Ergonomi Tumbuh dan Berkembang

Walaupun berbagai hambatan telah dialami di dalam upaya mesosialisasikan dan mengaplikasikan ergonomi, ada juga hal-hal yang menggembirakan, terutama di Bali, karena diakhir tahun 70an dan permulaan tahun 80an, ergonomi praktis mendapatkan perhatian yang cukup kuat dan luas, terbukti dengan disediakannya anggaran khusus oleh pihak pemerintah daerah untuk berbagai aktivitas ergonomi dalam pembangunan. Beberapa contoh soal bagaimana suksesnya penerapan ergonomi di berbagai sektor pembangunan telah ikut menyemarakkan kesuksesan ini. Apalagi melalui siaran Ruang Pembangunan TVRI Denpasar dimana berbagai sukses aplikasi ergonomi telah disiarkan sangat mendukung upaya sosialisasi ergonomi. Perhatian dunia luar khususnya badan-badan internasioanl yang memiliki program ergonomi juga mulai berdatangan seperti ILO, WHO, dsbnya, yang tidak jarang diikuti dengan berbagai bantuan khususnya yang berkaitan dengan pengembangan ergonomi sendiri sebagai ilmu. Kesempatan untuk menghadiri berbagai pertemuan ilmiah internasional dan kunjungan studi juga membuka lebih luas wawasan mengenai bagaimana ergonomi itu telah berkembang di dunia. Dengan sendirinya ini telah membawa akibat juga kepada bagaimana ergonomi ditumbuh kembangkan di tanah air dengan segala konsekuensinya.

Kalau dahulu, ergonomi lebih dikenal dengan ilmu yang mengurusi kursi, sekarang malahan muncul isu baru, bahwa ergonomi telah melakukan ekspansi terlalu jauh sehingga dirasakan sangat luas jangkauannya. Sehingga ada mahasiswa Pascasarjana Ergonomi yang mengeluh "berat" menjadi mahasiswa karena harus memiliki wawasan yang luas dan harus mampu berpikir dan melakukan pendekatan lintas disiplin. Memang tumbuh dan kembangnya ergonomi cukup menakjubkan. Ini bisa dilihat dari munculnya berbagai "tehnical group" di dalam paguyuban ergonomi / IEA / International Ergonomic Association, yang menekuni berbagai aktivitas kehidupan sesuai dengan adanya tuntutan dan kebutuhan. Mulai dari sistem kerja yang sangat kecil dan sederhana yang dikenal dengan "micro-ergonomics" sampai kepada yang sangat luas "macro ergonomics". Tahapannya pun bergulir sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan yang ada, mulai dari ergonomi militer ditahun 50an, ergonomi industri ditahun 60an, ergonomi barang konsumsi dan pelayanan ditahun 70an, ergonomi komputer di tahun 80an, dan ditahun 90an dan 2000an ergonomi kognitif dan ergonomi makro diharapkan akan menjadi pusat perhatian dan aktivitas sebagai akibat dari majunya informasi dan otomasi, juga dengan telah berhasilnya pendekatan ergonomi makro meningkatkan produktivitas, meningkatkan fungsi organisasi termasuk dibidang kesehatan dan keselamatan, kepuasan kerja dan kualitas kerja (H.W.Hendrick.1994).

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Sistem kerja di Indonesia sangat bervariasi, mulai dari yang paling sederhana sampai yang begitu kompleks. Karena banyaknya faktor yang terkait dalam setiap sistem kerja dan tidak tergantung dari pada tingkatannya, maka diperlukan selalu pendekatan yang bersifat holistik, bersistem dan interdisipliner di dalam mengisi pembangunan (A.Manuaba, 1996).

Sumber :
“Ergonomi Pertumbuhan dan Peranannya dalam Pembangunan”, oleh Adnyana Manuaba yang disampaikan Pada MUNAS III dan Seminar Nasional Ikatan Profesi Keahlian Hiperkes dan Keselamatan Kerja24 26 Februari 1998, di Batu, Jawa Timur.

Postingan terkait: