Kecelakaan, Human Error atau Human Factors?

Tulisan ini saya kutip dari http://motulz.multiply.com dan http://wiwikbudiawan.wordpress.com/ dengan beberapa tambahan.

Ada banyak kecelakaan yang terjadi di republik ini baik itu kecelakaan kerja, kecelakaan transportasi seperti kecelakaan kereta api, pesawat jatuh, kecelakaan jalan raya dan bahkan ada pesawat sipil nyasar serta kecelakaan-kecelakaan lainnya seperti pernah terjadi anak 10 tahun tertembak peluru nyasar, karena ada anggota TNI yang bertikai lalu melepaskan tembakan.

Pernah suatu ketika akibat kecelakaan kereta api yang konon menewaskan 14 orang, menteri perhubungan “tak segan-segan” langsung menyebutkan bahwa kecelakaan ini disebabkan oleh human error alias kesalahan yang disebabkan oleh manusia (bukan karena kerusakan mesin). Jika si masinis masih hidup rasa-rasanya dia lah yang akan harus dihukum dan dimintai pertanggungjawaban atas kecelakaan ini.


Apa yang menyebabkan human error? Ternyata sebelum kita melangkah kepada istilah human error, ada baiknya kita membahas istilah “human factor”, istilah yang rasa-rasanya jarang bahkan tidak pernah dibahas di negara kita. Human factor atau faktor manusia merupakan data-data yang tercatat dari serangkaian penelitian, percobaan, dan tes yang berkaitan antara manusia dan lingkungannya. Di dalam human factor kita menemui istilah ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari kerja manusia. Dalam ergonomi ini kita akan menemukan jarak jangkauan yang layak bagi pekerjaan A, atau bentuk kursi bagi pengendara B yang nyaman, bentuk kemudi yang mudah dikendalikan, posisi kerja yang natural, luas jendela yang aman bagi jarak pandang pengemudi, tampilan software yang usable bagi user, suhu ruangan yang tepat bagi pekerja manufaktur, desain alat kerja atau produk yang sesuai ukuran tubuh manusia Indonesia, pola organisasi kerja yang efektif, bahkan sampai jenis kerja yang cocok bagi individu dan masih banyak lagi.

Jika kita mau memperhatikan apa yang ada disekitar kita, maka kita akan sadar betapa minimnya bangsa ini memperhatikan human factor. Contoh, rambu-rambu lalu lintas yang posisinya saling menghalangi, mata kucing pada pembatas jalan, pintu masuk busway, pintu keluar busway, rambu-rambu di stasiun kereta api, pengaman di bus, pengaman di angkutan kota, helm penumpang ojeg, jarak kemudi bus antar kota, posisi tempat duduk penumpang bus, kursi metromini, pengaman penumpang bajaj, suara bising bajaj, wah masih terlalu banyak untuk dibeberkan.

Salah satu yang diangkat di sini adalah lokomotif kereta api yang beberapa kali mengalami kecelakaan. Kita tahu seperti yang diberitakan bahwa ada banyak korban yang meninggal dalam kecelakaan kereta api / lokomotif dan masinis sering dijadikan “tersangka utama” karena human error. Ya mungkin itu memang human error, namun apakah human error itu selalu terjadi karena kesalahan si masinis? Kemudian bagaimana kondisi kesehatan si masinis? Bagaimana kondisi gerbong dan kabin lokomotif? Bagaimana desain control dan display pada kendali lokomotif? Bagaimana proses shift atau penjadwalan dinas masinis? Bagaimana desain display persinyalan di jalur kereta api? Dan masih banyak faktor-faktor manusia (human factors) lainnya yang semua itu jarang atau bahkan beberapa tidak pernah dijadikan bahan penyelidikan. Akan ada banyak faktor yang mampu menyebabkan manusia menurun kondisi konsentrasinya akibat kondisi ruang kerja yang buruk.

Pindah ke kasus kejadian pesawat sipil yang kesasar. Sulit bagi si pilot untuk mengatakan buruknya human factor karena kondisi pesawat sebelum dan setelah digunakan itu selalu harus di cek dan ricek (lebih disiplin dari kendaraan jenis lainnya). Ruang kerja pilot (cockpit) dan sarana penunjang (makan dan minum di udara) sudah tersedia dengan baik. Lantas jika dalam kondisi faktor pendukung kerja ini sudah maksimal namum masih ada kecelakan yang disebabkan oleh manusia, layaklah jika itu disebut human error. Yang mana, pada kejadian human error ini ada banyak alasan-alasan yang mampu mengakibatkan manusia ini menjadi error, masalah psikologis misalnya. Dan human error ini sebenarnya sedikit banyak juga dipengaruhi oleh human factor atau ergonomi ini misalnya walaupun kondisi pesawat dan ruang kerja pilot dalam keadaan yang baik namun ternyata desain control dan displaynya salah atau tidak sesuai dengan antropometri orang Indonesia / Asia atau hal-hal lainnya maka bisa dikatakan human error terjadi karena human factor yang kurang diperhatikan.

Pindah ke kasus ke anggota TNI yang cekcok lalu dengan santai menembakkan senjatanya yang memakan korban anak umur 10 tahun. Apakah ini human factor? atau human error? TNI sepanjang sepengetahuan saya, hidupnya dicurahkan untuk sebuah satu kata sakti: disiplin. Semua tindakan yang menyeleweng atau tidak turut bisa disebut: in-disipliner (tidak disiplin). Selama bertahun-tahun mereka akan mengenyam latihan, baik fisik maupun mentor yang bertujuan membuat mereka menjadi prajurit yang disiplin. Mereka dilatih oleh para pimpinan militer yang tentunya punya kepiawaian yang tak perlu diragukan. Jika pada akhirnya ada prajurit yang indisipliner, mungkin mereka dengan mudah menyatakan bahwa prajurit itu adalah oknum. Jadi jika desain sistem sudah memperhatikan human factor dengan optimal dan mengaplikasikan ergonomi yang tepat namun manusia masih melakukan error apalagi jika kemungkinan besar disengaja maka itu adalah human error yang mengarah ke suatu perbuatan yang salah atau bahkan “tindak kejahatan” dan si pelaku memang layak “disalahkan”.

Jadi kesimpulannya human error bisa disebabkan karena human factors dalam desain kerja yang kurang diperhatikan dan ketika ini terjadi si manusia itu tidak bisa disalahkan atau tidak sepenuhnya disalahkan. Namun ketika human factors sudah diperhatikan dan diaplikasikan dengan tepat namun masih terjadi human error misalnya masinis atau pilot yang sudah diberi aturan wajib istirahat selama sekian jam sebelum dinas namun melanggarnya atau operator yang tidak melakukan atau menaati prosedur kerja maka si manusia disini yang “bersalah”.

Terakhir, bagaimana kita bisa mengatasi masalah human factor ini? Sejauh kebutuhannya hanya dilingkungan rumah kita, tentu kita bisa memulai memperhatikan dan menerapkannya di rumah kita dulu. Misalnya, bagaimana menghindari lantai yang licin, mengurangi sudut-sudut bangunan yang bisa melukai anak-anak jika berlari. Mengurangi tangga, ujung meja makan yang sudutnya tajam dan lain-lain. Namun masalah ini menjadi kompleks jika penerapannya lebih luas, misalnya lingkup RT, RW apalagi negara ini.

Referensi: