Human Engineering atau Rekayasa Manusia

Rekayasa manusia sebenarnya sama atau semakna dengan ergonomi atau human factors engineering. Istilah rekayasa manusia berasal dari human engineering. Istilah lain yang sering mendampingi rekayasa adalah “rancang bangun” sehingga bisa disebut rancang bagun manusia. Istilah ini berasal dari kata desain. Di Indonesia, engineering juga sering diterjemahkan menjadi “teknik”. Namun jika human engineering diterjemahkan sebagai teknik manusia sepertinya kurang pas. Istilah rekayasa manusia lebih sering dipakai untuk mengartikan human engineering. Istilah engineering biasanya dihubungkan dengan materi. Oleh karena itu istilah human engineering dapat menimbulkan dugaan bahwa rekayasa kebendaan akan ditetapkan dalam kemanusiaan. Istilah yang lebih cocok masih dicari, misalnya human factors in engineering and design.


Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan rekayasa manusia itu?

Industrial engineering menjelaskan bagaimana merancang, memperbaiki, dan membangun sistem-sistem terpadu yang terdiri dari manusia, mesin, material, energi, informasi,dan lain-lainnya, agar sistem itu bekerja efisien, produktif, dan efektif. Manusia disebut terlebih dahulu. Hal ini bukan kebetulan, tapi manusia itu dijadikan pusatnya. Industrial human factors engineering merupakan istilah yang cocok untuk digunakan.

Kemampuan manusia berinteraksi dengan lingkungan kerjanya perlu diteliti. Hasil penelitian untuk merekayasa manusia kerja. Pendekatan ini disebut fitting the job to the men, dan bukan sebaliknya. Kerja dirancang sedemikian rupa sehingga masih di dalam batas-batas kemampuan pekerja untuk melaksanakannya. Rekayasa manusia meningkatkan pekerja untuk berinteraksi dengan lingkungan kerjanya.

Salah satu patokan bagi rekayasa manusia yang baik adalah, pekerja “tetap segar bugar” sebelum, selama, dan sesudah bekerja. Hal ini mungkin terjadi karena pekerja berinteraksi dengan lingkungan kerjanya dalam batas-batas kemampuannya. Rekayasa manusia melindungi pekerja karena ia bekerja dengan aman, sehat, dan nyaman. Peraturan-peraturan yang mempunyai kekuatan hokum dibuat untuk menjamin keselamatan dan kesehatan dalam bekerja. Hal ini bukan dimaksudkan untuk memanjakan pekerja, tetapi sebaliknya, yaitu untuk mendorong pekerja agar tanpa ragu-ragu bekerja efisien, produktif, dan efektif.

Rekayasa manusia memiliki sejarah yang panjang, yaitu setua sejarah manusia sendiri. Di waktu yang lalu rekayasa manusia dilakukan secara alamiah. Sejarah mencatat revolusi industri yang pertama dalam pertengahan abad ke-18 di Inggris. Revolusi industri ini kemudian menyebar ke Eropa, Amerika Serikat, dan Asia. Rekayasa manusia tidak dapat dilakukan secara alamiah saja, karena tenaga badan manusia sedikit demi sedikit diganti dengan mesin.

Pekerjaan dalam industri diotomatiskan, manusia diganti robot. Tidak semua pekerjaan dapat diotomatiskan pelaksanaannya. Rekayasa manusia tetap “hadir” dan diperlakukan, baik untuk pekerjaan manual sepenuhnya, manual sebagian, maupun otomatis. Selama masih ada manusia, rekayasa manusia tetap ada. Perkembangan rekayasa manusia terjadi baik prakteknya maupun ilmunya. Ada akibat-akibat revolusi industri yang merugikan atau membahayakan tenaga kerja manusia. Oleh karena itu rekayasa manusia makin penting perannya di waktu yang akan dating.

Rekayasa bermaksud menghilangkan atau mengurangi akibat yang membahayakan manusia itu di “sumbernya”. Tanpa mengetahui sebab-sebabnya, maka akan sia-sialah usaha untuk menghilangkan penderitaan yang dialami manusia yang bekerja di industri. Ilmu yang melandasi dikembangkannya rekayasa manusia disebut ergonomi. Ergo berarti kerja, nomi dari nomos berarti peraturan. Ergonomi sebagai ilmu yang dapat dipelajari, menjelaskan bagaimana kerja itu harus dilakukan.

Siapa yang melakukan kerja itu? Jika manusia yang menjadi pelakunya, maka rekayasa manusia kerja mau tidak mau harus tampil. Jika yang dihadapi adalah industrial workers atau tenaga di sektor industri, maka ergonomi industri melandasi rekayasa manusianya. Oleh karena itu, rekayasa manusia tidak dapat lepas dari ergonomi.

Postingan terkait: