Makna “Fit the Job to the Man / the Worker”

Dalam ergonomi sering dijumpai istilah “fit the job / task to the man / the worker” yang artinya adalah pekerjaan atau tugas yang dilakukan manusia / pekerja harus disesuaikan dengan manusia itu. Disesuaikan dengan manusia itu maksudnya adalah disesuaikan dengan keterbatasan dan kebutuhan yang dimiliki oleh manusia. Oleh karena itu ergonomi banyak berisikan pembahasan-pembahasan yang menyangkut perancangan atau desain sistem kerja agar sesuai dengan pekerja sehingga dapat diperoleh kerja yang lebih unggul dalam arti keselamatan kerja, kesehatan kerja, dan produktivitas / performa kerja yang lebih baik. Bebarapa contoh aplikasi ergonomi diantaranya adalah antropometri yang membahas ukuran atau dimensi produk atau alat kerja agar sesuai dengan ukuran fisik manusia setempat, analisis beban kerja atau postur kerja yang menganalisis desain alat kerja agar pekerja tidak perlu melakukan postur kerja yang beresiko dan mengurangi beban kerja, analisis lingkungan fisik di tempat kerja seperti cahaya, temperatur, dsb yang optimal untuk performa kerja, analisis desain sistem kerja agar diperoleh proses kognitif untuk performa pekerja yang optimal, analisis organisasi dan sosial di tempat kerja yang paling optimal untuk performa pekerja dan masih banyak lagi. Selain itu masih banyak kebijakan-kebijakan di dunia kerja lainnya yang mungkin entah secara sadar atau tidak sadar telah menerapkan prinsip ergonomi “fit the job to the man” diantaranya pelaksanaan wisata karyawan (kebutuhan manusia akan sesuatu yang fresh), pelaksanaan senam pagi kantor (kebutuhan manusia akan peregangan otot dan olahraga), perkumpulan kerohanian rutin kantor seperti pengajian dsb (kebutuhan manusia akan spiritual dan religius), perkumpulan paduan suara kantor (kebutuhan manusia akan seni) dan yang sedang marak dialami oleh para freshgraduate adalah banyaknya sistem perekrutan kerja dengan metode semacam management trainee (MT) yang kebanyakan memindahkan si pekerja baru tersebut dari satu divisi ke divisi lain secara periodik sampai akhirnya bisa diperoleh keputusan di divisi manakah pekerja tersebut cocok untuk bekerja sesuai minat, bakat, dan kecintaannya (metode seperti ini menguntungkan freshgraduate yang masih bimbang di bagian manakah dia cocok bekerja dan memang pada kenyataannya banyak sekali freshgraduate yang bimbang seperti ini walaupun tidak semuanya) dan bahkan pembuatan aturan-aturan atau prosedur dalam bekerja bisa dikatakan sesuai dengan prinsip ergonomi karena hal ini membantu kontrol perilaku (behavior) manusia dalam bekerja yang terkadang melewati batas dan masih banyak lagi dan semuanya bertujuan sama yakni untuk meningkatkan keunggulan kerja (keselamatan kerja, kesehatan kerja, dan produktivitas / performa kerja).


Dari contoh-contoh tersebut dapat diketahui bahwa dalam ergonomi, sistem kerja tersebut yang harus disesuaikan atau diubah (redesain) dengan manusianya dan bukan manusia yang harus menyesuaikan atau mengubah agar sesuai dengan sistem kerja. Disini sistem kerja harus disesuaikan dengan keterbatasan-keterbatasan dan kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki manusia seperti telah dijelaskan sebelumnya. Namun bukan berarti semua keterbatasan yang dimiliki manusia tidak dapat diubah atau dikurangi. Beberapa keterbatasan memang hampir tidak bisa diubah seperti kemampuan fisik dan dimensi tubuh manusia. Namun beberapa keterbatasan masih bisa diubah contohnya kemampuan atau skill yang terbatas.

Sebagai gambaran, bila di suatu kelas sekolah terdapat anak yang prestasi akademiknya kurang baik bukan berarti selanjutnya dia akan diberi soal-soal yang mudah sesuai dengan kemampuan akademiknya agar nilainya baik. Sama halnya di dunia kerja, pekerja yang kemampuannya kurang bukan berarti dia akan diberi tugas kerja yang mudah-mudah saja sedangkan yang kemampuannya baik akan diberi tugas kerja yang lebih susah. Hal seperti ini adalah penjerumusan dan sangat bertentangan dengan ergonomi. Untuk kasus skill yang kurang seperti ini maka solusinya adalah pelatihan atau training. Pelatihan atau training tersebut merupakan bagian dari sistem kerja sehingga agar efektf maka pelaksanaannya harus disesuaikan dengan pekerja tersebut. Jika metode trainingnya salah atau tidak sesuai dengan karakter, keterbatasan dan kebutuhan si pekerja maka tidak akan efektif dan skill pekerja tidak akan bertambah dengan optimal. Agar training efektif maka karakter, keterbatasan dan kebutuhan si pekerja harus diperhatikan. Ingat bahwa tidak semua siswa berhasil dididik dengan metode pengajaran sekolah yang sama. Ada beberapa yang tidak berhasil bukan karena dia bodoh tapi karena metode pengajarannya yang tidak sesuai dengan dirinya. Hal yang sama juga berlaku di dunia kerja.

Kasus kekurangan skill di atas dapat disederhanakan sebagai berikut: ketika skill suatu pekerja tidak memenuhi standar kerja yang akan dilakukannya maka bukan berarti standar dari kerja tersebut harus diturunkan tapi pekerja itulah yang harus menaikkan skill nya agar sesuai dengan standar kerja tersebut. Namun proses menaikkan skill ini bukan dilakukan oleh pekerja itu semata melainkan harus dimulai dari sistem kerja itu berupa pelatihan dengan metode yang sesuai dengan pekerja tersebut supaya efektif sehingga skill pekerja bisa naik dan memenuhi standar.

Maksud dari gambaran kasus di atas adalah bahwa slogan ergonomi “fit the job / task to the man / the worker” bukan berarti sempit yang bermakna bahwa perubahan harus selalu terjadi pada sistem kerjanya dan manusia tidak perlu berubah (seperti pada masalah desain antropometri karena memang fisik manusia sulit diubah sehingga yang harus berubah adalah sistem kerjanya dan manusia tidak perlu berubah). Manusia juga bisa berubah agar kerja semakin optimal seperti pada gambaran kasus kekurangan skill di atas namun perubahan pada manusia tersebut juga harus dipelopori oleh perubahan sistem kerja tersebut dan kasus ini tidak hanya terjadi pada kekurangan skill saja tapi juga masalah-masalah lain seperti sosial kerja, pengalaman kerja dan sebagainya yang sebagian besar berada di luar ranah ergonomi fisik.

Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa dahulukan “fit the man to the job” kalau tidak bisa baru lakukan “fit the job to the man” walaupun pernyataan ini diragukan kebenarannya dan tidak jelas sumbernya namun menandakan bahwa dalam beberapa aspek terutama nonfisik, manusia dapat berubah atau beradaptasi. Penyempitan makna slogan “fit the job to the man” seperti yang telah dijelaskan di atas sering terjadi karena kebanyakan orang hanya mengenal ranah ergonomi fisik saja dan fisik manusia memang sulit untuk diubah terutama yang sudah dewasa. Padahal di ranah diluar ergonomi fisik terutama pada ergonomi kognitif dan ergonomi organisasi, manusia masih dapat terus berubah dan berkembang misalnya dalam hal behavior, emosi, pengalaman, skill, spiritual dan sebagainya yang masih bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan keunggulan kerja terutama dalam hal keselamatan kerja, kesehatan kerja, dan produktivitas / performa kerja. Namun agar perubahan dan perkembangan manusia itu terjadi secara positif dan seperti yang diharapkan oleh sistem kerja maka sistem kerjalah yang harus memulai perubahan atau penyesuaian itu dan disesuaikan dengan karakter, keterbatasan, dan kebutuhan si pekerja agar perkembangan tersebut efektif. Jadi kesimpulannya tetap sistem kerja yang harus diubah atau disesuaikan pertama kali dan dirancang agar sesuai dengan kebutuhan pekerja. Fit the job to the man / the worker.


Sumber gambar: Ergonomics How to Design for Ease & Efficiency, Karl Kroemer, Henrike Kroemer, Katrin Kroemer-Elbert.

Postingan terkait: