Ergonomi dan K3

Ergonomi dan K3 adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Salah satu tujuan dari pelaksanaan K3 adalah melindungi pekerja dari kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi kecelakaan kerja adalah dengan merancang suatu sistem kerja yang disesuaikan dengan kondisi tubuh manusia. Dengan hal ini, kenyamanan pekerja dalam melakukan pekerjaan akan meningkat sehingga resiko terjadinya kecelakaan dapat diminimalisasi. Dalam proses inilah dibutuhkan disiplin ilmu ergonomi dalam perancangan suatu sistem kerja. Ada ungkapan yang  mengatakan “Without ergonomic, safety management is not enough”. Ungkapan ini ditunjukkan dengan banyaknya perusahaan yang telah lulus audit manajemen K3, akan tetapi banyak ditemui keluhan dari para pekerjanya terkait dengan masalah kesehatan. Salah satunya adalah keluhan mengenai kelainan otot rangka (Musculoskeletal disorder). Hal ini disebabkan karena metode kerja yang salah atau tidak dibantu dengan alat bantu yang sesuai. Padahal data menunjukkan bahwa kompensasi perusahaan yang dikeluarkan untuk mengatasi keluhan ini lebih besar dibandingkan kompensasi untuk jenis kecelakaan lainnya.

Dengan ergonomi, semua sIstem kerja akan dirancang dengan memperhatikan kemampuan tubuh manusia dengan memperhatikan konsep Human Centerd Design (HCD). Intinya adalah beban kerja tidak boleh melebihi kapasitas kerja (Task Demand < Work capacity). Dengan inilah akan diperoleh suatu rancangan sistem kerja yang produktif, aman, nyaman, dan sehat bagi pekerja.

Lalu apa bedanya ergonomi dan K3? Mungkin bisa dibilang bahwa K3 merupakan salah satu aspek tujuan dari penerapan ergonomi yakni adanya keselamatan (safety) dan kesehatan (health) di tempat kerja, sedangkan ergonomi merupakan sebuah ilmu yang tujuannya tidak hanya safety dan health saja tapi juga sampai ke hal-hal yang lebih luas seperti productivity dan humanity. Jadi bisa disebutkan bahwa K3 merupakan bagian dari ergonomi.
Sumber : Disnakertrans

Postingan terkait: