Hedonomi

Apakah Anda pernah mendengar ilmu “hedonomi”? Barangkali kata ini mungkin masih sangat asing oleh telinga kita. Hal tersebut wajar karena ilmu ini tergolong baru. Lalu apa itu hedonomi? Apakah sama dengan hedonisme? Beberapa dari Anda mungkin sudah cukup familiar dengan kata hedonisme. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Lalu kembali lagi ke pertanyaan apakah hedonomi sama dengan hedonisme? Jawabannya adalah tidak namun hal yang dibahas adalah sama yakni mengenai kesenangan atau afektif. Jika hedonisme adalah sebuah pandangan yang nampaknya mempunyai konotasi negatif, sedangkan hedonomi adalah sebuah ilmu yang dapat dikembangkan dan diaplikasikan secara positif.

Hedonomi berasal dari dua kata Yunani yakni hedone yang berarti kebahagiaan / kesenangan / kesukaan / kenikmatan dan nomos yang berate hukum / aturan / dasar / kaidah / ilmu. Hedonomi atau dalam bahasa Inggris adalah hedonomics merupakan cabang ilmu yang memfasilitasi aspek kebahagiaan / kesenangan / kenikmatan  pada interaksi manusia dengan teknologi.

Ilmu ini berkaitan dengan ilmu human factor atau ergonomi terutama ranah ergonomic kognitif. Ilmu ini ditemukan setelah para ergonom mempelajari kontrol motor manusia, persepsi dan hubungan perseptual-motor, serta kemampuan kognitif dan keterbatasan manusia yang pada akhirnya mereka menemukan peran penting kebahagiaan. Kemunculan istilah hedonomi sendiri memiliki cerita tersendiri yang pada akhirnya istilah “hedonomi” atau “hedonomics” dipilih setelah “mengalahkan” kandidat istilah lainnya yakni "The Human Factors of Pleasure" dan  "Affective Human Factors" dengan alasan kesederhanaan.

Hedonomi dianggap penting karena saat ini stres telah meningkat di segala aktivitas manusia yang semakin kompleks terutama dalam bekerja sehingga bersenang-senang dan relax atau santai merupakan hal yang mulai dianggap penting dan bisa diteliti secara ilmiah dan tidak sebatas perkiraan atau nalar belaka sehingga dapat dimasukan dalam suatu perancangan atau desain kerja. Hedonomi sangat berkaitan dengan motivasi, emosi, dan estetika dalam lingkungan kerja.

Hedonomi tentu bukan hanya untuk menaikkan faktor kesenangan semata namun juga selaras dengan prinsip ergonomi lainnya yakni dapat menaikkan safety, dapat menaikkan health, dan yang sangat penting adalah menaikkan produktivitas dan performa kerja. Hedonomi dapat mengoptimalkan usabilitas alat atau produk, hedonomi dapat meningkatkan perhatian, hedonomi dapat menaikkan konsentrasi, hedonomi dapat menaikan motivasi kerja dan masih banyak aplikasi hedonomi lainnya.

Dalam lingkup ergonomi, hedonomi mempunyai keunikan. Berbeda dengan prinsip ergonomi safety, health dan productivity yang nampaknya cukup sulit untuk diaplikasikan karena kebanyakan user menganggap hal-hal tersebut adalah hal-hal yang membebankan mereka walaupun sebenarnya tujuannya baik dan menguntungkan, namun hedonomi yang mempunyai prinsip pleasure akan lebih diterima dan lebih “disambut secara positif”.

Yang perlu ditekankan disini adalah bahwa prinsip fun dan pleasure bukanlah tujuan akhir dari ilmu ini (walaupun sepertinya beberapa sumber masih cukup “bingung” dengan batasan lingkup dan tujuan ilmu ini mengingat ilmu ini masih sangat baru), tujuan akhir ilmu inilah adalah seberapa pengaruh fun dan pleasure itu akan berpengaruh pada perilaku dan perhatian manusia dalam beraktivitas atau bekerja terutama ketika berhubungan dengan suatu teknologi. Tujuan akhir dari pleasure pada hedonomi ini pada akhirnya sama dengan prinsip ergonomi lainnya (safety, health, productivity, humanity, comfort) yakni untuk meningkatkan performa kerja dan kualitas kerja yang selanjutnya akan memiliki dampak meningkatkan profit dan meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidup.

Menurut saya prinsip pleasure dalam ilmu ini mirip dengan prinsip comfort atau kenyamanan dimana prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari sering disalahartikan dan diaplikasikan “melebihi batas” sehingga sering justru menjerumuskan ke dalam hal-hal yang tidak produktif (untuk selengkapnya klik disini). Tujuan prinsip pleasure dalam hedonomi harus dipahami seperti yang telah disebutkan pada paragraf sebelumnya dan jangan sampai disalahartikan hanya untuk mengejar kesenangan belaka karena hedonomi bukan hedonisme.

Postingan terkait: