Ergonomi dan Islam (3)

Sebelumnya pernah dibahas hubungan ergonomi dan Islam (selengkapnya klik disini dan disini).

Dari postingan-postingan sebelumnya dapat diambiil ringkasan bahwa beberapa ayat Al-Quran dan Al-Hadits yang diberikan pada postingan-postingan tersebut mempunyai beberapa makna inti yakni:
  1. Perintah untuk “bekerjalah sesuai dengan keadaannya” atau “berbuat menurut keadaannya” atau “berbuatlah sepenuh kemampuanmu” atau “berbuatlah menurut kemampuanmu” (berkaitan dengan fit the job to the man).
  2. Perintah untuk bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan (berkaitan dengan fit the job to the mani).
  3. Pernyataan bahwa manusia diciptakan menurut ukuran / dengan qadr (berkaitan dengan antropometri).
Kali ini akan diberikan dua ayat yang menurut saya masih bias dikaitkan dengan ergonomi. Sekali lagi ini masih baru opini saya karena saya bukanlah ahli tafsir dan ulama serta saya belum menemukan pernyataan narasumber lain yang sama persis. Dan sekali lagi inti dari pembahasan ini bukan pembahasan yang benar-benar baru namun sudah cukup banyak disinggung oleh referensi-referensi lainnya hanya saja belum menyebutkan ergonomi, jadi kali ini akan mencoba untuk mengaitkannya dengan ergonomi.

1. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya ….” (Q.S. Al-Baqarah : 286)
Setiap manusia diberi suatu misi hidup (salah satunya dalam bekerja) dan Allah tidak membebankan suatu misi yang diluar kesanggupan manusia atau diluar batas ukuran / atribut manusia (kelebihan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, kemampuan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb). Contoh kasarnya (hanya sebatas contoh sederhana karena pada kehidupan nyata sangat amat lebih kompleks atau rumit) seorang yang cerdas, kemampuan logika sangat bagus, ahli matematika namun kurang pandai dalam berkomunikasi maka sebaiknya dia memilih profesi atau pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya seperti programmer, ilmuwan matematika dsb (fit the job to the man) karena disitulah dia diberi amanah berupa kelebihan yang dia miliki dan amanah itu harus dijalankan sesuai misi kehidupannya dan dalam melakukannya dia akan dimudahkan dan hasilnya sangat optimal. Namun jika dia memilih jalan atau pekerjaan yang diluar kemampuannya misalnya marketing atau sales (membutuhkan kemampuan komunikasi tinggi) maka dia tidak akan optimal disitu malah bisa-bisa akan timbul masalah-masalah dalam dirinya atau lingkungannya. Hal seperti ini lah yang mulai banyak dianut orang. Mereka memilih jalan atau pekerjaan bukan karena dirinya atau karena alasan yang objektif melainkan karena hal lain misalnya ikut-ikutan, tren, gengsi dsb yang pada intinya sebatas mengikuti hawa nafsu. Kalau sudah seperti ini si manusianya sendiri yang membebankan sesuatu pada dirinya yang diluar kemampuannya atau diluar kesanggupannya.

Ergonomi menjamin agar suatu tugas atau pekerjaan disesuaikan dengan manusia yang melakukan kerja tersebut atau dengan kata lain disesuaikan dengan kesanggupan manusia yang bekerja tersebut. Kesanggupan tersebut maksudnya adalah ukuran atau atribut dari manusia tersebut (kelebihan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, kemampuan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb) baik fisik maupun non fisik. Pekerjaan itu harus sesuai dengan kesanggupan manusia, jadi tidak kurang dari kesanggupannya dan tidak pula lebih dari kesanggupannya. Mengapa harus sesuai kesanggupan? Karena akan dimudahkan dan hasilnya optimal, selengkapnya terdapat di ayat selanjutnya.

2. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7)
Manusia yang bersyukur adalah orang yang mengenal, memahami, menyadari akan ukuran dan atribut dirinya dan mengakui bahwa segala atribut yang dimilikinya merupakan pemberian dan anugerah dari Allah. Tidak hanya sebatas mengenal, mengakui, memahami, dan menyadari, manusia yang bersyukur juga akan terus merawat atau menjaga segala atribut itu dan memanfaatkan (meng-utilize) segala atribut yang ada pada dirinya seoptimal mungkin karena semua pemberian Allah pasti ada fungsinya dan maknanya. Untuk mengoptimalkan segala atribut yang dimilikinya maka manusia harus mencari suatu jalan hidup / profesi / pekerjaan yang sesuai dengan ukurannya / atribut-atributnya / kesanggupannya (fit the job to the man) agar atributnya termanfaatkan seoptimal mungkin dan kerja akan semakin “dimudahkan” dan akan mendapatkan nikmat berupa hasil seperti keselamatan, kesehatan, dan produktivitas yang lebih baik (nikmatnya bertambah).

Namun jika manusia tidak bersyukur terhadap apa yang diberikan Allah dan salah satunya adalah pemberian berupa ukuran dan atribut manusia misalnya dengan tidak mengakui segala kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya (atau bahkan sampai membenci dirinya) sehingga dia ingin menjadi orang lain sehingga dia melakukan jalan hidup yang tidak sesuai dengan kesanggupannya maka justru dia akan mendapat kerugian-kerugian. Hal ini banyak ditemui, contohnya adalah kasus pada ayat sebelumnya, contoh lainnya lagi misalnya seseorang yang sampai rela mengorbankan potensi dan hobi akademiknya hanya karena ingin menjadi seorang yang dipuja (artis misalnya) padahal seninya pas-pasan, sementara ada orang yang kemampuan nalarnya pas-pasan tapi memaksakan diri menjadi ilmuwan, engineer, dokter karena gengsi (bahkan, maaf, sampai menyuap agar bisa memperoleh gelar tersebut) dan masih banyak contoh lainnya dari hal yang sederhana sampai yang sangat kompleks yang pada intinya hanya mengikuti hawa nafsu belaka misalnya karena ikut-ikutan, tren, gengsi dsb. Bahkan orang cacat sekalipun bukan berarti kesanggupannya di bawah orang normal, bisa saja ada hal-hal yang justru lebih baik atau bahkan hanya bisa dilakukan orang cacat.

Manajemen sains melalui ergonomi telah banyak membuktikan bahwa jika suatu tugas atau pekerjaan disesuaikan dengan orang yang bekerja maka hasilnya lebih baik. Hasil itu bisa berupa keselamatan yang lebih baik, kesehatan yang lebih baik, atau produktivitas / performa yang lebih baik. Inilah nikmat.

Hal yang senada juga diungkapkan pada ayat-ayat lain seperti pada ayat berikut:
“Kemudian Dia menyepurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran , penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S. As-Sajdah : 9)

Mohon maaf dan mohon diingatkan jika terdapat kesalahan atau kekeliruan.

Postingan terkait: