Logo Ergonomi : Manusia Vitruvian

Perhatikan logo-logo institusi, organisasi, dan event ergonomi di bawah ini.


Setelah anda perhatikan logo-logo tersebut mempunyai satu kesamaan yakni terdapat gambar orang yang tanganya direntangkan dan kakinya melebar. Mengapa gambar manusia? Karena center utama dalam ergonomi adalah manusia. Gambar manusia itu kemungkinan terinspirasi dari gambar Manusia Vitruvian yang sangat erat kaitannya dengan salah satu kajian ergonomi yakni antropometri.

Antropometri Manusia Vitruvian


Manusia Vitruvian barangkali adalah sketsa artistik yang paling banyak direproduksi hingga saat ini. Meski banyak orang juga masih mengira-ira apa yang terlintas di benak Leonardo da Vinci saat ia menorehkan penanya melukis sketsa itu. Sketsa yang dibuat pada tahun 1492 itu menggambarkan figur 2 lelaki telanjang yang saling tumpukan (superimposed) dengan lengan dan kaki yang merentang dan dibatasi oleh lingkaran dan persegi panjang serta beberapa coretan tulisan tangan Leornardo. Coretan-coretan tangan yang ditulis terbalik (dari kanan ke kiri) itu seringkali dipercaya sebagai rumus proporsi manusia. Akan halnya lingkaran dan persegi panjang dalam skesta itu diduga terkait dengan pemahaman Leonardo bahwa tubuh manusia sesungguhnya adalah cerminan alam semesta: cosmografia del minor mondo (kosmografi mikrokosmos). Ia percaya kerja tubuh manusia analog dengan kerja alam semesta. Lingkaran pada skesta itu mencoba menggambarkan eksistensi spiritual, dan persegi panjang itu mengandaikan eksistensi dunia material. Jadi sketsa itu juga bisa dimaknai sebagai penggambaran Leonardo akan korelasi kedua aspek eksistensi manusia itu.


Maaf jika Anda kurang nyaman dengan nuansa gambar di atas, penulis sama sekali tidak memiliki niat negatif atau kotor. Tujuannya semata-mata hanya untuk pengetahuan.

Lebih jauh dari itu, banyak orang mungkin hanya tahu bahwa konsep proporsi manusia sempurna seperti yang tergambar pada skesta Vitruvian Man yang kini tersimpan di Gallerie dell' Accademia in Venesia, Italia itu adalah cetusan asli Leonardo da Vinci. Padahal konsep itu sendiri telah muncul 1500 tahun sebelum Leonardo lahir.

Nama Vitruvian itu sendiri berasal dari nama seorang arsitek dan insinyur militer Romawi, Markus Vitruvius Pollio yang hidup kurang lebih 100 tahun sebelum masehi. Gaya artistekturnya banyak dipengaruhi para pendahulunya dari Yunani, terutama Hermogenes (+ 200 SM).

Markus adalah seorang arsitek brillian yang mewariskan catatan-catatannya dalam seri 10 buku berjudul De Architectura. Serial buku yang hingga kini masih berpengaruh besar pada studi arsitektur modern itu membahas soal style, proporsi, ornamentasi, arah jalan-jalan, pondasi dan substruktur, metode membangun bangunan dan material-material yang digunakannya, akustik, dan harmoni struktur. Di bagian awal halaman 3 buku ke 3, saat mendiskusikan pembangunan kuil, konsep manusia vitruvian termunculkan.

Menurut Vitruvius, proporsi sebuah bangunan harus terkait dengan manusia yang menghuninya. Pembangunannya harus didasarkan pada ukuran-ukuran relatif sosok fisik manusia ideal. Ini bukan cuma soal tinggi dan besar kusen pintu atau tingginya bangku, tapi lebih pada efek bangunan tersebut terhadap pikiran manusia. Serupa dalam seni, proporsi tubuh manusia dalam patung atau lukisan memiliki efek langsung terhadap pikiran. Sayangnya, Vitruvius sama sekali tidak meninggalkan sketsa atau lukisan untuk menjelaskan konsepnya itu.

Leonardo sendiri mulai dan makin tertarik pada anatomi lantaran ia diharuskan oleh guru lukisnya, Andrea del Verrocchio. Seiring makin diakuinya kepiawaian mereka, keduanya diijinkan untuk membedah mayat di Rumah Sakit Santa Maria Nuova, Florence, agar bisa lebih jauh mempelajari anatomi manusia. Belakangan mereka pun diberi kesempatan serupa di RS Maggiore dan RS Santo Spirito di Roma yang merupakan rumah sakit terbesar di Italia kala itu. Selama 30 tahun mereka telah membedah dan mempelajari lebih dari 30 jenasah dari berbagai usia dan jenis kelamin. Lantas bekerja sama dengan Dokter Marcantonio della Torre, mereka menyusun sebuah buku teori soal anatomi manusia. Sayangnya buku yang memuat lebih dari 200 sketsa Leonardo itu sendiri baru terbit 61 tahun selepas Leonardo meninggal dalam judul Treatise on painting. Menariknya. sketsa-sketsa Leonardo itulah yang banyak menginspirasi perkembangan ilmu bedah modern, termasuk desain jantung buatan yang dikembangkan pertama kali oleh seorang dokter bedah jantung asal Inggris.

Kembali ke konsep sosok fisik manusia ideal yang tergambar dalam lukisan Vitruvian Man, berikut ini adalah beberapa proporsi yang juga banyak diajarkan di sekolah-sekolah seni.

A. Tubuh
  • Tinggi tubuh manusia ideal kurang-lebih sama dengan 8 kali ukuran panjang kepalanya, atau 8 kali jarak dari siku ke ujung ketiak. Proporsinya adalah sebagai berikut:
  1. Kepala
  2. Dagu (ujung kepala) hingga ke bagian tengah dada (kira-kira pada posisi puting payudara perempuan)
  3. Bagian tengah dada hingga ke pusar
  4. Pusar hingga ke selangkangkan
  5. Selangkangan hingga ke bagian tengah paha
  6. Bagian tengah paha hingga ke bagian bawah lutut
  7. Bagian bawah lutut hingga ke bagian tengah tulang kering
  8. Bagian tengah tulang kering hingga ke tapak kaki.
  • Tinggi tubuh manusia kurang lebih sama dengan 10 kali panjang jengkalan tangannya.
  • Posisi selangkangan kurang lebih adalah titik tengah dari tinggi manusia dewasa
  • Panjang bentangan lengan seseorang kurang lebih sama dengan lebar panggulnya.
  • Panjang bentangan kedua lengan, dari ujung jari paling kiri ke yang paling kanan sama dengan tinggi tubuh.
  • Panjang tapak kaki seseorang sama dengan panjang lengan bagian bawahnya.
  • Lebar maksimum bentangan dada seseorang kurang lebih sama dengan seperempat tinggi tubuhnya.
  • Lebar telapak tangan kurang lebih sama dengan 4 jari.
  • Panjang kaki seseorang kurang lebih sama dengan 4 kali lebar tapak tangannya.
B. Kepala
  • Mata berada tepat di bagian tengah kepala
  • Proporsi kepala bisa dibagi menjadi 3 bagian yang sama panjang:
  1. Dari ujung kepala (akar rambut) sampai ke bagian bawah kening
  2. Bagian bawah kening sampai ke bagian bawah hidung
  3. Bagian bawah hidung sampai ke bagian bawah dagu.
  • Lebar kepala kurang lebih sama dengan 4-5 kali lebar mata
  • Panjang kepala (dari akar rambut sampai bagian bawah dagu) kurang lebih sama dengan panjang satu jengkal tangan.
  • Panjang kepala seseorang kurang lebih sama dengan 3 kali jarak dari ujung dagu ke hidungnya.
  • Jarak antara mata kanan dan mata kiri sama dengan lebar mata.
  • Tinggi telinga sama dengan jarak dari ujung mulut ke ujung mata
  • Lebar bagian bawah hidung sama dengan lebar mata.
  • Lebar mulut saat terkatup sama dengan jarak antara 2 bola mata, atau lebar mata.
  • Panjang wajah seseorang kurang lebih sama dengan 3 kali panjang telinga atau 3 kali jarak dari ujung kening ke alis.
Silakan ukur sendiri, boleh percaya boleh tidak. Sebab betapapun konsep manusia vitruvian tidak berniat menyuguhkan sebuah rumusan matematika yang eksak atas proporsi tubuh manusia. Antropometri dalam karya ini termunculkan sebagai impian manusia untuk memiliki tubuh ideal.

Sumber: http://pena-patah.blogspot.com/
Sumber gambar Manusia Vitruvian: wikipedia

Postingan terkait: