Telaah data-data kecelakaan dan penyakit
  • Belajar dari pengalaman industri sejenis lainnya
  • Bila ada perubahan proses, mesin, dan material
  • Peraturan perundangan
Apa Kriteria APD?
  • Proses penggunaan APD harus memenuhi kriteria:
  • Hazard telah diidentifikasi.
  • APD yang dipakai sesuai dengan hazard yang dituju.
  • Adanya bukti bahwa APD dipatuhi penggunaannya.
Dasar Hukum
  1. Undang-undang No.1 tahun 1970. Pasal 3 ayat (1) butir f: Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat untuk memberikan APD. Pasal 9 ayat (1) butir c: Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang APD. Pasal 12 butir b: Dengan peraturan perundangan diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk memakai APD. Pasal 14 butir c: Pengurus diwajibkan menyediakan APD secara cuma-cuma.
  2. Permenakertrans No.Per.01/MEN/1981. Pasal 4 ayat (3) menyebutkan kewajiban pengurus menyediakan alat pelindung diri dan wajib bagi tenaga kerja untuk menggunakannya untuk pencegahan penyakit akibat kerja.
  3. Permenakertrans No.Per.03/MEN/1982. Pasal 2 butir I menyebutkan memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja
  4. Permenakertrans  No.Per.03/Men/1986. Pasal 2 ayat (2) menyebutkan tenaga kerja yang mengelola pestisida harus memakai alat-alat pelindung diri yg berupa pakaian kerja, sepatu lars tinggi, sarung tangan, kacamata pelindung atau pelindung muka dan pelindung pernafasan
Jenis-jenis APD dan Penggunaannya
  • A.P. Kepala
  • A.P. Muka dan Mata
  • A.P. Telinga
  • A.P. Pernafasan
  • A.P. Tangan
  • A.P. Kaki
  • Pakaian Pelindung
  • Safety Belt

Setelah APD Dipakai, Apakah?
  • APD yang dipakai sesuai standar?
  • APD memberikan perlindungan?
  • APD sesuai dengan tugas yang dikerjakan?
  • APD nyaman dipakai terus menerus?
Manajemen APD
  • APD dibutuhkan untuk membatasi hazard lingkungan
  • Jangan membeli APD sekedar hanya memiliki jenis APD
  • Adanya hazard awareness dan pelatihan
  • Adanya SOP penggunaan APD
  • APD yang dibeli telah melalui seleksi kebutuhan jenis pekerjaan
Perkembangan APD
Teknologi APD berkembang pesat pada APD terhadap bahaya fisik dan kimia. Namun kurang berkembang pada APD terhadap bahaya biologi.

Kelemahan Penggunaan APD
  • Kemampuan perlindungan yang tak sempurna karena (memakai APD yang kurang tepat, cara pemakaian APD yang salah, APD tak memenuhi persyaratan standar)
  • APD yang sangat sensitif terhadap perubahan tertentu.
  • APD yang mempunyai masa kerja tertentu seperti kanister, filter dan penyerap (cartridge).
  • APD dapat menularkan penyakit,bila dipakai berganti-ganti.
Mengapa APD Sering Tidak Dipakai?
Rendahnya kesadaran pekerja terhadap Keselamatan kerja
Dianggap mengurangi feminitas
Terbatasnya faktor stimulan pimpinan
Karena tidak enak / kurang nyaman.

Sumber: http://hiperkes.wordpress.com/2008/04/04/alat-pelindung-diri/ (Balai K3 Bandung)
Baca selengkapnyaAlat Pelindung Diri (APD)

10 Aksioma Mengenai Kecelakaan Kerja (K3)

Heinrich (dalam Soehatman, 2010) menyebutkan 10 aksioma mengenai kecelakaan kerja, yaitu :
  1. Kecelakaan merupakan rangkaian proses sebab dan akibat. Tidak ada kecelakaan yang hanya disebabkan oleh faktor tunggal, namun merupakan rangkaian sebab akibat yang saling terkait.
  2. Sebagian besar kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia dengan tindakannya yang tidak aman yang menurut penyelidikan mencapai 85% dari seluruh kecelakaan.
  3. Kondisi tidak aman dapat membahayakan dan menimbulkan kecelakaan.
  4. Tindakan tidak aman dari seseorang dipengaruhi oleh tingkah laku, kondisi fisik, pengetahuan dan keahlian serta kondisi lingkungan kerjanya.
  5. Upaya pencegahan kecelakaan harus meliputi berbagai usaha.
  6. Keparahan suatu kecelakaan berbeda satu sama lain.
  7. Program pencegahan kecelakaan harus sejalan dengan program lainnya dalam organisasi.
  8. Pencegahan kecelakaan atau program kesehatan dalam organisasi tidak akan berhasil tanpa dukungan dan peran serta manajemen puncak dalam organisasi.
  9. Pengawasan merupakan unsur kunci dalam program K3.
  10. Usaha keselamatan menyangkut aspek ekonomis.
Baca selengkapnya10 Aksioma Mengenai Kecelakaan Kerja (K3)

Ergonomi di Manufaktur

Ergonomi adalah ilmu kerja dan semua / sebagian besar kerja berada di lingkungan industri termasuk industri manufaktur. Istilah ergonomi di industri manufaktur telah lebih dulu dan lebih banyak “dikenal” daripada di industri lainnya seperti pertambangan, konstruksi atau minyak & gas. Secara umum penerapan ergonomi di semua industri sama namun karena terdapat karakteristik setiap jenis industri yang berbeda-beda, maka penerapan ergonomi pada tiap jenis industri pun ada yang berbeda-beda dan mempunyai kekhasan sendiri termasuk dalam manufaktur.

Berikut karakteristik-karakteristik industri manufaktur dan penerapan ergonomi yang khas di industri manufaktur:
  • High level of housekeeping (tingkat pemeliharaan “rumah tangga” yang tinggi). Pada manufaktur, semua mesin, peralatan dan benda-benda lain termasuk manusia diletakan atau ditempatkan dengan baik, teratur dan sangat terorganisir. Kebersihan dan kerapian pada lingkungan kerja merupakan hal yang wajib dalam manufaktur. Hal tersebut banyak dibahas pada 5S atau 5R. Apa itu 5S atau 5R dan hubungannya dengan ergonomi? Klik disini.
  • Linked resources (sumber daya yang saling terhubung). Proses produksi pada manufaktur berbentuk sebuah alur atau aliran produksi. Jadi dari bahan mentah menjadi barang jadi semuanya diproses dalam satu alur sehingga semua sumber daya di setiap tingkatan itu sangat berhubungan dan dijaga keseimbangannya supaya produksi lancar dan disinilah peran ergonomi. Bidang ergonomi yang berkaitan dengan sumberdaya yang saling terhubung adalah aliran informasi kerja (ergonomi organisasi dan kognitif),
  • Products move (produk yang bergerak). Produk jadi, setengah jadi atau bahan mentah pada manufaktur akan terus bergerak kontinyu dalam proses produksi. Karena terus bergerak dibutuhkan suatu pengaturan aliran atau waktu kerja khusus contohnya time study (ergonomi fisik).
  • High people movement (pergerakan manusia yang tinggi). Karena produksi berbentuk aliran atau alur maka seluruh area produksi berkaitan sehingga bila terjadi suatu “kejadian” maka itu bisa disebabkan oleh sebagian atau keseluruhan dari aliran itu sehingga manusia dapat berpindah-pindah dari satu are ke area lain walaupun tidak berlaku bagi semua pekerja. Semua itu membutuhkan aliran informasi kerja yang jelas dan lagi-lagi diperlukan perancangan aliran informasi kerja yang baik (ergonomi organisasi dan kognitif).
  • Material moves in a fixed flow (bahan mentah dan juga barang setengah jadi bergerak di suatu aliran yang tetap). Pergerakan ini kontinyu dan karena itu diperlukan suatu pengaturan jumlah bahan atau barang setengah jadi yang dipelajari dalam PPIC. Dalam PPIC, informasi sangat krusial dan karena itu lagi-lagi diperlukan perancangan aliran informasi kerja yang baik (ergonomi organisasi dan kognitif).
  • More worker inspections (banyak terdapat inspeksi pekerja). Yang dimaksud inspeksi pekerja adalah melakukan hal-hal agar pekerja itu dapat meningkatkan perannya dalam meningkatkan output produksi baik dari kualitas atau kuantitas namun jika konteksnya adalah “inspeksi” maka biasanya yang dimaksud adalah kualitas output atau produk. Salah satu contoh penerapan ergonomi dalam inspeksi pekerja untuk menjaga kualitas adalah membuat standar atau instruksi kerja tertentu contohnya melakukan motion dan time study untuk tiap pekerjaan sehingga nantinya tiap tahap atau jenis pekerjaan mempunyai waktu standar yang pas agar si pekerja mampu menghasilkan output dengan kualitas baik.
  • High employee satisfaction (“kepuasan” pekerja yang tinggi). Beban pekerjaan yang berat, membosankan, dan sebagainya membuat pekerja memerlukan suatu motivasi kerja yang terus diperbarui dan di manufaktur banyak sekali terdapat event motivasi seperti ini bagi pekerja. Selain itu teknologi di industri manufaktur relatif lebih cepat berkembang dan dinamis (salah satunya terjadi karena jenis produk yang sering berubah mengikuti selera pasar) sehingga banyak proses kerja yang baru seperti mesin baru dsb dan alhasil sering diperlukan training kerja yang sesuai sehingga pada dasarnya di industri manufaktur kepuasan pekerja terpenuhi karena neednya lebih cepat terpenuhi. Training dan motivasi ini bisa optimal dengan menerapkan ergonomi organisasi.
  • More visual signals (banyak sinyal visual). Pada manufaktur banyak sekali dijumpai tahap demi tahap proses detail dan banyak sumber daya seperti bahan yang bervariasi dsb. Oleh karena itu diperlukan suatu penanda atau sinyal visual khusus untuk mencegah terjadinya kesalahan. Dalam ergonomi disebut display (masuk ergonomi kognitif).
  • Easier planning (perencanaan yang relatif mudah). Perencanaan pada manufaktur relatif lebih mudah karena manufaktur mengetahui berapa permintaan, berapa kapasitas prosuksi, dan berapa suplai dengan pasti. Oleh karena itu pada manufaktur mudah dilakukan suatu analisis atau perencanaan seperti PPIC, forecasting dsb. Lagi-lagi disini aliran informasi sangat penting sehingga perlu menerapkan ergonomi kognitif dan organisasi untuk mengoptimalkan aliran informasi itu.
  • Supplier involvement (adanya keterlibatan penyuplai). Karena terdapat penyuplai dan aliran informasi dalam supply chain itu sangat penting maka ergonomi disini (kognitif dan organisasi) juga berperan dalam mengoptimalkan aliran informasi tersebut.
  • Less variation of work motion (per worker) but there is a lot of repetitive motion (jenis pekerjaan per pekerja biasanya kurang variasi gerakan karena prosedurnya sudah ditetapkan dan frekuensi pengulangan gerakan itu sangat tinggi karena alur produksi berjalan terus). Perlu diketahui bahwa masalah kesehatan kerja dalam industri manufaktur yang sangat meninjol adalah musculoskeletal disorder yang disebabkan oleh cumulative trauma. Karena itu perlu dilakukan semcamam analisis beban, postur, gerakan, dan sebagainya dan semuanya bias dianalisis menggunakan ergonomi fisik (RULA, REBA dsb).
  • The most common type of work is assembly / mixing, shaping, casting etc (proses kerja yang paling umum adalah assembly / mixing, shaping, casting dsb. Kebanyakan jenis pekerjaan tersebut menghadapi sebuah mesin untuk memproses bahan. Karena itu penerapan ergonominya harus disesuaikan dengan kebutuhan yakni tidak hanya untuk hubungan manusia dan mesin tapi hubungan manusia, mesin, dan produk. Contoh penerapan ergonomi disini adalah mendesain jig saw, poke yoke dsb sehingga manusia tidak melakukan kesalahan dan aman, mesin tidak rusak, dan kualitas produk terjaga (ergonomi fisik).
  • Most of them are located not in remote area (Mayoritas bukan di daerah terpencil). Karena lokasinya yang biasanya di kota maka kebutuhan pekerja berkaitan dengan lingkungan kehidupan di perkotaan juga harus diperhatikan (ergonomi organisasi).
  • The quality of the product represents the quality of the work and process (kualitas produk merepresentasikan baik buruknya proses produksi). Pada manufaktur, kualitas menjadi hal yang penting dan yang membuat kualitas itu adalah si manusia yang bekerja. Peran ergonomi disini adalah meracang kerja agar manusia dapat menhasilkan output yang sesuai standar kualitas. Keseluruhan ergonomic bias dipakai.
  • More recognizing automated work (sudah mulai banyak mengenal proses kerja yang otomatis / otomasi proses produksi). Karena sudah ada proses otomasi maka peran manusia mulai bergeser. Hubungan ‘langsung’ manusia mesin mungkin akan berkurang dan akan berubah menjadi hubungan ‘tidak langsung’. Disini diperlukan ergonomic kognitif dan organisasi.
  • Almost all are indoor work (kerja lapangannya berupa kerja indoor). Karena kerja dilakukan di indoor maka penyesuaian lingkungan terutama udara, pencahayaan, suhu, kelembaban, warna, dan kebisingan harus diperhatikan dan disesuaikan dengan karakteristik lingkungan indoor. Hal tersebut dilakukan melalui penerapan ergonomi lingkungan.
Selain hal-hal di atas secara umum karakteristik industri manufaktur dan penerapan ergonomi di industri manufaktur sama dengan jenis-jenis industri lainnya.

Untuk lebih jelas memahami perbedaan karakteristik industri manufaktur dan jenis industri lainnya silahkan lihat gambar/tabel di bawah ini:


Ket: Industri manufaktur yang dimaksud adalah manufaktur yang melibatkan flow proses pasti. Jadi manufaktur seperti manufaktur kereta api, pesawat, kapal, dsb tidak termasuk.

Beberapa data di atas merupakan analisis pribadi karena itu mohon dikoreksi jika salah.
Baca selengkapnyaErgonomi di Manufaktur

Poka Yoke

Di dalam kegiatan produksi atau kerja banyak faktor yang menyebabkan defect akibat kesalahan kerja, di antaranya faktor manusia, material, mesin, metode, informasi, dan lain-lain. Namun jika ditelusuri kita akan sampai pada suatu fakta bahwa setiap defect sumbernya adalah manusia. Sangat fatal jika sikap kita dengan mengatakan, “Ya, tidak ada yang dapat diperbuat terhadap sebuah kasalahan, manusia selalu membuat kesalahan”. Dan sayangnya kita cenderung menerima kasalahan sebagai hal yang biasa, dan menyalahkan orang yang membuat kesalahan. Dengan sikap seperti ini, kita mungkin sama saja dengan membiarkan defect terjadi dalam Produksi. Akhirnya defect ini terdeteksi hanya pada saat inspeksi terakhir atau, yang lebih parah, terdeteksi oleh Pelanggan.

Seharusnya kita memiliki sikap, bahwa kesalahan dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan. Salah satu caranya mengurangi atau menghilangkan kesalahan yang bersumber pada manusia atau human error adalah dengan Poka Yoke.


Poka Yoke (diucapkan "po-ka-yo-ke”) berasal dari bahasa Jepang yokeru yang berarti “menghindari” dan poka yang berarti “kesalahan (diakibatkan kelalaian dan/atau ketidaksengajaan)”. Jadi secara sederhana Poka Yoke adalah menghindari kesalahan dalam produksi atau kerja. Konsep Poka Yoke ditemukan oleh Shigeo Shingo, seorang insinyur di Matsushita manufacturing, dan merupakan bagian dari Toyota Production System. Poka-Yoke awalnya disebut sebagai Baka Yoke, namun karena artinya kurang pantas, yaitu “menghindari ketololan”, maka kemudian diubah menjadi Poka Yoke.

Secara umum, Poka Yoke didefinisikan sebagai suatu konsep manajemen mutu guna menghindari kesalahan akibat kelalaian dengan cara memberikan batasan-batasan dalam pengoperasian suatu alat atau produk dan pada umumnya berkaitan dengan isu produk cacat atau defects.

Shigeo Shingo memperkenalkan 3 jenis Poka Yoke:
  • Metode Kontak, mengidentifikasi apakah ada kontak antara alat dan produk.
  • Metode Nilai-Tetap, memastikan apakah sejumlah tertentu gerakan telah dilakukan.
  • Metode Tahap-Gerak, memastikan apakah sejumlah langkah proses tertentu telah dilakukan.
Poka Yoke berfungsi optimal saat ia mencegah terjadinya kesalahan, bukan pada penemuan adanya kesalahan. Karena kelalaian operator atau pekerja biasanya terjadi akibat letih, ragu-ragu atau bosan/jenuh. Jadi Poka Yoke mencegah terjadinya kesalahan atau kerusakan atau defect yang bisa terjadi akibat human error. Keberadaan Poka Yoke menjadi sangat berarti karena solusi mencegah terjadinya kelalaian tersebut sama sekali tidak memerlukan perhatian penuh dari operator bahkan saat si operator sedang tidak fokus dengan apa yang dikerjakannya.

Penerapan konsep Poka Yoke dalam kehidupan sehari-hari pun ternyata sangat banyak ditemukan. Contoh paling umum adalah kesalahan pemasangan akan dideteksi dan pemakai seolah “diingatkan” kalau telah terdapat kekeliruan/pemasangan yang tidak tepat atau terbalik. Berikut adalah contoh-contoh kasus penerapan Poka Yoke diberbagai kondisi:
  • Kunci kendaraan (motor dan mobil) didesain sedemikian rupa sehingga pengemudi tidak bisa melepaskan kunci sebelum kunci pada posisi ‘OFF’. Pada kendaraan dengan sistem transmisi otomatis, bahkan kunci kendaraan tidak bisa dilepaskan sebelum posisi transmisi di posisi ‘PARK’
  • Disket komputer berukuran 3,5” didesain sedemikian rupa sehingga bisa masuk ke drivernya jika posisinya benar
  • Dalam proses manufaktur, biasanya jig didesain sedemikian rupa sehingga hanya memungkinkan material diproses dalam arah dan letak tertentu
  • Di beberapa produk, biasa kita jumpai posisi sekrup tidak simetris, sehingga saat akan dipasang kembali, hanya dimungkinkan jika arah dan posisinya sesuai
  • Keping SIM card pada telepon genggam, pada salah satu ujungnya di trim sehingga posisi letaknya tidak bisa tertukar
Tentu ini merupakan contoh yang sangat sederhana. Pada proses produksi terutama pada proses manufaktur di pabrik, beragam proses yang sangat “sulit” berpotensi “lolos” dari pemeriksaan pekerja yang bersangkutan. Poka yoke yang dipergunakan pun akan lebih kompleks untuk dapat mendeteksi terjadinya penyimpangan proses dan parts yang cacat (defect).

Setiap pekerja seharusnya dapat mempraktekkan Poka Yoke di area kerja masing-masing, karena prinsip-prinsip dasar dari Poka Yoke sesuai dengan karakteristik dari perangkat Poka Yoke, dimana sebuah perangkat Poka Yoke haruslah memiliki karakteristik sebagai berikut:
  1. Dapat digunakan oleh semua orang/karyawan
  2. Mudah dipasang
  3. Tidak memerlukan perhatian terus-menerus dari operator
  4. Murah, kurang dari USD 50
  5. Dapat memberikan umpan-balik dan/atau tindakan korektif/pencegahan secara cepat
Poka Yoke dan Ergonomi

Telah disebutkan bahwa secara sederhana, Poka Yoke merupakan salah satu metode untuk mecegah terjadinya kesalahan pada kerja dan yang menjadi isu utama penerapan dari Poka Yoke adalah kesalahan manusia atau human error. Karena berkaitan dengan kerja dan manusia maka tidak bisa lepas dari ilmu kerja yakni ergonomi yang berprinsip fit the job to the man. Selain itu, Poka Yoke bermaksud untuk mengatasi kesalahan kerja sehingga dapat mengurangi akibat dari kesalahan kerja (yang biasanya berupa product defect) dan muaranya jelas untuk meningkatkan produktivitas kerja sesuai dengan tujuan akhir ergonomi.

Di dalam area kerja, Poka Yoke lebih dipandang suatu konsep ketimbang sebuah prosedur, karenanya penerapannya dimulai dari apa yang karyawan pikir dapat mereka lakukan untuk mencegah kesalahan di area kerja mereka, dan bukan sebagai langkah demi langkah bagaimana melakukan suatu pekerjaan. Karena itu Poka Yoke bisa disebut sebagai konsep dalam kerja yang ergonomis. Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa Poka Yoke adalah “ergonomics by another name”. Masih berkaitan dengan ergonomi, selain mengatasi kesalahan kerja atau produksi, Poka Yoke juga dapat meminimalisir kecelakaan kerja. Contoh penerapan Poka Yoke dalam mengurangi risiko bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan adalah pada desain produk standar beberapa sepeda motor (terutama sepeda motor keluaran baru). Ketika standar masih dalam posisi di bawah maka sepeda motor tidak dapat dinyalakan, sepeda motor hanya bisa dinyalakan ketika standar sudah dinaikan.

Poka Yoke dan Eliminasi Waste / Muda


Konsep dasar Poka Yoke tidak terpisah dari eliminasi waste / muda, yaitu untuk mengeliminasi kemunculan berbagai muda karena proses yang tidak benar (untuk mengetahui lebih lanjut tentang waste atau muda klik disini atau disini). Salah satu tujuan memasang Poka Yoke adalah untuk menghindari kerusakan, baik kerusakan mesin atau peralatan maupun kerusakan produk. Kerusakan mesin atau peralatan jelas akan menilmbulkan biaya perbaikan, proses berhenti-muda of waiting, produk cacad-muda of producing reject. Itu belum opportunity cost karena proses berhenti sebagai akibat dari Pull System dimana proses yang berhenti di suatu unit kerja akan mempengaruhi unit kerja upstream maupun downstream.

Jadi, konsep revolusioner Pull System memang menghendaki kesempurnaan di semua proses dimana zero defect quality bukan sekedar pemuasan kebutuhan konsumen namun merupakan bagian integral dari usaha untuk meningkatkan produktivitas yang dilakukan dengan mengeliminasi muda. Poka Yoke adalah salah satu penunjangnya.

Sebenarnya, dalam banyak contoh pekerjaan di Indonesia, Poka Yoke itu sudah dijumpai namun namanya bukan Poka Yoke. Misal di pekerjaan bangunan, pertukangan, dan permesinan.

Sumber:
http://mnovessro.weebly.com/2/post/2009/12/sekilas-poka-yoke.html
http://hardipurba.com/
http://fe.uajy.net/fs/as/?p=2218
http://baletraining.com
Baca selengkapnyaPoka Yoke

Ergonomi dan Risiko (Risk)

Risiko adalah ketidakpastian akan terjadinya suatu peristiwa, baik itu peristiwa yang menguntungkan ataupun merugikan.

Risiko adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlangsung atau kejadian yang akan datang.

Istilah (risk) risiko memiliki berbagai definisi. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut:
  • Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian). Chance of loss berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian. Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada. 
  • Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian). Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.
  • Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian). Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi risiko berikut.
  • Risk is the dispersion of actual from expected results (Risiko merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan). Ahli statistik mendefinisikan risiko sebagai derajat penyimpangan sesuatu nilai disekitar suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata.
  • Risk is the probability of any outcome different from the one expected (Risiko adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan). Menurut definisi di atas, risiko bukan probabilitas dari suatu kejadian tunggal, tetapi probabilita dari beberapa outcome yang berbeda dari yang diharapkan.
Dari berbagai definisi diatas, risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Dengan kata lain, kemungkinan itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian.

Australian/ NZ Standard 4360 : 1999 mendefinisikan Risk sebagai “ The chance of something happening that will have or impact upon objectives (perubahan dari sesuatu yang terjadi yang akan mempuyai pengaruh terhadap tujuan).

Risiko adalah suatu variasi dari hasil – hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu pada kondisi tertentu (William & Heins, 1985).

Risiko adalah sebuah potensi variasi sebuah hasil (William, Smith, Young, 1995).

Risiko adalah kombinasi probabilitas suatu kejadian dengan konsekuensi atau akibatnya (Siahaan, 2007).

Dari definisi-definsi risiko di atas dapat disimpulkan bahwa risiko adalah manifestasi atau perwujudan potensi bahaya (hazard event) yang mengakibatkan kemungkinan kerugian atau mengakibatkan pengaruh terhadap pencapaian tujuan. Karena lingkup kajiannya adalah ergonomi maka risiko yang dimaksud disini adalah risiko kerja walaupun makna atau nilai yang terkandung sama dengan risiko pada bisnis, risiko finansial dsb. Risiko kerja adalah suatu perwujudan potensi terganggunya kerja itu yakni terganggunya keselamatan kerja yang dapat berpengaruh pada kesehatan kerja dan pada akhirnya dapat mengganggu produktivitas kerja. Siapa yang mengganggu? Yang mengganggu adalah bahaya atau hazard bisa berupa fisik atau non fisik (walaupun yang lebih umum dikenal adalah fisik). Risiko itu akan selalu ada dan akan selalu “menghantui” keberlangsungan keadaan yang ergonomis “fit the job to the man” dan mengancam keselamatan (safety), kesehatan (health), dan produktivitas (productivity). Tingkat risiko mungkin berbeda dari yang paling ringan atau rendah sampai ke tahap yang paling berat atau tinggi. Oleh karena itu risiko ini harus dikelola. Pengelolaan ini dinamakan manajemen resiko (risk management). Manajemen resiko adalah penerapan secara sistematis dari kebijakan manajemen, prosedur dan akitivitas dalam kegiatan identifikasi bahaya, analisa, penilaian, penanganan dan pemantauan serta review risiko. Oleh karena tujuan ergonomi adalah mencapai atau menjaga keberlangsungan kesesuaian kerja dan pekerjanya (fit the job to the man) dan selalu ada risiko yang mengancam kesesuaian kerja dan pekerjanya tersebut maka pada dasarnya pengelolaan risiko ini atau manajemen risiko ini lah yang menjadi garis besar dari ergonomi.
Baca selengkapnyaErgonomi dan Risiko (Risk)

Ergonomi dan Produktivitas (Productivity)

Dalam ergonomi, sering kita jumpai slogan health, safety, dan productivity. Pada tulisan sebelumnya telah dibahas dua dari tiga slogan tersebut yakni health atau kesehatan dan safety atau keselamatan (selengkapnya klik disini dan disini). Kali ini akan fokus lagi pada satu dari slogan yang tersisa yakni productivity atau produktivitas. Blog ini pernah membahas tentang produktivitas (selengkapnya klik disini). Apa produktivitas itu?

Menurut J. Ravianto, produktivitas adalah suatu konsep yang menunjang adanya keterkaitan hasil kerja dengan sesuatu yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk dari tenaga kerja.

Sedangkan menurut Muchdarsyah Sinungan, produktivitas adalah hubungan antara hasil nyata maupun fisik (barang atau jasa) dengan masuknya yang sebenarnya, misalnya produktivitas ukuran efisien produktif suatu hasil perbandingan antara hasil keluaran dan hasil masukan.

Mengenai produktivitas Payaman J. Simanjuntak, menjelaskan produktivitas merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan keseluruhan sumber daya (masukan) yang terdiri dari beberapa faktor seperti tanah, gedung, mesin, peralatan, dan sumber daya manusia yang merupakan sasaran strategis karena peningkatan produktivitas tergantung pada kemampuan tenaga manusia.

Produktivitas merupakan nisbah atau rasio antara hasil kegiatan (output, keluaran) dan segala pengorbanan (biaya) untuk mewujudkan hasil tersebut (input, masukan) (Kussriyanto, 1984, p.1).

Pengertian lain dari produktivitas adalah suatu konsep universal yang menciptakan lebih banyak barang dan jasa bagi kehidupan manusia, dengan menggunakan sumber daya yang serba terbatas (Tarwaka, Bakri, dan Sudiajeng, 2004, p.137).

Menurut Marvin E Mundel, yang dipublisir oleh The Asian Productivity Organization (APO) produktivitas didefinisikan sebagai berikut: Produktivitas adalah rasio keluaran yang menghasilkan untuk penggunaan di luar organisasi, yang memperbolehkan untuk berbagai macam produk dibagi oleh sumber-sumber yang digunakan, semuanya dibagi oleh suatu rasio yang sama dari periode dasar.

Menurut Paul Mali definisi produktivitas adalah sebagai berikut: Produktivitas adalah ukuran yang menyatakan seberapa hemat sumber daya yang digunakan di dalam organisasi untuk memperoleh sekumpulan hasil.

Dewan Produktivitas Nasional mendefinisikan produktivitas dalam beberapa segi, yaitu:
  • Secara fisiologi / psikologis. Produktivitas merupakan sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa kehidupan hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.
  • Secara ekonomis. Produktivitas merupakan usahan memperoleh hasil (output) sebesar-besarnya dengan pengorbanan sumber daya (input) yang sekecil-kecilnya.
  • Secara teknis. Produktivitas diformulasikan sebagai rasio output terhadap input.
European Productivity Agency (EPA) mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: Produktivitas merupakan derajat pemanfaatan secara efektif dari setiap bagian elemen produktivitas.

Vinay Goel dalam Toward Higher Productivity mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: Produktivitas merupakan hubungan antara keluaran yang dihasilkan dan masukan yang diolah pada satu waktu tertentu.

Peter F. Drucker mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: Produktivitas adalah keseimbangan antara seluruh faktor-faktor produksi yang memberikan keluaran yang lebih banyak melalui penggunaan sumber daya yang lebih sedikit.

Everet E. Adam, James C Hersahauer dan William A. Ruch mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: Produktivitas adalah perubahan produk yang dihasilkan oleh sumber-sumber yang digunakan.

David J. Sumanth mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: Total produktivitas adalah perbandingan antara output tangible dengan input tangible.

Fabricant mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: Produktivitas adalah perbandingan output dengan input.

Menurut Siegel produktivitas adalah: Produktivitas berkenaan dengan sekumpulan perbandingan antara output dengan input.

Doktrin pada Konfrensi Osio 1984, mendefinisikan produktivitas sebagai berikut: Produktivitas adalah suatu konsep yang menyeluruh (universal) yang bertujuan untuk menyediakan lebih banyak barang dan jasa untuk lebih banyak manusia, dengan menggunakan sumber-sumber riil yang makin sedikit.

Menurut Davis produktivitas adalah: Produktivitas adalah perubahan produk yang dihasilkan oleh sumber-sumber yang digunakan.



Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa produktivitas adalah suatu perbandingan antara keluaran / output dengan masukan / input. Produktivitas akan semakin baik jika output semakin tinggi sedangkan input semakin kecil. Dalam kerja maka produktivitas tinggi tercapai bila output kerja tinggi dan input kerja rendah. Apa yang dimaksud output kerja tinggi dan input kerja rendah? Output kerja tinggi adalah ketika hasil dari kerja berada pada tingkat yang optimum baik deri segi kualitas atau kuantitas sedangkan input kerja rendah adalah penggunaan energi yang minimal. Energi minimal tidak mengisyaratkan seseorang harus mengerjakan sesuatu tanpa kerja keras. Orang malah bisa kerja keras siang-malam, namun tidak merasa sedang bekerja susah payah. Setiap orang memiliki energi minimal, sehingga ada yang mudah mendalami filsafat, ekonomi, atau bahasa, dan lain sebagainya yang biasanya menjadi “kelebihan” dirinya. Seseorang bisa saja bekerja keras menggeluti suatu hal, tetapi lebih kepada hasrat dan ambisi untuk meraih suatu hal atau hobi atau kecintaan bidang tertentu (walaupun pada umumnya sesuai dengan “kelebihan” yang dia miliki juga) sehingga dia tidak merasa kerja dan menggunakan energi minimal. Jadi maksud penggunaan energi yang minimal adalah melakukan sesuatu yang “dimudahkan” untuknya. Yang “dimudahkan” untuk manusia adalah yang paling sesuai (fit) dengan manusia tersebut. Tidak hanya sesuai (fit) dalam hal fisik tapi juga non fisik. Disinilah peran ergonomi, fit the job to the man artinya menyesuaikan kerja dengan manusia yang bekerja. Tujuannya apa? Tentu agar mendapat output kerja yang optimal karena bila manusia diberi tugas kerja yang sesuai (fit) dengannya maka dia akan “dimudahkan” dalam bekerja dan hasil kerja menjadi optimal. Jadi kesimpulannya dengan aplikasi “fit the job to the man” bisa menghasilkan output kerja yang optimal dan penggunaan input kerja yang minimal atau dengan kata lain ergonomi dapat meningkatkan produktivitas.
Baca selengkapnyaErgonomi dan Produktivitas (Productivity)