ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001 = Standar Kualitas, Lingkungan, dan Keselamatan & Kesehatan

Saat meilihat lowongan Health, Safety, dan Environment (HSE) di berbagai macam perusahaan seringkali kita melihat persyaratan pemahaman dan pengalaman dalam sistem manajemen ISO 9001, ISO 14001, dan OHSAS 18001. Bagi yang sudah berpengalaman dan profesional mungkin sudah tidak asing dengan ketiga sistem manajemen tersebut. Namun bagi pelajar / mahasiswa atau freshgraduate mungkin masih agak asing dengan hal tersebut atau masih belum terlalu mendalami atau hanya tahu beberapa dari ketiga sistem manajemen tersebut dan masih bingung apa hubungan ketiga sistem manajamen tersebut satu sama lain.

ISO 9001 = Standar Kualitas / Mutu

Meningkatnya persaingan semakin menyadarkan perusahaan-perusahaan akan mutu. Arti mutu atau kualitas yang semula bersifat netral kini telah mengarah ke positif. Semakin kritisnya pelanggan dalam menyikapi mutu produk semakin meningkatkan kebutuhan perusahaan untuk meningkatkan mutu. ISO 9001 telah menjadi salah satu persyaratan dalam perdagangan dunia sebagai salah satu wujud jaminan terhadap mutu produk yang dijual, bahkan persyaratan ini telah menjadi persyaratan yang mutlak dari pelanggan negara-negara maju khususnya Amerika, Eropa, Jepang, hal ini menjadi tantangan bagi perusahaan dalam meningkatkan kepuasan pelanggan. 

ISO 9001 adalah standar internasional yang diakui dunia untuk sertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) dan bersifat global. SMM menyediakan kerangka kerja bagi perusahaan dan seperangkat prinsip-prinsip dasar dengan pendekatan manajemen secara nyata dalam aktifitas rutin perusahaan. Sistem ini besifat umum dan dapat diterapkan untuk berbagai jenis organisasi dan industri. Sistem ini juga bersifat fleksibel untuk mengarahkan berbagai organisasi dan industri dalam mencapai efisiensi dan efektifitas dalam pengelolaannya untuk mencapai kepuasan pelanggan.

Suatu lembaga/organisasi yang telah mendapatkan akreditasi (pengakuan dari pihak lain yang independen) ISO tersebut, dapat dikatakan telah memenuhi persyaratan internasional dalam hal manajemen penjaminan mutu produk/jasa yang dihasilkannya.

ISO 9001 dipelajari oleh berbagai bidang pendidikan. Pada bidang ekonomi dan ergonomi (teknik industri), sistem manajemen ini banyak ditemui di kuliah total quality management (TQM).


ISO 14001 = Standar Lingkungan

Perkembangan perusahaan dan industri dewasa ini telah menyebabkan krisis lingkungan dan energi. Bermula dari dampak industri inilah maka organisasi dan industri dituntut untuk meningkatkan pertanggungjawaban terhadap konservasi lingkungan. Berdasarkan kondisi ini, maka tuntutan peraturan dunia terhadap pertanggungjawaban organisasi dan industri dalam pengelolaan lingkungan menjadi meningkat. Konservasi lingkungan telah menjadi tuntutan dari pelanggan negara maju yang secara sadar melihat pentingnya perlindungan terhadap lingkungan dilaksanakan sejak dini untuk meminimalkan kerusakan lingkungan di masa depan, maka berdasarkan kesepakatan international pada tahun 1996 International Organization for Standardization meluncurkan suatu standar untuk mengelola lingkungan secara professional di dalam organisasi dan industri, standar tersebut disebut Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001.

ISO 14001 dipelajari oleh berbagai bidang pendidikan namun tidak “seumum” ISO 9001 yang banyak ditemui di bidang apa saja. Sistem manajemen ini banyak ditemui pada bidang teknik lingkungan. Selain itu sistem manajemen ini juga mempunyai kaitan dengan bidang ergonomi (teknik industri) terutama pada kuliah manajemen limbah industri. Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa bidang lingkungan hidup atau ekologi dan ergonomi mempunyai hubungan yang cukup kuat, selengkapnya klik disini.


OHSAS 18001 = Standar Keselamatan dan Kesehatan

Perkembangan perusahaan dan industri mempunyai korelasi dengan pekerja, Banyak Industri yang prosesnya berdampak negatif terhadap keselamatan dan kesehatan pekerjanya seperti industri bahan kimia, jasa konstruksi, plastik, besi baja, dsb. Hal tersebut dapat berpengaruh pada meningkatnya biaya pekerja dan berpengaruh pada citra. Sejalan dengan hal ini maka industri-industri yang berdampak bagi pekerjanya harus mengelola lingkungan kerja nya agar dapat menurunkan dampak. Sikap kritis dari masyarakat dunia juga mendorong industri yang beresiko ke pekerja untuk menerapkan suatu sistem pengelolaan yang aman bagi pekerjanya. Latar belakang inilah yang melandasi pembentukan OHSAS 18001. OHSAS 18001 diakomodasikan untuk pengendalian operasional proses yang aman bagi pekerja.

OHSAS 18001 adalah suatu standard internasional untuk menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di tempat kerja/perusahaan. Banyak organisasi di berbagai negara telah mengadopsi OHSAS 18001 untuk mendorong penerapan keselamatan dan kesehatan kerja dengan melaksanakan prosedur yang mengharuskan organisasi secara konsisten mengidentifikasi dan mengendalikan resiko bahaya terhadap keselamatan dan kesehatan di tempat kerja; serta memperbaiki kinerja dan citra perusahaan.

OHSAS 18001 dipelajari di bidang ergonomi (teknik industri) terutama pada kuliah K3 atau sistem keselamatan kerja atau semacamnya.


Hubungan Kualitas, Lingkungan, dan Keselamatan & Kesehatan

Untuk mencapai peningkatan yang berkelanjutan, adalah penting bagi perusahaan untuk mengelola dan mengendalikan resiko keselamatan dan kesehatan kerja, lingkungan dan kualitas. Untuk mengelola ketiga hal tersebut (kualitas, lingkungan, dan keselamatan & kesehatan), banyak perusahaan sudah mulai menerapkan manajemen berbagai sistem, termasuk yang telah disebutkan di atas yakni ISO 9001, ISO 14001, dan OHSAS 18001.  Dalam prakteknya, telah terbukti sulit untuk menangani ketiga sistem manajemen tersebut secara terpisah dan untuk memastikan keberpihakan mereka dengan strategi organisasional. Oleh karena itu saat ini banyak yang mengintegrasikan QMS (Quality Management System) dalam hal ini ISO 9001, EMS (Environment Management System) dalam hal ini ISO 14001, dan OHSAS (Occupational Health & Safety Assessment Series) dalam hal ini  OHSAS 18001 menjadi suatu sistem manajemen terpadu karena pada dasarnya ketiga sistem tersebut memiliki struktur yang sama dan sistem yang mirip.
Sejalan dengan itu banyak perusahaan yang sudah mengintegrasikan bagian-bagian kerja tersebut (bagian kerja kualitas dan bagian kerja keselamatan & kesehatan kerja dan lingkungan hidup atau HSE) menjadi satu bagian yakni QHSE (Quality, Health, Safety, dan Environment). Hal tersebut sangat penting karena operasional yang peduli pada aspek mutu, lingkungan hidup, keselamatan dan kesehatan kerja semakin mendapat perhatian dan sorotan yang serius dari kalangan bisnis. Jika ketiga sistem manajemen tersebut diimplementasikan secara terpisah akan ada banyak duplikasi standar kerja, prosedur dan sistem kerja, dan bisa mengakibatkan biaya tambahan dan bahkan konflik.

Disarikan dari berbagai sumber.
Baca selengkapnyaISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001 = Standar Kualitas, Lingkungan, dan Keselamatan & Kesehatan

Apa Itu HSE?

Salah satu bagian kerja yang cocok bahkan mungkin paling cocok untuk seorang ergonom adalah bagian HSE (untuk mengetahui bagian-bagian kerja untuk ergonom klik disini). HSE adalah singkatan dari Health, Safety, Environment. HSE merupakan salah satu bagian dari manajemen sebuah perusahaan. Ada manejemen keuangan, manajemen sdm, dan juga ada Manajemen HSE.

Di perusahaan, manajemen HSE biasanya dipimpin oleh seorang manajer HSE, yang bertugas untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan seluruh program HSE. Program HSE disesuaikan dengan tingkat resiko dari masing-masing bidang pekerjaan. Misal HSE Konstruksi akan beda dengan HSE Pertambangan dan akan beda pula dengan HSE Migas.


HSE bukan merupakan suatu standard. Namun dalam menerapkan HSE kita perlu mengadopsi beberapa standard. Untuk sektor minyak dan gas, beberapa standard tentang HSE yang dapat dipakai adalah :
  • API RP 750, tentang Process Safety Management
  • OSHA CPR 119.10. 110, tentang Process Safety Management
  • OHSAS 18001, tentang Occupational Health and Safety
  • Kepmenaker tentang SMK3
  • NFPA, National Fire Protection Association
  • NEC, National Electrical Code
  • LSC, Life Safety Code
HSE distrukturkan secara sistematis sebagai sebuah sistem manajemen sebuah organisasi untuk mencapai tujuan, sasaran dan visinya dalam aspek Keselamatan dan Kesehatan kerja serta Lingkungan. Sebagai sebuah sistem, maka ini adalah panduan dan aturan main bagi semua jajaran baik tim manajemen maupun pekerja dan sub lini organisasi yang ada dalam organisasi/perusahaan.

Beberapa perusahaan mengintegrasikan sistem manajemen HSE ini dengan Sistem Manajemen Sekuriti (Security) dan/atau Mutu (Quality). Bahkan ada yang mengintegrasikan dengan semua aspek, spt. HR, Finance, Marketing dll, sehingga terkadang nama sebuah sistem tidak lah terlalu penting, karena yang essential adalah refleksi dari sistem itu sendiri dalam implementasinya.

Sebagai sebuah sistem manajemen modern, maka dokumentasi untuk panduan dan pengimplementasian harus disusun dan disahkan untuk digunakan. Jenis dan tipe dokumen-dokumen tersebut tergantung dari ukuran organisasi, jenis usaha, kompleksitas proses yg terlibat dalam organisasi tersebut, tetapi paling tidak secara umum dokumen-dokumen tersebut adalah :
  • Kebijakan HSE dan/atau Sekuriti dan/atau Mutu
  • Proses-proses yang diperlukan untuk operasional perusahaan dan pengendaliannya.
  • Prosedur-prosedur yang dibutuhkan untuk mendukung point 2
  • Panduan/guideline
  • Form-form isian yang berguna untuk kerangka pencatatan sebuah aktifitas atau bukti pencapaian sebuah proses tertentu.
Untuk hal di atas, sudah ada standard-standard International/National HSE seperti:
  • ISO 14001 untuk Sisten Manajemen Environment
  • OHSAS 18001 untuk Occupational Health and Safety.
  • OSHA untuk Occupational Health and Safety
  • K3 untuk Occupational Health and Safety (standard Depnaker – Indonesia)
  • ISM – untuk Occupational Heath and Safety
Di beberapa Perusahaan besar dan Perusahaan Oil & Gas, fungsi HSE ditempatkan di- leher Direktur atau Dir.Utama, tujuannya agar HSE tidak memihak ke-salah satu fungsi dalam suatu organisasi / independent.

Di beberapa perusahaan HSE ini disebut pula SHE dibawah divisi QHSE. Mengapa??? Karena yang diutamakan adalah Safety First (untuk mengetahui lebih lanjut mengenai safety first klik disini). Jadi SHE merupakan singkatan dari Safety, Health and Environment dengan motto "Safety 4 Business" dimana divisi QHSE langsung dibawah kontrol Direktur.

Untuk dasar landasan HSE biasanya mengacu pada aturan sistem K3LH yang dikeluarkan oleh Kemnaker dengan gabungan beberapa aturan yang dikeluarkan oleh holding.

Sumber: http://shepatranusa.multiply.com/journal/item/3/Apa_itu_HSE
Baca selengkapnyaApa Itu HSE?

Kode Etik Ergonomi

Berikut merupakan salah salah satu contoh kode etik ergonomi yang berlaku di Afrika Selatan atau Ergonomics Society of South Africa (ESSA). Kode etik semacam ini cocok diterapkan untuk ergonom yang bekerja sebagai konsultan ergonomi yang bekerja untuk klien dari perusahaan lain dan bukan untuk ergonom yang bekerja untuk perusahaan tempat dia bekerja. Secara umum, kode etik ini jua cocok untuk pihak-pihak terutama mahasiswa yang sedang melakukan penelitian ergonomi di lapangan (di suatu industri atau perusahaan) yang biasanya untuk kepentingan skripsi atau kerja praktik. Kode etik semacam ini sangat penting karena ergonom akan memasuki lingkungan organisasi atau perusahaan dimana dia bukan merupakan bagian dari organisasi atau perusahaan tersebut sehingga rawan terjadi konflik semacam konflik kepentingan atau konflik lainnya. Ditambah lagi ergonomi masih merupakan hal yang cukup “baru” dan “asing” bagi kebanyakan orang sehingga dimungkinkan akan memperbesar kemungkinan munculnya banyak “halangan” atau “rintangan” berupa konflik kepentingan atau konflik lainnya. Berikut kode etik ergonom:

Tanggung Jawab Profesional

Integritas profesional dan Kerahasiaan
  • Seorang ergonom harus memastikan privasi semua informasi rahasia yang diperoleh saat menjalankan tugas.
  • Seorang ergonom akan mengungkapkan informasi kepemilikan hanya dengan izin tertulis dari kliennya atau bila diperintahkan oleh hukum.
  • Seorang ergonom tidak boleh menggunakan informasi yang diperoleh selama konsultasi atau tugas untuk membahayakan klien atau untuk memperoleh manfaat bagi dirinya sendiri, atau untuk orang lain baik secara langsung atau tidak langsung.
  • Seorang ergonom tidak boleh, tanpa persetujuan eksplisit dari individu yang bersangkutan, berkomunikasi atau menggunakan informasi pribadi yang diperoleh selama penelitian yang dilakukan secara rahasia, untuk hal-hal lain di luar kontrak atau perjanjian.
Penyimpanan Data
  • Data yang dikumpulkan selama tugas harus disimpan minimal satu tahun.
  • Laporan ergonomis dan surat-surat yang relevan harus disimpan setidaknya selama empat tahun.
Integritas
  • Seorang ergonom harus memenuhi tanggung jawab profesional dengan penuh kejujuran. Secara rinci ergonom harus:
  • Obyektif dan tidak memihak setiap saat;
  • Menghormati fakta, menyatakan opini dengan jujur ​​dan berperilaku sedemikian rupa untuk mempertahankan integritas dan munculnya integritas;
  • Memberi informasi kepada klien (dengan cara yang tepat) jika ada kesalahan atau eror yang telah dibuat.
  • Membuat rekomendasi dan saran dengan itikad baik dan melakukan upaya yang wajar untuk memastikan bahwa rekomendasi tersebut layak dan dapat dijalankan.
Konflik kepentingan
  • Seorang ergonom setiap saat menghindari situasi dimana konflik kepentingan atau potensi konflik kepentingan mungkin timbul. Konflik kepentingan dapat mempengaruhi loyalitas ergonom terhadap klien.
  • Seorang ergonom harus memberitahukan klien saat terjadi konflik kepentingan atau saat muncul potensi konflik kepentingan dengan segera ketika ia sadar dengan situasi tesebut; ergonomi akan perlu meminta izin untuk melanjutkan proyek atau tugasnya.
  • Seorang ergonom akan bertindak untuk kepentingan klien secara umum dalam melaksanakan semua pekerjaan. Seorang ergonom harus menghindari  situasi di mana ada konflik kepentingan atau harus memberikan pengungkapan penuh konflik-konflik tersebut kepada semua pihak yang berpotensi terkena dampak. Seorang ergonom tidak akan bekerja pada proyek yang sama untuk dua atau lebih klien yang memiliki kepentingan bersaing.
Tanggung Jawab dan Kewajiban terhadap Masyarakat

Kewajiban Umum
Seorang ergonom harus bertindak dengan penuh kejujuran, integritas dan ketidakberpihakan dan menunjukkan kemampuannya setiap saat di dalam pekerjaan atau tugasnya.

Publisitas
Seorang ergonom dipersilahkan untuk mempresentasikan kompetensi dan keahliannya dalam iklan atau presentasi. Namun, ergonom tidak boleh:
  • Mengklaim keterampilan yang dia tidak miliki.
  • Memberikan presentasi yang menyesatkan.
  • Melakukan tindakan yang merugikan kolega.
Tanggung Jawab dan Kewajiban terhadap Profesi
  • Seorang ergonom harus selalu mencari cara untuk meningkatkan kompetensinya.
  • Seorang ergonom akan memberikan kontribusi bagi perkembangan profesi ergonomi sebanyak mungkin misalnya: 
  1. Dengan berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan rekan lain, 
  2. Dengan memberikan pelatihan dan bimbingan ergonomi,
  3. Dengan berkontribusi kepada asosiasi profesi ergonom.
Tanggung Jawab dan Kewajiban terhadap Klien
  • Sesuai dengan tanggung jawab dan kewajibannya kepada orang lain, seorang ergonom harus bertindak untuk kepentingan klien dan dalam batas-batas kontrak atau perjanjian.
  • Seorang ergonom wajib menyediakan informasi yang jelas kepada klien.
Tanggung Jawab dan Kewajiban terhadap Kolega
  • Saat seorang ergonom berhadapan dengan perbuatan yang salah dalam lingkup koleganya, dia harus mencoba mengatasi masalah tersebut langsung dengan pihak yang berkepentingan. Jika masalah tidak dapat diselesaikan melalui diskusi, dia harus menyerahkan masalah tersebut kepada pimpinan kolega.
  • Apabila ada perbedaan pendapat, Seorang ergonom harus menghindari perbuatan atau perkataan yang dapat merusak reputasi kolega.
Baca selengkapnyaKode Etik Ergonomi

Bagaimana Ergonomi Bisa Menguntungkan?

Telah diketahui bersama bahwa penerapan ergonomi yang tepat di lingkungan kerja akan memberikan efek positif pada semua pihak. Bagi perusahaan mendapatkan keuntungan karena terdapat penghematan dan adanya perbaikan produktivitas yang nantinya akan memberikan efek positif terhadap profit. Bagi pekerja juga mendapatkan keuntungan yakni safety meningkat, kesehatan lebih terjamin, lebih “nyaman” dalam bekerja, usabilitas alat kerja meningkat (semakin mudah digunakan dan optimal) dan pada akhirnya kualitas kehidupan saat bekerja menjadi lebih baik.

Keuntungan bagi pihak pekerja memang sudah tidak diragukan lagi kebenarannya namun keuntungan untuk pihak perusahaan masig banyak yang meragukannya. Banyak pihak yang bertanya, bagaimana ergonomi dapat menguntungkan perusahaan? Jawabannya sudah disebutkan yakni ergonomi akan memberikan penghematan dan adanya perbaikan produktivitas yang nantinya akan memberikan efek positif terhadap profit. Jawaban tersebut sudah sangat jelas dan banyak terbukti namun banyak pihak terutama mereka yang awam yang belum puas dengan jawaban tersebut. Mereka mempertanyakan bagaimana proses detailnya ergonomi bisa menguntungkan. Berikut akan dijelaskan salah satu versi bagaimana ergonomi bisa menguntungkan (sebenarnya penjelasan ini sudah pernah dimuat pada tulisan sebelumnya namun pada tulisan ini akan disajikan dengan lebih ringkas dan sederhana, untuk melihat tulisan sebelumnya klik disini).

Pada dasarnya, pada sebuah perusahaan/industri terutama di lantai produksi, terdapat hal-hal yang membuat jadi tidak untung. Hal-hal tersebut dinamakan waste. Waste secara kasar dapat diartikan sebagai ‘sampah’ atau hal-hal yang tidak berguna, tidak member nilai tambah, tidak bermanfaat, dan merupakan pemborosan.

Waste ada 12 jenis dan terbagi menjadi dua yakni 7 waste yang diidentifikasi oleh Taiichi Ohno sebagai bagian dari sistem produksi Toyota dan 5 additional waste yakni jenis waste yang ditambahkan oleh referensi atau sumber lain. 12 waste meliputi:
  1. Produksi berlebih (overproduction). Overproduction adalah produksi produk dengan jumlah lebih banyak dari permintaan konsumen atau melebihi jumlah yang dibutuhkan. Overproduction merupakan jenis waste yang paling parah dibandingkan yang lain, karena diperlukan tambahan usaha penanganan bahan, tempat tambahan untuk menyimpan persediaan, dan tenaga tambahan untuk memantau persediaan, dokumen tambahan, dan lain-lain. Overproduction juga bisa disebabkan oleh produksi yang dikerjakan sebelum waktunya. Jika hal ini terjadi, maka biaya material dan upah pekerja bertambah sedangkan nilai hasil kerja tidak bertambah.
  2. Waktu tunggu (waiting). Waiting meliputi seluruh waktu yang membuat proses produksi terhenti. Beberapa referensi menyebutkan bawah waiting waste juga terjadi pada operator yang hanya mengamati jalannya mesin otomatis. Pemborosan ini terjadi karena pekerjaan dilakukan sepenuhnya oleh mesin dan operator tidak melakukan pekerjaan apapun.
  3. Transportasi berlebih (inefficient transportation). Transportation atau transportasi merupakan pergerakan barang, baik material, work in progress (WIP), atau barang jadi yang memiliki resiko kerusakan, kehilangan, penundaan, dan lain sebagainya, serta menambah biaya tanpa memberikian nilai lebih. Transportasi pasti ada di setiap produksi, namun jika transportasi tersebut berlebihan atau tidak efisien maka harus diminimalkan.
  4. Proses yang tidak sesuai (inappropriate processing). Inappropriate processing meliputi semua aktivitas dalam proses produksi yang seharusnya tidak perlu ada. Inappropriate processing umumnya terjadi jika peralatan produksi tidak terawat, kurang siap pakai, atau kurang sempurna baik tingkat akurasi, fleksibilitas, integrasi otomatisasi dan sebagainya, sehingga operator harus mengeluarkan usaha  lebih banyak.
  5. Persediaan yang tidak perlu / berlebih (unnecessary inventory). Bentuk waste ini bisa berupa persediaan material, barang work in progress (WIP), maupun barang jadi yang menambah pengeluaran dan belum menghasilkan pemasukan, baik oleh produsen maupun untuk konsumen. Ketiga jenis bentuk inventory di atas tidak diproses dengan segera hingga menghasilkan nilai tambah.
  6. Gerakan yang tidak perlu (unnecessary motion). Bentuk unnecessary motion berupa gerakan manusia / individu (operator, foreman dan orang-orang yang berhubungan langsung dengan produksi) atau peralatan yang berlebihan, tidak efektif, dan tidak memberikan nilai tambah bagi jalannya proses produksi.
  7. Produk cacat (defects). Defects merupakan kecacatan kualitas yang terjadi dalam proses maupun produk akhir akan menghambat pengiriman produk. Selain itu, dibutuhkan usaha dan biaya tambahan untuk penangan produk cacat seperti rework dan pembuangan. Diperlukan proses tambahan dalam usaha untuk memperoleh kembali nilai dari produk yang cacat tersebut.
  8. Underutilized people. Underutilized people merupakan waste karena pekerja yang tidak mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya baik mental, kreativitas, ketrampilan, dan kemampuan fisik.
  9. Danger. Danger merupakan ketidakamanan (unsafe) area kerja. Danger berkaitan dengan resiko kecelakaan kerja akibat hazard. Setiap pekerjaan pasti memiliki resiko bahaya dan resiko tersebut harus diminimalkan.
  10. Poor information. Poor information merupakan wujud dari buruknya aliran informasi dalam proses produksi.
  11. Loss of materials. Loss of materials merupakan ketidaksesuain jumlah material yang digunakan dengan output produksi yang diharapkan.
  12. Breakdown. Breakdown merupakan kerusakan pada mesin atau alat produksi.
Waste-waste di atas dapat diatasi dengan mengoptimalkan empat elemen yakni 1) sistem dan proses manufaktur 2) teknik produksi 3) riset operasi dan 4) ergonomi (untuk mengetahui lebih lanjut mengenai empat elemen dalam industri klik disini).

Pada dasarnya, semua elemen dalam industri tersebut saling berkaitan dan agar waste tersebut dapat diatasi secara optimal maka keempat elemen tersebut harus bersinergi satu sama lain. Namun, secara umum dapat disebutkan bahwa ada beberapa waste dimana untuk mengatasinya diperlukan peran bidang ergonomi yang paling signifikan. Waste tersebut antara lain:
  • Transportasi berlebih (inefficient transportation). Waste ini dipelajari dalam bidang desain alat kerja (misal untuk kasus material handling dan poor close coupling), analisis postur kerja (misal untuk kasus manual material handling) dsb.
  • Gerakan yang tidak perlu (unnecessary motion). Waste ini dipelajari dalam bidang motion and time study.
  • Underutilized people. Waste ini dipelajari dalam bidang produktivitas manusia dan hubungannya bisa melebar ke bidang lain seperti ergonomi lingkungan, ergonomi organisasi, ergonomi kognitif, manajemen shift, human error dsb.
  • Danger. Waste ini dipelajari dalam bidang occupational safety and health atau kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
  • Poor information. Waste ini dipelajari dalam bidang ergonomi kognitif, ergonomo organisasi dsb.
Dari informasi diatas dapat dilihat bahwa hampir separuh dari waste yang ada dapat diatasi dengan ergonomi. Hal ini membuktikan bahwa ergonomi itu memang sangat menguntungkan.
Baca selengkapnyaBagaimana Ergonomi Bisa Menguntungkan?

Tantangan Ergonomi

Ergonomi mayoritas diterapkan di lingkungan industri dimana lingkungan ini sangat dinamis. Perubahan selalu terjadi di industri terutama akibat adanya perubahan teknologi yang tiada hentinya. Dahulu, Frederic Charless Barlett pernah memprediksi bagaimana tantangan ergonomi pada 40 tahun yang akan datang yang ternyata cukup akurat dan sesuai dengan kondisi sekarang. Barlett memprediksikan perkembangan teknologi otomasi dan komunikasi akan menjadi tantangan yang berarti bagi ergonomi. Perkembangan teknologi tersebut mengakibatkan perubahan di aktivitas dan budaya kerja. Ini artinya ergonomi juga selalu berubah dan ergonomi di era dulu berbeda dengan ergonomi di era sekarang. Prediksi Barlett lebih kurang:
  • Isolasi fisik individu di tempat kerja.
  • Permintaan teknologi komunikasi yang lebih besar.
  • Beban kerja fisik berkurang sementara beban kerja mental bertambah.
  • Kombinasi kerja, maksudnya kerja-kerja yang tadinya dilakukan oleh beberapa orang menjadi dilakukan oleh seorang saja.
  • Adanya dorongan atau motivasi kerja yang lebih beraneka ragam.
  • Tekanan yang lebih besar pada pengambilan keputusan (decision making).
  • Jam kerja yang berkurang dan waktu senggang pekerja yang meningkat.
Baca selengkapnyaTantangan Ergonomi

Satu Tahun Tragedi BP di Teluk Meksiko

Keluarga dari korban meledaknya pengeboran minyak Deepwater Horizon memperingati satu tahun tragedi yang kemudian menyulut polusi laut terbesar dalam sejarah dan mencemari pantai mulai Texas hingga Florida, AS.

Tragedi itu tertanggulangi setelah 87 hari, dengan hasil 4,9 juta barel minyak mentah tumpah ke teluk Meksiko, mencemari ribuan mil pantai Amerika Serikat dengan kerugian ekonomi mencapai puluhan miliar dollar.

Hingga saat ini, satu tahun setelah tragedi yang menewaskan 11 orang pekerja itu, bangkai lumba-lumba yang diselimuti minyak masih sering ditemukan di pantai-pantai yang tercemar. Dan kini 120.000 orang menanti kompensasi akibat tragedi itu.

Presiden Barack Obama berjanji akan melakukan berbagai cara untuk memperbaiki kondisi lingkungan di kawasan yang berhadapan langsung dengan Teluk Meksiko.

"Pemerintahan yang saya pimpin berjanji melakukan hal-hal yang dirasa perlu untuk melindungi dan memperbaiki kawasan pesisir teluk Meksiko," kata Obama.

"Sejak awal, pemerintah terus berupaya dengan sumber daya yang ada memperbaiki kerusakan akibat pencemaran minyak terburuk dalam sejarah negeri ini," lanjut Obama.

"Sekitar 48.000 orang masih bekerja tanpa lelah untuk memperbaiki lingkungan yang tercemari minyak. Hingga ada perkembangan signifikan, pekerjaan ini tidak akan berhenti," janji Obama.

Tumpahan minyak Deepwater Horizon hampir 20 kali lebih buruk ketimbang bencana serupa saat kapal tanker Exxon Valdes tenggelam tahun 1989.

Akibat bencana itu BP mengalami kerugian US$40,9 miliar atau sekitar Rp 384 triliun. Perusahaan ini juga menyediakan US$20 miliar atau hampir Rp172 triliun untuk membayar ganti rugi kepada masyarakat, pemerintah AS dan untuk perbaikan lingkungan yang tercemari minyak.

Penyebab Tragedi

Sampai saat ini belum jelas apa yang menjadi penyebab terjadinya tragedi ini. Beberapa pihak menyebutkan bencana itu terjadi akibat BP dan mitranya keliru mengambil kebijakan demi penghematan. Karena langkah penghematan Itulah, BP dan mitranya tidak memberlakukan sistem yang mampu memastikan keamanan tindakan mereka. "Baik disengaja maupun tidak, banyak putusan BP, Halliburton, dan Transocean yang justru meningkatkan risiko ledakan Macondoyang jelas-jelas telah menghemat waktu dan uang mereka". Demikian hasil penyelidikan tim panel kepresidenan AS yang ditulis dalam laporan 48 halaman. Namun laporan ini juga masih membingungkan karena hasil penemuan ini berbeda dari laporan tim pada November lalu. Saat itu, tim menyatakan tidak ada bukti bahwa pengerjaan di proyek Macondo memotong kompas demi penghematan.

Salah seorang anggota komisi penyelidik, Don Boesch, kepada BBC menyebutkan, tidak semua kesalahan ditimpakan kepada BP semata, meski perusahaan itu memikul seluruh tanggung jawab. "Sebagai contoh, tidak ada uji kelayakan terhadap penutup dasar sumur Itu jelas kesalahan dari Halliburton," kata Boesch. "Saat sumur meledak, Transocean mengambil keputusan terkait material yang terangkat ke permukaan.

Sumber: BBC Indonesia, bataviase.co.id
Baca selengkapnyaSatu Tahun Tragedi BP di Teluk Meksiko

Mengambil Pelajaran dari PLTN Fukushima Daiichi Jepang

Ringkasan Deskripsi Kejadian

Telah diketahui umum bahwa seteleh bencana gempa Jepang 11 Maret 2011 lalu terjadi ledakan di PLTN Fukushima Daiichi. Ledakan di PLTN Fukushima Daiichi terjadi pada PLTN unit 4 yang sedang dalam perawatan rutin dan seluruh bahan bakar dikeluarkan dari RPV (Reaktor Pressure Vessel) dan ditaruh di kolam penyimpanan bahan bakar bekas.

Saat kejadian gempa dan tsunami 11 Maret 2011, PLTN Fukushima Daiichi Unit 1, 2, dan 3 dalam keadaan beroperasi, sementara unit 4, 5, dan 6 tidak beroperasi dikarenakan sedang dalam perawatan rutin. Seluruh PLTN yang sedang beroperasi (unit 1, 2, dan 3) dapat dimatikan (shutdown/scram), yang menunjukkan sistem pengendalian otomatis berfungsi dengan baik. Pada saat itu seluruh catu daya listrik ke PLTN mati, karena jaringan listrik rusak oleh gempa.

Diesel generator sebagai back up listrik untuk menjalankan sistem pendingin juga berfungsi. Walaupun begitu, meskipun reaktor sudah padam, tetapi masih ada panas sisa (decay heat) yang harus dibuang. Terganggunya pembuangan panas dari reaktor inilah yang menyebabkan terjadinya reaksi pembentukan gas hidrogen dan meledakkan bagian gedung.

Saat tsunami menerjang sistem pendingin pada kolam penyimpanan bahan bakar bekas mati. Hal ini menjadikan kolam panas, sehingga terjadi penguapan dan menurunkan ketinggian air kolam. Bahan bakar yang tidak terendam air masih dapat menghasilkan hidrogen dan akhirnya terjadi ledakan, setelah konsentrasi gas hidrogen melebihi kondisi yang ditolelir.

Secara kimiawi hal tersebut dikenal sebagai proses UAP-Zirkaloy yang menghasilkan gas hidrogen. Reaksi hidrogen-oksigen mengakibatkan timbulnya ledakan pada gedung reaktor bagian atas.

Pasca ledakan, kolam diisi dengan air dari laut, dan setelah listrik tersedia, dilakukan pendinginan. Dengan mengisikan air laut ke dalam reaktor vessel atau kolam, berarti bahwa reaktor harus ditutup untuk selama-lamanya.

Apa Saja Kesalahan Desain yang Sudah Teridentifikasi?

Hidehiko Nishiyama, juru bicara badan keselamatan nuklir dan industri (Nisa), mengatakan mengenai Perusahaan Listrik Tokyo (Tepco) "Terlepas dari adanya kesadaran mengenai tingkat radiasi yang tinggi atau tidak, yang pasti ada masalah dari cara mereka bekerja,"  Berikut disebutkan apa saja masalah berupa kesalahan desain sistem kerja yang telah teridentifikasi pada masalah ini (ada yang berasal dari badan resmi ada pula yang baru dugaan ahli):
  • Terdapat kesalahan design pembangunan PLTN, peletakan mesin diesel yang lebih rendah dibawah permukaan laut, posisi ini lebih rendah dibanding letak reaktornya, sehingga saat terjadi tsunami, disel terendam air tsunami sehingga menyebabkan kerusakan dan tidak bisa bekerja untuk mendinginkan teras reaktor. Sedangkan bangunan sendiri telah didisain dengan standar tahan gempa hingga 9 SR. Hal tersebut tampak, tidak ada kerusakan berarti dari bangunan reaktor meski terjadi gempa dengan skala 9 SR.
  • Badan atom Jepang juga menyatakan bahwa operator PLTN Fukushima telah melakukan beberapa kesalahan diataranya seragam yang dipakai oleh para pekerjanya. Perlu diketahui bahwa tiga pekerja Tepco terkena tingkat radiasi 10 ribu kali lebih tinggi dari ambang normal.
  • Pasca gampa dan tsunami sepertinya PLTN kurang transparan. Pemerintah Jepang mengatakan Perusahaan Listrik Tokyo (Tepco) harus bisa lebih benar dalam memberikan informasi. Perlu diketahui bahwa krisis semacam ini tidak bisa diselesaikan hanya dalam waktu hitungan hari namun bisa hitungan minggu bahkan berbulan-bulan dan menyangkut kepentingan banyak orang oleh karena itu keterbukaan dalam menghadapi krisis kebocoran radiasi memang penting.
Apa beda PLTN Fukushima dengan PLTN Chernobyl?

Banyak orang juga berpikir, apakah yang terjadi di Fukushima ini akan seperti yang terjadi di Chernobyl Rusia, tahun 1986, yang menyebabkan seluruh masyarakat dunia ketakutan.

Kondisi antara yang terjadi di Fukushima dan Chernobyl sangat berbeda. Dalam sistem PLTN, terdapat beberapa komponen, salah satunya moderator, nah yang terdapat di Chernobyl, moderatornya merupakan Grafit dan Air. Pada dasarnya, secara teori, paduan grafit dan air sangat dilarang dalam teknologi nuklir, karena reaksi grafit dan air sangat reaktif. Pada Chernobyl, PLTN di deisain semakin panas makin kuat dan bertenaga, kondisi ini juga sangat tidak disarankan dalam PLTN.

Beda halnya Fukushima, didisain makin panas, makin tidak bertenaga. Saat terjadi ledakan di Chernobyl, reaktor tidak dimatikan, ini tidak sesuai SOP pengoperasian PLTN. Akibatnya separuh bahan bakar nuklir di reaktor keluar dan terbang keatas yang menyebabkan radiasi tinggi, separuh bahan bakar lagi meleleh ke tanah, yang menyebabkan radiasi berkepanjangan. Sedangkan di Fukushima tidak sampai terjadi bahan bakar yang meleleh ambles kedalam tanah dan terbang keluar yang menyebabkan radiasi tinggi, yang terjadi hanya kebocoran radiasi akibat keterlambatan suplai air pendingin.

Jadi kesimpulannya, krisis PLTN Fukushima memang termasuk kasus yang “gawat” namun berita-berita di koran atau TV yang “menyamakan” kasus PLTN Fukushima dan PLTN Chernobyl itu bisa dibilang terlalu berlebihan dan tidak objektif serta mengakibatkan ketakutan yang berlebihan.

Untuk mengetahui deskripsi bencana PLTN Chernobyl klik disini.

Apa pelajaran yang bisa diambil?

Desain Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) masa depan harus menitikberatkan pada sistem keselamatan pasif dan inhern safety fiture yang menjamin keselamatan reaktor dalam keadaan apapun. Hal tersebut disampaikan Deputi Pengembangan Teknologi Energi Nuklir BATAN, Ir. Adiwardojo, pada Seminar Energy Mining Press Club yang mengangkat tema ‘Belajar dari Kecelakaan PLTN Fukushima-Daichi Jepang dan Program PLTN di Indonesia’ di Hotel Bidakara Jakarta, (28/3) lalu.

Menurutnya, selain menitikberatkan pada sistem keselamatan pasif dan inhern safety fiture, ke depan kajian dalam penentuan site/tapak PLTN, harus mengantisipasi kejadian paling buruk yang dapat terjadi (sebagai Design Basic Accident).

Mari kita doakan agar krisis PLTN Fukushima ini cepat terselesaikan sampai tuntas dan korban bencana gempa dan tsunami Jepang serta korban krisis PLTN diberi ketabahan dan kekuatan.

Sumber:
  • http://www.esdm.go.id/news-archives/323-energi-baru-dan-terbarukan/4333-belajar-dari-pltn-fukushima-daiichi-desain-pltn-harus-menjamin-keselamatan-reaktor-dalam-segala-kondisi.pdf
  • http://citizen6.liputan6.com/read/325983/tragedi_fukushima_dan_pembangunan_pltn_di_indonesia
  • Tulisan Timur Arif Riyadi (Jurnas.com)
Baca selengkapnyaMengambil Pelajaran dari PLTN Fukushima Daiichi Jepang

Proses Implementasi Ergonomi di Perusahaan

Ergonomi merupakan ilmu untuk merancang atau mendisain lingkungan kerja atau pekerjaan agar sesuai dengan pekerjanya ( fit the job to the man).

Bagaimana mendisain program ergonomi di tempat kerja, berikut ada sedikit gambaran dan pendekatan yang bisa kita gunakan untuk menerapkan ergonomi di tempat kerja.

3 Langkah Awal Untuk Membangun Program Ergonomi di Tempat Kerja:
  1. Membangun komitmen dari manajemen (ini sangat diperlukan dalam setiap penerapan program, karena sistem yang baik harus ditunjang oleh dukungan dari top management).
  2. Mengadakan pelatihan ergonomi untuk mendorong adanya partisipasi dari seluruh karyawan.(memeberikan pengetahuan kepada pekerja akan pentingnya penerapan ergonomi demi meningkatkan produktivitas di tempat kerja).
  3. Membentuk working group yang bertanggung jawab untuk penerapan program ini (tim P2K3/ HSE)
Perancangan Program Ergonomi Dapat Dilakukan Dengan 2 Pendekatan
  1. Pendekatan Reaktif, yaitu perancangan program dilakukan untuk memperbaiki kondisi lingkungan kerja yang sudah ada agar lebih ergonomis, sehat dan aman.
  2. Pendekatan Pro Aktif, yaitu perancangan program dilakukan untuk membuat kondisi lingkungan kerja yang baru agar lebih ergonomis, sehat dan aman.
Sumber: http://kasmancepu.wordpress.com/2009/03/05/proses-implementasi-ergonomi-di-perusahaan/
Baca selengkapnyaProses Implementasi Ergonomi di Perusahaan

Profesi Baru yang Menjanjikan sebagai Ergonom

“Apa itu ergonom? Oooo profesi  Anda itu sejenis ekonom?”

Seorang ergonom kebingungan menghadapi pernyataan di atas dalam sebuah obrolan, karena memang sebagian besar  masyarakat Indonesia tidak mengenal ergonom sebagai sebuah profesi. Ketika disebutkan ergonomi mereka akan menangkapnya sebagai ekonomi atau ada yang menangkapnya agronomi.

Sosialisasi mengenai ergonomi sebagai sebuah disiplin ilmu yang sejajar dengan ilmu yang lain semakin giat dilakukan di Indonesia. Terlebih setelah berdirinya organisasi profesi Persatuan Ergonomi Indonesia (PEI). Hal ini diharapkan agar profesi ergonom semakin berkembang dan dapat memberikan kontribusinya dalam pembangunan di Indonesia.

Apakah Ergonomi itu?

Ergonomi yang berasal dari bahasa Yunani, ergon yang berarti kerja dan nomos yang berarti hukum adalah sebuah disiplin ilmu yang mempelajari secara holistik interaksi antara manusia dengan elemen-elemen lain (mesin, lingkungan kerja, lingkungan sosial) dalam sistem kerja. Fokus dari ergonomi adalah manusia. Tujuan dari ergonomi adalah terciptanya sebuah sistem kerja yang nyaman, sejahtera dan efisien. Pada akhirnya ergonomi bertujuan untuk :
  • Meningkatkan produktivitas
  • Meningkatkan kualitas kerja (work life)
  • Menurunkan biaya karena waktu yang tidak produktif
Siapakah Ergonom Itu?
Ergonom atau dalam bahasa Inggris disebut ergonomist adalah orang yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan mengenai ergonomi yang bertugas untuk menganalisa, merancang dan menyelesaikan permasalahan ergonomi sehingga dapat menciptakan sebuah sistem yang optimal dan sejahtera untuk manusia yang terlibat di dalamnya.

Bagaimana Menjadi Ergonom?
Untuk menjadi ergonom diperlukan pengetahuan dan praktek ilmu ergonomi. Di Indonesia belum terdapat jurusan khusus ergonomi, tetapi disiplin ilmu ini sebagian besar dipelajari di Teknik Industri, Kedokteran, Desain, dan Ilmu Olahraga.

Setelah belajar pada jenjang strata satu, seseorang yang bercita-cita menjadi ergonom dapat melanjutkan ke strata dengan mengambil salah satu disiplin dalam ergonomi secara lebih spesifik, misalnya kekhususan biomekanika, interaksi manusia computer (human-computer interaction) dan lain-lain.

Bagaimana Prospek Profesi Ergonom?
Dengan meningkatnya kesadaran penerapan aplikasi ergonomi dalam sistem kerja di Indonesia, kebutuhan ergonom juga meningkat. Multinational company yang mengikuti aturan kerja internasional bahkan harus memenuhi kualifikasi ergonomis tertentu sebagai persyaratan dalam sertifikasi. Ergonom akan diperlukan untuk membantu merancang sistem kerja yang produktif, efisien, efektif, nyaman dan aman. Secara mudah dapat diambil contoh, peranan ergonom untuk mengurangi angka kecelakaan kerja yang tentu berdampak secara sosial dan finansial pada perusahaan.

Bagaimana Pengakuan Terhadap Profesi Ergonomi?
Terdapat proses sertifikasi  bagi ergonom secara professional yang memenuhi kualifikasi yang ditetapkan oleh organisasi ergonomi internasional, Internasional Ergonomics Association  (IEA) melalui lembaga sertifikasi yang sudah diakui. Untuk mengikuti program sertifikasi,seorang ergonom harus memenuhi persyaratan tertentu seperti :
  • Mengambil mata kuliah yang terkait dengan disiplin ilmu ergonomi (paling umum adalah di program studi Teknik Industri atau Kesehatan Masyarakat /Kedokteran)
  • Mempunyai pengalaman aplikasi ergonomi selama kurun waktu tertentu
  • Lulus dalam tes tertulis
Profesi ergonomi adalah sebuah profesi yang menjanjikan. Ketika manusia masih menjadi sentral dalam sebuah sistem, profesi ini akan terus dibutuhkan.

Sumber: http://www.anneahira.com/ergonom.htm
Baca selengkapnyaProfesi Baru yang Menjanjikan sebagai Ergonom

Yang Betul “Ergonomi” atau “Ergonomika”?

Saya memang bukan ahli tata bahasa, tapi saya cukup tertarik dengan penggunaan bahasa yang tepat untuk ilmu ergonomi apakah “ergonomi” atau “ergonomika” atau mungkinkah keduanya memiliki perbedaan fungsi kata. Untuk mempermudah, kita ambil ilmu yang pengucapannya mirip dengan ergonomi yakni ekonomi. “Ilmu ekonomi” jika ditranslate ke bahasa Inggris adalah “economics”. Namun selain “economics”, dalam bahasa Inggris terdapat kata “economy”. Saya sendiri kurang tahu perbedaan “economics” dan “economy” atau mungkin keduanya justru sama namun dari literatur dan artikel yang berbahasa Inggris sepertinya kata “economics” lebih tepat dan lazim dipakai untuk didefinisikan sebagai “ilmu ekonomi” sedangkan kata “economy” lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang bersifat ekonomis seperti “economy class” dsb dan tidak digunakan untuk didefinisikan sebagai “ilmu ekonomi”. Contohnya fakultas ekonomi dalam bahasa Inggris adalah “faculty of economics” dan bukan “faculty of economy”. Menariknya lagi beberapa universitas paling terkemuka di Indonesia baru-baru ini sudah mengganti nama “fakultas ekonomi” menjadi “fakultas ekonomika”. Dari sini mulai terlihat bahwa kata “ekonomi” sendiri mungkin kurang pas dipakai untuk didefinisikan sebagai “ilmu ekonomi” sehingga diganti menjadi “ekonomika” (mohon dikoreksi jika salah). Lalu bagaimana dengan “ergonomi”? Kata “ergonomi” sebenarnya mirip dengan “ekonomi”. Dalam Bahasa Inggris penggunaan yang lazim adalah “ergonomics” dan bukan “ergonomy”. Jadi apakah kata “ergonomika” lebih tepat dipakai?????

Sebagai tambahan, pada situs Wikipedia tergambarkan bahwa penggunaan kata “ergonomi” kurang tepat dan yang lebih tepat adalah “ergonomika”. Selengkapnya klik disini. Namun seperti kita ketahui bahwa pada situs Wikipedia tidak ada jaminan bahwa informasi yang terkandung dimuatnya adalah benar karena siapa saja bisa menulis di website tersebut tapi juga tidak menutup kemungkinan bahwa informasi tersebut adalah benar.
Baca selengkapnyaYang Betul “Ergonomi” atau “Ergonomika”?

Hubungan Ergonomi dan Departemen HSE

Pada postingan terdahulu pernah disebutkan bahwa salah satu bagian kerja yang cocok untuk seorang ergonom adalah pada departemen HSE (untuk membaca kembali postingan klik disini). Lalu apa sebenarnya hubungan ergonomi dan HSE? HSE adalah singkatan dari Health, Safety, dan Environment, sedangkan ergonomi mempunyai empat moto dasar yakni Safety, Health, Productivity, dan Humanity. Dari sini saja sudah mulai tergambarkan bahwa hubungan ergonomi dan HSE adalah concern di Health dan Safety pada tempat kerja. Sebenarnya pada dasarnya Health and Safety itu hanya sebagian dari ilmu ergonomi karena ilmu ergonomi selain membahas Health dan Safety juga sering membahas produktivitas kerja. Jadi HSE adalah bagian dari ergonomi kecuali Environment yang membahas lingkungan atau ekologi (sebenarnya ilmu ekologi masih ada hubungan erat dan kesamaan dengan ergonomi dan mungkin itu yang menyebabkan Health & Safety (HS) dan Environment (E) digabung menjadi HSE, selengkapnya klik disini). Walaupun secara ilmu “HSE tanpa E” adalah bagian dari ergonomi namun dalam proses dan penerapan, ergonomi lebih sering dipandang sebagai sebuah “tool” untuk mencapai tujuan tertentu, apa tujuan itu? Tujuan tersebut adalah Health dan Safety. Jadi disini ergonomi “terlihat” sebagai bagian dari HSE dan pada kenyataannya pada perusahaan sering kali terdapat bagian khusus ergonomi di bawah naungan departemen HSE. Hal tersebut sah-sah saja toh yang penting tujuannya adalah sama yakni Health dan Safety di tempat kerja.

Backgorund Pendidikan yang Tepat untuk Posisi HSE

Departemen atau bagian HSE sangat terkenal terutama di perusahaan atau industri pertambangan dan manufaktur. Saat ini industri lain seperti transportasi pun sudah mulai mengintensifkan bagian ini, tidak hanya di perusahaan swasta tapi juga BUMN. Lalu background pendidikan apa saja yang cocok untuk bagian HSE? Yang paling cocok sudah pasti dari jurusan ergonomi, namun di Indonesia belum ada jurusan dan program studi ergonomi (di negara lajn pun masih jarang). Satu-satunya yang saya ketahui yang menggunakan nama ergonomi adalah pendidikan master ergonomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali. Namun selan itu itu ada beberapa program studi lain yang banyak mempelajari ergonomi, untuk selengkapnya baca disini. Salah satu yang paling banyak porsi ergonominya adalah Teknik Industri. Namun saya menyesalkan banyaknya lowongan-lowongan perusahaan bagian HSE dan sejenisnya yang sangat jarang menyertakan sarjana Teknik Industri. Penyebab pastinya saya tidak tahu, entah karena teknik industri termasuk ilmu baru yang belum terkenal, entah apakah mereka tidak tahu bahwa di teknik industri mempelajari ergonomi dan K3 dengan sangat intens, atau mungkin ada alasan lain. Tetapi saya menekankan bahwa salah satu beckground pendidikan yang tepat untuk posisi HSE adalah teknik industri (bahkan mungkin yang paling pas). Untuk mengetahu apa saja yang dipelajari di teknik industri termasuk ergonomi dan K3 klik disini. Saat ini kebanyakan lowongan HSE membutuhkan background pendidikan seperti Public Health / Kesehatan Masyarakat, Kedokteran, Teknik Lingkungan, dan Teknik Mesin. Kalau menurut versi saya, background pendidikan yang tepat untuk posisi HSE dengan urutan prioritas adalah:

Untuk HS (Health & Safety):
  1. Industrial Engineering / Teknik Industri (selain ergonomi dan K3, teknik industri juga mempelajari mesin-mesin sehingga seorang sarjana teknik industri cukup paham desain mesin dan otomatis lebih tahu bagaimana supaya mesin itu lebih “aman”, hal ini tidak lain karena teknik industri itu sendiri merupakan “pecahan” dari teknik mesin).
  2. Public Health / Kesehatan Masyarakat (banyak membahas K3).
  3. Medical / Kedokteran terutama spesialis okupasi (SPOk).
Untuk E (Environment):
  1. Environmental Engineering / Teknik Lingkungan.
  2. Industrial Engineering / Teknik Industri (di teknik industri juga mempelajari manajemen limbah industri yang erat kaitannya dengan environment, hal ini semakin memperkuat bahwa posisi HSE paling cocok untuk sarjana teknik industri).
Baca selengkapnyaHubungan Ergonomi dan Departemen HSE

Institusi Pendidikan Ergonomi di Indonesia

(Postingan ini untuk melengkapi postingan tentang institusi ergonomi sebelumnya, untuk melihat postingan sebelumnya klik disini)

Institusi di Indonesia yang mempelajari bidang ergonomi meliputi:
  • Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Institusi ini memiliki laboratorium ergonomi yang baik. UGM juga memiliki pendidikan di bidang psikologi dan kedokteran (termasuk pascasarjana ilmu kesehatan kerja) yang sangat terkenal dan sangat maju ditambah universitas ini memiliki kualitas pendidikan sosial yang bisa dibilang paling maju di Indonesia. Dengan adanya lingkungan pendidikan yang multidisiplin antara sosial dan sains atau teknik yang terintegrasi ini maka riset-riset di bidang yang berkaitan erat dengan keduanya (social-technical) seperti bidang teknik industri termasuk ergonomi bisa dengan mudah dikembangkan dengan baik. Hal ini terbukti dengan adanya kerjasama tenaga ajar di bidang ergonomi yang multidisiplin mulai dari teknik industri itu sendiri, psikologi (ergonomi kognitif), dan dokter (spesialis okupasi). Sebagai tambahan, teknik industri UGM juga masih satu fakultas dengan Magister Rekayasa Keselamatan Industri, suatu program studi yang masih berkaitan erat dengan ergonomi.
  • Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung. Institusi ini memiliki laboratorium perancangan sistem kerja dan ergonomi yang sangat aktif termasuk dalam publikasinya. Teknik industri ITB merupakan teknik industri yang pertama di Indonesia sehingga unggul dalam pengalaman. Selain itu, ITB merupakan pendidikan tinggi teknik terbaik di Indonesia sehingga dapat menunjang perkembangan ergonomi dengan maksimal. Di institusi inilah bertempat Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI) atau Indonesian Ergonomics Society (IES).
  • Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya. Institusi ini memiliki laboratorium ergonomi dan perancangan sistem kerja. Sama dengan ITB, ITS mempunyai sejarah pendidikan teknik yang sangat berkembang dan lengkap dan sangat menunjang perkembangan ilmu-ilmu di teknik termasuk ergonomi. Sebagai tambahan, ITS (tepatnya politekniknya) memiliki program studi teknik keselamatan dan kesehatan kerja (health & safety engineering), suatu program studi K3 (sangat berhubungan dengan ergonomi) yang sepanjang sepengetahuan saya merupakan satu-satunya yang berada di lingkup teknik / engineering. Hal ini merupakan sarana yang baik untuk bekerja sama mengembangkan ergonomi.
  • Teknik Industri, Fakultas Teknik, Unversitas Indonesia (UI) Depok dan Jakarta, Institusi ini memiliki fasilitas Ergonomic Center yang merupakan bagian dari Laboratorium Human Factor (Faktor Manusia) Departemen Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Institusi ini terletak di kawasan Jabodetabek yang merupakan pusat industri di Indonesia. Hal ini sangat mempermudah akses ke industri sehingga menunjang riset-riset ergonomi di lapangan. Ergonomics center UI juga memiliki riset multi disiplin dengan Fakultas Kedokteran UI (FKUI). Sebagai tambahan, FKUI juga memiliki satu-satunya spesialis okupasi di Indonesia. UI juga mempunyai Fakultas Kesehatan Masyarakat yang sangat menunjang perkembangan ilmu ergonomi terutama di bidang K3.
  • Program Master Ergonomi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali. Setahu saya, institusi ini merupakan satu-satunya institusi pendidikan di Indonesia yang menggunakan istilah “ergonomi” pada nama program studinya.
  • Institusi-institusi lainnya yang mempunyai laboratorium analisis perancangan kerja dan ergonomi (APK & E) seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Gunadarma dan masih sangat banyak lagi yang tersebar di seluruh Indonesia.
  • Institusi-institusi pendidikan lain yang bergerak di bidang psikologi, kedokteran, dan kesehatan masyarakat.
Baca selengkapnyaInstitusi Pendidikan Ergonomi di Indonesia

Kompetensi Kerja

Pada postingan sebelumnya sudah dibahas mengenai ergonomi dan kompetensi, untuk membacanya klik disini. Kompetensi menunjukkan tingkat keahlian, sikap dan pengetahuan seseorang terhadap task atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Kompetensi dipengaruhi oleh 4 hal yaitu pelatihan, pendidikan, pengalaman kerja dan keahlian (Nurmianto dan Terbit, 2002). Faktor yang paling berpengaruh adalah keahlian dari karyawan, sedangkan faktor lainnya kurang berpengaruh secara signifikan terhadap kompetensi karyawan (Nurmianto dan Ningdyah). Oleh karena itu jika kita menginginkan diri kita berkompeten dalam suatu pekerjaan maka pilihlah pekerjaan yang sesuai dengan keahlian kita dan syukur-syukur bisa sesuai dengan pendidikan dan pengalaman. Hal tersebut akan berdampak pada meningkatnya motivasi kerja dan selanjutnya akan berefek banyak sekali seperti meminimalisir stres kerja (karena biasanya keahlian sesuai bakat dan minat sehingga bisa menikmati kerja), meningkatkan kualitas kerja, dan yang terpenting karir bisa terus berkembang dan kualitas hidup akan meningkat. Keahlian biasanya muncul karena adanya minat (berupa hobi, passion dsb) dan bakat (biasanya alamiah ditambah pengalaman, kebiasaan atau pendidikan) terhadap suatu bidang. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang minat dan bakat klik disini.
Baca selengkapnyaKompetensi Kerja

Ergonomi dan Kompetensi

Ergonomi bertujuan efektifitas kerja yang dihasilkan oleh sistem manusia mesin meningkat, sambil tetap mempertahankan unsur kenyamanan dan kesehatan kerja sebaik mungkin (Nurmianto, 2004). Pendekatan dengan memakai data yang tersedia pada perancangan sistem yang ada. Data-data ini berupa kemampuan, keterbatasan dan kompetensi yang dimiliki manusia. Hal penting yaitu, fitting the task/job the man. Hal ini dapat diartikan bahwa dalam melakukan pekerjaan haruslah disesuaika agar selalu berada pada jangkauan kemampuan serta keterbatasan manusia. Dalam hal ini akan banyak memberikan keuntungan dalam proses pemilihan pekerja untuk suatu pekerjaan tertentu.

Banyak metode dikembangkan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan salah satunya adalah pola pengembangan berdasarkan kompetensi. Kompetensi menunjukkan tingkat keahlian, sikap dan pengetahuan seseorang terhadap task atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Aplikasi ergonomi dalam aspek kompetensi adalah bagaimana ergonomi berperan pada kemudahan dicapainya kompetensi (Bridger, 2003). Jadi dengan penerapan ergonomi yang baik akan menaikkan kompetensi dan selanjutnya akan berdampak pada meningkatnya performa.
Baca selengkapnyaErgonomi dan Kompetensi

Cinta Pekerjaan

Rima Olivia, psikolog dari Lembaga Pengembangan Diri Uniform, mengatakan, sesungguhnya kemajuan karier seseorang lekat dengan minatnya. ‘’Kalau bicara pengembangan karier, seorang individu harus tahu betul apa yang dia mau tuju,’’ kata Rima.

Dalam bahasa populer, Rima berujar, karier itu disebut-sebut berhubungan dengan passion (minat). Terkadang pengaruh luar membuat seorang pekerja hanya terfokus pada apa yang dianggapnya lebih baik. Ketika yang lebih baik itu lalu tidak sama dengan minat dia, maka Rima memastikan, di mana pun orang itu bekerja, ia tidak akan bersinar. ‘’Saat sudah mengetahui passion-nya, dia akan tahu kekuatan apa yang dia bisa jual di tempat kerja,’’ kata dia.

Psikolog dari Universitas Indonesia itu menambahkan, kala seseorang bisa menikmati pekerjaan hampir bisa dipastikan prestasi bakal mengikuti. Tanpa perlu susah payah, performa orang itu tampak baik dengan sendirinya.

Rima mengaku, pekerja kadang sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain. ‘’Apalagi dengan teknologi semacam facebook, kita kadang menerima pertanyaan dari teman lama, ‘sekarang kerja di mana?’, lalu ditanya lagi ‘jabatannya sekarang sudah apa?,’’ papar Rima.

Kalau sudah begitu, orang sibuk mencari kesempatan di luar yang lebih bagus.

Rima pun memaparkan tahapannya. Di tahun pertama bekerja, seseorang memasuki fase memahami dunia kerja. Setahun berikutnya, masuk fase bekerja dengan semangat tinggi karena mulai menerima tanggung jawab. Pada tahun ketiga, biasanya pertanyaan mulai bermunculan tentang karier dan pekerjaan. Godaan kuat mulai menghampiri. Kalau dulu jadi kutu loncat karena berpindah-pindah pekerjaan dicap tidak biasa, sekarang zamannya telah berubah.

Kata Rima, sekarang, pindah dari satu kantor ke kantor lain dipandang sudah biasa. Semua sekarang tergantung passion-nya saja, ucapnya.

Maka, akhirnya kita tidak akan pernah puas saat bekerja, jika minat terhadap pekerjaan juga minim. Dan, itu berlaku untuk semua jabatan dan pangkat, atasan, bawahan, kepala unit, atau pemilik usaha sekalipun.

Cari Tahu Apa Minat Anda

Beberapa cara bisa dilakukan untuk mengetahui apa minat kita sesungguhnya di tempat kerja. Situs quintcareers.com membantu mencari tahu bagaimana menemukan passion dalam karier. Coba jawab sejumlah pertanyaan berikut. Siapa tahu hasilnya bisa mengubah karier yang sebelumnya terasa berjalan di tempat. Perlu diingat, semua orang berhak mengejar apa yang diminatinya dalam hidup. Tidak ada kata terlambat pula untuk mencari apa passion di dunia pekerjaan itu.

- Apa yang suka dilakukan di waktu senggang?
Ini tentang aktivitas favorit. Coba pikirkan lima sampai delapan aktivitas. Identifikasi aktivitas yang memang benar-benar dinikmati.

- Apa saja keahlian yang dimiliki tanpa harus bersusah payah mengerjakannya?

Pertanyaan ini untuk mengetahui keahlian yang kita miliki secara alami. Keahlian bisa di bidang matematika atau bahasa. Cari tiga sampai lima keahlian yang memang terasa seperti bakat alami.

- Kalau bisa memilih pekerjaan, pekerjaan apa yang akan jadi pilihan?

Ini soal pekerjaan dan karier impian. Coba untuk memahami halangan mencapai pekerjaan itu. Contohnya, mau jadi pilot, tapi terhalang karena berkacamata. Tulis saja lima pekerjaan yang dianggap akan sangat dinikmati, meski ada halangannya.

- Kenapa hal-hal itu bisa memberi luapan semangat?
Demi mencari hal-hal yang menimbulkan semangat, pikirkan orang lain, tempat, dan kegiatan yang memicu semangat kerja. Coba kembangkan hingga mendapat tiga sampai lima contoh.

- Apa saja hal besar yang diinginkan bisa tercapai dalam hidup?

Agar yakin dengan target yang ingin dicapai, pikirkan tentang apa yang mau dilakukan. Jadi kaya? Bisa menyelamatkan nyawa orang? Atau punya usaha sendiri yang sukses? Coba pikir apa jenis pekerjaan yang bisa membantu mencapai target itu.

Bagi yang Sudah “Terlanjur”

Introspeksi Plus Rotasi

Jika benar merasa jenuh dengan pekerjaan saat ini atau tidak menikmati pekerjaan saat ini atau merasa karier tidak berkembang, coba introspeksi diri. Apakah betul, kamu sudah melakukan upaya untuk mengembangkan diri di tempat kerja?

Seandainya belum, Rima Olivia, psikolog dari Lembaga Pengembangan Diri Uniform, menjamin, pindah kerja sekalipun, kita tidak akan membuat kita menemukan apa yang dicari.

Bagi Rima, biasanya seorang pekerja akan bosan bila tidak mendapatkan tantangan baru dari tempat kerjanya. Perusahaan yang baik juga umumnya memiliki metode pengembangan karier bagi pegawainya.

Masalahnya, banyak pekerja yang merasa telah bekerja maksimal, namun pihak kantor punya perspektif berbeda. Rima bercerita, teman-temannya dari bagian sumber daya manusia kerap mengatakan, ada saja karyawan yang enggan melakukan introspeksi.

Nah, bila semua pekerjaannya sudah beres, tapi tidak juga ada perbaikan kondisi dari kantor, barulah bisa muncul keinginan untuk pindah kerja.

Pengembangan karier, kata Rima, juga tidak melulu ke atas atau berupa promosi. Terkadang rotasi bisa menjadi sarana mengembangkan karier. Anggap saja rotasi sebagai tantangan baru. Rotasi perlu dilihat sebagai kesempatan memelajari hal baru.

Ketika sudah teruji di tempat baru, tentu peluang baru bisa terbuka. Pikirkan betapa kita tidak harus mengeluarkan uang karena belajar hal baru di tempat baru. Jadi, sekarang ada pelajaran yang menempel dengan pekerjaan, ujar Rima.

Rima sendiri yakin, seorang pekerja yang terbukti berhasil bertahan di banyak divisi akan mendapat perhatian dari kantornya. Atasan pasti akan sayang melepaskan aset berharga seperti itu.

Bagi yang Belum “Terlanjur”

Ketahui Lebih Dalam Minat dan Bakat


Bagi para freshgraduate yang memasuki dunia jobseeker disarankan untuk benar-benar mengetahui apa minat dan bakat Anda dan ke manakah minat dan bakat tersebut akan disalurkan di dunia kerja. Carilah pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakat Anda. Tapi memang perlu diakui bahwa hal ini cukup sulit bahkan sangat sulit. Ada beberapa motivasi atau alasan kerja yang dapat menimbulkan perolehan kerja yang tidak sesuai bakat dan minat diantaranya:
  1. Ingin mendapat kerja secepat mungkin karena alasan ekonomi yang sudah mepet.
  2. Ingin mendapat kerja secepat mungkin karena tidak mau menganggur. Menganggur dianggap sebagai waktu yang tidak produktif. Walaupun pekerjanya tidak sesuai minat dan bakat yang penting bisa mendapat pengalaman terlebih dahulu dan pengalaman tersebut bisa dipakai untuk pengembangan karir selanjutnya.
  3. Ingin mendapat kerja secepat mungkin karena gengsi atau agar terlihat keren. Jadi apa saja pekerjaannya yang penting bisa bangga karena cepat dapat kerja atau bisa juga karena iri terhadap teman-teman yang lain sudah dapat kerja sedangkan dirinya belum.
    Untuk alasan no.1 memang tidak bisa diganggu gugat dan hal tersebut “dimaklumi”. Alasan no.2 cukup banyak dipakai oleh freshgraduate, hal tersebut bisa dimaklumi namun perlu berhati-hati karena untuk beberapa orang hal ini justru dapat menjebak misalnya seseorang yang mencari pengalaman kerja di bidang kerja X namun ternyata seseorang tersebut “sama sekali tidak betah” di bidang kerja X tersebut, alhasil dia harus mencari tempat kerja baru misal di bidang Y yang ternyata tidak ada sangkut pautnya dengan bidang X sehingga kerja di bidang X tersebut terkesan sia-sia. Alasan no.2 sebenarnya bisa menguntungkan jika saat mencari kerja tidak sepenuhnya gambling dalam arti “apa saja yang penting kerja”, jadi tetap perlu adanya penelusuran minat dan bakat walaupun tidak intens tapi jika terpaksa pindah kerja bisa pindah ke tempat kerja yang masih “senada” dan pengalaman kerja di tempat sebelumnya masih bermanfaat dan menunjang karir kedepan. Untuk alasan no.3 sebaiknya dihindari karena bisa terjebak di bidang kerja yang tidak disukai, tidak dikuasai, dan tidak ada keinginan untuk maju. Namun alasan no.3 ini bisa dimaklumi jika dilatarbelakangi karena sudah ditolak kerja dimana-mana namun hal ini tetap menjadi sesuatu yang sebaiknya dihindari.

    Jika ada pepatah bilang “sesuatu yang besar dimulai dari suatu langkah awal” maka bisa dibilang bahwa memilih kerja setelah lulus kuliah atau sekolah itu merupakan langkah awal yang akan menentukan dan mempengaruhi seluruh kehidupan selanjutnya jadi alangkah baiknya dalam mengambil langkah awal tersebut disertai dengan perencanaan dan pertimbangan yang matang yang melibatkan minat dan bakat agar tidak menyesal dikemudian hari. Lalu bagaimana jika background pendidikan tidak sesuai dengan pekerjaan yang diinginkan. Memang kasus ini cukup banyak terjadi dan sebenarnya hal ini terjadi disebabkan karena seseorang salah memilih jurusan saat kuliah. Beberapa mahasiswa memilih jurusan yang ditempuh padahal tidak sesuai dengan minat dan bakatnya. Penyebabnya pun bervariasi mulai dari sulitnya mencari sekolah, keterbatasan jumlah jurusan, sampai dengan “paksaan” dari orang tua. Akibatnya kuliahnya pun ditempuh “tanpa hati” dan saat lulus mulai kebingungan mencari jenis kerja yang cocok. Namun hal tersebut saat ini cukup teratasi terutama untuk jenjang S1 karena pendidikan S1 banyak yang bersifat general dalam arti ilmu yang dipelajari bisa diterapkan di banyak jenis bidang kerja ditambah lagi saat ini banyak lowongan yang mengambil semua jurusan walaupun untuk ilmu-ilmu tertentu seperti kedokteran hampir tidak mungkin keluar dari bidang kesehatan. Karena itu, kita sebagai manusia harus mempunyai misi dan semangat juang tinggi serta motivasi yang besar sesuai minat dan bakat dimulai saat sekolah sampai kerja agar semuanya sesuai dengan minat dan bakat kita terutama jika faktor lingkungan menunjang atau mendukung seperti faktor ekonomi, budaya keluarga dsb. Jika kita bekerja dibidang yang disukai dan digemari maka bekerja menjadi seperti bermain (film 3 idiot) dan selanjutnya stres kerja dapat diminimalisir dan motivasi kerja terus ada sehingga akan berpengaruh positif pada perkembangan karir.

    Namun ada satu hal lagi yang penting bahwa “dunia itu sangat luas” namun di dalam dunia yang luas tersebut banyak orang yang berpikiran sempit misalnya orang-orang yang terlalu membanggakan minat dan bakatnya atau kegemarannya sehingga menganggap hal-hal lainnya tidak baik, selain itu banyak terdapat kebiasaan “menolak sebelum mencoba” misalnya orang yang menolak di bidang X padahal dia sendiri belum pernah mengenal apalagi mencobanya. Ketahui bahwa “tak kenal maka tak sayang”, maksudnya adalah saat mencari kerja jangan asal menolak suatu bidang kerja padahal belum pernah mengetahui bagaimana kerjanya apalagi mencobanya. Ditambah lagi “tidak semua yang tidak disukai itu tidak baik untuk kita”, maksudnya adalah kita dituntut untuk memiliki wawasan luas dan objektif tentang kerja sehingga kita benar-benar tahu manakah kerja yang paling disukai dan sesuai dengan minat dan bakat, ya sumber informasi itu memang sangat penting, jangan sampai hanya karena omongan orang yang tidak pasti kebenarannya lalu kita menjudge “tidak suka” terhadap suatu kerja tersebut, bisa saja kerja tersebut justru sesuai dengan bakat dan Anda bisa menikmatinya.

    Referensi: http://koran.republika.co.id/koran/0/133322/Duh_Karier_Kok_Mentok
    Baca selengkapnyaCinta Pekerjaan

    Ergonomi di Pertambangan

    Sektor pertambangan pada tahun 2010 menyumbang Rp 173,3 triliun, terus meningkat dan menyumbang 0,3% dari keseluruhan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal tersebut menggambarkan betapa besar dan pentingnya industri tambang di Indonesia. Sayangnya, sektor industri ini cenderung memiliki berbagai permasalahan kesehatan dan keselamatan kerja.

    Ergonomi, dapat membantu meminimasi permasalahan-permasalahan tersebut. Sejumlah aktivitas di dunia pertambangan yang erat hubungannya dengan Ergonomi antara lain: aktivitas pembebanan dorong/tarik secara manual (push/pull activity), aktivitas dalam ruang terbatas (confined space), heat stress akibat suhu ekstrim, lingkungan dengan getaran tinggi (whole-body vibration), dan kelelahan (fatigue) akibat beban kerja yang tinggi.

    Keterangan: Tulisan di atas diambil dari pengumuman workshop yang akan diselenggarakan Mei 2011. Pada workshop ini akan dipaparkan secara detail mengenai Ergonomi dan pemanfaatannya dalam industri pertambangan, yang disarikan berdasarkan pengalaman para ahli saat turun langsung ke beberapa perusahaan tambang terkemuka di Indonesia.

    Waktu dan Tempat Pelaksanaan:
    Hari  : Rabu & Kamis
    Tanggal  : 18 & 19 Mei 2011
    Pukul  : 08.30 – 16.30 WIB
    Tempat  : Hotel Bumi Sawunggaling, Bandung

    Materi:
    • Aplikasi dan permasalahan fatigue dan fatigue management di pertambangan
    • Aplikasi dan permasalahan vibrasi dan cummulative trauma disorder di pertambangan
    • Aspek lingkungan fisik kerja di tambang (heat stress, getaran, kebisingan, dan lain-lain)
    • Shift work, durasi kerja, dan permasalahannya
    Baca selengkapnyaErgonomi di Pertambangan

    Hiperkes (Higiene Perusahaan dan Kesehatan)

    Hiperkes berkembang setelah abad ke-16. Pada tahun 1556 oleh Agricola dan 1559 oleh Paracelcus di daerah pertambangan. Benardi Rammazini (1633-1714), dikenal sebagai bapak Hiperkes, yang membahas hiperkes di industri tekstil terutama mengenai penyakit akibat kerja (PAK).

    Hiperkes pada dasarnya merupakan penggabungan dua disiplin ilmu yang berbeda yaitu medis dan teknis yang menjadi satu kesatuan sehingga mempunyai tujuan yang sama yaitu menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif. Faktor yang mempengaruhi sehat dan produktifitas yaitu
    1. Beban kerja (fisik, mental, sosial)
    2. Beban tambahan dari lingkungan (fisik, kimia, biologis, fisiologis, psikologi)
    3. Kapasitas kerja berupa keterampilan, kesegaran jasmani, kesehatan tingkat gizi, jenis kelamin, umur, ukuran tubuh.
    Istilah Hiperkes menurut Undang-Undang tentang ketentuan pokok mengenai Tenaga Kerja yaitu lapangan kesehatan yang ditujukan kepada pemeliharaan-pemeliharaan dan mempertinggi derajat kesehatan tenaga kerja, dilakukan dengan mengatur pemberian pengobatan, perawatan tenaga kerja yang sakit, mengatur persediaan tempat, cara-cara dan syarat yang memenuhi norma-norma hiperkes untuk mencegah penyakit baik sebagai akibat pekerjaan, maupun penyakit umum serta menetapkan syarat-syarat kesehatan bagi tenaga kerja.

    Pengertian dari Higiene Perusahaan sendiri adalah spesialisasi dalam ilmu higiene beserta prakteknya yang dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab penyakit kualitatif & kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran yang hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut serta lebih lanjut pencegahan agar pekerja dan masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari akibat bahaya kerja serta dimungkinkan mengecap derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Soeripto, Ir., DIH., 1992).

    Sedangkan Kesehatan Kerja sendiri mempunyai pengertian spesialisasi dalam ilmu kesehatan/kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya, baik fisik atau mental maupun sosial, dengan usaha-usaha preventif & kuratif terhadap penyakit-penyakit/gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan faktor-faktor pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit-penyakit umum.

    Ruang lingkup hiperkes:
    1. Kesehatan kuratif
    2. Kesehatan preventif
    3. Pengamanan bahaya oleh prses produksi
    4. Penyesuaian alat dan tenaga kerja
    Hipekes berupa laporan kesehatan yang ditujukan kepada pemelihara dan mempertinggi derajat kesehatan tenaga kerja, dilakukan dengan pengaturan pemberian pengobatan, perawatan, mengatur persediaan tempat, cara dan syarat kerja yang memenuhi syarat untuk pencegahan penyakit baik sebagai akibat pekerjaan maupun penyakit umum serta menetapkan syarat kesehatan kerja bagi perum tenaga kerja.

    Sumber: http://kesmasy.wordpress.com/2010/02/03/hiperkes-higiene-perusahaan-ergonomi-dan-kesehatan/
    Baca selengkapnyaHiperkes (Higiene Perusahaan dan Kesehatan)

    Hubungan Ergonomi dengan Bidang-bidang Lainnya di Teknik Industri

    Teknik industri terdiri dari empat bidang utama yakni teknik produksi, proses dan sistem manufaktur, riset operasi, dan ergonomi (untuk mengetahui lebih lanjut tentang empat bidang tersebut klik disini). Keempat bidang tersebut saling terkait dan berhubungan satu sama lain. Timbul pertanyaan, apa sih hubungan atau keterkaitan “nyata” antara bidang-bidang tersebut? Pertanyaan itu muncul karena memang pada kenyataannya sebagian besar ilmu dibangku perkuliahan teknik industri dipelajari secara terkotak-kotak atau terpisah antara satu bidang dengan bidang yang lain. Hanya sedikit mata kuliah yang mengintegrasikan semua bidang misalnya mata kuliah proyek terpadu, hal ini sudah tepat namun masih perlu didukung pendalaman di masing-masing bidang tentang apa saja kaitannya antara bidang tersebut dengan bidang-bidang lainnya. Misalnya pada mata kuliah riset operasi perlu dijelaskan apa saja sih manfaat atau aplikasi atau keterkaitan riset operasi dengan bidang-bidang lainnya di teknik industri begitu pula untuk teknik produksi, teknik manufaktur, dan ergonomi. Berikut ini dijelaskan hubungan atau kaitan atau aplikasi bidang ergonomi dengan bidang-bidang lainnya di teknik industri.

    Ergonomi dan teknik produksi

    Teknik produksi adalah suatu teknik yang menganalisis suatu gabungan dari komponen-komponen yang saling berhubungan dan saling mendukung untuk melaksanakan proses produksi di lini produksi mulai dari bahan mentah diperoleh sampai barang jadi dikirim. Hubungan ergonomi dengan teknik produksi cukup banyak. Pada ranah atau lingkup teknik produksi, ergonomi memandang manusia sebagai sesuatu yang membuat lini atau aliran produksi berjalan. Hubungan kedua bidang tersebut diantaranya:
    • Studi gerakan dan waktu kerja berhubungan dengan cycle time produksi.
    • Material handling ikut mempengaruhi desain fasilitas / tata letak pabrik.
    • Incentive pekerja, cost akibat kecelakaan kerja dsb berpengaruh terhadap biaya produksi.
    • Otomasi sistem produksi berpengaruh terhadap produktivitas pekerja.
    • Aliran informasi diantara pekerja ikut menentukan keberlangsungan produksi (midal pada manajemen inventori dsb).
    • Dan masih banyak lagi.
    Ergonomi dan proses & sistem manufaktur

    Proses dan sistem manufaktur adalah segala proses dan sistem yang terdiri dari sekumpulan kegiatan untuk melakukan konversi bahan mentah menjadi barang jadi sesuai dengan desain produk didasarkan pada keinginan konsumen sehingga terjadi pertambahan nilai yang lebih tinggi dengan bahan mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi di mana dalam proses pengerjaannya tentu saja dilakukan secara fisik dan melibatkan berbagai peralatan atau mesin. Hubungan ergonomi dengan proses dan sistem manufaktur bisa dibilang yang paling “terkenal”. Salah satu bidang pada proses dan sistem manufaktur yang utama adalan perancangan dan pengembangan produk dan bisa dibilang pada bidang inilah ergonomi banyak dikenal. Pada ranah atau lingkup proses dan sistem manufaktur, ergonomi memandang manusia sebagai pihak yang membuat suatu produk dan pihak yang menikmati suatu produk. Hubungan kedua bidang tersebut diantaranya:
    • Racangan spesifikasi produk atau alat kerja pada perancangan produk sangat memperhatikan kebutuhan konsumen (kansei) baik kebutuhan fisik (melibatkan antropometri, analisis postur dll) maupun kebutuhan non fisik.
    • Pembuatan alat bantu dan metrologi pada proses dan manufaktur bertujuan untuk memudahkan kerja manusia dan mengurangi kesalahan kerja dan meningkatkan kehandalan dan produktivitas kerja.
    • Desain coupling mesin sangat memperhatikan kemudahan manusia dalam bekerja.
    • Mesin dibuat sedemikian rupa agar safety meningkat.
    • Dan masih banyak lagi.
    Ergonomi dan riset operasi

    Riset operasi adalah penerapan metode-metode ilmiah terhadap masalah rumit yang muncul dalam pengarahan dan pengelolaan dari suatu sistem besar manusia, mesin, bahan dan uang. Hubungan ergonomi dan riset operasi bisa dibilang sangat jarang dan tidak banyak ditemui. Di teknik industri, riset operasi lebih banyak diaplikasikan pada lingkup teknik produksi. Namun bukan berarti riset operasi tidak ada hubungan sama sekali dengan ergonomi. Karena pada dasarnya riset operasi adalah metode penyelesaian untuk suatu masalah, dan masalah pada sistem suatu industri bisa terjadi di bagian apa saja dan dalam skala apa saja maka pada ranah atau lingkup riset operasi ini, ergonomi memandang manusia pada berbagai macam posisi mulai dari yang menjalankan produksi, yang membuat produk, yang menikmati produk, yang menjalankan sistem dsb dan biasanya masih berhubungan dengan kedua bidang sebelumnya yakni teknik produksi dan proses & sistem manufaktur. Hubungan kedua bidang tersebut diantaranya:
    • Kecerdasan buatan untuk mengidentifikasi kesalahan posisi atau prosedur kerja atau terjadinya kecelakaan kerja secara otomastis.
    • Kecerdasan buatan untuk mengukur antropometri secara otomatis atau semi otomatis untuk kepentingan desain produk (masih berhubungan dengan proses dan sistem manufaktur).
    • Jaringan syaraf tiruan untuk mengidentifikasi pola desain produk atau alat kerja berdasarkan preferensi pelanggan atau pemakai menggunakan metode kansei (masih berhubungan dengan proses dan sistem manufaktur).
    • Dsb.
    Baca selengkapnyaHubungan Ergonomi dengan Bidang-bidang Lainnya di Teknik Industri

    Performa Industri: Quality, Productivity, Safety, Cost. Manakah yang perlu diprioritaskan?

    Banyak sekali metode-metode yang dapat dipakai untuk mengukur performa suatu industri. Faktor-faktor atau indikator-indikatornya pun beragam dan bervariasi seperti PQCDSM dsb, namun dari banyak variasi tersebut ada empat indikator yang bisa dibilang sering mucul atau dilibatkan di setiap metode yakni Quality, Productivity, Safety, dan Cost. Secara ringkas dapat disebutkan bahwa performa akan naik jika quality, productivity, dan safety naik dan cost turun. Untuk lebih jelasnya akan diterangkan sebagai berikut:

    Quality
    Berbicara tentang kualitas; reject, defect, human error, merupakan kesalahan kerja yang kerap terjadi dan tentu berpengaruh terhadap kualitas. Bahan baku yang tidak memenuhi standar sering memerlukan perlakuan khusus yang menyimpang dari SOP. Penurunan kualitas merupakan ancaman yang membahayakan bagi kelangsungan perusahaan. Kualitas yang mengecewakan dapat menyebabkan konsumen berpaling ke produk pesaing.

    Productivity
    Produktivitas merupakan salah satu aspek yang menentukan keberhasilan suatu industri atau perusahaan dalam persaingan dunia usaha yang semakin ketat. Tingkat produktivitas yang dicapai merupakan indikator seberapa efisien perusahaan dalam mengkombinasikan sumber daya ekonomisnya saat ini. Sudah pernah dijelaskan di blog ini, klik disini untuk melihatnya.

    Safety
    Kondisi safety yang kurang baik kerap dikaitkan dengan kelelahan kerja, lingkungan pabrik tidak teratur, pabrik kotor, bising, berpolusi, dipenuhi limbah, berisiko terjadinya kebakaran, gizi tidak memenuhi kalori kerja, kesehatan lingkungan dan sebagainya. Kondisi buruk seperti ini dapat menimbulkan kecelakaan dan penyakit kerja.

    Cost
    Pembengkakan cost di sejumlah lini kerja banyak terjadi. Di samping fluktuasi harga bahan baku yang berasal dari pengaruh eksternal, internal activity merupakan penyebab pembengkakan cost. Hal tersebut dapat menurunkan daya jual kompetitif. Kualitas baik dan harga rendah merupakan penekanan yang umumnya dilakukan para investor pada pengelola perusahaan. Maksudnya, tidak boleh ada cost yang keluar dengan tidak terencana.

    Yang perlu diperhatikan disini adalah semua dari indikator di atas sangat erat kaitannya dengan ergonomi. Tentunya hal tersebut semakin meyakinkan bahwa ergonomi merupakan bidang yang sangat amat penting.

    Sekarang muncul pertanyaan, manakah diantara indikator-indikator tersebut yang paling penting dan bagaimanakah prioritasnya? Jawaban dari pertanyaan tersebut tentunya akan bervariasi tergantung dari budaya orang atau perusahaan tersebut. Namun disini perlu diketahui bahwa satu perusahaan otomotif terkemuka di dunia yang menjadi kiblat oleh berbagai industri dan bisa dibilang menjadi perusahaan nomor 1 dibidangnya yang tidak lain adalah Toyota (tepatnya Toyota yang beroperasi di salah satu negara Asia dan mungkin juga diterapkan Toyota di seluruh dunia) telah menjadikan safety sebagai prioritas utama mereka. Secara rinci mereka mengurutkan dari yang paling prioritaskan yakni safety, quality, productivity, cost. Ya, benar, safety berada di tempat teratas bahkan mengungguli quality, productivity, dan cost. Hal ini sejalan dengan slogan “safety first” yang kerap muncul di lingkungan industri yang dalam bahasa Indonesia berarti “utamakan keselamatan” yang maknanya adalah menempatkan keselamatan di atas segala-galanya. Apakah hal tersebut semata-mata hanya untuk kepentingan menaikan citra kemanusiaan di perusahaan agar perusahaan mendapat image yang baik? Jawabannya mungkin adalah tidak. Memang dalam safety ada nilai kemanusiaan yang memang harus diutamakan, tapi dilain pihak ternyata dengan peningkatan safety juga akan memberikan pengaruh berupa perbaikan pada indikator-indikator lainnya seperti quality, productivity, dan menghemat cost dan ini sudah banyak dibuktikan oleh banyak perusahaan. Mungkin ini sebabnya mengapa safety paling diprioritaskan, karena dengan “mengangkat” safety maka indikator-indikator lainnya secara “otomatis” juga akan ikut “terangkat” dan secara keseluruhan performa akan meningkat. Penjelasan ini semakin memperkuat bahwa ergonomi itu memang sangat amat teramat penting.
    Baca selengkapnyaPerforma Industri: Quality, Productivity, Safety, Cost. Manakah yang perlu diprioritaskan?

    Safety First

    Istilah “safety first” bukan sesuatu yang asing di kehidupan sehari-hari. Istilah ini bila ditranslate ke Bahasa Indonesia menjadi “Utamakan Keselamatan”. Bahkan bagi pengguna setia moda transportasi kereta api, istilah ini sempat menjadi slogan (bahkan mungkin masih) BUMN yang bergerak di bidang transportasi kereta api dan slogan ini dapat dengan mudah dijumpai dalam display yang besar di setiap stasiun. Langkah tersebut sangat posisitf karena tersirat nilai pendidikan kepada masyarakat termasuk anak-anak bahwa keselamatan itu memang yang nomor satu, dan ketepatan waktu, pelayanan dsb merupakan nomor-nomor yang kesekian walaupun tetap penting. Namun saat ini sepertinya istilah-istilah tersebut mulai jarang ditemui di kehidupan sehari-hari. Lalu bagaimana jika di industri? Ya, justru dari industri lah istilah ini muncul, karena itu sudah seharusnya dalam sistem di industri selalu mengutamakan keselamatan dalam setiap aktivitasnya. Lalu apa industri benar-benar memeperlakukan “safety” menjadi yang nomor satu? Jawabannya akan diberikan di postingan berikutnya (klik disini).

     

    Ada beberapa hal yang harus diketahui mengenai safety, selengkapnya disini.
    Baca selengkapnyaSafety First