Indonesia Rekomendasikan Standar K3 untuk 38 Negara

Indonesia merekomendasikan peningkatan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di negara-negara Asia dan Eropa untuk meningkatkan perlindungan bagi pekerja dari ancaman kecelakaan kerja.

Hal tersebut diucapkan Menteri Tenaga Kerja dan Trasmigrasi, Muhaimin Iskandar, usai membuka Asia-Europe Meeting (ASEM) Workshop on National Occupational Safety and Health (OSH) Strategic di Yogyakarta, Rabu (12/10).


Pertemuan ASEM-OSH kali ini dihadiri oleh 38 negara Asia dan Eropa. Hadir pula perwakilan dari ILO, Sekretariat ASEAN dan Komisi Eropa. Direncanakan, acara berlangsung 12-13 Oktober 2011.

Dalam acara itu, Muhaimin mengatakan, dalam era globalisasi seperti saat ini, azas penerapan K3 merupakan syarat utama yang berpengaruh besar terhadap nilai investasi. Terlebih, K3 menjadi kunci keberhasilan kualitas dan kuantitas produk, kelangsungan usaha perusahaan, serta daya saing sebuah negara.

"Jadi kesadaran dan kerja sama dari semua pihak untuk mendukung penerapan K3 sebagai salah satu upaya menarik investasi dan meningkatkan pembangunan perekonomian di negara-negara Asia dan Eropa," kata Muhaimin.

Dia juga mengingatkan semua pihak menyadari bahwa penerapan K3 merupakan hak dasar bagi tenaga kerja. Setiap pekerja wajib mendapat perlindungan dari risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang dapat terjadi.

"Dengan adanya perlindungan kerja yang maksimal, dapat dipastikan akan berpengaruh pada ketenangan bekerja, produktivitas, dan peningkatan kesejahteraan tenaga kerja," kata Muhaimin.

Oleh karena itu, Cak Imin menambahkan, pemerintah mempunyai kewajiban memberikan kepastian hukum dan penegakan hukum terhadap pelaksanaan norma-norma ketenagakerjaan, termasuk penerapan K3 di perusahaan-perusahaan.

Postingan terkait: