Ergonomi dan Kesehatan (Health)

Dalam ergonomi, sering kita jumpai slogan health, safety, dan productivity. Kali ini akan fokus pada salah satu dari slogan tersebut yakni health atau kesehatan. Apa kesehatan itu?

Kesehatan menurut WHO:
Sehat adalah keadaan sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat.

Jadi sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual.

Kesehatan menurut Undang-undang Kesehatan RI:
Kesehatan adalah keadaan sejahtera badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi.

Sebuah sumber juga menyebutkan bahwa untuk sehat berarti seseorang harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kemampuan yang dibawa sejak lahir (potensial genetic) menjadi realitas fenotipik (phenotypic ralities).
Parkin mendefinisikan sehat sebagai keadaan kesetimbangan yang dinamis dari badan dan fungsi-fungsinya sebagai hasil penyesuaian yang dinamis terhadap kekuatan-kekuatan yang cenderung merusak atau mengganggunya.

Dari definisi-definisi kesehatan di atas dapat diambil point bahwa sehat adalah :
  • Kondisi normal dan sempurna dari segala aspek kehidupan manusia.
  • Keadaan hidup yang mengikuti hukum alam atau alamiah dan semua aspek dalam manusia berfungsi dengan baik dan seharusnya.
Salah satu tujuan ergonomi adalah agar tercipta sistem kerja yang sehat. Terbukti dari prinsip utama ergonomi yakni “fit the job / task to the man” yang artinya menyesuaikan kerja agar sesuai dengan manusia yang melakukan kerja itu. Penyesuaian itu tidak hanya dalam hal fisik seperti antropometri dsb namun juga hal non fisik seperti psikologi, psikometri dsb. Jika kerja tersebut sudah sesuai dengan manusia yang melakukan kerja itu (sesuai dengan kebutuhan, kelebihan, keterbatasan, dan segala atribut yang melekat pada manusia itu secara fisik dan non fisik) maka semua aspek dalam manusia tersebut dapat berfungsi dengan baik dan lebih optimal serta kerja tersebut menjadi lebih “dimudahkan”. Hasilnya selain kesehatan dan keselamatan akan naik, performa atau produktivitas juga akan naik dan pada akhirnya kerja tersebut menjadi lebih unggul baik dari segi kualitas atau kuantitas.


Jadi menurut saya (hanya pendapat subjektif ^_^) sehat dalam kerja adalah ketika seluruh atribut (bisa berupa aspek, potensi, properti, karakteristik, kelebihan, dan keterbatasan atau apa saja sebutannya) yang melekat pada diri manusia (fisik, mental, maupun sosial) 100 persen (atau seoptimal mungkin) terfasilitasi oleh sistem kerja sehingga kerja dapat berjalan dan atribut dapat termanfaatkan dengan baik dan optimal.

Sebagai gambaran kasar, operator mesin yang bertubuh relatif pendek seperti orang Asia pada umumnya tidak akan “sehat” jika diberi tugas untuk mengoperasikan mesin yang tinggi (mesin yang didesain untuk orang eropa yang bertubuh relatif tinggi) secara berulang atau kontinyu. Contoh dari segi non fisik, ketika seseorang yang tidak begitu berbakat di bidang logika dan matematika maka tidak akan “sehat” jika diberi tugas sebagai programmer.

Jadi kesimpulannya, ergonomi benar-benar terkait dengan kesehatan terutama kesehatan pada sistem kerja karena kesehatan itu merupakan salah satu sasaran dari penerapan ergonomi dan merupakan syarat agar performa kerja menjadi lebih unggul. Karena kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa yang merupakan bagian integral kesehatan maka dalam ergonomi pun terdapat beberapa wilayah ilmu yang terdiri dari ergonomi fisik, ergonomi kognitif, ergonomi lingkungan, dan ergonomi organisasi.