Bagaimana Ergonomi Bisa Menguntungkan?

Telah diketahui bersama bahwa penerapan ergonomi yang tepat di lingkungan kerja akan memberikan efek positif pada semua pihak. Bagi perusahaan mendapatkan keuntungan karena terdapat penghematan dan adanya perbaikan produktivitas yang nantinya akan memberikan efek positif terhadap profit. Bagi pekerja juga mendapatkan keuntungan yakni safety meningkat, kesehatan lebih terjamin, lebih “nyaman” dalam bekerja, usabilitas alat kerja meningkat (semakin mudah digunakan dan optimal) dan pada akhirnya kualitas kehidupan saat bekerja menjadi lebih baik.

Keuntungan bagi pihak pekerja memang sudah tidak diragukan lagi kebenarannya namun keuntungan untuk pihak perusahaan masig banyak yang meragukannya. Banyak pihak yang bertanya, bagaimana ergonomi dapat menguntungkan perusahaan? Jawabannya sudah disebutkan yakni ergonomi akan memberikan penghematan dan adanya perbaikan produktivitas yang nantinya akan memberikan efek positif terhadap profit. Jawaban tersebut sudah sangat jelas dan banyak terbukti namun banyak pihak terutama mereka yang awam yang belum puas dengan jawaban tersebut. Mereka mempertanyakan bagaimana proses detailnya ergonomi bisa menguntungkan. Berikut akan dijelaskan salah satu versi bagaimana ergonomi bisa menguntungkan (sebenarnya penjelasan ini sudah pernah dimuat pada tulisan sebelumnya namun pada tulisan ini akan disajikan dengan lebih ringkas dan sederhana, untuk melihat tulisan sebelumnya klik disini).

Pada dasarnya, pada sebuah perusahaan/industri terutama di lantai produksi, terdapat hal-hal yang membuat jadi tidak untung. Hal-hal tersebut dinamakan waste. Waste secara kasar dapat diartikan sebagai ‘sampah’ atau hal-hal yang tidak berguna, tidak member nilai tambah, tidak bermanfaat, dan merupakan pemborosan.

Waste ada 12 jenis dan terbagi menjadi dua yakni 7 waste yang diidentifikasi oleh Taiichi Ohno sebagai bagian dari sistem produksi Toyota dan 5 additional waste yakni jenis waste yang ditambahkan oleh referensi atau sumber lain. 12 waste meliputi:
  1. Produksi berlebih (overproduction). Overproduction adalah produksi produk dengan jumlah lebih banyak dari permintaan konsumen atau melebihi jumlah yang dibutuhkan. Overproduction merupakan jenis waste yang paling parah dibandingkan yang lain, karena diperlukan tambahan usaha penanganan bahan, tempat tambahan untuk menyimpan persediaan, dan tenaga tambahan untuk memantau persediaan, dokumen tambahan, dan lain-lain. Overproduction juga bisa disebabkan oleh produksi yang dikerjakan sebelum waktunya. Jika hal ini terjadi, maka biaya material dan upah pekerja bertambah sedangkan nilai hasil kerja tidak bertambah.
  2. Waktu tunggu (waiting). Waiting meliputi seluruh waktu yang membuat proses produksi terhenti. Beberapa referensi menyebutkan bawah waiting waste juga terjadi pada operator yang hanya mengamati jalannya mesin otomatis. Pemborosan ini terjadi karena pekerjaan dilakukan sepenuhnya oleh mesin dan operator tidak melakukan pekerjaan apapun.
  3. Transportasi berlebih (inefficient transportation). Transportation atau transportasi merupakan pergerakan barang, baik material, work in progress (WIP), atau barang jadi yang memiliki resiko kerusakan, kehilangan, penundaan, dan lain sebagainya, serta menambah biaya tanpa memberikian nilai lebih. Transportasi pasti ada di setiap produksi, namun jika transportasi tersebut berlebihan atau tidak efisien maka harus diminimalkan.
  4. Proses yang tidak sesuai (inappropriate processing). Inappropriate processing meliputi semua aktivitas dalam proses produksi yang seharusnya tidak perlu ada. Inappropriate processing umumnya terjadi jika peralatan produksi tidak terawat, kurang siap pakai, atau kurang sempurna baik tingkat akurasi, fleksibilitas, integrasi otomatisasi dan sebagainya, sehingga operator harus mengeluarkan usaha  lebih banyak.
  5. Persediaan yang tidak perlu / berlebih (unnecessary inventory). Bentuk waste ini bisa berupa persediaan material, barang work in progress (WIP), maupun barang jadi yang menambah pengeluaran dan belum menghasilkan pemasukan, baik oleh produsen maupun untuk konsumen. Ketiga jenis bentuk inventory di atas tidak diproses dengan segera hingga menghasilkan nilai tambah.
  6. Gerakan yang tidak perlu (unnecessary motion). Bentuk unnecessary motion berupa gerakan manusia / individu (operator, foreman dan orang-orang yang berhubungan langsung dengan produksi) atau peralatan yang berlebihan, tidak efektif, dan tidak memberikan nilai tambah bagi jalannya proses produksi.
  7. Produk cacat (defects). Defects merupakan kecacatan kualitas yang terjadi dalam proses maupun produk akhir akan menghambat pengiriman produk. Selain itu, dibutuhkan usaha dan biaya tambahan untuk penangan produk cacat seperti rework dan pembuangan. Diperlukan proses tambahan dalam usaha untuk memperoleh kembali nilai dari produk yang cacat tersebut.
  8. Underutilized people. Underutilized people merupakan waste karena pekerja yang tidak mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya baik mental, kreativitas, ketrampilan, dan kemampuan fisik.
  9. Danger. Danger merupakan ketidakamanan (unsafe) area kerja. Danger berkaitan dengan resiko kecelakaan kerja akibat hazard. Setiap pekerjaan pasti memiliki resiko bahaya dan resiko tersebut harus diminimalkan.
  10. Poor information. Poor information merupakan wujud dari buruknya aliran informasi dalam proses produksi.
  11. Loss of materials. Loss of materials merupakan ketidaksesuain jumlah material yang digunakan dengan output produksi yang diharapkan.
  12. Breakdown. Breakdown merupakan kerusakan pada mesin atau alat produksi.
Waste-waste di atas dapat diatasi dengan mengoptimalkan empat elemen yakni 1) sistem dan proses manufaktur 2) teknik produksi 3) riset operasi dan 4) ergonomi (untuk mengetahui lebih lanjut mengenai empat elemen dalam industri klik disini).

Pada dasarnya, semua elemen dalam industri tersebut saling berkaitan dan agar waste tersebut dapat diatasi secara optimal maka keempat elemen tersebut harus bersinergi satu sama lain. Namun, secara umum dapat disebutkan bahwa ada beberapa waste dimana untuk mengatasinya diperlukan peran bidang ergonomi yang paling signifikan. Waste tersebut antara lain:
  • Transportasi berlebih (inefficient transportation). Waste ini dipelajari dalam bidang desain alat kerja (misal untuk kasus material handling dan poor close coupling), analisis postur kerja (misal untuk kasus manual material handling) dsb.
  • Gerakan yang tidak perlu (unnecessary motion). Waste ini dipelajari dalam bidang motion and time study.
  • Underutilized people. Waste ini dipelajari dalam bidang produktivitas manusia dan hubungannya bisa melebar ke bidang lain seperti ergonomi lingkungan, ergonomi organisasi, ergonomi kognitif, manajemen shift, human error dsb.
  • Danger. Waste ini dipelajari dalam bidang occupational safety and health atau kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
  • Poor information. Waste ini dipelajari dalam bidang ergonomi kognitif, ergonomo organisasi dsb.
Dari informasi diatas dapat dilihat bahwa hampir separuh dari waste yang ada dapat diatasi dengan ergonomi. Hal ini membuktikan bahwa ergonomi itu memang sangat menguntungkan.

Postingan terkait: