Fakta Ergonomi dan K3 di Indonesia

Berikut merupakan fakta mengenai ergonomi dan K3 di Indonesia:
  • Tahun 2007, menurut Jamsostek tercatat 65.474 kecelakaan yang mengakibatkan 1.451 orang meninggal, 5.326 orang cacat tetap dan 58.697 orang cedera. Data kecelakaan tersebut mencakup seluruh perusahaan yang menjadi anggota Jamsostek dengan jumlah peserta sekitar 7 juta orang atau sekitar 10% dari seluruh pekerja Indonesia. Dengan demikian, angka kecelakaan mencapai 930 kejadian untuk setiap 100.000 pekerja setiap tahun. Oleh karena itu, jumlah kecelakaan keseluruhannya diperkirakan jauh lebih besar. Bahkan menurut World Economic Forum tahun 2006, angka kematian akibat kecelakaan kerja di Indonesia mencapai 17-18 untuk setiap 100.000 pekerja (Soehatman, 2010).
  • Anas Zaini Z Iksan selaku Ketua Umum Asosiasi Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (A2K4) mengatakan setiap tahun terjadi 96.000 kasus kecelakaan kerja. Dari jumlah ini, sebagian besar kecelakaan kerja terjadi pada proyek jasa konstruksi dan sisanya terjadi di sektor industri manufaktur (Bataviase, 2010).
  • Hasil penelitian yang diadakan ILO (Organisasi Perburuhan Internasional) mengenai standar kecelakaan kerja menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-152 dari 153 negara yang ditelitinya. Ini berarti, begitu buruknya masalah kecelakaan kerja di Indonesia (Portal Nasional Republik Indonesia, 2010). Sedangkan sumber lain mengatakan bahwa per Juli 2009, Indonesia duduki peringkat ke 141 dari 156 negara dalam penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Terdapat pula sumber lain yang mengatakan bahwa pada 2007 saja, angka kecelakaan kerja mencapai 95 ribu kasus dan angka tersebut menempatkan Indonesia di ranking 52 dunia (dimungkinkan beda organisasi dan jumlah sampel).
  • Jumlah masyarakat Indonesia yang mendapatkan jaminan kesehatan baru sekitar 48 persen. Jumlah ini masih lebih rendah dibanding dengan negara Vietnam yang sudah mencapai 55 persen dan negara Filipina sebesar 76 persen. Menunjukkan kesadaran Indonesia secara umum terhadap kesehatan termasuk kesehatan kerja masih kurang.
  • Berdasarkan data dari departemen tenaga kerja dari 97 juta jiwa pekerja hanya terdapat 1300 petugas pengawas. Jumlah yang tidak seimbang tersebut mengakibatkan pengawsan terhadap hak -hak pekerja (termasuk jaminan keselamatan dan kesehatan kerja) menjadi tidak maksimal (dari sumber yang dipublikasikan pada tahun 2008).
Keterengan:
Potensi atau angka bahaya kecelakaan kerja terutama di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) mungkin dapat lebih besar dari yang dilaporkan jika sistem pelaporan dan notifikasi nya lebih baik.

Postingan terkait: