Strategi Keselamatan Reaktif vs. Proaktif

Ada dua pendekatan dalam mengadopsi manajemen atau program ergonomi / K3 yakni pendekatan dengan strategi reaktif dan proaktif.

Terhadap keselamatan, jangan hanya reaktif!
Ini menyedihkan tapi nyata bahwa banyak perusahaan mengadopsi pendekatan keselamatan dan kesehatan yang menekankan strategi reaktif. Pendekatan reaktif mengasumsikan bahwa kecelakaan terjadi begitu saja, dan tidak banyak yang dapat dilakukan terhadap kecelakaan itu. Akibatnya, perusahaan menempatkan paling banyak upayanya untuk bereaksi terhadap kecelakaan setelah kecelakaan itu terjadi. Sebuah respon reaktif terjadi setelah adanya cedera atau sakit dan biasanya memiliki tujuan untuk meminimalkan biaya yang terkait dengan cedera atau penyakit tersebut.
Program keselamatan reaktif selalu memakan biaya yang lebih banyak daripada program proaktif karena program tidak akan dilaksanakan sampai cedera atau sakit itu terjadi. Ketika manajemen menekankan pendekatan reaktif untuk keselamatan dan kesehatan, sadar atau tidak sadar terdapat dua pesan negatif yang ditujukan kepada karyawan, (1) kita tidak peduli pada Anda (2) ini semua tentang uang (yang kami pedulikan adalah uang), bukan keselamatan Anda.


Lakukanlah bisnis yang cerdas, yakni menjadi proaktif!
Sebuah strategi proaktif menekankan pencegahan: melakukan apa saja yang diperlukan untuk membuat atau memastikan kecelakaan tidak akan pernah terjadi di tempat kerja. Tidak ada ampunan untuk kecelakaan. Respon proaktif untuk keselamatan dan kesehatan di tempat kerja terjadi sebelum kecelakaan terjadi. Respon ini untuk mengantisipasi dan mencoba untuk mencegah kecelakaan. Dengan menekankan pada pencegahan kecelakaan, sadar atau tidak sadar manajemen telah mengirimkan pesan kepedulian kepada semua karyawan. Strategi proaktif selalu lebih murah daripada strategi reaktif karena perusahaan melakukan investasi yang akan menghasilkan high return dan menguntungkan, selengkapnya klik disini.

Tujuan dan sasaran

Sebelumnya sudah ada visi dan misi yang melibatkan keselamatan, selengkapnya klik disini. Langkah berikutnya adalah memikirkan beberapa tujuan dan sasaran proaktif untuk meningkatkan program keselamatan dan kesehatan perusahaan atau organisasi.

Menulis tujuan itu sangat mudah. Tujuan itu tidak lain adalah harapan. Contoh sebuah tujuan "menjadikan semua karyawan terlatih". Namun, tujuan operasional tidak bias ditentukan secara asal. Tujuan harus memiliki unsur-unsur berikut ini:
  • Mulai dengan kata kerja tindakan. Contoh: menurunkan, meningkatkan, memperbaiki, dll.
  • Menentukan hasil atau sasaran yang dituju. Contoh: yang dituju adalah cedera punggung.
  • Gunakan angka untuk mengukur perubahan yang diinginkan. Contoh: meningkatkan 50%.
  • Menentukan target waktu pencapaian.
Contoh tujuan keselamatan operasional:
  • "Meningkatkan jumlah saran keselamatan dari karyawan menjadi 25 per bulan pada 31 Juli."
  • "Mengurangi jumlah cedera punggung di gudang sebesar 70% pada akhir 1997."
Ingatlah untuk bekerja sama dengan komite keselamatan untuk mengkomunikasikan tujuan dan sasaran dengan semua orang di perusahaan.

Sumber: OSHA