Pentingnya Rumah Sakit Pekerja di Indonesia

Rumah sakit pekerja di Indonesia sudah sejak lama sangat dibutuhkan. Baik dari pihak praktisi dan profesi atau asosiasi bidang kesehatan kerja maupun dari pihak Depnaker (sekarang kemnaker) dan Universitas sudah berusaha untuk mengupayakan berdirinya rumah sakit pekerja; namun dari pihak pekerja sendiri masih belum mendapat perhatian penting.

Upaya-upaya untuk memperjuangkan berdirinya rumah sakit pekerja banyak mengalami hambatan karena belum mendapat dukungan yang kuat dari pihak penentu kebijakan. Belakangan ini Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi sangat menghendaki agar rumah sakit pekerja segera terealisir karena merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga kerja yang sangat penting. Dilihat dari sumberdaya yang ada, rumah sakit pekerja sangat mungkin direalisasikan apalagi jika didukung oleh PT Jamsostek.

Sangat disayangkan jika ada pihak yang tidak mendukung rencana atau upaya untuk merealisasikan berdirinya rumah sakit pekerja di Indonesia, apalagi jika berasal dari praktisi kesehatan dan juga seorang pejabat di lingkungan Departemen Kesehatan (Republika 7 Januari 2003).

Seharusnya inisiatif berdirinya rumah sakit pekerja didukung oleh kita semua, khususnya para praktisi kesehatan dan kesehatan kerja dan pejabat terkait baik dari Departemen Kesehatan (sekarang Kementerian Kesehatan), Departemen Tenaga Kerja & Transmigrasi (sekarang Kementerian Tenaga Kerja & Transmigrasi) maupun departemen (kementerian) terkait lainnya termasuk dari pihak pengusaha dan pekerja. Dengan pikiran yang jernih niscaya kita menyadari bahwa berdirinya rumah sakit pekerja sangat penting dan sangat dibutuhkan khususnya bagi para pekerja dan bagi Bangsa Indonesia pada umumnya.

Tenaga kerja merupakan agen dan aset nasional yang berperan besar dalam mendorong perekonomian negara. Maka selayaknya tenaga kerja mendapat perlindungan sebaik baiknya.

Alasan mengapa rumah sakit pekerja sangat penting, kiranya perlu diketahui latar belakang dan banyaknya masalah yang berkaitan dengan kesehatan tenaga kerja di Indonesia.

Sistem Pelayanan Kesehatan (Kerja)
Selama ini kesehatan tenaga kerja dilayani melalui beberapa cara pelayanan antara lain: Poliklinik perusahaan dengan dokter perusahaan, poliklinik lain di luar perusahaan, kerja sama dengan dokter praktek swasta, puskesmas maupun rumah sakit. Perusahaan besar sering sudah punya rumah sakit sendiri. Namun di beberapa perusahaan, fasilitas pelayanan kesehatan yang ditunjuk oleh Jamsostek lokasinya sering jauh dari pabrik sehingga akhirnya tenaga kerja berobat di mana saja yang dapat dijangkau.

Dari berbagai sistim atau cara pelayanan kesehatan terhadap pekerja yang ada sekarang, tenaga kerja hanya mendapatkan pengobatan secara umum dan sering hanya bersifat kuratif saja. Padahal tenaga kerja sering menderita penyakit yang lebih spesifik dibanding penyakit di masyarakat pada umumnya, karena adanya berbagai penyebab penyakit khusus yang ada di perusahaan tempatnya bekerja.

Dalam hal ini rumah sakit pekerja diharapkan akan menjadi pusat rujukan yang dapat menangani masalah kesehatan pekerja secara spesifik dan komprehensif.

Kondisi di Lapangan

Para pekerja setiap hari selalu berhadapan dengan risiko bahaya sesuai jenis pekerjaan dan kondisi tempat kerjanya yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja (occupational injury) maupun penyakit akibat kerja (occupational diseases). Sistem pelayanan kesehatan terhadap pekerja selama ini belum memuaskan, baik dari segi pemerataan fasilitas pelayanan (termasuk yang disediakan PT Jamsostek) maupun dari segi mutu dan esensi pelayanannya.

Berdasarkan pengalaman di lapangan, penulis yakin bahwa penyakit akibat kerja cukup banyak terjadi, tetapi jarang sekali atau hampir tidak pernah dilaporkan oleh karena berbagai hal. Proses terjadinya penyakit akibat kerja ada yang bersifat akut dan lebih banyak lagi yang bersifat kronis atau perlahan-lahan sehingga sering tidak disadari oleh pekerja dan jarang terdeteksi sejak awal oleh tenaga medis. Dalam jangka waktu tertentu (lama) penyakit akibat kerja dapat muncul menjadi penyakit yang fatal atau sangat sulit disembuhkan. Hal ini bisa terjadi saat seorang tenaga kerja masih produktif dan akan kehilangan produktifitasnya maupun sesudah berhenti bekerja sehingga tidak lagi dapat diklaim ganti ruginya.

Dengan demikian penyakit akibat kerja ibarat api dalam sekam, yang suatu saat dapat menjadi permasalahan besar dan akan disadari sesudah semuanya terlambat. Dalam hal ini pekerja sangat dirugikan, karena penyakit akibat kerja yang dideritanya tidak dapat dideteksi secara dini atau tidak mendapat penanganan yang tepat. Pada suatu saat akan dapat muncul penyakit akibat kerja yang sulit disembuhkan. Dengan asumsi ini, bila tidak ada perubahan paradigma dalam penanganan kesehatan pekerja maka permasalahan kesehatan kerja (penyakit akibat kerja) merupakan bom waktu. Banyaknya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja juga akan memperberat beban Jamsostek untuk memberikan ganti ruginya.

Dengan alasan tersebut maka berdirinya rumah sakit pekerja dapat menjadi salah satu faktor pendorong ke arah pelayanan kesehatan tenaga kerja yang komprehensif. Rumah sakit pekerja juga sangat penting sebagai wahana pendukung kemajuan ilmu pelayanan kesehatan kerja. Jamsostek memang sudah selayaknya mendukung berdirinya rumah sakit-rumah sakit pekerja. Dalam jangka panjang dengan adanya perubahan cara penanganan kesehatan pekerja maka Jamsostek akan diuntungkan. Asumsinya adalah, bila upaya pelayanan kesehatan kerja lebih baik dan dengan menitik beratkan pada aspek promotif dan preventif, maka diharapkan klaim kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja akan menurun. Secara ekonomis biaya pencegahan penyakit adalah lebih murah dibanding dengan biaya pengobatan berbagai penyakit maupun perlukaan akibat kerja.

Sumber Daya Manusia di Bidang Kesehatan Kerja
Di Indonesia baru ada beberapa orang dokter ahli kesehatan kerja (Spesialis Kedokteran Okupasi). Selain itu juga ada program pendidikan Pascasarjana Kesehatan Kerja (Hiperkes Medis). Sudah puluhan sampai ratusan dokter yang telah menyelesaikan pendidikan tersebut. Jadi keberadaan rumah sakit pekerja di Indonesia dapat didukung oleh SDM yang sudah ada tersebut walaupun masih perlu ditingkatkan.

Perkembangan Ilmu
Kesehatan kerja merupakan sub disiplin ilmu tersendiri di bidang kesehatan yang memerlukan sumber daya manusia yang kompeten yaitu dokter spesialis okupasi atau lulusan S2 Kesehatan Kerja. Penanganan kesehatan kerja juga memerlukan penanganan komprehensif layaknya penanganan kesehatan pada umumnya (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif).

Hal khusus yang perlu diperhatikan yaitu bahwa pekerja tertentu akan dapat menderita penyakit tertentu sesuai potensi bahaya pekerjaan atau tempat kerjanya. Kelemahan fasilitas pelayanan dan SDM yang menangani kesehatan tenaga kerja pada umumnya adalah tidak adanya perhatian khusus terhadap penyakit akibat kerja. Baik pasien dari masyarakat umum maupun dari masyarakat pekerja mendapatkan penanganan yang sama. Sehingga sampai sekarang data penyakit akibat kerja di Indonesia sangat minim.

Hal tersebut di atas karena masih kurangnya SDM yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan kerja, dan sangat terbatasnya institusi pendidikan yang mencetak SDM tersebut. Salah satu syarat penyelenggaraan pendidikan spesialis kedokteran okupasi adalah adanya rumah sakit pekerja. Jadi berdirinya rumah sakit pekerja sangat dibutuhkan untuk pengembangan ilmu (kesehatan kerja) dan peningkatan SDM di bidang kesehatan kerja. Bagian Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada saat ini sedang merencanakan untuk menyelenggarakan program pendidikan dokter spesialis Kedokteran Okupasi.

Era Globalisasi
Kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat saling berkaitan. Pekerja yang menderita gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja cenderung lebih mudah mengalami kecelakaan kerja. Menengok ke negara-negara maju, penanganan kesehatan pekerja sudah sangat serius. Mereka sangat menyadari bahwa kerugian ekonomi (lost benefit) suatu perusahaan atau negara akibat suatu kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja sangat besar dan dapat ditekan dengan upaya-upaya di bidang kesehatan dan keselamatan kerja.

Di negara maju banyak pakar tentang kesehatan dan keselamatan kerja dan banyak buku serta hasil penelitian yang berkaitan dengan kesehatan tenaga kerja yang telah diterbitkan. Di era globalisasi ini kita harus mengikuti trend yang ada di negara maju. Dalam hal penanganan kesehatan pekerja, kitapun harus mengikuti standar internasional agar industri kita tetap dapat ikut bersaing di pasar global.

Dengan berbagai alasan tersebut rumah sakit pekerja merupakan hal yang sangat strategis. Ditinjau dari segi apapun niscaya akan menguntungkan baik bagi perkembangan ilmu, bagi tenaga kerja, dan bagi kepentingan (ekonomi) nasional serta untuk menghadapi persaingan global.

Bagi fasilitas pelayanan kesehatan yang sudah ada, rumah sakit pekerja akan menjadi pelengkap dan akan menjadi pusat rujukan khususnya untuk kasus-kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Diharapkan di setiap kawasan industri akan berdiri rumah sakit pekerja sehingga hampir semua pekerja mempunyai akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang komprehensif. Setelah itu perlu adanya rumah sakit pekerja sebagai pusat rujukan nasional. Sudah barang tentu hal ini juga harus didukung dengan meluluskan spesialis kedokteran okupasi yang lebih banyak lagi.

Kelemahan dan kekurangan dalam pendirian rumah sakit pekerja dapat diperbaiki kemudian dan jika ada penyimpangan dari misi utama berdirinya rumah sakit tersebut harus kita kritisi bersama.

Sumber: Urgensi Berdirinya Rumah Sakit Pekerja di Indonesia, Sudi Astono, Direktorat Pengawasan Norma Keselamatan & Kesehatan Kerja Ditjen Binawas Ketenagakerjaan, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jakarta, Indonesia (Cermin Dunia Kedokteran 2007).

Postingan terkait: