Hubungan Ergonomi dan K3

Sebelumnya sudah pernah dijelaskan hubungan antara ergonomi dan K3 pada postingan “Ergonomi dan K3”, selengkapnya klik disini. Namun ternyata hubungan antara ergonomi dan K3 ini cukup membingungkan bahkan ada suatu riset yang sengaja meneliti hal ini dengan judul  “The relation between OSH and ergonomics: a 'mother-daughter' or 'sister-sister' relation?” oleh Hermans V, Van Peteghem J. Pada intinya posisi ergonomi sering tidak jelas. Pada perusahaan terkadang posisi ergonomi dipisah dengan K3 dengan anggapan bahwa ergonomi hanya mengurusi pengurangan Muskulo Skeletal Disorder (MSD) dan ada yg menganggap ergonomi hanya mengurusi perbaikan-perbaikan agar performa kerja dan produktivitas meningkat dan berbeda dengan K3 yang mengurusi keselamatan dan kesehatan kerja, terkadang ergonomi menjadi bagian dari K3 dengan anggapan bahwa ergonomi merupakan sebiah metode atau proses untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja. Di pihak lain pada bidang akademik justru sering kali K3 dimasukan sebagai bagian dari bahan perkuliahan bidang ergonomi atau dengan kata lain K3 merupakan bagian dari ergonomi dan bukan ergonomi merupakan bagian dari K3. Lalu manakah yang benar? Saya sendiri jarang menemukan referensi yang membahas hal ini oleh karena itu saya mencoba untuk mengutarakan opini saya disini, jadi kalau salah mohon dikoreksi.

Terlebih dahulu kita bagi dua pemposisian ergonomi menjadi posisi ergonomi di dunia pendidikan (akademik) dan posisi ergonomi di dunia kerja (perusahaan/industri).

Posisi ergonomi di dunia pendidikan

Pada dunia pendidikan, ergonomi diperlakukan sebagai suatu ilmu. Secara singkat ilmu ini adalah Ilmu tentang bagaimana merancang agar seseorang bisa bekerja dengan baik. Agar suatu kerja bisa dikatakan baik maka perlu diperjatikan faktor-faktor penting yakni keselamatan kerja, kesehatan kerja, dan produktivitas kerja / performa kerja. Jadi bisa dikatakan bahwa dalam ergonomi ada tiga tujuan utama yakni keselamatan kerja, kesehatan kerja, dan produktivitas kerja oleh karena itu mayoritas orang memberikan tiga moto utama untuk ergonomi yakni safety, health, dan productivity dan ada pula yang menambahkan comfort atau humanity yang pada intinya juga masih sejalan dengan tiga moto sebelumnya. Oleh karena safety dan health merupakan bagian dari ergonomi maka K3 juga menjadi bagian dari ergonomi. Jadi kesimpulannya dunia pendidikan menganggap bahwa K3 merupakan bagian dari suatu ilmu yang bernama ergonomi sedangkan ergonomi merupakan suatu ilmu yang tidak hanya membahas K3 saja tapi juga sampai ke produktivitas kerja / performa kerja, kenyamanan kerja dsb.

Sebagai suatu ilmu, ergonomi mirip dengan ilmu lainnya seperti ilmu ekonomi dimana tujuan ilmu ini adalah untuk menjelaskan bagaimana akitivitas ekonomi bekerja dan menjelaskan bagaimana agen atau perantara ekonomi berinteraksi dan untuk itu diperlukan berbagai kajian ilmu ekonomi seperti ekonomi akuntansi, ekonomi manajemen, ekonomi pembangunan dsb, ergonomi juga merupakan suatu ilmu yang memiliki tujuan meningkatkan keselamatan kerja, kesehatan kerja, dan produktivitas kerja / performa kerja dan untuk itu diperlukan berbagai kajian ilmu ergonomi seperti ergonomi fisik, ergonomi kognitif, ergonomi lingkungan, dan ergonomi organisasi.

Posisi ergonomi di dunia kerja

Posisi ergonomi di perusahaan berbeda dengan di dunia pendidikan. Mayoritas perusahaan menganggap ergonomi lebih menjadi suatu metode atau proses yang perlu dilakukan agar peningkatan K3 bisa dicapai. Lalu dimana letak perbedaanya? Perbedaanya adalah beberapa perusahaan lebih condong menganggap ergonomi hanya digunakan untuk meningkatkan K3 saja dan bukan untuk peingkatan performa atau produktivitas kerja oleh karena itu ergonomi terlihat sama dengan K3 atau dengan kata lain telah terjadi penyempitan makan ergonomi dan karena ergonomi dianggap sebagai suatu metode (bukan ilmu secara luas) maka ergonomi diartikan menjadi bagian dari K3. Ini terlihat bahwa pada kebanyakan perusahaan terdapat bagian Health, Safety, dan Environment (HSE) dan pada bagian inilah suatu metode ergonomi dan proses yang ergonomis harus dijalankan.

Ada juga beberapa perusahaan yang secara nyata telah membuat bagian khusus ergonomi di bawah divisi HSE yang notabene dari namanya seharusnya hanya mengurusi K3 dan lingkungan, mereka dengan sadar membuat bagian ergonomi tersebut selain mengurusi K3 juga untuk meningkatkan produktivitas atau performa kerja dan sistem. Untuk kasus tersebut perusahaan telah sadar bahwa ergonomi tidak hanya mengurusi health dan safety atau K3 tapi juga mengurusi performa kerja dan produktivitas kerja atau sistem dsb namun mungkin mereka bingung dimanakah bagian ergonomi tersebut seharusnya diletakkan.

Di pihak lain ada beberapa yang terbalik dan lebih ekstrim yakni menganggap ergonomi hanya berurusan dengan MSD dan kenyamanan atau hanya mengurusi masalah performa kerja dan produktivitas kerja dan kurang menganggap ergonomi ada kitannya dengan K3.

Lalu mana yang benar?


Secara umum sebenarnya semuanya benar, permasalahannya hanya pada penggunaan lingkup ergonomi. Namun saya berpendapat bahwa yang paling benar tetap pada dunia pendidikan karena di dunia inilah suatu ilmu dinyatakan secara murni maksudnya masih belum diubah-ubah dan belum dipengaruhi kepentingan-kepentingan luar. Sedangkan di perusahaan sebagian benar namun sebagian kurang tepat karena biasanya hanya berpikir practical saja dan yang penting tujuan tercapai. Sebenarnya hal itu tidak masalah namun sebaiknya disesuaikan dengan ilmu yang sebenarnya. Hal-hal yang menurut saya perlu disesuaikan adalah:
  1. Ergonomi dan K3 adalah sesuatu yang erat hubungannya dan tidak terpisah. Oleh karena itu kurang tepat jika ada yang menyatakan bahwa ergonomi tidak ada atau kurang ada kaitannya dengan K3.
  2. Sah-sah saja bila ergonomi dianggap sebagai proses atau metode untuk meningkatkan K3 tapi perlu ditekankan bahwa ergonomi tidak hanya untuk meningkatkan K3 tapi juga untuk meningkatkan hal-hal diluar K3 seperti produktivitas kerja, performa kerja, dsb. Hal ini bisa digambarkan sebagai berikut: “untuk menghemat pengeluaran kita harus ekonomis” tapi bukan berarti ilmu ekonomi hanya mengurusi penghematan biaya saja, ini sama halnya dengan ergonomi, “untuk meningkatkan K3 kita harus mendesain proses kerja yang ergonomis” tapi bukan berarti ilmu ergonomi hanya mengurusi peningkatan K3 saja.”
  3. Sah-sah saja bila terdapat ergonomi di dalam HSE (sebuah divisi atau bagian yang mengurusi K3 + lingkungan) namun perlu digarisbawahi bahwa ergonomi maknanya lebih luas dari K3 artinya ergonomi memang membahas K3 tapi juga membahas hal-hal selain K3 yang sudah disebutkan di atas.

K3, icon ergonomi

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ergonomi tidak hanya tentang K3 namun perlu diakui bahwa sebagaian besar kajian ergonomi berada di ranah ergonomi fisik dan pada ergonomi fisik ini, K3 mendapat porsi yang besar. Oleh karena itu K3 tetap akan menjadi salah satu icon utama ergonomi dan bila ada pihak-pihak terutama masyarakat awam yang masih menyamakan K3 dan ergonomi itu masih dapat dimaklumi.