Bukti Ergonomi / K3 Menguntungkan

Sudah sering disebutkan bahwa ergonomi / K3 menguntungkan selain secara sosial juga secara ekonomi. Ergonomi menghasilkan safety, health, productivity, dan quality kerja dan hasil kerja yang lebih baik. Oleh karena itu ergonomi menghasilkan keuntungan secara ekonomi melalui penghematan / cost saving dan dari peningkatan produktivitas, kualitas dan sebagainya. Tentunya untuk menghasilkan keuntungan yang optimal maka ergonomi yang diimplementasikan harus ergonomi yang tepat (good ergonomics is good economics).

Di luar negeri terutama di negara barat sudah cukup banyak penelitian-penelitian mengenai studi kasus keuntungan secara ekonomi yang diperoleh dari ergonomi yang biasanya diwujudkan dalam studi kelayakan seperti ROI (selengkapnya kliik disini), rasio cost-benefit, payback period dsb. Di Indonesia penelitian-penelitian semacam ini masih jarang mungkin karena beberapa faktor terutama karena studi semacam ini membutuhkan waktu yang cukup lama (mungkin minimal setahun untuk mengetahui ROI) dan harus melibatkan banyak pihak seperti bagian keuangan dll. Namun hal ini bisa menjadi peluang yang bagus bagi perkembangan penelitian ergonomi di Indonesia sekaligus bagi kepentingan industri di Indonesia. Beberapa contoh penelitian mengenai studi kasus keuntungan secara ekonomi dari ergonomi yang diterapkan di berbagai teknologi, proses, dan industri diantaranya sebagai berikut:
  • Websites (Bias & Mayhew, 2005)
  • Software (Bias & Mayhew, 2005)
  • Computers (Beevis, 2003; Nielson, 1993)
  • Intranets (Kerr, et al., 2008)
  • Electronics (Hendrick, 1996; Sen & Yeow, 2003)
  • Office ergonomics (Goggins, et al., 2008)
  • Workplace ergonomics / manual material handling (Hendrick, 1996; Lahiri, et al., 2005; Maudgalya, et al., 2008; Rodrigues, 2001)
  • Industrial production lines (Stanton & Baber, 2003)
  • Forestry (Hendrick, 1996)
  • Automotive (Stanton & Baber, 2003)
  • Aircraft (Hendrick, 1996)
  • Petroleum (Hendrick, 1996)
  • Healthcare (Goggins, et al., 2008)
  • Nuclear (Kirwan, 2003) and electrical power plants (Seeley & Marklin, 2003)
Masih banyak lagi contoh penelitian mengenai studi kasus keuntungan atau kelayakan implementasi atau intervensi ergonomi secara ekonomi atau finansial. Untuk menemukannya cukup gunakan keywords seperti “ROI ergonomics”, “cost benefit ergonomics”, “cost analysis ergonomics”, dsb pada search engine di internet. Tolak ukur atau metrik yang digunakan dalam menghitung keuntungan finansial pun berbagai macam seperti produktivitas, biaya kompensasi pekerja, absensi, dsb. Washington State Departmen of Labor & Industries dan Puget Sound Human Factors and Ergonomics Society pernah mengumpulkan 250 studi kasus analisis cost-benefit implementasi atau intervensi ergonomi. Hasilnya ditunjukkan pada tabel di bawah ini.


Dalam bahasa akuntansi manajerial dan analisis biaya produksi, keuntungan implementasi atau intervensi ergonomi secara ekonomi atau finansial dapat dilihat dari perannya membantu mengurangi biaya overhead. Biaya disini juga dibagi menjadi dua yakni direct cost yakni biaya yang langsung berhubungan dengan pekerja yakni biaya kompensasi pekerja (dalam analisis biaya ini masuk biaya overhead dan bukan direct labor karena walaupun berhubungan langsung dengan pekerja namun tidak bisa ditelusuri langsung ke produk yang dihasilkan) dan indirect cost yakni biaya yang tidak langsung berhubungan dengan pekerja seperti kurangnya produktivitas, lost work days, dsb. Perlu diketahui bahwa indirect cost ini banyak berasal dari tolak ukur “yang tidak terlihat” karena dalam ergonomi dan K3 terdapat fenomena iceberg, selengkapnya klik disini. Inilah tantangan lagi bagi ergonom untuk bisa mengungkapkan tolak ukur “yang tidak terlihat” itu dalam bentuk dolar atau rupiah sehingga dapat terlihat jelas bahwa indirect cost disini dapat diefisienkan sampai seefisien mungkin. Dengan keuntungan “yang terlihat” saja ergonomi sudah sangat menguntungkan apalagi jika ditambah dengan “keuntungan yang tidak terlihat”. Sebuah studi dalam Journal of the American Medical Association melaporkan bahwa salah satu jenis permasalahan ergonomi saja yakni musculoskeletal disorders / MSD dapat menelan biaya overhead sekitar 61.2 billion (direct and indirect costs) tiap tahunnya pada perusahaan-perusahaan Amerika. Ini belum ditambah jenis permasalah ergonomi lainnya.


Dari penjelasan di atas dapat jelas dibuktikan bahwa ergonomi memang sangat menguntungkan tidak hanya dari segi sosial namun juga dari segi ekonomi dan finansial, namun jelas dengan syarat bahwa ergonomi yang diimplementasikan adalah ergonomi yang tepat. Jadi tidak ada alasan lagi untuk mengatakan bahwa ergonomi adalah cost center.

Referensi:
  • The Return on Investment (ROI) for Human Factors & Ergonomics Initiatives, Eric F. Shaver, Ph.D. & Curt C. Braun, Ph.D., Benchmark Research & Safety, Inc.
  • Cost Benefit Analysis Summary, Washington State Departmen of Labor & Industries dan Puget Sound Human Factors and Ergonomics Society
  • http://www.thetimes-tribune.com/articles/2008/12/07/business/sc_times_trib.20081207.h.pg2.tt07guest_s1.2132723_bus.txt

Postingan terkait: