Thermal Environment

Thermal environment juga merupakan bagian dalam ergonomi. Suhu dan ruangan yang cocok dan nyaman sangat penting agar kita merasa nyaman terutama saat bekerja atau beraktivitas. Suhu atau temperatur yang cocok dan nyaman adalah berkisar antara 20-22ºC pada saat musim dingin dan 20-24ºC pada saat musim panas. Di Indonesia sendiri yang hanya memiliki dua musim, suhu yang cocok atau nyaman bisa dikatakan hampir sama dengan suhu yang telah disebutkan. Jika suhunya lebih tinggi dari suhu tersebut maka kita bisa menjadi cepat lelah dan mengantuk, sedangkan suhu yang lebih rendah bisa menyebabkan kegelisahan dan berkurangnya perhatian.

Tingkat respek dan toleransi manusia terhadap thermal environment tergantung pada beberapa faktor yakni kondisi fisik, umur, jenis kelamin, lemak dalam tubuh, dan konsumsi alkohol.

Ketidaknyamanan menyangkut thermal environment dapat menimbulkan stress. Terdapat dua macam stress. Pertama heat stress (akibat suhu yang tinggi) dan cold stress (akibat suhu yang rendah). Heat stress dapat menimbulkan efek fisik diantaranya efek terhadap sistem kardiovaskular, keluarnya keringat, penyakit akibat panas (heat illnes) diantaranya heat rash (timbul bintik), heat cramps (kejang), heat exhaustion (kelelahan) dan heat stroke. Sedangkan cold stress dapat menimbulkan efek fisik diantaranya vasoconstriction, menggigil, luka akibat cold stress seperti frostbite (radang dingin) dan dive reflex (pelemahan denyut jantung akibat dingin dan pernapasan terhenti).

Karena suhu atau temperatur sangat berpengaruh terutama terhadap performa saat bekerja atau beraktivitas maka suhu atau temperatur tempat atau ruang harus diperhatikan, dijaga, dan dibuat supaya nyaman tergantung faktor-faktor dan kondisi tempat atau ruangan tersebut.

Postingan terkait: