Pengaruh Nilai-Nilai Agama terhadap Budaya Kerja dalam Budaya Perusahaan

Menghadapi persaingan bisnis dunia yang semakin ketat, perusahaan manapun yang berniat memperoleh laba dan memanfaatkan laba itu sebaik-baiknya, perlu menyusun langkah dan strategi baru yang lebih efisien dan efektif. Salah satu faktor atau komponen penting dalam organisasi perusahaan adalah faktor SDM, yang dapat dianggap sangat potensial untuk dikembangkan mencapai kualitas tertentu agar mampu menghasilkan produksi atau jasa yang mengandung keunggulan-keunggulan. Pembinaan SDM merupakan langkah strategis untuk memenangkan kompetisi di dalam maupun di luar negeri.


Mengenai SDM ini, dalam kitan Suci Al-qur’an dimuat nash-nash dan isyarat-isyarat tentang sifat manusia, penjelasan tentang dorongan-dorongan dasar dan beberapa perilakunya yang seringkali berlawanan. Dibandingkan sejumlah makhluk lain dibumi in, manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling sempurna, diberi-Nya manusia itu akal untuk berpikir dan hati nurani untuk menbedakan hal yang baik dari yang buruk. Tetapi manusiapun paling kaya misteri dan kontradiksi. Misalnya, ia tahu bahwa sebagai manusia memiliki berbagai keterbatasan tetapi memiliki keinginan untuk meraih berbagai hal diluar keterbatasannya yang menunjukkan adanya kebutuhan tak habis-habisnya.

Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas SDM telah dilaksanakan dengan cara-cara yang biasa, seperti upaya perusahaan untuk (1) meningkatkan pendidikan, pengetahuan dan keterampuilan karyawan, (2) meningkatkan kesehatan, kebugaran dan gizi karyawan, (3) membina sistem penggajian, upah, kesejahteraan dan pensiun karyawan, (4) memperbaiki struktur organisasi, kekompakan kerjasama tim, kepemimpinan dalam perusahaan, persamaan nilai, pandangan, tujuan dan lain-lain.

Upaya-upaya diatas nampaknya bertujuan agar baik karyawan sebagai individu maupun kelompok mengalami peningkatan IPTEK hingga tercapai budaya kerja seperti yang diharapkan. Disamping itu nampak dengan jelas berbagai upaya perusahaan untuk membangun suatu corporate culture yang dapat mempersatukan dan meningkatkan motivasi kerja para karyawan.

Namun selain ini, upaya meningkatkan budaya kerja dari karyawan dan budaya perusahaan belum didukung oleh program-program yang terarah dan terencana yang ditujukan untuk peningkatkan keimanan dan ketaqwaan pada Tuhan Yang maha esa. Unsur spritualitas adalah bagian terpenting dari eksistensi SDM manapun, disamping unsur kesehatan jasmani dan mental sosial. Pembinaan IPTEK harus disertai pembinaan IMTAQ para karyawan, dan budaya perusahaan hendaknya mencerminkan keseimbangan antara manusia dengan manusia, dengan alam dan dengan Penciptanya (QS 2:201).

Pembinaan Sumber Daya Individu
Setiap SDM yang merupakan komponen paling penting dalam proses pencapaian tujuan perusahaan mereka, masuk ke dalam organisasi perusahaan sambil membawa karakteristiknya masing-masing. Karakteristik tersebut antara lain:
  • Fisik, Usia, jenis kelamin, agama
  • Kesehatan
  • Kemampuan
  • Pendidikan
  • Keterampilan
  • Pengalaman kerja
  • Motivasi, harapan, kepercayaan, keyakinan
  • Dan berbagai sifat atau aspek kepribadian yang unik
Maka budaya perusahaan (corporate culture) dapat didefinisikan atau menunjukkan adanya "a set of value, beliefs and behavior pattern that form the core identity of an organization, hold in comman by its members (as individual, subground or group), and that they use as behavior and work-problem-solving guides".

Ternyata Budaya setiap Perusahaan berbeda-beda, ada yang menekankan efisiensi, efektifitas untuk menekan cost. Ada yang mementingkan disiplin kerja dan ketaatan pada aturan atau kehendak atasan. Adapula yang membudidayakan customer satisfaction dan lain sebagainya. Dengan sendirinya budaya perusahaan akan menentukan gaya kepemimpinan yang diberlakukan dalam perusahaan tersebut. Bila Frederick Taylor menganggap kepemimpinan one-best man adalah yang terbaik, maka Chester Barnard dan beberapa penganut budaya barat lain menganggap beberapa hal lain yang lebih penting seperti partisipasi, keterlibatan karyawan dan apresiasi terhadap kinerja karyawan yang melampaui target baik secara perorangan maupun kelompok, keduanya diwarnai oleh budaya yang berbeda yang dianut masing-masing oleh Taylor atau Barnard.

Budaya Perusahaan seperti halnya pengertian budaya pada umumnya, mengandung gejala sosial atau gejala kelompok yang mencolok. Dalam setiap kelompok yang melakukan bekerja sama (team work) secara terorganisasi, maka akan muncul kepermukaan keinginan kelompok untuk mendapatkan pelayanan dari perusahaannya terhadap berbagai kebutuhan dan aspirasi kelompok. Perusahaan dianjurkan untuk semakin sensitif terhadap kebutuhan SDM tersebut (Ingat teori kebutuhan dari Maslow).

Kelompok menjadi kuat bila mereka memiliki pemahaman yang sama terhadap tujuan yang ingin dicapai perusahaan dan masing-masing mengerti dimana tempat dan fungsinya dalam pencapaian tujuan tersebut.

Bila pada waktu permulaan masuk kerja, mereka masuk ke perusahaan dengan berbagai karakteristik dan harapan yang berbeda-beda, maka melalui training, orientasi dan penyesuaian diri, karyawan akan menyerap budaya perusahaan yang kemudian akan berkembang menjadi budaya kelompok, untuk akhirnya diserap sebagai budaya pribadi. Bila proses internalisasi budaya perusahaan menjadi budaya pribadi telah berhasil, maka karyawan akan merasa identik dengan perusahaannya, merasa menyatu dan tidak ada halangan untuk mencapai produktivitas optimal. Ini adalah kondisi yang saling menguntungkan, baik bagi perusahaan maupun karyawan.

Namun sebelum kondisi ideal ini tercapai, kita kembali menemukan bahwa pada awalnya kelompok menggapai-gapai untuk mencari pedoman yang dapat mengarahkan behavior pattern yang sesuai dengan keinginan pribadinya, pada saat yang sama dapat diterima oleh kelompok dan atasannya.

Oleh teori organisasi barat, tahap ini disebut sebagai teori confrontation of dependency and authority. Pada tahap awal ini pribadi SDM merasa gamang, kuatir, cemas, jangan-jangan apa yang dapat diberikannya tidak sesuai dengan apa yang dituntut oleh organisasi (melalui atasannya). Mereka cemas kalau-kalau perusahaan tidak dapat menerima mereka seperti adanya.

NIlai Agama Dalam Budaya Perusahaan
Budaya Perusahaan yang mengandung nilai-nilai agama karena selalu mendahulukan pembinaan terhadap akhlakul karimah, sejak tahap awal perlu dimantapkan sebagai manifestasi utama dari budaya perusahaan. Budaya Perusahaan akan terekspresi dalam seremoni dan ritual yang substansinya adalah substansi agamawi. Maka tahap confontation of dependency and authority dapat dilembutkan melalui budaya jujur, sabar, tidak mudah iri dan terpancing untuk melakukan hal-hal yang dimurkai agama.

Para pemimpin yang mewakili budaya perusahaan, akan menentukan bahwa bila tahap pertama upaya karyawan menyesuaikan diri dengan budaya perusahaan menghasilkan sukses, maka pada tahap berikutnya akan tercapai confontation of intimacy, role differentiation and peer relationship. Tahap ini menggambarkan tercapainya konsensus normatif dan kerjasama dalam tim yang harmonis.

Dalam agama Islam manusia ditentukan untuk :
  1. Berusaha (effort) seluas dan sebaik-baiknya agar tercapai suatu goal yang halal. Pada tahap Bini, dengan dukungan budaya perusahaan karyawan akan mencoba berusaha dan menghasilkan prestasi terbaiknya, apalagi bila performance appraisalnya dilakukan dengan adil dan objektif. Melakukan pekerjaan dengan ikhlas adalah ajaran utama dalam Islam. Dalam budaya perusahaan dapat dibina suasana bekerja dfengan ikhlas, suatu effort yang diupayakan hanya karena Allah semata-mata. Effort yang dilandasi keikhlasan, dapat mencegah SDM dari stres atau jenis emosi lain yang merugikan.
  2. Dalam Islam, umat dituntut untuk minta tolong pada Allah dan mengakui keterbatasan dirinya. Allah lebih mencintai orang-orang yang selalu meminta daripada yang enggan meminta, karena seolah-olah manusia itu berkecukupan. Dan Tuhan berfirman : Berdoalah kepadaKu, niscaya akan keperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka jahanan dalam keadaan hina dina (QS. 40:60). Rasullah SAW bersabda : Sesungguhnya siap saja yang tidak meminta kepada Allah, maka Allah akan marah kepadanya (HR. At-Tarmizi dan Abu Hurairoh). Apabila manusia rajin bekerja dan berupaya, ia akan menciptakan budaya kerja yang disiplin, keras kemauan dan tidak cepat putus asa. Sementara itu, individu itu terus menerus berdo’a dan meminta tolong dan ridho-Nya, agar usahanya membuahkan hasil. Sifat ini akan membawa manusia ke perilaku rendah hati, takut takabur dan senantiasa menyadari baik kelemahan maupun kekuatannya.
  3. Pada tahap berikutnya, dituntut sikap penerimaan yang ikhlas, sekalipun usah dan permintaan tolongnya belum mendatangkan hasil seperti yang diharapkan
Dalam kondisi bisnis yang penuh kompetisi dan ketegangan dewasa ini, kita harus berlomba meningkatkan Comperative adventages yang kita miliki. SDM adalah potensi perusahaan yang amat strategis untuk menghasilkan produk/jasa yang bermutu. Istilah jiwa, sikap dan perilakunya baik dengan IPTEK maupun IMTAQ, hingga terjadi penyempurnaan kualitas SDM dari sudut jasmani, mental-sosial dan spiritual. Binalah Budaya Kerja dan Budaya Perusahaan dengan nilai-nilai keagamaan hingga mencapai kesatuan utuh dunia-akhirat. Kondisi ideal ini selain mendorong prestasi kerja juga akan membangun ketenangan bekerja lahir dan batin, dunia maupun akhirat. Secara praktis dianjurkan agar perusahaan memprogramkan kegiatan-kegiatan pembinaan spritual secara terencana dan terarah.

Sumber: Prof. Dr. Yamil C.A. Achir, Round Table Discussion tentang Pengembangan Budaya Kerja dalam Perspektif Islam.


Saya menambahkan satu hal bahwa kerja akan menjadi optimal jika bekerja sesuai keadaannya atau bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan atau menurut apa yang dimudahkan, selengkapnya klik disini.