Peranan Ergonomi dalam Pembangunan

Sebagaimana telah disampaikan, di dalam era pembangunan ini dimana kita sedang sibuk-sibuknya merencanakan dan melaksanakan pembangunan, ergonomi seyogyanya sudah dimanfaatkan sedini mungkin, atau sejak fase perencanaan, malahan sejak konsepnya mulai dicetuskan. Ini menjadi lebih signifikan karena dengan ergonomi ada empat komponen sasaran kesejahteraan manusia tercakup yaitu sehat, aman, nyaman dan efisien. Tidak ada satu disiplin ilmu yang begitu besar memiliki manfaat sekaligus. Memang di dalam kehidupan nyata kita tidak bisa selalu menerapkan ergonomi sejak perencanaan secara konsekuen, karena adanya berbagai hambatan. Pada situasi seperti itu tidak ada pilihan lain, kecuali melakukan pendekatan kuratif, yang mana seyogyanya dilakukan dengan lebih efektif dan efisien. "Participatory Ergonomics" adalah salah satu jawaban untuk maksud tersebut, karena dengan pendekatan ini akan terdapat "involvement" dan "contribution" dari para pemakai dalam hal ini para karyawan, sehingga diharapkan nantinya ada "responsibility" dari implementasi / intervensi ergonomi yang kita lakukan (Manuaba, 1994c). Peranan ergonomist disini hanyalah memberikan alternatif pemecahan yang bisa dilakukan sedang keputusan akhir diserahkan sepenuhnya kepada para pemakai. Dengan demikian hambatan sosiocultural bisa dipecahkan Di dalam pelaksanaannya, upaya membudayakan ergonomi merupakan keharusan kalau intervensi / perbaikan yang akan kita lakukan menjadi betul-betul lestari dan berkelanjutan. Sebab bagaimanapun juga, permasalahan tidak akan pernah selesai, karena itu para pemakai dalam hal ini para karyawan harus benar-benar menghayati apa ergonomi itu dan bagaimana memanfaatkannya.

Upaya penerapan ergonomi harus dilakukan dengan pendekatan holistik, bersistem dan interdisipliner, dimana ergonomi bersama-sama disiplin lain harus mampu secara komprehensif mengkaji teknologi yang akan kita pilih atau alih dari negara dimana dia berasal. Pendekatan Teknologi Tepat Guna, dimana teknologi itu harus dapat dipertanggung jawabkan dari aspek teknis, ekonomis, ergonomi dan sosiokultural, disamping juga harus hemat akan penggunaan energi dan tidak merusak lingkungan harus dilaksanakan dengan konsekuen (Manuaba, 1977, 1992, 1997b,c).

Berbicara mengenai standar, dimana pada saat ini sudah mulai dirintis kehadirannya dan sudah mulai diterapkan diberbagai negara, khususnya di Eropa, maka perlu untuk menjadi perhatian kita bersama bahwa tidak semuanya bisa begitu saja kita pakai di Indonesia. Sebagai contoh, Manuaba, A dan Kamiel Vanwonterghem (1996) menemukan bahwa untuk orang Indonesia, ternyata memerlukan denyut nadi yang lebih tinggi dari orang coba Eropa di dalam melakukan satu pekerjaan yang bebannya sama. Hasil yang sama diketemukan juga oleh Intaranont,K dan Kamiel Vanwonterghem (1993) untuk orang Thailand. Sehingga dengan hasil ini, standar WBGT yang berlaku untuk Eropa, perlu dimodifikasi terlebih dahulu sebelum begitu saja diberlakukan di Indonesia. Memang untuk maksud itu, diperlukan lebih banyak penelitian dan biaya serta "concern" dan "commitment" pihak-pihak berwenang seperti Kemnaker, Kemkes, Kemerindag, Bappenas, dan sebagainya, disamping lembaga-lembaga penelitian sendiri dan pusat-pusat pendidikan ergonomi dengan SDM nya yang cukup melimpah.

Perhatian juga perlu diberikan kepada kelompok lanjut usia dan penyandang cacat tiubuh, karena disamping jumlahnya terus bertambah, kita juga tidak ingin mereka akan tetap menjadi beban karena tidak ergonomisnya peralatan dan lingkungan yang disediakan untuk mereka. Sarana dan prasarana yang disediakan melalui proyek dan program pembangunan hendaknya sudah secara "built-in" berisikan prinsip-prinsip ergonomi di dalamnya. Bahwasanya kita sudah melangkah lebih maju untuk sudah mulai menyediakan sarana dan prasarana untuk para lanjut usia dan penyandang cacat tubuh, hendaknya sekaligus sudah bermuatan ergonomi sejak konsepnya dituangkan. Rumah untuk para lanjut usia, kendaraan yang akan ditumpangi atau dikendarai oleh para lansia dan penyandang cacat harus benar-benar dirancang sesuai dengan kemampuan, kebolehan dan batasan pemakainya .Begitu juga, keperluan dan penyediaan fasilitas untuk anak-anak, apakah itu tempat bermain, mainan, tempat tinggal, dsbnya sudah saatnya untuk di dalam desainnya bermuatan ergonomi, apalagi sudah banyak terjadi kecelakaan yang fatal karena keteledoran kita, yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Penerapan ergonomi di berbagai sektor pembangunan sudah saatnya lebih didekati secara konseptual, kalau toh terpaksa dengan pendekatan kuratif, agar dilakukan dengan menerapkan prinsip ergonomi lebih kepada pemecahan akar penyebabnya dari pada gejalanya. Misalnya masalah transportasi yang katanya pada saat ini cukup tinggi angka kecelakaannya, seyogyanya ergonomi diterapkan kepada kendaraan umum sebagai sasaran pemecahan masalah, misalnya agar lebih ergonomis desain dan operasinya, dari pada kepada upaya-upaya yang hanya memecahkan gejala yang muncul sebagai sasaran, seperti pengaturan satu arah, pengaturan baru arus lalu lintas, dsbnya. Sebab hanya dengan meningkatkan operasi kendaraan umum dan menekan jumlah kendaraan pribadi beroperasi yang dapat memecahkan persoalan kepadatan lalu-lintas sekarang ini. Begitu juga kecelakaan yang cukup tinggi angkanya, tidak bisa dipecahkan dengan hanya meningkatkan kontrol, tetapi lebih ditekankan kepada pemecahan masalah-masalah yang terkait secara holistik, bersistem dan interdisipliner.

Pendekatan teknologi tepat guna akan merupakan pilihan, karena kecelakaan tidak hanya bisa dipecahkan melalui desain ergonomi peralatan yang dioperasikan oleh pengendara, tetapi juga organisasi kerja dan lingkungannya dimana termasuk sistem storan, jam bertugas dan lembur, kerja malam dan bergilir, dsbnya. Melihat Bali sebagai salah satu kasus, sebenarnya kita sudah terlalu banyak memiliki konsep bagaimana memecahkan masalah lalu lintas dan transportasi ini, tetapi yang tidak atau belum ada ialah keberanian pihak-pihak berwenang untuk menerapkan hasil-hasil seminar dan workshop tersebut secara konsekuen dan bertanggung jawab. Ternyata terlalu banyak faktor penyebab yang menjadi ganjalan, antara lain adanya kepentingan pribadi yang sulit untuk diubah, tidak adanya "leader" dan "leadership" yang berani untuk memulai perubahan, tidak adanya inovator dan kreator yang betul-betul sangat diperlukan sekarang ini dengan konsep dan ide baru. Angka kecelakaan yang cukup tinggi pula disektor manufaktur dan konstruksi tidak lain karena adanya ratio perbandingan yang cukup besar antara "task demands" dan "working capacity", atau tuntutan kerja jauh lebih besar dari pada kapasitas kerja pekerja. Karena ingin mendapatkan pendapatan yang lebih besar tidak jarang tenaga kerja berusaha melakukan satu pekerjaan yang sebenarnya sudah melewati kemampuan adaptasinya. Dalam kaitan ini ergonomi harus mampu mengupayakan agar komponen-komponen yang berkaitan "task demands / tuntutan kerja" (karakteristik pekerjaan, organisasi, lingkungan dan material) benar-benar "fit" dengan komponen-komponen yang memberikan andil kepada "working capacity" / kapasitas kerja (karakteristik, kapasitas fisiologis, psikologis dan biomekanis) tenaga kerja. Sebagaimana juga di dalam upaya pemecahan masalah kecelakaan dan penyakit akibat kerja disektor transportasi, disini pendekatan ergonomi hendaknya juga dilakukan bersama-sama dalam konsteks teknologi tepat guna tersebut. Malahan dalam kaitan dengan "Manual Material Handling" tidak bisa dilupakan masalah-masalah yang berkaitan dengan nutrisi/gizi yang sangat menentukan kapasitas kerja tenaga kerja. Dan ini justru merupakan masalah krusial bangsa kita dan merupakan salah satu bagian dari lingkaran setan di dalam pemecahan masalah negara baru berkembang.

Di sektor-sektor lainnya, dimana setiap daerah memiliki prioritas sendiri, masalah-masalah yang berkaitan dengan "Musculo Skeletal Disorders" (MSD) hampir merupakan masalah umum disetiap sektor, sebagaimana juga masalah lingkungan yang panas dan lembab. Pemecahan yang murah, mudah dan bisa dikerjakan sebenarnya bisa dilakukan asal ada kemauan, kemampuan dan keberanian untuk itu, karena perbaikan yang harus dilakukan justru memerlukan ketiga hal tersebut. Hanya dengan merubah sikap kerja paksa, atau menghapus sikap kerja paksa, memilih alat yang lebih fit dan cara kerja yang lebih efektif dan efisien, merubah organisasi kerja dengan memberikan jadwal jam kerja dan istirahat yang tepat dan betul, atau memberikan sekedar minuman air dengan sedikit gula pemberi rasa, banyak memberikan dampak positif berupa peningkatan produktivitas tenaga kerja.

Banyak "successful stories" telah dialami di Bali, dan menjadi contoh soal bagi mereka yang ingin memulai memanfaatkannya, disamping kegagalannya yang perlu dihayati untuk tidak ditiru lagi (Manuaba, 1991). Dalam era globalisasi, dimana persaingan akan menjadi lebih ketat dan keras, diperlukan adanya perubahan di dalam gaya manajemen, SDM yang lebih inovatif dan kreatif dan organisasi yang lebih ramping. Manajemen harus lebih terbuka, transparan, banyak delegasi, lebih menjadi trend watcher, dan melaksanakan dengan baik manajemen waktu, manajemen konflik, dan upaya empowerment dari SDM. Total Quality Management (TQM) adalah salah satu pilihan, dimana perbaikan disemua lini secara terus menerus dilakukan demi tercapainya kualitas. Dan untuk berhasilnya sistem ini adanya SDM yang berkualitas dan memiliki nilai tambah sangat diperlukan. Lebih lebih kalau alat, cara dan lingkungan kerjanya bisa benar-benar diserasikan dengan kemapuan, kebolehan dan batasan manusia pekerja yang ada. Dengan kata lain, ergonomic "built-in" dalam TQM merupakan dambaan semua pihak. Melalui pendekatan makro-ergonomi, tujuan tersebut akan bisa dicapai dengan tepat dan betul.

Sumber :
“Ergonomi Pertumbuhan dan Peranannya dalam Pembangunan”, oleh Adnyana Manuaba yang disampaikan Pada MUNAS III dan Seminar Nasional Ikatan Profesi Keahlian Hiperkes dan Keselamatan Kerja24 26 Februari 1998, di Batu, Jawa Timur.

Postingan terkait: