Menganalisi Kelayakan dalam Penerapan Ergonomi / K3 dengan ROI

Return-on Investment (ROI) bukanlah sesuatu yang baru di dunia industri dan bisnis. Para praktisi industri mempertimbangkan faktor kelayakan secara finansial dalam menjalankan bisnisnya. Ukuran kelayakan secara finansial tersebut tergambar dalam ROI, yang merupakan pertimbangan dasar dalam go or not go atau layak tidaknya sebuah proyek. Para professional HSE atau K3LH juga harus mampu memahami prinsip dan konsep dasar tentang ROI ini. Berbagai proyek HSE atau K3LH yang diajukan kepada manajemen, seringkali tandas ketika praktisi HSE atau K3LH tidak mampu mempresentasikan dan menguraikan proyek tersebut dalam bahasa ROI. Akibatnya, usaha mereka untuk terus meningkatkan aspek K3 menjadi kendala, yang akan berdampak kembali kepada indikator kinerja mereka dan perusahaan mereka.

Hal yang sama juga harus dimiliki oleh praktisi ergonomi. Memang secara scientific atau secara logika atau bahkan secara common sense pun sudah jelas bahwa ergonomi yang benar akan menguntungkan secara ekonomi (good ergonomics is good economics) melalui cost saving dari pengingkatan safety dan health (K3) serta peningkatan produktivitas dan kualitas hasil kerja. Namun kemampuan seorang praktisi ergonomi yang sebagian besar juga berada di lingkup HSE atau K3LH untuk meyakinkan bahwa proyek-proyek ergonomi yang digulirkan akan berbalik membawa manfaat bagi para perusahaan dalam ROI tetaplah sangat teramat penting. Jika tidak, ergonomi dan K3 akan terus dipandang sebagai sesuatu aksesoris tambahan, berinvestasi mahal, cost center, dll. Apalagi dalam kondisi kompetisi bisnis yang ketat sekarang ini dimana perusahaan akan selalu mengketatkan anggaran pengeluaran. Proyek-proyek dengan ROI yang rendah, akan tereliminasi. Selain itu, dengan ROI juga bisa membuktikan bahwa ergonomi bukan hanya mempunyai tujuan sosial semata namun juga tujuan ekonomi yang menguntungkan.


Mungkin pembahasan ini juga bisa semakin memperkuat bahwa posisi yang berkaitan dengan ergonomi seperti HSE sangat cocok untuk background pendidikan teknik industri / industrial engineer karena selain mempelajari health dan safety / K3 dan ergonomi juga mempelajari bidang-bidang yang berhubungan dengan ekonomi seperti ROI ini. Secara rinci di teknik industri mempelajari tekno ekonomi (engineering economics), analisis biaya (cost analysis), akuntansi manajerial (managerial accounting, ini beda dengan akuntansi di jurusan-jurusan ekonomi), dan analisis kelayakan industri (feasibility study), belum lagi ditambah manajemen proyek dan proyek terpadu. Bidang-bidang ini akan sangat membantu dalam menyampaikan kelayakan program-program atau proyek-proyek ergonomi (lebih lanjut mengenai HSE dan teknik industri klik disini).

Berikut beberapa contoh program atau proyek ergonomi yang biasa dijalankan oleh perusahaan:
  • Ergonomic assessment, untuk mendapatkan peta ergonomic risk identification, analysis & controls (ERIAC)
  • Fatigue measurement & controls
  • Ergonomic improvement for productivity
  • Human error analysis
  • Ergonomic training
  • Office ergonomics
  • Anthropometric evaluations
  • Workload analysis
Masing-masing proyek tentu membutuhkan investasi, walau tidak harus mahal.

Perubahan paradigma ergonomi dari cost center menjadi sebuah investasi dapat diumpamakan seperti perubahan program kualitas dari TQM ke Six Sigma. Pada awalnya, perbaikan hanya meliputi: perbaikan customer quality metrics, tingkat cacat produk, klaim garansi, dll. Sekarang dengan six sigma black belt, perbaikan juga dilakukan pada kualitas dan untuk setiap proyek six sigma dapat dihitung penghematan biaya yang akan diperoleh demi tercapainya ROI.

Pengalaman dari berbagai implementasi ergonomi secara best practice, proyek-proyek ergonomi yang efektif dan efisien menunjukkan ROI yang luar biasa, dapat mencapai ROI selama 3 tahun di atas 1000%. Pengalaman menunjukkan bahwa ergonomi harus efektif dalam menurunkan paparan resiko ergonomi yang ada. Hal ini dapat dilakukan melalui kontrol rekayasa (engineering controls) dan kontrol administratif (administrative control atau sering disebut juga work practice control), selengkapnya klik disini.

Selain efektif, program ergonomi juga harus efisien. Hal ini dapat dilakukan dengan memfokuskan pada proyek ergonomi yang berbiaya rendah dan berdampak besar (low cost high impact). Memulai program ergonomi dengan proyek berbiaya tidak tinggi memiliki berbagai keuntungan, diantaranya:
  • Kemunngkinan disetujui manajemen lebih tinggi
  • Memberikan image yang positif tentang ergonomi
  • Dalam berbagai kasus, program berbiaya rendah akan menuntut partisipasi yang lebih dari pekerja. Hal ini merupakan suatu hal yang positif dalam diseminasi ergonomi
  • Dalam berbagai kasus, program berbiaya rendah akan menyentuh aspek langsung dalam bekerja yang biasanya hal-hal sederhana.
  • Sustainability proyek juga besar
Menghitung ROI Program Ergonomi

Return-on-investment (ROI) adalah perhitungan yang biasa digunakan untuk penentuan biaya investasi. Dalam perhitungan ROI dibutuhkan ketersediaan data-data (dalam uang), seperti berapa jumlah investasi proyek, berapa banyak uang yang dapat dihemat, dan secara keseluruhan berapa lama periode yang diperlukan agar investasi yang dikeluarkan kembali dalam bentuk penghematan atau manfaat lain bagi perusahaan. Data-data tersebut biasanya spesifik untuk setiap proyek dan untuk setiap perusahaan dan dapat dengan mudah diperoleh dari bagian keuangan perusahaan. Beberapa perhitungan penentuan kelayakan investasi yang sering digunakan menyertai ROI antara lain Internal Rate of Return (IRR), Net Present Value (NPV), Rasio Cost-Benefit dan Payback Period.

Tantangan dalam perhitungan ROI di ergonomi adalah bagaimana menghitung keuntungan (bisa berupa penghematan / cost saving atau peningkatan produktivitas dan kualitas) yang diperoleh jika program atau proyek ergonomi diimplementasikan. Sebuah perusahaan konsultan ergonomi di Amerika Serikat menemukan bahwa beberapa klien memperoleh peningkatan keuntungan finansial secara signifikan, yang dihitung dari empat area utama atau tola ukur yaitu produktivitas, biaya kompensasi pekerja, kualitas, dan absensi. Sebenarnya keuntungan tidak hanya bisa dihitung dari empat area utama itu namun masih banyak area-area lainnya yang berpotensi untuk menghitung keuntungan dari ergonomi terutama dari penghematan atau saving yang diperoleh dari area-area “yang tidak terlihat” (selengkapnya klik disini). Inilah tantangan lagi bagi ergonom untuk bisa mengungkapkan keuntungan-keuntungan “yang tidak terlihat” itu dalam bentuk dolar atau rupiah. Dengan keuntungan “yang terlihat” saja ergonomi sudah sangat menguntungkan (beberapa buktinya klik disini) apalagi jika ditambah dengan “keuntungan yang tidak terlihat”. Jadi jika ada ROI program ergonomi yang yang sangat rendah bahkan lebih rendah dari bunga bank atau bahkan negatif menandakan ergonomi yang diterapkan kurang tepat atau bisa juga kemampuan analisis ekonomi dan kelayakannya yang kurang baik. Untuk itu sekali lagi disebutkan bahwa kemampuan menghitung kelayakan suatu program atau proyek seperti ROI ini perlu dipahami oleh praktisi atau profesional ergonomi / ergonom. Contoh perushaan lain yang sukses menerapkan ergonomi contohnya Honneywell yang mampu meningkatkan produktivitas seiring dengan penurunan biaya kompensasi pekerja sebagai hasil implementasi proyek ergonomi. Untuk beberapa kisah sukses ergonomi klik disini.

Sumber: ROI Implementasi Ergonomi, Ergonews Juli 2010, www.ergonistitute.com

Postingan terkait: