Ergonomi Kognitif

Latar Belakang dan Definisi Ergonomi Kognitif

Kemajuan pesat di bidang teknologi informasi bersamaan dengan keinginan untuk perbaikan produktivitas dan kondisi manusia telah membuat ketrampilan fisiologis yang hanya meliputi kemampuan motorik dan kekuatan tenaga manual tidak bisa lagi digunakan sebagai satu-satunya alat untuk melakukan analisa terhadap performansi kerja manusia. Dilain pihak pertimbangan kemampuan/keterampilan intelektual dan kognitif juga semakin diperlukan. Sehingga dari perkembangan tersebut, memaksa untuk dengan segera diperkirakan sebuah pengkajian yang memungkinkan terakomodasikannya kemajuan-kemajuan yang ada.


Pengkajian dalam perancangan sistem kerja dengan melibatkan tugas-tugas kognitif dalam pemecahan masalah, beban fisik (faal kerja) dalam pengendalian sistem kerja yang semakin kompleks, serta interaksi antara manusia dengan sistem kerja maupun lingkungannya memerlukan sebuah pendekatan yang komprehensif dan integral. Ergonomi sebagai sebuah disiplin keilmuan yang mencoba mempelajari interaksi manusia (dari aspek beban fisik dan mental) dalam sistem kerjanya secara komprehensif-integral mengklasifikasikannya sebagai studi ergonomi kognitif (Sage, 1992).

Ergonomi kognitif adalah cabang ergonomi yang berkaitan dengan proses mental manusia, termasuk di dalamnya; persepsi, ingatan, dan reaksi, sebagai akibat dari interaksi manusia terhadap pemakaian elemen sistem. Topik-topik yang relevan dalam ergonomi kognitif antara lain; beban kerja, pengambilan keputusan, performa, interaksi manusia-komputer, kehandalan manusia, stres kerja dan training karena hal-hal tersebut berkaitan dengan perancangan manusia-sistem. Ergonomi kognitif mempelajari kognisi dalam sistem kerja terutama yang berkaitan dengan setelan operasi, dalam rangka mengoptimalkan kesejahteraan manusia dan performa sistem. Ergonomi kognitif berusaha menyelidiki proses-proses mental di dalam diri manusia dengan cara objektif dan ilmiah.

Untuk memahami lebih lanjut apa sih sebenarnya ergonomi kognitif, mungkin sebaiknya dipahami dulu apa itu kognitif atau kognisi karena kedua kata dari frase ini yakni “ergonomi” dan “kognitif” sama-sama masih “asing” untuk khalayak umum dan ergonomi sudah banyak dijelaskan di blog ini. Bahkan bagi mahasiswa Teknik Industri pun mungkin banyak yang belum paham 100% apa itu kognitif atau kognisi dan ergonomi kognitif karena sebagian besar mata kuliah ergonomi lebih banyak mengarah ke ergonomi fisik karena memang ergonomi jenis ini yang paling terkenal dan yang sudah banyak diaplikasikan.

Kognisi


Kognitif (kata sifat) atau kognisi (kata benda) adalah proses-proses mental atau aktivitas pikiran dalam mencari, menerima, menemukan / mengetahui, mempersepsi, memahami, mempelajari, menalar, mengingat dan berpikir tentang suatu informasi. Kemampuan kognitif diperoleh dari proses belajar yang merupakan perpaduan antara faktor bawaan dan lingkungan (sama halnya dengan fisik manusia juga perpaduan antara bawaan / gen dan lingkungan, selengkapnya klik disini dan disini).

Istilah kognisi dalam Bahasa Latin disebut cognoscere, artinya "untuk mengetahui", "untuk mengkonsep" atau "untuk mengenali"). Kognisi mengacu pada proses mental. Proses ini meliputi perhatian, mengingat, produksi dan pemahaman bahasa, pemecahan masalah, dan membuat keputusan. Kognisi, atau proses kognitif, bisa alami atau buatan, sadar atau tidak sadar. Proses ini dianalisis dari perspektif yang berbeda dalam konteks yang berbeda, terutama dalam bidang linguistik, anestesi, neurologi dan psikiatri, psikologi, filsafat, antropologi, systemics, ilmu komputer dan keyakinan. Oleh karena itu walaupun sebenarnya kognisi dipelajari pada suatu ilmu tersendiri yakni ilmu kognitif (cognitive science) namun kognisi selalu berhubungan dan dipelajari di berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, filsafat, linguistik, dan ilmu komputer. Penggunaan istilah bervariasi dalam disiplin ilmu yang berbeda, misalnya dalam psikologi dan ilmu kognitif, biasanya mengacu pada pandangan pengolahan informasi dari fungsi psikologis individu. Hal ini juga digunakan dalam cabang psikologi sosial yang disebut kognisi sosial untuk menjelaskan dinamika sikap, atribusi dan kelompok. Dalam psikologi atau filsafat, konsep kognisi berkaitan erat dengan konsep-konsep abstrak seperti pikiran, kecerdasan, kognisi digunakan untuk merujuk pada fungsi mental, proses mental (pikiran) dan kecerdasan baik itu manusia, organisasi manusia, mesin otomatis dan kecerdasan buatan.

Ilmu kognitif

Ilmu kogntif adalah studi ilmiah interdisipliner mengenai pikiran dan proses-prosesnya. Ilmu ini membahas apa itu kognisi, apa yang dilakukan dan bagaimana cara kerjanya. Ilmu ini mencakup penelitian tentang bagaimana informasi diproses (berhubungan dengan persepsi, bahasa, memori, penalaran, dan emosi), diwakili, dan diubah dalam perilaku, sistem saraf (manusia atau hewan) atau bahkan mesin (misalnya, komputer). Ilmu kognitif terdiri dari beberapa disiplin penelitian meliputi psikologi, kecerdasan buatan, filsafat, ilmu saraf, linguistik, antropologi, sosiologi, dan pendidikan. Ilmu ini mencakup banyak tingkat analisis, dari tingkat rendah seperti mekanisme belajar dan pengambilan keputusan sampai tingkat tinggi seperti logika dan perencanaan; dari sirkuit saraf ke konfigurasi otak modular.

Kognitif, Ergonomi, dan Teknik Industri

Seperti disebutkan sebelumnya, ilmu kognitif memang multidisipliner atau interdisipliner namun yang “paling kelihatan” erat hubungannya adalah psikologi. Karena itu banyak mahasiswa Teknik Industri yang sangat bangga dengan ilmunya karena mencakup hampir semua ilmu seperti engineering, ekonomi, manajemen, kedokteran dan termasuk psikologi yakni penerapan kognisi dalam ergonomi kognitif (mungkin termasuk saya ^_^). Tapi tunggu dulu, memang benar kognitif itu bisa dibilang adalah bagian dari psikologi karena kognitif merupakan salah satu pendekatan dalam bidang psikologi, namun mengapa tidak sekalian saja keseluruhan psikologi dimasukan dalam bidang ergonomi kognitif dan namanya diganti menjadi ergonomi psikologi bukan ergonomi kognitif? Karena tidak semua pendekatan psikologi masuk dalam pembelanjaran ergonomi atau teknik industri, dalam hal ini pendekatan kognitif lah yang sesuai. Mengapa? Mungkin karena psikologi kognitif berbeda dari pendekatan-pendekatan psikologi lainnya. Ada beberapa macam pendekatan psikologi dan yang cukup menonjol adalah psychoanalysis, behaviorism, dan cognitivism yang saat ini lebih dikenal dengan psikologi kognitif dan psikologi kognitif ini merupakan pendekatan yang terkini / modern. Psikologi kognitif berbeda dari pendekatan-pendekatan psikologi lainnya dalam dua hal yakni:
  • Psikologi kognitif menerima penggunaan metode-metode ilmiah / scientific method dan hal ini bertentangan dengan psychoanalysis (Freudian psychology) yang menggunakan metode interpretasi, instrospeksi dan observasi klinis (ingat!!! ergonomi dan teknik industri adalah bagian dari engineering yang bersifat sains dan merupakan scientific management / manajemen sains sehingga tools-nya harus scientific).
  • Secara eksplisit, psikologi kognitif mengakui adanya mental internal yang maksudnya adalah ada pengaruh internal dari tubuh manusia terhadap psikis manusia. Hal ini bertentangan dengan behaviorism yang menganggap bahwa pikiran manusia tidak bisa diteliti atau dijamah sehingga menganggap psikis atau behavior hanya dipengaruhi oleh lingkungan dan tidak ada faktor internal dari dalam manusia. Awalnya point ini mendapat banyak kritikan namun bidang lain yang masih berhubungan dengan psikologi kognitif yakni cognitive neuroscience telah membuktikan bahwa secara fisiologis kondisi otak secara langsung berhubungan dengan kondisi mental dan hal ini mendukung psikologi kognitif. Jadi kondisi psikis manusia juga berasal dari dalam diri manusia itu (tidak murni dipengaruhi faktor lingkungan atau sosial) dan dalam ergonomi, hal ini diasosiasikan bahwa pekerjaan harus disesuaikan dengan karakteristik manusia (fit the job to the man) dan karakteristik manusia itu berasal dari dalam diri manusia itu seperti fisik dan fisiologi manusia dan kali ini adalah kognitif manusia.
Psikologi kognitif selain merupakan salah satu jenis pendekatan dalam psikologi (psychoanalysis, behaviorism, dsb) juga merupakan salah satu bidang dalam psikologi (bidang lainnya seperti psikologi klinis, psikologi komparatif, psikologi pendidikan dsb). Seperti disebutkan point kedua di atas, psikologi kognitif berhubungan dengan internal diri manusia dan oleh karena itu bidang psikologi kognitif masih dekat hubungannya dengan bidang psikologi lainnya yang berbau struktur internal manusia yang bersifat fisis atau fisiologis yakni psikologi biologis (atau neuropsikologi atau psikologi fisiologis) dan bisa dibilang masih satu jenis / family karena sama-sama menganut pendekatan psikologi yang sama yakni psikologi kognitif / cognitivism yang mengakui adanya proses mental internal dan menggunakan metode sains (dari namanya saja sudah membawa embel-embel “biologis”,“neuro”, dan “fisiologis” maka sudah pasti sains). Jika psikologi kognitif adalah psikologi yang memahami mental atau pikiran manusia dan prosesnya maka psikologi biologis menjelaskan proses itu secara fisiologis atau biologis (misal syaraf).

Sebagian tambahan, pada psikologi modern terdapat klasifikasi psikologi lain yang membagi psikologi menjadi tiga divisi yakni kognitif (cognitive), afektif (affective), dan konatif (conative). Hal ini berdasarkan bahwa pada otak (mind) terdapat tiga bagian tersebut. Sebelum ini juga terdapat pembagian yang serupa yang dikenal dengan psikologi ABC dimana ABC merupakan singkatan dari Affective, Behavior, dan Cognitive. Kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar, dan tambahan pengetahuan (definisi kognitif secara detil sudah dijelaskan di atas). Afektif berhubungan dengan emosi dan perasaan. Konatif (sering disamakan dengan behavior) atau psikomotor berhubungan dengan perilaku dan kecenderungan dan dorongan alami melakukan sesuatu menurut cara tertentu. Jadi ringkasnya, kognitif menentukan kecerdasan (pikiran), afektif berurusan dengan emosi (perasaan) dan konatif menentujan bagaimana seseorang bertindak pada pikiran dan perasaan tersebut.

Namun jangan bingung tentang lingkup ergonomi kognitif karena ergonomi kognitif bukan berarti hanya membahas kognitif saja dan tidak membahas afektif dan konatif. Ergonomi kognitif bisa menyangkut afektif dan konatif dan hal ini sesuai dengan pandangan tertentu yang menyatakan bahwa konatif dapat dianggap sebagai bagian dari afektif dan/atau afektif sebagai bagian dari kognitif. Atau mungkin secara kasarnya, konatif dan afektif adalah bagian dari kognitif atau ditentukan oleh kognitif. Jadi terkait dengan pembahasan pada paragraf sebelumnya, ergonomi kognitif secara kasar sebenarnya bisa diistilahkan sebagai ergonomi psikologi namun psikologinya adalah psikologi modern atau yang terkini yakni psikologi yang menganut cognitivism / psikologi kognitif dan akhirnya akan kembali lebih simpel jika disebut ergonomi kognitif ^_^.
Sesuai dengan penjelasan-penjelasan di atas maka ergonomi kognitif selain berisi kognisi juga tidak bisa dipisahkan dari behavior, emosi bahkan mungkin somatik. Hal ini sesuai dengan sebuah sumber menyebutkan bahwa ergonomi kognitif adalah disiplin ilmu yang mempelajari aspek behavior dan kognitif dalam hubungan manusia dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun sosial. Jadi sekali lagi, behavior juga masuk dalam ergonomi kognitif termasuk emosi dan somatik. Karena itu dalam ergonomi kognitif juga bisa melibatkan hal-hal tersebut. Apa sih beda kognisi, emosi, somatik, dan behavior. Untuk membedakannya diberikan contoh sederhana berikut:
  • Emosi: cemas, khawatir, gelisah
  • Kognisi: susah mengambil keputusan, kebingungan, konsentrasi berkurang
  • Somatik: tekanan darah meningkat, respirasi meningkat, berkeringat, tegang
  • Behavior: menggigit jari, gerakan lesu, menghindari kontak mata
Area Riset Kognitif

Beberapa area riset dalam ilmu kognitif, psikologi kognitif, atau ergonomi kognitif antara lain:

Persepsi
Persepsi umum, Psychophysics, Perhatian dan teori-teori Filter (kemampuan untuk fokus pada rangsangan tertentu), pola pengenalan (kemampuan untuk menafsirkan informasi sensorik yang ambigu), obyek pengenalan, waktu sensasi (kesadaran dan estimasi berlalunya waktu), form perception

Kategorisasi
Kategori induksi dan akuisisi, penilaian dan klasifikasi kategoris, kategori representasi dan struktur, similarity (psikologi)

Memori
Penuaan dan memori, memori otobiografi, memori konstruktif, emosi dan memori, memori episodik, memori saksi mata, false memotires, firelight memory, flashbulb memory, daftar bias memori, memori jangka panjang (long-term memory), memori semantis. memori jangka pendek (short-term memory), pengulangan berjenjang, sumber pemantauan, memori kerja.

Representasi pengetahuan
Mental citra, pengkodean proposisional, pencitraan versus debat proposisi, teori dual-coding, media psikologi

Kognisi numerik

Bahasa
Tata bahasa dan linguistik, fonetik dan fonologi, akuisisi bahasa

Berpikir
Pilihan, konsep pembentukan, pengambilan keputusan, penghakiman dan pengambilan keputusan, logika (serta penalaran formal & alami), pemecahan masalah