Pencegahan Cedera Regangan Berulang dengan Ergonomi

Cedera regangan berulang atau kadang juga disebut dengan cedera tekanan berulang adalah cedera yang mengenai sistem otot, rangka dan sistem syaraf akibat aktivitas berulang. Cedera ini dalam bahasa Inggris dikenal dengan repetitive stress injury (RSI) atau repetitive strain injury dan sering juga dikenal dengan musculoskeletal disorders (MSD) atau cumulative trauma disorder (CTD).


Cedera ini terjadi karena aktivitas atau pekerjaan manusia terutama karena faktor-faktor risiko seperti:
  • Gaya (force) yang berlebihan
  • Postur yang tidak netral
  • Pengulangan (repetisi) gerakan
  • Contact stress (bagian tubuh disandarkan / ditopangkan pada permukaan yang keras)
  • Getaran
  • Postur statis
  • Pergerakan yang terbatas
Cedera ini biasa terjadi di lingkungan kerja perkantoran dan juga lingkungan industri atau lapangan. Di perkantoran cedera ini ditemui terutama karena pemakaian komputer sedangkan di lingkungan industri atau lapangan cedera ini bisa diakibatkan karena berbagai aktivitas fisik seperti material handling, pengoperasian alat / mesin dan sebagainya.

Di Amerika sendiri konon cedera ini merupakan penyebab utama gangguan yang dialami usia pekerja dan “kambing hitamnya” adalah komputer. Ya cedera tekanan berulang karena pemakaian komputer jumlahnya memang meningkat karena pemakaian komputer juga terus meningkat apalagi era ini adalah era dimana teknologi komputer booming dan sangat diandalkan oleh manusia. Bagaimana dengan di Indonesia? Cedera ini sebenarnya juga sudah mulai banyak terjadi di Indonesia terutama karena penggunaan komputer namun belum banyak yang menyadari isu ini.

Lokasi cedera dan jenis-jenis cedera

Mayoritas cedera regangan berulang terjadi pada bagian tubuh atas (upper extremity) dan punggung bawah (low back). Khusus untuk cedera yang disebabkan pemakaian komputer mayoritas terjadi di pergelangan tangan dan punggung bawah. Namun cedera ini juga mungkin terjadi di bagian tubuh yang lain.


Ada lebih dari 200 jenis cedera regangan berulang. Beberapa diantaranya yang sering terjadi adalah:
  • Low back pain
  • Carpal tunnel syndrome (CTS)
  • Muscle pain (myalgia)
  • Tendonitis
  • Rotator cuff syndrome
  • Tennis elbow
  • Trigger finger
  • Cervical syndrome
Sebenarnya cedera regangan berulang bukanlah suatu cedera yang tiba-tiba terjadi namun disebabkan karena paparan terhadap faktor-faktor risiko (yang telah disebutkan di atas) yang terjadi dalam suatu periode waktu (bisa dalam hitungan hari, minggu, bulan dll tergantung besar paparannya). Sebelum muncul cedera ini biasanya diawali dengan munculnya gejala-gejala sepert otot lelah, otot kaku, kesemutan, dan rasa kebas. Gejala-gejala ini adalah pertanda bahwa jika paparan terhadap faktor risiko terus berlanjut maka cedera regangan berulang akan terjadi.

Bagaimana cara mencegah cedera regangan berulang?

Untuk mencegah terjadinya cedera regangan berulang, kita harus menerapkan prinsip-prinsip ergonomi dalam aktivitas dan pekerjaan. Ergonomi bertujuan untuk mengurangi faktor risiko yang disebutkan di atas dan mengelola faktor risiko tersebut sehingga cedera bisa dicegah. Penerapan akhir dari ergonomi bisa dalam bentuk engineering control, administrative control dan behavior control.

Ada dua jenis ergonomi, yang pertama adalah ergonomi perkantoran (office ergonomics) yang diterapkan di lingkungan perkantoran (terutama berkaitan dengan pemakaian komputer) dan yang kedua adalah ergonomi industri (industrial ergonomics) yang diterapkan di lingkungan industri atau lapangan.

Perlu diketahui juga bahwa risiko cedera akan berbeda untuk tiap individu. Individu dengan kondisi khusus misalnya orang lanjut usia, penderita obesitas, ibu hamil dsb bisa memiliki risiko cedera regangan berulang yang lebih besar. Selain itu aktivitas-aktivitas sekunder (aktivitas diluar pekerjaan utama) seperti olahraga, aktivitas rumah tangga, bahkan sampai posisi tidur pun juga dapat meningkatkan faktor risiko. Karena itu ergonomi harus diterapakn di kesleuruhan cakupan hidup manusia, tidak hanya saat melakukan aktivitas atau pekerjaan di kantor atau di industri saja.
Baca selengkapnyaPencegahan Cedera Regangan Berulang dengan Ergonomi

Manusia itu Bukan Superhero

Di era ini banyak sekali bermunculan tokoh superhero fiktif di layar kaca. Tokoh dengan kekuatan yang melebihi manusia normal dan berkostum menarik ini banyak diidolakan. Sebut saja Superman, Spiderman, Captain America, X-Men dll. Tokoh-tokoh superhero ini telah menjadi salah satu bagian besar dari industri entertainment. Dahulu tokoh-tokoh superhero ini dituangkan dalam bentuk komik atau kartun, namun saat ini tokoh-tokoh tersebut telah banyak difilmkan ke adegan asli dan film-film ini sangat laris manis di pasaran.

Entah kenapa genre superhero ini bisa laris? Mungkin karena superhero memuaskan dambaan manusia akan kekuatan super. Karakter-karakter super yang sudah direalisasikan menjadi bentuk gambar terutama gambar bergerak atau bahkan diperankan manusia asli memang sangat menyenangkan untuk ditonton. Mereka semua memiliki aksi dengan kekuatan super yang sebenarnya selalu didamba-dambakan oleh setiap manusia. Siapa coba yang tak ingin bisa terbang melihat setiap bintang yang bersinar dari dekat, atau selalu cepat sembuh ketika habis terluka? Semuanya adalah impian kita semasa kecil, dan akan selalu ada sampai kita dewasa.


Namun perlu ditekankan bahwa selain kostum kerennya, semua yang dimiliki superhero itu tidak lah riil. Tidak ada manusia yang bermutasi hingga mempunyai kekuatan bisa sembuh dengan cepat, tidak ada manusia yang memiliki sayap, apalagi manusia yang super kuat dan bisa terbang melintasi galaksi. Manusia diciptakan dengan banyak keterbatasan terutama jika manusia dihadapkan pada hazard / bahaya. Manusia bisa gegar otak jika kepalanya terbentur, manusia bisa terbakar jika kena api, manusia bisa tuli jika kena paparan bising tinggi, manusia bisa mati jika jatuh dari ketinggian, dan manusia bisa terluka parah jika terkena benturan. Karena itulah di kehidupan manusia dibuat teknologi untuk mengontrol hazard atau bahaya tersebut, contoh sederhananya adalah alat pelindung diri seperti safety helmet dll.

Tapi sayangnya manusia banyak sekali yang tidak menyadari keterbatasannya. Lihat saja di jalanan, banyak pengendara motor yang tidak memakai helm, mungkin mereka mengira bahwa dirinya adalah The Thing yang kepalanya terbuat dari batu. Ada lagi pekerja di lingkungan migas yang tidak memakai baju tahan api dengan benar padahal lingkungannya penuh dengan bahaya kebakaran, mungkin mereka mengira dirinya adalah Human Torch. Ada juga orang yang senang sekali mendengarkan musik sangat kerasa dengan headset, mungkin dia mengira telinganya telah bermutasi seperti X-men. Di industri konstruksi banyak sekali orang yang tidak memakai body harness ketika bekerja di ketinggian, mungkin mereka mengira punggungnya telah bermutasi memiliki sayap. Dan yang tak kalah umum adalah banyak pengendara mobil yang tidak memakai safety belt, mungkin mereka mengira dirinya adalah Superman yang tidak akan terluka jika kena benturan tabrakan.


Ya mungkin saat ini banyak manusia yang hidup dalam angan-angan superhero yang membuat mereka lupa akan kodratnya sebagai manusia yang penuh dengan keterbatasan. Superhero memang sosok yang keren, tapi jangan lupa yang riil dari superhero hanyalah kostumnya saja. Kalau ingin jadi keren seperti superhero idola boleh lah memakai kostumnya seperti cosplayer, tapi jangan bertingkah seakan-akan memiliki kekuatan super karena manusia itu bukan superhero.

Referensi foto: Zack attack cosplay
Baca selengkapnyaManusia itu Bukan Superhero

Tujuan Penerapan Ergonomi

Ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan.


Seacara mendasar tujuan penerapan ergonomi ada dua hal, yaitu

1. Peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja
Dengan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia pada penerapan berbagai design / control di tempat kerja seperti engineering control, administrative control, dan behavior control, ergonomi akan meningkatkan keselamatan dan kesehatan manusia dalam bekerja atau beraktivitas. Ergonomi juga akan mecegah discomfort atau ketidaknyamanan dalam beraktivitas dimana ketidaknyamanan ini jika dibiarkan terlalu lama paparannya dapat menyebabkan kecelakaan kerja atau penyakitakibat kerja.

2. Peningkatan produktivitas kerja
Dengan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia pada penerapan berbagai design / control di tempat kerja seperti engineering control, administrative control, dan behavior control, ergonomi akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi kerja. Ergonomi akan membuat pekerjaan jadi lebih 'mudah' dan 'user friendly' dimana hal ini berdampak positif pada meningkatnya kecepatan / output kerja dan juga mengurangi kesalahan kerja (kualitas meningkat) dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas kerja.

Jadi secara ringkas, melalui prinsip 'fit the job to the man', penerapan ergonomi bertujuan untuk meningkatkan keselamatan & kesehatan kerja (K3) serta meningkatkan produktivitas kerja.
Baca selengkapnyaTujuan Penerapan Ergonomi

Ergonomi untuk Pengguna Komputer di Indonesia

Manusia memiliki banyak aktivitas dalam kesehariannya, sebagian besar aktivitasnya dihabiskan terutama untuk bekerja, sedangkan sisanya untuk mencari hiburan, melakukan hobi, bersosialisasi dan sebagainya. Saat ini sebagian besar dari aktivitas tersebut dilakukan di komputer baik komputer desktop, laptop, komputer tablet maupun perangkat sejenisnya seperti tablet dan smartphone.


Orang-orang, tidak terkecuali masyarakat Indonesia, mempergunakan komputer untuk tujuan tertentu diantaranya:

1. Untuk mempermudah pekerjaan di industri dan kantor
Komputer memang paling utama ditujukan untuk industri dan perkantoran. Banyak sekali pekerjaan yang dilakukan dengan jauh lebih efisien menggunakan computer seperti pekerjaan pengentikan dokumen, penyimpanan dokumen, e-mail kantor, pembuatan desain, kalkulasi dan analisa, pengolahan data, monitoring proses, presentasi, perolehan informasi, otomasi dan pemrograman atau kecerdasan buatan di berbagai bidang seperti kesehatan, security, dll, advertising dan masih banyak lagi. Dengan komputer, kegiatan bisnis jadi semakin mudah.

2. Sebagai sumber informasi dan sarana berbagi informasi
Melalui kemudahan yang ditawarkan internet, saat ini informasi sangat mudah diakses, disebarkan, dan diupdate oleh siapa pun menggunakan computer (dulu hanya mengandalkan koran, radio, dan TV). Dengan website, blog, dan terutama dibantu search engine seperti Google, informasi seakan menjadi seperti sumber daya alam yang selalu dapat diperbaharui. Tak aneh jika proses pendidikan saat ini banyak menggunakan sarana komputer.

3. Sebagai sarana bersosialisasi dan berkomunikasi
Melalui berbagai aplikasi dan situ social media, komputer telah banyak merubah cara dan metode manusia dalam berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain. Komputer telah mampu membuat komunikasi dan sosialisasi manusia menjadi lebih baik untuk beberapa hal. Komputer telah merubah paradigma dan budaya berkomunikasi. Untuk Indonesia, fungsi bersosialisasi ini sangat signifikan. Terbukti beberapa layanan social media menyediakan layanan Bahasa Indonesia.

4. Alternatif utama untuk mencari hiburan
Media seperti televisi dan video game sudah bukan menjadi alat hiburan utama. Saat ini komputer telah menjadi media utama untuk mencari hiburan. Komputer memiliki beragam fasilitas seperti game dan video. Jika ditambahkan jaringan internet maka fasilitas tersebut akan meningkat menjadi game online dan video online seperti Youtube yang dijamin akan membuat ketagihan banyak orang. Belum lagi fasilitas MP3 dan guyonan meme digital yang mendunia.

Karena komputer memiliki fungsi yang sangat banyak dan krusial tidak heran jika pemakaian komputer telah meningkat signifikan dan paparan manusia terhadap pemakaian komputer juga melonjak. Hal ini juga terjadi di Indonesia. Bahkan dalam presentasi seorang analis internet bernama Mary Meeker, Indonesia adalah Negara dengan penduduk yang menghabiskan waktu terbanyak di depan layar, baik layar televisi maupun layar komputer (termasuk tablet dan smartphone).


Rata-rata orang Indonesia mengabiskan 117 menit di depan komputer, 181 menit di depan smartphone, dan 110 menit di depan tablet. Ini adalah rata-rata, artinya banyak dari kita yang menghabiskan waktu di depan layar lebih dari ini. Untuk pekerja kantoran rata-rata bisa menghabiskan hamper seharian kerja di depan komputer (rata-rata total jam kerja 8 jam per hari). Pakar chiropractic Rishi Loatey menemukan bahwa 82 persen masyarakat urban menghabiskan enam jam di depan komputer.

Jenis-jenis pekerjaan tertentu memiliki paparan di depan komputer lebih tinggi, contohnya akuntan, programmer, analyst dan sebagainya. Ini belum ditambah jam lembur, beberapa jenis pekerjaan bisa meningkat jam pemakaian komputernya saat lembur, misalnya pegawai payroll bisa kerja sampai larut jika mendekati akhir bulan.

Tak hanya itu, diluar pekerjaan, banyak dari kita juga masih memanfaatkan komputer untuk kegiatan lain seperti menulis, social networking, update berita, bermain game atau hanya sekedar mencari resep dan chatting. Ini semua menambah paparan manusia modern terhadap komputer.

Paparan yang tinggi terhadap pemakaian komputer jelas akan meningkatkan risiko kesehatan. Jenis penyakit yang disebabkan karena tingginya pemakaian komputer biasanya terkait dengan jaringan otot dan tulang dan terkadang sampai ke syaraf yang biasnaya tergolong dalam Musculoskeletal Disorder atau biasa disebut Repetitive Stress Injury (Cedera Tekanan Berulang). Hal ini terjadi karena paparan yang tinggi pada pemakaian komputer menyebabkan tekanan pada beberapa otot secara terus menerus (berulang) terutama jika tidak disertai dengan cara berkomputer yang tepat dan penggunaan alat komputer yang tidak ergonomis.

Karena itu sudah saatnya pengguna komputer di Indonesia pada khususnya mulai sadar akan pentingnya ergonomi terutama ergonomi dalam pemakaian komputer. Negara-negara maju sudah sangat memperhatikan isu ergonomi ini, dan saat ini adalah kesempatan yang baik bagi Indonesia untuk meningkatkan kesadaran tentang ergonomi komputer apalagi Indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk yang menghabiskan waktu terbanyak di depan layar komputer, tablet dan smartphone.

Untuk mengetahui bagaimana cara berkomputer yang ergonomis secara umum dapat dilihat di link ini.
Baca selengkapnyaErgonomi untuk Pengguna Komputer di Indonesia

K3 di Industri Migas

Industri minyak bumi dan gas atau sering disingkat menjadi migas adalah salah satu industri yang paling penting karena industri inilah yang menghasilkan energi untuk memenuhi konsumsi energi dunia yang terus meningkat. Industri migas terutama industri hulu migas (upstream) sangat menarik karena karakteristiknya cukup berbeda dengan jenis industri lainnya seperti industri manufaktur atau industri pertambangan. Beberapa karakteristik industri migas antara lain:
  • Industri ini memiliki risiko ekonomi yang tinggi. Pada saat eksplorasi memiliki risiko kegagalan yang tinggi untuk mencapai tahap produksi dan besarnya peluang hilangnya modal dalam jumlah besar. Pada tahap produksi, waktu yang diperlukan untuk mencapai break even point atau balik modal sangat lama walaupun keuntungan yang diraih bisa besar
  • Tingginya isu bahaya kerja risiko kerja baik pada tahap eksplorasi maupun produksi karena biasanya dilakukan di wilayah terpencil atau bahkan di tengah lautan dan minyak bumi atau gas itu sendiri memiliki bahaya yang signifikan serta faktor lainnya
  • Tenaga kerja di industri migas banyak menggunakan kontraktor
Karena itu tidak aneh jika bagi perusahaan migas ada dua hal yang menjadi perhatian utama yakni keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan etika kerja.


K3 di industri migas sangat kompleks, hampir semua aspek K3 diterapkan di industri migas, hal ini karena industri migas berhubungan dengan bahan berbahaya (minyak bumi itu sendiri mengandung substansi berbahaya), menggunakan proses yang berisiko tinggi, biasanya ada di remote area, masih menggunakan banyak manpower (minim otomasi), banyaknya pekerjaan lapangan, serta menggunakan peralatan, fasilitas atau konstruksi yang besar dan kompleks.

Karena itu semua aspek K3 dimulai dari keselamatan proses, keselamatan pekerjaan listrik, keselamatan pekerjaan di ketinggian, keselamatan pekerjaan di area yang mungkin terbakar atau meledak, keselamatan berkendara (karena area yang remote dan luas), higiene industri, ergonomi perkantoran dan industri, keselamatan bahan kimia, keselamatan konstruksi atau alat berat, kebugaran kerja (untuk kerja berat), dan bahkan keselamatan pangan bagi pekerja pun (pekerja di remote area) diterapkan di industri migas.

Karena itu tidak heran jika K3 menjadi aspek yang sangat krusial di industri ini.
Baca selengkapnyaK3 di Industri Migas

Meja Duduk-berdiri (Sit-to-stand Table)

Bekerja di depan komputer sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Seiring berkembangnya teknologi dan berkembangnya perekonomian yang menyebabkan pekerjaan bertambah banyak tak aneh jika rata-rata jumlah pemakaian komputer manusia meningkat, bahkan untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu seperti accounting, penulis, programmer dan sejenisnya bisa seharian penuh bekerja di depan komputer. Ini belum ditambah lembur atau tambahan jam kerja yang biasanya juga masih di depan komputer.

Bertambahnya pemakaian komputer menyebabk risiko terhadap cedera tekanan berulang atau repetitive stress injury semakin bertambah. Tak aneh jika saat ini jumlah pasien yang ke dokter mengeluh otot, tulang dan syarafnya yang tidak nyaman akibat pemakaian komputer semakin bertambah. Hal ini adalah tanda-tanda bahwa risiko kita terhadap cedera tekanan berulang memang semakin besar.

Banyak cara untuk mengatasi risiko tersebut, namun yang akan disebutkan disini hanya satu yakni pemakaian meja duduk-berdiri atau dalam Bahasa Inggris disebut sit-to-stand table atau sit-to-stand desk.


Mengapa meja duduk-berdiri?
Perlu diketahui bahwa ada dua hal yang dapat mengurangi risiko cedera tekanan berulang, dua hal ini sangat sering dikampanyekan dalam ergonomi perkantoran yakni pemakaian postur yang netral saat bekerja dan memperbanyak variasi gerakan saat bekerja. Kedua hal ini sulit untuk dicapai dalam posisi duduk, karena itu berdiri adalah solusinya.

Apa itu meja duduk-berdiri?
Adalah salat satu peralatan ergonomis berupa meja yang dapat kita atur ketinggian permukaannya sehingga kita bisa bergantian bekerja dalam posisi duduk maupun berdiri.

Apa keuntungan menggunakan meja duduk-berdiri?

  • Berdiri adalah posisi tubuh yang lebih "netral" dari pada duduk terutama untuk tulang belakang dan akan berpengaruh ke bagian tubuh yang lainnya. Dengan berdiri juga memungkinkan lebih banyak gerakan dan variasi gerakan.
  • Memperlancar sirkulasi darah termasuk yang ke otak sehingga pikiran tidak cepat lelah (lebih produktif).
  • Mengurangi risiko-risiko kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

Meja duduk-berdiri sudah cukup banyak ditemui terutama di negara-negara maju. Untuk negara-negara berkembang memang masih agak sulit ditemukan. Namun jika tidak memiliki meja ini kita juga dapat memodifikasi meja kerja kita sendiri misalnya dengan tambahan meja kecil walaupun akan lebih praktis dan efisien jika kita menggunakan meja yang memang sudah didesain untuk dapat disesuaikan tingginya agar dapat digunakan dalam posisi duduk maupun berdiri.

Bagi Anda yang memiliki jam kerja tinggi di depan komputer, apalagi yang sudah sering negalami rasa-rasa tidak nyaman seperti pegal, kebas, kesemutan, dan nyeri di bagian-bagian seperti punggung, bahu termasuk lengan, pergelangan tangan dll tidak ada salahnya mencoba meja duduk berdiri ini.

Sumber gambar:
http://thehumansolutionblog.com/wp-content/uploads/2014/04/UpLift-900-setup1-sit-stand-Lam-Mahog-Base-Bla1.jpg
Baca selengkapnyaMeja Duduk-berdiri (Sit-to-stand Table)

Ketika Dilema untuk Melaporkan Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja

Setiap perusahaan atau industri berkewajiban untuk memelihara keselamatan dam kesehatan kerja. Setiap hal yang dapat menyebabkan terjadinya insiden (sering disebut incident atau accident) berupa kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja harus dimitigasi untuk mencegah terjadinya insiden tersebut. Bagaimana jika insiden berupa kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja tersebut telah terjadi (tidak tercegah)? Jika insiden telah terjadi maka insiden tersebut harus dilaporkan agar selanjutnya dapat diinvestigasi apa yang menyebabkan insiden tersebut terjadi sehingga insiden serupa tidak akan terjadi di kemudian hari.


Namun hal ini tidak mudah mengingat insiden kerja dapat berpengaruh terhadap performa pada individu yang mengalami insiden tersebut atau pun tim atau departemen dari individu tersebut. Hal ini menyebakan munculnya keengganan dan dilemma untuk melaporkan insiden. Hasilnya banyak sekali insiden-insiden yang tidak muncul ke permukaan dan terbiarkan menjadi rahasia individu atau tim tersebut.

Jika hal seperti ini dibiarkan maka insiden akan terus terjadi dan yang rugi paling besar adalah yang mengalami insiden itu karena kondisi tubuhnya rusak atau terganggu akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja yang mungkin bisa mengganggu produktivitasnya termasuk produktivitas tim. Laku bagaimana solusinya? Bagaimana menyelesaikan masalah dilema pelaporan insiden ini? Sebelumnya kita jabarkan dulu skenario-skenario bagaimana suatu insiden dapat terlaporkan.

Pihak yang pertama mendapat laporan insiden biasanya adalah atasan langsung dari individu yang mengalami insiden, sedangkan yang melaporkan ke atasan tersebut biasanya adalah yang mengalami insiden itu atau yang melihat atau menyaksikan insiden tersebut yang kita sebut observer. Ada beberapa scenario bagaimana insiden bisa dilaporkan ke atasan.
  1. Insiden dilaporkan langsung oleh individu yang mengalami insiden tersebut
  2. Insiden dilaporkan oleh rekan kerja dari invidu yang mengalami insiden tersebut
  3. Atasan menyaksikan langsung insiden
  4. Insiden dilaporkan oleh personel K3
  5. Insiden dilaporkan oleh pihak yang memberikan pertolongan, pengobatan atau perawatan kepada individu yang mengalami insiden tersebut (biasanya petugas emergency perusahaan atau pihak medis perusahaan)
Masing-masing dari skenario di atas memiliki potensi dilema. Dilema akan terjadi ketika dihadapkan pada dua pilihan.
  • Untuk individu yang mengalami kecelakaan, pilihan pertama adalah melaporkan insiden namun ada kemungkinan berpengaruh pada nilai performanya dan pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden sehingga performa tidak akan terpengaruh namun besar kemungkinan untuk mengalami musibah kecelakaan atau penyakit akibat kerja yang serupa di kemudian hari.
  • Untuk rekan kerja, pilihan pertama adalah melaporkan insiden namun bisa membahayakan performa rekan. Pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden namun akan terbebani jika suatu saat insiden terjadi lagi pada rekannya atau bisa juga menimpa dirinya.
  • Untuk atasan, pilihan pertama adalah melaporkan insiden ke pihak yang lebih tinggi namun bisa membuat citra tim yang dinaunginya 'terancam'. Pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden namun potensi insiden serupa akan terus menghantui tim tersebut.
  • Untuk pihak yang memberikan pertolongan, pengobatan atau perawatan kepada individu terutama tim medis akan mengalami dilemma pilihan yang cukup unik dan berbeda. Pilihan pertama adalah melaporkan insiden namun bisa mempengaruhi keberlangsungan program medisnya terutama untuk penyakit akibat kerja. Misalnya ada seorang pegawai yang datang ke medis mengeluhkan beberapa gejala dan si pegawai menganggap ini adalah penyakit umum, namun ketika diperika riwayat kerjanya ada kemungkinan penyakit diakibatkan oleh pekerjaan terutama paparan misalnya paparan kebisingan, paparan kimiawi, paparan ergonomis di kantor atau paparan-paparan lainnya yang kemungkinan dapat menyebabkan menjadi penyakit akibat kerja (tergolong insiden). Ketika ini dilaporkan maka dapat menimbulkan keengganan dari pasien untuk berobat lagi karena takut dilaporkan sebagai insiden. Pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden namun isu penyakit serupa akan terus bermunculan dan menurunkan status kesehatan pekerja.
Tentu yang diharapkan semuanya mengambil pilihan pertama. Tapi memang tidak akan mudah. Solusinya hanya satu yakni komitmen. Dibutuhkan komitmen yang kuat untuk selalu melaporkan insiden, memang akan berat tapi ini untuk perbaikan yang berkesinambungan (continual improvement / kaizen) yang pada akhirnya hal ini untuk kepentingan bisnis juga (good safety is good business). Dan komitmen perlu ditanamkan bukan dari lini terbawah namun justru dari lini teratas yakni manajemen, manajemenlah yang harus memulai komitmen ini dan menumbuhkan komitmen-komitmen serupa untuk posisi-posisi dibawahnya. Akan sangat percuma jika lini-lini terbawah memiliki semangat untuk keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi namun lini-lini yang diatas (manajemen) tidak memilikinya sehingga tidak ada support yang cukup untuk keselamatan dan kesehatan pekerjanya. Sepanjang komitmen di lini teratas belum terbentuk dengan cukup atau sudah terbentuk namun tidak terkomunikasikan ke bawah maka dilema-dilema seperti ini akan terus ada dan insiden serupa akan terus berulang.

Satu tambahan lagi, komitmen bukanlah suatu yang sederhana. Komitmen harus berupa suatu ke pro-aktian dari lini-lini teratas untuk meng-address segala macam isu keselamatan dan kesehatan kerja yang kompleks yang cakupannya mulai dari keselamatan dan kesehatan di fasilitas lapangan / pabrik, di kantor, di perjalanan kerja dan temanya bisa beragam mulai dari keselamatan berkendara, keselamatan menggunakan mesin kerja, keselamatan di tempat berbahaya (ketinggian, tempat sempit dll), keselamatan proses produksi, ergonomi industri, ergonomi perkantoran, higiene industri, higiene makanan di tempat kerja dsb. Dan komitmen diperlukan tidak hanya untuk isu-isu keselamatan dan kesehatan kerja yang sudah biasa terjadi namun juga terhadap isu-isu baru yang mungkin terjadi termasuk isu-isu lama yang yang selama ini ada namun tidak pernah muncul ke permukaan.
Baca selengkapnyaKetika Dilema untuk Melaporkan Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja

Health & Safety Engineer, Profesi yang Belum Banyak Dikenal

Menjadi seorang health & safety engineer mungkin bukan merupakan cita-cita kebanyakan anak kecil. Bukan karena profesi ini tidak menarik namun karena profesi ini masih belum banyak dikenal masyarakat kita terutama karena negara kita bukan negara industry. Ya, profesi health & safety engineer atau profesi lain sejenis di bidang keselamatan dan kesehstan kerja (K3) dibutuhkan terutama karena makin beragamnya jenis industri dan proses produksi yang mengharuskan manusia bekerja pada bahaya yang lebih tinggi seperti bekerja di remote area, bekerja di wilayah primitif, bekerja shift malam, bekerja dengan bahan-bahan modern berbahaya seperti nuklir, dll. Profesi ini juga dibutuhkan karena industri saat ini banyak melakukan produksi masal (volume tinggi) yang meperkerjakan banyak orang sehingga sistem kerja yang lebih handal harus benar-benar terjaga agar tidak ada gangguan pada kutuhan sistem produksi.


Profesi health & safety engineer merupakan profesi yang unik, mirip dengan environmental engineer, output dari profesi ini "tidak terlihat". “Tidak terlihat” bukan berarti tidak memiliki hasil, namun berbeda dengan profesi lainnya yang memiliki hasil yang mudah diukur, health & safety engineer mempunyai target output “zero incident” yang sulit diukur. Jika terjadi suatu incident di suatu tempat kerja maka orang menganggap adanya kegagalan safety, namun jika tidak terjadi incident tidak dianggap sebagai suatu keberhasilan safety karena situasi tanpa incident dianggap situasi yang normal. Tapi percayalah tanpa adanya sistem health & safety yang baik, incident akan lebih banyak terjadi dan moral serta keteraturan kerja akan menurun drastis.

Profesi health & safety juga sangat unik karena sangat multi disiplin mulai dari engineering, mechanical, matematika, kesehatan, statistik, biologi, kimia dll. Karena itu tidak jarang seorang health & safety engineer akan menemui isu yang kompleks dan multidimensi dalam pekerjaannya. Profesi ini juga unik karena sering dianggap “banyak pahala”, health & safety engineer sering mengingatkan pekerja agar bekerja dengan baik sehingga selamat dan keutuhan serta keteraturan sistem dapat terjaga.

Hal-hal seperti di atas lah yang membuat profesi health & safety engineer menjadi patut dibanggakan. Walaupun profesi ini belum sepopuler profesi-profesi lainnya yang lebih dahulu ada, mudah-mudahan profesi ini bisa semakin berkembang lagi terutama di negara-negara yang sedang berkembang menuju negara berbasis industri seperti Indonesia. Kelak saya ingin mendengar anak-anak Indonesia menjawab "health & safety engineer” ketika ditanya profesi apa yang dicita-citakannya.
Baca selengkapnyaHealth & Safety Engineer, Profesi yang Belum Banyak Dikenal

Jangan Hanya Mengandalkan Hujan & Angin untuk Mengatasi Asap

Dahulu bencana asap akibat kebakaran hutan tidak sering terjadi, paling-paling setahun sekali. Namun sekarang, beberapa provinsi di Sumatera dan Kalimantan seperti Riau, Kalimantan Tengah dll mengalami bencana asap lebih sering, setahun bisa sampai dua kali dengan periode yang tidak sebentar dan bahkan beberapa kali intensitasnya sangat tinggi. Bagi warga Riau pasti masih ingat bencana asap yang terjadi di menjelang akhir 2013 dan awal 2014. Saat ini menjelang akhir 2014 warga Riau dan beberapa provinsi lainnya mulai dihadapkan lagi dengan bencana asap.


Bencana asap ini sangat merugikan masyarakat, diantaranya:
  1. Mengancam keselamatan dan kesehatan. Patikel asap hasil pembakaran hutan merupakan partikel yang berbahaya jika terus menurus dihirup apalagi bagi bayi dan orang yang mempunyai penyakit paru-paru atau saluran pernafasan. Asap juga menyebabkan iritasi serta alergi serta masih banyak lagi efek asap ke kesehatan lainnya. Bahaya kesehatan akan meningkat terutama bagi para pekerja yang bekerja di di luar ruangan atau orang-orang yang beraktivitas di luar ruangan. Asap juga dapat menyebabkan jarak pandang terbatas, hal ini berbahaya bagi pengendara kendaraan.
  2. Ekonomi terganggu. Asap menyebabkan industri pariwisata terganggu. Pekerjaan-pekerjaan atau aktivitas di luar ruangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi juga dapat terganggu misalnya pengeboran minyak (rig), pekerjaan konstruksi dll. Penerbangan yang terganggu karena asap juga dapat berpengaruh ke aktivitas ekonomi setempat. Sebagai gambaran, bencana asap di Riau pada awal 2014 menyebabkan kerugian ekonomis ekitar Rp 10 triliun. Ada juga sumber yang mengatakan kerugian lebih dari 20 triliun dan diperkirakan mengganggu aktivitas perputaran ekonomi dan uang sekitar 30 persen. Perlu diingatkan juga bahwa mayoritas bencana asap terjadi pada provinsi-provinsi penyumbang APBN, devisa, dan ekspor terbesar di Indonesia seperti Riau dan provinsi-provinsi di Kalimantan sehingga efek di provinsi-provinsi ini bukan tidak mungkin berimbas pada perekonomian nasional.
  3. Hubungan dengan wilayah tetangga merenggang. Sudah bukan rahasia lagi jika asap yang dihasilkan suatu wilayah besar kemungkinan terbawa angin dan sampai di wilayah tetangga baik level provinsi atau bahkan lintas Negara. Tak aneh jika saat asap beberapa provinsi saling menyalahkan dan bahkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura tidak jarang protes ke kita dan kadang juga sebaliknya, kita yang protes ke mereka karena asap juga sering 'diekspor' oleh negara tetangga.
  4. Timbulnya masalah lingkungan. Asap dapat mencemari reservoir air yang digunakan untuk minum. Hal ini dapat membahayakan lingkungan dan manusia.
Frekuensi bencana asap yang semakin sering terjadi juga memperparah kerugian tersebut. Mengerikannya banyak kebakaran-kebakaran hutan yang menjadi sumber asap justru disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia demi alasan pembukaan lahan walaupun ada juga faktor cuaca panas dan kering yang dapat menyebabkan kebakaran. Namun satu hal yang pasti adalah apapun penyebabnya, bencana asap tidak bisa dibiarkan terus menerus terjadi seperti ini. Jangan sampai orang beranggapan bahwa kondisi asap adalah kondisi yang wajar dan biasa. Walaupun sering terkena paparan asap namun tidak akan ada orang yang imun terhadap efek dari paparan asap.

Pihak yang berwenang harus bersikap lebih tegas terhadap pihak yang menyebabkan kebakaran hutan. Tentu hal seperti ini membutuhkan komitmen yang tinggi dari pihak yang berwenang karena bagaimanapun langkah preventif adalah langkah yang terbaik.

Beberapa badan pemerintahan dan pihak-pihak swasta sebenarnya sudah sangat baik untuk berperan aktif dalam melakukan pemantauan asap termasuk penyediaan alat pelindung diri seperti masker dll. Namun pemantauan asap seperti ini adalah tindakan kuratif. Program-program kuratif seperti ini harus dibarengi dengan program-program preventif dari pihak yang berwenang karena justru usaha preventif lah yang paling penting. Jangan sampai masyarakat hanya bersandar pada "doa mohon hujan dan angin untuk meredakan asap". Tanpa usaha, apalah artinya doa. Seandainya hujan telah turun pun juga tidak boleh terlena dan tinggal diam, usaha preventif tetap harus digalakan untuk mencegah terjadinya bencana asap.

Tidak ada kata terlambat untuk mengatasi persoalan bencana asap yang terus-menerus terjadi ini. Semuanya kembali tergantung pada manusia, asalkan semuanya berkomitmen untuk merubah pola hidup dan kerja untuk menyelamatkan udara bersih yang merupakan kebutuhan vital manusia maka bencana asap yang terus berulang ini bukan mustahil dapat dihentikan.
Baca selengkapnyaJangan Hanya Mengandalkan Hujan & Angin untuk Mengatasi Asap

Ergonomi, Ilmu tentang Kerja

Ergonomi (atau ergonomika) adalah ilmu kerja (science of work). Ergonomi merupakan disiplin keilmuan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya (Wignjosoebroto, 2003). Bisa dibilang ilmu ini membahas semua tentang manusia yang sedang bekerja dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dari pekerjaan tersebut.


Manusia dikatakan “bekerja” jika manusia memaanfaatkan energinya untuk menghasilkan gaya (force) untuk tujuan tertentu. Jadi ketika manusia menghasilkan gaya ditangannya untuk mengetik, menghasilkan gaya ditangannya untuk mengangkat benda, menghasilan gaya di kakinya untuk berlari, dan bahkan saat terjadi perubahan gaya di tubuh saat kita berpikir itu semua bisa disebut “bekerja”. Jadi intinya manusia bekerja ketika mempunyai energi dan memanfaatkan energi tersebut untuk beraktivitas (menghasilkan gaya).

Saat bekerja ada hal-hal yang dapat membahayakan kita, bahaya ini dalam bahasa Inggris disebut dengan hazard. Bahaya ini berasal dari energi juga. Secara mendasar ada dua jenis bahaya. Pertama, bahaya internal yakni bahaya yang timbul dikarenakan energi yang berasal dari manusia itu sendiri, energi ini digunakan untuk menghasilkan gaya (force) yang digunakan tubuh saat bekerja namun gaya yang dihasilkan berlebihan. Bahaya internal contohnya ketika manusia harus mengangkat beban berlebihan, melakukan gerakan berulang, atau bekerja tidak dengan postur yang natural. Kedua, bahaya eksternal yakni bahaya yang timbul dikarenakan energi yang berasal dari lingkungan di tempat kerja. Bahaya eksternal contohnya bahaya panas (suhu), getaran, kebisingan, radiasi, cahaya, bahan kimia, polutan udara, sampai bahaya-bahaya seperti virus, bakteri, benda jatuh, listrik, binatang, dan lain-lain yang ada di tempat kerja. Ergonomi menginginkan agar bahaya-bahaya tersebut dapan dikontrol sehingga tidak mengancam manusia yang sedang bekerja.

Bagaimana caranya mengontrol bahaya-bahaya tersebut? Adalah dengan menggali informasi mengenai manusia yang bekerja tersebut dan memanfaatkan informasi tersebut untuk merancang desain kerja dan lingkungan kerja.

Ergonomi secara mendetail adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia (Chapanis, 1985).

Ergonomi memanfaatkan informasi mengenai karakteristik manusia, kemampuan manusia dan keterbatasannya untuk merancang suatu sistem kerja yang baik. Ya, kata kunci dari ergonomi adalah adanya informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia karena itu ergonomi juga sering disebut dengan istilah human factors engineering. Walaupun istilah ergonomi lebih banyak dikenal di pemakaian komputer, namun sebenarnya semua aspek dalam K3 menggunakan prinsip ergonomi. Sebagai contoh:
  • Perlindungan pernafasan dipakai karena manusia mempunyai batasan paparan (exposure limit) terhadap polutan-polutan di udara
  • Earplug atau ear muff dipakai karena manusia mempunyai batasan paparan terhadap kebisingan (misalnya untuk 8 jam adalah 85 dBa)
  • Safety helmet dipakai karena kepala manusia mempunyai batasan maksimum terkena gaya dari suatu benturan (biasanya benturan dari benda jatuh)
  • Body harness dipakai saat bekerja di ketinggian karena tubuh manusia mempunyai batasan maksimum ketinggian untuk jatuh dengan selamat (jatuh dari ketinggian 3 meter saja tulang belakang manusia bisa retak)
  • Dimensi tempat kerja seperti shop atau bahkan meja komputer di kantor harus bisa disesuaikan dengan individu karena setiap individu memiliki karakteristik fisik antropometri yang berbeda-beda dan bervariasi
  • SOP (standard operating procedure) kerja dibuat untuk menyeragamkan langkah-langkah dalam suatu pekerjaan karena setiap individu manusia mempunyai kemampuan pola pikir dan persepsi yang berbeda-beda sehingga harus ada pedoman baku dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
  • Labeling dan simbol bahaya dalam bahan kimia digunakan karena manusia mempunyai karakteristik lebih mudah memahami gambar daripada perkataan atau tulisan
  • Pedoman manual material handling dibuat karena sistem otot dan tulang (musculoskeletal) manusia mempunyai batasan tegangan (strain) akibat beban kerja
  • Dan sebagainya
Dari penjelasan di atas dapat kita lihat bahwa ergonomi merupakan bidang yang sangat penting dan semua manusia yang bekerja harus aware terhadap ergonomi. Karena ini semua demi meningkatkan kualitas kerja itu sendiri yakni meningkatkan keselamatan, kesehatan, dan produktivitas kerja.
Baca selengkapnyaErgonomi, Ilmu tentang Kerja

Mengubah Perilaku Selamat dalam 21 Hari, Apakah Bisa?

Seperti kita ketahui, masalah utama dalam keselamatan (safety) dan kesehatan (health) di dunia ini adalah perilaku atau behavior. Mayoritas insiden atau kecelakaan disebabkan terutama karena faktor perilaku manusia, begitu pula dengan penyakit atau isu kesehatan di dunia ini juga banyak dipengaruhi oleh faktor perilaku manusia. Masih banyak orang-orang yang tidak memiliki perilaku berbasis keselamatan (behavior based safety), orang-orang ini kurang menyadari arti penting keselamatan sehingga sering tidak mematuhi prosedur keselamatan seperti tidak memakai PPE, tidak memakai peralatan yang benar, tidak melakukan prosedur kerja semestinya, nekad melakukan hal-hal yang berbahaya, dsb. Begitu pula dalam isu kesehatan, banyak orang yang makan tidak memperhatikan kualitas dan kuantitas gizi (makan junk food dan berlebihan), tidak melakukan aktivitas fisik dengan cukup, dsb. Perilaku-perilaku seperti ini kita temui dimanapun baik di lingkungan perumahan atau lingkungan kerja (kantor ataupun kawasan industri / lapangan) terutama di negara-negara berkembang atau negara-negara miskin yang masih lemah safety culture-nya.





Bagaimana sebenarnya perilaku itu muncul?

Manusia adalah makhluk yang terpola. Kebiasaan atau habit merupakan perilaku yang terjadi secara nyaman dan otomatis karena sudah dilakukan berulang kali di masa lampau.

Apakah perilaku tersebut bisa diubah?

Ya, sangat bisa.

Lalu bagaimana cara mengubah perilaku tersebut?

Caranya adalah dengan membiasakan untuk berperilaku selamat dan sehat secara intensif dan tanpa putus (repetisi atau diulang-ulang). Repetisi ini menciptakan asosiasi mental antara keadaan (pemicu) dan tindakan (perilaku), sehingga ketika kita dihadapkan dengan pemicu, maka perilakunya akan mudah muncul atau nyaris otomatis. Denga begini maka lama kelamaan dengan sendirinya akan tertanam perilaku selamat dan sehat dalam diri manusia tersebut. Proses pembiasaan ini saat ini lebih banyak ditemui di lingkungan kerja dalam bentuk safety awareness campaign atau program-program lain terutama pada perusahaan-perusahaan besar yang memang sudah mempunyai safety culture yang kuat. Sedangkan di lingkungan perumahan dilakukan oleh instansi-instansi pemerintah.

Sekarang muncul pertanyaan baru, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengubah atau belajar sebuah perilaku baru hingga akhirnya manusia nyaman dan tertanam sebagai sebuah kebiasaan?

Berdasarkan banyak referensi ternyata tak butuh waktu lama. Jika dilakukan secara intensif dan tanpa putus, menanamkan sebuah perilaku sehat hanya butuh waktu 21 hari. Berdasarkan penelitian, langkah perubahan perilaku terdiri atas tiga tahap. Untuk melalui ketiga tahapan tersebut, dibutuhkan waktu minimal 21 hari. Tujuh hari pertama adalah tahapan menanamkan pengetahun untuk memengaruhi pola pikir. Tujuh hari kedua adalah tahapan internalisasi untuk menjadikan suatu perilaku yang telah diketahui sebagai pola sikap atau kebiasaan. Dan, tujuh hari terakhir merupakan tahapan untuk mengubah pola sikap menjadi budaya baru.

Apakah teori 21 hari itu valid? Apakah dalam 21 hari dijamin dapat mengubah perilaku manusia?

Pertanyaan tersebut cukup sulit karena ternyata teori 21 hari itu adalah mitos yang bersumber dari buku Dr. Maxwell Maltz, seorang ahli bedah plastik, di tahun 1960an. Ia mengamati bahwa seseorang yang diamputasi memerlukan waktu rata-rata 21 hari untuk beradaptasi terhadap kehilangan anggota tubuhnya. Berdasarkan itulah Dr. Maxwell mengambil kesimpulan pendek bahwa manusia memerlukan waktu sekitar tiga minggu untuk mengadaptasikan diri terhadap perubahan-perubahan di dalam hidup.

Berdasarkan hasil penelitian terbaru Phillippa Lally dari University College London yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology:
“To investigate the process of habit formation in everyday life, 96 volunteers chose an eating, drinking or activity behaviour to carry out daily for 12 weeks. The time it took participants to reach 95% of their asymptote of automaticity ranged from 18 to 254 days; indicating considerable variation in how long it takes people to reach their limit of automaticity and highlighting that it can take a very long time.“

Ternyata waktu yang diperlukan untuk menciptakan habit atau perilaku bervariasi tergantung tingkat kompleksitas / kesulitan perilaku yang diinginkan. Dari hasil penelitian di atas ditemukan bahwa secara rata-rata diperlukan waktu 66 hari agar aktifitas itu bisa dilakukan dengan otomatis. Semakin mudah, semakin cepat manusia terprogram untuk melakukannya dan demikian juga sebaliknya. Jadi sepertinya kita harus merevisi waktu untuk mengubah suatu perilaku dari 21 hari menjadi 66 hari, atau kira-kira dua bulan. Memang kadang tidak perlu selama itu, namun angka tersebut bisa dibilang sebagai batas universal.

Namun sekompleks apa pun perilaku yang ingin dirubah terutama perilaku selamat dan sehat, kuncinya tetap satu yakni lakukan repetisi terus secara konsisten, khususnya pada hari-hari awal, karena penelitian di atas juga menemukan bahwa disiplin diri di awal akan sangat mempercepat proses instalasi habit atau perilaku. Perubahan perilaku hanya dapat dicapai dengan mempraktekkannya dengan konsisten. Itulah sebabnya, manusia yang tumbuh atau hidup di sebuah komunitas yang kuat budaya perilaku mengenai tentang keselamatan dan kesehatan (misal perusahaan-perusahaan besar atau negara-negara maju) biasanya akan lebih cepat menyerap perilaku selamat dan sehat tersebut karena dalam komunitas tersebut akan saling mengingatkan untuk terus mempraktekkan perilaku tersebut. Alarmnya adalah rekan atau teman kita sendiri yang ada di dalam komunitas kerja kita.

Referensi:
http://www.untukku.com/artikel-untukku/mitos-kebiasaan-21-hari-untukku.html
http://lifestyle.okezone.com/read/2011/12/22/195/545993/bentuk-perilaku-sehat-cukup-21-hari
http://dailyequipped.wordpress.com/2012/03/13/modifikasi-21/
Sumber gambar: http://www.thebolditalic.com/articles/593-broke-ass-social-scene

Baca selengkapnyaMengubah Perilaku Selamat dalam 21 Hari, Apakah Bisa?

Mengambil Makna Idul Adha untuk K3

Tanggal 15 Oktober 2013 ini, umat Islam merayakan hari raya Idul Adha atau sering juga disebut dengan istilah lebaran haji, oleh karena itu saya mengucapkan selamat merayakan hari raya Idul Adha bagi seluruh umat Islam. Bagi umat Islam, hari raya Idul Adha ini adalah satu dari dua hari raya yang ditunggu-tunggu. Jika di hari raya Idul Fitri memiliki makna untuk “menyadarkan” kembali manusia bahwa manusia itu mempunyai fitrahnya yakni sebagai makhluk ciptaan Tuhan melalui serangkaian proses menahan nafsu selama sebulan berpuasa penuh, maka hari raya Idul Adha juga memiliki makna mendalam. Salah satu rangkaian proses dalam Hari Raya Idul Adha adalah ibadah haji. Rangkaian ibadah yang ada dalam ibadah haji penuh dengan simbol dan makna, misalnya memakai ihram bermakna pada diri seorang jamaah haji tidak boleh lekat tubuhnya simbol kesombongan, lalu ada thawaf mengelilingi kakbah yang menggambarkan bahwa seluruh alam semesta berputar tak pernah berhenti, sambil menyenandungkan pujian dan memahasucikan sang penciptanya, dsb. Namun yang menjadi fokus dalam tulisan kali ini adalah sa'i atau berlari kecil. Kali ini saya sangat tertarik dengan sa’i karena makna dari proses ini sangat erat kaitannya dengan kerja manusia.


Sa'i secara literal berarti berusaha dan bekerja keras. Dalam ibadah Haji, sa’i merupakan prosesi berjalan kaki dan kadang-kadang berlari kecil, dari bukit Shafa ke bukit Marwah. Ini adalah simbol perjuangan manusia untuk mempertahankan eksistensi (hidup) yang tak pernah berhenti. Ya, perjuangan untuk survive.

Simbol ini pada mulanya ditampilkan melalui kisah seorang perempuan bernama SitiHajar. Ia mencari air di lembah yang tandus untuk Ismail, seorang bayi yang baru saja dilahirkannya. Bayi ini anak hasil perkawinanya dengan Nabi Ibrahim.Kelahirannya sudah lama diidamkan ayahnya. Sayang begitu lahir, atas perintah Allah, Ibrahim harus meninggalkan sang anak dan ibunya. Ibrahim ke Palestina. Di tanah yang tandus,kering kerontang, tanpa tumbuhan itu, kedua anak manusia yang lemah itu harus berjuang untuk hidup. Sesuatu yang dicari sang ibu adalah air, karena air adalah sumber utama kehidupan, sekaligus kesuburan bagi manusia dan alam. Allah mengatakan:"Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu"(QS.Al Anbiya,30). Tuhan lalu menganugerahi nya air Zam-zam.

Kaitanya dengan K3

Dari penjelasan di atas dapat kita tangkap bahwa sa’i memiliki makna bahwa sebagai manusia kita harus bekerja dengan optimal untuk mempertahankan eksistensi manusia (hidup) atau dengan kata lain adalah untuk mempertahankan nyawa dalam tubuh kita. Ini artinya kita harus bekerja agar kita tetap hidup atau untuk memenuhi kebutuhan hidup kita (lihat teori kebutuhan Maslow). Seperti yang telah dicontohkan oleh Siti Hajar, segala daya dan upaya harus dikerjakan manusia untuk mempertahankan nyawa. Daya dan upaya manusia tersebut kita kenal dengan istilah bekerja.

Nah, namun apa jadinya jika manusia bekerja tetapi sudah tidak mempedulikan lagi nyawa mereka? Lalu apa tujuan mereka bekerja? Apakah mereka lupa tujuan mendasar dari bekerja?

Coba kita lihat pekerja yang tidak disiplin menggunakan APD, pekerja yang tidak patuh pada prosedur kerja, pekerja yang sering lalai dan mengambil jalan pintas saat bekerja, pekerja yang tidak aware dengan bahaya kerja (hazard) disekelilingnya, apakah ini berisiko? Ya, apakah membahayakan nyawa? Ya. Lalu untuk apa bekerja untuk mempertahankan nyawa dengan cara-cara yang mengancam nyawa? Mungkin beberapa orang akan menjawab bahwa mereka melakukan hal-hal tersebut supaya pekerjaan cepat selesai sehingga mereka akan dinilai bagus oleh atasan dan akan mendapat kehormatan (esteem) atau self actualization lebih walaupun risiko terhadap nyawanya lebih besar. Hal ini jelas tidak bisa dibenarkan, mengapa? Karena kebutuhan esteem tidak seberapa penting jika dibandingkan dengan nyawa kita, untuk lebih jelasnya lagi silahkan cek teori kebutuhan Maslow. Orang-orang yang kukuh lebih mementingkan kebutuhan esteem atau self actualization sebenarnya bisa dibilang orang yang sombong karena mereka tidak menganggap nyawanya rentan, padahal kita adalah makhluk Tuhan yang bisa kehilangan nyawa kapan saja.

Dari proses sa’i ini kita mendapat pelajaran bahwa nyawa itu sangat berharga dan wajib diperjuangkan, salah satu memperjuangkannya adalah dengan bekerja dan kita tidak boleh lupa bahwa bekerja adalah cara manusia untuk mempertahankan nyawa / hidup (ada istilah HIDUP untuk BEKERJA atau BEKERJA untuk HIDUP). Oleh karena itu jangan sampai kita bekerja dengan cara yang membahayakan nyawa kita karena itu bisa jadi sia-sia.

Sekali lagi nyawa itu sangat amat teramat berharga, keselamatan diri dan orang lain harus dilindungi terutama saat bekerja. Oleh sebab itu, saat bekerja tidak boleh ada ketidakpatuhan, kelalaian dan pelanggaran karena nyawa adalah taruhan dari setiap ketidakpatuhan, kelalaian dan pelanggaran tersebut.
Baca selengkapnyaMengambil Makna Idul Adha untuk K3

Keselamatan Berbasis Perilaku (Behavior Based Safety)


Sebagian besar kecelakaan kerja dan near miss yang menimpa manusia di tempat kerja disebabkan oleh faktor perilaku dari manusia itu sendiri. Karena itulah faktor perilaku menjadi banyak sorotan utama dari tiap isu K3 di tempat kerja. Oleh karena itu program-program yang diterapkan untuk meningkatkan performa K3 pun harus menyentuh faktor perilaku yang selanjutnya sering disebut dengan Keselamatan Berbasis Perilaku atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan Behavior Based Safety (BBS). Kita mengenal banyak program-program seperti kampanye BBS, observasi BBS, dan program-program lainnya yang biasanya berbau kampanye, commentary, dan observasi yang berkaitan dengan perilaku pekerja. Perilaku yang dimaksud disini berhubungan dengan perilaku manusia saat bekerja atau berada di area kerja yang sangat banyak bersinggungan dengan alat-alat kerja, benda kerja, kendaraan kerja, langkah / prosedur kerja, dan sebagainya.


Apa itu perilaku?

Menurut Geller (2001), perilaku mengacu pada tingkah laku atau tindakan individu yang dapat diamati oleh orang lain. Dengan kata lain, perilaku adalah apa yang seseorang katakan atau lakukan yang merupakan hasil dari pikirannya, perasaannya, atau diyakininya. Perilaku manusia menurut Dolores dan Johnson (2005 dalam Anggraini, 2011) adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan atau genetika. Skinner, merumuskan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan dan respon. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner ini disebut dengan teori “S-O-R” atau “Stimulus-Organisme-Respons”.

Faktor penentu perilaku terbagi atas 2 bagian yakni faktor internal, yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan dan berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar, misalnya tingkat pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi, jenis kelamin, dan sebagainya dan faktor eksternal, meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non-fisik, seperti iklim, manusia, sosial, budaya, ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan mewarnai perilaku seseorang.

Dari definisi-definisi di atas dapat dilihat bahwa perilaku berkaitan dengan faktor internal seperti pikiran dan emosi serta adat atau budaya, karena itulah ada istilah safety culture. Selain itu juga dapat dilihat bahwa salah satu faktor internal yakni pengetahuan sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia, karena itu ada program safety awareness untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan manusia mengenai keselamatan. Selain itu dapat dilihat bahwa perilaku berhubungan dengan faktor eksternal dan stimulus, oleh karena itu program-program yang dapat memberikan stimulus terhadap perllaku pekerja seperti kampanye, observasi, bahkan reward dan punishment itu memang harus diterapkan.

Jika sebagian besar kecelakaan kerja disebabkan karena faktor perilaku apakah ini berarti kita harus lebih banyak menekankan program K3 pada faktor perilaku daripada faktor desain tempat / sistem kerja?

Faktor perilaku memang penting bahkan sangat amat penting. Namun bukan berarti kita tidak perlu fokus ke desain tempat kerja dan teknologi atau aspek engineering untuk safety saat bekerja. Bisa jadi kita justru harus fokus di aspek teknologi atau engineering ini, mengapa? Karena teknologi sedikit banyak dapat “menutupi” faktor perilaku manusia dan perlu diingat  bahwa terdapat banyak sekali kesalahan yang diakibatkan perilaku manusia dalam sistem termasuk sistem kerja. Penerapan teknologi yang melibatkan perilaku manusia (human behavior) termasuk juga human factors harus diterapkan untuk mengurangi kesalahan yang disebabkan oleh faktor perilaku. Karena seperti yang telah disebutkan di atas, perilaku selain ditentukan dari faktor eksternal juga ditentukan dari faktor internal yang sudah melekat pada diri manusia tersebut. Faktor-faktor internal biasanya berupa karakteristik atau kapasitas seperti kognisi, kecerdasan, persepsi, jenis kelamin yang dapat menimbulkan perilaku manusia yang tidak diinginkan ketika desain lingkungan kerja melebihi kapasitas manusia tersebut. Sebagai contoh peningkatan desain dan teknologi pada pesawat luar angkasa dan pada kendaraan telah banyak sekali mengurangi insiden yang disebabkan oleh human error salah satunya adalah karena teknologi dapat menjadi barrier dan dapat menggantikan beberapa peran dan pekerjaan manusia yang dirasa berpotensi melebihi kapasitas manusia seperti pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketelitian tinggi atau pekerjaan yang berulang-ulang atau pekerjaan yang sangat dekat dengan sumber bahaya kerja dan sebagainya. Dengan desain ini kesalahan akibat perilaku manusia dapat dicegah atau dibatasi efeknya. Desain yang kita maksudkan disini tentunya harus mengacu pada hierarki kontrol yakni eliminasi, substitusi, engineering control, administrative control, dan alat pelindung diri.

Apakah program-program dengan sasaran BBS itu efektif?


Beberapa orang berpendapat bahwa untuk mengampanyekan BBS lebih efektif melalui meeting informal ataupun obrolan-obrolan ringan daripada meeting resmi atau acara kampanye atau workshop resmi. Apakah Anda setuju dan memiliki pengalaman serupa? Memang proses sosialisasi BBS itu sangat menantang karena hal ini sangat berkaitan dengan budaya disiplin dan di masyarakat negara kita masih cukup “baru” dengan safety culture ini dan diakui atau tidak diakui budaya disiplin di negara kita juga masih perlu banyak perbaikan. Namun jangan khawatir, perubahan budaya dan perilaku dapat terjadi melalui proses pembelajaran dan peningkatan awareness. Proses pembelajaran tersebut terjadi dengan baik bila proses pembelajaran tersebut menghasilkan perubahan perilaku yang relatif permanen.

Kesimpulannya, perilaku manusia sangat berkontribusi dalam performa K3 di tempat kerja. Karena itu program untuk meningkatkan Keselamatan Berbasis Perilaku (Behavior Based Safety) yang efektif harus diterapkan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan performa K3 di tempat kerja.

Sumber gambar:
Baca selengkapnyaKeselamatan Berbasis Perilaku (Behavior Based Safety)