Faktor Manusia dan Kesehatan & Keselamatan Kerja

Sejak zaman purbakala, manusia telah menggunakan alat dalam bekerja. Pada zaman batu misalnya, manusia telah membuat alat-alat dari batu, antara lain kapak, cangkul, palu dan sebagainya untuk membantu dalam melakukan pekerjaan mereka.

Dengan perkembangan zaman, alat-alat tersebut berkembang ke arah yang lebih sempurna seperti cangkul atau alat untuk bercocok tanam dibuat dari besi baja. Bahkan sampai dewasa ini petani dari beberapa daerah telah menggunakan traktor untuk bercocok tanam. Demikian pula di bidang lain manusia secara berangsur-angsur telah mengganti peralatan kerja dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling canggih.

Peralatan-peralatan kerja tersebut dibuat dan digunakan karena manusia menyadari bahwa dengan hanya menggunakan tenaga manusia saja kurang efektif dalam menyelesaikan pekerjaannya. Bisa kita bayangkan bagaimana seandainya pengolahan tanah pertanian hanya dengan tangan manusia saja, tanpa menggunakan cangkul, bajak atau traktor.

Akhirnya disadari bahwa tenaga manusia merupakan alat produksi yang paling tidak efisien ditinjau dari aspek tenaga dan keluaran atau hasilnya. Dari penelitian para ahli kesehatan kerja, ternyata tenaga yang dapat dikeluarkan oleh rata-rata pekerja pria normal berumur antara 25-40 tahun hanya sebesar 0,2 PK. Seorang pekerja tidak mampu dibebani lebih dari 30% dari tenaga maksimumnya selama 8 jam sehari (Silalahi, 1985).

Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebagai konsekuensinya, tuntutan manusia semakin tinggi. Selanjutnya dalam memenuhi tuntutan hidup ini, manusia semakin memerlukan peralatan dan perlengkapan yang lebih canggih untuk mencapai hasil yang efisien. Akan tetapi semakin canggih peralatan yang digunakan manusia, semakin besar pula bahaya yang ditimbulkan.

Bahaya kecelakaan akibat menggunakan mesin tenun modern, jelas akan lebih besar daripada bahaya kecelakaan akibat dari alat tenun tradisional meskipun mesin tenun modern lebih efisien daripada alat tenun tradisional.

Namun bagaimanapun tidak efisiensinya tenaga manusia dalam kerja, tenaga manusia tetap diperlukan dalam proses produksi. Peralatan kerja sebenarnya hanya sebagai alat bantu manusia sebagai tenaga kerja tersebut. Masalahnya sekarang adalah bagaimana tenaga kerja (manusia) tetap aman dan sehat atau tercegah dari bahaya-bahaya akibat kerja tersebut.

Hal ini semua adalah sangat tergantung kepada tenaga kerja itu sendiri yang memegang kendali alat dan lingkungan kerjanya. Dengan kata lain aspek manusia adalah merupakan faktor penting dalam mencapai keselamatan dan kesehatan kerja. Faktor penting dari aspek manusia dalam hubungannya dengan hal ini adalah faktor fisik manusia (dipelajari dalam ergonomi fisik), faktor psikologi atau proses mental manusia (dipelajari dalam ergonomi kognitif), faktor lingkungan terutama lingkungan fisik yang mempengaruhi manusia (dipelajari dalam ergonomi lingkungan), dan faktor sosioteknik manusia (dipelajari dalam ergonomi organisasi).
   
Referensi:
  • Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.
  • http://anakkesmas.blogspot.com/2009/09/faktor-manusia-dalam-kerja.html