Ergonomi : Safety, Health, Productivity & Humanity

Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, Ergon yang berarti kerja dan Nomos  yang berarti aturan/hukum. Jadi ergonomi secara singkat juga dapat diartikan aturan/hukum dalam bekerja. Secara umum  ergonomi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang kesesuaian pekerjaan, alat kerja  dan atau tempat/lingkungan kerja dengan pekerjanya. Semboyan yang digunakan adalah “Sesuaikan pekerjaan dengan pekerjanya dan sesuaikan pekerja dengan pekerjaannya” (Fitting the Task  to the Person and Fitting The Person To The Task).

Kohar Sulistiadi  dan Sri Lisa Susanti (2003) menyatakan bahwa fokus ilmu ergonomi adalah manusia itu sendiri dalam arti dengan kaca mata ergonomi, sistem kerja yang terdiri atas mesin, peralatan, lingkungan dan bahan harus disesuaikan dengan sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia tetapi bukan manusia yang harus menyesuaikan dengan mesin, alat dan lingkungan dan bahan.

Sasaran dari ilmu ergonomi adalah meningkatkan prestasi kerja yang tinggi dalam kondisi aman, sehat, nyaman dan tenteram. Aplikasi ilmu ergonomi digunakan untuk perancangan produk, meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja serta meningkatkan produktivitas kerja. Dengan mempelajari  tentang ergonomi maka kita dapat mengurangi resiko penyakit, meminimalkan biaya kesehatan,  nyaman saat bekerja dan meningkatkan produktivitas dan kinerja serta memperoleh banyak keuntungan. Oleh karena itu penerapan prinsip ergonomi di tempat kerja diharapkan dapat menghasilkan beberapa manfaat sebagai berikut:
  • Mengerti tentang pengaruh dari suatu jenis pekerjaan pada diri pekerja dan kinerja pekerja
  • Memprediksi potensi pengaruh pekerjaan pada tubuh pekerja
  • Mengevaluasi  kesesuaian tempat kerja, peralatan kerja dengan pekerja saat bekerja
  • Meningkatkan produktivitas dan upaya untuk menciptakan kesesuaian antara kemampuan pekerja dan persyaratan kerja.
  • Membangun pengetahuan dasar guna mendorong pekerja untuk meningkatkan produktivitas.
  • Mencegah dan mengurangi resiko timbulnya penyakit akibat kerja.
  • Meningkatkan faktor keselamatan kerja.
  • Meningkatkan keuntungan, pendapatan, kesehatan  dan kesejahteraan untuk individu dan institusi.
Dengan melakukan penilaian ergonomi di tempat kerja  dapat diperoleh 3 keuntungan yaitu:
  • Mengurangi potensi timbulnya kecelakaan kerja
  • Mengurangi potensi gangguan kesehatan pada pekerja
  • Meningkatkan produktivitas dan performa kerja
Jadi dapat disumpulkan bahwa peran ergonomi sangat besar dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat serta menciptakan kerja yang produktif dan tentunya semua itu demi kebaikan manusia dan sistem kerja tersebut. Karena itu tidak salah jika ergonomi sering digambarkan dalam 4 kata yakni SAFETY, HEALTH, PRODUCTIVITY, dan HUMANITY.

Sumber :
  • http://www.business.uiuc.edu/Working_Papers/papers/05-0117.pdf
  • http://perspektif-magazine.com/2007/10/31/5-tips-layout-home-office-ruang-kantor-untuk-menunjang-produktifitas-anda-dalam-bekerja/ 
  • http://astaqauliyah.blogspot.com/2006/02/kesehatan-dan-keselamatan-kerja.html
  • http://iips-online.com/KepMenkes1998.pdf 
Baca selengkapnyaErgonomi : Safety, Health, Productivity & Humanity

Ergonomi Desain

Ergonomi adalah suatu kajian yang membahas tentang hubungan antara manusia dengan pekerjaan yang dilakukannya melalui suatu aturan kerja tertentu (Ergos = pekerjaan dan Nomos = aturan). Dalam interaksi tersebut seringkali melibatkan suatu alat yang dirancang atau didesain khusus untuk membantu pekerjaan manusia agar menjadi lebih mudah. Dengan desain yang tepat, pekerjaan akan terasa lebih ringan dan cepat. Lalu apa sih ergonomi desain itu? Ergonomi desain adalah suatu cara yang diterapkan dalam mendesain produk dengan memperhatikan kemampuan dan batasan-batasan fisik manusia (human factor). Hal ini dilakukan agar produk yang didesain benar-benar sesuai dengan kebutuhan manusia (fit the job to the man). Aneka ragam desain produk bertebaran di sekeliling kita, mulai dari peniti, tusuk gigi, tas, sepatu, radio, televisi, komputer, kulkas, mobil, bangunan, hingga benda-benda yang sangat besar seperti pesawat terbang bahkan stasiun ruang angkasa sekalipun.

Meskipun karya desain yang paling sederhana kadangkala malah membuat repot bahkan berbahaya bagi nyawa kita karena desainnya yang tidak sesuai, pada zaman purba manusia tidaklah terlalu menaruh perhatian besar akan resiko itu. Dengan teknologi yang sederhana mereka membuat pisau dari batu, panah dari kayu dan alat-alat bantu lainnya untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Seiring dengan semakin pandainya manusia, desain menjadi sesuatu hal yang mampu “memaknai” hidup dengan mengolahnya menjadi alat bantu yang sangat pas buat kebutuhan manusia. Berarti disini manusia menjadi titik tolak dalam pengembangan desain (user-centered approach to design) dengan cara mempelajari secara lebih mendalam aspek biologi dan antropologi melalui serangkaian tes ergonomi. Mengingat semakin bervariasinya karakteristik manusia, meski dalam satu ras sekalipun, bisa kita lihat bahwa orang tua, anak-anak, bayi, bahkan insan cacat merupakan populasi yang memerlukan pendekatan desain secara khusus. Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa adanya perbedaan karakteristik manusia sangat menentukan sebuah desain tersebut nyaman atau tidak bagi penggunanya.

Sudah jadi resiko alam bahwa populasi manusia di dunia ini akan selalu meningkat dan meningkat terus. Hal ini memicu kebutuhan akan desain menjadi lebih khusus akibat adanya perubahan gaya hidup yang makin rumit. Kebutuhan akan alat, sistem kerja dan sarana-sarana pelayanan merupakan bagian vital dalam upaya memenuhi kebutuhan manusia akibat ledakan populasi. Dengan semakin besarnya populasi manusia dengan sendirinya akan menghadirkan kebutuhan yang hampir seragam dari kelompok-kelompok populasi tersebut. Desain yang awal mulanya dibuat berdasarkan pesanan (customized) berubah menjadi desain “sejuta umat” (mass production). Untuk kebutuhan tersebut data fisik manusia perlu dipetakan secara detil dalam rangkaian informasi faal atau antropometri. Jika semua rata-rata data antropometri tersebut dianggap cukup mewakili suatu populasi tertentu maka akan sangat mudah bagi seorang desainer produk untuk merancang sebuah produk yang sangat pas atau nyaman. Yang pasti, beberapa prinsip desain berbasis ergonomi perlu diperhatikan yaitu nyaman, nman, nehat dan efisien.

http://andarbugs.multiply.com/journal
Baca selengkapnyaErgonomi Desain

Noise / Kebisingan

Kebisingan yaitu bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (KepMenLH No.48 Tahun 1996) atau semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (KepMenNaker No.51 Tahun 1999).

Kebisingan merupakan faktor penting dalam perancangan pabrik karena kebisingan tidak sekedar menimbulkan rasa tidak nyaman namun juga dapat menimbulkan efek serius bagi kesehatan manusia. Kebisingan dapat mengurangi kemampuan pendengaran manusia secara gradual pada level tertentu dapat menimbulkan hilangnya kemampuan pendengaran secara permanen. Selain gangguan pendengaran, kebisingan dapat menimbulkan stres pada sistem kerja jantung dan peredaran darah serta pada sistem sirkulasi udara dan pernapasan.

Pengendalian kebisingan ialah suatu hal yang wajib diterapkan dalam suatu pabrik yang menghasilkan kebisingan pada level tertentu. Namun, pengendalian kebisingan tersebut tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar perancangan pabrik, yaitu faktor kelayakan ekonomi, kemudahan operasi alat, kemudahan maintenance, dan faktor safety.

Permasalahan yang berkaitan dengan kebisingan dapat dikendalikan dengan melakukan pendekatan sistematik dimana sistem perpindahan semua suara dipecah menjadi tiga elemen yaitu sumber suara, jalur transmisi suara, dan penerima akhir. Metode yang umumnya digunakan untuk mengendalikan kebisingan dengan dengan mengendalikan sumber suara antara lain ialah menggunakan peralatan kebisingan rendah, menghilangkan sumber kebisingan, melengkapi alat dengan insulasi, silencer, dan vibration damper. Jalur transmisi suara juga dapat dimodifikasi agar kebisingan berkurang. Hal itu dapat dilakukan dengan cara pengadaan penghalang dan absorpsi oleh peredam. Kebisingan juga dapat dikendalikan dengan memodifikasi elemen penerima akhir. Hal itu dapat dilakukan dengan improvisasi sistem operasi, improvisasi pola kerja, dan pengunaan pelindung pendengaran.

Untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan keberadaan pabrik yang tidak berbahaya bagi lingkungan, beberapa peraturan standar internasional telah dibuat dan mengatur batas-batas kebisingan pabrik. Peraturan-peraturan internasional tersebut antara lain:

1.Occupational Safety and Health Administration
  • OSHA 1910.95 Occupational Noise Exposure
  • OSHA 1926.52 Occupational Noise Exposure
2.American National Standards Institute (ANSI)
  • ANSI S1.1 Acoustical Terminology
  • ANSI S1.2 Physical Measurement of Sound
  • ANSI S1.4 Specification for Sound Level Meters
  • ANSI S1.11 Specification for Octave, Half-Octave and Third- Octave Band Filter Sets
  • ANSI S1.13 Methods for the Measurement of Sound Pressure Levels
  • ANSI S5.1 CAGI-PNEUROP Test Code for the Measurement of Sound form Pneumatic Equipment
3.American Petroleum Institute (API)
  • API 615 Sound of Control of Mechanical Equipment for Refinery Services
4.Handbooks
  • Genrad Company Handbook of Noise Measurement
5.Institute of Electronic and Electrical Engineers (IEEE)
  • IEEE Std 85 IEEE Test Procedure for Airborne Sound Measurement on Rotating Electric Machinery
Apabila terjadi ketidaksepadanan dalam pemberlakuan peraturan-peraturan tersebut, maka urutan prioritas peraturan yang akan diberlakukan ialah peraturan pemerintah Indonesia, peraturan pemerintah daerah setempat, basis desain dan standar serta spesifikasi proyek, peraturan dan standar internasional.

Gambar berikut ini merupakan peraturan pemerintah Indonesia mengenai kebisingan tercantum dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor Kep-51/MEN/1999 dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup no.48 Tahun 1996.
Baca selengkapnyaNoise / Kebisingan

Contoh Ergonomi / K3 Sederhana di Lingkungan yang Sederhana

Berikut akan dijelaskan contoh ergonomi di lingkungan yang sederhana yakni tempat pangkas rambut / cukur pria. Tukang cukur seharusnya menggunakan alat pelindung diro (APD) atau personal protective equipment (PPE) berupa masker. Namun seperti kita ketahui bahwa alat pelindung diri tersebut masih jarang dijumpai di tempat-tempat cukur. Seperti yang kita ketahui bahwa pada rambut banyak tertempel kotoran-kotoran terutama debu. Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel yang melayang di udara (Suspended Particulate Matter / SPM) dengan ukuran 1 mikron sampai dengan 500 mikron. Dari jenisnya debu dapat dikelompokan kedalam debu organik (debu kapas, debu daun - daunan, tembakau dan sebagainya)., debu mineral (merupakan senyawa komplek : SiO2, SiO3, arang batu dll) dan debu metal (debu yang mengandung unsur logam: Pb, Hg, Cd, Arsen, dll). Dari segi karakter zatnya debu terdiri atas debu fisik (debu tanah, batu, mineral, fiber) kimia (mineral organik dan inorganik) biologis (virus, bakteri, kista) dan debu radio aktif. Dari sini jelas dapat dilihat bahwa para tukang cukur sangat potensial terkena bahaya akibat sering bahkan setiap hari menghirup debu-debu yang ada di rambut pelanggannya. Perlu diingat bahwa tempat pangkas rambut pria berbeda dengan salon untuk wanita pada umumnya, disini pelanggan tidak dibilas rambutnya sebelum dicukur, jadi si tukang cukur akan ‘menghadapi’ rambut-rambu yang masih penuh dengan kotoran dan debu. Hal yang memperparah lagi adalah konsumen utama tempat pangkas rambut yang diobservasi adalah para mahasiswa yang mayoritasnya adalah pengguna sepeda motor yang sangat beresiko terkena banyak debu di jalan maupun debu karena helm yang dipakai itu sendiri. Dalam jangka pendek, hal ini sangat berbahaya bagi tukang cukur yang alergi. Dalam jangka panjang, tukang cukur bisa terkena penyakit-penyakit seperti :
  • Pneumokoniosis disebabkan oleh debu mineral pembentukan jaringan paru (Silikosis, antrakosilikosis, asbestosis) Gejala penyakit ini berupa sakit paru paru, namun berbeda dengan penyakit TBC paru.
  • Silikosis adalah penyakit yang paling penting dari golongan penyakit Pneumokonioses. Penyebabnya adalah silika bebas (SiO2) yang terdapat dalam debu yang dihirup waktu bernafas dan ditimbun dalam paru paru dengan masa inkubasi 2-4 tahun.
  • Anthrakosilikosis ialah pneumokomiosis yang disebabkan oleh silika bebas bersama debu arang batu. Gejala penyakit ini berupa sesak nafas, bronchitis chronis batuk dengan dahak hitam (Melanophtys).
  • Asbestosis adalah jenis pneumokoniosis yang disebabkan oleh debu asbes dengan masa latennya 10-20 tahun. Asbes adalah campuran berbagai silikat.
  • Berryliosis, Penyebabnya adalah debu yang mengandung Berrylium,
  • Byssinosis disebabkan oleh debu kapas atau sejenisnya dikenal dengan : Monday Morning Syndroma”atau”Monday Fightnesí” Sebagai gejala timbul setelah hari kerja sesudah libur, terasa demam, lemah badan, sesak nafas, baruk-batuk, “Vital Capacity” jelas menurun setelah 5-10 tahun bekerja dengan debu.
  • Stannosis Penyebab debu bijih timah putih (SnO).
  • Siderosis disebabkan oleh debu yang mengandung (Fe202).
Dari sini dapat diketahui bahwa masker itu sangat penting bagi para tukang cukur di tempat pangkas rambut pria. Selain masker, PPE yang diperlukan bagi tukang cukur adalah sarung tangan. Hal ini sangat penting jika konsumen yang dihadapi adalah penderita AIDS (yang akhir-akhir ini booming). Sarung tangan ini untuk menghindari kemungkinan adanya kontak luka pada tangan tukang cukur dengan luka yang ada di sekitar kepala penderita AIDS baik luka lama atau luka karena pisau atau gunting cukur itu sendiri. Hal ini untuk mencegah tertularnya penyakit AIDS tersebut. Walaupun konsumen berpenyakit AIDS sangat jarang ditemui namun tidak ada salahnya tukang cukur menyiapkan sarung tangan tersebut jika suatu saat harus menghadapi konsumen yang dicurigai terkena virus HIV. Pemakaian ini sarung tangan ini bukan diskriminasi terhadap konsumen yang terkena virus HIV, namun semata-mata hanya sebagai alat pelindung diri.

Sumber : Tugas Personal Protective Equipment, TI UGM ‘06
Baca selengkapnyaContoh Ergonomi / K3 Sederhana di Lingkungan yang Sederhana

Variabel Antropometri

Salah satu kumpulan variabel antropometri yang banyak dikenal di Indonesia mengacu pada variabel yang terdapat di buku Nurmianto (1996) dengan total 60 variabel antropometri meliputi:

Variabel Antropometri pada Posisi Duduk Samping

Variabel Antropometri pada Posisi Duduk Menghadap ke Depan
  
Variabel Antropometri pada Posisi Berdiri
  
Variabel Antropometri Tangan

Variabel Antropometri Kaki
  
Variabel Antropometri Kepala
Sumber :
  • Nurmianto, Eko, 1996, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya Edisi Pertama, Jurusan Teknik Industri ITS, PT. Candimas Metropole, Jakarta.
  • Pemanfaatan Citra Dua Dimensi pada Perancangan Sistem Pengukuran Antropometri Secara Digital oleh Dito J. (Teknik Industri UGM).
Baca selengkapnyaVariabel Antropometri

Prinsip Pengukuran Antropometri Statis

Berdasarkan ISO/TC 159 (ISO 15534 dan ISO 9241) (Soebroto), pengambilan data ukuran tubuh manusia (antropometri) yang dilakukan dengan metode pengukuran statis idealnya memenuhi kondisi-kondisi sebagai berikut:
  • Subjek yang diukur dalam kondisi telanjang (nude person).
  • Pengukuran dilakukan dengan tidak memperhatikan (mengabaikan) gerakan tubuh, pakaian yang dikenakan, peralatan yang dipakai/dibawa, kondisi pengoperasian mesin atau fasilitas kerja dan kondisi lingkungan kerja.
Ket : untuk kondisi pertama saya rasa masih jarang digunakan di Indonesia karena kurang sesuai dengan budaya timur dan bila akan menerapkan kondisi pertama harus ada pengawasan dalam pengukuran yang cukup ketat.
Baca selengkapnyaPrinsip Pengukuran Antropometri Statis

Antropometri

Definisi antropometri

Antropometri berasal dari bahasa Yunani yakni kata anthropos yang berarti manusia dan metron yang berarti mengukur. Jadi, antropometri secara literal adalah pengukuran manusia. Antropometri adalah pengetahuan mengenai dimensi tubuh manusia serta aplikasi yang berkaitan dengan geometri fisik, massa dan kekuatan tubuh manusia. Variasi dimensi tubuh manusia sering kali menjadi faktor utama untuk menghasilkan rancangan sistem/alat yang sesuai untuk pengguna.

Perbedaan dimensi tubuh manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang harus diperhatikan saat mengambil sampel data tersebut, antara lain:
  • Umur
  • Ukuran tubuh pria akan berkembang sejak lahir sampai dengan ±20 tahun, sedangkan tubuh wanita akan sampai dengan ±17 tahun. Namun, ada kecenderungan penyusutan dimensi tubuh setelah 60 tahun.
  • Jenis kelamin
  • Ukuran tubuh pria umumnya lebih besar dibandingkan wanita, kecuali di bagian dada dan pinggul.
  • Rumpun dan suku bangsa
  • Kondisi sosial ekonomi serta konsumsi gizi
  • Pekerjaan/aktivitas harian
  • Waktu pengukuran
Antropometri dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu:
  • Antropometri statis (dimensi struktur tubuh). Pengukuran manusia pada posisi diam pada permukaan tubuh.
  • Antropometri dinamis (dimensi fungsional tubuh). Pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi saat melakukan pekerjaan atau kegiatan.
Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal pengamatan kesehatan dan pertumbuhan manusia, perancangan area kerja (work station), perancangan peralatan kerja, perancangan produk-produk konsumtif, dan perancangan lingkungan kerja fisik.

Variabel antropometri

Variabel antropometri adalah karakteristik pada tubuh manusia yang dapat diukur, didefinisikan, dan distandarisasikan dalam satuan ukur. Jumlah variabel antropometri yang sudah ditemukan berjumlah sekitar 2.200 variabel (Stellman). Karena jumlahnya yang sangat banyak maka pemilihan variabel antropometri disesuaikan dengan tujuan dari pemakaian data antropometri tersebut.


 

Pada umumnya, variabel antropometri dibagi menjadi beberapa jenis variabel meliputi:
  • Linear (variabel tinggi dan panjang), merupakan variabel paling banyak.
  • Diameter.
  • Lengkungan (arc).
  • Girth/circumference atau keliling bagian tubuh.
  • Massa.
  • Volume.
Ketentuan atau standar variabel tubuh yang diukur dalam antropometri sangat beragam tergantung tujuan dan pemakaiannya. Standar tersebut antara lain:
  • Standar yang terdapat di buku karangan Eko Nurmianto.
  • Standar ILO.
  • Standar ISO meliputi ISO/DP 7250 1980 dan ISO 15534-3.
  • Standar HumanGrowth.
  • Standar yang ditetapkan U.S Naval/Army.
  • Standar WHO (untuk gizi dan pertumbuhan anak).
  • Standar-standar lainnya yang dibuat oleh perancang-perancang atau peneliti-peneliti antropometri yang disesuaikan dengan kebutuhan seperti Yoon dan Radwin dan masih banyak lagi.
 Untuk mengetahui apa saja variabel-variabel antropometri klik disini

Jenis pengukuran antropometri

Ada dua jenis pengukuran antropometri yakni pengukuran secara konvensional dan digital. Pengukuran secara konvensional atau pengukuran langsung membutuhkan beberapa instrumen atau alat seperti kursi antropometri, meteran, timbangan badan, pengukur tinggi tubuh, jangka sorong, dan sebagainya tergantung kebutuhan. Sedangkan pengukuran secara digital menggunakan teknologi pengolahan citra digital. Kelebihan pengukuran secara langsung adalah alat lebih mudah ditemui dan murah sehingga untuk memulainya tidak memerlukan biaya yang besar serta mudah diterapkan. Kelemahan pengukuran secara langsung adalah membutuhkan waktu yang lama, lebih membutuhkan banyak tenaga, dan sulit untuk melakukan pengukuran antropometri dalam jumlah besar. Sedangkan pengukuran digital secara umum tidak banyak memakan waktu dan tenaga, cocok untuk melakukan pengukuran antropometri dalam jumlah besar, mengeliminasi kontak langsung dengan subjek ukur sehingga dislokasi dan deformasi jaringan yang lunak pada tubuh dapat dihindari. Namun untuk memulai pengukuran digital memerlukan biaya yang cukup besar karena melibatkan teknologi hardware dan software komputer, serta memerlukan pelatihan khusus.

Sumber : Pemanfaatan Citra Dua Dimensi pada Perancangan Sistem Pengukuran Antropometri Secara Digital oleh Dito J. (Teknik Industri UGM).
Baca selengkapnyaAntropometri

Penerapan Ergonomi dalam Pemakaian Komputer

Gambar berikut berisi kesalahan-kesalahan posisi yang umum dalam pemakaian komputer:
Secara garis besar gangguan kesehatan akibat pemakaian komputer yang salah dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu :
  • Gangguan pada bagian mata dan kepala
  • Gangguan pada lengan dan tangan
  • Gangguan pada leher, pundak dan punggung
Gangguan pada bagian mata dan kepala kita sering disebut dengan computer vision syndrome, mulai dari nyeri atau sakit kepala, mata kering dan iritasi, mata lelah, hingga gangguan yang lebih serius dan lebih permanen seperti kemampuan fokus mata menjadi lemah, penglihatan kabur (astigmatisma, miopi, presbiopi), pandangan ganda, hingga disorientasi warna.

Gangguan pada bagian lengan dan telapak tangan dimulai dari nyeri pada pergelangan tangan karena gangguan pada otot tendon di bagian pergelangan, nyeri siku, hingga cidera yang lebih serius seperti Carpal Tunnel Syndrome yaitu terjepitnya syaraf di bagian pergelangan yang menyebabkan nyeri di sekujur tangan. Cidera ini harus segera diatasi sebelum terlambat, karena pada stadium lanjut tindakan operasi terpaksa harus dilakukan.

Kelompok gangguan lainnya berupa nyeri pada bagian leher, pundak, punggung dan pinggang. Nyeri di bagian ini sering pula mengakibatkan gangguan nyeri di bagian paha dan betis.

Bekerja di depan komputer dengan menerapkan prinsip-prinsip ergonomis merupakan cara yang ampuh dalam menghindari ketidaknyamanan yang pada akhirnya akan menimbulkan gangguan kesehatan seperti yang dijelaskan di atas.

Rekomendasi Untuk Pemakaian/Pengoperasian Komputer:

Kondisi Tempat kerja
  • Menggunakan meja yang cukup tempat untuk menata posisi yang paling nyaman untuk CPU, monitor, keyboard, mouse, printer, penyangga buku, dan piranti lainnya seperti telpon, dan lain-lain.
  • Sesuaikan tinggi meja dengan tinggi dan posisi tubuh anda, sehingga saat menggunakan perangkat komputer, posisi komputer tidak terlalu ke atas atau ke bawah. Untuk laptop, tetap gunakan meja yang tingginya sesuai, jangan memaksakan untuk menggunakan laptop di bawah/lantai sehingga membuat posisi badan membungkuk.
  • Atur meja dengan mempertimbangkan bagaimana perangkat itu akan digunakan. Perangkat yang paling sering digunakan seperti mouse dan telepon, tempatkan di posisi yang paling mudah dijangkau.
  • Atur pencahayaan ruang kerja anda secara optimal.
  • Buku, laporan, atau bahan cetakan lain yang dibutuhkan dalam bekerja dengan komputer sebaiknya diletakkan di dekat monitor. Bisa di bawah atau disamping monitor sehingga leher atau kepala tidak perlu menengok.
Kursi
  • Paha dalam posisi horisontal dan punggung bagian bawah atau pinggang tersandar.
  • Hindari posisi duduk terlalu di ujung kursi. Bila kursi kurang dapat diatur, bagian bawah punggung dapat dibantu dengan diberi bantal.
  • Telapak kaki harus dapat menumpu secara rata di lantai ketika duduk dan ketika menggunakan keyboard. Apabila tidak dapat maka kursinya mungkin terlalu tinggi, solusinya dengan memanfaatkan penyangga kaki.
  • Perlu untuk mengubah posisi duduk selama bekerja karena duduk dalam posisi tetap dalam jangka lama akan mempercepat ketidaknyamanan.
Keyboard
  • Letakkan keyboard sesuai dengan arah layar monitor.
  • Posisikan keyboard sehingga lengan dalam posisi relaks dan nyaman, serta lengan bagian depan dalam posisi horisontal
  • Pundak anda dalam posisi relaks tidak tegang dan terangkat ke atas.
  • Pergelangan tangan harus lurus, tidak menekuk ke atas atau ke bawah.
  • Ketika mengetik tangan harus ikut bergeser kekiri kanan sehingga jari tidak dipaksa meraih tombol-tombol yang dimaksud.
  • Hindari memukul tombol, cukup tekan tombol secara halus sehingga tangan dan jari anda tetap relaks. Untuk itu gunakan keyboard yang masih dalam kondisi baik.
  • Bila perlu, manfaatkan keyboard ergonomik yang dirancang untuk dapat diatur sesuai ukuran jari, kebiasaan tata letak huruf dan posisi lengan.
  • Manfaatkan fitur shortcut dan macro untuk melakukan suatu aktivitas di komputer. Misal Ctrl+Z untuk meng-undo. Shortcut / macro akan mampu mengurangi aktivitas penekanan tombol.
Mouse
  • Gunakan mouse yang mempunyai ukuran sesuai dengan ukuran tangan sehingga nyaman digunakan tangan.
  • Tempatkan mouse dekat dan di permukaan yang sama dengan keyboard sehingga mouse dapat diraih dan menggunakannya tanpa harus meregangkan tangan ke posisi yang berbeda apalagi jika harus merentangkan seluruh tangan karena posisi tersebut dapat menyebabkan keadaan tegang dan lelah otot.
  • Pegang mouse secara ringan dan klik dengan tegas. Gerakkan mouse dengan lengan, jangan hanya dengan pergelangan anda. Jangan tumpukan pergelangan atau lengan bagian depan di meja ketika anda menggerakkan mouse. Untuk jenis rolling-ball mouse, bersihkan mouse secara periodik karena mouse yang kotor akan mengganggu pergerakan kursor dan menyebabkan pergelangan menjadi tegang. Pertimbangkan untuk menggunakan scroll-point mouse, sehingga gerakan scrolling di layar dapat lebih mudah dilakukan. Selain itu optical mouse sangat baik digunakan untuk memperoleh gerakan kursor yang lebih presisi.
  • Jika menggunakan mouse berkabel, hindari penggunaan mouse yang mempunyai kabel terlalu panjang karena akan menyulitkan dalam pergerakan mouse. Sebaiknya gunakan mouse yang dapat diatur panjang pendek kabelnya. Penggunaan wireless mouse seperti teknologi infra merah dapat mempermudah pergerakan mouse sehingga mengurangi beban pergerakan tangan.
  • Untuk penggunaan laptop terutama untuk pekerjaan menggambar atau pekerjaan lain yang sering melibatkan pemindahan kursor, hindari terlalu sering penggunaan touchpad karena dapat membuat jari cepat lelah. Penggunaan mouse dapat mempermudah pekerjaan dan mengurangi beban jari.
Monitor
  • Posisikan layar monitor sedemikian rupa sehingga pantulan cahaya dari lampu, jendela atau sumber cahaya lainnya dapat diminimalisir.
  • Penggunaan filter pada layar monitor dapat mengurangi radiasi yang dipancarkan layar monitor yang diterima mata.
  • Atur monitor sehingga mata sama tingginya dengan tepi atas layar, sekitar 5-6 cm di bawah bagian atas casing monitor. Monitor yang terlalu rendah akan menyebabkan leher dan pundak nyeri.
  • Atur posisi sehingga jarak operator dan monitor berkisar 50 cm – 60 cm. Monitor yang terlalu dekat mengakibatkan mata tegang, cepat lelah, dan potensi gangguan penglihatan.
  • Posisi monitor tepat lurus di depan, jangan sampai memaksa kepala dan leher anda menengok/menoleh untuk melihat layar.
  • Atur intensitas pencahayaan dan warna monitor senyaman mungkin terhadap mata. Jangan terlalu redup jangan terlalu terang.
  • Bersihkan layar monitor yang kotor karena dapat menimbulkan efek pantulan dan tampilan buram.
Cara Berkomputer
  • Hindari menggunakan komputer bersamaan dengan mengoperasikan atau menggunakan alat lain seperti telepon angkat atau handphone (banyak terjadi pada pekerjaan sekretaris kantor). Solusinya adalah dengan mengganti telepon bentuk angkat dengan telepon bentuk headset/earphone dan speaker yang dipasang dekat mulut sehingga tidak mengganggu pekerjaan komputer dan menghindari gangguan leher.
  • Selama bekerja istirahatlah secara periodik. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan kelelahan dan ketidaknyamanan. Ikuti aturan 20/20/20, yaitu: setiap 20 menit bekerja, istirahat selama 20 detik, dengan alihkan pandangan ke jarak ±6m.
  • Saat istirahat (setelah mata lelah) usahakan untuk melihat benda atau objek berwarna hijau.
  • Bekerja dengan rileks dan nafas yang teratur sehingga sirkulasi darah ke otak lancar  agar efektif dalam bekerja (tidak cepat lelah dan mengantuk).
  • Senantiasa mengedipkan mata secara kontinyu hal ini di maksudkan agar kornea mata tidak terlalu kering.
Sumber : tugas TI UGM '06 (Dito J. dkk)
Baca selengkapnyaPenerapan Ergonomi dalam Pemakaian Komputer

Mengapa Manusia Paling Sensitif Terhadap Suara pada 4 kHz?

Manusia paling sensitif terhadap suara pada 4 kHz karena adanya resonansi dalam telinga dan saluran telinga memperkuat frekuensi khususnya antara 2,5 kHz – 5kHz.

Manusia tidak dapat mendengar semua frekuensi bunyi pada tingkat kebisingan yang sama. Telinga manusia lebih sensitive pada beberapa frekuensi dan kurang sensitif pada frekuensi lannya. Tidak hanya itu, tetapi tingkat sensitifitas berubah dengan sound pressure level (SPL). Pada grafik dibawah terdapat kurva-kurva yang bertuliskan angka, angka tersebut menunjukkan tingkat kekerasan, sumbu horizontal menunjukan frekuensi bunyi, sumbu vertikal menunjukan SPL. Lihat kurva paling bawah dengan tingkat kekerasan 10 phons (tingkat kekerasan dalam phons itu subjektif, angka ini menunjukan level yang diterima subjektif oleh manusia). Dari 500Hz ke 1500Hz garisnya datar pada 10 dB scale, artinya tingkat kekerasan yang diterima 10 phons dan sumber bunyi juga menunjukkan angka 10 dB. Pada frekuensi yang lebih tinggi misalnya 5000 Hz, untuk dapat diterima pada level yang sama yakni 10 phons membutuhkan sumber bunyi aktual hanya 6dB. Untuk dapat diterima 10 phons pada 10.000Hz membutuhkan sumber bunyi 20 dB. Dari sini dapat disimpulkan bahwa telinga lebih sensitif pada range 2000Hz – 5000Hz (tidak terlalu sensitif pada frekuensi yang tinggi). 

Sekarang fokus pada frekuensi rendah misalnya 100 Hz. Untuk menerima suara pada 100Hz sama dengan pada 1000 Hz (saat sumbernya 10dB), 100Hz membutuhkan sumber 30dB, 20dB Lebih tinggi dari pada 1000Hz. Lebih ekstrim lagi, lihat 20Hz membutuhkan sumber 75dB (65 dB lebih tinggi dari pada 1000Hz). Dari sini juga dapat disimpulkan bahwa telinga manusia tidak terlalu sensitif pada frekuensi yang rendah walapun pada tingkat SPL yang lebih rendah. 
Dari grafik dapat dilihat bahwa dalam rentang sensitif 2kHz – 5kHz yang paling sensitif adalah sekitar 3,5kHz – 4 kHz (terletak di titik terbawah kurva). 

Pada rentang 2kHz – 5kHz, tubuh kita merasakan menerima bunyi yang lebih keras dari bunyi aktual/yang sebenarnya. Itulah sebabnya pada rentang frekuensi ini, beberapa orang yang agak tuli atau tuli masih dapat mendengar musik karena mereka masih dapat merasakan frekuensi rendah yang ada pada tubuhnya.
Baca selengkapnyaMengapa Manusia Paling Sensitif Terhadap Suara pada 4 kHz?

Analisis Postur Kerja : REBA

REBA (Rapid Entire Body Assessment) merupakan salah satu metode yang bisa digunakan dalam analisa postur kerja. REBA dikembangkan oleh Dr. Sue Hignett dan Dr. Lynn Mc Atamney yang merupakan ergonom dari universitas di Nottingham (University of Nottingham’s Institute of Occuptaional Ergonomic).

Rapid Entire Body Assessment adalah sebuah metode yang dikembangkan dalam bidang ergonomi dan dapat digunakan secara cepat untuk menilai posisi kerja atau postur leher, punggung, lengan pergelangan tangan dan kaki seorang operator. Selain itu metode ini juga dipengaruhi faktor coupling, beban eksternal yang ditopang oleh tubuh serta aktifitas pekerja.

Salah satu hal yang membedakan metode REBA dengan metode analisa lainnya adalah dalam metode ini yang menjadi fokus analisis adalah seluruh bagian tubuh pekerja. Melalui fokus terhadap keseluruhan postur tubuh ini, diharapkan bisa mengurangi potensi terjadinya musculoskeletal disorders pada tubuh perkerja.

Dalam metode REBA ini, analisis terhadap keseluruhan postur tubuh pekerja dikelompokkan menjadi dua bagian. Bagian pertama atau Group A terdiri dari bagian neck, trunk, dan legs. Sedangkan bagian kedua atau Group B terdiri dari upper arms, lower arms, dan wrist.

Penilaian postur dan pergerakan kerja menggunakan metode REBA melalui tahapan–tahapan sebagai berikut:
  • Pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto. Untuk mendapatkan gambaran sikap (postur) pekerja dari leher, punggung, lengan, pergelangan tangan hingga kaki secara terperinci dilakukan dengan merekam atau memotret postur tubuh pekerja. Hal ini dilakukan supaya peneliti mendapatkan data postur tubuh secara detail (valid), sehingga dari hasil rekaman dan hasil foto bisa didapatkan data akurat untuk tahap perhitungan serta analisis selanjutnya.
  • Setelah didapatkan hasil rekaman dan foto postur tubuh dari pekerja dilakukan perhitungan nilai. Perhitungan nilai melalui metode REBA ini dimulai dengan menganalisis posisi neck, trunk, dan leg dengan memberikan score pada masing-masing komponen. Ketiga komponen tersebut kemudian dikombinasikan ke dalam sebuah tabel untuk mendapatkan nilai akhir pada bagian pertama atau score A dan ditambah dengan score untuk force atau load. Selanjutnya dilakukan scoring pada bagian upper arm, lower arm, dan wrist kemudian ketiga komponen tersebut dikombinasikan untuk mendapatkan nilai akhir pada bagian kedua atau score B dan ditambah dengan coupling score. Setelah diperoleh grand score A dan grand score B, kedua nilai tersebut dikombinasikan ke dalam tabel C, melalui tabel kombinasi akhir ini kemudian ditambahkan dengan activity score akan didapat nilai akhir yang akan menggambarkan hasil analisis postur kerja.
  • Dari final REBA score dapat diperoleh skala dari level tiap aksi yang akan memberikan pannduan untuk resiko dari tiap level dan aksi yang dibutuhkan. Perhitungan analisis postur ini dilakukan untuk kedua sisi tubuh, kiri dan kanan.
Sumber :
  • Modul Analisis Postur Kerja Laboratorium Ergonomi Teknik Industri UGM
  • Laboratorium Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi ITB
  • Applied Ergonomics
Baca selengkapnyaAnalisis Postur Kerja : REBA

Pengaruh Warna Terhadap Performansi Kerja (2)

Definisi Warna 

Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh warna biru memiliki panjang gelombang 460 nanometer.

Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia berkisar antara 380-740 nanometer dengan pembagian warna sebagai berikut :

Dalam peralatan optis, warna bisa pula berarti interpretasi otak terhadap campuran tiga warna primer cahaya: merah, hijau, biru yang digabungkan dalam komposisi tertentu. Misalnya pencampuran 100% merah, 0% hijau, dan 100% biru akan menghasilkan interpretasi warna magenta.

Dalam seni rupa, warna bisa berarti pantulan tertentu dari cahaya yang dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di permukaan benda. Misalnya pencampuran pigmen magenta dan cyan dengan proporsi tepat dan disinari cahaya putih sempurna akan menghasilkan sensasi mirip warna merah.

Di dalam ilmu warna, hitam dianggap sebagai ketidakhadiran seluruh jenis gelombang warna. Sementara putih dianggap sebagai representasi kehadiran seluruh gelombang warna dengan proporsi seimbang. Secara ilmiah, keduanya bukanlah warna, meskipun bisa dihadirkan dalam bentuk pigmen.

Nilai warna, ditentukan oleh tingkat kecerahan maupun kesuraman warna. Nilai ini dipengaruhi oleh penambahan putih ataupun hitam. Di dalam sistem RGB, nilai ini ditentukan oleh penambahan komponen merah, biru, dan hijau dalam komposisi yang tepat sama walaupun tidak harus penuh seratus persen.

Secara umum warna dikelompokkan menjadi empat kelompok:
  • Warna netral, adalah warna-warna yang tidak lagi memiliki kemurnian warna atau dengan kata lain bukan merupakan warna primer maupun sekunder. Warna ini merupakan campuran ketiga komponen warna sekaligus, tetapi tidak dalam komposisi tepat sama.
  • Warna kontras, adalah warna yang berkesan berlawanan satu dengan lainnya. Warna kontras bisa didapatkan dari warna yang berseberangan (memotong titik tengah segitiga) terdiri atas warna primer dan warna sekunder. Tetapi tidak menutup kemungkinan pula membentuk kontras warna dengan menolah nilai ataupun kemurnian warna. Contoh warna kontras adalah merah dengan hijau, kuning dengan ungu dan biru dengan jingga.
  • Warna panas, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam lingkaran warna mulai dari merah hingga kuning. Warna ini menjadi simbol, riang, semangat, marah dsb. Warna panas mengesankan jarak yang dekat.
  • Warna dingin, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam lingkaran warna mulai dari hijau hingga ungu. Warna ini menjadi simbol kelembutan, sejuk, nyaman dsb. Warna sejuk mengesankan jarak yang jauh.
Penggunaan Warna

Permainan warna banyak diterapkan di dalam kehidupan terutama dalam desain baik desain produk, interior, fashion dan sebagainya. Permainan warna dalam desain memberi dampak psikologis bagi pengamat dan pemakainya, misalnya warna merah memberi kesan merangsang, kuning memberi kesan luas dan terang, hijau atau biru memberi suasana sejuk dan segar, gelap memberi kesan sempit, permainan warna-warna terang memberi kesan luas.

Selain itu warna dapat mempengaruhi penerangan kantor, warna juga dapat mempengaruhi perasaan kita serta warna dapat juga mempercantik kantor. Kualitas warna dapat mempengaruhi emosi dan dapat pula menimbulkan perasaan senang maupun tidak senang. Penggunaan warna yang tepat pada dinding ruangan dan alat-alat dapat memberikan kesan gembira, ketenangan bekerja juga mencegah kesilauan yang ditimbulkan oleh cahaya yang berlebihan.

Warna tidak hanya mempercantik tempat kerja tetapi juga memperbaiki kondisi-kondisi didalam dimana pekerjaan itu dilakukan. Karena itu keuntungan penggunaan warna yang tepat adalah tidak hanya bersifat keindahan dan psikologis, tetapi juga bersifat ekonomis. (Moekijat 2002).

Keuntungan penggunaan warna yang baik adalah:
  • Memungkinkan tempat kerja menjadi tampak menyenangkan dan menarik pemandangan.
  • Mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap produktivitas pekerja.
(Moekijat 2002)

Masih berkaitan dengan penggunaan warna, para ahli warna membuktikan bahwa warna dapat membantu proses penyembuhan. Beberapa kebudayaan kuno, termasuk orang-orang Mesir dan Cina, mempraktekan chromotherapy, atau penggunaan warna untuk penyembuhan.

Chromotherapy merupakan terapi suportif yang dapat mendukung terapi utama. Menurut praktisi chromoterapy, penyebab dari beberapa penyakit dapat diketahui dari pengurangan warna-warna tertentu dari sistem dalam tubuh manusia.

Chromoterapy, kadang-kadang disebut terapi warna atau colorology, merupakan metode obat alternatif dan masih digunakan sampai saat ini. Seorang dokter (praktisi terapi) yang terlatih dalam chromoterapy dapat menggunakan warna dan cahaya untuk menyeimbangkan energi dalam tubuh seseorang yang mengalami kekurangan baik fisik, emosi, spiritual, maupun mental. Terapi cahaya terbukti dapat meringankan penyakit depresi yang tinggi.

Arti Warna

Persepsi arti warna merupakan hal yang subyektif. Ada beberapa efek atau arti warna yang memiliki makna universal, misalnya warna merah dikenal hangat dan dianggap membangkitkan emosi mulai dari perasaan hangat dan nyaman sampai perasaan marah dan permusuhan.

Setiap warna memiliki makna dan arti tertentu. Katakanlah warna merah berarti 'bahaya' dan warna biru melambangkan 'kebebasan hidup'. Namun fungsi warna tidak hanya sampai di situ. Menurut penelitian, otak juga bereaksi pada jenis warna. Warna memberikan efek bawah sadar yang tidak disadari oleh banyak orang. Ilmu psikologi berusaha mencari tahu dampak warna bagi alam bawah sadar manusia.

Berikut arti dan sifat-sifat universal enam warna utama dalam spektrum warna yang dapat dilihat manusia ditambah warna putih dan hitam ditinjau dari berbagai aspek seperti aesthetic, psychological, physiological, associative, dan symbolic, terutama dilihat dari aspek psikologi atau kognitif :
Penelitian Warna yang Telah Dilakukan

Penelitian terbaru dari jurnal 'Science' (Ravi Mehta & Juliet Zhu, University of British Columbia, Canada) mengungkap, seseorang patut waspada terhadap warna tertentu. Warna merah dan biru diduga dapat menyulut reaksi otak yang signifikan dari warna lain dan berbeda-beda. Warna merah bisa meningkatkan konsentrasi otak pada hal-hal detail, sedangkan warna biru memicu kreativitas. Hal itu tergantung dari aktivitas yang dikerjakan individu tersebut. Contohnya, para pelajar mampu mengingat lebih banyak huruf ketika objek tulisan berada pada layar berwarna merah. Warna merah itu ibaratnya bagai susunan batu-bata. Pelajar yang melihat tulisan pada layar merah secara praktis otak mereka akan lebih tersusun. Logikanya, otak mereka akan lebih tersusun layaknya bangunan rumah yang tersusun dari tumpukan batu-bata. Lain halnya dengan warna biru. Individu yang melihat warna biru diyakini meningkatkan energi kreatifitas.

Penelitan terhadap dampak warna juga dilakukan dalam lingkup periklanan. Individu yang melihat iklan dengan latar berwarna merah akan lebih waspada. Mereka akan terkonsentrasi pada hal-hal yang perlu dihindari. Sementara, individu yang melihat warna biru akan lebih tertarik menyikapi kreatifitas iklan tersebut. Mereka akan melihat sisi kreatif iklan yang menawarkan wisata, dibanding memuji lensa kamera apa yang dipakai untuk membuat iklan tersebut. Sejak lama kita memahami, merah berarti menghindari bahaya. Warna merah dapat membuat seseorang mengerjakan tugas yang memerlukan tingkat ketelitian tinggi. Merah membantu seseorang dalam mengingat, mengoreksi bacaan, membaca peringatan bahaya. Sementara, orang-orang yang terasosiasi warna biru mencerminkan kebebasan, kedamaian, dan mengeksplorasi kreatifitas. Biru dapat memicu motivasi dalam diri seseorang. Kebanyakan penelitian warna dilakukan terhadap warna merah. Contohnya, seragam olahraga paling cocok menggunakan warna merah karena memancarkan aura mengintimidasi, bahkan individu / tim olahraga yang menggunakan kostum merah lebih dominan dalam olahraga dan lebih sering menang (NewScientist, 2009). Merah juga merupakan warna yang menjadi simbol hari Kasih Sayang, atau Valentine. Para pria menganggap perempuan terlihat lebih sensual jika mengenakan busana merah, dibanding warna lainnya.

Theo Gimbel, dari Sekolah Terapi Warna Inggris dan psikolog A.S. Martin C.V. telah malakukan percobaan terhadap beberapa orang. Konsep teorinya, semua warna memberikan getaran yang berbeda dan mempunyai pengaruh baik atau buruk terhadap tubuh manusia, juga dapat dipakai untuk mengubah perasaan hati seseorang.

Berdasarkan penelitian, apabila sesorang memasuki ruangan bercat biru, tekanan darahnya turun sedikit, detak jantung dan tarikan nafasnya lemah. Sebaliknya dalam ruangan yang berdominasi warna merah, tekanan darahnya naik, detak jantung dan tarikan nafasnya-pun meningkat.

Maka dari itu warna biru digunakan untuk penyembuhan penyakit sulit tidur, tekanan darah tinggi atau kelainan kulit. Warna merah untuk menyembuhkan kurang darah dan mengatasi kebotakan, sementara kuning untuk menyembuhkan sembelit dan rematik. Selain itu warna dapat membantu program diet. Warna merah misalnya amat membantu menurunkan berat badan, karena itu sebaiknya program diet menyertakan makanan yang berwarna merah sebanyak mungkin, seperti radis, bit dan sayuran berwarna merah lainya.
Baca selengkapnyaPengaruh Warna Terhadap Performansi Kerja (2)

Analisis Postur Kerja : RULA

Metode RULA (Rapid Upper Limb Assessment) merupakan suatu metode yang memaparkan analisis postur kerja bagian tubuh atas pekerja. Metode ini digunakan untuk mengambil nilai postur kerja dengan cara mangambil sampel postur dari satu siklus kerja yang dianggap mempunyai resiko berbahaya bagi kesehatan si pekerja, lalu diadakan penilaian/scoring. Setelah didapat hasil dari penilaian tersebut, kita dapat mengetahui postur pekerja tersebut telah sesuai dengan prinsip ergonomi atau belum, jika belum maka perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan. Metode ini menggunakan diagram body postures dan tiga tabel penilaian (tabel A, B, dan C) yang disediakan untuk mengevaluasi postur kerja yang berbahaya dalam siklus pekerjaan tersebut. Melalui metode ini akan didapatkan nilai batasan maksimum dan berbagai postur pekerja, nilai batasan tersebut berkisar antara nilai 1 – 7.

Tujuan dari metode RULA adalah:
  • Menyediakan perlindungan yang cepat dalam pekerjaan.
  • Mengidentifikasi usaha yang dibutuhkan otot yang berhubungan dengan postur tubuh saat kerja.
  • Memberikan hasil yang dapat dimasukkan dalam penilaian ergonomi yang luas.
  • Mendokumentasikan postur tubuh saat kerja, dengan ketentuan :
  • Tubuh dibagi menjadi dua grup yaitu A (lengan atas dan bawah dan pergelangan tangan) dan B (leher, tulang belakang, dan kaki).
  • Jarak pergerakan dari setiap bagian tubuh diberi nomor.
  • Scoring dilakukan terhadap kedua sisi tubuh, kanan dan kiri.
Langkah-langkah dalam melaksanakan analisa postur kerja menggunakan metode RULA:
  • Pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto
  • Observasi dan pilih postur yang akan dianalisis
  • Scoring and recording the posture (lihat table scoring)
  • Action level (lihat table action level)
  • Analisa posture
  • Saran perbaikan
Sistem penilaian untuk postur dari bagian tubuh yang dianalisis atau The Rula Scoring Sheet dapat dilihat pada gambar berikut:

Sumber :
  • Modul Analisis Postur Kerja Laboratorium Ergonomi Teknik Industri UGM
  • McAtamney & Corlett, Applied Ergonomics 1993
Baca selengkapnyaAnalisis Postur Kerja : RULA

K3 di Industri Pertambangan


Untuk melihat artikel K3 di pertambangan lainnya klik disini dan disini.

Komitmen dan Pola Kebijakan K3 di Sektor Mineral dan Batubara

Dalam sektor pertambangan mineral dan batubara, K3 merupakan kunci bisnis yang menjadi prioritas. Seperti yang tercantum dalam Pasal 5, Ayat 1, Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 555.K/26/M.PE/1995 tentang K3 Pertambangan Umum, dinyatakan bahwa kegiatan pertambangan, baik eksplorasi maupun eksploitasi baru dapat dimulai setelah pemegang Kuasa Pertambangan (sekarang Pemegang Izin Usaha Pertambangan) memiliki Kepala Teknik Tambang (KTT), yaitu seseorang yang memimpin dan bertanggung jawab atas terlaksananya serta ditaatinya peraturan perundang-undangan K3 pada suatu kegiatan usaha pertambangan. Kemudian, ketika kegiatan pertambangan telah berlangsung, pengusaha harus menghentikan pekerjaan apabila KTT atau petugas yang ditunjuk tidak berada pada pekerjaan usaha tersebut, seperti yang tercantum dalam Pasal 4, Ayat 7, Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 555.K/26/M.PE/1995.

K3 juga merupakan kewajiban yang melekat bagi pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), sebagaiman tercantum dalam Pasal 96, Huruf a, UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Selanjutnya, pelaksanaan K3 pada kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh pemegang IUP, IPR, atau IUPK tersebut diawasi oleh pemerintah melalui Inspektur Tambang seperti yang tercantum dalam Pasal 141, Ayat 1 dan Ayat 2, UU No. 4 Tahun 2009.

Dari penjelasan tersebut, sangat jelas bahwa sektor pertambangan mineral dan batubara memiliki komitmen yang sangat tinggi terhadap K3 yang pengelolaannya diarahkan untuk mendukung kebijakan dalam menciptakan kegiatan pertambangan yang aman, bebas dari kecelakaan kerja, kejadian berbahaya dan penyakit akibat kerja.

Kontrol Pemerintah terhadap Perusahaan/industri Mineral dan Batubara


Berdasarkan Pasal 140 Ayat 3, UU No. 4 Tahun 2009, Menteri, Gubernur dan Bupati/Walikota sesuai dengan kewenangannya melakukan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan yang dilakukan oleh pemegang IUP, IPR atau IUPK.

Berdasarkan Pasal 141 Ayat 1, hal yang menjadi aspek pengawasan adalah:
  • teknis pertambangan,
  • pemasaran,
  • keuangan,
  • pengelolaan data mineral dan batubara,
  • konservasi sumber daya mineral dan batubara,
  • keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan,
  • keselamatan operasi pertambangan,
  • pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi dan pasca tambang,
  • pemanfaatan barang, jasa, teknologi dan kemampuan rekayasa dan rancang bangun dalam negeri,
  • pengembangan tenaga kerja teknis pertambangan,
  • pengembangan dan pemberdayaan masyarakat setempat,
  • penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan,
  • kegiatan-kegiatan lain di bidang kegiatan usaha pertambangan yang menyangkut kepentingan umum,
  • pengelolaan IUP atau IUPK, dan
  • jumlah, jenis, dan mutu hasil usaha pertambangan.
Pengawasan terhadap teknis pertambangan; konservasi sumber daya mineral dan batubara; keselamatan dan kesehatan kerja pertambangan; keselamatan operasi pertambangan; pengelolaan lingkungan hidup, reklamasi dan pasca tambang; penguasaan, pengembangan, dan penerapan teknologi pertambangan, dilakukan oleh Inspektur Tambang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Pasal 141 Ayat 2).

Khusus untuk K3, pengawasan K3 pertambangan dilaksanakan dengan tujuan menghindari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Ruang lingkup K3 pertambangan meliputi:

1. Keselamatan kerja,

Yang dimaksud keselamatan kerja antara lain berupa:
  • Manajemen risiko,
  • Program keselamatan kerja,
  • Pelatihan dan pendidikan keselamatan kerja,
  • Administrasi keselamatan kerja,
  • Manajemen keadaan darurat,
  • Inspeksi dan Audit keselamatan kerja,
  • Pencegahan dan penyelidikan kecelakaan.
2. Kesehatan kerja,

Yang dimaksud kesehatan kerja antara lain berupa:
  • Program kesehatan kerja
  • Pemeriksaan kesehatan pekerja,
  • Pencegahan penyakit akibat kerja,
  • Diagnosis dan pemeriksaan penyakit akibat kerja
  • Hiegiene dan sanitasi,
  • Pengelolaan makanan, minuman dan gizi kerja,
  • Ergonomis.
3. Lingkungan Kerja,

Yang dimaksud lingkungan kerja antara lain berupa:
  • Pengendalian debu,
  • Pengendalian kebisingan,
  • Pengendalian getaran,
  • Pencahayaan,
  • Kualitas udara kerja (kuantitas dan kualitas)
  • Pengendalian radiasi
  • House keeping.
4. Sistem Manajemen K3.

Selain K3, dalam pertambangan mineral dan batubara dikenal pula “Keselamatan Operasi Pertambangan”. Pengawasan Keselamatan Operasi Pertambangan dilaksanakan dengan tujuan menciptakan kegiatan operasi pertambangan yang aman dan selamat. Ruang lingkup Keselamatan Operasi Pertambangan meliputi:
  • Evaluasi laporan hasil kajian,
  • Pemenuhan standardisasi instalasi,
  • Pengamanan instalasi,
  • Kelayakan sarana, prasarana dan instalasi peralatan pertambangan
  • Kompetensi tenaga teknik.
Pelaksanaan pengawasan K3 dan keselamatan operasi pertambangan oleh Direktorat Jenderal Mineral, Batubara dan Panas Bumi dilaksanakan dalam bentuk:

a. Pengawasan Administratif

Pengawasan administratif meliputi:
  • Bahan peledak (Format IVi / Rekomendasi)
  • Laporan kecelakaan (Format IIIi; Vi; VIi; VIIi; VIIIi; IXi)
  • Peralatan (dokumen untuk perijinan)
  • Persetujuan (hasil kajian tinggi jenjang, ventilasi, penyanggaan, dan lain-lain)
  • Laporan pelaksanaan program K3 (Triwulan)
  • Rencana Kerja Tahunan Teknis dan Lingkungan (RKTTL)
  • Pengawasan Operasional / Lapangan
b. Pengawasan operasional / lapangan meliputi:
  • Inspeksi K3, Inspeksi dilaksanakan oleh PIT/IT yang berkordinasi dengan pengawas daerah. Contoh objek yang diinspeksi antara lain area penambangan, haul road, perbengkelan, pabrik, pengolahan, pelabuhan, fasilitas dan instalasi lainnya.
  • Pemeriksaan / Penyelidikan Kecelakaan
  • Pemeriksaan / Penyelidikan Kejadian Berbahaya
  • Pengujian Kelayakan Sarana, Peralatan dan Instalasi
c. Pengujian sarana, peralatan dan instalasi meliputi:
  • Sistem Ventilasi,
  • Sistem Penyanggaan,
  • Kestabilan Lereng,
  • Gudang Bahan Peledak
  • Penimbunan Bahan Bakar Cair
  • Kapal Keruk
  • Kapal Isap
  • Alat  Angkut Orang, Barang, dan Material
  • Alat Angkat
  • Bejana Bertekanan
  • Instalasi Pipa
  • Pressure Safety Valve
  • Peralatan Listrik
  • Pengujian Kondisi Lingkungan Kerja
  • Pengujian/penilaian kompetensi
d. Pengujian/penilaian kompetensi meliputi;
  • Penilaian kompetensi calon Kepala Teknik Tambang
  • Pengujian kompetensi Juru Ledak
  • Pengujian Kompetensi Juru Ukur
  • Pengujian Kompetensi Pengawas Operasional (POP; POM; POU)
  • Pengujian Kompetensi Juru Las (bekerja sama dengan pihak ke-3)
  • Pengujian Kompetensi Operator alat angkat (bekerja sama dengan pihak ke-3)
Peraturan / Undang-undang di Sektor Mineral dan Batubara yang Mengatur K3

Beberapa peraturan yang menjadi dasar pengelolaan K3 di pertambangan mineral dan batubara adalah sebagai berikut:
  • UU No.4 Tahun 2009  tentang Pertambangan Mineral dan Batubara
  • UU No.32 Tahun 2004  tentang  Otonomi Daerah
  • UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
  • UU No. 1 Tahun 1970   tentang Keselamatan Kerja
  • PP No.38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemprov dan Pemkab/Kota
  • PP No.19 Tahun 1973 tentang Pengaturan dan Pengawasan K3 di Bidang  Pertambangan
  • Kepmen No.555.K  Tahun 1995 tentang K3 Pertambangan Umum
  • Kepmen.No.2555.K Tahun 1993 tentang PIT Pertambangan Umum.
  • Keputusan Bersama Menteri ESDM dan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 1247.K/70/MEM/2002 dan No. 17 Tahun 2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Inspektur Tambang dan Angka Kreditnya
Peran KTT dalam implementasi K3

KTT memiliki peran penting dalam implementasi K3. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, KTT adalah seseorang yang memimpin dan bertanggung jawab atas terlaksananya serta ditaatinya peraturan perundang-undangan K3 pada suatu kegiatan usaha pertambangan.

Sumber : Warid Nurdiansyah (http://waridnurdiansyah.blogspot.com)
Baca selengkapnyaK3 di Industri Pertambangan

Chevron, HES Representative

Requirements:
  • Has experience and certified in HES/K3 in geothermal, oil or gas industry will be prefferable.
  • Minimum 4 years experience with 3 years experience in HES/K3L in the major area of Motor Vehicle Safety, Food Hygiene, Building/Office Safety, Domestic Waste Handling and Contract Management.
  • Effectively communicate in both written and verbal English
  • Has strength integrity and pro-active initiative
  • Strong in seeking learning activities
  • Able to establish effective relationships with people of other culture and backgrounds
  • Willing to relocate to Chevron operations locations (East Kalimantan/Riau/West Java)
  • Desiring to work in a multicultural and diverse organization
  • Education Requirement : S1
  • Education Discipline : Health, Environment and Safety/Mechanical/Civil Engineering
  • GPA min. : 2.75
  • Work Location : Jakarta
  • Informasi lebih lanjut kunjungi http://id.jobstreet.com/jobs/2011/3/default/40/204047.htm?fr=J
Baca selengkapnyaChevron, HES Representative

PT Holcim Indonesia, OHS Officer

Responsibilities:
  • To promote and contribute positively to achieving the company OH&S and targets
  • To Ensuring that employee embrace our vision of "Safety First, No Compromise"
  • To creating a sustainable culture that demand the highest practical attainment of safe Behaviour of each person that directly or indirectly work for Holcim Indonesia
Requirements:
  • Bachelor degree in HSE or related fields
  • Min of 3 years experiences in Health, Safety and Environmental Management context with an extensive and successful previous occupational health and safety background in Manufacturing, Oil and Gas or Mining Industries
  • Computer literacy ; Office & Lotus Notes
  • Excellence communication skills in Bahasa and English ( oral and written )
  • Certificate from GOI Occupational Health and Safety
  • Ability to demonstrate strong presentation skills
  • Knowledge of Indonesian OHS & Environmental Regulation
  • Hazard identification, Risk Assessment and Accident Investigation skills
  • Adapts and Learns
  • Willing to travel domestically & internationally
Informasi selengkapnya kunjungi http://id.jobstreet.com/jobs/2011/3/default/40/206057.htm?fr=J
    Baca selengkapnyaPT Holcim Indonesia, OHS Officer

    Lowongan Ergonomi : PT. Indo Tambangraya Megah,Tbk (ITM), Engineer Trainee (K3)

    General Requirement:
    1. Already got bachelor degree by end of may 2011
    2. Ready to Join ITM on End of May 2011
    3. Major:
    • Geology
    • Mechanical Engineering
    • Electrical Engineering
    • Civil Engineering
    • Environmetal Engineering
    • Public Health (K3)
    4. Max Age 25 Years old
    5. GPA Min. 3.0
    6. Pass All Selection Process

    Untuk informasi lengkapnya silahkan kunjungi http://ecc.ft.ugm.ac.id/index.php?r=lowongan/view&id=904&t=1
    Baca selengkapnyaLowongan Ergonomi : PT. Indo Tambangraya Megah,Tbk (ITM), Engineer Trainee (K3)

    Bagian-bagian Kerja untuk Ergonom

    Orang yang mempunyai latar belakang di bidang ergonomi (biasanya sarjana teknik industri) mempunyai kesempatan untuk berkerja dibidang-bidang yang sangat membutuhkan kemampuan ergonomi seperti:
    • Bagian ergonomi atau departemen ergonomi (biasanya bagian ergonomi ergonomi masuk bagian SHE).
    • Bagian SHE atau HSE (penyebutan di setiap perusahaan bervariasi) yakni Safety, Health, dan Environment dimana yang paling menonjol adalah di industri pertambangan, manufaktur, kontraktor dan pemrosesan (di beberapa perusahaan, SHE masuk dalam bagian sumber daya manusia atau HRD karena objek utamanya adalah sama yakni manusia).
    • Bagian sumber daya manusia (SDM) atau HRD.
    • Konsultan ergonomi dan K3.
    • Tenaga pengajar / staf akademik seperti dosen dsb.
    • Peneliti di bidang ergonomi.
    • Pemerintahan seperti di kementerian Kesehatan (terdapat pusat kesehatan kerja).
    Baca selengkapnyaBagian-bagian Kerja untuk Ergonom

    Institusi yang Memberikan Pendidikan Ergonomi

    Bidang ergonomi dapat ditemui di bidang-bidang pendidikan atau di program studi seperti:
    • Teknik industri dan sejenisnya seperti teknik manufaktur, system engineering dll yang pada dasarnya serupa dengan teknik industri atau merupakan bagian dari teknik industri. Program studi inilah yang paling banyak mempelajari ergonomi secara keseluruhan dan secara sistemik mulai dari fisiologi manusia kerja, ergonomi kognitif, ergonomi industri, perancangan sistem kerja, sistem keselamatan kerja dan K3, ergonomi lingkungan, usabilitas dsb. Di program studi ini juga biasanya terdapat laboratorium khusus untuk ergonomi.
    • Kesehatan masyarakat / public health, program studi ini fokus kepada K3.
    • Psikologi. Program studi ini mempelajari ergonomi kognitif.
    • Biomedical engineering.
    • Kedokteran umum. Fokus pada organ-organ manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan. Di program studi ini juga mengenal antropometri. Selain itu, terdapat pula dokter spesialis okupasi (SPOk).
    • Teknik mesin.
    • Ilmu gizi dan kesehatan (menyangkut antropometri).
    Institusi di Indonesia yang mempelajari bidang ergonomi meliputi :
    • Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Institusi ini memiliki laboratorium ergonomi yang cukup besar dan terus berkembang. UGM juga memiliki pendidikan di bidang psikologi dan kedokteran (termasuk pascasarjana ilmu kesehatan kerja) yang sangat terkenal dan sangat maju ditambah universitas ini memiliki kualitas pendidikan sosial yang bisa dibilang paling maju di Indonesia. Dengan adanya lingkungan pendidikan yang multidisiplin antara sosial dan sains atau teknik yang terintegrasi ini maka riset-riset di bidang yang berkaitan erat dengan keduanya (social-technical) seperti bidang teknik industri termasuk ergonomi bisa dengan mudah dikembangkan dengan baik. Hal ini terbukti dengan adanya kerjasama tenaga ajar di bidang ergonomi yang multidisiplin mulai dari teknik industri itu sendiri, psikologi (ergonomi kognitif), dan dokter (spesialis okupasi).
    • Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung. Institusi ini memiliki laboratorium perancangan sistem kerja dan ergonomi yang sangat aktif termasuk dalam publikasinya. Teknik industri ITB merupakan teknik industri yang pertama di Indonesia sehingga unggul dalam pengalaman. Selain itu, ITB merupakan pendidikan tinggi teknik terbaik di Indonesia sehingga dapat menunjang perkembangan ergonomi dengan maksimal. Di institusi inilah bertempat Perhimpunan Ergonomi Indonesia (PEI) atau Indonesian Ergonomics Society (IES).
    • Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya. Institusi ini memiliki laboratorium ergonomi dan perancangan sistem kerja. Sama dengan ITB, ITS mempunyai sejarah pendidikan teknik yang sangat berkembang dan lengkap dan sangat menunjang perkembangan ilmu-ilmu di teknik termasuk ergonomi.
    • Teknik Industri, Fakultas Teknik, Unversitas Indonesia (UI) Depok dan Jakarta, Institusi ini memiliki laboratorium faktor manusia. Institusi ini terletak di kawasan Jabodetabek yang merupakan pusat industri di Indonesia. Hal ini sangat mempermudah akses ke industri sehingga menunjang riset-riset ergonomi di lapangan. Institusi ini juga mempunyai Fakultas Kesehatan Masyarakat yang sangat menunjang perkembangan ilmu ergonomi terutama di bidang K3.
    • Institusi-institusi lainnya yang mempunyai laboratorium analisis perancangan kerja dan ergonomi (APK & E) seperti Universitas Islam Indonesia, Universitas Gunadarma dan masih sangat banyak lagi yang tersebar di seluruh Indonesia.
    • Institusi-institusi pendidikan lain yang bergerak di bidang psikologi, kedokteran, dan kesehatan masyarakat.
    Baca selengkapnyaInstitusi yang Memberikan Pendidikan Ergonomi

    Analisis Postur Kerja

    Dalam dunia industri, peranan manusia sebagai sumber tenaga kerja masih dominan dalam menjalankan proses produksi terutama kegiatan yang bersifat manual (mayoritas berupa manual material handling). Aktivitas manusia seperti ini dapat menyebabkan problem ergonomi yang sering dijumpai di tempat kerja khususnya yang berhubungan dengan kekuatan dan ketahanan manusia dalam melakukan pekerjaannya atau biomekanika yang disebut gangguan muskuloskeletal yang sering disebut Muskuloskeletal Disorder (MSD) atau penegangan otot bagi pekerja yang melakukan gerakan yang sama dan berulang secara terus-menerus

    Keluhan MSD yang sering timbul pada pekerja industri adalah nyeri punggung, nyeri leher, nyeri pada pergelangan tangan, siku dan kaki. Ada 4 faktor yang dapat meningkatkan timbulnya MSD yaitu postur yang tidak alamiah, tenaga yang berlebihan, pengulangan berkali-kali, dan lamanya waktu kerja. Level MSD dari yang paling ringan hingga yang berat akan menggangu konsentrasi dalam bekerja, menimbulkan kelelahan dan pada akhirnya akan menurunkan produktivitas. Untuk itu diperlukan suatu upaya pencegahan dan minimalisasi timbulnya MSD di lingkungan kerja. Upaya ini dapat diwujudkan melalui analisis postur kerja. Ada berbagai macam metode analisis postur kerja seperti RULA, REBA, OWA, Strain Index, MANTRA, OCRA, dan QEC. Dari hasil analisis postur kerja ini selanjutnya akan diperoleh rekomendasi perbaikan yang perlu dilakukan.

    Dengan upaya pencegahan terhadap MSD melalui analisa postur kerja ini diharapkan diperoleh manfaat berupa penghematan biaya, peningkatan produktivitas dan kualitas kerja serta peningkatan kesehatan, kesejahteraan dan kepuasan kerja karyawan.
    Baca selengkapnyaAnalisis Postur Kerja

    Thermal Environment

    Thermal environment juga merupakan bagian dalam ergonomi. Suhu dan ruangan yang cocok dan nyaman sangat penting agar kita merasa nyaman terutama saat bekerja atau beraktivitas. Suhu atau temperatur yang cocok dan nyaman adalah berkisar antara 20-22ºC pada saat musim dingin dan 20-24ºC pada saat musim panas. Di Indonesia sendiri yang hanya memiliki dua musim, suhu yang cocok atau nyaman bisa dikatakan hampir sama dengan suhu yang telah disebutkan. Jika suhunya lebih tinggi dari suhu tersebut maka kita bisa menjadi cepat lelah dan mengantuk, sedangkan suhu yang lebih rendah bisa menyebabkan kegelisahan dan berkurangnya perhatian.

    Tingkat respek dan toleransi manusia terhadap thermal environment tergantung pada beberapa faktor yakni kondisi fisik, umur, jenis kelamin, lemak dalam tubuh, dan konsumsi alkohol.

    Ketidaknyamanan menyangkut thermal environment dapat menimbulkan stress. Terdapat dua macam stress. Pertama heat stress (akibat suhu yang tinggi) dan cold stress (akibat suhu yang rendah). Heat stress dapat menimbulkan efek fisik diantaranya efek terhadap sistem kardiovaskular, keluarnya keringat, penyakit akibat panas (heat illnes) diantaranya heat rash (timbul bintik), heat cramps (kejang), heat exhaustion (kelelahan) dan heat stroke. Sedangkan cold stress dapat menimbulkan efek fisik diantaranya vasoconstriction, menggigil, luka akibat cold stress seperti frostbite (radang dingin) dan dive reflex (pelemahan denyut jantung akibat dingin dan pernapasan terhenti).

    Karena suhu atau temperatur sangat berpengaruh terutama terhadap performa saat bekerja atau beraktivitas maka suhu atau temperatur tempat atau ruang harus diperhatikan, dijaga, dan dibuat supaya nyaman tergantung faktor-faktor dan kondisi tempat atau ruangan tersebut.
    Baca selengkapnyaThermal Environment

    Illumination / Pencahayaan

    Illumination atau pencahayaan merupakan bagian dari ergonomi yang sangat penting. Cahaya sendiri merupakan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu dimana manusia dapat melihatnya dan diterima oleh mata sebagai warna. Jadi yang terpengaruh oleh pencahayaan yang baik atau buruk adalah mata sebagai indera penglihatan manusia yang terdiri dari bagian-bagian optik yang bekerja berdasar cahaya.

    Sumber cahaya sendiri ada dua jenis yakni cahaya alami dan cahaya buatan. Cahaya matahari merupakan sumber utama cahaya alami. Sedangkan cahaya buatan dibagi menjadi dua jenis. Jenis pertama adalah incandescent light (cahaya pijar), contohnya adalah lampu tradisional. Jenis kedua adalah fluorescent tube, contohnya adalah lampu listrik. Terdapat perbedaan antara tiga sumber cahaya yakni cahaya matahari, incandescent light, dan  fluorescent tube. Dalam hal jumlah radiasi yang dihasilkan, cahaya matahari menghasilkan radiasi sama dengan spektrum gelombang yang terlihat, incandescent light menghasilkan lebih banyak radiasi, fluorescent tube menghasilkan radiasi tidak sama rata dengan spektrum. Selain itu karena komposisi spektrum yang berbeda-beda dari masing-masing sumber cahaya maka warna yang ditimbulkan dari masing-masing sumber cahaya bisa berbeda.

    Waktu pencahayaan juga memiliki pengaruh. Saat sumber menghasilkan cahaya dengan laju rendah, 10 – 20 kali per detik, maka akan menghasilkan cahaya berkelap-kelip. Jika laju dinaikkan maka kelap-kelip cahaya semakin berkurang dan kemunculan cahaya semakin stabil.

    Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pencahayaan di lingkungan kerja adalah tingkat/jumlah cahaya (biasa dalam lux), arah cahaya, dan glare (tingkat kesilauan) terdiri dari disabiliy glare (glare yang mengurangi penglihatan) dan discomfort glare (glare yang menyakitkan mata sekaligus mengurangi penglihatan).
    Baca selengkapnyaIllumination / Pencahayaan

    Pengaruh Warna Terhadap Performansi Kerja (1)

    Performansi kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu diantaranya adalah lingkungan fisik tempat kerja. Lingkungan fisik adalah sesuatu yang berada di sekitar para pekerja yang meliputi warna, cahaya, udara, suara serta musik yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan. (Moekijat 1995:135). Lingkungan fisik yang baik akan mendorong timbulnya peningkatan performansi kerja. Sebaliknya apabila lingkungan fisik buruk tentu produktivitas dan performansi kerja menurun, karena pekerja akan merasa tidak nyaman dalam bekerja. Performansi kerja seorang pekerja sangat diperlukan dalam suatu organisasi karena dengan performansi kerja yang tinggi maka kualitas sumber daya manusia dapat meningkat sehingga tujuan organisasi yang telah ditetapkan dapat tercapai.

    Seperti telah disebutkan di atas, salah satu hal yang sangat berpengaruh terhadap lingkungan fisik tempat kerja adalah warna. Aspek warna dapat diaplikasikan dalam tempat kerja melalui permainan warna dalam desain baik desain peralatan, produk, atau media-media lain di sekitar tempat kerja seperti dinding, lantai, dan sebagainya.

    Beberapa peneltian menunjukan hubungan positif antara arti warna dilihat dari sudut pandang aspek aesthetic, psychological, physiological, associative, dan symbolic dengan efek warna pada desain lingkungan kerja terhadap performansi kerja. Misalnya penelitian yang membuktikan bahwa warna merah cocok untuk meningkatkan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi pada hal-hal yang detail dan warna biru cocok untuk meningkatkan pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, atau penelitian yang menyebutkan bahwa tim olahraga dengan kostum warna merah cenderung dominan untuk menang. Hal ini sejalan dengan ilmu fisiologi yang menyatakan bahwa warna merah menstimulasi tubuh dan pikiran, ilmu psikologi yang menyatakan bahwa warna biru memberikan kesan ketenangan pikiran atau perasaan tenang, serta ilmu psikologi yang menyatakan bahwa warna merah member kesan intimidasi dan memicu emosi.

    Namun sayangnya kebanyakan penelitian warna yang telah ada dilakukan terhadap warna merah. Padahal jumlah warna sangat banyak. Ada beberapa warna yang menonjol dan disebut sebagai warna dalam spektrum cahaya yang dapat ditangkap mata. Warna tersebut adalah merah, oranye atau jingga, kuning, hijau, biru, dan violet (mirip ungu). Warna-warna tersebut perlu dikaji dan teliti pengaruhnya terhadap performansi kerja dalam hubungannya dengan pemakaian warna-warna tersebut dalam desain lingkungan kerja dan dapat dilihat apakah pengaruh warna-warna tersebut sejalan atau menunjukan hubungan positif dengan arti warna dilihat dari aspek aesthetic, psychological, physiological, associative, dan symbolic.
    Baca selengkapnyaPengaruh Warna Terhadap Performansi Kerja (1)