Ergonomi dan Islam

Tulisan ini bernuansa agama

Sebelumnya telah diberikan hubungan salah satu induk dari ilmu ergonomi yakni teknik industri dengan Islam (untuk membacanya klik disini).

Pada bulan Ramadhan ini akan mencoba mengulas hubungan ergonomi dengan Islam. Sebelumnya saya belum pernah sama sekali menemukan sumber yang membahas hubungan ergonomi dengan Islam sehingga bila ada kekeliruan mohon diingatkan. Namun sebenarnya inti dari pembahasan ini bukan pembahasan yang benar-benar baru namun sudah cukup banyak disinggung oleh referensi-referensi lainnya hanya saja belum menyebutkan ergonomi, jadi kali ini akan mencoba untuk mengaitkannya dengan ergonomi.

 
Menurut opini saya, ilmu ergonomi sungguh sangat sejalan dengan Islam (ini masih baru opini saya karena saya bukanlah ahli tafsir dan ulama serta saya belum menemukan pernyataan narasumber lain yang sama persis). Kenapa saya mengatakan sungguh sangat sejalan dengan Islam? Berikut penjelasannya.

Definisi Ergonomi

Ergonomi atau ergonomika (dalam bahasa inggris disebut ergonomics) adalah ilmu tentang kerja. Secara detil ergonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dengan dan elemen-elemen lain dalam suatu sistem dan pekerjaan yang mengaplikasikan teori, prinsip, data dan metode untuk merancang suatu sistem yang optimal, dilihat dari sisi manusia dan kinerjanya. Ergonomi memberikan sumbangan untuk rancangan dan evaluasi tugas, pekerjaan, produk, lingkungan dan sistem kerja, agar dapat digunakan secara harmonis sesuai dengan kebutuhan, kempuan dan keterbatasan manusia (international ergonomic assosiation, 2002).

Jadi secara sederhana ergonomi adalah Ilmu tentang bagaimana merancang agar seseorang bisa bekerja dengan baik. Merancang kondisi lingkungan kerja yang disesuaikan dengan atribut (keadaan, kemampuan, kelebihan, kebolehan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb) yang ada pada manusia baik fisik maupun non fisik. Ergonomi berkaitan dengan ‘kesesuaian’ antara orang-orang dan pekerjaan mereka. Hal ini memperhitungkan atribut manusia untuk memastikan bahwa tugas, peralatan, informasi dan lingkungan kerja  sesuai dengan pekerja. Oleh karena itu prinsip dasar ergonomi adalah fit the job to the man dan bukan sebaliknya. Ini artinya pekerjaanlah yang harus disesuaikan dengan atribut / keadaan manusia tersebut dan bukan manusianya yang harus menyesuaikan (bukan manusia yang diubah-ubah) sehingga pekerjaan yang dilakukan dapat memelihara harkat dan harga dirinya sebagai manusia sehingga bersifat manusiawi yang didalamnya terkandung pengertian adanya jaminan keselamatan kerja, kesehatan kerja, dan produktivitas kerja.

Adapula yang menyebut atribut manusia sebagai kapasitas kerja manusia yang terdiri dari:
  • Kemampuan
  • Kebolehan
  • Keterbatasan
Konsep keseimbangan ergonomi:
  1. Work capacity atau kapasita kerja: personal capacity, physiological capacity, psychological capacity, biomechanical capacity atau atribut-atribut manusia lainnya.
  2. Task demand atau tuntutan tugas atau pekerjaan: material, machine and tools characteristics, task/work place characteristics, organizational characteristics, environmental characteristics.
  3. Performa ditentukan oleh kapasitas kerja kerja dan tuntutan tugas atau pekerjaan.
  • Jika tuntutan tugas atau pekerjaan > kapasitas kerja => over stress, discomfort, lelah, cidera, celaka, sakit.
    Jika pekerjaan melebihi kapasitas maka akan mengancam keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan selanjutnya mengancam produktivitas kerja serta keefektifan dan keefesienan kerja. Selain itu K3 yang tidak baik yang menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja juga akan membuat pengeluaran menjadi boros dan sebenarnya bisa dihindari.
  • Jika tuntutan tugas atau pekerjaan < kapasitas kerja => under stress, bosan, lesu, tidak produktif.
    Ergonomi memang menuntut pekerjaan disesuaikan dengan keadaan manusia yang bekerja namun itu bukanlah cara lain untuk mengatakan "bekerja secara alakadarnya", sama sekali bukan. Sebab, bekerja sesuai dengan keadaan / kapasitas menyiratkan kesediaan untuk mencurahkan segenap kemampuan yang kita miliki dalam menjalani pekerjaan yang kita geluti. Begitu banyak orang yang berpotensi tinggi, namun bekerja alakadarnya. Sehingga, mereka tidak sampai kepada puncak performanya. Sebab, jika saja mereka bersedia bekerja sesuai dengan kapasitasnya, maka pastilah mereka sudah bisa mencapai ketinggian nilai kemanusiaan dirinya. Alih-alih demikian, mereka membiarkan sebagian besar potensi dirinya tersia-siakan.
  • Harapannya adalah antara tuntutan tugas atau pekerjaan = kapasitas kerja => performa optimal.
Dengan ergonomi akan dijamin manusia bekerja sesuai dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasannya atau atrbut-atributnya. Hasil akhirnya ialah manusia mampu berproduksi optimal, tanpa harus mengorbankan keselamatan dan kesehatannya atau dengan kata lain pekerjaan dapat dilakukan dengan efektif, efisien, produktif, aman dan sehat.

Ergonomi dalam Al-Quran dan Al-Hadist

Ternyata prinsip ergonomi yakni fit the job to the man atau menyesuaikan pekerjaan dengan atribut / keadaan manusia tersebut terdapat dalam Al-Quran maupun Al-Hadits. Sebenarnya menurut saya ada banyak ayat pada Al-Quran yang sesuai dengan ergonomi. Namun kali ini akan diberikan beberapa ayat saja. Ayat tersebut adalah:

“Katakanlah: ‘Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu (’alaa makaanatikum), sesungguhnya aku pun bekerja, maka kelak engkau akan mengetahui!.” (Q.S. Az-Zumar : 39)

Dari ayat di atas dapat dipahami sebuah perintah untuk bekerja sesuai keadaan. Keadaan apa? Keadaan atau kondisi si manusia yang bekerja tersebut. Apa itu keadaan atau kondisi manusia? Jawabannya adalah semua atribut yang melekat pada manusia. Atribut itu bisa diartikan sebagai / bisa berupa keadaan, kemampuan, kelebihan, kebolehan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb. Atribut itu bisa berupa fisik (seperti antropometri fisik, fisiologi tubuh dsb) atau non fisik (antroprometri non fisik / psikometri, psikologi, kecerdasan dsb). Ini artinya pekerjaan yang dilakukan harus sesuai (fit) dengan keadaan atau atribut manusia. Hal inilah yang menjadi prinsip dasar ergonomi yakni fit the job to the man yang artinya menyesuaikan kerja dengan manusia yang bekerja itu. Uniknya saya menemukan beberapa pengulangan makna ayat ini pada ayat-ayat lain. Berikut ayat-ayat tersebut:
  • Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing." Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Q.S. Al-israa’ : 84]
  • Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.” (Q.S. Al-An’aam : 135)
  • Dan (dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu.” (Q.S. Huud : 93)
  • Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya Kami-pun berbuat (pula).” (Q.S. Huud : 121)
Selain itu ada pula ayat:

“… dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (untukmu).” (Q.S. An-Nahl : 69)

Dari ayat di atas dapat dipahami sebuah perintah untuk menempuh jalan (salah satunya dalam bekerja) yang dimudahkan. Apa maksud “yang dimudahkan”? Maksudnya adalah melakukan suatu kerja (karena konteks ergonomi adalah kerja) yang dimudahkan untuk si pekerja yakni kerja dengan energi minimal. Energi minimal tidak mengisyaratkan seseorang harus mengerjakan sesuatu tanpa kerja keras. Orang malah bisa kerja keras siang malam, namun tidak merasa sedang bekerja susah payah. Setiap orang memiliki energi minimal, sehingga ada yang mudah mendalami filsafat, ekonomi, atau bahasa, dan lain sebagainya yang biasanya menjadi “kelebihan” dirinya. Seseorang bisa saja bekerja keras menggeluti suatu hal, tetapi lebih kepada hasrat dan ambisi untuk meraih suatu hal atau hobi atau kecintaan bidang tertentu (walaupun pada umumnya sesuai dengan “kelebihan” yang dia miliki juga) sehingga dia tidak merasa kerja dan menggunakan energi minimal. Jadi melakukan sesuatu dengan penggunaan energi yang minimal adalah melakukan sesuatu yang “dimudahkan” untuknya. Yang “dimudahkan” untuk manusia adalah yang paling sesuai (fit) dengan manusia tersebut. Tidak hanya sesuai (fit) dalam hal fisik tapi juga non fisik. Disinilah peran ergonomi, fit the job to the man artinya menyesuaikan kerja dengan manusia yang bekerja. Apa manfaatnya? Agar mendapat output kerja yang optimal karena bila manusia diberi tugas kerja yang sesuai (fit) dengannya maka dia akan “dimudahkan” dalam bekerja dan hasil kerja menjadi optimal. Selain itu karena energi yang digunakan minimal maka input kerjanya tidak perlu banyak. Jadi kesimpulannya dengan aplikasi “fit the job to the man” bisa menghasilkan output kerja yang optimal dan penggunaan input kerja yang minimal atau dengan kata lain ergonomi dapat meningkatkan produktivitas (produktivitas paling optimal adalah ketika output optimal dan input minimal).

Ayat tersebut juga senada dengan hadist-hadist berikut:
  • Imran bin Hushain ra. bertanya kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apa dasarnya kerja orang yang bekerja?”. Rasulullah saw. menjawab: “Setiap orang itu dimudahkan untuk mengerjakan apa yang dia telah diciptakan untuk itu” (Shahih Bukhari, no.2026)
  • Imran bin Hushain ra. menceritakan bahwa ada seorang yang bertanya ke Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apakah telah diketahui siapa-siapa penghuni surga dan siapa-siapa penghuni neraka?”. Jawab Nabi saw. “Ya!”. Tanya, “Jika demikian, apa gunanya amal-amal orang yang beramal?” Rasulullah saw. menjawab: “Masing-masing bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya!” (Shahih Bukhari, no.1777)
  • Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorangpun dari kalian, tidaklah ada jiwa yang diciptakan, kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan sebagai orang celaka atau bahagia.” Lalu seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kita tidak sebaiknya menyerahkan diri pada ketetapan itu”. Beliau menjawab, “Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk beramal sesuai dengan apa yang dia diciptakan untuknya“. (Muttafaq Alaih)
Jadi kesimpulannya ergonomi benar-benar sesuai dengan Islam. Sebenarnya masih ada beberapa ayat Al-Quran lain serta Al-Hadist yang cukup berkaitan dengan ergonomi dan mudah-mudahan bisa diberikan di kesempatan lain. Sekali lagi mohon maaf dan mohon diingatkan jika terdapat kesalahan atau kekeliruan.

Postingan terkait: