Meja Duduk-berdiri (Sit-to-stand Table)

Bekerja di depan komputer sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Seiring berkembangnya teknologi dan berkembangnya perekonomian yang menyebabkan pekerjaan bertambah banyak tak aneh jika rata-rata jumlah pemakaian komputer manusia meningkat, bahkan untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu seperti accounting, penulis, programmer dan sejenisnya bisa seharian penuh bekerja di depan komputer. Ini belum ditambah lembur atau tambahan jam kerja yang biasanya juga masih di depan komputer.

Bertambahnya pemakaian komputer menyebabk risiko terhadap cedera tekanan berulang atau repetitive stress injury semakin bertambah. Tak aneh jika saat ini jumlah pasien yang ke dokter mengeluh otot, tulang dan syarafnya yang tidak nyaman akibat pemakaian komputer semakin bertambah. Hal ini adalah tanda-tanda bahwa risiko kita terhadap cedera tekanan berulang memang semakin besar.

Banyak cara untuk mengatasi risiko tersebut, namun yang akan disebutkan disini hanya satu yakni pemakaian meja duduk-berdiri atau dalam Bahasa Inggris disebut sit-to-stand table atau sit-to-stand desk.


Mengapa meja duduk-berdiri?
Perlu diketahui bahwa ada dua hal yang dapat mengurangi risiko cedera tekanan berulang, dua hal ini sangat sering dikampanyekan dalam ergonomi perkantoran yakni pemakaian postur yang netral saat bekerja dan memperbanyak variasi gerakan saat bekerja. Kedua hal ini sulit untuk dicapai dalam posisi duduk, karena itu berdiri adalah solusinya.

Apa itu meja duduk-berdiri?
Adalah salat satu peralatan ergonomis berupa meja yang dapat kita atur ketinggian permukaannya sehingga kita bisa bergantian bekerja dalam posisi duduk maupun berdiri.

Apa keuntungan menggunakan meja duduk-berdiri?

  • Berdiri adalah posisi tubuh yang lebih "netral" dari pada duduk terutama untuk tulang belakang dan akan berpengaruh ke bagian tubuh yang lainnya. Dengan berdiri juga memungkinkan lebih banyak gerakan dan variasi gerakan.
  • Memperlancar sirkulasi darah termasuk yang ke otak sehingga pikiran tidak cepat lelah (lebih produktif).
  • Mengurangi risiko-risiko kesehatan seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung.

Meja duduk-berdiri sudah cukup banyak ditemui terutama di negara-negara maju. Untuk negara-negara berkembang memang masih agak sulit ditemukan. Namun jika tidak memiliki meja ini kita juga dapat memodifikasi meja kerja kita sendiri misalnya dengan tambahan meja kecil walaupun akan lebih praktis dan efisien jika kita menggunakan meja yang memang sudah didesain untuk dapat disesuaikan tingginya agar dapat digunakan dalam posisi duduk maupun berdiri.

Bagi Anda yang memiliki jam kerja tinggi di depan komputer, apalagi yang sudah sering negalami rasa-rasa tidak nyaman seperti pegal, kebas, kesemutan, dan nyeri di bagian-bagian seperti punggung, bahu termasuk lengan, pergelangan tangan dll tidak ada salahnya mencoba meja duduk berdiri ini.

Sumber gambar:
http://thehumansolutionblog.com/wp-content/uploads/2014/04/UpLift-900-setup1-sit-stand-Lam-Mahog-Base-Bla1.jpg
Baca selengkapnyaMeja Duduk-berdiri (Sit-to-stand Table)

Ketika Dilema untuk Melaporkan Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja

Setiap perusahaan atau industri berkewajiban untuk memelihara keselamatan dam kesehatan kerja. Setiap hal yang dapat menyebabkan terjadinya insiden (sering disebut incident atau accident) berupa kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja harus dimitigasi untuk mencegah terjadinya insiden tersebut. Bagaimana jika insiden berupa kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja tersebut telah terjadi (tidak tercegah)? Jika insiden telah terjadi maka insiden tersebut harus dilaporkan agar selanjutnya dapat diinvestigasi apa yang menyebabkan insiden tersebut terjadi sehingga insiden serupa tidak akan terjadi di kemudian hari.


Namun hal ini tidak mudah mengingat insiden kerja dapat berpengaruh terhadap performa pada individu yang mengalami insiden tersebut atau pun tim atau departemen dari individu tersebut. Hal ini menyebakan munculnya keengganan dan dilemma untuk melaporkan insiden. Hasilnya banyak sekali insiden-insiden yang tidak muncul ke permukaan dan terbiarkan menjadi rahasia individu atau tim tersebut.

Jika hal seperti ini dibiarkan maka insiden akan terus terjadi dan yang rugi paling besar adalah yang mengalami insiden itu karena kondisi tubuhnya rusak atau terganggu akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja yang mungkin bisa mengganggu produktivitasnya termasuk produktivitas tim. Laku bagaimana solusinya? Bagaimana menyelesaikan masalah dilema pelaporan insiden ini? Sebelumnya kita jabarkan dulu skenario-skenario bagaimana suatu insiden dapat terlaporkan.

Pihak yang pertama mendapat laporan insiden biasanya adalah atasan langsung dari individu yang mengalami insiden, sedangkan yang melaporkan ke atasan tersebut biasanya adalah yang mengalami insiden itu atau yang melihat atau menyaksikan insiden tersebut yang kita sebut observer. Ada beberapa scenario bagaimana insiden bisa dilaporkan ke atasan.
  1. Insiden dilaporkan langsung oleh individu yang mengalami insiden tersebut
  2. Insiden dilaporkan oleh rekan kerja dari invidu yang mengalami insiden tersebut
  3. Atasan menyaksikan langsung insiden
  4. Insiden dilaporkan oleh personel K3
  5. Insiden dilaporkan oleh pihak yang memberikan pertolongan, pengobatan atau perawatan kepada individu yang mengalami insiden tersebut (biasanya petugas emergency perusahaan atau pihak medis perusahaan)
Masing-masing dari skenario di atas memiliki potensi dilema. Dilema akan terjadi ketika dihadapkan pada dua pilihan.
  • Untuk individu yang mengalami kecelakaan, pilihan pertama adalah melaporkan insiden namun ada kemungkinan berpengaruh pada nilai performanya dan pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden sehingga performa tidak akan terpengaruh namun besar kemungkinan untuk mengalami musibah kecelakaan atau penyakit akibat kerja yang serupa di kemudian hari.
  • Untuk rekan kerja, pilihan pertama adalah melaporkan insiden namun bisa membahayakan performa rekan. Pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden namun akan terbebani jika suatu saat insiden terjadi lagi pada rekannya atau bisa juga menimpa dirinya.
  • Untuk atasan, pilihan pertama adalah melaporkan insiden ke pihak yang lebih tinggi namun bisa membuat citra tim yang dinaunginya 'terancam'. Pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden namun potensi insiden serupa akan terus menghantui tim tersebut.
  • Untuk pihak yang memberikan pertolongan, pengobatan atau perawatan kepada individu terutama tim medis akan mengalami dilemma pilihan yang cukup unik dan berbeda. Pilihan pertama adalah melaporkan insiden namun bisa mempengaruhi keberlangsungan program medisnya terutama untuk penyakit akibat kerja. Misalnya ada seorang pegawai yang datang ke medis mengeluhkan beberapa gejala dan si pegawai menganggap ini adalah penyakit umum, namun ketika diperika riwayat kerjanya ada kemungkinan penyakit diakibatkan oleh pekerjaan terutama paparan misalnya paparan kebisingan, paparan kimiawi, paparan ergonomis di kantor atau paparan-paparan lainnya yang kemungkinan dapat menyebabkan menjadi penyakit akibat kerja (tergolong insiden). Ketika ini dilaporkan maka dapat menimbulkan keengganan dari pasien untuk berobat lagi karena takut dilaporkan sebagai insiden. Pilihan kedua adalah tidak melaporkan insiden namun isu penyakit serupa akan terus bermunculan dan menurunkan status kesehatan pekerja.
Tentu yang diharapkan semuanya mengambil pilihan pertama. Tapi memang tidak akan mudah. Solusinya hanya satu yakni komitmen. Dibutuhkan komitmen yang kuat untuk selalu melaporkan insiden, memang akan berat tapi ini untuk perbaikan yang berkesinambungan (continual improvement / kaizen) yang pada akhirnya hal ini untuk kepentingan bisnis juga (good safety is good business). Dan komitmen perlu ditanamkan bukan dari lini terbawah namun justru dari lini teratas yakni manajemen, manajemenlah yang harus memulai komitmen ini dan menumbuhkan komitmen-komitmen serupa untuk posisi-posisi dibawahnya. Akan sangat percuma jika lini-lini terbawah memiliki semangat untuk keselamatan dan kesehatan kerja yang tinggi namun lini-lini yang diatas (manajemen) tidak memilikinya sehingga tidak ada support yang cukup untuk keselamatan dan kesehatan pekerjanya. Sepanjang komitmen di lini teratas belum terbentuk dengan cukup atau sudah terbentuk namun tidak terkomunikasikan ke bawah maka dilema-dilema seperti ini akan terus ada dan insiden serupa akan terus berulang.

Satu tambahan lagi, komitmen bukanlah suatu yang sederhana. Komitmen harus berupa suatu ke pro-aktian dari lini-lini teratas untuk meng-address segala macam isu keselamatan dan kesehatan kerja yang kompleks yang cakupannya mulai dari keselamatan dan kesehatan di fasilitas lapangan / pabrik, di kantor, di perjalanan kerja dan temanya bisa beragam mulai dari keselamatan berkendara, keselamatan menggunakan mesin kerja, keselamatan di tempat berbahaya (ketinggian, tempat sempit dll), keselamatan proses produksi, ergonomi industri, ergonomi perkantoran, higiene industri, higiene makanan di tempat kerja dsb. Dan komitmen diperlukan tidak hanya untuk isu-isu keselamatan dan kesehatan kerja yang sudah biasa terjadi namun juga terhadap isu-isu baru yang mungkin terjadi termasuk isu-isu lama yang yang selama ini ada namun tidak pernah muncul ke permukaan.
Baca selengkapnyaKetika Dilema untuk Melaporkan Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja

Health & Safety Engineer, Profesi yang Belum Banyak Dikenal

Menjadi seorang health & safety engineer mungkin bukan merupakan cita-cita kebanyakan anak kecil. Bukan karena profesi ini tidak menarik namun karena profesi ini masih belum banyak dikenal masyarakat kita terutama karena negara kita bukan negara industry. Ya, profesi health & safety engineer atau profesi lain sejenis di bidang keselamatan dan kesehstan kerja (K3) dibutuhkan terutama karena makin beragamnya jenis industri dan proses produksi yang mengharuskan manusia bekerja pada bahaya yang lebih tinggi seperti bekerja di remote area, bekerja di wilayah primitif, bekerja shift malam, bekerja dengan bahan-bahan modern berbahaya seperti nuklir, dll. Profesi ini juga dibutuhkan karena industri saat ini banyak melakukan produksi masal (volume tinggi) yang meperkerjakan banyak orang sehingga sistem kerja yang lebih handal harus benar-benar terjaga agar tidak ada gangguan pada kutuhan sistem produksi.


Profesi health & safety engineer merupakan profesi yang unik, mirip dengan environmental engineer, output dari profesi ini "tidak terlihat". “Tidak terlihat” bukan berarti tidak memiliki hasil, namun berbeda dengan profesi lainnya yang memiliki hasil yang mudah diukur, health & safety engineer mempunyai target output “zero incident” yang sulit diukur. Jika terjadi suatu incident di suatu tempat kerja maka orang menganggap adanya kegagalan safety, namun jika tidak terjadi incident tidak dianggap sebagai suatu keberhasilan safety karena situasi tanpa incident dianggap situasi yang normal. Tapi percayalah tanpa adanya sistem health & safety yang baik, incident akan lebih banyak terjadi dan moral serta keteraturan kerja akan menurun drastis.

Profesi health & safety juga sangat unik karena sangat multi disiplin mulai dari engineering, mechanical, matematika, kesehatan, statistik, biologi, kimia dll. Karena itu tidak jarang seorang health & safety engineer akan menemui isu yang kompleks dan multidimensi dalam pekerjaannya. Profesi ini juga unik karena sering dianggap “banyak pahala”, health & safety engineer sering mengingatkan pekerja agar bekerja dengan baik sehingga selamat dan keutuhan serta keteraturan sistem dapat terjaga.

Hal-hal seperti di atas lah yang membuat profesi health & safety engineer menjadi patut dibanggakan. Walaupun profesi ini belum sepopuler profesi-profesi lainnya yang lebih dahulu ada, mudah-mudahan profesi ini bisa semakin berkembang lagi terutama di negara-negara yang sedang berkembang menuju negara berbasis industri seperti Indonesia. Kelak saya ingin mendengar anak-anak Indonesia menjawab "health & safety engineer” ketika ditanya profesi apa yang dicita-citakannya.
Baca selengkapnyaHealth & Safety Engineer, Profesi yang Belum Banyak Dikenal

Jangan Hanya Mengandalkan Hujan & Angin untuk Mengatasi Asap

Dahulu bencana asap akibat kebakaran hutan tidak sering terjadi, paling-paling setahun sekali. Namun sekarang, beberapa provinsi di Sumatera dan Kalimantan seperti Riau, Kalimantan Tengah dll mengalami bencana asap lebih sering, setahun bisa sampai dua kali dengan periode yang tidak sebentar dan bahkan beberapa kali intensitasnya sangat tinggi. Bagi warga Riau pasti masih ingat bencana asap yang terjadi di menjelang akhir 2013 dan awal 2014. Saat ini menjelang akhir 2014 warga Riau dan beberapa provinsi lainnya mulai dihadapkan lagi dengan bencana asap.


Bencana asap ini sangat merugikan masyarakat, diantaranya:
  1. Mengancam keselamatan dan kesehatan. Patikel asap hasil pembakaran hutan merupakan partikel yang berbahaya jika terus menurus dihirup apalagi bagi bayi dan orang yang mempunyai penyakit paru-paru atau saluran pernafasan. Asap juga menyebabkan iritasi serta alergi serta masih banyak lagi efek asap ke kesehatan lainnya. Bahaya kesehatan akan meningkat terutama bagi para pekerja yang bekerja di di luar ruangan atau orang-orang yang beraktivitas di luar ruangan. Asap juga dapat menyebabkan jarak pandang terbatas, hal ini berbahaya bagi pengendara kendaraan.
  2. Ekonomi terganggu. Asap menyebabkan industri pariwisata terganggu. Pekerjaan-pekerjaan atau aktivitas di luar ruangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi juga dapat terganggu misalnya pengeboran minyak (rig), pekerjaan konstruksi dll. Penerbangan yang terganggu karena asap juga dapat berpengaruh ke aktivitas ekonomi setempat. Sebagai gambaran, bencana asap di Riau pada awal 2014 menyebabkan kerugian ekonomis ekitar Rp 10 triliun. Ada juga sumber yang mengatakan kerugian lebih dari 20 triliun dan diperkirakan mengganggu aktivitas perputaran ekonomi dan uang sekitar 30 persen. Perlu diingatkan juga bahwa mayoritas bencana asap terjadi pada provinsi-provinsi penyumbang APBN, devisa, dan ekspor terbesar di Indonesia seperti Riau dan provinsi-provinsi di Kalimantan sehingga efek di provinsi-provinsi ini bukan tidak mungkin berimbas pada perekonomian nasional.
  3. Hubungan dengan wilayah tetangga merenggang. Sudah bukan rahasia lagi jika asap yang dihasilkan suatu wilayah besar kemungkinan terbawa angin dan sampai di wilayah tetangga baik level provinsi atau bahkan lintas Negara. Tak aneh jika saat asap beberapa provinsi saling menyalahkan dan bahkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura tidak jarang protes ke kita dan kadang juga sebaliknya, kita yang protes ke mereka karena asap juga sering 'diekspor' oleh negara tetangga.
  4. Timbulnya masalah lingkungan. Asap dapat mencemari reservoir air yang digunakan untuk minum. Hal ini dapat membahayakan lingkungan dan manusia.
Frekuensi bencana asap yang semakin sering terjadi juga memperparah kerugian tersebut. Mengerikannya banyak kebakaran-kebakaran hutan yang menjadi sumber asap justru disebabkan oleh faktor kesengajaan manusia demi alasan pembukaan lahan walaupun ada juga faktor cuaca panas dan kering yang dapat menyebabkan kebakaran. Namun satu hal yang pasti adalah apapun penyebabnya, bencana asap tidak bisa dibiarkan terus menerus terjadi seperti ini. Jangan sampai orang beranggapan bahwa kondisi asap adalah kondisi yang wajar dan biasa. Walaupun sering terkena paparan asap namun tidak akan ada orang yang imun terhadap efek dari paparan asap.

Pihak yang berwenang harus bersikap lebih tegas terhadap pihak yang menyebabkan kebakaran hutan. Tentu hal seperti ini membutuhkan komitmen yang tinggi dari pihak yang berwenang karena bagaimanapun langkah preventif adalah langkah yang terbaik.

Beberapa badan pemerintahan dan pihak-pihak swasta sebenarnya sudah sangat baik untuk berperan aktif dalam melakukan pemantauan asap termasuk penyediaan alat pelindung diri seperti masker dll. Namun pemantauan asap seperti ini adalah tindakan kuratif. Program-program kuratif seperti ini harus dibarengi dengan program-program preventif dari pihak yang berwenang karena justru usaha preventif lah yang paling penting. Jangan sampai masyarakat hanya bersandar pada "doa mohon hujan dan angin untuk meredakan asap". Tanpa usaha, apalah artinya doa. Seandainya hujan telah turun pun juga tidak boleh terlena dan tinggal diam, usaha preventif tetap harus digalakan untuk mencegah terjadinya bencana asap.

Tidak ada kata terlambat untuk mengatasi persoalan bencana asap yang terus-menerus terjadi ini. Semuanya kembali tergantung pada manusia, asalkan semuanya berkomitmen untuk merubah pola hidup dan kerja untuk menyelamatkan udara bersih yang merupakan kebutuhan vital manusia maka bencana asap yang terus berulang ini bukan mustahil dapat dihentikan.
Baca selengkapnyaJangan Hanya Mengandalkan Hujan & Angin untuk Mengatasi Asap

Ergonomi, Ilmu tentang Kerja

Ergonomi (atau ergonomika) adalah ilmu kerja (science of work). Ergonomi merupakan disiplin keilmuan yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya (Wignjosoebroto, 2003). Bisa dibilang ilmu ini membahas semua tentang manusia yang sedang bekerja dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dari pekerjaan tersebut.


Manusia dikatakan “bekerja” jika manusia memaanfaatkan energinya untuk menghasilkan gaya (force) untuk tujuan tertentu. Jadi ketika manusia menghasilkan gaya ditangannya untuk mengetik, menghasilkan gaya ditangannya untuk mengangkat benda, menghasilan gaya di kakinya untuk berlari, dan bahkan saat terjadi perubahan gaya di tubuh saat kita berpikir itu semua bisa disebut “bekerja”. Jadi intinya manusia bekerja ketika mempunyai energi dan memanfaatkan energi tersebut untuk beraktivitas (menghasilkan gaya).

Saat bekerja ada hal-hal yang dapat membahayakan kita, bahaya ini dalam bahasa Inggris disebut dengan hazard. Bahaya ini berasal dari energi juga. Secara mendasar ada dua jenis bahaya. Pertama, bahaya internal yakni bahaya yang timbul dikarenakan energi yang berasal dari manusia itu sendiri, energi ini digunakan untuk menghasilkan gaya (force) yang digunakan tubuh saat bekerja namun gaya yang dihasilkan berlebihan. Bahaya internal contohnya ketika manusia harus mengangkat beban berlebihan, melakukan gerakan berulang, atau bekerja tidak dengan postur yang natural. Kedua, bahaya eksternal yakni bahaya yang timbul dikarenakan energi yang berasal dari lingkungan di tempat kerja. Bahaya eksternal contohnya bahaya panas (suhu), getaran, kebisingan, radiasi, cahaya, bahan kimia, polutan udara, sampai bahaya-bahaya seperti virus, bakteri, benda jatuh, listrik, binatang, dan lain-lain yang ada di tempat kerja. Ergonomi menginginkan agar bahaya-bahaya tersebut dapan dikontrol sehingga tidak mengancam manusia yang sedang bekerja.

Bagaimana caranya mengontrol bahaya-bahaya tersebut? Adalah dengan menggali informasi mengenai manusia yang bekerja tersebut dan memanfaatkan informasi tersebut untuk merancang desain kerja dan lingkungan kerja.

Ergonomi secara mendetail adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia (Chapanis, 1985).

Ergonomi memanfaatkan informasi mengenai karakteristik manusia, kemampuan manusia dan keterbatasannya untuk merancang suatu sistem kerja yang baik. Ya, kata kunci dari ergonomi adalah adanya informasi mengenai sifat, kemampuan, dan keterbatasan manusia karena itu ergonomi juga sering disebut dengan istilah human factors engineering. Walaupun istilah ergonomi lebih banyak dikenal di pemakaian komputer, namun sebenarnya semua aspek dalam K3 menggunakan prinsip ergonomi. Sebagai contoh:
  • Perlindungan pernafasan dipakai karena manusia mempunyai batasan paparan (exposure limit) terhadap polutan-polutan di udara
  • Earplug atau ear muff dipakai karena manusia mempunyai batasan paparan terhadap kebisingan (misalnya untuk 8 jam adalah 85 dBa)
  • Safety helmet dipakai karena kepala manusia mempunyai batasan maksimum terkena gaya dari suatu benturan (biasanya benturan dari benda jatuh)
  • Body harness dipakai saat bekerja di ketinggian karena tubuh manusia mempunyai batasan maksimum ketinggian untuk jatuh dengan selamat (jatuh dari ketinggian 3 meter saja tulang belakang manusia bisa retak)
  • Dimensi tempat kerja seperti shop atau bahkan meja komputer di kantor harus bisa disesuaikan dengan individu karena setiap individu memiliki karakteristik fisik antropometri yang berbeda-beda dan bervariasi
  • SOP (standard operating procedure) kerja dibuat untuk menyeragamkan langkah-langkah dalam suatu pekerjaan karena setiap individu manusia mempunyai kemampuan pola pikir dan persepsi yang berbeda-beda sehingga harus ada pedoman baku dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
  • Labeling dan simbol bahaya dalam bahan kimia digunakan karena manusia mempunyai karakteristik lebih mudah memahami gambar daripada perkataan atau tulisan
  • Pedoman manual material handling dibuat karena sistem otot dan tulang (musculoskeletal) manusia mempunyai batasan tegangan (strain) akibat beban kerja
  • Dan sebagainya
Dari penjelasan di atas dapat kita lihat bahwa ergonomi merupakan bidang yang sangat penting dan semua manusia yang bekerja harus aware terhadap ergonomi. Karena ini semua demi meningkatkan kualitas kerja itu sendiri yakni meningkatkan keselamatan, kesehatan, dan produktivitas kerja.
Baca selengkapnyaErgonomi, Ilmu tentang Kerja

Mengubah Perilaku Selamat dalam 21 Hari, Apakah Bisa?

Seperti kita ketahui, masalah utama dalam keselamatan (safety) dan kesehatan (health) di dunia ini adalah perilaku atau behavior. Mayoritas insiden atau kecelakaan disebabkan terutama karena faktor perilaku manusia, begitu pula dengan penyakit atau isu kesehatan di dunia ini juga banyak dipengaruhi oleh faktor perilaku manusia. Masih banyak orang-orang yang tidak memiliki perilaku berbasis keselamatan (behavior based safety), orang-orang ini kurang menyadari arti penting keselamatan sehingga sering tidak mematuhi prosedur keselamatan seperti tidak memakai PPE, tidak memakai peralatan yang benar, tidak melakukan prosedur kerja semestinya, nekad melakukan hal-hal yang berbahaya, dsb. Begitu pula dalam isu kesehatan, banyak orang yang makan tidak memperhatikan kualitas dan kuantitas gizi (makan junk food dan berlebihan), tidak melakukan aktivitas fisik dengan cukup, dsb. Perilaku-perilaku seperti ini kita temui dimanapun baik di lingkungan perumahan atau lingkungan kerja (kantor ataupun kawasan industri / lapangan) terutama di negara-negara berkembang atau negara-negara miskin yang masih lemah safety culture-nya.





Bagaimana sebenarnya perilaku itu muncul?

Manusia adalah makhluk yang terpola. Kebiasaan atau habit merupakan perilaku yang terjadi secara nyaman dan otomatis karena sudah dilakukan berulang kali di masa lampau.

Apakah perilaku tersebut bisa diubah?

Ya, sangat bisa.

Lalu bagaimana cara mengubah perilaku tersebut?

Caranya adalah dengan membiasakan untuk berperilaku selamat dan sehat secara intensif dan tanpa putus (repetisi atau diulang-ulang). Repetisi ini menciptakan asosiasi mental antara keadaan (pemicu) dan tindakan (perilaku), sehingga ketika kita dihadapkan dengan pemicu, maka perilakunya akan mudah muncul atau nyaris otomatis. Denga begini maka lama kelamaan dengan sendirinya akan tertanam perilaku selamat dan sehat dalam diri manusia tersebut. Proses pembiasaan ini saat ini lebih banyak ditemui di lingkungan kerja dalam bentuk safety awareness campaign atau program-program lain terutama pada perusahaan-perusahaan besar yang memang sudah mempunyai safety culture yang kuat. Sedangkan di lingkungan perumahan dilakukan oleh instansi-instansi pemerintah.

Sekarang muncul pertanyaan baru, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengubah atau belajar sebuah perilaku baru hingga akhirnya manusia nyaman dan tertanam sebagai sebuah kebiasaan?

Berdasarkan banyak referensi ternyata tak butuh waktu lama. Jika dilakukan secara intensif dan tanpa putus, menanamkan sebuah perilaku sehat hanya butuh waktu 21 hari. Berdasarkan penelitian, langkah perubahan perilaku terdiri atas tiga tahap. Untuk melalui ketiga tahapan tersebut, dibutuhkan waktu minimal 21 hari. Tujuh hari pertama adalah tahapan menanamkan pengetahun untuk memengaruhi pola pikir. Tujuh hari kedua adalah tahapan internalisasi untuk menjadikan suatu perilaku yang telah diketahui sebagai pola sikap atau kebiasaan. Dan, tujuh hari terakhir merupakan tahapan untuk mengubah pola sikap menjadi budaya baru.

Apakah teori 21 hari itu valid? Apakah dalam 21 hari dijamin dapat mengubah perilaku manusia?

Pertanyaan tersebut cukup sulit karena ternyata teori 21 hari itu adalah mitos yang bersumber dari buku Dr. Maxwell Maltz, seorang ahli bedah plastik, di tahun 1960an. Ia mengamati bahwa seseorang yang diamputasi memerlukan waktu rata-rata 21 hari untuk beradaptasi terhadap kehilangan anggota tubuhnya. Berdasarkan itulah Dr. Maxwell mengambil kesimpulan pendek bahwa manusia memerlukan waktu sekitar tiga minggu untuk mengadaptasikan diri terhadap perubahan-perubahan di dalam hidup.

Berdasarkan hasil penelitian terbaru Phillippa Lally dari University College London yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology:
“To investigate the process of habit formation in everyday life, 96 volunteers chose an eating, drinking or activity behaviour to carry out daily for 12 weeks. The time it took participants to reach 95% of their asymptote of automaticity ranged from 18 to 254 days; indicating considerable variation in how long it takes people to reach their limit of automaticity and highlighting that it can take a very long time.“

Ternyata waktu yang diperlukan untuk menciptakan habit atau perilaku bervariasi tergantung tingkat kompleksitas / kesulitan perilaku yang diinginkan. Dari hasil penelitian di atas ditemukan bahwa secara rata-rata diperlukan waktu 66 hari agar aktifitas itu bisa dilakukan dengan otomatis. Semakin mudah, semakin cepat manusia terprogram untuk melakukannya dan demikian juga sebaliknya. Jadi sepertinya kita harus merevisi waktu untuk mengubah suatu perilaku dari 21 hari menjadi 66 hari, atau kira-kira dua bulan. Memang kadang tidak perlu selama itu, namun angka tersebut bisa dibilang sebagai batas universal.

Namun sekompleks apa pun perilaku yang ingin dirubah terutama perilaku selamat dan sehat, kuncinya tetap satu yakni lakukan repetisi terus secara konsisten, khususnya pada hari-hari awal, karena penelitian di atas juga menemukan bahwa disiplin diri di awal akan sangat mempercepat proses instalasi habit atau perilaku. Perubahan perilaku hanya dapat dicapai dengan mempraktekkannya dengan konsisten. Itulah sebabnya, manusia yang tumbuh atau hidup di sebuah komunitas yang kuat budaya perilaku mengenai tentang keselamatan dan kesehatan (misal perusahaan-perusahaan besar atau negara-negara maju) biasanya akan lebih cepat menyerap perilaku selamat dan sehat tersebut karena dalam komunitas tersebut akan saling mengingatkan untuk terus mempraktekkan perilaku tersebut. Alarmnya adalah rekan atau teman kita sendiri yang ada di dalam komunitas kerja kita.

Referensi:
http://www.untukku.com/artikel-untukku/mitos-kebiasaan-21-hari-untukku.html
http://lifestyle.okezone.com/read/2011/12/22/195/545993/bentuk-perilaku-sehat-cukup-21-hari
http://dailyequipped.wordpress.com/2012/03/13/modifikasi-21/
Sumber gambar: http://www.thebolditalic.com/articles/593-broke-ass-social-scene

Baca selengkapnyaMengubah Perilaku Selamat dalam 21 Hari, Apakah Bisa?

Mengambil Makna Idul Adha untuk K3

Tanggal 15 Oktober 2013 ini, umat Islam merayakan hari raya Idul Adha atau sering juga disebut dengan istilah lebaran haji, oleh karena itu saya mengucapkan selamat merayakan hari raya Idul Adha bagi seluruh umat Islam. Bagi umat Islam, hari raya Idul Adha ini adalah satu dari dua hari raya yang ditunggu-tunggu. Jika di hari raya Idul Fitri memiliki makna untuk “menyadarkan” kembali manusia bahwa manusia itu mempunyai fitrahnya yakni sebagai makhluk ciptaan Tuhan melalui serangkaian proses menahan nafsu selama sebulan berpuasa penuh, maka hari raya Idul Adha juga memiliki makna mendalam. Salah satu rangkaian proses dalam Hari Raya Idul Adha adalah ibadah haji. Rangkaian ibadah yang ada dalam ibadah haji penuh dengan simbol dan makna, misalnya memakai ihram bermakna pada diri seorang jamaah haji tidak boleh lekat tubuhnya simbol kesombongan, lalu ada thawaf mengelilingi kakbah yang menggambarkan bahwa seluruh alam semesta berputar tak pernah berhenti, sambil menyenandungkan pujian dan memahasucikan sang penciptanya, dsb. Namun yang menjadi fokus dalam tulisan kali ini adalah sa'i atau berlari kecil. Kali ini saya sangat tertarik dengan sa’i karena makna dari proses ini sangat erat kaitannya dengan kerja manusia.


Sa'i secara literal berarti berusaha dan bekerja keras. Dalam ibadah Haji, sa’i merupakan prosesi berjalan kaki dan kadang-kadang berlari kecil, dari bukit Shafa ke bukit Marwah. Ini adalah simbol perjuangan manusia untuk mempertahankan eksistensi (hidup) yang tak pernah berhenti. Ya, perjuangan untuk survive.

Simbol ini pada mulanya ditampilkan melalui kisah seorang perempuan bernama SitiHajar. Ia mencari air di lembah yang tandus untuk Ismail, seorang bayi yang baru saja dilahirkannya. Bayi ini anak hasil perkawinanya dengan Nabi Ibrahim.Kelahirannya sudah lama diidamkan ayahnya. Sayang begitu lahir, atas perintah Allah, Ibrahim harus meninggalkan sang anak dan ibunya. Ibrahim ke Palestina. Di tanah yang tandus,kering kerontang, tanpa tumbuhan itu, kedua anak manusia yang lemah itu harus berjuang untuk hidup. Sesuatu yang dicari sang ibu adalah air, karena air adalah sumber utama kehidupan, sekaligus kesuburan bagi manusia dan alam. Allah mengatakan:"Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu"(QS.Al Anbiya,30). Tuhan lalu menganugerahi nya air Zam-zam.

Kaitanya dengan K3

Dari penjelasan di atas dapat kita tangkap bahwa sa’i memiliki makna bahwa sebagai manusia kita harus bekerja dengan optimal untuk mempertahankan eksistensi manusia (hidup) atau dengan kata lain adalah untuk mempertahankan nyawa dalam tubuh kita. Ini artinya kita harus bekerja agar kita tetap hidup atau untuk memenuhi kebutuhan hidup kita (lihat teori kebutuhan Maslow). Seperti yang telah dicontohkan oleh Siti Hajar, segala daya dan upaya harus dikerjakan manusia untuk mempertahankan nyawa. Daya dan upaya manusia tersebut kita kenal dengan istilah bekerja.

Nah, namun apa jadinya jika manusia bekerja tetapi sudah tidak mempedulikan lagi nyawa mereka? Lalu apa tujuan mereka bekerja? Apakah mereka lupa tujuan mendasar dari bekerja?

Coba kita lihat pekerja yang tidak disiplin menggunakan APD, pekerja yang tidak patuh pada prosedur kerja, pekerja yang sering lalai dan mengambil jalan pintas saat bekerja, pekerja yang tidak aware dengan bahaya kerja (hazard) disekelilingnya, apakah ini berisiko? Ya, apakah membahayakan nyawa? Ya. Lalu untuk apa bekerja untuk mempertahankan nyawa dengan cara-cara yang mengancam nyawa? Mungkin beberapa orang akan menjawab bahwa mereka melakukan hal-hal tersebut supaya pekerjaan cepat selesai sehingga mereka akan dinilai bagus oleh atasan dan akan mendapat kehormatan (esteem) atau self actualization lebih walaupun risiko terhadap nyawanya lebih besar. Hal ini jelas tidak bisa dibenarkan, mengapa? Karena kebutuhan esteem tidak seberapa penting jika dibandingkan dengan nyawa kita, untuk lebih jelasnya lagi silahkan cek teori kebutuhan Maslow. Orang-orang yang kukuh lebih mementingkan kebutuhan esteem atau self actualization sebenarnya bisa dibilang orang yang sombong karena mereka tidak menganggap nyawanya rentan, padahal kita adalah makhluk Tuhan yang bisa kehilangan nyawa kapan saja.

Dari proses sa’i ini kita mendapat pelajaran bahwa nyawa itu sangat berharga dan wajib diperjuangkan, salah satu memperjuangkannya adalah dengan bekerja dan kita tidak boleh lupa bahwa bekerja adalah cara manusia untuk mempertahankan nyawa / hidup (ada istilah HIDUP untuk BEKERJA atau BEKERJA untuk HIDUP). Oleh karena itu jangan sampai kita bekerja dengan cara yang membahayakan nyawa kita karena itu bisa jadi sia-sia.

Sekali lagi nyawa itu sangat amat teramat berharga, keselamatan diri dan orang lain harus dilindungi terutama saat bekerja. Oleh sebab itu, saat bekerja tidak boleh ada ketidakpatuhan, kelalaian dan pelanggaran karena nyawa adalah taruhan dari setiap ketidakpatuhan, kelalaian dan pelanggaran tersebut.
Baca selengkapnyaMengambil Makna Idul Adha untuk K3

Keselamatan Berbasis Perilaku (Behavior Based Safety)


Sebagian besar kecelakaan kerja dan near miss yang menimpa manusia di tempat kerja disebabkan oleh faktor perilaku dari manusia itu sendiri. Karena itulah faktor perilaku menjadi banyak sorotan utama dari tiap isu K3 di tempat kerja. Oleh karena itu program-program yang diterapkan untuk meningkatkan performa K3 pun harus menyentuh faktor perilaku yang selanjutnya sering disebut dengan Keselamatan Berbasis Perilaku atau dalam Bahasa Inggris dikenal dengan Behavior Based Safety (BBS). Kita mengenal banyak program-program seperti kampanye BBS, observasi BBS, dan program-program lainnya yang biasanya berbau kampanye, commentary, dan observasi yang berkaitan dengan perilaku pekerja. Perilaku yang dimaksud disini berhubungan dengan perilaku manusia saat bekerja atau berada di area kerja yang sangat banyak bersinggungan dengan alat-alat kerja, benda kerja, kendaraan kerja, langkah / prosedur kerja, dan sebagainya.


Apa itu perilaku?

Menurut Geller (2001), perilaku mengacu pada tingkah laku atau tindakan individu yang dapat diamati oleh orang lain. Dengan kata lain, perilaku adalah apa yang seseorang katakan atau lakukan yang merupakan hasil dari pikirannya, perasaannya, atau diyakininya. Perilaku manusia menurut Dolores dan Johnson (2005 dalam Anggraini, 2011) adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan atau genetika. Skinner, merumuskan bahwa perilaku merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan tanggapan dan respon. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut merespon, maka teori Skinner ini disebut dengan teori “S-O-R” atau “Stimulus-Organisme-Respons”.

Faktor penentu perilaku terbagi atas 2 bagian yakni faktor internal, yaitu karakteristik orang yang bersangkutan yang bersifat bawaan dan berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar, misalnya tingkat pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi, jenis kelamin, dan sebagainya dan faktor eksternal, meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non-fisik, seperti iklim, manusia, sosial, budaya, ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya. Faktor lingkungan ini sering merupakan faktor yang dominan mewarnai perilaku seseorang.

Dari definisi-definisi di atas dapat dilihat bahwa perilaku berkaitan dengan faktor internal seperti pikiran dan emosi serta adat atau budaya, karena itulah ada istilah safety culture. Selain itu juga dapat dilihat bahwa salah satu faktor internal yakni pengetahuan sangat berpengaruh terhadap perilaku manusia, karena itu ada program safety awareness untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan manusia mengenai keselamatan. Selain itu dapat dilihat bahwa perilaku berhubungan dengan faktor eksternal dan stimulus, oleh karena itu program-program yang dapat memberikan stimulus terhadap perllaku pekerja seperti kampanye, observasi, bahkan reward dan punishment itu memang harus diterapkan.

Jika sebagian besar kecelakaan kerja disebabkan karena faktor perilaku apakah ini berarti kita harus lebih banyak menekankan program K3 pada faktor perilaku daripada faktor desain tempat / sistem kerja?

Faktor perilaku memang penting bahkan sangat amat penting. Namun bukan berarti kita tidak perlu fokus ke desain tempat kerja dan teknologi atau aspek engineering untuk safety saat bekerja. Bisa jadi kita justru harus fokus di aspek teknologi atau engineering ini, mengapa? Karena teknologi sedikit banyak dapat “menutupi” faktor perilaku manusia dan perlu diingat  bahwa terdapat banyak sekali kesalahan yang diakibatkan perilaku manusia dalam sistem termasuk sistem kerja. Penerapan teknologi yang melibatkan perilaku manusia (human behavior) termasuk juga human factors harus diterapkan untuk mengurangi kesalahan yang disebabkan oleh faktor perilaku. Karena seperti yang telah disebutkan di atas, perilaku selain ditentukan dari faktor eksternal juga ditentukan dari faktor internal yang sudah melekat pada diri manusia tersebut. Faktor-faktor internal biasanya berupa karakteristik atau kapasitas seperti kognisi, kecerdasan, persepsi, jenis kelamin yang dapat menimbulkan perilaku manusia yang tidak diinginkan ketika desain lingkungan kerja melebihi kapasitas manusia tersebut. Sebagai contoh peningkatan desain dan teknologi pada pesawat luar angkasa dan pada kendaraan telah banyak sekali mengurangi insiden yang disebabkan oleh human error salah satunya adalah karena teknologi dapat menjadi barrier dan dapat menggantikan beberapa peran dan pekerjaan manusia yang dirasa berpotensi melebihi kapasitas manusia seperti pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan ketelitian tinggi atau pekerjaan yang berulang-ulang atau pekerjaan yang sangat dekat dengan sumber bahaya kerja dan sebagainya. Dengan desain ini kesalahan akibat perilaku manusia dapat dicegah atau dibatasi efeknya. Desain yang kita maksudkan disini tentunya harus mengacu pada hierarki kontrol yakni eliminasi, substitusi, engineering control, administrative control, dan alat pelindung diri.

Apakah program-program dengan sasaran BBS itu efektif?


Beberapa orang berpendapat bahwa untuk mengampanyekan BBS lebih efektif melalui meeting informal ataupun obrolan-obrolan ringan daripada meeting resmi atau acara kampanye atau workshop resmi. Apakah Anda setuju dan memiliki pengalaman serupa? Memang proses sosialisasi BBS itu sangat menantang karena hal ini sangat berkaitan dengan budaya disiplin dan di masyarakat negara kita masih cukup “baru” dengan safety culture ini dan diakui atau tidak diakui budaya disiplin di negara kita juga masih perlu banyak perbaikan. Namun jangan khawatir, perubahan budaya dan perilaku dapat terjadi melalui proses pembelajaran dan peningkatan awareness. Proses pembelajaran tersebut terjadi dengan baik bila proses pembelajaran tersebut menghasilkan perubahan perilaku yang relatif permanen.

Kesimpulannya, perilaku manusia sangat berkontribusi dalam performa K3 di tempat kerja. Karena itu program untuk meningkatkan Keselamatan Berbasis Perilaku (Behavior Based Safety) yang efektif harus diterapkan sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan performa K3 di tempat kerja.

Sumber gambar:
Baca selengkapnyaKeselamatan Berbasis Perilaku (Behavior Based Safety)

Ketenangan adalah Pangkal Keselamatan

Kalau Anda lewat tol, disana biasanya terdapat spanduk yang berbunyi, "Mengemudilah dengan tenang. Ketenangan adalah pangkal keselamatan".  Artinya ketenangan ketika berkendaraan adalah kunci keselamatan kita sampai ke tujuan. Ya benar, ketenangan adalah kunci dari keselamatan. Apa pun kondisi di lingkungan kita termasuk lingkungan kerja kita harus berusaha tetap tenang (keep calm) karena ketenangan ini akan menjadikan diri kita fokus. Jika tenang maka kita bebas dari kehawatiran dan kecemasan serta gangguan-gangguan kognitif lainnya. Tidak khawatir bukan berarti tidak waspada, ketenangan ini justru menjadikan kita tetap waspada (termasuk waspada terhadap hazards di tempat kerja), dapat berpikir jernih, tidak terburu-buru dan tetap fokus pada setiap aktivitas atau kerja kita. Dan kita sudah mengetahuinya bahwa setiap tindakan atau aktivitas yang kita lakukan dengan fokus akan memberikan hasil yang terbaik. Yang dimakusd hasil kerja yang terbaik disini adalah kerja dengan selamat dan efektif.


Dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, ketenangan merupakan faktor kunci yang harus selalu diupayakan ada dalam diri setiap karyawan. Bagaimana bisa bekerja dengan baik bila diri berada dalam kondisi yang tidak tenang? Ketenangan pada diri seseorang tentu saja tidak hanya menyangkut ketenangan batin tapi ketenangan fisik juga tak kalah penting.

Banyak karyawan yang sebelum memasuki tempta kerja sudah was-was duluan. Hati deg-degan, jantung berdebar-debar dan perasaan seperti diburu-buru. Seperti ada yang mengejar-ngejar dari belakang dan itu membuat orang jadi panik. Faktor penyebabnya bisa bermacam-macam mulai dari lingkungan keluarga maupun lingkungan tempat kerja itu sendiri. Contohnya karywan yang sejak di perjalanan sudah ditelepon oleh bos dan diingatkan bahwa hari ini akan ada meeting penting dengan klien, atau misalnya hari ini adalah jadwal Anda untuk presentasi memperebutkan tender tertentu, atau misalnya adanya kondisi buruk di lapangan dll maka sebelum sampai di tempat kerja pun rasanya “kemrungsung”, ada kekhawatiran dan sebagainya sehingga mengganggu keseimbangan psikis dan fisik. Hal-hal seperti ini sangat berbahaya bagi keselamatan karyawan dan konon hal-hal seperti ini menjadi salah satu penyebab perilaku (behavior) kerja yang buruk dan berandil besar dalam banyak kasus kecelakaan kerja.

Ketenangan dalam bekerja dapat dicapai dari dua aspek yakni dari diri karyawan itu sendiri dan dari lingkungan karyawan tersebut. Dari diri karyawan, ketenangan dapat diimprove dari memulai kebiasaan-kebiasaan kerja yang baik seperti tidak terburu-buru dalam kerja, tidak mudah panik, meningkatkan spiritualitas dll dan ini bias diterapkan melalui training dsb. Dari lingkungan karyawan pun juga harus diperhatikan, terutama leadership di lingkungan kerja tersebut, tiap leaders harus menjalankan perannya dengan benar salah satunya adalah memastikan karyawan-karyawan di tempat kerja dapat bekerja dengan baik, lancar, dan tenang dengan cara memenuhi fasilitas yang dibutuhkannya, memberikan pengarahan yang benar. memotivasi karyawan agar bekerja dengan baik, menciptakan atmosfer kerja yang baik, bahkan termasuk melakukan pendekatan personal ke karyawan yang sedang memiliki masalah di rumahnya agar masalah ini tidak berpengaruh signifikan ke pekerjaan yang dilakukan. Ya benar, lagi-lagi komitmen dari leadership memang berperan besar dalam hal-hal seperti ini. Hal-hal lain yang bisa diterapkan di lingkungan kerja karyawan adalah dengan mendesain tempat kerja agar tidak mudah stress seperti meningkatkan aktivitas humor di dalam tim kerja, menggunakan musik dan aroma terapi (untuk pekerjaan kantor) dsb.

Ada satu hal lagi yang perlu diingat bahwa setiap karyawan memiliki karakteristik yang berbeda-beda, contohnya ada orang yang mudah panik, ada yang mudah stress, ada pula yang terlihat selalu santai dan terlalu tenang padahal dia sedang melamun (tidak focus) dsb. Karena itu pendekatan terhadap tiap karyawan pun seharusnya tidak sama. Pekerjaan sebaiknya dihentikan sementara ketika karyawan sudah mulai menunjukkan kepanikan atau ketidakteraturan atau kebalikannya ada yang sudah mulai kosong pikirannya (banyak blank atau melamun) karena hal ini sangat berbahaya bagi keselamatan mereka dan keselamatan proses terutama untuk pekerjaan-pekerjaan lapangan yang sangat banyak hazardnya. Pekerjaan bisa dilanjutkan lagi setelah kondisi kembali normal dan tenang.

Untuk kondisi-kondisi yang luar biasa seperti emergency memang harus ada training atau pelatihan bagi tiap karyawan agar tetap tenang atau tetap terorganisir dalam kondisi yang panik dan tentu diperlukan adanya personel-personel yang ahli dalam situasi darurat yang memerlukan kesiapsediaan dan persiapan khusus. Terlepas dari situasi-situasi luar biasa yang harus dihadapi dengan kesiapsediaan dan persiapan khusus, bagaimana pun ketenangan merupakan suatu keadaan yang selalu diperlukan. Bekerja dengan tenang yang terjaga akan memberikan hasil yang lebih maksimal yakni hasil kerja yang selamat, efektif, dan produktif.

Bagi Anda penderita Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), tips agar tetap bisa fokus dan tenang saat bekerja bias dilihat di link berikut:
http://www.tabloidnova.com/Nova/Kesehatan/Anak/10-Trik-Agar-Bisa-Fokus-Bagi-Penderita-ADHD

Keep calm and stay safe…!!!

Referensi:
http://apisilkomp.wordpress.com/tag/tenang-dalam-bekerja/
http://dedikus.blogspot.com/2013/07/ceramah-lima-menit-bahagia-dulu-baru.html
http://www.speakingofsafety.ca/2011/05/03/video-stay-calm-and-get-rescued/
Baca selengkapnyaKetenangan adalah Pangkal Keselamatan

Budaya Keselamatan dan Kesehatan itu Tidak Memberatkan

Masih saja banyak orang yang menganggap bahwa keselamatan dan kesehatan itu bukan sesuatu yang penting. Baik di tempat kerja maupun di kehidupan di luar kerja, mayoritas orang masih berperilaku tidak selamat dan tidak sehat. Di tempat kerja banyak pekerja yang tidak mematuhi prosedur keselamatan, di lapangan banyak yang tidak memakai alat pelindung diri yang memadai, di jalan raya banyak orang yang melanggar batas kecepatan, berkendara tidak memakai sabuk pengaman atau helm, di rumah banyak orang yang memakai peralatan alat rumah tangga dan elektronik tanpa mengetahui prosedur keselamatannya dan masih banyak contoh lainnya. Namun tidak bisa juga sepenuhnya menyalahkan orang-orang ini karena di negara kita memang belum memiliki budaya keselamatan dan kesehatan (safety & health culture) yang kuat sehingga banyak yang menganggap budaya keselamatan dan kesehatan adalah sesuatu yang memberatkan. Sebenarnya hal ini adalah sesuatu yang klasik dan sudah banyak “dimaklumi” orang. Namun hal ini menjadi tidak bisa “dimaklumi” ketika dari waktu ke waktu tidak ada perbaikan budaya keselamatan dan kesehatan yang signifikan dalam masyarakat kita. Apalagi kita adalah bangsa yang konon sangat berbudaya dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang sebenarnya tidak menyimpang dari budaya keselamatan dan kesehatan. Karena itu perlu ditekankan beberapa hal yang mungkin dapat mengubah paradigma mengenai keselamatan dan kesehatan.
  1. Keselamatan dan kesehatan itu untuk tubuh kita sendiri
    Keselamatan dan kesehatan itu ditujukan tidak lain dan tidak bukan untuk tubuh kita sendiri. Karena itu yang bertanggung jawab atas keselamatan kita adalah diri sendiri. Keuntungan yang didapat pun akan dinikmati oleh diri sendiri. Ada sebuah kalimat motivasi dari Jim Rohn, "Take care of your body. It's the only place you have to live." Jadi jagalah tubuh Anda, karena tubuh Anda adalah satu-satunya tempat Anda untuk hidup sebagai manusia seutuhnya.
  2. Keselamatan dan kesehatan itu menguntungkan termasuk jika dilihat dari segi ekonomi
    Keselamatan tidak efisien? Siapa bilang. Memang kelihatannya merepotkan, namun sudah banyak studi yang membuktikan bahwa keselamatan justru menguntungkan baik dari segi waktu, dana, dan resource lainnya. Keuntungan memang tidak akan terasa secara langsung, keuntungan paling terlihat didapat dari penghematan karena telah menghindari biaya akibat kecelakaan atau penyakit. Bagi orang yang pernah mengalami kecelakaan atau sakit seharusnya memahami berapa kerugian yang harus diderita karena kecelakaan atau penyakit tersebut, tidak hanya rugi materi tapi kerugian waktu, tenaga, dan resource lainnya.
  3. Keselamatan dan kesehatan itu meningkatkan citra
    Dengan keselamatan dan kesehatan yang baik tentu performa akan naik dan akan berdampak pula pada citra yang baik. Citra yang baik akan berdampak pada hal-hal positif lainnya. Penciitraan memang bukan suatu yang baik namun tanpa citra tiap individu bahkan sekelompok manusia dapat hancur. Jika kita melihat orang berkendara motor jatuh di jalan pasti orang berpikir bahwa dia sembrono atau tidak hati-hati, jika kita melihat orang terkena penyakit akibat obesitas pasti orang berpikir gaya hidupnya tidak disiplin, jika kita melihat perusahaan yang sering mengalami kecelakaan kerja pasti orang berpikir bahwa perusahaan tersebut tidak memperhatikan kesejahteraan karyawannya, dan seterusnya.
  4. Keselamatan dan kesehatan itu meningkatkan kenyamanan
    Dengan keselamatan dan kesehatan yang baik tentu kita akan jadi merasa lebih nyaman dalam beraktivitas, tidak menderita dan tidak sengsara. Manusia yang rajin berolahraga pasti hidupnya lebih nyaman dan terasa segar karena sistem tubuhnya berjalan baik, berbeda dengan orang yang malas berolahraga yang lebih lesu dan terus mencari hal yang “nyaman-nyaman” seperti makan junk food yang sebenarnya hanya nyaman sementara. Pegawai di kantor yang menerapkan postur ergonomi dalam pekerja pasti juga akan merasa nyaman saat bekerja, seterusnya. Budaya keselamatan dan kesehatan menjadikan hidup kita lebih nyaman.
  5. Keselamatan dan kesehatan itu meningkatkan produktivitas
    Percayalah bahwa budaya keselamatan dan kesehatan akan sejalan dengan naiknya produktivitas, jika kita terus selamat dan sehat maka aktivitas akan terus naik dan optimal serta dapat dipertahankan dan tentu saja produktivitas akan naik. Jadi jika ingin menjadi bangsa maju yang produktif, tumbuhkanlah budaya keselamatan dan kesehatan.
  6. Keselamatan dan kesehatan itu adalah salah satu bentuk tanggung jawab terhadap Tuhan atas tubuh kita
    Ini sebenarnya yang paling utama. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang beragama. Kita dikaruniai tubuh oleh Tuhan tentu kita harus mensyukurinya dengan menggunakannya dan merawatnya seoptimal mungkin. Dilarang melakukan perbuatan yang menyebabkan kerusakan pada tubuh kita, itu haram hukumnya.

Jika seluruh lapisan masyarakat menyadari point-point di atas mudah-mudahan masyarakat tidak akan “keberatan” lagi dengan budaya keselamatan dan kesehatan. Mari sebarkan pesan-pesan budaya keselamatan mulai dari lingkungan terkecil di keluarga sampai lingkungan di sekitar kita yang lebih luas. Mari ikut andil dalam menumbuhkan budaya keselamatan dan kesehatan di Negara kita.
Baca selengkapnyaBudaya Keselamatan dan Kesehatan itu Tidak Memberatkan

Nilai Safety dari Kisah Superman

Tulisan ini terinspirasi dari postingan yang berjudul “Belajar Safety dari Kisah Superman” di http://lorco.co.id/belajarsafetysuperman.html. Tulisan ini sangat menarik karena mengambil pelajaran mengenai safety dari serial TV Superman yang berjudul Smallville yang mengisahkan masa muda Clark Kent ‘ Superman.

Serial Smallville

Dalam serial ini, keluarga Kent mengajarkan banyak hal, salahsatunya adalah perilaku safety dalam kehidupan sehari-hari mereka. Di sebuah episode, Jonathan Kent sedang menggiling batang jagung menggunakan mesin dan di kepalanya terpasang ear muff untuk melindungi pendengarannya. Dalam episode lain, Martha Kent menggergaji bongkahan kayu dengan mengunakan APD (Alat Pelindung Diri) lengkap, berupa sarung tangan dan kacamata (safety gogles). Kemudian di tayangan episode lainnya, Clark Kent terlihat sedang memasang batang kayu ke tanah untuk dijadikan pagar dengan tangan kosong. Nah yang ini tidak perlu kita tiru, karena kita bukan Clark Kent yang punya kekuatan super.

Dari serial Smallville ini terdapat dua pelajaran penting. Pertama, budaya safety sudah tertanam kuat di masyarakat Amerika. Bahkan seorang petani jagung pun sudah akrab dan terbiasa bekerja sesuai prosedur keselamatan kerja. Jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan petani di Indonesia, pernahkah Anda melihat pekerja pertanian Indonesia yang menggunakan earmuff saat menggiling padi? Kedua, industri film di Amerika sudah melek safety. Adegan di film menyesuaikan peraturan keselamatan yang berlaku, sepertinya si scriptwriter membaca referensi safety procedure untuk membuat skenarionya Selain itu, para pekerja film-nya pun mengerti dan mempraktekan safety first dalam bekerja. Satu lagi, sanksi yang ketat terhadap pelangaran peraturan keselamataN kerja di industri film, seperti kasus kecelakaan yang terjadi saat pertunjukan Broadway “Spider-Man Turn Off the Dark.”

Tokoh Superman

Sebetulnya ada satu lagi nilai safety yang dapat diambil terutama dari tokoh Superman itu sendiri. Tokoh Superman adalah sosok yang sangat amat kuat terutama dalam segi fisik sehingga sering disebut man of steel (manusia baja). Namun tokoh ini hanyalah sebatas tokoh fiksi. Tidak ada manusia yang menyerupai Superman (karena Superman sendiri sebenarnya memang bukan manusia). Manusia pada kenyataannya adalah makhluk yang memiliki banyak kelemahan, keterbatasan dan karakterisk / kapabilitas lainnya. Karena itu manusia bisa terkena penyakit, bisa cedera, bisa kecelakaan dan lain-lain. Agar manusia itu selamat dan sehat maka lingkungan di sekitar kita termasuk pekerjaan harus disesuaikan dengan karakteristik / kapabilitas manusia tersebut.


Namun walaupun kita bukan Superman atau superhero lainnya, kita tetap bisa menjadi “pahlawan” sesuai dengan kapabilitas masing-masing.
Baca selengkapnyaNilai Safety dari Kisah Superman

Apakah Benar Manusia Faktor Utama Penyebab Kecelakaan?

Setiap mendengar berita kecelakaan baik itu kecelakaan kerja maupun kecelakaan di luar kerja, salah satu hal yang langsung muncul di benak kita adalah apa penyebab kecelakaan itu. Perlu diketahui bahwa pada dasarnya ada dua hal yang dapat menyebabkan masalah keselamatan (dan juga kesehatan). Pertama, kondisi yang tidak aman atau unsafe condition. Kedua, perilaku manusia yang berisiko atau unsafe / at risk behavior. Contoh, dalam keselamatan lalu-lintas. Menurut sumber disini, ada empat penyebab umum kecelakaan lalu-lintas yakni (1) sarana atau kondisi dari angkutan itu sendiri, (2) prasarana atau kondisi dari jalan dan jalur masing-masing moda transportasi, (3) faktor manusia yang konon kontributor terbesar terutama di moda transportasi darat serta (4) faktor alam seperti bencana yang menjadi faktor terakhir. Faktor nomor (1), (2), dan (4) dapat digolongkan sebagai unsafe condition sedangkan faktor nomor (3) biasa disebut at risk behavior.

Jika melihat trend yang ada sekarang sepertinya orang pada umumnya akan membuat dugaan bahwa pasti orang lah atau unsafe behavior lah yg menjadi penyebab jika mendengar berita kecelakaan. Hal ini wajar dan tidak salah serta didukung banyak data-data yang menyuguhkan bahwa perilaku manusia menjadi faktor penyebab mayoritas kecelakaan, lihat data berikut:

Menurut Penelitian Cooper:
80-95  persen  dari  seluruh  kecelakaan  kerja  yang  terjadi  disebabkan  oleh unsafe behavior 

Hasil Riset NCS (National Safety Council) US:
Penyebab  kecelakaan  kerja  88%  adalah  adanya  unsafe  behavior,  10%  karena unsafe condition dan 2% tidak diketahui penyebabnya 

Penilitian DuPont Company:
Kecelakaan kerja 96% disebabkan oleh unsafe behavior dan 4% disebabkan  oleh unsafe condition.

Sebenarnya tidak hanya masalah keselamatan seperti kecelakaan, namun juga masalah-masalah kesehatan seperti penyakit pada manusia konon banyak disebabkan oleh pola yang tidak sehat dari manusia itu sendiri.

Ya, data-data di atas memang benar adanya. Banyak kecelakaan bus terjadi karena sopir yang mengantuk karena kurang tidur, banyak korban akibat kecelakaan motor terjadi karena pengemudi tidak menggunakan helem, banyak cedera punggung terjadi karena pekerja kantoran modern jarang beranjak dari kursi komputer selama waktu kerjanya, banyak penyakit jantung karena masyarakat memiliki pola makan tidak sehat dan lain-lain. Semua data ini menunjukkan bahwa manusia lah penyebab masalah keselamatan kesehatan mereka sendiri. Namun apakah bijak dan akurat jika langsung menyalahkan manusia?

 

Jika melihat paragraf-paragraf sebelumnya maka disimpulkan bahwa mayoritas kecelakaan terjadi karena perilaku manusia atau at risk behavior. Namun sebenarnya akan lebih bijak jika kita juga menelusuri hal apa yang menyebabkan at risk behavior itu terjadi, jangan langsung menyalahkan manusia yang melakukan at risk behavior tersebut. Misalnya sopir bus kecelakaan karena mengantuk akibat kurang tidur, jika sopir tersebut kurang tidur karena semalam begadang nonton film atau bola atau habis dugem mungkin memang bisa dikatakan bahwa itu at risk behavior akibat manusia itu sendiri, namun jika ternyata semalam dia begadang akibat harus mengurus perbaikan bus mungkin sistem kerja di perusahaan tranportasi bus itu yang harus diperbaiki dan ini lebih merupakan unsafe condition. Untuk kasus pekerja kantoran yang terkena penyakit punggung dan MSD, apakah mereka sudah ditraining ergonomi, jika belum mungkin tidak bijak jika mengatakan bahwa ini adalah at risk behavior, karena sistem kerjanya sendiri tidak mensupport pekerja dalam hal ini mengadakan training atau sosialisasi sehingga banyak unsur unsafe condition. Begitu pula dengan pola makan masyarakat yang kurang sehat, bagaimana jika masyarakat memang kurang tahu dan kurang mengerti apa makanan yang sehat itu, dan bagaimana jika memang di pasaran mayoritas makanan yang beredar adalah makanan yang tidak sehat seperti mengandung pestisida, makanan hasil curangan oknum jahil, junk food dsb, jika begini kurang bijak rasanya jika sepenuhnya menyalahkan perilaku atau behavior manusia karena memang diakui atau tidak diakui banyak unsur dari lingkungan dan sistem yang enyebabkan unsafe condition.

Kesimpulannya, untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan mungkin memang tantangan utamanya adalah merubah perilaku (behavior) manusia, namun jangan pernah melupakan lingkungan dan sistem yang menyebabkan unsafe condition karena bisa saja at risk behavior tersebut muncul karena adanya unsafe condition. Probabilitas kemunculan dua faktor ini yakni at risk behavior dan unsafe condition harus dibuat sekecil mungkin.
Baca selengkapnyaApakah Benar Manusia Faktor Utama Penyebab Kecelakaan?

Kesehatan, Kenikmatan yang Sering Dilupakan

Salah satu tujuan dalam ergonomi dan K3 adalah supaya sehat saat bekerja. Definisi sehat menurut WHO adalah keadaan sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat. Jadi secara luas, bebas dari kecelakaan kerja (kondisi selamat) pun termasuk kondisi sehat. Sayangnya kebanyakan manusia sering melupakan kondisi sehat. Dalam kondisi sehat, manusia sering melakukan aktivitas-aktivitas yang sifatnya kurang mensyukuri kesehatan itu dan malah sering cenderung merugikan kesehatannya. Yang paling gampang contohnya adalah kebiasaan merokok, makan makanan yang tidak sehat, berkendara mengebut dan tidak menggunakan helm atau sabuk pengaman, dll. Hal ini juga terjadi di kehidupan kerja, banyak orang yang kurang peduli dengan K3 di tempat kerja mereka dengan sejuta dalih dan alasan yang sebenarnya cenderung merugikan dirinya.


Dalam sebuah hadis riwayat Imam al-Bukhari daripada Ibn Abbas r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia yaitu kesehatan dan waktu lapang."

Bersama dengan waktu / masa, kesehatan merupakan kenikmatan yang sering dilupakan orang. Padahal sehat merupakan investasi utama manusia. Tanpa kesehatan kita tidak bisa melakukan aktivitas secara normal dan tidak produktif. Janganlah pergunakan waktu sehat untuk aktivitas-aktivitas yang negatif karena perilaku atau aktivitas apa pun yang negatif (walaupun menurut orang itu positif) baik itu dalam skala besar atau pun skala yang sangat kecil (sepele) pasti akan memberi dampak buruk kepada dirinya sendiri baik secara fisik ataupun mental atau dengan kata lain akan merugikan kesehatan diri sendiri baik dalam skala besar atau pun skala yang sangat kecil. Karena itu marilah kita mulai mensyukuri dan peduli dengan kesehatan kita, karena sehat merupakan hak tubuh kita, dan pada akhirnya kita sendiri lah yang akan menikmatinya dan memetik manfaatnya, jangan menunggu sakit. Termasuk juga saat bekerja, mulailah menyadari nilai, manfaat dan pentingnya prosedur-prosedur K3 di tempat kerja, karena K3 dibuat tidak lain adalah untuk kepentingan diri manusia yang ada di sistem kerja tersebut.
Baca selengkapnyaKesehatan, Kenikmatan yang Sering Dilupakan