Ergonomi dan Islam (2)

Sebelumnya pernah dibahas hubungan ergonomi dan Islam (selengkapnya klik disini).

Dari postingan sebelumnya dapat diambiil ringkasan bahwa beberapa ayat Al-Quran dan Al-Hadits yang diberikan pada postingan tersebut mempunyai beberapa makna inti yakni:
  1. Perintah untuk “bekerjalah sesuai dengan keadaannya” atau “berbuat menurut keadaannya” atau “berbuatlah sepenuh kemampuanmu” atau “berbuatlah menurut kemampuanmu”.
    Menurut saya ini merupakan sebuah perintah untuk bekerja sesuai keadaan atau kemampuan. Keadaan atau kemampuan apa? Keadaan atau kondisi atau kemampuan si manusia yang bekerja tersebut. Apa itu keadaan atau kondisi atau kemampuan manusia? Jawabannya adalah semua atribut yang melekat pada manusia. Atribut itu bisa diartikan sebagai / bisa berupa keadaan, kemampuan, kelebihan, kebolehan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb. Atribut itu bisa berupa fisik (seperti antropometri fisik, fisiologi tubuh dsb) atau non fisik (antroprometri non fisik / psikometri, psikologi, kecerdasan dsb). Ini artinya pekerjaan yang dilakukan harus sesuai (fit) dengan keadaan atau atribut manusia tersebut. Hal inilah yang menjadi prinsip dasar ergonomi yakni fit the job to the man yang artinya menyesuaikan kerja dengan manusia yang bekerja itu.
  2. Perintah untuk bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan.
    Menurut saya ini merupakan sebuah perintah untuk menempuh jalan (salah satunya dalam bekerja) yang dimudahkan. Apa maksud “yang dimudahkan”? Maksudnya adalah melakukan suatu kerja (karena konteks ergonomi adalah kerja) yang dimudahkan untuk si pekerja yakni kerja dengan energi minimal. Energi minimal tidak mengisyaratkan seseorang harus mengerjakan sesuatu tanpa kerja keras. Orang malah bisa kerja keras siang malam, namun tidak merasa sedang bekerja susah payah. Setiap orang memiliki energi minimal, sehingga ada yang mudah mendalami filsafat, ekonomi, atau bahasa, dan lain sebagainya yang biasanya menjadi “kelebihan” dirinya. Seseorang bisa saja bekerja keras menggeluti suatu hal, tetapi lebih kepada hasrat dan ambisi untuk meraih suatu hal atau hobi atau kecintaan bidang tertentu (walaupun pada umumnya sesuai dengan “kelebihan” yang dia miliki juga) sehingga dia tidak merasa kerja dan menggunakan energi minimal. Jadi melakukan sesuatu dengan penggunaan energi yang minimal adalah melakukan sesuatu yang “dimudahkan” untuknya. Yang “dimudahkan” untuk manusia adalah yang paling sesuai (fit) dengan manusia tersebut. Tidak hanya sesuai (fit) dalam hal fisik tapi juga non fisik. Disinilah peran ergonomi, fit the job to the man artinya menyesuaikan kerja dengan manusia yang bekerja. Apa manfaatnya? Agar mendapat output kerja yang optimal karena bila manusia diberi tugas kerja yang sesuai (fit) dengannya maka dia akan “dimudahkan” dalam bekerja dan hasil kerja menjadi optimal. Selain itu karena energi yang digunakan minimal maka input kerjanya tidak perlu banyak. Jadi kesimpulannya dengan aplikasi “fit the job to the man” bisa menghasilkan output kerja yang optimal dan penggunaan input kerja yang minimal atau dengan kata lain ergonomi dapat meningkatkan produktivitas (produktivitas paling optimal adalah ketika output optimal dan input minimal).
Kali ini akan diberikan satu ayat yang menurut saya berhubungan dengan ergonomi. Sekali lagi ini masih baru opini saya karena saya bukanlah ahli tafsir dan ulama serta saya belum menemukan pernyataan narasumber lain yang sama persis. Dan sekali lagi inti dari pembahasan ini bukan pembahasan yang benar-benar baru namun sudah cukup banyak disinggung oleh referensi-referensi lainnya hanya saja belum menyebutkan ergonomi, jadi kali ini akan mencoba untuk mengaitkannya dengan ergonomi.

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran / dengan qadr.” (Q.S. Al-Qamar : 49)

Dari ayat di atas dapat dilihat bahwa segala sesuatu termasuk manusia diciptakan dengan ukuran. Artinya setiap manusia memiliki “ukuran” atau atribut (kelebihan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, kemampuan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb) yang bervariasi. Dalam ergonomi, ukuran manusia ini disebut sebagai antropometri

Karena setiap manusia berbeda-beda dan bervariasi maka dalam bekerja pun harus memperhatikan faktor “ukuran” atau atribut manusia yang bervariasi ini. Faktor ini dalam ergonomi disebut faktor manusia (human factors). Jadi secara kasar bisa disebut bahwa faktor manusia itu adalah “segala” yang ada pada manusia atau tidak lain adalan “ukuran” manusia tersebut atau antropometri. “Ukuran” atau atribut atau faktor manusia atau antropometri ini bisa fisik atau non fisik (walaupun untuk istilah “antropometri” pada umumnya lebih diartikan ke “ukuran” fisik namun bisa lebih luas dari itu, selengkapnya klik disini). Agar setiap yang dilakukan manusia bisa optimal termasuk dalam bekerja, maka kerja tersebut harus disesuaikan dengan “ukuran” atau atribut atau faktor manusia yang bekerja (fit the job to the man). Mohon maaf dan mohon diingatkan jika terdapat kesalahan atau kekeliruan.

Postingan terkait: