Ergonomi dan Fitrah

Menurut suatu versi, fitrah adalah “sebagaimana adanya”. Fitrah manusia adalah “sebagaimana adanya” manusia. Fitrah harimau adalah “sebagaimana adanya” harimau. Fitrah semesta adalah “sebagaimana adanya” semesta. Sementara, “sebagaimana adanya” ini bermakna sebagaimana awalnya atau sebagaimana aslinya (initial conditions as the original) atas sesuatu.

Bagaimanakah “sebagaimana adanya” manusia? Bahwa, “sebagaimana adanya” manusia adalah sebagaimana nuansa kemurnian hakiki pada kala “perjanjian” itu. Perjanjian apa? Perjanjian kita, semua hakikat manusia tanpa kecuali, kepada Tuhannya di Hari Alastu.

Kala itu, Dia menegaskan kepada kita, “Bukankah Aku Tuhanmu?” Maka kita, para hakikat manusia menyahut serempak tanpa bimbang pun ragu se-zarrah pun, “Benar, kami menyaksikan.” (disarikan dari Al-A’raaf 172).

Inilah bai’at alastu yang merupakan sumpah suci semua hakikat manusia langsung kepada Tuhannya, sebelum dihadirkan segelombang demi segelombang memenuhi garis takdir manusia kaffah untuk mewarnai cerita alam fana sampai batas masa masing-masing. Berlaku sama, semenjak Nabiyullah Adam alaihi salam hingga gelombang manusia terakhir kelak.

Nuansa kemurnian hakiki inilah yang dimaksud dengan “sebagaimana adanya” manusia itu. Inilah fitrah manusia, yaitu peleburannya dalam ketauhidan yang didasarkan kepada penyaksiannya atas keesaan Tuhan (makrifatullah). Maka, Maha Sucilah Dia pada semua kuasa dan kehendak-Nya.


Fitrah manusia adalah “sebagaimana adanya” manusia yang meliputi karakteristik ciptaan, yaitu karakteristik bawaan yang melekat dalam diri setiap manusia sejak dilahirkan. Fitrah manusia merupakan sarana atau kesiapan yang ada pada diri manusia, yang menyediakan atau menyiapkannya untuk mengidentifikasi ciptaan-ciptaan Allah termasuk karakteristik ciptaan yang ada pada dalam dirinya (fitrah pada dirinya) dan menjadikannya dalil kesaksian dan pengakuan terhadap Rabb-nya, mengetahui syariatnya, dan mengimani-Nya.

Lalu apa hubungannya dengan ergonomi?

Ergonomi mempunyai moto fit the job to the man yang artinya adalah dalam bekerja, pekerjaan harus disesuaikan dengan manusia yang melakukan kerja itu dan bukan sebaliknya. Ini artinya secara umum perubahan dilakukan pada kerja tersebut dan bukan pada manusia karena manusia sudah diciptakan “sebagaimana adanya” sehingga bila manusia “berusaha diubah-ubah” maka bisa “melampaui batas”. Sedangkan kerja itu harus diubah atau disesuaikan sedemikian rupa sehingga fit, cocok, pas dengan manusia secara nature atau “sebagaimana adanya” atau “sebagaimana keadaanya” tersebut sehingga kerja akan “dimudahkan” dan hasil kerja menjadi unggul. Misalnya saja dalam ergonomi fisik, desain mesin harus disesuaikan dengan ukuran fisik dan postur kerja seseorang harus sesuai dengan postur alamiah atau nature sehingga kerja akan lebih “mudah dan lancar” dan selanjutnya keselamatan dan kesehatan kerja lebih terjamin serta produktivitas dan kualitas kerja juga optimal.
  • “Katakanlah: ‘Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu (’alaa makaanatikum), sesungguhnya aku pun bekerja, maka kelak engkau akan mengetahui!.” (Q.S. Az-Zumar : 39)
  • Imran bin Hushain ra. bertanya kepada Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apa dasarnya kerja orang yang bekerja?”. Rasulullah saw. menjawab: “Setiap orang itu dimudahkan untuk mengerjakan apa yang dia telah diciptakan untuk itu” (Shahih Bukhari, no.2026)
  • Imran bin Hushain ra. menceritakan bahwa ada seorang yang bertanya ke Rasulullah saw., “Ya Rasulullah, apakah telah diketahui siapa-siapa penghuni surga dan siapa-siapa penghuni neraka?”. Jawab Nabi saw. “Ya!”. Tanya, “Jika demikian, apa gunanya amal-amal orang yang beramal?” Rasulullah saw. menjawab: “Masing-masing bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan, atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya!” (Shahih Bukhari, no.1777)
  • Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorangpun dari kalian, tidaklah ada jiwa yang diciptakan, kecuali telah ditetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan sebagai orang celaka atau bahagia.” Lalu seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kalau begitu apakah kita tidak sebaiknya menyerahkan diri pada ketetapan itu”. Beliau menjawab, “Beramallah, karena setiap orang dimudahkan untuk beramal sesuai dengan apa yang dia diciptakan untukn
Jika manusia sudah melakukan suatu pekerjaan yang sesuai “sebagaimana adanya” dirinya tersebut dan menyadari bahwa dengan begitu pekerjaannya “dimudahkan” dan hasilnya paling optimal (ergonomi bertumpu pada kerja yang efisien dan efektif yang membuat keselamatan, kesehatan, produktivitas, dan kualitas kerja menjadi optimal) maka manusia akan menyadari juga bahwa segala sesuatu tidak exist dengan sia-sia dan pasti mempunyai tujuan atau fungsi masing-masing yang paling optimal termasuk karakteristik yang ada pada diri manusia itu sendiri dan manusia tersebut akan yakin bahwa ada dzat tunggal yang menghendaki dan mengatur dengan sangat rapi fungsi atau tujuan yang rumit dari dirinya dan hal-hal di sekitar manusia dan dzat tersebut pasti sangat maha tinggi, maha hebat, maha kuasa, dan maha segala-galanya, dzat tersebut adalah Tuhan.

Jadi saya setuju bahwa yang dimaksud “sebagaimana adanya” adalah tidak melampaui atau melanggar batas yakni tidak melanggar “perjanjian”. Perjanjian itu berupa mengakui atau menjadi saksi bahwa tiada Tuhan selain Allah (seperti telah disebutkan pada Al-A’raaf 172 di atas).

Seperti telah disebutkan di atas, fitrah manusia adalah “sebagaimana adanya” manusia yang meliputi karakteristik ciptaan, yaitu karakteristik bawaan yang melekat dalam diri setiap manusia sejak dilahirkan. Dan karakteristik ciptaan tersebut merupakan sarana untuk mengakui dan menjadi saksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah. Yang dimaksud karakteristik ciptaan tersebut bisa jadi adalah ukuran-ukuran yang melekat pada individu-individu manusia.

 “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran / dengan qadr.” (Q. S. Al-Qamar: 49)


Manusia diciptakan dengan ukuran. Artinya setiap manusia memiliki “ukuran” atau parameter atau atribut (kelebihan, kelemahan, karakteristik, keterbatasan, kebutuhan, kemampuan, keahlian, bakat dan minat, potensi, trait, fenotip dsb) yang bervariasi baik fisik maupun non fisik (dalam ergonomi, ukuran manusia dalam kaitannya dengan sistem kerja disebut dengan antropometri). Setiap manusia dilahirkan dengan ukuran yang bervariasi yang artinya fungsinya atau misinya (tugas amal perbuatannya) juga bervariasi antara satu individu manusia dengan individu lainnya dan fungsi atau misi tersebut sesuai dengan “ukuran” yang dimiliki masing-masing manusia tersebut.

Seperti telah disebutkan di atas, fungsi atau misinya atau amalnya (dalam lingkup ergonomi, fungsi ini adalah fungsi dalam bekerja) akan berjalan dengan baik dan lancar (mudah) jika manusia menepati “amanah” yakni menyesuaikan apa yang dikerjakannya dengan “ukuran” atau fitrah didirinya yang merupakan pemberian dan amanah dari Allah seoptimal mungkin. Sebagai gambaran, gunting mempunyai “fitrah” untuk menggunting, palu mempunyai “fitrah” untuk memalu, gergaji mempunyai “fitrah” untuk menggergaji dsb, jika alat-alat tersebut digunakan untuk hal yang lain maka seandainya bisa pun hasinya tidak akan optimal dan malah beresiko merusak alat-alat tersebut. Begitu pula dengan karakter yang ada pada diri manusia pasti mempunyai fungsi atau tujuan tertentu yang optimal.

Dan sekali lagi, apabila manusia telah menyadari jika manusia bekerja atau beramal sesuai dengan “ukuran”nya atau fitrahnya maka dapat “memudahkan” pekerjaannya dan membuat dia sejahtera dan selamat maka hal ini akan menjadi sarana untuk menyadari akan adanya dzat yang maha tinggi dan selanjutnya akan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Jadi walaupun “ukuran” dari setiap manusia bervariasi tapi maksudnya adalah sama yakni untuk bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada ad-diin, fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah ad-diinul qoyyim, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Q.S. Ar-Ruum: 30)


Manusia diberikan “tugas” atau misi yang benar (di jalan yang lurus) sesuai “ukurannya” atau “sebagaimana adanya” (yang fitrah). Inilah manusia yang sesuai fitrahnya (yang suci) yang benar-benar memang melakukan jalan hidup sesuai yang dimilikinya yang “sebenarnya” (fit the job to the man). Namun banyak industri yang masih belum menyadari pentingnya untuk menyesuaikan sistem kerja dengan pekerja-pekerjanya. Di pihak lain, kebanyakan manusia atau pekerja itu sendiri saat ini banyak yang tidak mau memahami apa yang dimilikinya atau apa yang menjadi “ukurannya” dan memilih jalan hidup atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan “ukuran” dirinya dan bukan dirinya yang “sebenarnya” (mungkin karena ikut-ikutan, mengikuti tren/mode, gengsi dsb yang pada intinya merupakan perwujudan dari menuruti hawa nafsu atau menuruti bisikan setan) sehingga manusia itu melampaui batas / keluar jalur (mungkin juga bisa disebut telah keluar dari jalan yang lurus) dan karena dia tidak mau mengenal atau mengakui “ukuran” atau fitrah dirinya maka dia gagal pula dalam mengenal Allah dan akibatnya dia lupa kepada Allah yang telah menganugerahkan “ukuran” tersebut kepada dirinya.

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al Hasyr: 19)


Manusia akan mengenal dirinya sendiri sehingga akan mengenal Allah. Seperti yang dikatakan Rasulullah SAW: Man ‘arofa nafsahu faqod arofa rabbahu (Barangsiapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya).

Postingan terkait: